• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modul Belajar dan Pembelajaran Disusun Oleh: Novianti Mandasari, M.pd. Mat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Modul Belajar dan Pembelajaran Disusun Oleh: Novianti Mandasari, M.pd. Mat"

Copied!
355
0
0

Teks penuh

(1)

Modul Belajar dan Pembelajaran

Disusun Oleh: Novianti Mandasari, M.pd. Mat

Untuk Mahasiswa STKIP PGRI Lubuk linggau

(2)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 2

BAB I

HAKEKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

A.

PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1. Pengertian Belajar

Pengertian belajar dapat kita temukan diberbagai sumber atau literatur. Meskipun kita melihat ada perbedaan-perbedaan di dalam rumusan pengertian belajar tersebut dari masing-masing ahli, namun secara prinsip kita menemukan kesamaan-kesamaannya. Burton, dalam sebuah buku “The Guidance of Learning Activities”, merumuskan pengertian belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

Dalam pengertian yang umum dan sederhana belajar seringkali diartikan sebagai aktivitas untuk memperoleh pengetahuan. Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Kemampuan orang untuk belajar menjadi ciri penting yang membedakan jenisnya dari jenis-jenis makhluk yang lain. Dalam konteks ini seseorang dikatakan belajar bilamana terjadi perubahan, dari sebelumnya tidak mengetahui sesuatu menjadi mengetahui.

Hampir semua ahli telah merumuskan dan membuat tafsirannya tentang “belajar”. Seringkali pula perumusan dan tafsirannya itu berbeda satu sama lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa perumusan saja, guna melengkapi dan memperluas pandangan kita tentang mengajar. “belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman” (Hamalik, 2005:36).

Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari pada itu, yaitu mengalami hasil

(3)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 3

belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan.

Sejalan dengan perumusan di atas, ada pula tafsiran lain tentang belajar, yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.

Dari beberapa pengertian tersebut, maka jelas tujuan belajar itu prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha yang dilakukan untuk pencapaiannya. Pengertian ini menitik beratkan pada interaksi antara individu dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman belajar.

Sebagai landasan pembahasan mengenai apa yang dimaksud dengan belajar, berikut ini beberapa definisi belajar yang dikemukakan oleh Drs. M. Ngalim Purwanto (1996), yaitu:

a. Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning. “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya)”.

b. Robert M. Gagne, dalam buku The Conditions of Learning. “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.

c. Morgan, dalam buku Introduction to Psychology. “Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”.

(4)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 4

d. H.C. Witherington, dalam buku Educational Psychology. Mengemukakan bahwa “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian”.

Adapun pengertian belajar menurut beberapa para ahli yang lain (dikutip Bahri, 1999) di antaranya:

a. James O. Whittaker, “Belajar adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman”. b. Winkel, “Belajar adalah aktivitas mental atau psikis, yang

berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap”.

c. Cronchbach, “Belajar adalah suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman”. d. Howard L. Kingskey, “Belajar adalah proses dimana tingkah

laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan”. e. Drs. Slameto, “Belajar adalah suatu proses usaha yang

dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya”. f. R. Gagne, “Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh

motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku”.

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa: a. Situasi belajar harus bertujuan dan tujuan-tujuan itu diterima

baik oleh masyarakat. Tujuan merupakan salah satu aspek dari situasi belajar.

(5)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 5

c. Di dalam mencapai tujuan itu, siswa senantiasa akan menemui kesulitan, rintangan-rintangan dan situasi yang tidak menyenangkan.

d. Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat. e. Proses belajar terutama mengerjakan hal-hal yang sebenarnya.

Belajar apa yang diperbuat dan mengerjakan apa yang dipelajari. f. Kegiatan-kegiatan dan hasil-hasil belajar dipersatukan dan

dihubungkan dengan tujuan dalam situasi belajar. g. Siswa memberikan reaksi secara keseluruhan.

h. Siswa diarahkan dan dibantu oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan itu.

i. Siswa diarahkan ke tujuan-tujuan lain, baik yang berkaitan maupun yang tidak berkaitan dengan tujuan utama dalam situasi belajar.

2. Pengertian Pembelajaran

Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Prinsip dalam pembelajaran adalah memotivasi dan memberikan fasilitas kepada siswa agar dapat belajar sendiri. Semakin banyak alat deria atau indera yang diaktifkan dalam kegiatan belajar, semakin banyak informasi yang terserap (Gintings, 2010).

Secara umum istilah belajar dimaknai sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku. Dengan pengertian demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000: 24). Adapun yang dimaksud dengan proses pembelajaran adalah sarana dan cara bagaimana suatu generasi belajar, atau dengan kata lain bagaimana sarana belajar itu secara efektif digunakan. Hal ini

(6)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 6

tentu berbeda dengan proses belajar yang diartikan sebagai cara bagaimana para pembelajar itu memiliki dan mengakses isi pelajaran itu sendiri (Tilaar, 2002: 128).

Terlihat dari pengertian tersebut, maka dapat dipahami bahwa pembelajaran membutuhkan hubungan dialogis yang sungguh-sungguh antara guru dan peserta didik, dimana penekanannya adalah pada proses pembelajaran oleh peserta didik (student of learning), dan bukan pengajaran oleh guru (teacher of teaching) (Suryosubroto, 1997: 34). Konsep seperti ini membawa konsekuensi kepada fokus pembelajaran yang lebih ditekankan pada keaktifan peserta didik sehingga proses yang terjadi dapat menjelaskan sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.

Keaktifan peserta didik ini tidak hanya dituntut secara fisik saja, tetapi juga dari segi kejiwaan. Apabila hanya fisik peserta didik saja yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan peserta didik tidak belajar, karena peserta didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya (Fathurrohman & Sutikno, 2007: 9).

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dan tugas guru adalah mengkoordinasikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai usaha sadar pendidik untuk membantu peserta didik agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Disini pendidik berperan sebagai fasilitator yang menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung peningkatan kemampuan belajar peserta didik.

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur

(7)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 7

yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga labolatorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape.

Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan

audio visual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian, dan sebagainya (Hamalik, 2005: 57).

Rumusan tersebut tidak terbatas dalam ruang saja. Sistem pembelajaran dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar di kelas atau di sekolah, karena diwarnai oleh organisasi dan interaksi antara berbagai komponen yang saling berkaitan, untuk membelajarkan peserta didik.

B. MAKNA BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Dalam aktivitas kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah dapat terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan aktivitas sendiri, maupun di dalam suatu kelompok tertentu. Dipahami ataupun tidak dipahami, sesungguhnya sebagian besar aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari kita merupakan kegiatan belajar. Dengan demikian dapat kita katakan, tidak ada ruang dan waktu di mana manusia dapat melepaskan dirinya dari kegiatan belajar, dan itu berarti pula bahwa belajar tidak pernah dibatasi usia, tempat maupun waktu, karena perubahan yang menuntut terjadinya aktivitas belajar itu juga tidak pernah berhenti.

Ada beberapa terminologi yang terkait dengan belajar yang seringkali menimbulkan keraguan dalam penggunaannya terutama di kalangan siswa atau mahasiswa, yakni terminologi tentang mengajar, pembelajaran dan belajar. Oleh karena itu, untuk mendalami hakikat belajar pada bagian ini ada baiknya terlebih dahulu kita bahas secara singkat beberapa istilah ini. Meskipun belajar, mengajar dan pembelajaran menunjuk kepada aktivitas yang berbeda, namun keduanya bermuara pada tujuan yang sama. Belajar

(8)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 8

mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran, namun pengaruh aktivitas pembelajaran dalam belajar hasilnya lebih sering menguntungkan dan biasanya lebih mudah diamati. Mengajar diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk menciptakan suatu situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar. Situasi ini tidak harus berupa transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa saja, akan tetapi dapat dengan cara lain misalnya belajar melalui media pembelajaran yang sudah disiapkan.

Dalam berbagai kajian dikemukakan bahwa instruction atau pembelajaran sebagai suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mendukung dan mempengaruhi terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Sepintas pengertian mengajar hampir sama dengan pembelajaran, namun pada dasarnya berbeda. Dalam pembelajaran, situasi atau kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar harus dirancang dan dipertimbangkan terlebih dahulu oleh guru. Yang penting kita cermati kembali dalam keseharian di sekolah-sekolah, istilah pembelajaran atau proses pembelajaran sering dipahami sama dengan proses belajar mengajar dimana di dalamnya terjadi interaksi guru dan siswa dan antara sesama siswa untuk mencapai tujuan yaitu terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku siswa.

Pembelajaran berupaya mengubah masukan berupa siswa yang belum terdidik, menjadi siswa yang terdidik, siswa yang belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan. Demikian pula siswa yang memiliki sikap, kebiasaan atau tingkah laku yang belum mencerminkan eksistensi dirinya sebagai pribadi baik atau positif, menjadi siswa yang memiliki sikap kebiasaan dan tingkah laku yang baik.

Sebenarnya belajar dapat saja terjadi tanpa pembelajaran, namun hasil belajar akan tampak jelas dari suatu aktivitas pembelajaran. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan terjadinya proses belajar dalam diri siswa. Seseorang dikatakan telah mengalami proses belajar apabila di dalam

(9)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 9

dirinya telah terjadi perubahan, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan sebagainya. Dalam proses pembelajaran, hasil belajar dapat dilihat secara langsung. Oleh sebab itu agar dapat dikontrol dan berkembang secara optimal melalui proses pembelajaran di kelas, maka program pembelajaran tersebut harus dirancang terlebih dahulu oleh guru dengan memperhatikan berbagai prinsip yang telah terbukti keunggulannya secara empirik.

Sebagaimana telah kita bahas bersama sebelumnya bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Definisi ini menyangkut tiga unsure, yaitu:

1) Belajar adalah perubahan tingkah laku.

2) Perubahan tingkah laku tersebut terjadi karena latihan atau pengalaman.

3) Perubahan tingkah laku tersebut relatif permanen atau tetap ada untuk waktu yang cukup lama.

Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat di pandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran. Dari segi guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal.

Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental, yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dari segi guru proses belajar tersebut diamati, akan tetapi dapat dipahami oleh guru. Proses belajar tersebut tampak melalui perilaku siswa mempelajari bahan belajar. Perilaku belajar tersebut merupakan respons siswa terhadap tindakan mengajar atau

(10)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 10

tindakan pembelajaran dari guru. Perilaku belajar tersebut ada hubungannya dengan desain instruksional guru, karena di dalam desain instruksional, guru membuat tujuan instruksional khusus atau sasaran belajar.

Untuk memahami secara spesifik tentang perubahan tingkah laku sebagai akibat terjadinya proses belajar ini, beberapa ahli memilah perilaku individu dalam tiga kawasan atau ranah, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

1. Ranah kognitif, terdiri dari enam jenis perilaku, yaitu:

a. Pengetahuan, mencakup kemampuan ingatan tentang hal-hal yang telah dipelajari dan tersimpan di dalam ingatan. Pengetahuan tersebut dapat berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, atau metode.

b. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap sari dan makna hal-hal yang dipelajari.

c. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode, kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Perilaku ini misalnya tampak dalam kemampuan menggunakan prinsip. d. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke

dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.

e. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru, misalnya tampak di dalam kemampuan menyusun suatu program kerja.

f. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Sebagai contoh kemampuan menilai hasil karangan.

2. Ranah afektif, terdiri 5 jenis perilaku, yaitu:

a. Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut.

(11)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 11

b. Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan dan berpartisipasi dalam suatu keadaan.

c. Penilaian dan penetuan sikap, yang mencakup penerimaan terhadap suatu nilai, menghargai, mengakui, dan menentukan sikap.

d. Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.

e. Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan menghayati nilai, dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.

3. Ranah psikomotor, terdiri dari tujuh perilaku atau kemampuan motorik, yaitu:

a. Persepsi, yang mencakup kemampuan memilah-milahkan (mendeskripsikan) sesuatu secara khusus dan menyadari adanya perbedaan antara sesuatu tersebut. Sebagai contoh pemilahan warna, pemilahan angka (6 dan 9), pemilahan huruf (b dan d). b. Kesiapan, yang mencakup kemampuan menempatkan diri

dalam suatu keadaan dimana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan, kemampuan ini mencakup aktivitas jasmani dan rohani (mental), misalnya posisi start lomba lari.

c. Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh, atau gerakan peniruan. Misalnya meniru gerakan tari, membuat lingkaran di atas pola.

d. Gerakan terbiasa, mencakup kemampuan melakukan gerakan-gerakan tanpa contoh. Misalnya melakukan lempar peluru, lompat tinggi, dan sebagainya dengan tepat.

e. Gerakan kompleks, yang mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap secara lancar, efisien dan tepat. Misalnya, bongkar pasang peralatan secara tepat.

(12)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 12

f. Penyesuaian pola gerakan, yang mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku. Misalnya kemampuan atau keterampilan bertanding dengan lawan tanding.

g. Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola-pola gerak-gerik yang baru atas dasar prakarsa sendiri. Misalnya kemampuan membuat kreasi-kreasi gerakan senam sendiri, gerakan-gerakan tarian kreasi baru.

Ketiga ranah tersebut sesungguhnya bukan merupakan bagian yang terpisah, akan tetapi memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Masing-masing ranah tersebut selanjutnya dijabarkan ke dalam bagian-bagian yang lebih spesifik yang disebut hierarki perilaku belajar atau hierarki tujuan belajar.

C. CIRI-CIRI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN 1. Ciri-ciri Belajar

Berdasarkan pengertian belajar di atas, maka pada hakikatnya “Belajar menunjuk ke perubahan dalam tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu berkat pengalamannya yang berulang-ulang, dan perubahan tingkah laku tersebut tak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan-kecenderungan respons bawaan, kematangan atau keadaan temporer dari subjek (misalnya keletihan, dsb)”, dikemukakan oleh Hilgard dan Gordon (dikutip Hamalik, 2005). Dengan pengertian tersebut ternyata belajar sesungguhnya memiliki ciri-ciri (karakteristik) tertentu:

a. Belajar berbeda dengan kematangan

Pertumbuhan merupakan saingan utama sebagai pengubah tingkah laku. Bila serangkaian tingkah laku matang melalui secara wajar tanpa adanya pengaruh dari latihan, maka dikatakan bahwa perkembangan itu adalah berkat kematangan dan bukan karena belajar. Bila prosedur latihan tidak secara

(13)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 13

cepat mengubah tingkah laku, maka berarti prosedur tersebut bukan penyebab yang penting dan perubahan-perubahan tak dapat diklasifikasikan sebagai belajar. Memang banyak perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh kematangan, tetapi juga tidak sedikit perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh interaksi antara kematangan dan belajar, yang berlangsung dalam proses yang rumit. Misalnya anak mengalami kematangan untuk berbicara, kemudian berkat pengaruh percakapan masyarakat di sekitarnya, maka dia dapat berbicara tepat pada waktunya.

b. Belajar dibedakan dari perubahan fisik dan mental

Perubahan tingkah laku juga dapat terjadi disebabkan oleh terjadinya perubahan pada fisik dan mental karena melakukan suatu perbuatan berulangkali yang mengakibatkan badan menjadi letih/lelah. Sakit atau kurang gizi juga dapat mempengaruhi tingkah laku atau karena mengalami kecelakaan tetapi hal ini tak dapat dinyatakan sebagai hasil perbuatan belajar. Gejala-gejala seperti kelelahan mental, konsentrasi menjadi berkurang, melemahnya ingatan, terjadinya kejenuhan, semua dapat menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku, misalnya berhenti belajar, menjadi bingung, rasa kegagalan, dan sebagainya. Tetapi perubahan tingkah laku tersebut tak dapat digolongkan sebagai belajar. Jadi, perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh perubahan fisik dan mental.

c. Ciri belajar yang hasilnya relatif menetap

Hasil belajar dalam bentuk perubahan tingkah laku. Belajar berlangsung dalam bentuk latihan dan pengalaman. Tingkah laku yang dihasilkan bersifat menetap dan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Tingkah laku itu berupa perilaku yang nyata dan dapat diamati. Misalnya, seseorang bukan hanya

(14)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 14

mengetahui sesuatu yang perlu diperbuat, melainkan juga melakukan perbuatan itu sendiri secara nyata. Jadi, istilah menetap dalam hal ini, bahwa perilaku itu dikuasai secara menetap. Kemantapan ini berkat latihan dan pengalaman.

2. Ciri-ciri Pembelajaran

Ada tiga ciri khas yang terdapat dalam sistem pembelajaran, yaitu: a. Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur,

yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran, dalam suatu rencana khusus.

b. Kesalingtergantungan, antara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial, dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.

c. Tujuan, sistem pembelajaran memiliki tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ciri ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem yang alami. Sistem yang dibuat oleh manusia, seperti: sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem pemerintahan, semuanya memiliki tujuan. Sistem alami, seperti: sistem ekologi, sistem kehidupan hewan, memiliki unsur-unsur yang saling berkaitan satu sama lain, disusun sesuai dengan rencana tertentu, tetapi tidak mempunyai tujuan tertentu. Tujuan sistem menuntun proses merancang sistem. Tujuan utama sistem pembelajaran agar siswa belajar. Tugas seorang perancang sistem ialah mengorganisasi tenaga, material, dan prosedur agar siswa belajar secara efisien dan efektif. Dengan proses mendesain sistem pembelajaran si perancang membuat rancangan untuk memberikan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan sitem pembelajaran tersebut.

(15)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 15

Selanjutnya ciri-ciri pembelajaran lebih detail adalah sebagai berikut: a. Memiliki tujuan, yaitu untuk membentuk siswa dalam suatu

perkembangan tertentu.

b. Terdapat mekanisme, prosedur, langkah-langkah, metode dan teknik yang direncanakan dan didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

c. Fokus materi ajar, terarah, dan terencana dengan baik.

d. Adanya aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungya kegiatan pembelajaran.

e. Aktor guru yang cermat dan tepat.

f. Terdapat pola aturan yang ditaati guru dan siswa dalam proporsi masing-masing.

g. Limit waktu untuk mencapai tujuan pembelajaran. h. Evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi produk.

D. TUJUAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan Belajar

Tujuan belajar pada hakekatnya adalah rumusan tentang perilaku hasil belajar (kognitif, psikomotor, dan afektif) yang diharapkan untuk dimiliki (dikuasai) oleh si pelajar setelah si pelajar mengalami proses belajar dalam jangka waktu tertentu. Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa. Tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar. Tujuan belajar merupakan cara yang akurat untuk menentukan hasil pembelajaran. Tujuan pembelajaran dan tujuan belajar berbeda, namun saling berkaitan satu sama lain.

(16)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 16

Tujuan belajar terdiri dari tiga komponen, yaitu:

a. Tingkah laku terminal, adalah komponen tujuan belajar yang menentukan tingkah laku siswa setelah belajar. Tingkah laku itu merupakan bagian dari tujuan yang menunjuk pada hasil yang diharapkan dalam belajar, apa yang dapat dikerjakan/dilakukan oleh siswa untuk menunjukkan bahwa dia telah mencapai tujuan. Tingkah laku ini dapat diterima sebagai bukti bahwa siswa telah belajar.

b. Kondisi-kondisi tes, menentukan situasi dimana siswa dituntut untuk mempertunjukkan tingkah laku terminal. Kondisi-kondisi tersebut perlu disiapkan oleh guru, karena sering terjadi ulangan/ujian yang diberikan oleh guru tidak sesuai dengan materi yang telah disampaikan sebelumnya, peristiwa ini terjadi akibat kelalaian guru yang tidak memiliki konsep yang jelas tentang cara menilai hasil belajar siswa sebelum dia melakukan pembelajaran.

c. Ukuran-ukuran perilaku, merupakan suatu pernyataan tentang pikiran yang digunakan untuk membuat pertimbangan mengenai perilaku siswa. Suatu ukuran menentukan tingkat minimal perilaku yang dapat diterima sebagai bukti bahwa siswa telah mencapai tujuan, misalnya: siswa telah dapat memecahkan suatu masalah dalam waktu 10 menit, siswa dapat melakukan prosedur kerja tertentu, dan sebagainya. Ukuran perilaku tersebut merupakan kriteria untuk mempertimbangkan keberhasilan pada tingkah laku terminal.

2. Tujuan Pembelajaran

Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang

(17)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 17

hendak dicapai, dan dikembangkan serta diapresiasikan. Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasi-hasil pendidikan yang diinginkan. Guru sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para siswa, dan dia harus mampu menulis dan memilih tujuan-tujuan pendidikan yang bermakna, dan dapat terukur.

Tujuan (goals) adalah rumusan yang luas mengenai hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Di dalamnya terkandung tujuan yang menjadi target pembelajaran dan menyediakan pilar untuk menyediakan pengaaman-pengalaman belajar. Contoh rumusan tujuan umum (goals): Siswa hendak mengembangkan keterampilan dasar matematika: siswa hendak mengembangkan apresiasi sajak. Kalau kita perhatikan, tujuan-tujuan tersebut memang berguna untuk merancang keseluruhan tujuan program pembelajaran, tetapi kurang spesifik dalam upaya pelaksanaan urutan pembelajaran. Karena tujuan tujuan yang dibutuhkan adalah yang jelas dan dapat diukur. Untuk merumuskan tujuan pembelajaran kita harus mengambil suatu rumusan tujuan dan menentukan tingkah laku siswa yang spesifik yang mengacu ke tujuan tersebut. Suatu tujuan pembelajaran seyogyanya memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Tujuan itu menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar, misalnya: dalam situasi bermain peran.

b. Tujuan mendefinisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan diamati.

c. Tujuan menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki, misalnya: pada peta pulau jawa, siswa dapat mewarnai dan memberi label pada sekurang-kurangnya tiga gunung utama.

E. PENTINGNYA TUJUAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Tujuan penting dalam rangka sistem pembelajaran, yakni merupakan suatu komponen sistem pembelajaran yang menjadi titik tolak dalam

(18)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 18

merancang sistem yang efektif. Secara khusus, kepentingan itu terletak pada:

1. Untuk menilai hasil pembelajaran. Pengajaran dianggap berhasil jika siswa mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ketercapaian tujuan siswa menjadi indikator keberhasilan sistem pembelajaran.

2. Untuk membimbing siswa belajar. Tujuan-tujuan yang dirumuskan secara tepat berdaya guna sebagai acuan, arahan, pedoman bagi siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Dalam hubungan ini, guru dapat merancang tindakan-tindakan tertentu untuk mengarahkan kegiatan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan tersebut.

3. Untuk merancang sistem pembelajaran. Tujuan-tujuan itu menjadi dasar dan kriteria dalam upaya guru memilih materi pelajaran, menentukan kegiatan belajar mengajar, memilih alat dan sumber, serta merancang prosedur penilaian.

4. Untuk melakukan komunikasi dengan guru-guru lainnya dalam meningatkan proses pembelajaran. Berdasarkan tujuan-tujuan itu terjadi komunikasi antara guru-guru mengenai upaya-upaya yang perlu dilakukan bersama dalam rangka mencapai tujuan-tujuan tersebut.

5. Untuk melakukan kontrol terhadap pelaksanaan dan keberhasilan program pembelajaran. Dengan tujuan-tujuan itu, guru dapat mengontrol hingga mana pembelajaran telah terlaksana, dan hingga mana siswa telah mencapai hal-hal yang diharapkan. Berdasarkan hasil kontrol itu dapat dilakukan upaya pemecahan kesulitan dan mengatasi masalah-masalah yang timbul sepanjang proses pembelajaran berlangsung.

(19)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 19

BAB II

TEORI-TEORI BELAJAR

A. Pengertian Teori Belajar Behaviorisme

Para penganut teori behaviorisme meyakini bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya yang memberikan pengalaman-pengalaman tertentu kepadanya. Behaviorisme menekankan pada apa yang dilihat, yaitu tingkah laku, dan kurang memperhatikan apa yang ada dalam pikiran karena tidak dapat dilihat. Skiner beranggapan bahwa perilaku manusia yang dapat diamati secara langsung adalah akibat konsekuensi dari perbuatan sebelumnya (Semiawan, 2002: 3). Menurut aliran psikologi ini proses belajar lebih dianggap sebagai suatu proses yang bersifat mekanistik dan otomatik tanpa membicarakan apa yang terjadi selama itu di dalam diri siswa yang belajar.

Teori Belajar behaviorisme adalah teori belajar yang menekankan pada tingkah laku manusia sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Behaviorisme merupakan aliran psikologi yang memandang individu lebih kepada sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental seperti kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam kegiatan belajar. Hal ini dapat dimaklumi karena behaviorisme berkembang melalui suatu penelitian yang melibatkan binatang seperti burung merpati, kucing, tikus, dan anjing sebagai objek. Peristiwa belajar semata-mata dilakukan dengan melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Para ahli behaviorisme berpendapat bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat dari adanya interaksi antara stimulus (S) dengan respon (R). Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Sebagaimana pada kebanyakan aliran psikologi belajar lainnya, behaviorisme juga melihat bahwa belajar adalah merupakan perubahan tingkah laku (Aunurrahman, 2012: 39). Ciri yang paling mendasar dari

(20)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 20

aliran ini adalah bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi adalah berdasarkan paradigma S-R (Stimulus Respons), yaitu suatu proses yang memberikan respons tertentu terhadap sesuatu yang datang dari luar. Proses S-R ini terdiri dari beberapa unsur dorongan (drive). Pertama seseorang merasakan adanya kebutuhan akan sesuatu dan terdorong untuk memenuhi kebutuhan tersebut. kedua, rangsangan atau stimulus. Kepada seseorang diberikan stimulus yang akan menyebabkannya memberikan respons. Ketiga, adalah respons, dimana seseorang memberikan reaksi atau respon terhadap stimulus yang dterimanya dengan melakukan suatu tindakan yang dapat diamati. Keempat, unsur penguatan atau reinforcement, yang perlu diberikan kepada seseorang agar ia merasakan adannya kebutuhan untuk memberikan respons lagi.

B. Teori Belajar Behaviorisme Menurut Para Ahli 1. Edward Lee Thorndike

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa fikiran, perasaan, atau gerakan atau tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah laku yang dapat diamati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikiran dan inspirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran Koneksionisme (Connectionision). Ia merupakan orang pertama yang menerangkan hubungan S-R ini. Teori ini didasarkan

(21)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 21

atas reaksi sistem tak terkontrol di dalam sisi seseorang dan reaksi emosional yang terkontrol oleh sistem urat syaraf otonom serta gerak refleks setelah menerima stimulus dari luar.

Stimulus tidak terkontrol atau tidak terkondisi (US) merupakan stimulus yang secara biologis dapat menyebabkan adanya respons dalam bentuk refleks (UR). Disini respons dapat terbentuk tanpa adanya proses belajar.

2. Ivan Pavlov (Classic Conditioning)

Teori pengkondisian klasik (Classic Conditioning) adalah perkembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme. Objek eksperimen Pavlov yaitu seekor anjing. Teori ini dilatarbelakangi oleh percobaan Pavlov tentang keluarnya air liur anjing. Air liur akan keluar, apabila anjing melihat atau mencium bau makanan. Terlebih dahulu Pavlov membunyikan bel sebelum anjing diberi makanan. Pada percobaan berikutnya begitu mendengarkan bel, otomatis air liur anjing akan keluar, walau belum melihat makanan, artinya perilaku individu dapat dikondisikan. Belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respon terhadap sesuatu. Hukum belajar yang dikemukakan Pavlov, yaitu:

a. Law of Respondent Conditioning, atau hukum pembiasaan yang

dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara serentak maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

b. Law of Respondent Extinction, atau hukum pemusnahan yang

(22)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 22

conditionig itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

3. J.B. Watson

Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. J.B.Watson adalah orang Amerika yang pertama menerapkan percobaan Pavlov tentang clssical conditioning, dengan menggunakan binatang seekor tikus dan seorang anak bernama Albert. Watson percaya bahwa manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi emosional seperti cinta, kebencian, dan kemarahan. Walaupun tidak diturunkan hukum-hukum pembelajaran dari percobaannya, namun nama Watson dikenang karena dialah yang menggunakan untuk pertama kalinya istilah behaviorisme.

Menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namn stimulus dan respon yang diaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adannya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tidak perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-peruahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena dapat diamati.

4. Clark Hull

Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evoluasi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis adalah penting dan menepati posisi sentral dalam

(23)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 23

seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajar pun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Namun teori ini masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboraturium.

5. Edwin Guthrie

Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang dijelaskan oleh Clark dan Hull. Dijelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan sebagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan dan perilaku seseorang. Namun setelah Skinner mengemukakan dan mempopulerkan akan pentingnya penguatan (reinforcement) dalam teori belajarnya, maka hukuman tidak lagi dipentingkan dalam belajar.

6. B.F. Skinner

Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar

(24)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 24

secara lebih komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tindakan sederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya. Dikatakannya bahwa respon yang diberikan oleh seseorang atau siswa tidaklah sesederhana itu. Sebab, pada dasarnya stimulus-stimulus yang diberikan kepeda seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan. Demikian juga dengan respon yang dimunculkan inipun akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau menjadi pertimbangan munculnya perilaku. Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah laku seseorang secara benar, perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya, serta memahami respon yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin akan timbul sebagai akibat dari respon tersebut.

Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab, setiap alamat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian dan seterusnya. Pandangan teori belajar behavioristik ini cukup lama dianut oleh para guru dan pendidik. Namun dari semua dukungan teori ini, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar beharioristik. Program-program pembelajaran seperti

Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan

program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skiner.

(25)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 25

Menurut teori Skiner, setiap kali memperoleh stimulus maka seseorang akan memberikan respons berdasarkan hubungan S-R. Respons yang diberikan in dapat sesuai “R” (benar) atau tidak sesuai “F” (salah) seperti apa yang diharapkan. Respon yang benar perlu diberikan penguatan (reinforcement) agar orang terdorong untuk melakukannya kembali. Karena itu pemberian penguatan terhadap respons dapat diberikan secara kontinu (contineous reinforcement), dan dapat dilakukan secara berselang-seling (intermitten

reinforcement). Pemberian penguatan secara berkelanjutan biasanya

dilakukan pada permulaan proses belajar, yaitu diberikan setiap kali seseorang memberikan respons yang benar atau sebagaimana yang diharapkan. Setelah selang beberapa waktu maka frekuensi pemberian penguatan perlu dikurangi dengan maksud agar orang-orang tersebut tetap tekun belajar dengan semakin tumbuhnya kesadaran dari dalam dirinya sendiri.

Setelah melakukan sejumlah percobaan, Skinner menyimpulkan (dalam Aunurrahman, 2012: 41) bahwa dengan pemberian penguatan dapat diimplementasikan dalam proses belajar dan beberapa hal: a. Tiap-tiap langkah di dalam proses belajar perlu dibuat secara

singkat berdasarkan tingkah laku yang pernah dipelajari sebelumnya.

b. Pada permulaan belajar perlu ada penguatan (misalnya pemberian imbalan atau hadiah), serta perlu adanya pengontrolan secara hati-hati terhadap pemberian penguatan, baik yang bersifat kontinu maupun yang berselang-seling. c. Penguatan harus diberikan secepat mungkin begitu terlihat

adanya respons yang benar. Hal ini akan sangat berarti dalam rangka memberikan umpan baik bagi mereka yang belajar sehingga motivasinya diharapkan semakin meningkat karena

(26)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 26

mereka mengetahui kemajuan yang telah dicapai didalam proses belajar.

d. Individu yang benar perlu diberikan kesempatan untuk mengadakan generalisasi karena hal ini akan memperbesar memungkinan adanya keberhasilan.

7. Albert Bandura (Belajar Sosial/Social Learning)

Teori ini disebut juga teori pembelajaran observasional, dikembangkan oleh Albert Bandura. Melalui pembelajaran observasional yang disebut modeling atau menirukan perilaku manusia model, Bandura mengembangkan teori belajar sosial. Perilaku siswa pengamat dapat dipengaruhi oleh perilaku model dalam bentuk akibat-akibat positif, maupun dalam bentuk akibat negatif. Proses modeling terjadi dengan beberapa tahapan berikut: a. Atensi (perhatian), jika ingin mempelajari sesuatu harus

memperhatikannya dengan seksama, berkonsentrasi, jangan banyak hal yang dipikirkan.

b. Retensi (ingatan), kita harus mampu mempertahankan, mengingat apa yang telah diperhatikan.

c. Produksi, kita hanya perlu duduk dan berkhayal untuk menerjemahkan citraan atau deskripsi model ke dalam perilaku aktual.

d. Motivasi, adanya dorongan atau alasan-alasan tertentu untuk berbuat atau meniru model.

Pembelajaran observasional dapat berdampak pada pembelajaran dalam hal berikut:

a. Kurikulum. Para siswa harus diberi kesempatan untuk mengamati perilaku model yang memandu ke arah penguatan positif.

(27)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 27

b. Pengajaran. Pengajar harusmenggalakkan pembelajaran kolaboratif, karena umumnya pambelajaran terjadi didalam konteks sosial dan lingkungan.

c. Penilaian. Perilaku belajar seringkali tidak dapat dilaksanakan kecuali tersedia lingkungan yang benar-benar cocok untuk itu.

C. Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Behaviorisme 1. Kelebihan Teori Behaviorisme

a. Membiasakan guru untuk bersikap jelih dan peka pada situasi dan kondisi belajar.

b. Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakaan belajar mandiri. Jika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan.

c. Mampu membentuk suatu perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif yang didasari perilaku yang tampak.

d. Dengan melalui pengulangan dan pelatihan yang berkesinambungan, dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah terbentuk sebelumnya.

e. Bahan pelajaran yang disusun secara hierarkis dari yang sederhana sampai pada yang kompleks dengan tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu keterampilan tertentu menghasilkan suatu perilaku yang konsisten terhadap bidang tertentu.

f. Dapat mengganti stimulus yang satu dengan stimulus yang lainnya dan seterusnya sanpai respons yang diinginkan muncul. g. Teori ini cocok untuk memperoleh kemampuan yang

membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur kecepatan, spontanitas, dan daya tahan.

h. Teori behavioristik juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa,

(28)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 28

suka mengulangi, dan harus dibiasakan, suka meniru, dan senag dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung.

2. Kekurangan Teori Behaviorisme

a. Sebuah konsekuensi bagi guru untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap.

b. Tidak setiap mata pelajaran bisa menggunakan metode ini. c. Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran

dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Sehingga inisiatif siswa terhadap suatu permasalahan yang muncul secara temporer tidak bisa diselesaikan oleh siswa.

d. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik itu justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.

e. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.

f. Cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif, tidak produktif, dan mendudukaan siswa sebagai individu yang pasif.

g. Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning) bersifat mekanistik dan hanya berorientasipada hasil yang dapat diamati dan diukur.

h. Penerapan metode yang salah dalam pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai centr, otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.

D. Penerapan Teori Belajar Behaviorisme dalam Kegiatan Pembelajaran

Teori behavioristik sering kali dikritik karena sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau

(29)

hal-

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 29

hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang tidak dapat diubah sebagai sekedar hubungan stimulus dan respon. Contohnya, seorang siswa akan dapat belajar dengan baik setelah diberi stimulus tertentu. Tetapi setelah diberi stimulus yang sama bahkan lebih baik, ternyata siswa tersebut tidak mau belajar lagi. Di sinilah persoalannya, ternyata teori behavioristik tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan stimulus dan respon ini. Namun teori behavioristik dapat mengganti stimulus yang satu dengan stimulus yang lainnya dan seterusnya hingga respon yang diinginkan muncul. Namun demikian, persoalannya adalah bahwa teori behavioristik tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya.

Sebagai contoh motivasi sangat berpengaruh dalam proses belajar. Pandangan behavioristik menjelaskan bahwa banyak siswa termotivasi pada kegiatan-kegiatan di luar kelas (bemain video-game, berlatih atletik), tetapi tidak termotivasi mengerjakan tugas-tugas sekolah. Siswa tersebut mendapatkan pengalaman pengetahuan yang kuat pada kegiatan-kegiatan di luar pelajaran, tetapi tidak mendapatkan penguatan dalam kegiatan belajar di kelas.

Implementasi penerapan prinsip-prinsip teori behaviorisme yang banyak digunakan di dalam dunia pendidikan adalah:

1) Proses belajar dapat terjadi dengan baik apabila peserta didik ikut berpartisipasi secara aktif di dalamnya.

2) Materi pelajaran dikembangkan di dalam unit-unit dan diatur berdasarkan urutan yang logis sehingga mahasiswa mudah mempelajarinya.

3) Tiap-tiap respons perlu diberi umpan balik secara langsung sehingga peserta didik dapat segera mengetahi apakah respons yang diberikan sudah sesuai dengan yang diharapkan atau belum.

(30)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 30

4) Setiap kali peserta didik memberikan respons yang perlu diberikan penguatan. Penguatan positif terbukti memberikan pengaruh yang lebih baik dari pada penguatan negatif.

Menurut Suprijono (2009:21), implikasi prinsip-prinsip behaviorisme pada kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

1) Kegiatan belajar adalah kegiatan figuratif.

2) Belajar menekankan perolehan informasi dan penambahan informasi. 3) Belajar merupakan proses dialog imperaktif, bukan dialog interaktif. 4) Belajar bukan proses organik dan konstruktif, melainkan proses

mekanik.

5) Aktivitas belajar didominasi oleh kegiatan menghafaldan latihan. Selain dari beberapa bentuk implementasi dari teori behaviorisme dalam bidang pendidikan sebagaimana dikemukakan di atas, masih cukup banyak contoh-contoh lain dari penerapan teori ini di dalam kegiatan pendidikan. Contoh-contoh tersebut antara lain: pengajaran terprogram (Programmed Learning) dimana prinsip pengembangan pembelajarannya adalah dengan mengembangkan materi dalam bentuk unit-unit kecil yang memberi kemudahan untuk dipelajari oleh peserta didik. Dan setiap kali unit tertentu selesai dipelajari peserta didik segera mendapatkan umpan balik, dan respons yang benar diberikan penguatan yang umumnya berupa penguatan positif.

Penerapan prinsip-prinsip behaviorisme juga dikembangkan di dalam bentuk prinsip belajar tuntas (mastery learning). Prinsip belajar tugas juga menekankan pada keharusan untuk memilah-milah materi pembelajaran ke dalam unit-unit yang harus dikuasai terlebih dahulu oleh peserta didik sebelum melanjutkan ke materi berikutnya. Pada setiap akhir unit diberikan umpan balik mengenai keberhasilan belajar yang telah dicapai yang juga sekaligus berfungsi sebagai penguat.

(31)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 31

Teori belajar behaviorisme tidak lepas dari sejumlah kritikan. Kritikan yang mendasar antara lain mempertanyakan kelayakan penggunaan hasil uji coba yang digunakan pada binatang serta keterbatasan-keterbatasan laboratorium. Apakah hasil-hasil penelitian tentang proses belajar terutama menyangkut S-R yang diperoleh dengan menggunakan binatang sesuai subyek uji coba dapat diterapkan oleh manusia., sebab binatang yang berlainan species saja akan memberikan respon lain apabila diberi bermacam-macam stimula dan penguatan. Hal ini tentu akan sangat berbeda lagi pada manusia. Pernyataan lain, apakah hasil-hasil penelitian di laboratorium akan relevan dengan hasil belajar yang sesungguhnya. Di laboraturium peneliti dapat mengatur dan mengukur pengaruh variabel-variabel yang ingin diteliti dengan mengontrol variabel-variabel-variabel-variabel yang lain. Eksperimen di laboraturium terlalu sederhana sifatnya untuk ukuran ilmu-ilmu sosial sehingga kompleksitas dan karakteristik belajar pada manusia seakan-akan diabaikan.

Kritikan terhadap teori belajar behaviorisme juga diarahkan pada sejauh mana faktor-faktor sosial dalam penelitian eksperimen di laboratorium tersebut diperhatikan. Sebagaimana diketahui bahwa proses belajar pada manusia bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, karena begitu banyak faktor-faktor lingkunagn yang turut memberi pengaruh terhadap kegiatan maupun hasil belajar. Demikian juga nampak kecenderungan bahwa penelitian dilaboratorium mengesampingkan faktor-faktor perkembangan seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya. Perkembangan adalah pembentukan keterampilan-keterampilan baru dari keterampilan-keterampilan yang diperoleh sebelumnya, sehingga pengalaman-pengalaman sebelumnya merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan pengaruhnya terhadap proses belajar

Berikut ini kritikan atas teori behaviorisme di antaranya:

1. Behaviorisme tidak beradaptasi dengan berbagai macam jenis pembelajaran, karena mengabaikan aktivitas pikiran.

(32)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 32

2. Behaviorisme tidak mampu menjelaskan beberapa jenis pembelajaran, misalnya pengenalan terhadap pola-pola bahasa baru oleh anak kecil, karena di sini tidak ada mekanisme penguatan.

3. Riset menunjukkan bahwa binatang mampu mngadaptasikan pola penguatan mereka terhadap informasi baru.

4. Seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, karena banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan/belajar yang berperan terhadap perilaku siswa. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan S-R.

5. Kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.

6. Tidak memperhatikan pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang dapat diamati sebagai akibat hubungan S-R.

7. Cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif, dan tidak produktif.

Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau perilaku tertentu dapat dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Muncul perilaku akan semakin kuat bila diberikan

reinforcement, dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Istilah-istilah seperti hubungan stimulus-respon, individu atau siswa pasif, perilaku sebagai hasil belajar yang tampak, pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam

(33)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 33

teori behavioristik. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktek pelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan.

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilakukan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

Karena teori behavioristik ini telah memandang bahwa sebagai suatu yang ada di dunia nyata telah terstruktur rapi dan teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus diharapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa atau peserta didik adalah objek yang harus berprilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri siswa.

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar adalah sebagai aktivitas

(34)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 34

“metic”, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian bagian keseluruhan. Pelajaran mengikuti urutan mengikuti secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. pelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut satu jawaban benar. Maksudnya, bila siswa menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual. Secara umum langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan dalam merancang pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi:

1) Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.

2) Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal (entry behavior) siswa.

3) Menentukan materi pelajaran.

4) Memecah materi pelajaran menjadi bagian-bagian kecil, meliputi pokok pembahasan, sub pokok pembahasan, topik, dan sebagainya. 5) Menyajikan materi pelajaran.

6) Memberikan stimulus, dapat berupa: pertanyaan baik lisan maupun tertulis, tes/kuis, latihan, atau tugas-tugas.

7) Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa.

8) Memberikan penguatan/reinforcement (mungkin penguatan positif ataupun penguatan negatif), ataupun hukuman.

(35)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 35

9) Memberikan stimulus baru.

10) Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa. 11) Memberikan penguatan lanjutan atau hukuman, serta evaluasi.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya, yaitu sebagai berikut. 1) Mementingkan pengaruh lingkungan.

2) Mementingkan bagian-bagian. 3) Mementingkan peranan reaksi.

4) Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respons.

5) Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya.

6) Mementingkan pembentukkan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan.

7) Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Contoh kasus pelaksanaan pembelajaran menurut teori behavioristik yaitu penerapan teori behavioristik dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan. Penerapan teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran penjaskes tergantung dari beberapa hal seperti:

1) Tujuan pembelajaran 2) Sifat materi pelajaran 3) Karakteristik pembelajar 4) Media

5) Fasilitas pembelajaran yang tersedia

Pembelajaran penjaskes yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah objektif, pasti, tetap, dan tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah

(36)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 36

memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pembelajar.

Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, pembelajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Tujuan pembelajaran penjaskes menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas mimetic, menuntut pembelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.

Jadi, kesimpulan penerapan teori behaviorisme dalam pembelajaran penjaskes menurut penulis: penjaskes dirasakan kurang pas karena kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pembelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi, dan mengembangkan kemampuannya. Sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respons sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya, pembelajar penjaskes kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka. Padahal, pembelajaran penjaskes merupakan pembelajaran yang menomorsatukan gerak untuk berkreasi dan untuk mendapatkan kesehatan.

E. Pengertian Teori Belajar Kognitivisme

Kognitivisme merupakan salah satu teori belajar yang dalam berbagai pembahasan juga sering disebut model kognitif (cognitive model) atau model perseptual (perseptual model). Menurut teori belajar ini tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi atau pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan-tujuannya. Karena itu belajar menurut kognitivisme diartikan sebagai perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman ini tidak selalu dapat dilihat sebagaimana perubahan tingkah laku. Teori ini menekankan bahwa

(37)

bagian-

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 37

bagian suatu situasi saling berhubungan dengan konteks seluruh situasi tersebut.

Karena teori ini lebih menekankan kebermaknaan keseluruhan sesuatu dari bagian-bagian, maka belajar dipandang sebagai proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengelolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain. Proses belajar disini mencakup antara lain pengaturan stimulasi yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Menurut Piaget, perkembangan intelektual melalui empat tahap-tahap berikut:

1) Tahap sensori motor (0, 0 – 2, 0 tahun). 2) Tahap pra-operasional (2,0 – 7, 0 tahun) . 3) Tahap operasional konkret (7, 0 – 11, 0 tahun). 4) Tahap operasional (11, 0 – keatas).

Pada tahap sensori motor, anak mengenal lingkungan dengan kemampuan sensorik dan motorik. Anak mengenal lingkungan dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan penggerakannya. Pada tahap pra-operasional, anak mengandalkan diri pada persepsi tentang realitas. Ia telah mampu menggunakan simbol, bahasa, konsep sederhana, berparsitipasi, membuat gambar, dan menggolong-golongkan. Pada tahap operasi konkret anak dapat mengembangkan pikiran logis. Ia dapat mengikuti penalaran logis, walau kadang- kadang memecahkan masalah secara “trial and error”. Pada tahap operasi formal anak dapat berfikir abstrak seperti pada orang dewasa.

Pengetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun sendiri pengetahuannya. Pengetahuan yang dibangun terdiri dari tiga bentuk, yaitu pengetahuan fisik, pengetahuan logika-matematik, dan pengetahuan sosial. Dalam proses membangun pengetahuan melalui proses belajar tersebut meliputi tiga fase. Fase-fase itu adalah fase eksplorasi, fase

(38)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 38

pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Dalam fase eksplorasi, siswa mempelajari gejala dengan bimbingan. Dalam fase pengenalan konsep, siswa mengenal konsep yang ada hubungannya dengan gejala. Dalam fase aplikasi konsep, siswa menggunakan konsep untuk meneliti gejala lain lebih lanjut.

Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar. Teori ini menekankan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori yang sering disebut sebagai model perseptual. Teori ini berpandangan bahwa belajar adalah suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktivitas yang melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks. (Budiningsih, 2005 : 34).

Penting untuk dipahami bahwa dua pemikiran pokok dari kognitivisme adalah teori pemrosesan informasi, dan teori skema. Menurut pendekatan kognitif, dalam kaitan teori pemrosesan dan informasi, unsur terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dimiliki setiap individu sesuai dengan situasi belajarnya. Di dalam pengolahan informasi terjadi interaksi antara kondisi-kondisi internal dengan kondisi eksternal individu. Kondisi internal adalah kondisi dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal serta proses kognitif yang terjadi dalam diri individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan luar yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Landasan kedua dari teori belajar berbasis kognitivisme adalah teori skema, teori ini amat erat hubungannya dengan teori pengolahan informasi. Skema merupakan suatu struktur pengetahuan internal. Informasi baru yang

(39)

Novianti Mandasari, M.Pd. Mat 39

masuk dan diterima pembelajar dibandingkan dengan struktur kognitif yang telah dimilikinya yang dinamakan skema.

F. Pengertian Teori Belajar Kognitivisme menurut Para Ahli 1. Teori Belajar Menurut Jean Piaget

Teori perkembangan Piaget disebut pula teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan mental. Teori ini berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar yang dikemas dalam tahap-tahap perkembangan intelektual sejak lahir smpai dewasa. Menurut Piaget, perkembangan Piaget merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem saraf. Menurut Piaget, belajar akan lebih berhasil jika disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan objek fisik yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru.

Menurut Piaget, penganut aliran kognitf yang kuat, proses belajar sebenarnya terjadi dari tiga tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi, ekilibrasi (penyeimbang).

a) Proses asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa.

b) Proses akomidasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru.

c) Proses akulibrasi adalah penyesuaian berkesinambung antara asimilasi dan akomodasi.

Piaget berpendapat bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kognitif yang dilalui siswa (Thobroni, 2015). Tahapan tersebut dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap

Referensi

Dokumen terkait

Bagi Peneliti, mengetahui aktivitas belajar siswa dan pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe GI (Group Investigation) terhadap aktivitas belajar mengajar

Aspek-aspek aktivitas guru yang diamati selama pembelajaran berlangsung meng- gunakan lembar observasi adalah (1) mengucapkan salam, meminta ketua kelas untuk me- mimpin doa

Aspek-aspek yang diamati terhadap aktivitas guru selama pembelajaran meng- gunakan lembar observasi pada siklus I meliputi: (1) memberi salam dan berdoa bersama

PENGARUH PEMBELAJARAN AKUNTANSI DENGAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ACCELERATED INSTRUCTION (TAI) TERHADAP.. PRESTASI BELAJAR DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR SISWA

Apakah ada pengaruh aktivitas dan motivasi belajar dalam penggunaan model pembelajaran berbasis portofolio terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi

Berdasarkan observasi yang dilakukan pada kelas eksperimen, dari sembilan indikator aktivitas belajar yang diamati selama dua kali pertemuan diterapkan model

Motivasi Belajar Siswa Siklus II No Aktivitas yang Diamati Jumlah % 1 Siswa menunjukkan peningkatan aktivitas belajar 11 84.6 2 Adanya peningkatan upaya belajar 11 80.8 3 Siswa

Format desain pembelajaran berdasarkan Model Pembelajaran IPK PENGETAHUAN IPK KETERAMPILAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SUMBER BELAJAR/ MEDIA PENILAIAN Pendahuluan Inti