BAB III : PERANAN MOHAMMAD HATTA DALAM PERJUANGAN
F. Mempertahankan Kemerdekaan
45
Rapat Panitia Persiapan langsung diadakan malam itu juga di rumah Admiral Maeda di Jalan Imam Bonjol yang akhirnya menghasilkan teks proklamasi yang didikte Hatta dan ditulis oleh Soekarno. Teks ini disetujui oleh Panitia. Menjelang subuh panitia bubar untuk berkumpul kembali di Jalan Pegangsaan Timur No.56, tempat tinggal Soekarno, untuk menghadiri Proklamasi Kemerdekaan. Proklamasi Kemerdekaan pun dikumandangkan di Pegangsaan Timur kira-kira pukul sepuluh pagi. Hatta hadir disana mendampingi Soekarno yang membacakan Teks Proklamasi. Halaman depan rumah Soekarno pun penuh dengan kerumunan massa yang berkumpul untuk menjadi saksi sejarah. Kabar mengenai proklamasi ini memang sudah tersebar luas dari mulut ke mulut.
46
Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, Wachid Hasjim, dan Teuku Mohammad hasan untuk berunding mengenai hal ini yang kemudian mengadakan sidang.
Perubahan itu pun dilakukan hanya dalam waktu singkat yaitu sekitar 15 menit saja, dan hal itu juga menjadi suatu tanda bahwa pada saat itu, para tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia tersebut benar-benar mementingkan nasib dan persatuan bangsa Indonesia.25 Betapapun, Hatta berhasil dalam mengubah rumusan yang kontroversial itu, dan ini dengan lancar diterima oleh sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan pada hari itu juga.26
Peran Hatta terutama pada masa revolusi 1945-1949 sangatlah penting. Ia bersama soekarno saling melengkapi membangun negeri ini dari bawah. Sifat dan jalan pikiran mereka pun juga saling melengkapi, Soekarno bisa menguasai massa, membangkitkan semngat mereka, seakan mengarahkan mereka ke mana saja. Sebaliknya, Hatta mampu menguasai diri dalam keadaan apapun, banyak berpikir dengan tenang, memperhatikan suatu kejadian dengan cermat, dan juga berpendirian kuat. Dengan kedua sifat yang berbeda antara kedua tokoh ini, terlihat bahwa Soekarno mungkin terdorong oleh emosi, sedangkan Hatta dikuasai oleh pemikiran yang sudah direnungkan.
Saling percaya di antara mereka berdua juga sangat besar ketika itu.
Soekarno saat itu sering diincar oleh pihak sekutu sebagai penjahat perang dan ia
25 Astalog, Mengapa sila Pertama Dalam Piagam Jakarta Diubah,
2016.Dihttp://www.astalog.com/1104/mengapa-sila-pertama-dalam-piagam-jakarta-diubah.htm. Diakses pada 14 Mei 2016.
26 Deliar Noer, Mohammad Hatta"Biografi Politik", Jakarta: LP3ES. 1990. hlm .255.
47
sering ke luar kota menghindarkan diri dari kemungkinan ditangkap. Maka, Hatta-lah yang membuat keputusan-keputusan penting untuk negara, yang kemudian juga disetujui dan didukung oleh Soekarno. Hatta dalam bulan-bulan pertama Indonesia merdeka, pernah mengusahakan perubahan surat wasiat Soekarno kepada Tan Malaka, tokoh buronan komunis di zaman penjajahan Belanda, yang berisi pesan agar Tan Malaka menggantikannya sebagai presiden bila Soekarno dan Hatta meninggal. Hatta menolak untuk menandatangani surat itu jikalau wasiat itu diberikan untuk satu orang yaitu Tan Malaka. Dalam pikiran Hatta, surat wasiat seperti itu tidak sesuai dengan pahamnya tentang pemimpin yang tumbuh dari rakyat; surat wasiat itu lebih memperlihatkan ciri feodal.27Ia mengusahakan agar surat wasiat ini diubah, yaitu bahwa pewaris kepemimpinan tadi terdiri dari empat orang yaitu Tan Malaka, Sjahrir, Wongsonegoro, dan Sukiman. Ini diterima oleh Soekarno, tetapi tanpa adanya Sukiman dalam daftar nama karena yang bersangkutan berada di Yogyakarta dan sulit dihubungi.
Penggantinya adalah Iwa Kusuma sumantri, yang mengaku bisa juga mewakili kalangan Islam seperti Sukiman.
Hatta juga turut berperan dalam pembentukan tentara Indonesia. Urip Sumoharjo, berpangkat mayor dalam KNIL (Koninklijk Nederlandsch-indisch Leger, Tentara Hindia Belanda), menghubunginya, karena presiden Soekarno sedang berada diluar kota dan menyerahkan semua persoalan penting kepada
27Ibid., hlm. 266.
48
Hatta. Pertemuan ini membuahkan pembentukan Tentara Kemanan Rakyat (TKR), yang saat sekarang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Hatta berperan dalam pembinaan hubungan baik antara lembaga eksekutif (pemerintah) dan lembaga legislatif (KNIP, Komite Nasional Indonesia Pusat).
KNIP yang diketuai oleh Kasman Singodidmedjo pada awalnya dipandang sebagai pelaksana perintah dari pihak pemerintah saja, tidak sebagi pelaksana lembaga legislatif. Pada rapat KNIP pada 25 Oktober 1945 banyak anggotanya yang mengkritik kepemimpinan KNIP, mereka umumnya menginginkan KNIP sebagai pelaksana lembaga legislatif. untuk kepentingan ini dibentuklah Padan Pekerja yang diketuai oleh Sjahrir. Perubahan ini tertuang dalam maklumat yang ditandatangani oleh Hatta. Perkembangan ini disusul dengan maklumat lain tanggal 3 November yang juga ditandatangani oleh Hatta atas usul Badan Pekerja yang memberi kesempatan kepada rakyat untuk mendirikan partai-partai politik.
Maklumat ini dikaitkan dengan maksud untuk mengadakan pemilihan umum pada bulan Januari 1946. Pada 14 November 1945, Presiden akhirnya membuat suatu Kabinet yang bersifat parlementer yang diketuai oleh Sutan Sjahrir. Hal ini memudahkan Indonesia untuk memulai berunding dengan pihak Belanda mengenai kedaulatan Indonesia.
Pada 29 Desember 1946, dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 6 mengenai penambahan anggota KNIP, terutama dari sumatera dengan maksud supaya KNIP lebih mewakili daerah-daerah RI. Apalagi karena KNIP akan membicarakan soal persetujuan Linggarjati yang dihasilkan Sjahrir dengan pihak
49
Belanda dengan memarafnya pada 15 November 1946. Naskah ini diterima oleh Parlemen Belanda pada Desember 1946, dan baru akan dibicarakan oleh KNIP pada bulan februari 1947. Sementara itu pemerintah Belanda sudah membentuk Negara Indonesia Timur (NIT), padahal berdasarkan Perjanjian Linggarjati pembentukan itu dilakukan bersama dengan pemerintah Indonesia. Akibatnya, banyak partai politik di Indonesia yang tidak setuju dengan Perjanjian Linggarjati.
Sejumlah partai di Indonesia termasuk Masyumi dan PNI menuduh pemerintah bahwa penambahan anggota KNIP itu sengaja dibuat untuk melancarkan jalan Perjanjian Linggarjati.
Pada bulan Februari 1947, sidang Pleno KNIP diadakan di Malang dan Hatta turut hadir. Sidang itu dihadiri oleh semua anggota KNIP. Saat itu, KNIP belum memperlihatkan keterwakilan daerah dan golongan. namun terjadi pro-kontra mengenai hal ini. Ada yang menolak penambahan anggota KNIP, sementara Presiden Soekarno mengemukakan bahwa sebelum diselenggarakannya pemilihan umum, adalah kewajiban Presiden untuk mengangkat para anggota lembaga perwakilan karena Presiden “dianggap sebagai wakil dari seluruh rakyat”. Ucapan Soekarno itu mendapat reaksi dari para anggota. Maka, banyak anggota yang menentang keputusan pemerintah dalam
“menyempurnakan” keanggotaan KNIP itu. Akibatnya untuk beberapa saat terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah dan KNIP.
Terjadilah perdebatan sengit selama dua hari. Dengan suara yang keras dan tegas, Hatta menghentikan perdebatan itu dengan mengemukakan pidato bahwa
50
bila KNIP memang tidak mempercayai Presiden dan Wakil Presiden, lembaga itu dapat memilih Presiden dan Wakil Presiden lain. Suasana sidang seketika itu menjadi hening, mereka tak menyangka akan mendengar ucapan ini dari Hatta.
Pidato ini tanpa teks dan dengan suara yang lantang ia membuat semua yang ada didalam ruangan terdiam. Menurut cerita, baru sekali itulah Hatta memberikan pidato yang demikian, sampai-sampai para stenograf terkesima dibuatnya.28Para anggota KNIP seketika itu tidak lagi melanjutkan kritikannya terhadap keputusan pemerintah tersebut. Keputusan presiden mengenai penambahan anggota KNIP akhirnya diterima dan naskah persetujuan Linggarjati pun ditandatangani di Jakarta pada 25 Maret 1947.
Pada 20 Mei 1947, Hatta pergi ke Sumatera tepatnya di Bukittinggi.
Tugasnya adalah untuk meningkatkan perjuangan di Sumatera menghadapi Belanda, sambil membenahi pemerintahan disana. Hatta berda di Sumatera selama sekitar enam bulan. Pada Januari 1948 ia dijemput oleh Amir Sjarifuddin dengan pesawat udara untuk kembali ke Yogyakarta. Suasana di Yogyakarta saat itu sangat panas, karena Perdana Menteri Amir Sjarifuddin menandatangani perjanjian Renville yang tidak menguntungkan Indonesia sama sekali.
Demonstrasi demi demonstrasi terjadi di ibu kota Republik itu, ada yang anti terhadap Amir dan ada pula yang mendukungnya. Ia juga mencopot Jenderal Soedirman dan Letnan Jenderal Urip.
28 Deliar Noer, Mohammad Hatta"Biografi Politik", Jakarta: LP3ES. 1990. hlm .295.
51
Tahun 1948 merupakan salah satu tahun yang paling kritis dan menantang dalam kehidupan Hatta.29 Pada 29 Januari 1948 ia diangkat menjadi perdana menteri menggantikan Amir Sjarifudin. Kedududkan Jenderal Soedirman dan Letnan Jenderal Urip yang dicopot oleh Amir Sjarifuddin dikembalikan oleh pemerintah. Hatta mendapat cobaan berat saat Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dipimpin oleh Amir Sjarifuddin beroposisi terhadap pemerintahannya, padahal keadaan yang ditangani Hatta adalah hasil dari Kabinet amir. Hatta juga harus membenahi TNI karena masih banyak penyusupan, termasuk oleh orang-orang Amir yang kemudian mengaku sebagai orang-orang komunis. Semakin lama FDR tambah meningkatkan perlawanannya. Muso yang merupakan orang PKI kembali dari luar negeri mengambil alih pimpinan FDR dan melakukan pemberontakan yang berpusat di Madiun pada 19 September 1948. Negeri pun dalam keadaan darurat. Dalam sebuah pidato, Soekarno menyuruh rakyat memilih : Soekarno-Hatta atau Muso-Amir. Dalam sebulan, keadaan sudah dapat dikuasai kembali oleh Soekarno-Hatta.
Pada Bulan November dan Desember 1948, perundingan dengan pihak Belanda dilanjutkan di Kaliurang. Perundinagan dilakukan dengan bantuan Komisi Tiga Negara (Amerika Serikat, Australia, dan Belgia). Namun, akhirnya pihak Belanda lagi-lagi menyerang Indonesia pada 18 Desember 1948. Kali ini Belanda menduduki Yogyakarta dan Soekarno serta Hatta ditangkap, lalu dibuang
29 Marvis Rose, Indonesia Merdeka "Biografi Politik Mohammad Hatta", Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
1991. hlm. 244.
52
ke Bangka dan Parapat. Dunia Internasional termasuk Amerika Serikat tidak terlalu berpihak kepada Belanda, malah dikabarkan bantuan Marshall plan akan dicabut dari Belanda bila mereka berkeras menguasai Indonesia.
Perundingan lanjutan antara Indonesia Belanda menghasilkan Persetujuan Roem-Royen pada 6 Mei 1949, yang umumnya menguntungkan Indonesia.
Persetujuan ini berakibat pemerintah Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta, tentara Belanda ditarik dari Yogyakarta, dan perundingan antara Indonesia dengan Belanda dilanjutkan dalam Konferensi Meja Bundar di Belanda.
G. Konferensi Meja Bundar
Dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia, perjuangan Hatta dilakukan melalui cara diplomasi. Hatta mengadakan diplomasi dengan pihak penjajah maupun negara-negara lain di dunia. Hatta berusaha agar kedaulatan Indonesia diakui dunia. Tanggal 13 Januari 1948 diadakan perundingan di Kaliurang. Perundingan tersebut membicarakan daerah kekuasaan Republik Indonesia. Perundingan tersebut dilakukan oleh Komisi Tiga Negara (Amerika, Australia, dan Belgia) dengan Indonesia. Mohammad Hatta, Ir. Soekarno, Sultan Syahrir, dan Jendral Sudirman merupakan wakil dari Indonesia. Kabinet Hatta II memikul tugas yang amat berat. Hatta dan beberapa tokoh Indonesia lainnya seperti Mohammad Roem harus bertempur dengan Belanda di meja perundingan dan kekuatan intelegensia diuji di perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB).
53
Tanggal 23 Agustus 1949 Hatta memimpin delegasi Indonesia dalam KMB di Den Haag.
KMB diadakan di Den Haag dari tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949. Suatu rentang yang cukup panjang di meja perundingan yang menguras tenaga dan pikiran. Perundingan yang berjalan lambat memang sudah menjadi suatu ciri klasik Belanda yang selalu keberatan menerima resolusi-resolusi Republik atau barangkali juga sifat nasionalisme Hatta yang amat prinsipil sehingga sulit mengalah. Perundingan KMB tidak semudah yang dibayangkan, perlu perhitungan khusus untuk menerima suatu keputusan. Di dalam KMB ini kemampuan Hatta sebagai ketua delegasi RI benar-benar diuji.
Pada 17 Agustus 1949 bangsa Indonesia yang tergabung dalam delegasi Republik Indonesia dan BFO secara bersama memperingati proklamasi 1945 di Den Hagg.30 Dalam kata sambutannya, Hatta mengajak semua pihak untuk menghadapi tugas yang dibebankan diatas pundak mereka dengan sungguh-sungguh. Ia berkata bahwa suasana dan keadaan di Den Haag sangat banyak mengandung godaan , terlebih selama beberapa tahun belakangan Indonesia hidup dalam suasana ketegangan , kemiskinan, dan keterbelakangan, sehingga para delegasi perlu waspada menghadapi keadaan di negeri Belanda yang segalanya terasa mudah.
Masalah-masalah yang dibicarakan dalam KMB meliputi berbagai hal, hal itu tercermin dari macam-macam panitia yaitu panitia politik, hukum dan
30 Tobing K.M.L, Perjuangan Politik Bangsa Indonesia”KMB”, Jakarta: CV Haji Masagung. 1987. hlm. 196.
54
ketatanegaraan, panitia bidang dan keuangan, panitia kemiliteran, panitia kebudayaan dan panitia sosial. Sebenarnya acara utama dalam KMB adalah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia yang pada kenyataannya meluas ke permasalahan lain. Masalah yang paling hangat dibicarakan di KMB adalah masalah keuangan, Belanda mendesak supaya Indonesia menerima untuk membayar utang luar negeri Belanda sejumlah f. 3167 juta dan utang dalam negeri sebesar f.2956 juta. Suatu jumlah yang amat fantastis dan tidak masuk akal. Hatta tentu saja marah dan tidak mau menerima tuntutan Belanda, ia memintta ketua subkomite ekonomi dan keuangan dari pihak Indonesia, yaitu Dr.Sumitro Djojohadikusumo untuk menyajikan angka-angka tandingan. Hatta juga mengirimkan pesan kepada Nehru melalui telegram supaya meyakinkan Amerika bahwa Belanda menuntut terlalu banyak.
Hatta memanfaatkan situasi perang dingin dengan melaporkan bahwa situasi keuangan Indonesia begitu buruk sehingga jikalau Belanda tidak mengurangi tuntutannya, maka mungkin ia akan menyarankan supaya kedaulatan diberikan saja secara langsung kepada kaum komunis. Akan tetapi atas desakan Cochern sebagai wakil PBB Hatta dengan berat hati menerima tuntutan tersebut dengan pengurangan sampai f.2000 juta pada angka awal Belanda, sambil mengingatkan bahwa kehilangan kedaulatan bukan hanya akan menyebabkan permusuhan baru, akan tetapi juga berarti kehilangan simpati Amerika Serikat Masalah lain yang dibicarakan di KMB adalah masalah Irian Barat yang hampir membuat Konferensi menemui jalan buntu. Belanda bersikeras menolak
55
untuk membebaskan Irian Barat, Hatta sendiripun tidak mau manyerah dan akan terus memperjuangkannya. Pada akhirnya Hatta, dengan segala pertimbangannya mengambil keputusan untuk menangguhkan masalah Irian Barat supaya konferensi terus berjalan membahas masalah-masalah lain. Hatta berpendapat bahwa penundaan masalah itu lebih baik daripada menghabiskan waktu konferensi dan ini merupakan persoalan yang lebih mudah dan realistis untuk bisa diselesaikan setelah Belanda mengambil langkah penting untuk kedaulatan.
Masalah Irian Barat ini terpecahkan dinihari tanggal 1 November 1949 setelah batas waktu pembicaraan dengan kompromi tersebut.
Sidang akhirnya ditutup tanggal 2 November 1949 dengan ditandatanganinya dokumen resmi hasil dari KMB. Dari semua persoalan yang dibahas dalam perundingan dengan Belanda dalam KMB, bagi Republik permasalahan yang paling berat adalah menerima bentuk federal bagi negara Indonesia, tetapi dengan bentuk federal ini Belanda mau menyerahkan dan mengakui kedaulatan dan kemerdekaaan negara Indonesia. Sejenak Hatta dan anggota lainnya terdiam dan meyakinkan pada diri mereka bahwa bentuk negara federal hanya bersifat sementara, mengingat rakyat Indonesia tidak menyukai bentuk negara federal ini. Harapan dari para wakil delegasi Indonesia terbukti dengan keberhasilan mengubah bentuk federal menjadi negara Kesatuan Republik Indonesia dengan jangka waktu tujuh bulan pada tanggal 17 Agustus 1950.
Dalam KMB kerja sama antar Hatta sebagai ketua delegasi dengan anggota delegasinya sangat sangat berpengaruh. Tidak selamanya antara Hatta dengan
56
anggota delegasi berpendapat sama dalam suatu masalah, akan tetapi karena kepercayaan yang beserta pada anggota delegasi kepada Hatta maka yang menjadi keputusan Hatta didukung oleh para anggotanya. Berbagai komentar muncul dengan hasil yang diperoleh delegasi Indonesia dalam KMB, baik itu yang pro maupun yang kontra. John Coast mencatat bahwa Hatta kembali menderita kelelahan fisik, dengan menerangkan bahwa berat badan Hatta turun dan terlihat melakukan pekerjaan yang fantastis pada KMB, Hatta tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan argumen.
Pada awal Januari 1946 pemerintah mengambil keputusan untuk memindahkan kedudukan pemerintahan pusat RI ke Yogyakarta. Sultan Hamengkubuwono IX menyambut hangat kepindahan tersebut. Hatta melindungi pejabat-pejabat negara dan keluarganya dari ancaman tentara Belanda. Hatta rela berkorban demi perjuangan. Belanda ingin Hatta mengubah sikapnya terhadap 70 Republik Indonesia. Belanda mengirim utusan untuk membujuk beliau agar mau bekerja sama dan memihaknya. Belanda menjanjikan hadiah wilayah Jawa dan Madura. Hatta tetap tegar pada pendiriannya. Hatta setia kepada Republik Indonesia. Keinginannya hanya satu yaitu Belanda segera pergi dari Republik Indonesia. Pada awal kehidupan Republik Indonesia, Sultan Hamengkubuwono IX berhasil meminta kesanggupan Letkol Soeharto untuk mempersiapkan serangan umum. Tanggal 1 Maret 1949 serangan umum dilaksanakan dan TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta dalam waktu enam jam. Keberhasilan serangan tersebut menunjukkan bahwa Republik Indonesia belum habis
57
riwayatnya. Sri Sultan Hamengkubuwono IX berperan dalam usaha pengakuan kedaulatan RI. Tanggal 2 November 1949 tercapai persetujuan KMB. Hasil KMB adalah Belanda akan menyerahkan kedaulatan Republik Indonesia Serikat pada akhir bulan Desember 1949. Hasil dari KMB tersebut dijelaskan dalam sidang lengkap KNIP tanggal 15 Desember 1949, hasilnya 226 suara setuju dan 62 menolak dan yang yang membuat Hatta bersedih bahwa suara yang menentang perjanjian tersebut kebanyakan berasal dari Partai Sosialis Indonesia yang mengidentifikasikan sebagai PNI baru, partai yang pernah dibesarkan oleh Hatta dan Soekarno serta Sjahrir di zaman pergerakan. Pada tanggal 16 Desember 1949 di Yogyakarta wakil BFO dan Republik berkumpul untuk memilih presiden yaitu Soekarno dan Hatta secara bulat sebagai perdana menteri.
Tanggal 23 Desember 1949 Hatta dan Sultan Hamid II terbang ke Belanda untuk menghadiri upacara resmi penyerahan kedaulatan di istana kerajaan Amsterdam. Keberhasilan Indonesia memperoleh kedaulatan yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh besar Indonesia disemarakkan dengan banyaknya ungkapan hati rakyat yang dituangkan dalam surat kabar seperti halnya Hamka di majalah Merdeka yang mengungkapkan bahwa eberhasilan Indonesia memperoleh kedaulatan merupakan tekad dari rakyat Indonesia untuk lepas dari perbudakan yang sudah mendarah daging di rakyat Indonesia akibat dari imperialisme dan kolonialisme bangsa Barat. Jiwa budak yang sudah melekat di hati bangsa 71 Indonesia harus diubah menjadi jiwa merdeka yang disertai dengan perubahan dan harus diwujudkan bersama dengan perjuangan penuh seperti usaha tokoh
58
Tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag dilakukan upacara penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat diwakili Hatta, sedangkan Belanda diwakili Ratu Yuliana melawan Belanda. Pada hari yang sama juga, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menandatangani naskah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda di Jakarta. Di Jakarta naskah penyerahan kedaulatan ditandatangani oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX mewakili Indonesia dan Wakil Tinggi Mahkota A.H.J. Lovink mewakili Belanda. Secara politik. Indonesia telah terbebas dan Hatta memimpin perundingan terakhir untuk memperoleh kemerdekaan itu.
59 BAB IV KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dari bab II dan bab III, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Mohammad Athar atau yang populer dikenal dengan nama Hatta lahir di Bukit Tinggi pada 12 Agustus 1902 di Batu Hampar Bukittingi. Ayahnya adalah Muhammad Djamil yang meninggal saat Hatta masih berusia delapan bulan sedangkan ibunya bernama Siti Saleha yang dikenal banyak bergerak dibidang perdagangan.. Dari garis keturunan ayahnya Hatta berasal dari keluarga ulama di Batuhampar. Kakeknya adalah seorang pimpinan pondok pesantren yang saat itu masih disebut surau.Hatta pertama kali mengenyam pendidikan formal di sekolah swasta. Setelah enam bulan, ia pindah ke sekolah rakyat. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester kelas tiga. Ia lalu pindah ke ELS (Europeesche Lagere School: SD pada masa kolonial Belanda) di Padang sampai tahun 1913, kemudian melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs: SMP pada masa kolonial Belanda) sampai tahun 1917.Selain pengetahuan umum, ia telah ditempa ilmu-ilmu agama sejak kecil. Ia pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya.
60
2. Kiprah Hatta di bidang politik dimulai tahun 1921 saat menetap di Rotterdam, Belanda dan bergabung dengan sebuah perkumpulan pelajar tanah air yang ada di Belanda, Indische Vereeniging. Mulanya, organisasi tersebut hanyalah merupakan organisasi perkumpulan bagi pelajar, namun segera berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan saat tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumu) bergabung dengan Indische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Di Perhimpunan Indonesia, Hatta mulai meniti karir di jenjang politiknya sebagai bendahara pada tahun 1922 dan menjadi ketua pada tahun 1925. Hatta berturut-turut terpilih menjadi ketua PI sampai tahun 1930 dengan perkembangan yang sangat signifikan dibuktikan dengan berkembangnya jalan pikiran politik rakyat Indonesia.Pada tahun 1932, Hatta kembali ke Indonesia dan membangun PNI-Baru bersama Sutan Syahrir. Namun, akibat kegiatan politiknya tersebut, tiga tahun kemudian beliau dibuang ke Digul, Banda Naira, dan Sukabumi. Pada masa pendudukan Jepang, ia dibebaskan dan ikut memimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dan PPKI. Selama Perang Kemerdekaan, ia pernah menjadi perdana menteri merangkap menteri pertahanan.
Hatta memiliki peran besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Hatta memproklamasikan Indonesia Merdeka bersama Ir. Soekarno dan menjabat
61
sebagai Wakil Presiden RI pertama. Berita kemerdekaan Republik Indonesia telah tersebar sampai Belanda. Sehingga, Belanda berkeinginan kembali untuk menjajah Indonesia. Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Republik Indonesia dipindah ke Yogyakarta. Ada dua kali perundingan dengan Belanda yang menghasilkan perjanjian linggarjati dan perjanjian Reville. Namun, kedua perjanjian tersebut berakhir kegagalan karena kecurangan Belanda.Pada Juli 1947, Hatta mencari bantuan ke India dengan menemui Jawaharhal Nehru dan Mahatma Gandhi. Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan melakukan protes terhadap tindakan Belanda dan agar mendapat simpati dan bantuan dari PBB. Usaha ini tidak sia-sia karena pada akhirnya Hatta memimpin delegasi Indonesia menuju Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag yang diadakan pada bulan Agustus hingga November 1949.
Konferensi ini merupakan konferensi untuk membahas permasalahan antara Belanda dan Republik Indonesia. Peran Hatta dalam KMB benar-benar terbukti membantu Republik Indonesia mendapatkan Kedaulatan dari pemerintah Belanda yang diwakili, Ratu Juliana pada tanggal 27 Desember 1949.
62
DAFTAR PUSTAKA SUMBER BUKU:
Panitia Penulisan Sejarah Diplomasi Republik Indonesia. 1995. Sejarah Diplomasi Republik Indonesia dari Masa ke Masa (Periode 1945-1950). Jakarta: Yayasan Upakara.
Alfarisi Salman, 2010.Mohammad Hatta Biografi Singkat 1902-1980. Jogjakarta:
Garasi.
Darnoto. Dkk, 2004, Sejarah Diplomasi Indonesia dari Masa ke Masa Periode 1945-1949 Jilid I, Jakarta: Departemen Luar Negeri.
Deliar Noer. 1990. Hatta "Biografi Politik". Jakarta: LP3ES.
Deliar Noer.2012.Mohamad Hatta “Hati Nurani Bangsa”. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Marvis Rose. 1991, Indonesia Merdeka "Biografi Politik Hatta". Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mohammad Hatta. 1978.Memoirs, Jakarta: Tirtamas
Mohammad Hatta. 2010.Menuju Gerbang Kemerdekaan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Nasution A.H. 1994.Sekitar Perang kemerdekaan Indonesia jilid I Periode KMB.
Bandung: Angkasa
Notosoetardjo. 1956. Dokumen Konperensi Medja Bundar,Jakarta: Endang Romadhon, MK. 2015.Soekarno Hatta Syahrir. Jakarta: Araska Publisher.
Tobing, K.M.L.1987. Perjuangan Politik Bangsa Indonesia K.M.B. Jakarta: Haji Masagung
Zulkifli Suleman. 2010.Demokrasi Untuk Indonesia “Pemikiran Politik Bung Hatta”, Jakarta: Kompas.
63 SUMBER INTERNET:
Astalog, Mengapa sila Pertama Dalam Piagam Jakarta Diubah,
2016.Dihttp://www.astalog.com/1104/mengapa-sila-pertama-dalam-piagam-jakarta diubah.htm. Diakses pada 14 Agustus 2017
https://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I. Diakses pada 29 Juli 2017.
https://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_II. Diakses pada 29 Juli 2017.
Wikipedia Indonesia, Indische Vereeniging, 2016,
https://id.wikipedia.org/wiki/Indische_Vereeniging. Diakses pada 12 Agustus 2017