Tiga belas tahun sejak kehadiran si Merah di tengah keluarga Hamam, lima tahun setelah perjalanan keliling Jawa-Bali, dan beberapa bulan setelah ditinggal menunaikan ibadah haji; mobil tua itu kembali menjadi pusat perhatian masyarakat. Pasalnya kenangan naik kereta api dan kapal terbang, coba dipraktekan Hamam dengan membiarkan si Merah berjalan sendiri.
“Masa seorang haji pakai ilmu magik?” tanya seorang yang melihat ulah Hamam kepada temannya.
“Dari pada berprasangka buruk, lebih baik kita mendekat ke sana.” jawab si teman.
“Orang-orang pada penasaran melihat pertunjukan Pak Haji.” kata wartawan koran lokal Banyumas.
“Sebenarnya yang saya lakukan tidak ada yang istimewa. Semua sopir dapat melakukannya, tinggal mereka berani atau tidak.”
Saat itu mobil berjalan berputar di tengah lapangan, sementara Hamam mendampinginya dari samping. Kadang sangat lambat, kadang agak cepat.
Orang melihatnya seperti mengikuti perintah si pemilik. Wartawan sengaja meliput atraksi yang dipersiapkan untuk melengkapi penampilan Jarwo Mick Jabrik tanggal 21 Juni 2006 di lapangan yang sama.
“Bapak mendapatkan ide seperti ini dari mana?”tanya wartawan.
“Sewaktu kecil saya pernah melihat atraksi seperti ini, di lapangan depan Kantor Kecamatan Cilongok.”
“Sebelum ini sudah pernah mempraktikkannya?”
“Belum, tetapi angan-angan sudah cukup lama.”
“Tekhnisnya bagaimana?”
108
“Tidak sulit kok. Hanya mengatur gas sedemikian rupa agar mesin tidak mati saat dilepas. Kemudian setir dibelokkan dan ditahan dalam posisi belok.”
“Kalau lurus bagaimna?”
“Sebenarnya bisa saja, tetapi jangkauannya terbatas, harus dikejar dan diputar ke arah sebaliknya. Kalau setir dibelokkan dan ditahan, mau berapa menit atau berapa jam, mobil tetap berjalan memutar.”
Atraksi uji coba yang dilaksanakan di bawah terik matahari itu, disaksikan puluhan pasang mata masyarakat dan pelajar yang baru pulang sekolah. Pagi harinya gambar si Merah terpampang di Radar Banyumas, dilengkapi berita berjudul “Melihat Atraksi Mobil Tahun 70-an yang Bisa Jalan Sendiri, INGAT WAKTU KECIL SEKARANG INGIN PRAKTEK.”
Dengan pemuatan Koran yang beredar di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Cilacap, Banjarnegara dan Purbalingga itu; banyak orang merasa penasaran dan ingin membuktikannya. Kemudian berita itupun segera tersebar dari mulut ke mulut secara lebih luas. Pada gilirannya pertunjukan akrobatik bersama Jarwo Mick Jabrik seperti diungkap pada bagian dua belas, berjalan sangat meriah.
Pada pertunjukan tanggal 21 Juni 2006 itu, Fauzi sengaja pulang dari Yogyakarta, dengan membawa mobil berplat AB … Dia menggantikan peran ayahnya menjalankan dua mobil tanpa pengemudi secara bergantian. Tepuk tangan penonton mengiringinya setiap kali dia melepas mobil yang sedang berjalan. Karena kecekatannya, banyak orang mengira Jarwo sebagai pasangan tetapnya.
“Saya kira putera Pak Hamam pasangan tetap Mick Jabrik.” kata Yani, koordinator pemirsa dari SMP Ma’arif Cilongok, didampingi Lisa wakilnya.
“Lho, dia baru ketemu Pak Jarwo ya sekali itu.”
109
“Orang-orang beranggapan, yang membawa Jarwo adalah Mas Fauzi.
Kan Bapak bilang dari daerah gempa?”
“Maksud saya, permainan akrobat oleh Jarwo Mick Jabrik dari Purbalingga. Diawali dengan pertunjukan ‘mobil berjalan tanpa pengemudi’
oleh Fauzi dari daerah yang baru saja dilanda gempa. Mobil yang dipertontonkan pun satu berplat R … (Banyumas), satunya lagi berplat AB … (Yogyakarta).”
“Tapi bintang utamanya tetap si Merah kan?”
“Iya betul. Mobil warna abu-abu yang mendampinginya itu sebagai bintang tamu. Kebetulan milik besan, yang dibawa oleh anak saya.”
Yani dan Lisa yang juga mantan Ketua dan Wakil Ketua OSIS di sekolahnya, sering mendiskusikan banyak hal dengan guru pembimbingnya.
Sebenarnya guru pembimbing kelas III SMP Ma’arif ada dua orang, Abidin (mantan Kepala Sekolah) dan Utari (Kepala Sekolah yang menggantikan Abidin). Khusus untuk bimbingan lomba karya tulis ditangani oleh Hamam, Kordinator Guru Pembimbing.
Tentang mobil berjalan tanpa pengemudi, wartawan menulis pada koran Radarmas terbitan 31 Mei 2006,
Mobil warna merah kusam itu tiba-tiba melaju melingkar di lapangan Cilongok, Kecamatan Cilongok. Tanpa ada satupun orang yang duduk di kursi depan mobil. Puluhan pasang mata membelalak, alis mereka berkerut seolah tak percaya dengan pemandangan itu.
Bagaimana mobil ‘ajaib’ itu bisa melaju kencang beraturan tanpa pengemudi?
Mengenakan topi hitam bertuliskan KPUD (yang dimaksud PPK-pen.)
110
Kecamatan Cilongok, Muhyi Fadlil warga Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok terus mengawasi gerak roda mobil Mitsubishi Colt-T120 keluaran tahun 1977 itu. Sesekali senyumnya tersungging ketika lobang di lapangan Cilongok yang memang banyak ditemui itu membuat oleng laju mobilnya.
Anak-anak, pemuda dan orang tua turut mengawasi laju mobil yang tak ada pengemudinya itu. Ada yang mengatakan itu hanya hipnotis, ada juga yang mengatakan mobil itu memakai sistem remote kontrol yang memungkinkan si pemilik menggerakan dengn hanya memencet tombol di tangan.
“Mobil tua seperti itu nggak mungkin pakai remot, itu hipnotis”
tutur Hadi salah satu warga yang menonton aksi mobil milik H.Muhyi itu.
Bagi warga Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, sosok H.
Muhyi bisa dikatakan aneh sekaligus pintar dalam segala hal. Beberapa waktu silam dirinya mendapatkan rekor Muri setelah berhasil membuat majalah dinding raksasa di tembok di dekat rumahnya. Soal atraksi yang ia pamerkan, ia mengatakan itu ada rahasianya dan bisa dipelajari setiap orang. “Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ghaib apa lagi hipnotis, ada tekniknya.”
…
Setelah pertunjukan bersama Mick Jabrik, atraksi mobil berjalan tanpa pengemudi itu juga dipertontonkan pada acara Gebyar Drumband Taman Kanak-Kanak se Kecamatan Cilongok, jalan santai KSU Mu’amalat Mandiri, dan terakhir pada karnaval 17 Agustus 2006. Untuk dua acara terakhir itu, si Merah bukan hanya beraksi di tengah lapangan, tetapi juga di jalan raya.
“Sebagai guru di sekolah formal, dan pengelola PKBM atau pendidikan non formal; saya ingin menunjukkan bahwa sistem pembelajaran pada kedua jenis pendidikan itu memiliki perbedaan. Di sekolah siswa diibaratkan sebagai
111
mobil yang berjalan ketika ada sopir yang menjalankan, atau guru yang memberikan pelajaran.
Di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), program Kesetaraan Paket A, Paket B, Paket C; tutor hanya sebagai fasilitator. Peserta didik dapat belajar mandiri. Ibarat sebuah mobil, sopir cukup menstarter, mengatur gas dan setir, mobil sudah dapat berjalan sendiri.”
Upaya sosialisasi pendidikan kesetaraan oleh Hamam alias H.Muhyidin Al Mabruri cukup berhasil, apa lagi ketika Depdiknas secara tegas tidak menyelenggarakn Ujian Nasional tahap kedua bagi siswa SMP, SMA dan SMK. Kini PKBM Nuju Pinter yang dipimpinnya tengah mempersiapkan Ujian Nasional Paket B dan Paket C yang sebagian besar pesertanya berasal dari SMP dan SMK yang belum lulus.
T A M A T
112
DAFTAR PUSTAKA
Muhyi Fadlil, Jalan Masih Panjang, Inti Media, Jakarta, 2003
Tim Redaksi, Perjalanan Ibadah Haji, Mading Tri Akseri, SMK Ma’arif Cilongok, April 2006
Angga Saputra, Ingat Waktu Kecil, Sekarang Ingin Praktek, Harian Radarmas, Purwokerto, 31 Mei 2006