1
Mobil Antik Melaju Tanpa Pengemudi
Kisah Perjalanan Keliling Jawa-Bali
Muhyi Fadlil dkk.
Diketik oleh :
Anita dan
Laelatul Qodriyah
2
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah, naskah buku berjudul “Mobil Antik Melaju Tanpa Pengemudi” ini dapat diselesaikan, 44 hari setelah akhir perjalanan Jawa-Bali, berlanjut setelah Ibadah Haji. Kisah nyata keluarga dan teman penulis ini, semula menjadi dua buku “Mobil Antik” dan “Melaju Tanpa Pengemudi.”
Kemudian pada penerbitan ini dijadikan satu buku.
Saat Menyelelesaikan naskah ini, penulis baru dilantik menjadi guru Dpk SLTP Ma’arif Cilongok, dan melepaskan jabatan pemilik PGM. Penulis memilih menekuni buku bacaan murid SD/MI, karena pengalaman penulis selama dua puluh tahun, menjadi Guru pada dua belas Sekolah Dasar Negeri.
Kepada pusbuk Depdiknas yang secara tidak langsung telah memfasilitasi perjalanan penulis, disampaikan terima kasih. Delapan puluh persen perjalanan Jawa-Bali dibiayai dengan uang hadiah dari pusbuk.
Kepada istri Tri Winarti, kedua anak M. Zainurokhman (Inur) dan M.
Lutfi Nur Fauzi, serta Bapak Dartono, penulis juga menyampaikan terima kasih. Mereka banyak berperan dalam mewujudkan kisah MobilAntik ini, sebagai pendukung pelaku utama. Mudah mudahan kisah tentang mobil berusia tiga windu (2002), yang baru mengelilingi Jawa-bali ini, mendapat tempat di hati pembaca.
Pada buku kedua yang ditulis tahun 2006 setelah Penulis menunaikan Ibadah Haji pelaku utama digunakan nama HAMAM, yang merupakan akronim dari Haji Muhyidin Al Mabruri; sebuah nama yang diberikan oleh
3
pembimbing haji Drs. K.H. Chariri Shofa M.Ag, Ketua STAIN Purwokerto.
Sedangkan nama penulis yang tercantum pada berbagai dokumen resmi adalah Muhyi Fadlil, S.Pd.
Selayaknya penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan, kepada Ibu Hj. Siti Chotijah, ayah H. Ahmad Thohari (alm), Ibu mertua Hj. Saudah dan ayah mertua H. Achmad Sumeri (alm). Juga kepada isteri Hj.
Habiburrohmah, anak-anak, para menantu dan para cucu; kepada pembimbing haji Drs. K.H. Chariri Shofa M.Ag, teman seperjalanan H.Ahmad Riyadi;
serta semua keluarga, teman dan peserta didik yang tak mungkin disebut nama mereka satu persatu.
Mudah-mudahan buku ini bermanfaat bagi para pembaca dan masyarakat peduli pendidikan, di manapun berada. Penulis mohon didoakan agar sisa usia yang diberikan Allah bermanfaat bagi masyarakat, utamanya dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk perbaikan buku ini selanjutnya.
Penulis,
4
PENGANTAR PENERBITAN 2021
Pada Tahun 2013 TBM / PKBM Nuju Pinter mendapatkan bantuan Hibah dari Bupati Banyumas untuk Fasilitasi dan Pengembangan Taman Bacaan Masyarakat, termasuk untuk penambahan buku. Di samping membeli buku dari toko, sebagian dana diperuntukkan mencetak ulang buku-buku hasil karya Muhyi Kalender (H. Muhyi Fadlil) dan Hj. Tri Winarti MF di antaranya :
1. Jalan Masih Panjang, pemenang lomba Pusbuk, Otobiografi 2. Hidup Adalah Pengabdian, Muhyi Fadlil.
3. IRAWAN Muhyi Fadlil.
4. Pembelajaran Tiada Henti, Hj. Tri Winarti.
5. MOBIL ANTIK Muhyi Fadlil *)
6. REALITA CINTA Hj. Tri Winarti
7. NAPAK TILAS Otobiografi (buku 2) Muhyi Fadlil 8. Melaju Tanpa Pengemudi, Muhyi Fadlil*)
9. USWATUN HASANAH, Muhyi Fadlil
*)Atas saran Penerbit RIZQUNA, nomor 5 dan 8 disambung.
5 DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... iii 1. Sering Menyewa ...
2. Pembayaran Tangguh ...
3. Balik Nama Dan Ganti Bodi ...
4. Jarak Pendek ...
5. Jiwa Petualangan ...
6. Sampai Ke Puncak ...
7. Hadiah Pusat Perbukuan ...
8. Adik Ipar Melahirkan ...
9. Dihadang Polisi Nakal ...
10. Perjalanan Dipercepat ...
11. Kembali Ke Rumah
12. Bersama Jarwo Mick Jabrik ...
13. Riwayat Mobil Tua ...
14. Menunaikan Ibadah Haji ...
15. Melaju Tanpa Pengemudi
DAFTAR PUSTAKA ...
6
1. Sering Menyewa
Kehidupan Keluarga Murti tidak ada yang istimewa, biasa-biasa saja.
Sebagai pegawai rendahan, mereka tak pernah berfikir memiliki rumah mewah atau villa. Kalau kemudian mereka memiliki sebuah mobil tua, awalnya hanya karena sering menyewa. Kemudian merasa cocok ketika si pemilik siap melepas mobil itu.
Nama pasangan Muhyi Fadlil dan Tri Winarti, sangat dikenal oleh warga RT 05 RW 01 Desa Cilongok Banyumas. Tetapi dalam kisah ini, kita kenali mereka sebagai Bapak dan Ibu Murti. Pasangan suami isteri ini dikaruniai dua putera, Inur dan Fauzi. Karena rumah mereka di tepi lapangan, keduanya telah pandai mengemudi dalam usia belia.
“Kapan si mobil ini menjadi milik kita?” Tanya inur kepada ayah, ketika mereka sekeluarga menyewa.
“Tanyakan pada pak Tono, kapan pemiliknya mau melepas.” jawab Pak Murti sambil menoleh ke arah sopir.
“Bagaimana Pak Tono?” tanya Fauzi
“Kemarin ada orang menawar, tetapi pemiliknya belum mau jual.
Hong Pik menyukai mesin mobil ini.” jelas Pak Tono
“Kalau yang menawar tetangga dekat mungkin dilepas.” Pak Murti menimpali.
“Mungkin juga.” jawab Pak Tono lagi.
“Begini saja ..., Pak Tono kan sudah beken dengan pak Hong Pik.
Katakan, kalau mobil ini mau dijual, kami siap membeli.” ujar pak Murti.
Pembicaraan terhenti karena mobil sudah memasuki halaman, kemudian berhenti. Setelah uang sewa dibayarkan, Pak Tono pergi mengantar
7
mobil ke rumah Hong Pik pemiliknya. Bukan hanya sekali percakapan Pak Tono dengan keluarga Murti berlangsung. Setiap bulan mereka menyewa mobil itu, sekali atau dua kali. Setelah Hong Pik membeli mobil baru, frekuensi penyewaan mereka semakin cepat.
Sebelumnya keluarga Murti pernah memiliki mobil, tetapi tidak bertahan lama. Sebab tidak imbang antara biaya perawatan dengan pemanfaatannya. Bahkan besarnya biaya perawatan setiap bulan, jauh melebihi besarnya uang cicilan. Stabilitas ekonomi keluarga sempat terganggu akibat memelihara “si jago mogok.”
Setelah satu setengah tahun berjalan, evaluasi pun dilakukan. Rencana menabung dengan cara mengangsur mobil, telah berbuah penumpukan hutang.
Kesimpulanya, mobil harus dilepas. Tetapi siapa yang mau membeli mobil rusak, dan BPKB nya masih di dealer karena belum lunas?
Meskipun mengambil di dealer, mobil itu termasuk barang bekas yang disita dari pemilik pertama. Dijual lagi dengan sistim angsuran kepada konsumen berikutnya. Karena mobil sering rusak, angsuran tersendat.
Ujungnya si kreditur mencari orang yang mau melanjutkan angsuran. Uang yang sudah masuk cukup diganti separohnya.
Merasa ada peluang untuk memiliki mobil, tanpa pikir panjang Pak Murti siap menjadi kreditur pengganti. Seminggu, dua minggu, sampai satu bulan lancar-lancar saja. Belum lagi memasuki bulan ketiga, mulai ada keluhan. Dari yang ringan, sampai yang memerlukan perawatan bengkel.
Sebagai orang yang masih awam dalam bidang otomotif, pak Murti hanya berharap mobilnya mau bersahabat. Ternyata harapan itu meleset jauh, seperti telah diuraikan di atas. Mencari calon pembeli mobil bermasalah, bukanlah pekerjaan mudah. Maka ketika ada orang menawarkan jasa untuk
8
menjualkan mobil itu, dia langsung menyetujuinya. Apa lagi orang tersebut memang sudah dikenalnya.
Singkat cerita, mobil yang telah lama nongkrong itu diderek meninggalkan keluarga pemiliknya. Hanya dengan modal kepercayaan, hampir saja pak Murti kehilangan segalanya. Sebab sampai batas waktunya terlewati, si penolong belum juga memenuhi janjinya. Setiap ditanyakan, jawaban tidak pernah memuaskan.
“Bapak kan sudah janji untuk ketiga kalinya,” kata pak Murti saat bertemu pak Sono.
“Iya, tapi dari pak Tarip memang belum dibayar.” jawab pak Sono berdalih
“Jadi, saya masih menunggu lagi?”
“Kalau sampai minggu depan belum juga dibayar, itu menjadi tanggung jawab saya.”
“Saya berharap Bapak tidak menyia-siakan kepercayaan saya.” Pak Murti agak menyesal karena ketika melepas mobil, tidak minta tanda bukti apapun kepada pak Sono. Dia percaya begitu saja, karena pak Sono adalah orang yang sangat dihormatinya.
Dia baru menyadari kecerobohanya, ketika dihadapkan pada kenyataan itu. Dia ingat peringatan Allah dalam AL-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 282. “Ayat terpanjang dari surat terpanjang” itu juga telah mengilhami manajemen modern dalam urusan hutang-piutang. Intinya transaksi harus tercatat, dan disaksikan oleh sedikitnya dua orang saksi yang adil. Dalam sistem modern, dilengkapi tanda tangan atas materai.
Begitulah, penyesalan selalu datang kemudian. Dalam hubungan antar manusia, kepercayaan saja belumlah cukup untuk sebuah transaksi. Terutama
9
untuk perdagangan atau hutang-pitutang berskala besar. Kalau ini diabaikan, akibatnya bisa fatal. Bagi Pak Murti, satu-satunya harapan hanyalah pertolongan Allah. “Nasi boleh saja menjadi bubur, asal buburnya laku dijual.”
Cuma itulah harapanya.
Lengkaplah sudah pengalaman Murti dengan “si jago mogok.”
Dipelihara menumpuk hutang, dilepas masih menyisakan ”ekor panjang.”
Pengalaman adalah guru terbaik. Ia berjanji pada diri sendiri, untuk tidak berbuat ceroboh lagi dalam memilih kendaraan.
Sementara sebagai seorang pendidik, Pak Sono merasa kasihan juga kepada Pak Murti. Kemauan untuk menjual mobil, terganggu oleh mitra bisnisnya yang ingkar janji. Dia bertekad untuk menjaga nama baiknya, meski harus dengan pengorbanan. Murti adalah anak didiknya ketika SD, yang telah menjadi wali siswa di tempatnya bertugas.
Setelah lebih dari tiga bulan diliputi ketidakpastian, Pak Murti dikejutkan oleh suara anaknya, “Ayah, ini ada titipan dari Pak Sono. Beliau minta maaf kepada Ayah.”
“Alhamdulillah mudah-mudahan amplop ini berisi uang pelunasan pembayaran mobil.” Ucap Pak Murti sambil menimang-timang amplop tebal yang disodorkan Inur anaknya.
“Kapan Ayah membeli mobil lagi?” tanya Inur.
Yang ditanya tidak segera menjawab, karena sedang asyik menghitung uang. Ibu Murti yang berdiri tidak jauh dari mereka memberi penjelasan,
“uang itu untuk melunasi pembayaran tanah.”
“Ayah bilang mau beli mobil lagi?”
“Iya, tetapi tidak sekarang. Mungkin setahun, atau dua tahun mendatang.” jawab Pak Murti.
10
Sebenarnya Inur masih belum puas dengan jawaban ayahnya. Namun karena sudah merasa lapar, dia memilih masuk rumah untuk makan siang.
Pikiran seorang anak yang baru duduk di kelas lima SD ini, memang berbeda dengan ayah ibunya. Mobil rusak, diperbaiki, mobil dijual, segera beli lagi.
Sementara Pak Murti yang trauma karena pengalaman pahitnya, justru merasa terbebas dengan lepasnya si jago mogok. Atas persetujuan Bu Murti, dia memilih membeli tanah dengan sisa uang penjualan mobil. Disebut sisa, karena dia masih harus melunasi angsuran ke dealer.
Dengan terselesaikanya pembayaran mobil, lunas pula pembayaran tanah. Hal ini sesuai dengan janji yang diberikan kapada pemilik tanah. Tidak adanya mobil pribadi bagi keluarga yang pernah dimilikinya, kadang dirasa sebagai kepincangan. Inipun dirasakan oleh keluarga Murti, terutama anak- anak.
Motor butut yang lebih sering “diistirahatkan,” kembali menjadi alat transportasi vital bagi keluarga ini. Bebanya semakin berat, dengan bertambahnya usia anak-anak. Inur (9 tahun) duduk di kelas lima, dan Fauzi (6 tahun) kelas dua SD. Keduanya masuk Sekolah Dasar pada usia lima tahun.
Tidak jarang motor berkapasitas dua penumpang itu, harus menanggung beban empat sekeluarga. Masyarakat di tepi jalan Cilongok- Gununglurah, sering menjadi saksi peristiwa ini. Keadaan demikian ternyata tidak dapat terus dipertahankan. Salah satu solusinya, sesekali keluarga ini menyewa mobil.
Hong Pik, adalah seorang warga keturunan yang menjadi tetangga Murti. Orangnya sangat hati-hati dalam memilih dan memelihara mobil. Tidak sembarang pengemudi mendapat kepercayaan untuk mengoperasikan mobil miliknya. Di antara sopir kepercayaan Hong Pik adalah Pak Tono, yang juga
11
tetangga Murti. Lewat Pak Tono inilah, keluarga Murti sering menyewa mobil Hong Pik.
Kadang sekali sebulan, kadang dua kali, tergantung kepentingan dan anggaran yang tersedia. Dari kebiasaan menyewa ini, timbullah keinginan untuk memiliki. Trauma akibat pengalaman pahit dengan si jago mogok, berangsur terobati setelah lebih dari satu tahun berlalu.
Menjelang ulang tahun ke 39 Pak Murti bulan November 1994, keinginan itu semakin mengental. Seperti telah diuraikan di muka, pendekatan pendahuluan telah mereka lakukan. Bapak dan Ibu Murti telah sepakat, anak- anak juga mendukung.
“Hong Pik sudah dapat mobil lagi, mobil yang ini jadi dilepas?” Tanya Pak Murti di sela pembicaraan santai dengan pengemudi.
“Sebenarnya banyak yang sudah langsung menanyakan, tetapi dia merasa sayang untuk melepas.” jawab Pak Tono.
“Pak Tono sudah pernah menyampaikan keinginan saya?”
“Sudah, tampaknya dia lebih cenderung untuk melepas kepada tetangga dekat.”
“Kok bisa Begitu?”
“Pertimbanganya mungkin berkaitan dengan kepuasan. Paling tidak dia bisa melihat bekas miliknya itu setiap saat.”
“Tapi saya kan tidak pegang uang. Setelah ada kepastian, baru saya mau pinjam bank.”
“Hal itu sudah pernah saya sampaikan, ternyata dia tidak keberatan.”
“Pak Tono menjamin?”
“Sebaiknya Pak Murti datang saja, langsung bertemu Pak Hong Pik.
Katakan saja apa adanya, insya Allah dia menerima.”
12
“Kondisi mobil ini, bagaimana menurut Pak Tono?”
“Untuk ukuran usia belasan tahun, menurut saya mobil ini cukup bagus. Pak Murti sudah merasakan sendiri kan?”
“Iya, tapi saya sangat awam dalam bidang otomotif. Lagi pula Pak Tono tahu, saya trauma dengan si jago mogok.”
“Kalau dibanding mobil Bapak yang dulu, jelas berbeda. Saya jamin Bapak puas kalau dapat memiliki mobil ini.”
Ibu Murti dan anak-anak di jok tengah saling berbisik, sambil berdoa agar mobil itu dapat menjadi milik keluarga. “Sebagai hadiah ulang tahun Bapak.” bisik Fauzi dan Inur kepada Ibu mereka.
13
2. Pembayaran Tunda
Saran Pak Tono benar-benar menjadi bahan pertimbangan bagi keluarga Murti. Tekat untuk mengajukan kredit bank setelah ada kepastian, mendorong Pak Murti segera menemui Hong Pik, si pemiik mobil. Meski bertetangga, dua orang berbeda bangsa dan agama itu terhitung jarang bertemu.
“Permisi... apakah Pak Hong Pik ada di rumah?” tanya Pak Murti kepada nyonya Hong Pik.
“Oh ada, silahkan masuk.” jawab si nyonya sambil membukakan pintu. Dia tinggalkan sejenak barang dagangan di rukonya, karena menghormati tamu yang datang.
“Maaf, mungkin kedatangan saya mengganggu.”
“Oh tidak, silahkan duduk!” sambut Pak Hong Pik.
“Saya sudah lama ingin bertemu Anda, tetapi baru kali ini terlaksana.”
“Saya tahu, Bapak kan sibuk dengan berbagai urusan.”
“Justru saya khawatir mengganggu kegiatan bisnis Anda. Ngomong- ngomong Pak Tono sudah pernah menyampaikan apa belum?”
“Maksud Bapak, masalah kendaraan?”
“Iya betul, intinya saya butuh kendaraan, tetapi tidak pegang uang.
Siapa tahu Anda dapat membantu saya.”
“Saya sudah bilang sama Pak Tono, sudah beberapa orang menginginkan kendaraan saya. Terakhir orang Karangnangka. Saya katakan, belum akan dilepas. Tetapi ketika Pak Tono menyampaikan keinginan Bapak, Saya dan Isteri Saya dapat menyetujuinya.”
“Walaupun dengan pembayaran tunda?”
14
“Masalah harga dan cara pembayaran, bagi kami tidak penting. Kami merasa puas, apabila keberadaan kami cukup berguna bagi tetangga.”
“Terus terang, saya baru akan mengajukan kredit setelah ada lampu hijau dari Anda.”
“Silahkan saja. Harganya tiga setengah, mau langsung dibawa ini kontaknya.”
“Saya titip lima ratus ribu rupiah, kekuranganya sekitar sepuluh hari.”
“Sebenarnya tanpa ini, saya sudah percaya. Tetapi baiklah saya terima, dan ini kuitansinya.”
“Terima kasih, saya mohon pamit.”
“Mesikpun terasa agak kaku, transaksi berjalan singkat dan mudah. Itu terjadi karena adanya saling percaya. Peran Pak Tono juga cukup besar dalam menjembatani mereka. Wajar kalau dia ikut mendapat bagian atas jasa- jasanya.”
Begitu sampai di halaman rumah, Isteri dan kedua anaknya merasa terkejut. Mereka bergegas keluar begitu mendengar suara klakson. Saat itu adzan isya baru selesai dikumandangkan.
“Dengan uang lima ratus ribu bisa membawa mobil?” tanya Ibu Murti.
“Ternyata Hong Pik baik sekali. Tanpa uang muka pun dia siap melepas mobil ini. Tetapi karena sudah disiapkan, saya kasihkan juga.
Sekarang kita siap-siap ke Gunung lurah.”
“Asyiiik....” seru Fauzi dan Inur hampir bersamaan.
“Alhamdulillah,” Ibu Murti mengingatkan kedua anaknya,
“Kita bersyukur kepada Allah, serta berdoa semoga mobil ini membawa kebaikan bagi keluarga kita.”
“Tidak seperti mobil kita yang dulu.” sambung Inur.
15
“Yang dulu bagaimana?” tanya Fauzi.
“Itu semua sudah menjadi masa lalu. Satu setengah tahun silam, Bapak berjanji untuk lebih selektif. Semoga pengalaman dengan si jago mogok, tidak terulang pada mobil ini.” kata Pak Murti sambil bernostalgia.
“Amiiin.” sahut mereka yang mendengarkan.
Tidak berselang lama mereka berempat telah berada di dalam mobil.
Bapak pegang kemudi didampingi anak bungsunya, Ibu di jok tengah berdua dengan si anak sulung. Keadaan keluarga Murti pada saat itu, mengingatkan kita pada lambang Keluarga Berencana. Atau yang tergambar pada uang logam “ lima-rupiahan.” Bedanya pada lambang KB tergambar dua anak putera-puteri, sedangkan Inur dan Fauzi keduanya putera.
Mobil terus melaju, percakapan mereka masih berlanjut. Dari obrolan ringan, sampai yang serius. Suasananya bertolak belakang dengan ketika mereka berhimpitan, naik sepeda motor. Kunjungan ke rumah nenek Inur di Gununglurah, untuk pamitan karena dia akan kembali ke pesantren.
Sebenarnya masih beberapa hari lagi, tetapi pamitnya lebih awal karena memanfaatkan ‘mobil baru.’
Merasa puas dengan uji coba malam itu, Pak Murti langsung mengajukan kredit bank pada pagi harinya. Karena sudah menjadi nasabah, proses pengajuan sampai pencairanya berjalan lancar. Dampaknya pembayaran kepada pemilik mobil juga tepat, sesuai waktu yang dijanjikan.
Rangkaian awal yang baik, menambah kemantapan keluarga Murti memiliki mobil itu. Meski begitu, bayang bayang si jago mogok sesekali muncul juga.
Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan berlalu tanpa ada gangguan berarti. Sementara Inur telah kembali ke pesantren di Jombang, Jawa Timur. Fauzi yang tinggal di rumah karena masih kelas empat SD, sering
16
mengamati ayahnya mengemudikan mobil. Tidak lama setelah naik ke kelas lima, Pak Murti memberi kesempatan kepadanya untuk belajar mengemudi.
Keberadaan rumah keluarga Murti di tepi lapangan, memungkinkan untuk itu. Tanpa disangka, anak berusia kurang dari sepuluh tahun itu mampu menjalankan mobil dengan baik. Kebiasaan orang berlatih mengemudi, kesulitan membuat keseimbangan melepas kopling dengan menekan pedal gas. Akibatnya mesin mati, atau menderu keras. Hal ini tidak dialami Fauzi
Anak yang postur tubuhnya jauh dari memenuhi syarat mengemudi itu, justru tampil meyakinkan. Padahal jangkauan kaki untuk menyentuh pedal dan pandangan mata untuk melihat ke depan terlalu minim. Kalau saja kejadian itu disaksikan oleh Jaya Suprana, mungkin Fauzi dicatat sebagai pengemudi terkecil atau termuda.
Bagi Pak Murti, selama mobil mampu berjalan tak ada keinginan untuk kontrol ke bengkel. Pengalaman memelihara si jago mogok, masih terbawa sampai memiliki mobil kedua ini. Akibatnya justru sangat fatal.
Sekali kontrol, sudah harus turun mesin. Terpaksa dia mencari pinjaman kesana kemari untuk membiayai mobilnya.
Ketika tiba waktunya membayar pajak, kembali dia mencatat pengalaman pahit. Dengan dalih KTP harus “nembak,” Pak Murti harus mengeluarkan biaya cukup besar. Jumlahnya hampir tiga kali lipat pembayaran resmi.
Hidup memang aneh, ada saatnya melalui jalan mulus, ada pula waktunya menemui jalan berliku. Bahkan tidak jarang terjebak jalan buntu.
Semua menjadi realita yang tidak mungkin dihindari. Kewaspadaan seseorang hanya dapat meminimalisir dampak negatifnya.
17
Perbuatan baik seperti memberi sedekah, dapat menghindarkan seseorang dari bahaya yang mengancamnya. Musibah dapat tetap terjadi, namun dampak negatifnya berkurang, atau hilang sama sekali. Itu semua merupakan rahasia Allah, manusia baru tahu setelah segalanya terjadi. Allah memberikan sedikit ilmu kepada manusia, sebagai bekal untuk mengendalikan atau mengatur dunia.
Kisah kepemilikan mobil keluarga Murti memang unik. Berbagai kemudahan meliputinya, sekali waktu justru menjadi ajang pemerasan calo pajak. Untuk menghindari berulangnya penipuan halus itu, dia mengurus sendiri pembayaran pajak pada tahun berikutnya.
Lain lagi dengan percaloan yang terjadi pada sektor pengurusan Surat Ijin Mengemudi atau SIM. Di sana sulit dibedakan mana calo dan mana petugas. Surat Ijin Mengemudi yang seharusnya dikeluarkan secara selektif, ditawarkan setidaknya dalam tiga kemasan. Kilat khusus dengan tarif yang aduhai, ujian praktik diganti dengan uang atau jalur biasa yang dijamin banyak hambatan.
Jika terjadi pelanggaran, jangan hanya salahkan pengemudi yang ceroboh, pejabat yang mengurus SIM harus ikut diusut. Bagaimana air di bawah dapat jernih, kalau dari sumbernya sudah keruh. Masyarakat pun tidak boleh serta merta menyalahkan petugas, karena dalam hal ini berlaku hukum bisnis. Ada penjual jasa, ada pula pengguna jasa.
18
3. Balik Nama dan Ganti Bodi
Resiko pemakai kendaraan dengan plat nomor luar daerah, adalah membengkaknya jumlah yang harus dikeluarkan saat membayar pajak. Untuk mengurus sendiri, jelas diperlukam waktu relatif lebih lama. Pemilik kendaraan bekas, sebaiknya segera mengurus balik nama jika telah merasa cocok. Namun hal ini sering diabaikan, sementara penegak hukum jarang menyentuh pasal pelanggaran tersebut.
Kalaupun Pak Murti mengurus balik nama, ini bukan semata-mata karena pertimbangan hukum. Dia merasa penasaran dengan praktik pecaloan, yang dirasa menjerat. Dari pada setiap tahun dikerjai calo, lebih baik repot mengurus balik nama, untuk kemudahan bayar pajak selanjutnya.
Dengan pengalaman itu, ternyata banyak manfaat yang dapat dipetik.
Bukan hanya bagi diri dan keluarganya, tetapi juga bagi anak didik dan masyarakat. Perpindahan dalam satu wilayah kabupaten, berbeda dengan perpindahan antar kabupaten. Perbedaan itu dapat dilihat dari sisi waktu, kerepotan, maupun biaya yang harus dikeluarkan.
Provokator tidak selamanya berkonotasi jelek. Pak Tono adalah contoh provokator yang baik, paling tidak dalam pandangan Pak Murti. Ketika itu banyak orang mencela mobil T.120 miliknya, dan menyarankan supaya ganti yang baru. Hampir dia terpengaruh, untung ada alasan klasik, “tidak punya cukup uang.”
Pak Tono berani melawan arus dengan mengatakan, “Dari pada ditukar, lebih baik diganti bodi.”
“Tapi ganti bodi kan biayanya mahal.”
19
“Saya pikir tidak mahal. Kalau Bapak mau tukar misalnya tersedia uang tiga juta, untuk ganti bodi mungkin cukup.”
“Kalau di karoseri ternama, sampai lima juta.”
“Bapak bisa menghubungi karoseri lokal, pasti lebih murah. Memang kualitasnya berbeda.”
“Di Purwokerto ada yang menawarkan empat, sampai empat setengah juta.”
“Bapak mau pilih yang mana?”
“Kalau punya uang pilih tukar tambah, sebab tidak harus menunggu lama. Langsung dapat dipakai.”
“Kalau itu pilihan Bapak, ya silahkan. Tapi saya berani menjamin, tiga atau lima tahun mendatang Bapak menyesal.”
“Itu kan kalau saya punya uang. Tapi Pak Tono tahu kan model saya.
Program dulu, karena tidak mungkin ditunda lagi, baru cari biaya.”
“Simpanan di bank kan banyak?”
“Memang, di bank banyak simpanan, banyak uang. Tetapi bukan milik saya. Ada memang yang pakai nama saya, namun itupun bukan milik saya, milik sekolah.”
“Bapak tidak jadi memilih tukar tambah?”
“Bukan tidak jadi, tetapi tidak mungkin. Karena tidak punya uang.
Kalau ganti bodi, kan biayanya tidak sekaligus.”
“Untuk karoseri lokal dapat kompromi.”
Pilihan yang serba sulit, ketika bodi mobil mulai reot. Dibiarkan semakin parah, tukar tambah belum tentu mendapat barang bagus, dipugar atau ganti bodi memakan waktu lama. Lebih rumit lagi kalau sudah
20
menyangkut biaya. Menghadapi kenyataan seperti ini, orang sering berkhayal,
“Betapa enaknya jadi orang kaya.”
Pada kesempatan lain, kembali Pak Murti mengajak patnernya berdiskusi lepas. Kali ini dia membawa sopir kepercayaan itu mengemudikan mobilnya.
“Ada perkembangan baru, yang perlu di pertimbangkan Pak Tono.”
kata Murti membuka percakapan.
“Ada rejeki nomplok?” tanya Pak Tono menggoda.
“Begini, Pak Sopan sanggup mengerjakan dengan biaya tiga juta. Asal saya mengiyakan, dia akan mulai bekerja walaupun tanpa uang muka.”
“Bapak sendiri bagaimana?”
“Saya belum memutuskan, menunggu pertimbangan Pak Tono.”
“Biasanya Pak Sopan kan hanya menambal, atau memperbaiki kerusakan. Setahu saya belum pernah membangun bodi,”
“Kepada saya dia bilang, memang belum pernah. Jadi mobil ini untuk percobaan, maka dia menetapkan tarif murah.”
“Kalau dia sanggup, apa salahnya?”
“Saya tanyakan waktunya, sekitar tiga bulan. Berarti selama itu saya seperti tidak punya mobil.”
“Memang begitu. Paling tidak Bapak harus mempersiapkan sepeda motor.”
“Dalam beberapa hari nanti, saya baru dapat mengambil keputusan.”
Sampai bulan Agustus 1997 bodi mobil sudah sangat parah, namun pemiliknya belum memastikan kapan mau dipugar. Ketika lapangan depan rumah dipersiapkan untuk upacara, mobil Murti terkena gusur alias harus diungsikan. Bukan karena keputusan pengadilan, melainkan hanya
21
pertimbangan kepatutan. Bengkel Rahayu Cilongok, adalah alternatif paling tepat untuk tempat pengungsian itu.
“Besok mobil ini perlu di tempatkan agak jauh dari panggung.” Kata Bu Murti sambil menyapu halaman.
“Nanti saya ungsikan,” ujar suaminya.
“Ke mana?”
“ Ke bengkel Rahayu.”
“Apanya yang diperbaiki?”
“Sementara kita titipkan. Kalau sudah ada dana biar dipugar sekalian.”
“Jadi ganti bodi?”
“Rencananya begitu, tapi tergantung situasinya.” jawab Pak Murti sambil membuka pintu mobil. Tidak lama kemudian, mobil diluncurkan menuju bengkel. Kali ini bukan untuk langsung diperbaiki, tetapi dititipkan sementara waktu. Karena bengkel tidak terlalu jauh dari rumah, sebentar kemudian pemiliknya pulang dengan jalan kaki.
Peristiwa sehari menjelang upacara 17 Agustus itu, menjadi tonggak penantian panjang, tanpa mobil dalam keluarga Murti. Tiga hari setelah itu, mobil mulai di bongkar atas kesepakatan pemilik dengan pihak bengkel.
Untuk pertama kalinya Pak Sopan di unit las “Benkel rahayu” membuat bodi mobil.
“Saya hanya ingin dapat pengalaman. Mudah mudahan dana tiga juta rupiah cukup untuk membeli material dan ongkos pembantu saya.” kata Pak Sopan meyakinkan.
Target waktu tiga bulan hampir terlampaui, namun belum ada tanda- tanda akan berakhirnya pengelasan bodi mobil. Belum lagi pekerjaan dempul pengecatan. Rasa kesal dan dongkol, berubah menjadi kasihan melihat
22
pekerjaan yang tak kunjung selesai. Apa lagi tahun 1997 itu merupakan awal terjadinya kriris multi dimensi.
Memasuki bulan ke tujuh barulah seluruh pekerjaan pembuatan bodi selesai, namun karena lamanya mobil nongkrong, beberapa bagian sempat karatan. Untuk mendapatkan fungsinya kembali, bagian-bagian tersebut perlu penanganan petugas unit mesin di bengkel itu. Biaya untuk pekerjaan ini, menjadi tanggungan pemilik mobil.
Sesuai perjanjian, kewajiban Pak Murti untuk pekerjaan bodi adalah sebesar tiga juta rupiah. Namun karena disodori nota perhitungan yang jauh di atas perkiraan, dia memberi tambahan sekedarnya. Pak Sopan yang hanya melaporkan tanpa maksud menuntut itu, menerima dengan gembira.
Keberhasilan Putra Cilongok membuat bodi mobil, mengundang kekaguman orang yang melihatnya. Perpaduan modal colt T.120 dan kijang itu, memiliki pintu di bagian belakang. Sepintas sulit dibedakan dengan hasil garapan perusahaan terkenal. Kelemahanya pada penyelesaian akhir, terutama pemasangan pintu dan kaca kurang rapat, sehingga bocor saat hujan turun.
Menjelang akhir pekerjaan Pak Sopan sering mengatakan, “Bodi mobil ini adalah karya saya yang pertama, dan juga yang terakhir”
“Orang sekolah kan ada tahapan kelas. Ini baru kelas satu, harusnya ada kelas dua, tiga dan seterusnya.” kata Wanto mengingatkan istilah yang pernah diucapkan Pak Sopan.
“Sekolah saya kan seperti kursus. Dari teori langsung praktik, dan tamat dalam enam bulan.”
Sepintas orang menanggapi pernyataan itu, sebagai cerminan rasa kecewa atas kerugian yang dideritanya. Padahal dia secara tulus,
23
mengeluarkan kata kata dari lubuk hatinya. Hanya Allah yang mengetahui kesungguhan ucapan Pak Sopan, karena Dialah Sang Maha Penentu.
Sekitar satu tahun setelah menyelesiakan karya besarnya, Pak Sopan terserang kanker otak. Berbagai upaya dilakukan keluarga untuk kesembuhanya. Termasuk mengumpulkan sejumlah informasi, rumah sakit mana yang diharapkan mampu menolongnya. Setelah menjalani operasi di Bandung Jawa Barat, ada secercah harapan dengan kondisi yang membaik.
Namun keadaan itu tidak berlangsung lama, begitu penyakitnya kambuh, seolah tiada lagi kesempatan baginya untuk bertahan. Ibu, Isteri, dan keluarganya hanya pasrah, sambil memberikan pengertian kepada anak- anaknya. Tidak lama kemudian dia menghembuskan nafasnya terkahir.
Innaalillahi wainnaailaihi raaji’un.
Kini Pak Sopan telah tiada, sakit yang dideritanya telah sirna. Segala miliknya di dunia ini dia tinggalkan, termasuk isteri dan anak-anaknya.
Sejumlah kenangan menjadi bukti keberadaanya di dunia, sesuai jatah usia yang diberikan Sang Maha Pencipta. Bodi mobil milik keluarga Murti, terbukti merupakan pertama dan satu-satunya bodi mobil buah karyanya.
24
4. Jarak Pendek
Dengan bodi barunya, mobil Murti tampil lebih mantap. Sebelum jatuh sakit, pak sopan sangat antusias memperhatikan hasil karyanya itu.
Setiap Perubahan karena lecet atau tergores tidak pernah lepas dari pantauanya. Ini dapat diketahui dari pertanyaan yang muncul, saat dia bertemu dengan pemiliknya.
Sepeninggal pembuatnya, seolah mobil Murti turut berduka. Sebelum ganti bodi, kendaraan bermesin bikinan tahun 1977 itu pernah mengunjungi kota Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Pangandaran. Setelah ganti bodi justru hanya dipakai transportasi lokal atau jarak pendek.
Mengangkut barang dari tempat kulakan, kepentingan keluarga atau sesekali disewa orang. Yang hampir rutin adalah dibawa kuliah, karena Pak Murti mengikuti pendidikan di UMP. Mungkin karena itulah dia dan keluarganya jarang keluar kota dengan membawa kendaraan pribadi.
Meskipun tidak separah si jago mogok, kendaraan tua ini memerlukan perawatan rutin. Namun kareana pemiliknya malas, perawatan itu di percayakan ke bengkel setiap ada keluhan. Akibatnya mobil tampak kurang meyakinkan, baik dari penampilan fisik maupun kualitas mesinnya.
Sebenarnya Pak Agus , adik Pak Sopan yang ahli mesin, sering menyatakan ketangguhan mesin mobil jenis colt T.120. Bahkan Camat Cilongok pernah berpesan, agar mobil itu dipelihara baik-baik karena sedang dapat pasaran. “Mobil saya sudah ada yang nawar dua puluh juta.” kata Pak Camat, Menunjuk mobil bekas inventaris panitia pemilu 1982.
Kesan kendaraan lokalan memang sulit dipisahkan dengan mobil keluarga Murti. Apa lagi pemiliknya juga merasakan demikian. Hanya orang-
25
orang yang tahu kualitas mobil tua, menyayangkan kendaraan itu tidak mendapat perawatan semestinya. Termasuk kelompok ini adalah Pak Agus dan Pak Tono.
Tahun 2000 menjelang Pak Murti diwisuda, dia merasa resah karena titel sarjana sudah tidak ada istimewanya. Ribuan Sarjana dari berbagai disiplin ilmu, setiap tahun dihasilkan. Ibarat itik, Perguruan Tinggi menjadi induk petelur yang tidak pernah menetaskannya. Jutaan sarjana menyandang predikat penganggur, dan jumlah itu terus bertambah setiap semester.
Dari kenyataan itulah Murti merancang sebuah karya Spektakuler, berupa kalender 3000 tahun sepanjang 225 meter. Secara spesifik buah karya ini tentu tidak terkait dengan mobil tuanya. Namun PD II PGRI Kabupaten Banyumas, meminta kalender unik itu digelar di alun-alun Purwokerto. Maka mobil tua 1tu dijadikan sarana pengangkut.
Kalender yang digelar dua minggu setelah meraih gelar Sarjana pendidikan itu, cukup menarik perhatian masyarakat. Puluhan wartawan meliput, dan mengabadikannya. Obsesi untuk masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana, dapat terwujud setelah petugas Muri datang mengukurnya.
Sekedar untuk diketahui, kalender itu dicetak rangkap dua, menggunakan kertas komputer. Satu digelar di lapangan Cilongok, satu lagi disiapkan untuk arsip. Namun karena PD II PGRI Banyumas memintanya, arsip itu dibawa ke alun-alun Purwokerto. Jadinya pengukuran dilakukan di Cilongok, pengumuman oleh petugas Muri dibacakan di Purwokerto.
Mobil tua kembali mencatat sejarah, kali ini sebagai alat angkut
"Kalender Terpanjang" di Indonesia. Dikemas sedemikian rupa, dilengkapi pengeras suara, sehingga mengundang perhatian orang. Sejak dalam
26
perjalanan sampai masuk alun-alun Purwokerto. Hardiknas 2 Mei 2000 di mana-mana diwarnai demo guru. Setidaknya ‘demo kalender 3000 tahun’ ini, memberikan kesan adanya demo yang positif dan mendidik.
Pada kesempatan lain, harga mobil Murti melonjak sampai ratusan juta rupiah. Mengherankan, terutama bagi yang tidak tahu penyebabnya. Bagi keluarga Kantor Dinas P dan K Kecamatan Cilongok, biasa-biasa saja. Karena mereka menyewa mobil itu, untuk mengambil gaji guru dan penjaga SD se kecamatan Cilongok. Total nilainya sekitar 350 juta rupiah, dan dikawal polisi.
Masih banyak lagi pengalaman menarik berkaitan dengan mobil Murti. Namun kesan "kendaraan lokalan" tetap saja menempel, karena jarang dipakai ke luar kota. Sekali waktu pernah dibawa ke Magelang, beriringan dengan dua mobil lain yang terhitung generasi baru.
Ketika itu rombongan ziarah alumni PGA Al-Hidayah Purwokerto, gagal menggunakan bus carteran akibat salah informasi. Sebagai gantinya, digunakan tiga mobil kecil. Mobil Murti ditempatkan di tengah, untuk mengantisipasi kemungkinan mogok, atau rusak di tengah jalan. Syukurlah perjalanan tengah malam itu lancar, tanpa mengalami gangguan. Pulangnya ketiga kendaraan itu berpencar, ada yang langsung menuju Purwokerto, ada yang mampir Borobudur. Karena tanpa kordinasi, masing-masing sub rombongan menentukan rutenya sendiri. Apalagi ketiganya tanpa dilengkapi media komunikasi.
"Lapor, atas doa teman teman sub rombongan terakhir sudah sampai ke pangkalan." kata Murti sesaat memarkir mobil di halaman rumah Gus Rum, ketua rombongan.
27
"Murti jangan bercanda, Sardi baru telepon dari Purworejo. Ban mobilnya kempes untuk ketiga kalinya." sambut Gus Rum.
"Kok bisa? Saya pikir rombongan saya yang terakhir sampai di Purwokerto."
"Mereka itu kualat. Tujuannya ziarah, malah mampir Borobudur.
Untung hanya bannya yang kempes. Coba kalau sampai celaka, menjadi berita besar kan?"
Mendengar suara Gus Rum dengan nada tinggi itu, tidak ada seorang pun berani komentar. Suasana hening beberapa saat. Setelah situasi dianggap memungkinkan, Basor nyeletuk, "Tiga ban kempes bergantian, berarti masih satu atau dua lagi yang belum mendapat giliran?"
"Mudah-mudahan itu yang terakhir, kita doakan saja."kata Gus Rum.
"Pukul berapa Sardi menelepon?" tanya Yadi.
"Kira-kira satu jam yang lalu, mereka baru keluar dari Purworejo.
Kalau tidak ada gangguan lagi, mudah-mudahan masuk waktu isya sudah sampai di sini."
"Kalau begitu saya pulang dulu." sambung Murti.
"Selamat, mobilmu yang dikhawatirkan, malah mobil Sardi yang mengalami gangguan." ucap Gus Rum sambil tersenyum.
"Karena niatnya lurus." sambung isteri Gus Rum.
"Terima kasih. Setelah salat isya nanti saya telepon ke sini, insya Allah."
Dari perjalanan cukup jauh itu, Murti membawa pulang platina serep pemberian teman. Seorang anggota rombongan yang bekerja di bengkel/dealer, ikut mengkhawatirkan kondisi mobil Murti. Saeri, temannya itu menawarkan beberapa onderdil lain,tetapi platina itulah yang ia terima.
28
Mobil tua milik keluarga Murti sangat digemari siswa Sekolah Dasar.
Setiap mobil ini melintas di lapangan saat mereka istirahat, puluhan siswa berebut membonceng di bemper belakang. Suatu saat Murti yang juga guru SD Negeri Cilongok 03, ditugasi mengantar sumbangan bencana alam dengan mobilnya. Dia membatasi tiga sampai lima siswa ikut mengantar, ternyata jumlahnya membengkak dua sampai tiga kali lipat.
Sedangkan siswa SMK yang dipimpinnya, kebanyakan merasa gengsi kalau harus naik mobil ini. Setiap dia menjemput Kyai Hafidz untuk mengisi pengajian pagi, dijumpainya beberapa siswa tengah menunggu kendaraan di tepi jalan raya.
"Ayo ikut, biar tidak terlambat masuk sekolah." tawarnya setelah menghentikan mobil di dekat mereka.
"Terima kasih Pak, masih ada yang ditunggu." jawab mereka halus, tapi menyakitkan.
"Sudah hampir pukul tujuh, kalian mau ikut saya?" tanya Murti pada tempat perberhentian berikutnya.
"Ini Pak, Yeni ikut."
"Semua juga boleh."
"Tidak Pak, Rosi dan Beni itu ngaco Pak." ucap Yeni.
"Begitulah sikap anak-anak." kata Murti kepada Kyai yang mendampinginya.
"Saya heran dengan anak-anak sekarang. Ada mobil kosong dan gratis, mereka memilih berdesakan dan harus bayar." ujar Kyai Yusuf menimpali.
Sejak itu Pak Murti tidak mau lagi menawarkan jasa kepada siswa- siswinya. Bukan karena sombong atau acuh, tetapi dia tidak ingin dilecehkan
29
anak didiknya. Rata-rata dua kali dalam sebulan, Kyai Haji Yusuf dari Karangcengis Ajibarang mengisi pengajian di Cilongok. Lokasinya tidak jauh dari SMK Ma'arif yang dipimpin Pak Murti.
Suatu saat terbuka kesempatan, dia memaksa siswa-siswinya memanfaatkan jasa si mobil tua. Peristiwa ini berawal dari musibah kematian seorang wali siswa. Lima belas orang siswa ditunjuk mewakili sekolah, dipimpin langsung oleh Pak Murti. Untuk rombongan ta'ziyah ini, tidak disediakan sarana angkutan kecuali mobil tua miliknya. Terpaksa mereka berdesak-desakan, tanpa merasa gengsi lagi.
Bagi guru dan karyawan, di SD maupun SMK, mobil Murti sudah tidak asing lagi. Mereka sering memanfaatkannya untuk rombongan ke tempat orang hajatan, silaturahim dan sebagainya. Sebelum guru lain memiliki mobil, maka mobil itulah yang terbaik di lingkungan mereka.
Ketika Murti diangkat menjadi Penilik PGM, Kepala SD Cilongok 03 menyatakan, "Kami salut dan ikut gembira, seorang guru kita diangkat menjadi Penilik. Tetapi kami juga merasa kehilangan, bukan hanya karena ditinggalkan Pak Murti, tetapi juga mobilnya..."
30
5. Jiwa Petualangan
Tahun millenium 2000, merupakan tahun keberuntungan bagi Murti.
Gelar sarjana telah disandangnya, dan ia pun berhasil masuk Muri Jaya Suprana sebagai penyusun kalender terpanjang. Kalau Chairul Anwar ingin hidup seribu tahun lagi, Murti benar-benar merancang kalender untuk seribu tahun ke depan. Bahkan dia juga menjangkau dua ribu tahun ke belakang, karena kalender ciptaannya berlaku mulai tahun 01 sampai tahun 3000.
Sebuah pertanyaan menggelitik muncul dari wartawan KR, "Apa yang Anda persiapkan, setelah karya kontroversial ini?"
"Tunggu saja nanti." jawab Murti sekenanya. Dalam hati dia berjanji, suatu saat harus dapat menjawab tantangan tersebut. Bukan dengan kata-kata, tetapi dengan aksi. Untuk sementara waktu dia berkonsentrasi, menyusun laporan pertanggungjawaban Kepala SMK yang berakhir bulan Juni 2000.
Laporan diterima secara aklamasi, dan dia terpilih lagi mejadi Kepala Sekolah untuk empat tahun berikutnya. Sementara tugasnya sebagai PNS, dalam proses alih fungsi dari Guru Agama menjadi Penilik Pembinaan Generasi Muda.
Awal millenium ketiga--bulan Januari 2001--dia dilantik sebagai Penilik PGM, di Kecamatan Purwojati Banyumas. Karena kondisi jalan sangat jelek, jarak 18 kilometer dari rumahnya itu ditempuh sekitar empat puluh menit. Untuk kelancaran tugas di SMK Ma'arif Cilongok, dia menunjuk Wakasek sebagai pengendali kegiatan harian. Langkah antisipasi ini, telah dipersiapkan sejak dia terpilih lagi menjadi Kepala Sekolah.
31
"Kita menyewa koperades, untuk kaluarga kantor, mobil sendiri untuk keluarga SD Cilongok 03." usul Ibu Murti sehari sebelum serah terima jabatan di Purwojati.
"Mobil kita tetap dipersiapkan, tetapi kalau pengantarnya sedikit ya cukup pakai koperades." jawab Pak Murti.
"Dari informasi yang masuk, banyak yang mau ikut rombongan kita.
Kalau dipersiapkan dua mobil, insya Allah penuh semua."
"Kalau begitu kita atur, ibu-ibu naik koperades, bapak-bapak biar ikut saya. Tanjakannya cukup terjal, dan kondisi mobil kita sedang kurang fit."
Benar apa yang diprediksi Ibu Murti. Kedua mobil itu penuh semua.
Berangkat lewat Kaliputih, sampai tiba di lokasi tanpa ada gangguan. Acara demi acara berjalan lancar, resmilah Pak Murti menjadi keluarga Cabang Dinas Pendidikan di Purwojati. Pulangnya rombongan menempuh jalur Kalitapen, untuk menghindari tanjakan "wadasplaza" di jalur Kaliputih.
"Kita mengambil jalur lain,biar pengalaman Bapak dan Ibu menjadi lengkap." Pak Murti memberi alasan.
"Terserah Sopir, penumpang mengikuti." jawab Pak Teguh.
"Saya memilih penumpang pria, karena mobil saya masih dalam perawatan bengkel."
"Tenang saja, kan ada Pak Warto." sambung Pak Wono.
"Kalau terpaksa minta didorong, kita harus siap." Pak Warto mencoba menjelaskan isyarat Pak Murti.
"Wah kita harus mendorong?" tanya Pak Yoto.
"Tenang saja tenang, kita berdoa saja." ucap Pak Latif.
Tanjakan pertama dapat dilampaui dengan selamat, namun penunjuk temperatur telah melewati batas normal. Pak Warto yang duduk di samping
32
sopir, sengaja tidak memberi tahu teman-temannya. Dia berbisik, "Ada yang lebih terjal lagi?"
"Kalau tidak salah masih ada tiga lagi, termasuk di Batuanten."
"Mungkin setelan platinanya kurang renggang."
"Menurut Pak Agus, dudukan delkonya kurang stabil."
"Kalau airnya sampai mendidih, biar saya dan teman-teman turun saja."
"Kita coba dulu, kalau terpaksa ya bagaimana lagi."
Apa yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi. Di tengah tanjakan kedua, mobil sudah tidak kuat dan berhenti. Segera Murti menekan pedal rem, semua penumpang melompat keluar. Ada yang merasa panik, ada yang berinisiatif mencari batu untuk mengganjal roda belakang. Atas saran Pak Warto, mesin segera dimatikan. Tinggallah suara gemelutuk karena air mendidih.
Sopir koperades di belakangnya cukup memahami situasi, sehingga mengambil jarak agak jauh. Namun ibu-ibu menjerit histeris, menyaksikan mobil Murti terhenti. Mungkin mereka membayangkan, bagaimana kalau sampai mundur dan menabrak mobil yang mereka tumpangi.
Setelah radiator agak dingin, ditambah air, baru mesin dihidupkan.
Murti sendirian mengendarai mobil, sementara penumpang lain berjalan kaki sampai ke tempat yang aman. Cara ini kembali diulang pada dua tanjakan terjal berikutnya. Inilah kenangan yang sulit dilupakan oleh Pak Murti, lebih lebih oleh para pengantarnya ke Purwojati.
Hari-hari berikutnya dia mulai aktif bekarja, sebagai pejabat struktural eselon V. Sejak awal posisi jabatan Murti dan kawan kawan sudah menjadi bahan perdebatan. Sebab pada era otonomi daerah itu, jabatan eselon V
33
dinyatakan hilang. Dinas Pendidikan berupaya keras, agar Penilik masuk jabatan fungsional seperti Pengawas TK/SD.
Sayangnya Pemerintah Kabupaten Banyumas tidak merespon. Pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan harus ramping, karena dinas-dinas lain justru banyak yang digabungkan. Maka semangat kerja sebagai pejabat baru bagi para penilik, dibayang-bayangi ketidakpastian nasib mereka.
Puncaknya terjadi pada bulan Juni 2001. Jabatan Penilik (Dikmas, PGM, Keolahragaan dan Kebudayaan) dinyatakan hilang. Mereka supaya memilih untuk menjadi pamong belajar di SKB, pejabat struktural, atau pamong budaya Disparbud. Spontan mereka berencana demo ke Jakarta, namun beberapa personil termasuk Murti menganggap hal itu tidak perlu.
Umumnya penilik merasa resah, namun Murti justru menangkap kenyataan itu sebagai peluang untuk dapat kembali ke Cilongok. Meskipun waktu itu belum masuk opsi, dia memilih alih fungsi menjadi Guru DPk. di SMK Ma'arif. Karena proses penataan diperkirakan sampai akhir tahun 2001, muncul jiwa petualangannya untuk mengisi waktu luang.
Menjelang Jambore Nasional di Baturaden, dia menerbitkan kalender 199 dan 3000 tahun. Agar tampak terkait dengan bidang tugasnya, dia minta pengantar Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Purwojati.
Melihat brosur sayembara penulisan naskah buku Pusbuk Depdiknas, dia minta ijin Pimpinan untuk ikut ambil bagian.
Untuk dua kegiatan tadi, tentu saja Murti banyak bekerja di luar kantor. Namun dia selalu berusaha, agar semua itu terkait dengan bidang tugasnya sebagai Penilik PGM. Terakhir dia merencanakan "Keliling Indonesia" dengan mobil antiknya.Sebagai langkah uji coba, mobil dibawa ke Semarang: berangkat lewat Purworejo, dan pulang lewat Wonosobo.
34
Dengan keberhasilan uji coba tersebut, semakin mantaplah dia. Beberapa orang yang dihubungi, menilai Jenis mobil seperti milik Murti cukup tangguh untuk perjalanan jarak jauh. Pak Agus pemilik bengkel langganannya, juga memberikan pendapat yang sama. Agar tidak terkesan main-main, dia menulis secara berkala pada kolom "Suara Rakyat" Radar Banyumas.
Guna menunjang rencananya itu, Murti menawari beberapa perusahaan untuk menjadi sponsor. Namun tidak satu pun perusahaan menyatakan siap, termasuk pemilik merk kendaraan yang akan digunakan.
Putus asakah dia? Seorang petualang tak pernah melihat masalah dana sebagai penghambat, apa lagi penghalang.
"Kalau ternyata tidak ada sponsor yang masuk bagaimana?" tanya temannya di Kantor Cabang Dinas Pendidikan.
"Tidak masalah, saya masih punya banyak kalender yang dapat dijual.
Dalam kalender saya terdapat banyak iklan, berarti sebagian dibiayai oleh sponsor." jawabnya mantap.
"Biaya penerbitannya sudah tertutup?"
"Semua sudah beres. Logikanya, saya sebagai penulis kan dapat royalti. Tetapi karena diterbitkan sendiri, royaltinya masih berujud barang."
"Kan sudah banyak yang laku?"
"Betul, sekitar 60% atau enam ratus eksemplar kalender 199 dan 3000 tahun telah laku, untuk menutup biaya pencetakan."
"Berarti yang 40% tinggal keuntungannya?" "Sebagian keuntungan, sebagian lagi royalti penulis."
"Pantas, menghadapi rencana besar itu, Anda seperti tidak menanggung beban."
35
"Sebenarnya masih ada yang saya harapkan, di samping kalender sebagai taruhan terakhir."
"Dari kramayuda?"
"Kramayuda itu brengsek, boro-boro membantu, memberi jawaban pun tidak."
"Kalau begitu, perusahaan mana yang Anda harapkan?"
"Saya kan ikut sayembara penulisan naskah buku, dengan mengangkat otobiografi saya. Siapa tahu masuk nominasi, dan dapat hadiah."
Tanggal 30 Oktober 2001, saat Murti makan siang bersama keluarga, pembantu datang menyodorkan amplop besar. Begitu tahu surat itu dari Pusat Perbukuan, dia mengajak isteri dan anak-anak berdoa, semoga berisi berita gembira. Ternyata benar, isinya "Pemanggilan Pemenang."
"Alhamdulillaah, ini sebagai gantinya sponsor. Mudah-mudahan merupakan awal karier Bapak sebagai penulis buku." doa Murti, tidak mau terjebak pada kegembiraan yang berlebihan.
"Aamiin." ucap isteri dan kedua anaknya.
36
6. Sampai Di Puncak
Dengan surat panggilan Pusbuk Depdiknas, sejumlah dana dipastikan bakal diperoleh. Taruhlah naskahnya menempati juara harapan V (pemenang terakhir), Rp 1,5 juta akan diterimanya. Kenaikan Rp 0,5 juta untuk setiap tingkat di atasnya, sampai yang tertinggi Rp 5 juta untuk pemenang pertama.
Kendati demikian, kalender yang telah dipersiapkan tetap dibawa.
Empat orang terdaftar sebagai calon peserta, namun seorang berhalangan. Hari ulang tahun Murti ke 46 tanggal 5 November 2001, ditetapkan untuk start.
Didampingi Dartono (pensiunan), dan Fauzi (pelajar): Murti melakukan donor darah di Puskesmas Purwojati.
Dengan mobil berbendera dan bertuliskan "Keliling Indonesia,"
mereka melanjutkan perjalanan ke Purwokerto. Hari pertama itu dimanfaatkan untuk pamit dan mohon doa restu kepada Kepala Dinas Pendidikan serta Bupati Banyumas. Ketika singgah di Balai Wartawan, puluhan kuli disket mewawancarai mereka, dan mengabadikan peristiwa langka ini.
Tanggal 6 dan 7 November 2001, digunakan untuk memantapkan persiapan akhir sebelum mulai perjalanan ke luar kota. Beberapa orang yang tahu dari berita koran atau siaran radio, menyatakan salut dan berdoa untuk kelancaran kegiatan ini. Secara khusus warga RT di tempat tinggal Murti, berkumpul untuk melepas keberangkatannya.
Hari Kamis 8 November 2001, rombongan berangkat melalui Cilacap, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, menuju arah Bandung. Karena Fauzi masih sekolah, pelajar MAN 2 Yogyakarta ini tidak mengikuti perjalanan di wilayah barat. Dia baru kembali bergabung ketika rombongan memasuki kota Jombang, Jawa Timur.
37
Perjalanan diawali ziarah ke makam Syekh Abdus Shamad Jombor, Banyumas: dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya. Dari Pamijahan di tengah hujan lebat, sambungan knalpot lepas dengan bagian belakang tetap menggantung. Karena hari sudah malam, untuk sementara bagian yang menyentuh jalan diikat dengan tali.
Sampai di kota Tasikmalaya, kembali terjadi gangguan. Kali ini kabel dinamo stroom putus, sehingga lampu dan mesin mati. Dengan dibantu dua orang polisi, mobil didorong ke luar jalur bebas hambatan. Setelah diperbaiki, mobil kembali didorong untuk menghidupkan mesin. Kemudian lampu dinyalakan, dan perjalanan dapat dilanjutkan.
Dengan dua kali terjadi gangguan kecil itu, target masuk kota Bandung belum dapat dicapai. Di wilayah Garut, mobil dimasukkan halaman mesjid, dan untuk pertama kalinya dijadikan tempat tidur. Sengaja jok tengah dan belakang dilepas, diberi alas papan, tikar dan dilengkapi kasur.
Sesuai dengan undangan dari Pusat Perbukuan, pada tanggal 9 November harus sudah masuk Hotel Wisata, Jakarta. Berarti target perjalanan hari kedua adalah Garut, Bandung, Bogor, Jakarta. Setelah salat Subuh, mandi dan makan pagi: Murti mencari bengkel untuk memperbaiki knalpot. Tidak lupa menelepon ke rumah, sebelum melanjutkan perjalanan.
“Belum ada bengkel yang buka?" tanya Pak Dartono begitu mobil dijalankan.
"Belum ada, Kita mencari bengkel yang menyediakan klem, sebab aslinya memang diklem, tidak dilas." kata Murti.
"Yang penting tidak berbahaya."
"Ya hanya suaranya saja yang agak keras, tapi kan tidak begitu mengganggu?"
38
"Tidak, mungkin orang mengira disengaja untuk menarik perhatian."
"Bisa jadi begitu. Padahal mobil kita kan sudah dilengkapi bendera dan tulisan, untuk mengundang perhatian orang."
"Kalau teringat kejadian semalam saya jadi geli."
"Yang kehujanan mengikat knalpot?"
"Yang didorong polisi itu lho. Biasanya polisi kan mencari kesalahan.
Kita malah dibantu."
"Itu dulu, sebelum jaman reformasi. Sekarang polisi sahabat kita.
Namanya sahabat ya menolong."
"Ngomong-ngomong tadi Pak Murti menelepon ke rumah, memberi tahu kerusakan mobil?"
"Jelas tidak, saya hanya bilang menginap di wilayah Garut: sekitar enam puluh kilometer sebelum masuk kota Bandung."
"Seharusnya memang begitu. Supaya orang di rumah tidak khawatir.
Eh, tidak terasa kita sudah masuk wilayah Bandung."
"Betul juga. Kita mau masuk kota?"
"Terserah, kalau jadi mampir rumah Udin, di mana?"
"Sekarang pukul delapan lebih lima belas, mungkin dia sudah berangkat ke kantor. Kita segera menuju Jakarta."
"Ya sudah, langsung saja."
"Tapi perlu mencari ATM BCA, Ambil uang untuk beli bensin."
Percakapan terhenti begitu Murti membelokkan mobil ke Kantor BCA. Dengan tetap berkain sarung dia memasuki bilik ATM, Terperangah dia begitu melihat tulisan Rp 100.000, dibagian depan mesin. Sebab di Purwokerto hanya ada dua janis uang pecahan yang dapat diambil, dua puluh ribuan dan lima puluh ribuan.
39
Ketika kembali ke mobil, Pak Dartono sedang ditawari untuk menerima hadiah alat cukur. Namun dia menolak karena harus memberikan uang administrasi. Ada-ada saja ulah salesman di kota besar. Untung Pak Dartono cukup waspada, dan kebetulan sudah membawa alat cukur dari rumah.
Dari Bandung menuju Bogor, terjadi keliru persepsi yang justru menguntungkan. Mobil terus dipacu, melalui jalan menanjak dan berkelok- kelok. Dalam pikiran Murti, setelah sampai Bogor akan melewati tanjakan yang lebih terjal menuju Puncak. Jadi tanjakan yang dilaluinya dianggap sebagai pemanasan.
Betapa terkejutnya ketika dia melampaui tanjakan terakhir, ternyata tempat itu telah dikenalnya. Sewaktu mengikuti pelatihan di Cipayung, dia menyempatkan main ke tempat itu bersama teman-temannya.
"Alhamdulillaah. Tanpa terasa kita sudah sampai di Puncak.” ucap Murti kepada temannya.
"Pantas, dari tadi jalannya menanjak terus."
"Kita makan-makan dulu, salat, setelah itu saya menelepon ke rumah dan ke Hotel Wisata Jakarta. Sekalian minta dipandu, jalan yang harus kita tempuh nanti."
"Mesin mobilnya panas sekali."
"Justru itu, saya baru menghentikannya setelah sampai di lokasi paling tinggi. Setelah mesin ralatif dingin, tinggal menempuh jalan menurun."
“Tadi kau bilang 'tidak terasa' apa maksudmu?"
“Sebelum sampai di sini, saya beranggapan sampai Bogor dulu baru menuju Puncak. Sekarang saya baru sadar bahwa inilah Puncak."
"Kok bisa begitu."
40
"Sewaktu mengikuti pelatihan di Cipayung, saya main ke sini.
Perasaan saya waktu itu dari Cipayung ke utara. Jadi sekarang terasa ada kebahagian tersendiri."
Di warung yang dekat dengan mushalla, hanya ada pisang goreng, tidak ada nasi. Sambil mencari wartel, Murti juga mencari warnas, alias warung nasi. Karena masih ada bekal lauk dari rumah, di Puncak dia hanya membeli nasi putih. Untuk menikmatinya mereka mencari tempat yang strategis sambil melanjutkan perjalanan.
Hari semakin sore, sepasang petualang itu menfokuskan tujuan ke Hotel Wisata. Tanpa memasuki kota Bogor, langsung masuk jalan tol Ciawi menuju Jakarta. Keluar dari tol mereka mulai kehilangan arah, sehingga sebentar-sebentar harus bertanya.
Celakanya sedikit saja salah memilih jalur, mereka harus menebusnya dengan penambahan jarak puluhan kilometer. Kalau bukan untuk membuat sejarah, rasanya enggan menjadi sopir di Jakarta. Anehnya polisi yang melihat mobil ‘antik’ itu beberapa kali melintasi jalan yang sama, malah tertawa.
Mungkin mereka terhibur, dengan ulah pengemudi kampung yang datang ke Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta.
41
7. Hadiah Pusat Perbukuan
Di halaman Hotel Wisata, sulit dicari mobil yang setara dengan milik Murti. Namun dia tidak pusing, dengan kenyataan tersebut, justru banyak pengemudi tersenyum, membaca tulisan yang menghiasi mobil antik ini. Di antara tulisan itu berbunyi, "Sesama Produk Abad 20 Tidak Dilarang Mendahului."
Ada juga kalimat plesetan, "Mau nyalip monggo, kami doakan semoga selamat sampai akhirat." Sedangkan di bagian atas mobil dipasang semacam tempat bagasi dengan tulisan mencolok, "KELILING INDONESIA." Di samping itu masih ada slayer/sejenis bendera segi tiga sebagai pengenal khas bertuliskan, "Keliling Indonesia Penyusun Kalender 3000 Tahun," dan judul buku otobiografi, "Jalan Masih Panjang."
Saat Pak Murti dan Pak Dartono berada di dekat mobil, ada pengunjung yang dengan antusias mengatakan, "Saya membaca berita keliling Indonesia pada harian KR di Yogya, tidak tahu akan bertemu Anda di sini."
Bagi Murti panggilan ke Hotel Wisata itu cukup dilematik. Di samping menyenangkan, juga mengundang masalah. Pada konsep awal, dia merencanakan bermalam di Jakarta tiga malam. Dalam undangan Pusbuk tertulis, tanggal 9 s.d. 13 November 2001, dan tidak boleh membawa keluarga.
Pada praktiknya, pemenang sayembara baru meninggalkan hotel pagi hari tanggal 14 November 2001.
Bukan hanya itu. Dengan teman yang menyertainya, telah disepakati untuk makan dan tidur di dalam mobil. Namun Pusbuk menempatkannya di hotel, dengan segala fasilitasnya. Kalau hanya satu atau dua malam, mungkin tidak terlalu dilematik.Tetapi kalau sampai lima malam, jelas memerlukan kesepakatan baru yang dapat diterima kedua belah pihak.
42
Malam pertama dia hanya memanfaatkan kamar hotel untuk mandi dan salat bersama Pak Dartono. Sedangkan untuk tidur, mereka kembali ke mobil. Karena jatah kamarnya berdua dengan peserta dari Lombok, dia beri tahukan rangkaian kegiatan dan keberadaan temannya.
Menjelang subuh, Pak Dartono berinisiatif hendak ke rumah saudaranya di Halim. Pimpinan satpam hotel menyarankan, "Kalau tidak mau repot, lebih baik naik taxi."
"Perkiraan ongkosnya berapa pak?" tanya Murti.
"Paling dua puluh lima ribu, soalnya jalanan masih sepi. Dijamin, sopir yang masuk ke sini tidak berani macem-macem."
"Kalau diantar repot ya Pak?"
"Jelas lebih repot. Bapak harus mencari, waktunya lebih lama. Terus pulang kemari, belum tentu hafal jalannya."
Setelah taxi. meluncur keluar, Murti masuk ke kamar hotel. Kemudian menghubungi nomor telepon yang ditinggalkan Pak Dartono. Bersamaan tuan rumah menerima telepon, saat itu juga tamunya datang. Syukurlah problem besar itu telah ditemukan solusinya, dan sejak itu Murti memanfaatkan fasilitas hotel secara penuh.
Meskipun demikian, bukan berarti tanpa beban sama sekali. Keduanya sama-sama merindukan suasana hidup di alam terbuka, yang telah mereka bangun, Waktu tiga hari tiga malam terasa sangat lama, walau secara lahiriah mereka diliputi kemewahan. Keadaan rumah saudara Pak Dartono, tidak jauh dengan hotel berbintang.
Untuk melampiaskan kejenuhan, Murti mulai bertingkah. Saat mengikuti rekreasi ke Ancol, dia berselendang slayer keliling Indonesia.
Untuk ini dia mendapat teguran Pak Lurah (sebutan untuk Pimpinan yang
43
dipilih dari dan oleh peserta), dengan alasan seluruh rangkaian acara dibiayai Pusbuk.
Dengan enteng dia bilang kepada teman di dekatnya, "Tugas saya memasang, atau mengenakan slayer: kalau ada yang bertugas melepas, silakan saja."
"Yang jelas melanggar tidak dikenakan sangsi, yang kreatif justru diusili." kata seorang temannya.
"Memangnya ada yang melakukan pelanggaran?"
"Ada teman kita yang membawa suami dan dua orang anak. Yang menjadi korban teman sekamarnya. Dia mengungsi ke kamar lain, tidur bertiga dengan dua penghuni aslinya."
"Saya akan mengajak teman seperjalanan, takut disalahkan. Kalau betul ada yang senekat itu, saya jadi heran." Menjelang penyerahan hadiah, Murti telah mempersiapkan mobil antik dengan berbagai kelengkapannya.
Pagi hari Senin 12 November 2001, dia memberi tahu sopir bus, akan mengikutinya dari belakang. Kepada Pak Lurah, dia juga memberi tahu secara resmi tentang rencananya itu. Ternyata seseorang mendekatinya, menghimbau agar mobilnya tidak dibawa ke tempat upacara.
Terpaksa dia naik bus, setelah mengemudi mobil antiknya mengelilingi halaman hotel. Sebelum pengumuman pemenang secara resmi, calon pemenang mengikuti upacara Senin pagi di halaman gedung Depdiknas.
Kemudian mereka memasuki auditorium untuk mengikuti pengumuman.
"Naskan nonfiksi, jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Pemenang pertama tidak ada ... Pemanang harapan IV, "Jalan Masih Panjang! karya Muhyi Fadlil, S.Pd."
44
Sebagai pendatang baru, Muhyi Fadlil alias Murti cukup puas dengan posisi itu. Apa lagi juara pertamanya tidak ada. Dia bersyukur karena baru pada tahun 2001 itulah, Pusbuk menetapkan ada pemenang harapan IV dan V.
Pada periode sebelumnya, hanya sampai pemenang harapan III.
Rombongan kembali ke hotel sekitar pukul 13.00. Sisa waktu dimanfaatkan oleh Murti, untuk jalan-jalan dengan mobil antiknya. Ada kenikmatan tersendiri, ketika dia berpapasan dengan mobil berplat nomor R ...
(Banyumas). Bahkan tidak sedikit pengemudi asal Banyumas, ikut menaruh simpati apapun plat mobilnya.
Jadwal penerimaan hadiah tanggal 13 November 2001 pagi, malam harinya pembagian Piagam dan kenang-kenangan. Pagi itu Pak Dartono telah datang ke hotel. Begitu Murti selesai menerima hadiah, mereka menyempatkan berkunjung ke Merak, Propinsi Banten. Untuk mengurangi
resiko, uang tunai Rp 2 juta lebih
dimasukkan rekening BCA.
"Rencana menyeberang ke Sumatera terpaksa kita batalkan, karena waktunya tidak memungkinkan." kata Murti.
"Tidak masalah, toh kita telah sampai ke ujung Pulau Jawa." jawab Pak Dartono.
"Tapi kita naik ke kapal penyeberangan dulu, untuk melihat Pulau Sumatera."
“Sambil mendinginkan mesin mobil?"
“Ya, kita telah menempuh jalan tol terpanjang, lebih dari seratus kilometer."
"Termasuk dari hotel ke ruas jalan tol?"
45
"Kalau yang itu dihitung, total jarak yang kita tempuh, kira- kira 125 kilometer."
Tidak sampai dimatikan, mesin mobil telah mati sendiri. Dua orang pengendaranya berjalan kaki menuju dermaga. Kebetulan waktu itu kapal feri masih kosong. Seperti layaknya calon penumpang, mereka naik menuju bagian depan. Karena cuaca mendung, Pulau Sumatera tidak kelihatan. . Yang mereka jumpai justru anak-anak peminta sedekah. Mereka Siap memperebutkan setiap uang recehan yang dilempar ke laut. Karena Murti tidak membawa recehan, dia mengajak temannya meninggalkan kapal.
Singgah di mesjid menunaikan salat jamak ta'khir, kemudian menstarter mobil dan kembali ke hotel.
Sampai di hotel sekitar pukul 21.00 acara sudah hampir usai. Setelah mengisi daftar hadir, Murti menerima Piagam dan kenang-kenangan dari Kapusbuk berupa tustel. Tanpa menunggu acara hiburan selesai, dia segera menemui Pak Dartono yang menunggu di kamar. Pada malam terakhir di Hotel Wisata itu, mereka tidur bertiga.
"Berapa tarip sewa kamar seperti ini?" tanya Pak Dartono kepada Murti sebelum meninggalkan hotel.
"Menurut informasi, lima ratus ribu atau kurang sedikit."
"Selama lima malam?"
"Satu malam, belum termasuk biaya makan. Perkiraan saya, biaya setiap orang sekitar satu setengah juta rupiah."
"Mahal amat?"
“Kalau boleh usul, lebih baik diberikan dalam bentuk uang. Akan lebih besar manfaatnya."
"Uangnya kan juga diberi?"
46
"Diberikan sebagai hadiah, sesuai urutan pemenang. Honor semua sama, uang transport sesuai daerah asal pemenang."
"Semakin jauh semakin besar?"
"Betul, untuk pemenang dari luar Jawa kecuali Lampung, diperhitungkan dengan biaya pesawat terbang. Umumnya mereka berangkat naik pesawat, pulangnya lewat jalan darat dan laut."
"Selisih harga tiketnya besar?"
"Tanyakan sendiri kepada Pak Besar, teman sekamar kita. Bagaimana Pak Besar?"
"Cukup besar juga. Lagi pula kita dapat sambil rekreasi. Saya kan punya keluarga di Yogya, besok saya mampir ke sana." ujar Pak Besar, teman sekamar Murti dari NTB.
Pelayanan Pusbuk terhadap peserta cukup baik, bahkan bagi pendatang baru seperti Murti merasa dimanjakan. Banyak pengalaman yang diperoleh: seperti temu dewan juri, audiensi dengan pejabat, temu penulis dan lain-lain. Meskipun hadiah pemenang dipotong PPh 15%, Pusbuk memberikan tambahan sejumlah pajak yang dibayar.
47
8. Adik Ipar Melahirkan
Tanggal 14 November 2001 pagi, secara resmi semua peserta meninggalkan Hotel Wisata. Ada yang rombongan karena berasal dari daerah yang sama, ada pula yang sendirian. Dari 46 peserta yang datang dari 18 provinsi, mungkin hanya Murti yang membawa mobil pribadi.
Dengan ditemani Pak Dartono, dia melanjutkan perjalanan. Rencana bertemu Gus Dur tidak terlaksana, karena saat menelepon ke Ciganjur mendapat jawaban, "Beliau sedang berada di Amerika." Begitu juga upaya untuk.bertemu wartawan, mengalami kesulitan karena hari masih pagi.
Bahkan saat mereka berkunjung ke LKBN Antara di lantai 19, hanya sempat bertemu Satpam.
Mobil terus dipacu menuju arah Pulau Gadung, kemudian masuk jalur tol Cikampek. Menjelang Isya mereka masuk ke makam Sunan Gunungjati, Cirebon. Rencana menginap di komplek pemakaman ini dibatalkan, dan mereka memilih melanjutkan perjalanan hingga larut malam.
Memasuki wilayah Brebes Jawa Tengah, baru mereka mencari mesjid yang berhalaman luas untuk bermalam. Setelah beberapa jam memejamkan mata, mereka dikagetkan oleh sengatan nyamuk yang tanpa ampun.
"Nyamuk di sini sangat mengganggu." kata Murti kepada Pak Dartono, setelah dia tahu temannya juga sudah bangun.
"Kecil-kecil tetapi banyak dan ganas." sahut Pak Dartono.
"Saya sudah mengisi bak, mandi dan salat malam. Mau tidur lagi sudah tidak bisa."
“Jadi bagaimana?"
“Kita jalan lagi, siapa tahu di tampat lain dapat tidur."