Dengan surat panggilan Pusbuk Depdiknas, sejumlah dana dipastikan bakal diperoleh. Taruhlah naskahnya menempati juara harapan V (pemenang terakhir), Rp 1,5 juta akan diterimanya. Kenaikan Rp 0,5 juta untuk setiap tingkat di atasnya, sampai yang tertinggi Rp 5 juta untuk pemenang pertama.
Kendati demikian, kalender yang telah dipersiapkan tetap dibawa.
Empat orang terdaftar sebagai calon peserta, namun seorang berhalangan. Hari ulang tahun Murti ke 46 tanggal 5 November 2001, ditetapkan untuk start.
Didampingi Dartono (pensiunan), dan Fauzi (pelajar): Murti melakukan donor darah di Puskesmas Purwojati.
Dengan mobil berbendera dan bertuliskan "Keliling Indonesia,"
mereka melanjutkan perjalanan ke Purwokerto. Hari pertama itu dimanfaatkan untuk pamit dan mohon doa restu kepada Kepala Dinas Pendidikan serta Bupati Banyumas. Ketika singgah di Balai Wartawan, puluhan kuli disket mewawancarai mereka, dan mengabadikan peristiwa langka ini.
Tanggal 6 dan 7 November 2001, digunakan untuk memantapkan persiapan akhir sebelum mulai perjalanan ke luar kota. Beberapa orang yang tahu dari berita koran atau siaran radio, menyatakan salut dan berdoa untuk kelancaran kegiatan ini. Secara khusus warga RT di tempat tinggal Murti, berkumpul untuk melepas keberangkatannya.
Hari Kamis 8 November 2001, rombongan berangkat melalui Cilacap, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, menuju arah Bandung. Karena Fauzi masih sekolah, pelajar MAN 2 Yogyakarta ini tidak mengikuti perjalanan di wilayah barat. Dia baru kembali bergabung ketika rombongan memasuki kota Jombang, Jawa Timur.
37
Perjalanan diawali ziarah ke makam Syekh Abdus Shamad Jombor, Banyumas: dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya. Dari Pamijahan di tengah hujan lebat, sambungan knalpot lepas dengan bagian belakang tetap menggantung. Karena hari sudah malam, untuk sementara bagian yang menyentuh jalan diikat dengan tali.
Sampai di kota Tasikmalaya, kembali terjadi gangguan. Kali ini kabel dinamo stroom putus, sehingga lampu dan mesin mati. Dengan dibantu dua orang polisi, mobil didorong ke luar jalur bebas hambatan. Setelah diperbaiki, mobil kembali didorong untuk menghidupkan mesin. Kemudian lampu dinyalakan, dan perjalanan dapat dilanjutkan.
Dengan dua kali terjadi gangguan kecil itu, target masuk kota Bandung belum dapat dicapai. Di wilayah Garut, mobil dimasukkan halaman mesjid, dan untuk pertama kalinya dijadikan tempat tidur. Sengaja jok tengah dan belakang dilepas, diberi alas papan, tikar dan dilengkapi kasur.
Sesuai dengan undangan dari Pusat Perbukuan, pada tanggal 9 November harus sudah masuk Hotel Wisata, Jakarta. Berarti target perjalanan hari kedua adalah Garut, Bandung, Bogor, Jakarta. Setelah salat Subuh, mandi dan makan pagi: Murti mencari bengkel untuk memperbaiki knalpot. Tidak lupa menelepon ke rumah, sebelum melanjutkan perjalanan.
“Belum ada bengkel yang buka?" tanya Pak Dartono begitu mobil dijalankan.
"Belum ada, Kita mencari bengkel yang menyediakan klem, sebab aslinya memang diklem, tidak dilas." kata Murti.
"Yang penting tidak berbahaya."
"Ya hanya suaranya saja yang agak keras, tapi kan tidak begitu mengganggu?"
38
"Tidak, mungkin orang mengira disengaja untuk menarik perhatian."
"Bisa jadi begitu. Padahal mobil kita kan sudah dilengkapi bendera dan tulisan, untuk mengundang perhatian orang."
"Kalau teringat kejadian semalam saya jadi geli."
"Yang kehujanan mengikat knalpot?"
"Yang didorong polisi itu lho. Biasanya polisi kan mencari kesalahan.
Kita malah dibantu."
"Itu dulu, sebelum jaman reformasi. Sekarang polisi sahabat kita.
Namanya sahabat ya menolong."
"Ngomong-ngomong tadi Pak Murti menelepon ke rumah, memberi tahu kerusakan mobil?"
"Jelas tidak, saya hanya bilang menginap di wilayah Garut: sekitar enam puluh kilometer sebelum masuk kota Bandung."
"Seharusnya memang begitu. Supaya orang di rumah tidak khawatir.
Eh, tidak terasa kita sudah masuk wilayah Bandung."
"Betul juga. Kita mau masuk kota?"
"Terserah, kalau jadi mampir rumah Udin, di mana?"
"Sekarang pukul delapan lebih lima belas, mungkin dia sudah berangkat ke kantor. Kita segera menuju Jakarta."
"Ya sudah, langsung saja."
"Tapi perlu mencari ATM BCA, Ambil uang untuk beli bensin."
Percakapan terhenti begitu Murti membelokkan mobil ke Kantor BCA. Dengan tetap berkain sarung dia memasuki bilik ATM, Terperangah dia begitu melihat tulisan Rp 100.000, dibagian depan mesin. Sebab di Purwokerto hanya ada dua janis uang pecahan yang dapat diambil, dua puluh ribuan dan lima puluh ribuan.
39
Ketika kembali ke mobil, Pak Dartono sedang ditawari untuk menerima hadiah alat cukur. Namun dia menolak karena harus memberikan uang administrasi. Ada-ada saja ulah salesman di kota besar. Untung Pak Dartono cukup waspada, dan kebetulan sudah membawa alat cukur dari rumah.
Dari Bandung menuju Bogor, terjadi keliru persepsi yang justru menguntungkan. Mobil terus dipacu, melalui jalan menanjak dan berkelok-kelok. Dalam pikiran Murti, setelah sampai Bogor akan melewati tanjakan yang lebih terjal menuju Puncak. Jadi tanjakan yang dilaluinya dianggap sebagai pemanasan.
Betapa terkejutnya ketika dia melampaui tanjakan terakhir, ternyata tempat itu telah dikenalnya. Sewaktu mengikuti pelatihan di Cipayung, dia menyempatkan main ke tempat itu bersama teman-temannya.
"Alhamdulillaah. Tanpa terasa kita sudah sampai di Puncak.” ucap Murti kepada temannya.
"Pantas, dari tadi jalannya menanjak terus."
"Kita makan-makan dulu, salat, setelah itu saya menelepon ke rumah dan ke Hotel Wisata Jakarta. Sekalian minta dipandu, jalan yang harus kita tempuh nanti."
"Mesin mobilnya panas sekali."
"Justru itu, saya baru menghentikannya setelah sampai di lokasi paling tinggi. Setelah mesin ralatif dingin, tinggal menempuh jalan menurun."
“Tadi kau bilang 'tidak terasa' apa maksudmu?"
“Sebelum sampai di sini, saya beranggapan sampai Bogor dulu baru menuju Puncak. Sekarang saya baru sadar bahwa inilah Puncak."
"Kok bisa begitu."
40
"Sewaktu mengikuti pelatihan di Cipayung, saya main ke sini.
Perasaan saya waktu itu dari Cipayung ke utara. Jadi sekarang terasa ada kebahagian tersendiri."
Di warung yang dekat dengan mushalla, hanya ada pisang goreng, tidak ada nasi. Sambil mencari wartel, Murti juga mencari warnas, alias warung nasi. Karena masih ada bekal lauk dari rumah, di Puncak dia hanya membeli nasi putih. Untuk menikmatinya mereka mencari tempat yang strategis sambil melanjutkan perjalanan.
Hari semakin sore, sepasang petualang itu menfokuskan tujuan ke Hotel Wisata. Tanpa memasuki kota Bogor, langsung masuk jalan tol Ciawi menuju Jakarta. Keluar dari tol mereka mulai kehilangan arah, sehingga sebentar-sebentar harus bertanya.
Celakanya sedikit saja salah memilih jalur, mereka harus menebusnya dengan penambahan jarak puluhan kilometer. Kalau bukan untuk membuat sejarah, rasanya enggan menjadi sopir di Jakarta. Anehnya polisi yang melihat mobil ‘antik’ itu beberapa kali melintasi jalan yang sama, malah tertawa.
Mungkin mereka terhibur, dengan ulah pengemudi kampung yang datang ke Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta.
41