Dalam istilah Paul Ricoer, kalangan Islam Liberal ini menerapkan suatu metodologi tafsir yang melakukan suatu exercise of suspicion. Tetapi kalangan Islam yang dipengaruhi oleh pemikiran feminis dan post- modernis, melanjutkan aspek suspicion (kecurigaan) ini lebih jauh lagi dari yang sudah dilakukan oleh para mufasir Islam yang liberal. Dalam wacana femnisme Islam di Indonesia, wacana ini dikembangkan oleh Mansour Fakih,15 alumni IAIN Jakarta yang mendalami metodologi-metodologi
transformatif dalam pengembangan masyarakat. Dalam pemikiran Islam internasional yang masuk ke Indonesia, hal ini banyak dikembangkan oleh Mohammad Arkoun.
Pada dasarnya, hermeneutika postmodern berangkat dari sebuah pandangan bahwa tidak ada ‘cerita besar’ (grand narrative). Maksudnya, dalam konteks soal yang sedang kita bicarakan ini, kita bersikap otoritarian jika perempuan diletakkan dalam “cerita besar” laki-laki. Karena itu, kata kunci dari pandangan Islam liberal yang dipengaruhi fi lsafat postmodern ini adalah sebaliknya: Alih-alih kita membaca perempuan dari sudut pusat laki-laki, pembacaan haruslah dilakukan secara “ex-sentralisme,” yaitu keluar (ex) dari apa saja kecenderungan yang meletakkan laki-laki sebagai pusat dari kehidupan sosial (dan spiritual) perempuan. Apalagi, kalau itu dilakukan untuk menaruh laki-laki sebagai dasar eksistensi teologis perempuan, seperti secara eksesif pernah dilakukan oleh kalangan Islam yang apologetik.
Bagi kalangan Islam liberal yang memakai metode postmodern ini, sebagai exercise of suspicion itu, semua bentuk sentralisme adalah totalitarianisme: Membaca perempuan dari sudut sentral laki-laki adalah berlawanan dengan pesan dasar keagamaan yang meletakkan laki-laki dan
13Lihat, Masdar F. Mas`udi, Islam & Hak-hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fiqih
Pemberdayaan (Bandung: Mizan, 1997)
14Lihat, Nasaruddin Umar, “Perspektif Gender dalam Islam,” paper akan
diterbitkan dalam Jurnal Studi Islam Kontemporer, (Jakarta: Paramadina, 1998)
15Lihat, Mansour Fakih, Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial
perempuan setara dihadapan Allah. Cara mendekonstruksikan semua bentuk sentralisme ini, dilakukan dengan menolak apapun argumen ketidaksetaraan yang ada dalam wacana keislaman, demi suatu paham egalitarian yang menjunjung tinggi paham kesederajatan relasi laki- laki dan perempuan. Dasar teologis yang dipakai adalah kesederajatan di hadapan Allah, yang dikontraskan dengan pandangan-pandangan tradisional bahkan juga modern yang (masih) bersemangat menunjukkan adanya ketidaksederajatan.
Ada dua kata kunci sosiologi yang sangat penting dalam proses dekonstruksi dari usaha “exercise of suspicion” ini, yaitu memahami keseluruhan proses “representasi” --istilah dari fi lsuf Francois Lyotard-- dan keterkaitan “pengetahuan sebagai kekuasaan” dari Michel Foucault.
Pertama, representasi. Ini adalah segala hal berkaitan dengan ide, gambaran, image, narasi, visual dan produk-produk keilmuan yang berkaitan dengan penafsiran atas perempuan dalam Islam selama ini. Kata lain yang biasa dipakai dalam menggambarkan representasi ini adalah “teks”. Jadi, representasi adalah “teks” itu sendiri. Sedang kenyataan sosial adalah “intertekstualitas”. Realitas sosial perempuan Muslim adalah intertekstualitas dari kitab-kitab tafsir al-Qur’an dan Hadits, dan segala bentuk penafsirannya yang kemudian menjadi fi qih tentang perempuan.
Menurut kalangan Islam liberal yang post-modern ini, kenyataan tentang eksistensi perempuan dibangun oleh keterkaitan teks-teks yang hidup dalam masyarakat. Misalnya kita bisa tunjukkan, betapa berpengaruhnya kitab-kitab tradisional yang selalu dibaca di pesantren. Artinya memang, penafsiran tentang perempuan yang kita terima sejauh ini, adalah akibat dari teks-teks yang kita pakai, atau --dalam istilah ilmu sosial yang lebih tepat— “representasi yang dihadirkan”. Artinya, kalau saja kita bisa memakai teks yang lain, representasi yang lain, maka realitas perempuan yang akan kita peroleh akan lain pula. Kalangan feminis Muslim postmodern ini jelas menawarkan suatu praksis, dengan cara membuat suatu wacana tandingan, justru untuk menghadirkan suatu penafsiran baru tentang citra perempuan dalam Islam. Kaum feminis postmodern Muslim yang menerapkan “exercise of suspicion” ini begitu yakin bahwa, proses yang diperlukan adalah menghadirkan proses penafsiran baru, dengan cara menghadirkan teks baru.
Kalau semua yang ada berkaitan dengan realitas perempuan adalah representasi, dan setiap representasi adalah teks, maka kalau kita mencurigai
reperesentasi yang ada, maka yang harus kita curigai adalah teksnya itu. Di sinilah termuat aspek “subversif ”: kita perlu secara langsung mencurigai teks-teks lama, karena teks-teks lama itu jelas memuat suatu pandangan dunia dan prasangka zaman yang khas. Yang tidak menjadi prasangka zaman kita. Vision Islam zaman kita menurut mereka, berbeda dengan Islam zaman dulu. Kita punya hak untuk membangun representasi yang lain, dengan pandangan dunia kita dewasa ini, tanpa harus menganggap bahwa teks-teks Suci itu memang secara tekstual sudah bersifat gender. Yang terakhir ini perlu ditegaskan di sini, karena mereka masih mempercayai bahwa teks-teks Suci keagamaan pada dasarnya adalah --mengikuti istilah pesantren,shālih li kulli zamān wa makān (berlaku untuk setiap zaman dan tempat). Tetapi apa itu yang shālih li kulli zamān wa makān, kalau bukan pandangan-pandangan etis yang universal?
Pada dasarnya semua teks tentang perempuan yang ada selama ini, jelas ada representasinya--misalnya pemikiran keagamaan yang kita terima, mitos- mitos dan pencitraan tentang perempuan yang disahkan secara keagamaan. Representasi ini kemudian dianggap sebagai kodrat yang sudah dari sananya. Di sini jelas, bahwa kalangan “pencuriga” ini menolak anggapan kalangan tradisional bahwa pembedaan gender tersebut bukan hanya bersifat biologis, tetapi juga mempunyai signifi kansi psikologis dan rohani.
Pembedaan gender menurut kalangan Islam liberal yang postmodern ini tidaklah natural. Karena tidak ada representasi yang bersifat adikodrati.
Defi nisi syariah direduksi oleh imajinasi kuasa. Syariah dipahami sebagai “pemaksaan”: pewajiban memakai jilbab, perempuan harus tutup aurat,
dak boleh keluar rumah karena menimbulkan
fi tnah dan memancing perzinaan. Defi nisi ini hanya
bagian kecil dari satu kesatuan sistem besar. Kalau mau mengatakan syariah secara kāff ah (lengkap), coba Anda lihat secara keseluruhan. Semua misi Islam adalah syariah.
(Rachman 2010: 981)
Lily Zakiyah Munir, Direktur Center for Pesantren and Democracy Studies (CePDeS), Jakarta, yang fokus pada isu-isu jender dan hak asasi manusia dalam perspek f Islam.
Setiap representasi (dan teks) adalah bersifat –istilah Peter L. Berger—
sosially constructed (hasil konstruksi sosial). Semua representasi adalah buatan manusia, berdasarkan prasangka-prasangka zamannya.
Di sini adalah tugas para pemikir Islam Liberal, untuk mencurigai penafsiran teks-teks Islam tentang perempuan itu --untuk kritis terhadap buatan sendiri--. Misalnya, segala penafsiran tentang perempuan yang kita anggap sudah tidak cocok dengan vision zaman kita, yang menekankan asas keadilan, keterbukaan dan demokrasi. Ini bukan untuk merubah al- Qur’an yang secara literal (memang) bisa ditafsirkan bersifat gender, tetapi justru untuk mengedepankan semangat dasar al-Qur’an perihal kesetaraan, dimana kita menyadari sepenuhnya bahwa, yang disebut konsep kesetaraan itu rupanya selalu ada bersamaan dengan prasangka-prasangka zamannya. Kritis terhadap representasi berarti kritis terhadap bias dalam penafsiran teks. Kritik terhadap teks berarti curiga, dan selanjutnya mengadakan dekonstruksi (pembongkaran) terhadap teks. Itu berarti menjadikan teks --yang tadinya bersifat tertutup-- sebagai bersifat terbuka, dengan menolak segala norma yang dianggap sebagai “inilah satu-satunya kebenaran” dalam menafsirkan teks itu, seperti yang selama ini dirumuskan oleh para mufasir lama atau para apologetik Islam.
Dengan pendekatan yang terbuka setelah mencurigai suatu teks yang sudah dianggap mapan, bisalah dilihat banyak kemungkinan teks, kemungkinan representasi dan berbagai macam kemungkinan pencitraan beserta implikasi-implikasinya. Dengan begitu, terbukalah penafsiran tentang perempuan yang plural, dan termuat pula alternatif-alternatif pemikiran konstruktif. Nah, setelah kata kunci “representasi” dihadirkan, maka kalangan Islam Liberal yang postmodern memakai kata kunci kedua, yaitu:
Kedua, dekonstruksi-rekonstruksi, yang penting sekali untuk memahami mengenai keterkaitan pengetahuan dengan kekuasaan. Setiap pengetahuan --teks, representasi, ide-ide, gambaran-gambaran, pencitraan, narasi, visual dan produk-produk keilmuannya-- merupakan kekuasaan. Tidak ada pengetahuan yang bebas dari kekuasaan. Yang ada adalah sebaliknya, kekuasaan yang selalu berkaitan dengan pengetahuan, yang selalu bermuatan kepentingan. Jadi, semua penafsiran memuat kepentingan. Pertanyaannya adalah: Siapa yang dipentingkan dalam suatu proses penafsiran? Laki-lakikah? Perempuankah? Suatu dominasikah? Atau suatu kesetaraan yang membela keadilan?
Analisis ini membawa kepada pertanyaan: Kepentingan siapa
sebenarnya yang ada di dalam suatu penafsiran teks keagamaan berkaitan dengan perempuan? Nah, kata kunci dalam ilmu-ilmu sosiologi, seperti dekonstruksi, representasi dan relasi Pengetahuan-Kekuasaan menjadi penting sekali dipakai dalam suatu proses interpretation as exercise of suspicion dari kalangan Islam Liberal ini. Di sini juga analisis gender yang di dalamnya implisit suatu pandangan dunia yang mau membangun suatu genderless society, menjadi alat analisis yang mendukung proses pembongkaran tersebut. Perspektif analisis gender dengan hermenutika post-modern ini, menurut mereka bisa menjadi alat yang dapat membantu merekonstruksi penafsiran baru yang memberdayakan perempuan, demi munculnya suatu citra lain tentang perempuan yang adil dan setara dalam masyarakat Muslim.
Penutup
Para penganut Islam Liberal, yang menekankan pembacaan sosiologis atas suatu relasi gender yang tidak adil dalam masyarakat Islam, berusaha keras untuk menunjukkan asal-usul penyebab adanya ketidaksetaraan secara gender itu. Yang paling penting dari semua pembacaan teks Islam, adalah masalah penafsiran al-Qur’an, karena itu mereka begitu mencurigai penafsiran tradisional.
“…Sikap yang meletakkan kedudukan laki-laki dan perempuan tidak sejajar harus dilenyapkan. Saya yakin hal ini secara moral, spiritual dan sosial tidak akan melahirkan keproduktifan. Kita harus membantu terciptanya keselarasan dalam hubungan antar keduanya. Bukti-bukti yang terkandung dalam ajaran al-Qur’an menguatkan pandangan ini, dan menekankan bahwa laki-laki dan perempuan itu, satu sama lain sebenarnya saling membutuhkan. Berkaitan dengan masalah keadilan sosial, maka adalah menjadi suatu keharusan untuk menentang sistem patriarkhi, tetapi bukan untuk memberlakukan sistem matriarkhi, melainkan untuk keefi sienan kerjasama dan kemerataan sistem, yang akan mendorong partisipasi semaksimal mungkin dari setiap anggota masyarakatnya. Sistem ini akan sungguh-sungguh menghormati setiap jenis kelamin dan setiap kontribusinya, serta tugas yang dipikulnya. Hal ini akan melahirkan pertumbuhan dan pengembangan individu, dan juga pertumbuhan dan pengembangan masyarakat. Dengan demikian,
kaum perempuan akan memiliki akses sepenuhnya untuk berpartisipasi di bidang politik, ekonomi dan intelektual, dan dihargai kaum laki-laki. Kaum laki-laki juga bisa atau terbuka kemungkinan untuk berpartisipasi penuh di rumah dan ikut merawat anak-anak Sehingga tercipta suatu masyarakat yang lebih seimbang dan lebih adil. Prinsip lainnya dari al- Qur’an yang saya masukkan sebagai hubungan antara pria dan perempuan adalah sikap saling menghormati dan musyawarah (syūrā). Biasanya syūrā
digunakan untuk membicarakan dan menyelesaikan masalah antara orang dewasa yang bertanggungjawab. Namun begitu, banyak penulis yang menyangkal hal ini dalam pertikaian antara suami dan istri. Al-Qur’an menganjurkan laki-laki dan perempuan untuk menikah sebagai penjaga tingkah laku moral antara kedua jenis kelamin. Tetapi penafsiran yang bermunculan mengenai hak dan kewajiban antara dua pasangan yang telah menikah menjadi begitu membatasi perempuan, sehingga perkawinan menjadi lembaga yang menindas kaum perempuan. Jika perkawinan merupakan alat penolak individualitas perempuan, dan penindasan kaum perempuan sebagai makhluk yang memiliki kapasitas sama, baik dalam soal kemanusiaan maupun spiritual sama dengan laki-laki, maka jelas perkawinan ini bertentangan dengan maksud al-Qur’an, yang hendak menciptakan keadilan dan tatanan moral-sosial yang menganjurkan untuk berbuat baik, serta mencegah perbuatan munkar. Penafsiran yang keliru semacam ini perlu diluruskan kembali.16
Kesimpulannya, pada dasarnya agenda kalangan Islam Liberal ini adalah usaha-usaha untuk:
Pertama, menciptakan kondisi perempuan yang memiliki kebebasan memilih (freedom of choice) atas dasar hak-haknya yang sama dengan laki-laki. Inilah yang tidak ada atau sangat kurang diperhatikan dalam penafsiran Islam selama ini;
Kedua, perempuan tidak dipaksa melulu menjadi ibu rumahtangga, di mana ditekankan bahwa inilah tugas utamanya (bahkan kodrat) sebagai perempuan. Inilah realitas yang paling mencolok dalam kitab-kitab fi qih perempuan;
Ketiga, perempuan tidak didorong untuk melakukan peranan yang khas “feminin” --atas dasar feminin modesty-nya. Untuk realisasi agenda
16Amina Wadud Muhsin, Wanita di Dalam al-Qur’an, (Bandung: Pustaka,
ini berarti dengan sendirinya ditolaklah pengutuban laki-laki-perempuan secara keras, melalui stereotype yang ada dalam seluruh penafsiran Islam yang sentralitasnya adalah laki-laki.
Menurut kalangan Islam Liberal, perlu pembongkaran (dekonstruksi) atas seluruh pencitraan (representasi) perempuan yang mempunyai sudut pandang kepentingan laki-laki (relasi kuasa, melalui diskursus tertentu, seperti patriarkhi) dilakukan, justru untuk mendapatkan sudut pandang dan kepentingan perempuan sebagai subyek yang otonom. Apalagi al-Qur’an sendiri sudah mengatakan, “Siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada yang telah mereka kerjakan.” (Q. 16:91).