Dari uraian di atas, dapat dimengerti bahwa pada permulaan evolusi manusia, banyak Ego yang belum maju tidak pernah mencapai alam Dewachan sama sekali, sedang sebagian banyak lagi hanya menyentuh bagian-bagian rendah saja. Tiap-tiap jiwa sudah tentu harus menarik diri ke dalam diri sejatinya di alam- alam yang tinggi, sebelum turun reinkarnasi di bumi.
Tetapi itu sama sekali tidak berarti, bahwa didalam keadaan demikian, jiwa itu akan mengalami sesuatu yang dapat disebut kesadaran di alam itu. Hal ini akan dibicarakan lebih banyak di dalam bab "alam pikiran arupa". Tampaknya lebih baik, jika kita membicarakan terlebih dulu tentang bagian rendah, yang kita sebut bagian rupa dan kemudian meningkat tahap demi tahap. Dengan begitu kita dapat meninggalkan sebagian umat manusia, yang sesudah meninggal dunia, hanya berkesadaran di alam astral dan langsung saja bicara tentang jiwa yang baru bisa keluar dari kedudukan itu, yang. selanjutnya untuk pertama kali memasuki alam mental bagian rendah. Di sini jiwa orang itu akan mempunyai kesadaran sepintas dan cepat berlalu.
Tampaknya ada beberapa metode, untuk menjadikan langkah yang Penting itu bagi mereka yang baru memperkembangkan jiwanya, tetapi akan cukup untuk menceritakan satu contoh untuk tujuan tersebut. Kami hanya mengambil satu dari banyak kejadian, yang sifatnya agak menyedihkan, tetapi merupakan suatu kejadian yang benar-benar telah terjadi, dan yang telah diamati oleh para Pelajar kita di waktu menyelidiki masalah ini. Dalam hal ini ceritanya berhubungan dengan seorang wanita tukang jahit miskin, yang menjadi agen daya kekuatan evolusi yang agung. Ia bidup di salah satu bagian kotor, miskin dan menyedihkan dalam satu "kampung" di London, berbau busuk, sedikit sekali mendapat sinar matahari dan udara. Kampung itu terletak di Eastst End, sangat dikenal di London.
Sudah tentu ia tidak berpendidikan tinggi, sebab selama hidupnya ia harus bekerja berat dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan. Sekalipun demikian ia adalah orang baik dan murah hati, senang menderma, berlimpah kasihnya, ramah terhadap semua orang yang berhubungan dengannya.
Kamar-kamarnya sederhana seperti kamar-kamar di lorong - lorong dalam lainnya, tetapi setidak-tidaknya lebih bersih dan lebih teratur. Ia tidak mempunyai uang untuk diberikan kepada tetangganya, jika ada yang sakit dan membutuhkannya lebih sangat dari pada biasanya.
Tetapi dalam keadaan demikian ia selalu siap seperti sering teradi untuk meluangkan beberapa saat dari pekerjaannya guna membantu orang lain menurut kekuatannya.
Namun ia menunjukkan kebaikan hatinya kepada para gadis pekerja di pabrik di kelilingnya, yang kasar dan bodoh. Lambat- laun mereka memandang tukang penjahit wanita sebagai suatu bidadari, yang menolong dan bermurah hati, sebab selalu siap sewaktu-waktu menolong mereka jika berada dalam kesulitan atau di waktu sakit. Sering sesudah bekerja keras sepanjang hari tanpa berhenti, maka setengah malam berikutnya ia tidak tidur merawat pekerja-pekerja yang sakit, yang selalu ada dalam lingkungan yang tidak sehat dan menyenangkan di bagian kota London yang miskin dan kotor serta sangat padat penghuninya.
Dalam banyak hal perbuatan baik yang tak kunjung padam menimbulkan perasaan syukur dan cinta kasih pada mereka, perasaan-perasaan yang demikian itu yang adalah satu-satunya perasaan luhur yang ditimbulkan dalam hati mereka selama hi- ya yang penuh penderitaan dan kemiskinan.
Keadaan hidup dalam lorong memang seperti itu, oleh karena tidak mengherankan, jika ada di antara si sakit yang meninggal dunia. Selanjutnya juga akan menjadi jelas, bahwa telah berbuat
sesuatu, yang melebihi apa yang ia ketahui, ia tidak hanya telah memberi pertolongan kepada mereka, sementara menderita, tetapi ada suatu hal yang sangat penting lainnya, yaitu dorongan yang sangat penting dalam evolusi' spiritualnya. Ditimbulkannya suatu perasaan terirna-kasih dan perasaan cinta di dalam diri orang-orang, yang masih sangat terbelakang jiwanya, dan yang hidup-hidupnya di dunia di waktu yang lalu, belum pernah dibangunkan daya kekuatan rohaniahnya, yang dapat mengakibatkan mereka dapat sadar di alam surga. Tetapi sekarang untuk pertama kalinya maka jiwa-jiwa itu memiliki suatu cita-cita tinggi, yang harus dicapainya, selain di diri mereka juga telah ditimbulkan rasa cinta kasih tanpa pamrih. Perasaan inilah yang menjunjung jiwa mereka, sehingga memiliki individualitas lebih kuat.
Maka setelah masa tinggalnya di alam astral berakhir, mereka mencapai pengalaman pertama dalam bagian terendah alam surga.
Demikianlah setelah masa mereka berada di dalam alam astral barakhir, maka mereka akan mulai memiliki pangalaman pertama dengan sadar berada di alam surge, sekalipun hanya di bagian ke tujuh.
Memang pengalaman itu belum dapat berlangsung lama sebab ji- wa-jiwa mereka juga belum maju, tetapi pengalaman itu lebih penting dari pada tampaknya jika dilihat sepintas lalu. Sebab satu kali daya kekuatan rohaniah itu tergugah, yang sifatnya tanpa pamrih, maka benih kecil itu akan tumbuh dengan sangat subur di dalam alam surga dan yang akan juga selanjutnya diperagakan di dalam hidup mereka di dunia, di waktu mendatang.
Itulah pengaruh kebaikan dan kelemah-lembutan seorang tu- kang jahit wanita yang miskin, yang telah membuat beberapa jiwa yang belum maju dapat mengenal surga untuk pertama kali dengan kesadaran jiwa. Dan benih kebajikan, itu akan selalu tumbuh, akan menjadi bertambah kuat dan berpengaruh pada hidup mereka di dunia di waktu mendatang.
Kejadian kecil di atas mungkin dapat memberi penjelasan ten tang kenyataan bahwa dalam berbagai agama selalu ditekankan pentingnya unsur pribadi dalam berbuat kebajikan dan menjalankan kemurahan hati - hubungan langsung antara si pemberi dan penerima.