• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

C. IMPLIKASI PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN

4. Prinsip Keterlibatan Langsung

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 111

4. Prinsip Keterlibatan Langsung

Keterlibatan langsung siswa di dalam proses pembelajaran memiliki intensitas keaktifan yang lebih tinggi. Dalam keadaan ini siswa tidak hanya sekedar aktif mendengar, mengamati dan mengikuti, akan tetapi terlibat langsung di dalam melaksanakan suatu percobaan, peragaan atau mendemonstrasikan sesuatu. Dengan keterlibatan langsung ini berarti siswa aktif mengalami dan melakukan proses belajar sendiri. Sejumlah hasil penelitian membuktikan lebih dari 60% sesuatu yang diperoleh dari kegiatan belajar didapatkan dari keterlibatan langsung. Keterlibatan langsung siswa memberi banyak sekali manfaat baik manfaat yang langsung dirasakan pada saat terjadinya proses pembelajaran tersebut, maupun manfaat jangka panjang setelah proses pembelajaran itu terjadi.

Belajar pada hakikatnya adalah suatu perubahan. Perubahan-perubahan sebagai hasil belajar sebagian dapat dilihat pada waktu yang relatif singkat, bahkan bersamaaan dengan kegiatan belajar itu sendiri. Namun sebagian besar perubahan hasil belajar tersebut dapat diamati atau perubahannya memerlukan waktu yang lama. Perubahan tingkah laku dalam waktu yang cepat sebagai akibat terjadinya proses belajar misalnya perubahan-perubahan motorik atau aspek-aspek keterampilan. Anak belajar cara memegang pensil yang benar, belajar merapikan buku, meraut pensil, membuat kapal-kapalan dari kertas, Ibu-ibu belajar membuat kue, memasak, menjahit pakaian. Berkenaan dengan aspek kognitif, misalnya anak belajar membaca, berhitung, menulis, dan sebagainya. Perubahan-perubahan sebagai hasil belajar berkenaan dengan aspek-aspek di atas, pada umumnya dapat dilihat dalam waktu yang singkat, meskipun proses menjadi yang lebih baik juga memerlukan waktu yang lama. Perubahan-perubahan tingkah laku yang memerlukan waktu lama, misalnya melatih kemampuan berpikir kritis, merubah sikap, pengembangan aspek-aspek emosional. Bilamana proses belajar untuk mencapai perubahan-perubahan

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 112

tersebut melibatkan peran langsung siswa, maka akan terjadi perubahan-perubahan yang lebih cepat karena siswa terlibat di dalam mengalami sendiri, atau mempraktekkan sendiri dimensi-dimensi kemampuannya. Dengan demikian pula sekaligus siswa mengetahui kemampuan-kemampuan dirinya, sehingga memungkinkan tumbuhnya dorongan atau motivasi untuk mengembangkan diri. Implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi guru adalah:

a. Mengaktifkan peran individual atau kelompok kecil di dalam penyelesaian tugas.

b. Menggunakan media secara langsung dan melibatkan siswa di dalam praktik penggunaan tersebut.

c. Memberi keleluasaan kepada siswa untuk melakukan berbagai percobaan atau eksperimen.

d. Memberikan tugas-tugas praktik.

Bagi siswa, implikasi prinsip keterlibatan langsung ini adalah:

a. Siswa harus terdorong aktif untuk mengalami sendiri dalam melakukan aktivitas pembelajaran.

b. Siswa dituntut untuk aktif mengerjakan tugas-tugas.

5. Prinsip Pengulangan

Teori belajar klasik yang memberikan dukungan paling kuat terhadap prinsip belajar pengulangan ini adalah teori psikologi daya. Berdasarkan teori ini, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang meliputi daya berpikir, mengingat, mengamati, menghapal, menanggapi dan sebagainya. Melalui latihan-latihan maka daya-daya tersebut semakin berkembang. Sebaliknya semakin kurang pemberian latihan, maka daya-daya tersebut semakin lambat perkembangannya.

Mengajar pada hakikatnya adalah membentuk suatu kebiasaan, sehingga melalui pengulangan-pengulangan siswa akan terbiasa melakukan sesuatu dengan baik sesuai perilaku yang diharapkan.

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 113

Agar kebiasaan itu menjadi efektif, maka seseorang terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan berkenaan dengan sesuatu yang dilakukan. Di samping itu akan sangat baik bilamana ia memahami alasan mengapa sesuatu itu penting untuk dilakukan. Memiliki pengetahuan dan alasan tentang sesuatu hal yang akan dilakukan dapat terlaksana dengan baik bilamana individu memiliki perangkat keterampilan bagaimana melakukannya. Suatu tindakan tertentu dapat tumbuh subur menjadi kebiasaan bilamana didukung dengan motivasi atau keinginan yang kuat untuk melakukan secara terus-menerus. Karena itu di dalam kegiatan pembelajaran, setiap guru di samping sangat penting memberikan pengetahuan dan alasan kepada siswa untuk melakukan sesuatu, tentu harus diiringi dengan cara melakukannya dengan baik. Kedua hal ini akan dapat efektif bilamana siswa memiliki keinginan atau dorongan untuk melakukannya menjadi suatu kebiasaan. Implikasi prinsip-prinsip pengulangan bagi guru adalah:

a. Memilah pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan.

b. Merancang kegiatan pengulangan. c. Mengembangkan soal-soal latihan.

d. Mengimplementasikan kegiatan pengulangan-pengulangan yang bervariasi.

Sedangkan pada siswa sangat dituntut untuk memiliki kesadaran yang mendalam agar bersedia melakukan pengulangan latihan-latihan baik yang ditugaskan oleh guru maupun atas inisiatif dan dorongan diri sendiri.

6. Prinsip Tantangan

Deproter (dalam Aunurrahman, 2012: 125) mengemukakan bahwa studi-studi menunjukkan bahwa siswa lebih banyak belajar jika pelajarannya memuaskan, menantang serta ramah, dan mereka

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 114

memiliki peran di dalam pengambilan keputusan. Bilamana anak merasa tertantang dalam suatu pelajaran, maka ia dapat mengabaikan aktivitas lain yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya.

Di dalam situasi belajar, siswa berhadapan dengan cita-cita yang ingin dicapainya, akan tetapi ia selalu dihadapkan pada hambatan yaitu mempelajari bahan belajar. Melalui motif dalam dirinya dan dorongan dari luar (termasuk guru) tumbuh dorongan untuk mempelajari bahan belajar tersebut. Bilamana hambatan-hambatan belajar dapat diatasi dan tujuan belajarnya dapat tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar motif pada anak tumbuh dengan kuat guna mengatasi hambatan yang dihadapi, maka bahan belajar harus menantang. Dalam keadaan ini guru perlu sekali menemukan dan mempersiapkan bahan-bahan belajar yang menarik, baru dan mampu mendorong keikutsertaan siswa untuk mencermati dan memecahkan masalah. Bahan pelajaran yang diharapkan adalah yang sebesar mungkin memberi peluang dan dorongan bagi siswa untuk turut menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi.

Model-model pembelajaran yang menempatkan siswa hanya menerima saja apa yang diberikan atau disampaikan oleh guru, memiliki kadar keterlibatan mental yang sangat rendah. Dalam pendangan konstruktivisme semua pengetahuan yang kita peroleh adalah konstruksi kita sendiri. Karena itu mereka menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari seseorang kepada orang lain.

Dalam kaitan dengan prinsip-prinsip tantangan ini diharapkan guru secara cermat dapat memilih dan menentukan pendekatan-pendekatan dan metode pembelajaran yang dapat memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar.

Beberapa bentuk kegiatan berikut dapat dijadikan sebagai acuan bagi guru untuk menciptakan tantangan dalam kegiatan belajar, yaitu: a. Merancang dan mengelola kegiatan dan eksperimen.

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 115

b. Memberikan tugas-tugas pemecahan masalah kepada siswa. c. Mendorong siswa untuk membuat kesimpulan pada setiap sesi

pembelajaran.

d. Mengembangkan bahan-bahan pembelajaran yang menarik. e. Membimbing siswa menemukan fakta, konsep, prinsip dan

generalisasi.

f. Merancang dan mengelola kegiatan diskusi.

7. Prinsip Balikan dan Penguatan

Di dalam proses pembelajaran sehari-hari sebagian besar guru seringkali mengembalikan berkas pekerjaan siswa dengan mencantumkan nilai atau skor tertentu dari hasil pekerjaannya. Sebagian guru yang lain tidak terbiasa mengembalikan pekerjaan siswa beserta hasil koreksinya, sehingga siswa-siswa tidak mengetahui hasil yang mereka dapatkan. Padahal pemberitahuan kepada siswa tentang hasil yang mereka dapatkan sangat penting untuk menumbuhkan motivasi belajar mereka. Jika siswa tidak mendapatkan nilai yang baik, akan memberikan manfaat dalam rangka mendorong aktivitas belajar yang lebih giat lagi. Anak yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut jika tidak naik kelas. Perasaan takut karena khawatir tidak naik kelas, maka anak terdorong untuk belajar lebih giat. Dalam kegiatan ini, rasa takut tidak naik kelas dapat mendorong anak belajar lebih giat, karena siswa mencoba menghindari peristiwa yang tidak menyenangkan.

Memberikan penguatan dan balikan merupakan hal yang kedengarannya sederhana dan mudah, akan tetapi seringkali tidak terlalu mudah untuk dilakukan oleh setiap guru. Hambatannya bisa dalam berbagai bentuk yang berbeda. Beberapa orang guru mungkin belum terbiasa melakukannya, sangat mungkin karena anggapan mereka yang belum menempatkan penguatan sebagai sesuatu yang penting dalam proses pembelajaran. Karena itu perlu upaya-upaya

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 116

latihan agar keadaan tersebut menjadi terbiasa untuk dilakukan. Sumantri dan Permana (1999: 274) mengemukakan secara khusus beberapa tujuan dari pemberian penguatan, yaitu:

a. Membangkitkan motivasi belajar peserta didik. b. Merangsang peserta didik berpikir lebih baik. c. Menimbulkan perhatian peserta didik.

d. Menumbuhkan kemampuan berinisiatif secara pribadi.

e. Mengendalikan dan mengubah sikap negatif peserta didik dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar.

Terdapat beberapa jenis penguatan yang dapat dilakukan guru:

a. Penguatan verbal, yaitu penguatan yang diberikan guru berupa kata-kata atau kalimat yang diucapkan, seperti: bagus, baik, samart, tepat, dan sebagainya.

b. Penguatan gestural, yaitu penguatan berupa gerak tubuh atau mimik muka yang memberi arti/kesan baik kepada peserta didik. Penguatan gestural dapat berupa: tepuk tangan, acungan jempol, anggukan, tersenyum, dan sebagainya.

c. Penguatan dengan cara mendekati, yaitu perhatian guru terhadap perilaku peserta didik dengan cara mendekatinya. Penguatan dengan cara mendekati ini dapat dilakukan ketika peserta didik menjawab pertanyaan, bertanya, berdiskusi atau sedang melakukan aktivitas-aktivitas lainnya.

d. Penguatan dengan cara sentuhan, yaitu penguatan yang dilakukan guru dengan cara menyentuh peserta didik, seperti menepuk pundak, menjabat tangan, mengusap kepala peserta didik, atau bentuk-bentuk lainnya.

e. Penguatan dengan cara memberikan kegiatan yang menyenangkan. Memberikan penghargaan kepada kemampuan peserta didik dalam suatu bidang tertentu, seperti peserta didik

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 117

yang pandai bernyanyi diberikan kesempatan untuk melatih vokal pada temannya.

f. Penguatan berupa tanda atau benda, yaitu memberikan penguatan kepada peserta didik berupa simbol-simbol atau benda-benda. Penguatan ini dapat berupa komentar tertulis atas karya peserta didik, hadiah, piagam, lencana, dan sebagainya. Ketepatan pemberian dan penggunaan penguatan harus mendapat perhatian guru. Bilamana penguatan dipergunakan pada situasi dan waktu yang tidak tepat, maka hal itu dapat kehilangan keefektifannya. Sebaliknya bilamana penguatan itu dipergunakan secara tepat, maka akan memberikan pengaruh yang positif terhadap aktivitas belajar peserta didik. Berikut ini adalah beberapa di antara situasi yang cocok untuk diberikan penguatan:

a. Pada saat peserta didik menjawab pertanyaan, atau merespon stimulus guru atau peserta didik yang lain.

b. Pada saat peserta didik menyelesaikan tugas.

c. Pada saat peserta didik mengerjakan tugas-tugas latihan. d. Pada waktu perbaikan dan penyempurnaan tugas.

e. Pada saat penyelesaian tugas-tugas kelompok dan mandiri. f. Pada saat membahas dan membagikan hasil-hasil latihan dan

ulangan.

g. Pada situasi tertentu tatkala peserta didik mengikuti kegiatan secara sungguh-sungguh.

Implikasi prinsip-prinsip balikan dan penguatan bagi guru antara lain: a. Memberikan balikan dan penguatan secara tepat, baik, teknik,

waktu maupun bentuknya.

b. Memberikan kepada siswa jawaban yang benar. c. Mengoreksi dan membahas pekerjaan siswa.

d. Memberikan catatan pada hasil pekerjaan siswa baik berupa angka maupun komentar-komentar tertentu.

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 118

e. Memberikan lembar jawaban atau kerja siswa.

f. Mengumumkan atau menginformasikan peringkat secara terbuka.

g. Memberikan penghargaan.