• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menanggalkan hak masuk surga.

Dalam dokumen I.MANUSIA: - ALAM SURGA (Halaman 107-112)

Telah lama dipahami di antara para pelajar okultisme, bahwa ada kesempatan untuk dapat maju lebih cepat, jika ia sudah maju dan hal itu diperoleh dengan "menanggalkan hak menikmati kehidupan di surga", yaitu di antara dua penjelmaan di dunia. Sehingga dapat kembali di dunia lebih cepat lagi untuk dapat bekerja di alam fsik.

Apa yang disebut di atas tentang penanggalan hak, dapat menimbulkan salah pengertian tentang kehidupan di surga, jika tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai hal itu. Kehidupan di surga, bukanlah suatu hadiah, tetapi merupakan akibat dari kehidupan di dunia. Sebab di waktu orang masih berada di dunia, telah digerakkan oleh pikiran tinggi dan aspirasi sejumlah daya kekuatan rohaniah. Daya kekuatan di atas akan bekerja padanya, jika ia kemudian masuk ke dalam alam mental, sesudah ia meninggal dunia. Jika daya kekuatan itu hanya sedikit saja,tentunya juga akan lekas habis, dan orang tentu akan berada di surga tidak lama. Tetapi sebaliknya jika daya kekuatan rohaniah itu besar, tentu jiwa akan lebih lama lagi berada di alam mental untuk menghabiskan daya rohaniah, dan kehidupan surga akan sangat lama.

Jika manusia telah memperkembangkan sifat rohaniahnya jiwanya akan lebih lama berdiam di alam surga. Tetapi boleh dianggap, bahwa di alam itu jiwa tidak akan mengalam kemajuan atau kesempatan untuk berguna bagi orang lain akan berkurang. Bagi semua orang, kehidupan di alam dewachan memang perlu sekali, kecuali bagi orang-orang yang telah mencapai kemajuan tinggi. Sebab hanya di dalam keadaan seperti terdapat di surga, segala aspirasi selanjutnya akan menjadi kecakapan. Segala pengalamannya akan menjadi kearifan. Semua itu merupakan kemajuan bagi manusia yang amat besar, tidak kemajuan itu dapat dicapai jika ia dalam waktu itu hanya tinggal di dunia saja.

Bila tidak demikian, jelaslah seluruh hukum alam akan berguna, karena makin dekat pencapaian tujuannya yang makin besar tekad usahanya untuk menaklukkan diri sendiri,pandangan yang nyaris masuk akal terhadap hukum yang kita ketahui sebagai ungkapan kearifan yang paling agung !.

Kemungkinan untuk dapat menanggalkan hak hidup kedalam alam surga, bukanlah berarti bahwa semua orang dapat demikian. Hukum Agung itu tidak mengijinkan seorang pun melepaskan secara membabi buta, hak yang tidak diketahui seluk beluknya. Dan orang juga tidak dapat menyimpang dari jalan evolusi, sampai ada kepastian bahwa penyimpangan itu hanya demi keuntungan akhirnya.

Umumnya tidak seorangpun diperkenankan melepaskan kebahagiaan hidupnya di surga, sampai orang mengalami kebahagiaan itu sewaktu hidup di dunia. Yaitu jika ia cukup untuk dapat meningkatkan kesadarannya ke dalam alam itu,

membawa pengalaman keluhuran itu dengan jelas dan sepenuhnya dalam ingatannya, yang jauh lebih dari pada segala konsepsi di dunia ini.

Jika dipikir sedikit saja, akan menjadi terang sebab dan keadilannya mengenai hal itu. Dapat dikatakan, karena kemajuan jiwalah yang sebenarnya menjadi masaalah, maka cukup bagi orang mengerti hal itu di alamnya sendiri, bagaimana perlunya menjalankan pengorbanan kebahagiaan surgawi, kemudian lalu memaksa diri rendah menjalankan keputusan itu. Tetapi hal itu tidak adil benar-benar, sebab menikmati kebahagiaan surgawi di alam mental bagian rupa, meskipun milik Egonya, menjadi miliknya hanya sebagaimana dapat dirasakan dan tampak pada personalitas saja. Sebab itu adalah kehidupan personalitas sesudah mati, hanya sampai di alam mental atau surga bagian rendah dengan segala lingkungannya, yang biasa baginya .

Demikianlah sebelum kebahagiaan dalam surga ini dapat ditanggalkan, personalitas itu harus mengerti jelas terlebih dulu, kebahagiaan apa yang ditanggalkan.

Dan pikiran rendah harus setuju dengan keputusan pikiran tingginya tentang soal itu.

Pelaksanaan hal di atas jelas mengandung arti, bahwa orang itu di waktu hidup di dunia, telah dapat sadar di alam mental, sama seperti sesudah ia meninggal dunia. Tetapi juga harus diingat, bahwa perkembangan kesadaran dimulai dari bawah dan naik ke atas.

Tetapi bagi kebanyakan orang, kesadarannya baru dapat bekerja dengan baik di dalam badan wadagnya. Adapun mengenai badan astral mereka, sebagian besar baru bersifat tanpa bentuk jelas, suatu tanda, bahwa belum terorganisir secara baik—memang menjadi jembatan penghubung antara Ego dan badan wadag, sebagai wahana penerima perasaan/sensasi indera. Apa lagi untuk menjadi alat Sang Ego atau manusia sejati, atau guna menyatakan dengan tepat segala kekuasaan Ego di alam itu di waktu mendatang.

Bangsa-bangsa di dunia yang lebih maju, tampak mempunyai badan astral lebih terkembang, sedang kesadaran dalam badan itu dalam banyak hal hampir lengkap potensinya, meskipun demikian dalam hal-hal terbanyak manusianya masih terpusat pada diri sendiri, artinya hanya menyadari pikirannya sendiri, artinya hanya menyadari pikirannya sendiri, dan sangat sedikit menyadari keadaan di sekelilingnya. Yang telah lebih maju lagi, beberapa di antara mereka yang mulai mempelajari Okultisme sudah dapat secara teratur bangun di alam astral. Karena itu mereka sudah dapat menggunakan indera astralnya dan dalam banyak cara telah mendapat keuntungan banyak dari kemampuan itu.

Tetapi dari hal di atas tidak harus diambil kesmpulan, bahwa mereka pada permulaannya, bahkan selama waktu panjang sudah dapat ingat dalam badan wadag ini semua pengalaman dan perbuatan mereka dalam badan astral. Pada umumnya mereka hanya dapat ingat sebagian saja, tetapi itu pun hanya tempo-tempo saja. Tetapi ada kasus-kasus di mana, karena berbagai sebab, mereka hampir tidak ingat kehidupan di alam lebih tinggi itu, yang tidak dapat merembes ke dalam kesadaran otak

Setiap jenis kesadaran tertentu di alam pikiran sudah tentu merupakan suatu tanda kemajuan jiwanya lebih lanjut. Bagi orang yang berkembang melalui jalan biasa secara teratur , kita tentu akan menduga, bahwa kesadaran itu akan timbul hanya jika hubungan antara badan astral dan badan wadag sudah baik. Tetapi di dalam keadaan peradaban modern seperti sekarang ini, yang bersifat berat sebelah, dan tidak wajar, tetapi hanya di buat-buat saja, manusia tidak berkembang secara teratur dan secara wajar. Karena itu terjadi kasus-kasus di mana kesadaran di alam mental telah banyak dicapai dan dihubungkan segaimana mestinya dengan kehidupan astral, namun tidak ada sama sekali pengalaman di alam mental, yang dapat tembus kedalam otak fsik.

Keadaan demikian memang sangat jarang terjadi, tetapi memang ada, sehingga merupakan perkecualian. Personalitas seperti diceritakan di atas memang dapat dikembangkan secukupnya, sehingga dapat merasakan kebahagiaan di alam mental, yang tidak dapat diterangkan dengan kata-kata. Dan dengan demikan ia mendapat hak untuk melepaskan haknya untuk masuk ke dalam surga,sekalipun ia hanya dapat ingat pengalaman di alam mental dalam badan astralnya saja. Akan tetapi menurut hipotesanya, kehidupan di alam astral harus disadari sepenuhnya oleh personalitas, ingatan demikian akan sudah cukup untuk memenuhi keadilan, sekalipun sedikitpun dari pengalaman di alam mental, sama sekali tidak diingat di dalam badan fsik. Pokok persoalannya yang harus diingat yaitu, personalitas yang harus menanggalkan kebahagiaannya di alam surga. Juga personalitas yang harus mempunyai pengalaman itu, dan membawa kembali ingatan ke suatu alam, di mana ia

memiliki kesadaran biasanya secara penuh. Dan alam itu tidak perlu alam wadag ini, Jika keadaan diatas dapat dipenuhi di alam astral.

Kejadian demikian tidak mungkin terjadi, kecuali bagi mereka, yang sedikitnya sudah menjadi murid percobaan dari seorang Guru.

Orang yang akan menjalankan langkah besar seperti di atas, harus bekerja sangat tekun dan sungguh-sungguh, sehingga ia dapat menjadi alat yang berharga di tangan mereka, yang menolong umat manusia. Selain itu juga bekerja keras untuk tujuan rohaniah orang lain, tanpa menganggap dirinya sudah cakap untuk mendapat kehormatan besar seperti itu, tetapi harus tetap rendah hati dengan harapan dalam satu atau dua kehidupan kerja keras, Gurunya akan berkata kepadanya, bahwa waktunya telah tiba, bahwa pengorbanan kehidupan di surga juga akan mungkin baginya.

Dalam dokumen I.MANUSIA: - ALAM SURGA (Halaman 107-112)