PERKEMBANGAN MORAL DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN
E. MEMADUKAN PANDANGAN PIAGET, KOHLBERG DAN ERIKSON
Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 87
7. Generativity vs Self-absorbtion (bangkit vs stagnan)
Dalam sebuah perkawinan diharapkan dapat membangun keluarga yang sejahtera. Walaupun ada masalah yang sulit harus bisa menyelesaikan dengan bijaksana. Seseorang harus mempunyai wawasan yang luas untuk memenuhi kebutuhanya secara lahir batin.
8. Integrity vs Despair (integritas vs putus asa)
Seseorang mempunyai kemampuan untuk menyikapi kehidupannya dengan cara yang bijaksana dan tidak menganggap hidupnya sia-sia. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah mengakibaatkan kegagalan bagi dirinya. Integritas yang matang adalah adanya rasa percaya diri, otonomi, dan inisiatif yang mampu dikembangkan dan berubah menjadi yang lebih baik.
E. MEMADUKAN PANDANGAN PIAGET, KOHLBERG DAN ERIKSON
Dari uraian yang dipaparkan terdahulu berkenaan dengan teori perkembangan moral yang dijadikan bahasa utama menurut Jean Piaget, Lawrence Kohlberg maupun kajian pembanding berdasarkan teori Psikososial Erik H. Erikson dapat dilihat beberapa kesamaan pandangan maupun perbedaan, utamanya berkaitan dengan tahap-tahap perkembangan moral anak. Kesamaan pandangan yang paling nampak adalah pengakuan terhadap adanya tahap-tahap perkembangan anak dari tahap yang paling sederhana dan sangat realistik dalam memandang sesuatu sampai pada struktur yang lebih komplek dan semakin abstrak, walaupun jumlah dan sebutan untuk masing-masing tahap berbeda menurut hasil penelitian dan kajian mereka masing-masing.
Di samping adanya bagian-bagian tertentu yang menunjukkan adanya kesamaan pandangan, juga terdapat perbedaan-perbedaan yang secara jelas terlihat dalam kajian yang mereka lakukan. Kesimpulan Jean Piaget yang mengatakan bahwa semua anak akan berkembang melalui urutan-urutan
Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 88
yang sama tanpa harus bergantung pada tingkat pengalaman, kondisi keluarga bahkan kebudayaan cenderung merupakan kesimpulan yang kurang proporsional. Hasil-hasil penelitian lain dan fakta empirik menunjukkan bahwa terutama fungsi keluarga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap proses perkembangan dan moral anak. Hal ini juga berarti bahwa kondisi keluarga untuk hal-hal tertentu dapat menyebabkan perbedaan di dalam urutan-urutan perkembangan anak. Bagi anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga dalam latar kondisi yang normal, kalaupun beda perbedaan, perbedaan itu merupakan sesuatu yang wajar. Hal ini tidak akan menimbulkan pertentangan. Namun kenyataan juga menunjukkan bahwa tidak sedikit anak yang dibesarkan dalam iklim keluarga yang mungkin dapat dikatakan ekstrim. Dalam kondisi ini mungkin saja dapat menimbulkan proses perkembangan anak menjadi tidak dapat berlangsung secara normal. Mungkin dapat dikatakan bahwa secara umum memang anak akan berkembang menurut urutan yang sama, akan tetapi sangat sulit untuk mengkondisikan keluarga yang akan memungkinkan urutan perkembangan anak menjadi berbeda. Pandangan Piaget ini juga berbeda dengan pandangan Erik H. Erikson yang melihat bahwa perkembangan tiap-tiap tahap harus didukung oleh pranata-pranata budaya yang kuat, utamannya oleh orang tua dan berikutnya oleh berbagai unsur kemasyarakatan.
Pandangan Piaget yang mengemukakan bahwa dalam tahap realisme moral, anak menerima saja sepenuhnya aturan-aturan yang diberikan oleh orang-orang yang berkompeten, mungkin kurang menyentuh hakikat psikologis anak. Sesungguhnya anak pada usia ini juga merasakan kesetujuan dan ketidaksetujuan terhadap sesuatu aturan yang ditetapkan untuk dirinya, namun reaksi ini sering kali kurang terlihat secara jelas melalui perilaku mereka sebagaimana terjadi pada anak-anak yang lebih tinggi tingkat perkembangannya. Sebagai contoh ketika seorang ibu harus mengharuskan seorang bayi atau anak tidur siang, sementara anak masih
Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 89
asyik dengan permainannya. Atau mereka diharuskan makan, sementara mereka sebenarnya belum lapar. Reaksi yang muncul mungkin tidak dalam bentuk penolakan secara nyata dalam aturan tersebut, akan tetapi seringkali ditunjukkan dengan sikap cerewet ketika diberi makan atau ditidurkan oleh ibunya. Reaksi-reaksi psikologis seperti ini nampaknya kurang menjadi fokus perhatian Piaget dalam penarikan kesimpulannya.
Keadilan distributif yang diungkapkan Piaget merupakan pandangan yang positif karena dia mempunyai pandangan tentang pentingnya keadilan ekualitas dan ekuitas, yakni pada satu sisi dia melihat bahwa setiap orang harus diperlukan secara sama, dan di sisi lain dia juga memandang bahwa dalam menetapkan hukuman dan ganjaran juga perlu memperhitungkan pertimbangan-pertimbangan dari masing-masing individu Teori perkembangan moral dari Kolhberg secara keseluruhan telah menguraikan secara lebih detail tentang tahap-tahap perkembangan moral, meskipun dalam pembahasan setiap tahap tersebut Kolhberg juga belum dapat memperhatikan secara menyeluruh realitas moral anak. Pada teori perkembangan moral Kolhberg, perkembangan moral anak lebih didiominasi oleh perhatiannya pada faktor-faktor di dalam individu sendiri dan kurang melihat pentingnya faktor- faktor lingkungan dan sosial, serta sama sekali meniadakan faktor- faktor positif bawaan yang ada pada anak. Sebagai contoh pada perkembangan tahap pertama dikemukakan bahwa “perilaku baik “ yang muncul pada anak-anak bukan tumbuh sebagai suatu kesadaran akan kebaikan, akan tetapi hal itu muncul karena adanya konsekuensi terutama berupa hukuman. Bilamana hal ini dilihat secara seksama dalam realitas perilaku anak, sesungguhnya tidak semua perilaku yang baik itu muncuk disebabkan karena adanya konsekuensi berupa hukuman, akan tetapi telah ada (walaupun dalam kapasitas yang sederhana) dorongan-dorongan moral dalam diri anak untuk melakukan hal-hal yang baik yang tidak semata-mata karena konsekuensi hukuman. Oleh karena itu dalam konteks pembelajaran, pengembangan potensi- potensi positif dalam
Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 90
diri anak dan upaya-upaya penyadaran akan perilaku positif jauh lebih penting daripada menetapkan sanksi dan hukuman, jika anak tidak melakukan sesuatu yang diharapkan.
Dalam aspek-aspek moral yang lebih abstrak seperti rasa tanggung jawab dan percaya diri juga kurang menjadi perhatian dalam teori Kolhberg. Dalam pembahasan teori Erikson dikemukakan tentang pentingnya percaya diri dalam mendorong pertumbuhan autonomy. Namun apa yang dikemukakan bahwa mesti mempercayai dunia sekitar terlebih dahulu sebelum ia dapat mempercayai dirinya sendiri, merupakan penegasan yang perlu dikaji secara cermat, sebab di dalam penjelasan dari sudut pandang lain dikemukakan bahwa seseorang diharuskan ntuk mengenali dirinya sendiri terlebih dahulu baru ia dapat memahami hakikat dunia sekitarnya.
Moral berkaitan dengan disiplin dan kemajuan kualitas perasaan, emosi, dan kecenderungan manusia, sementara aturan pelaksanaannya merupakan aturan praktis tingkah laku yang tunduk pada sejumlah pertimbangan dan konvensi lainya meskipun kadang-kadang sesuai dengan kriteria moral.
Teori-teori perkembangan dan pertimbangan moral, baik yang diungkapkan oleh Piaget, Kohlberg maupun Erikson sebagai mana dipaparkan terdahulu dapat dijadikan sebagai pengetahuan dalam membuka pemahaman awal perkembangan moral. Walaupun terdapat sejumlah perbedaan pandangan dan kekurangan dari masing-masing teori yang dikemukakan, namun pada prinsipnya merupakan mereka telah muntuk membuka peluang pengkajian-pengkajian lebih lanjut ke arah pemahaman yang lebih komprehensif dan mendalam dari setiap tahap perkembangan tersebut. Satu hal yang paling nampak kesamaan dari beberapa pandangan ini adalah bahwa tiap-tiap perkembangan lebih lanjut dari setiap tahap perkembangan, ditentukan oleh tahap perkembangan sebelumnya.
Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 91
Beberapa hasil kajian Kohlberg yang mengungkapkan bahwa penilaian dan perbuatan moral bukanlah soal pada prinsipnya bersifat rasional, dan keputusan moral bukanlah soal perasaan atau nilai memberikan kesan bahwa perhatiannya lebih banyak terarah pada perkembangan kognitif. Demikian juga banyaknya kritikan pola pertimbangan moral pasca-konvesional yang kurang dibuktikan oleh data-data empiris penelitian lintas budaya, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan tentang pengaruh sosial budaya yang tidak diungkapkan oleh Kolhberg. Kajian yang dilakukan oleh Kohlberg maupun Piaget yang nampak lebih banyak terfokus pada perhatian perkembangan moral kognitif dilihat sebagai sisi yang lemah, akan tetapi selanjutnya kajian Erikson yang memberikan perhatian cukup proporsional terhadap besarnya peranan lingkungan sosial serta nilai-nilai budaya sehingga dapat melengkapi kekurangan itu walaupun masih belum komprehensif.
Urain-uraian tersebut memberikan makna dan penegasan bahwa pemahaman terhadap suatu teori harus dikaji secara mendalam dan komprehensif, apalagi teori yang tidak bertolak dari nilai-nilai agama yang sifatnya sangat tentatif. Teori-teori tersebut dapat dijadikan sebagai pengetahuan dan penambahan wawasan, akan tetapi untuk kepentingan lebih jauh apalagi untuk dapat dijadikan pegangan harus dikaji melalui sudut pandang nilai-nilai dasar yang lebih diyakini kebenarannya.