• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMPROMOSIKAN PLURALISME

Dalam dokumen b m rachman islam dan liberalisme (Halaman 198-200)

Pluralisme atau kemajemukan merupakan tantangan bagi semua agama—khususnya agama-agama monoteis Yahudi, Kristiani dan Islam, karena pendekatan eksklusifnya yang dilakukan oleh agama-agama ini selama ratusan tahun terakhir.1 Misalnya dalam agama Kristiani,

yang terlebih dahulu menyadari persoalan teologis masalah pluralisme, pernah berpendapat bahwa kehadiran para misionaris dalam jumlah yang memadai di seluruh dunia akan menghasilkan pertobatan semua orang dan mengikuti jalan Yesus Kristus. Tetapi ternyata ini tidak terjadi. Dewasa ini banyak teolog Kristiani menya dari bahwa agama-agama seperti Yahudi, Islam, Hindu, dan Buddha, misalnya, sama sekali tidak hilang dari muka bumi. Sebaliknya, tetap bertahan hidup dan berkembang dengan baik. Sehingga pluralisme merupakan tantangan serius bagi agama Kristiani awalnya, dan selanjutnya bagi semua agama. Dewasa ini tidak ada agama yang tidak menghadapi masalah pluralisme agama.2

Kita akan meninjau selintas perkembangan pemikiran teologi pluralisme di lingkungan Kristiani, yang telah meng awali pergulatan agama-agama dan pluralisme, dan selanjutnya lebih panjang akan dilihat

1 John Hick, “A Philosophy of Religious Pluralism” dalam Paul Badham (ed.), A

John Hick Reader (London: Macmillan, 1990), h. 161-177.

2Lihat, Roger Haight, “On Pluralism in Christology” Budhi, 1, 1997, h. 31-46.

Yang sangat menarik dalam perkembangan mutakhir adalah bahwa isu pluralisme ini telah masuk dalam pembahasan fi lsafat agama dewasa ini, khususnya buku-buku 10 tahun belakangan. Misalnya, Gary E. Kessner, Philosophy of Religion: Toward a Global Perspective (Belmont, CA: Wadsworth Publishing Company, 1999). Dalam buku ini ada bagian (Bab 11, h. 529-581) yang diberi judul “Are All Religions True?” yang membahas debat pluralisme mutakhir di antara tokoh-tokoh terkemuka pluralisme seperti Raimundo Panikkar, John Hick, Arvin Sharma, Frithjof Schuon, Gavin D’Costa, dan Purusottama Bilimoria.

dan dianalisis bagaimana pemikiran Islam Liberal telah bergulat juga dengan masalah pluralisme ini.

Kita mulai dengan defi nisi pluralisme agama menurut kamus atau ensiklopedi.

Religious pluralism (rel. comparative religion) is a loosely defined expression concerning acceptance of diff erent religions, and is used in a number of related ways:

Œ As the name of the worldview according to which one’s religion is not the sole and exclusive source of truth, and thus that at least some truths and true values exist in other religions.

Œ As acceptance of the concept that two or more religions with mutually exclusive truth claims are equally valid. h is posture often emphasizes religion’s common aspects.

Œ Sometimes as a synonym for ecumenism, i.e., the promotion of some level of unity, co-operation, and improved understan ding between diff erent religions or diff erent denominations within a single religion.

Œ And as a synonym for religious tolerance, which is a condition of harmonious co-existence between adherents of diff erent religions or religious denominations.3

Masalah pluralisme agama sekarang telah menjadi bagian integral dari pembaruan pemikiran Kristiani. Kenyataan dan kompleksitas dunia dewasa ini telah menyebabkan para pemikir Kristiani menilai kembali dengan serius pemahaman mereka mengenai kehendak Allah, ajaran Alkitab mengenai Yesus, dan doktrin-doktrin teologis mengenai Kristologi dan pewartaan Injil. Banyak teolog Kristiani dewasa ini berpendapat bahwa teologi tidak dapat terus dirumuskan ter pisah dari agama-agama lain, dan bahwa sesungguhnya perkembangan teologi Kristen di masa yang akan datang akan merupakan hasil lang sung dari dialog yang serius dengan agama-agama lain.4

3 “Religious Pluralism”, Wikipedia, h e Free Encyclopedia. Defi nisi yang kurang

lebih sama juga dimuat dalam Routledge Encyclopedia of Philosophy, dalam entri “Religious Pluralism”.

4 Terry O’Keeff e, “Religion and Pluralism” dalam David Archard (ed.), Philosophy

and Pluralism (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), h. 61-72. Harold Coward, Pluralisme: Tantangan bagi Agama-agama ( Yogyakarta: Kanisius, 1989), h.

Dalam upaya memulihkan kontak-kontak yang putus dengan dunia sekitar, gereja telah menerima dialog dengan komunitas dan agama- agama dunia sebagai sikap dasar. Sebagian perubahan ini disebabkan oleh berkembangnya sifat pluralistik dunia, yang dise babkan oleh globalisasi, terutama perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dalam arti tertentu, gereja ingin membagi kebenaran kepa da orang lain. Situasi baru ini memaksa gereja-gereja Kristiani beralih dari sikap “Biarkan kami mengajar Anda” yang serbatahu ke sikap mendengarkan kebijaksanaan dan persoalan-persoalan yang berasal dari agama-agama lain. Sikap dialogis yang baru ini menye babkan perubah an penting dalam doktrin Kristiani yang tradisional mengenai gereja. Penafsiran sempit atas doktrin “Di luar gereja tidak ada kese lamatan” ( extra exclesiam nulla sallus) telah ditinggalkan. Sifat ruhani agama-agama lain diakui sebagai kehadiran kehendak Allah yang menyelamat kan dalam ajaran dan praktik dari agama-agama yang bersangkutan.5

Menurut para pemikir filsafat agama dewasa ini, pemahaman pluralisme hanya mungkin terjadi manakala pemeluk dari setiap agama menyingkirkan pandangan eksklusifnya dan berusaha menerima asumsi-

31. Terry O’Keeff e, “Religion and Pluralism” dalam David Archard (ed.), Philosophy and Pluralism (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), h. 61-72.

5 Harold Coward, Pluralisme: Tantangan bagi Agama-agama, h. 34.

“It is now customary to distinguish within Christian thinking three main approaches to other religions. Alan Race in Christians and Religious Pluralism

(1983) adopts the headings Exclusivism, Inclusivism and Pluralism. Exclusivism

asserts that only Christianity possesses the truth and that there can be no truth or salvation outside. It depends on the belief that the Christian revelation is true and fi nal and that no other revelation is possible. Inclusivism, on the other hand, suggests that other great world religions like Islam, Hinduism or Buddhism can off er important spiritual insights and visions of holiness but that these are not alternatives to the Christian vision. h ey are included in Christianity and must be regarded as partial and incomplete articulation of the truth which is completely found within Christianity. On the inclusive view, as with exclusivism, only Christianity is truly salvic. h ere is a third approach which is the pluralist view [pluralism]. In opposition to the absolutist claims of exclusivism or inclusivism, a pluralist version claims that the truth-content of faith can have a variety of legitimate articulations. So, for example, Gavin D’Costa argues that ‘other religions are equally salvifi c paths to God and Christianity’s claim that it is the only path … or the fulfi lment of other paths… should be rejected for good theological and phenomenological grounds.” Lihat, Terry O’Keeff e, “Religion and Pluralism”, h. 61-62.

Dalam dokumen b m rachman islam dan liberalisme (Halaman 198-200)