BAB II WAKAF DAN RUISLAG MENURUT HUKUM ISLAM DAN
B. Wakaf dan Ruislag Menurut Perundang-undangan
2. Pengertian Wakaf Menurut Perundang-undangan
Undang- Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf terdiri atas 11 bab dan 71 Pasal. Bab I berisi tentang ketentuan umum. Bab II mengatur dasar-dasar wakaf, bab ini tersiri dari sepuluh bagian yang berisi bagian pertama berisi masalah umum, nagian kedua berisi tujuan dan fungsi wakaf, bagian ketiga unsur wakaf, bagian keempat wakif, bagian kelima nazhir, bagian keenam harta benda wakaf, bagian ketujuh ikrar wakaf, bagian kedelapan peruntukan harta benda wakaf, bagian kesembilan wakaf dengan wasiat. Selanjutnya bab III menagtur tentang pendaftaran dan pengumuman harta benda wakaf. Bab IV tentang perubahan status benda wakaf. Bab V tentang pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf. Bab VI tentang BWI. Bab VII mengatur tentang penyelesaian sengketa. Bab VIII tentang
32Tata Fathurrohman, Wakaf Menurut Perundang-Undangan Yang Berlaku Di Indonesia, Bandung, LSI UNISBA, 2011, hlm. 35-41
pembinaan dan pengawasan. Bab IX ketentuan pidana dan sanksi administratif. Bab X tentang ketentuan peralihan dan bab XI tentang ketentuan penutup.
Pengertian wakaf di dalam Undang-Undang No.41 Tahun 2004 Pasal 1 ayat (1) wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syari’ah.33
Dibandingkan dengan pengertian wakaf yang tedapat di dalam peraturan wakaf sebelumnya terdapat perbedaan di dalam pengertian wakaf yaitu:
Pengertian wakaf berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 Tentang Perwakafan Tanah Milik Pasal 1 ayat (1) wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari harta kekayaanya yang berupa tanah milik dan melembagakannya untuk selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.
Intruksi Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam Pasal 215 ayat (1) member pengertian wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama- lamanya guna kepentingan ibadat atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam.
Dari pengertian peraturan wakaf Indonesia di atas terdapat perbedaan dalam jangka waktu dan objek/harta benda wakaf yang di dalam PP No. 28 tahun 1977 yang harta benda wakaf hanya berupa tanah saja yang merupakan benda idak bergerak dan jangka waktu wakafnya dilakukan untuk selama-lamanya. Di dalam Inpres No. 1 tahun 1991 (KHI) pengertian wakaf berkembang di dalam harta benda wakaf yang tidak hanya berupa benda tidak bergerak (tanah) tetapi boleh juga mewakafkan benda bergerak hanya saja jangka waktunya masih selama-lamanya.
Di dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf pengertian wakaf semakin berkembang dan semakin luas, selain harta benda tidak bergerak
harta benda bergerak juga boleh diwakafkan. Harta benda tidak bergerak juga bukan hanya sekedar tanah saja tetapi harta benda tidak bergerak juga termasuk bangunan yang berdiri di atas tanah, tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah, hak atas milik atas satuan rumah susun dan lain sebagainya. Jangka waktu wakaf juga menjadi lebih fleksibel, dapat dilakukan selama-lamanya atau dalam jangka waktu tertentu.
3. Rukun dan Syarat
Berbeda dengan rukun dan syarat pelaksanaan wakaf menurut fikih islam, rukun dan syarat wakaf menurut hukum positif di Indonesia lebih rinci karena terkait dengan pelaksanaan dan permasalahan yang semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Berikut adalah rukun pelaksanaan wakaf menurut hukum positif di Indonesia;34
a. Wakif (orang yang mewakafkan harta atau bendanya) b. Nadzir
c. Harta Benda Wakaf d. Ikrar Wakaf
e. Peruntukan Harta Benda Wakaf f. Jangka Waktu Wakaf
Kemudian akan diuraikan beberapa syarat pelaksanaan wakaf menurut hukum positif di Indonesia;
1) Wakif
Wakif seperti yang sudah dijelaskan adalah orang yang mewakafkan harta atau bendanya ini terdiri dari tiga jenis;35
a) Perseorangan
34 Undang-Undang Wakaf Nomor 41 Tahun 2004 Pasal 6 Tentang Wakaf
Wakif perseorangan ini memiliki beberapa syarat agar dapat melaksanakan wakaf. Berikut adalah persyaratannya;36
(1) Dewasa (2) Berkal Sehat
(3) Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum (4) Pemilik sah harta atau benda wakaf
b) Organisasi
Wakif organisasi ini hanya dapat melakukan wakaf apabila telah memenuhi ketentuan organisasi untuk mewakafkan harta benda wakaf milik organisasi sesuai dengan anggaran dasar organisasi yang bersangkutan.37
c) Badan Hukum
Wakif badan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf c hanya dapat melakukan wakaf apabila memenuhi ketentuan badan hukum untuk mewakafkan harta benda wakaf milik badan hukum sesuai dengan anggaran dasar badan hukum yang bersangkutan.
2) Nadzir
Nadzir adalah pihak yang menerima mandat harta atau benda wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukan wakaf agar bermanfaat bagi umat.
Kemudian nadzir juga boleh berbentuk perorangan, oraganisasi maupun badan hukum yang memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh undang-undang agar pelaksanaan wakaf bisa berjalan dengan semestinya.38
Syarat yang harus dipenuhi oleh nadzir wakaf baik perorangan, organisasi ataupun badan hukum adalah sebagai berikut;
36Undang-Undang Wakaf Nomor 41 Tahun 2004 Pasal 7 huruf (a) Tentang Wakaf
37Undang-Undang Wakaf Nomor 41 Tahun 2004 Pasal 7 huruf (b) Tentang Wakaf
a) Perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a hanya dapat menjadi Nazhir apabila memenuhi persyaratan :
(1) Warga Negara Indonesia (2) Beragama Islam
(3) Dewasa (4) Amanah
(5) Mampu secara jasmani dan rohani
(6) Tidak terhalang melakukan perbuatan hukum
b) Organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b hanya dapat menjadi Nazhir apabila memenuhi persyaratan:
(1) Pengurus organisasi yang bersangkutan memenuhi persyaratan nazhir perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1); dan
(2) Organisasi yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan, dan/atau keagamaan Islam.
c) Badan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c hanya dapat menjadi Nazhir apabila memenuhi persyaratan :
(1) Pengurus badan hukum yang bersangkutan memenuhi persyaratan nazhir perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1); dan
(2) Badan hukum Indonesia yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
(3) Badan hukum yang bersangkutan bergerak di bidang sosial, pendidikan, kemasyarakatan, dan/atau keagamaan Islam.
Adapun tugas yang menjadi kewajiban seorang nadzir dalam menjalankan mandatnya sebagai pemegang harta atau benda wakaf adalah sebagai berikut;39
(a) Melakukan pengadministrasian harta benda wakaf
(b) Mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan tujuan, fungsi, dan peruntukkannya.
(c) Mengawasi dan melindungi harta benda wakaf;.
(d) Melaporkan pelaksanaan tugas kepada badan wakaf Indonesia.
Selain mempunyai kewajiban, nadzir wakaf juga memiliki hak dalam pelaksanaan wakaf. Bahwa nadzir dapat menerima imbalan dari hasil bersih atas pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang besarnya tidak melebihi 10% (sepuluh persen) serta memperoleh pembinaan dari kementerian dan Badan Wakaf Indonesia (BWI).
Dalam mengelola dan mengembangkan harta dan benda wakaf, nadzir dapat diberhentikan atau diganti dengan nadzir lain apabila nadzir yang bersangkutan;40
(a) Meninggal dunia bagi nadzir perseorangan
(b) Bubar atau dibubarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk nadzir organisasi atau nadzir badan hukum (c) Atas permintaan sendiri
(d) Tidak melaksanakan tugasnya sebagai nadzir atau melanggar ketentuan larangan dalam pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(e) Dijatuhi hukuman pidana oleh pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Prosedur pemberhentian dan penggantian nadzir sebagaimana dimaksud dilaksanakan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI). Serta dalam pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang dilakukan oleh nadzir lain karena pemberhentian dan penggantian nadzir, dilakukan dengan tetap memperhatikan peruntukan harta benda wakaf yang ditetapkan dan tujuan serta fungsi wakaf.
3) Harta Benda Wakaf
Yang dimaksud dengan harta benda wakaf adalah harta benda yang memiliki daya tahan lama atau yang mempunyai manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah yang diwakafkan oleh wakif.
Adapun harta benda wakaf menurut Peraturan Pemerintah No.42 Tahun 2006 terbagi kepada tiga kategori sebagai berikut;41
a) Benda Tidak Bergerak
40 Undang-Undang Wakaf Nomor 41 Tahun 2004 Pasal 45 Tentang Wakaf
41 Peraturan Pemerintah no. 42 tahun 2006 pasal 15 Tentang Pelaksanaan Undang-undang nomor 41 tahun 2004
Yang dimaksud benda tidak bergerak sebagaimana undang-undang menjelaskan adalah meliputi; hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik yang sudah maupun yang belum terdaftar, kemudian bangunan atau bagian bangunan, tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah, hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undanganyang berlaku serta benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturanperundang undangan yang berlaku.
b) Benda Bergerak Selain Uang42
Benda digolongkan sebagai benda bergerak karena sifatnya yang dapat berpindah atau dipindahkan atau karena ketetapan undang-undang. Benda bergerak terbagi dalam benda bergerak yang dapat dihabiskan dan yang tidak dapat dihabiskan karena pemakaian. Benda bergerak yang dapat dihabiskan karena pemakaian tidak dapat diwakalkan, kecuali air dan bahan bakar minyak yang persediaannya berkelanjutan. Benda bergerak yang tidak dapat dihabiskan karena pemakaian dapat diwakafkan dengan memperhatikan ketentuan prinsip syariah.
c) Benda Bergerak Berupa Uang
Wakaf uang yang dapat diwakafkan adalah mata uang rupiah. Dalam hal uang yang akan diwakafkan masih dalam mata uang asing, maka harus dikonversi terlebih dahulu ke dalam rupiah. Wakif yang akan mewakafkan uangnya diwajibkan untuk: hadir di Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS- PWU) untuk menyatakan kehendak wakaf uangnya; menjelaskan kepemilikan dan asal-usul uang yang akan diwakafkan; menyetorkan secara tunai sejumlah uang ke LKSPWU; mengisi formulir pernyataan kehendak Wakif yang berfungsi sebagai AIW. Dalam hal Wakif tidak dapat hadir maka Wakif dapat menunjuk wakil atau kuasanya. Wakif dapat menyatakan ikrar wakaf benda bergerak berupa uang kepada Nazhir
42 Peraturan Pemerintah no. 42 tahun 2006 pasal 19 Tentang Pelaksanaan Undang-undang nomor 41 tahun 2004
di hadapan PPAIW yang selanjutnya Nazhir menyerahkan AIW tersebut kepada LKS-PWU.
4) Ikrar Wakaf
Dalm istilah fikih dikenal dengan shigat atau akad maka ikrar wakaf adalah pernyataan kehendak wakif yang diucapkan secara lisan atau tulisan kepada Nazhir untuk mewakafkan harta benda miliknya. Sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 17 undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 disebutkan bahwa :
a) Ikrar wakaf dilaksanakan oleh Wakif kepada Nazhir di hadapan PPAIW dengan disaksikanoleh 2 (dua) orang saksi.
b) Ikrar Wakaf dinyatakan secara lisan dan/atau tulisan serta dituangkan dalam akta ikrar wakaf oleh PPAIW.
Dalam hal Wakif tidak dapat menyatakan ikrar wakaf secara lisan atau tidak dapat hadir dalam pelaksanaan ikrar wakaf karena alasan yang dibenarkan oleh hukum, Wakif dapat menunjuk kuasanya dengan surat kuasa yang diperkuat oleh 2 (dua) orang saksi.43
5) Peruntukan Harta Benda Wakaf
Sesuai dengan hikmah yang terkandung dalam wakaf yaitu untuk kesejahteraan umat, maka harus ada peruntukan yang jelas demi tercapainya tujuan tersebut. Undang-undang telah menetapkan bahwa harta benda wakaf hanya dapat diperuntukan bagi;
1. Sarana dan kegiatan ibadah;
2. Sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan;
3. Bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, beasiswa; 4. Kemajuan dan peningkatan ekonomi umat; dan/atau
5. Kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah danperaturan perundang-undangan.