KEPALA CABANG
3) Mencari debitur dan deposan potensial
4) Melemparkankan dana seaman mungkin dengan melakukan analisis pembiayaan secara cermat dan hati hati terhadap calon debitur. 5) Menjaga hubungan baik dengan debitur dan melakukan pembinaan
jika masih diperlukan.
6) Memonitor pembiayaan yang telah disalurkan dan mel aksanakan penagihan serta penyeleaian pembiayaan debitur bermasalah. 5. Produk Umum Bank Syariah Mandiri
Dalam menjalankan kegiatan operasional, Bank Syariah Mandiri memiliki berbagai produk dan jasa yang ditawarkan kepada masyarakat luas. Adapun produk dan jasa Bank Syariah Mandiri antara lain sebagai berikut :
Tabel 1
Produk Umum Bank Syariah Mandiri
No Produk Keteranagan
1 Tabungan BSM Merupakan tabungan harian yang menggunakan mata uang rupiah. Rekening ini berdasarkan sistem Akad mudharabah muthlaqah. Nasabah bisa memilih dengan fitur ATM atau tanpa ATM. Baik perorangan maupun non perorangan (lembaga, organisasi, perkumpulan, dll) diperbolehkan buka rekening ini. 2 Tabungan BSM
Simpatik
Produk Bank Syariah Mandiri yang ini hampir sama dengan Tabungan BSM di atas. Bedanya Tabungan BSM Simpatik menggunakan sistem wadhi’ah dan hanya ditujukan perorangan saja.
3 TabunganKu BSM TabunganKu merupakan program pemerintah untuk meningkatkan gemar menabung pada masyarakat. TabunganKu ada di seluruh bank di Indonesia,
45
termasuk juga di Mandiri. Baik Mandiri
konvensional maupun syariah memilikinya. Namun keduanya ada bedanya. Berikut inilah sedikit info mengenai TabunganKu di Bank Mandiri Syariah. 4 Tabungan Berencana
BSM
Tabungan berjangka yang memberikan nisbah bagi hasil berjenjang serta kepastian pencapaian target dana yang telah ditetapkan.
5 Tabungan Investa Cendekia BSM
Jenis produk Bank Syariah Mandiri yang satu ini menggunakan dasar prinsip mudharabah muthlaqah. Rekening ini sangat cocok dipilih jika untuk
keperluan pendidikan anak-anak. Merupakan tabungan berjangka dengan setoran bulanan tetap. 6 Tabungan Kurban
BSM
Bank Mandiri Syariah terkenal sebagai salah satu bank yang mempermudah nasabahnya untuk
menyalurkan zakat, infak, dan sedekah. Tidak hanya itu, ternyata bank ini juga mengeluarkan produk Tabungan Kurban BSM. Sesuai namanya, tentu tabungan ini cocok bagi anda yang merencanakan ibadah kurban dan aqiqah.
7 Tabungan Pensiun BSM
Produk ini merupakan hasil kerjasama BSM dengan PT Taspen yang diperuntukkan bagi pensiunan pegawai negeri Indonesia. Akad dasarnya mudharabah muthlaqah.
8 Tabungan Dolar BSM Sebenarnya produk Bank Syariah Mandiri ini seperti tabungan harian biasa. Perbedaannya cuma mata uang yang digunakannya, yaitu dolar.
9 Pembiayaan Gria BSM Pembiayaan Griya BSM adalah pembiayaan jangka pendek,menengah, atau panjang untuk membiayai pembelian rumah tinggal (konsumer), baik baru maupun bekas, di lingkungan developer dengan sistem murabahah.
10 Gadai Emas BSM Pembiayaan atas dasar jaminan berupa emas sebagai salah satu alternatif memperoleh uang tunai dengan cepat.
11 Mudhrabah BSM Pembiayaan atas seluruh modal kerja yang dibutuhkan nasabah ditanggung oleh bank. Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati.
12 Musyarakah BSM Pembiayaan berdasarkan Akad jual beli antara bank dan nasabah. Bank membeli barang yang
harga pokok ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati. Dapat dipergunakan untuk keperluan usaha (investasi, modal kerja) dan pembiayaankonsumer.
13 Murabahah BSM Pembiayaan berdasarkan Akad jual beli antara bank dan nasabah. Bank membeli barang yang
dibutuhkan dan menjualnya kepada nasabah sebesar harga pokok ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati. Dapat dipergunakan untuk keperluan usaha (investasi, modal kerja) dan pembiayaan konsumer.
14 BSM Pembiayaan Talangan Haji
Merupakan pinjaman dana talangan dari bank kepada nasabah khusus untuk menutupi kekurangan dana untuk memperoleh
kursi/seat haji dan pada saat pelunasan BPIH. Sumber : Perusahaan Bank Syariah Mandiri, diolah oleh penulis
6. Produk Gadai Emas Syariah
Gadai emas syariah merupakan produk Bank Syariah Mandiri dengan menggunakan Akad Qard, Rahn, dan Ijarah , dengan cara menahan emas milik nasabah sebagai barang jaminan atas hutang/pinjaman yang diterima. Pelunasan marhun bih dapat dilakukan kapan saja sampai batas waktu maksimal 4 (empat) bulan dengan melakukan pelunasan sekaligus dengan membayar marhun bih dan ujrah, cicilan atau melunasi dengan membayar sebagian marhun bih dan ujrah, dan biaya administrasi dari Akad baru, memperpanjang akad yaitu mempertahankan akad dengan membayar ujrah dan biaya administrasi akad baru.
47
Tabel 2
Ketentuan Produk Gadai Emas
No Kategori Keterangan
1 Nama Produk Gadai Emas BSM
2 Tujuan Penggunaan Konsumtif & Modal Kerja untuk UMKM
3 Objek Produk Emas (Perhiasan/Batangan)
4 Jangka Waktu Maksimal 4 bulan, dapat diperpanjang 2x (untuk keperluan konsumsif) dan untuk modal kerja bisa sampai 1 tahun.
5 Nilai Pembiayaan Rp 1.000.000,- s.d Rp 250.000.000,- ( untuk keperluan Konsumtif) dan Rp 1.000.000,- s.d Rp 50.000.000,- (untuk modal kerja).
6 Kualitas Emas 16 karat – 24 karat
7 Maksimal Pembiyaan Emas batangan, logam mulia, atau
perhiasan tanpa permata dengan kadar 24 karat setara dengan 99,99% maksimum 80% dari harga taksiran emas, emas koin,emas polos tanpa permata dengan kadar dibawah 24 karat maksimum 77,5% dari harga taksiran emas, emas perhiasan dengan permata, maksimum 75% dari harga taksiran emas.
Tabel 3
pendapatan Produk Gadai Emas BSM terhadap total pendapatan BSM
No Kategori 2014 2015 2016
1 Gadai Emas 1.601.000 1.567.000 2.107.000
2 Total Pendapatan BSM 56.486.000 46.875.000 60.965.000 Sumber : PT. Bank Syariah Mandiri, diolah oleh penulis
Perkembangan produk gadai emas BSM antara tahun 2014 hingga 2016 menunjukan fluktuasi. Pada tahun 2014 pendapatan gadai sebesarRp 1.601.000, pada tahun 2015 mengalami penurunan sebesar Rp 1.567.000, dan tahun 2016 gadai mengalami kenaikan sebesar Rp 2.107.000.
B. Pembahasan
1. Penerapan Akad Gadai di Bank Syariah Mandiri a. Akad yang digunakan dalam produk Gadai Emas
Bank Syariah Mandiri mengunakan tiga akad yaitu akad Qard untuk keperluan pinjam meminjam uang, untuk akad Rahn untuk keperluan transaksi gadai yang dilakukan oleh nasabah kepada bank, untuk akad Ijarah untuk keperluan beban pemeliharaan atas barang jaminan (marhun)
49
b. Biaya administrasi dalam produk gadai emas (Rahn)
Dalam Rahn emas yang diterapkan oleh Bank Syariah Mandiri mewajibkan nasabah untuk membayar biaya-biaya yang nantinya akan disepakati bersama pada awal akad. Bank Syariah Mandiri mewajibkan untuk membayar biaya administrasi dan materai yang dibayar pada awal akad serta biaya pemeliharan emas yang nantinya akan dibayar nasabah pada saat akad berakhir/saat pinjaman dilunasi
Biaya administrasi adalah ongkos pengorbanan materi yang dikeluarkan oleh Bank. Para ulama sepakat bahwa segala biaya yang bersumber dari barang yang digadaikan adalah menjadi tanggungan penggadai. Maka oleh sebab itu, biaya administrasi gadai dibebankan kepada penggadai.
Karena biaya administrasi merupakan ongkos yang dikeluarkan bank, maka pihak bank yang lebih tahu dalam menghitung rincian biaya administrasi. Setelah bank menjumlah biaya administrasi, kemudian nasabah atau penggadai mengganti biaya administrasi tersebut.
Biaya pemeliharaan adalah merupakan biaya yang dibutuhkan untuk merawat barang yang digadaikan selama jangka waktu yang di tetapkan pada saat Akad. Sesuai dengan pendapatan
para ulama biaya pemeliharaan menjadi tanggungan rahin. Karena
rahin pemilik barang yang digadaikan tersebut.
Akad yang digunakan adalah Akad ijarah (sewa), rahin penyewa tempat di bank untuk menyimpan atau menitipkan barang gadainya, kemudian bank menetapkan biaya sewa tempat. Dalam pengertian lainnya, rahin menggunkan jasa bank untuk menyimpan barang gadainya sehingga jangka waktu gadai berakhir.
Dengan Akad ijarah dalam pemeliharaan atau penyimpanan barab gadaian bank dapat memperoleh pendapatan yang sah dan halal. Bank akan mendapatkan fee atau upah atas jasa yang diberikan kepda penggadai atau bayaran atas jasa sewa yang diberikan kepada penggadai. Oleh karena itu, gadai emas syariah sangat bermanfaat bagi penggadai yang membutuhkan dana tunai dengan cepat dan bagi pihak bank yang menyediakan jasa gadai emas syariah karena bank akan mendapatkan pemasukan atau keuntungan dari jasa penitipan barang gadaian dan bukan dari kegiatan gadai itu sendiri.
c. Dasar Penentuan Biaya
Bank Syariah Mandiri mewajibkan agar nasabah membayar biaya administrasi yang ditentukan oleh bank berdasarkan keperluan nasabah, yakni untuk keperluan konsumtif berkisar antara Rp 10.000,- s.d Rp 25.000,- sedangkan untuk keperluan modal kerja
51
berkisar Rp 25.000,- s.d Rp 100.000,-. Nasabah juga diwajibkan membayar biaya materai sebesar Rp 6.000,- untuk keperluan pengikat perjanjian Rahn emas atau sebagai cara pelunasan terhadap pengenaan pajak atas dokumen serta biaya pemeliharaan emas yang ditentukan berdasarkan harga standar emas.
d. Sistem Pelunasan pembiayaan yang digunakan
Bank Syariah Mandiri memberikan kebijakan kepada nasabah untuk sistem pelunasan pembiayaan yakni dengan cara pelunasan langsung di akhir Akad atau dengan menggunakan cara sistem penurunan pokok yang kurang lebih sama dengan sistem angsuran namun jumlahnya ditentukan oleh bank.
2. Perlakuan Akuntansi Gadai Syariah di Bank Syariah Mandiri a. Pengakuan produk Rahn emas
Bank Syariah Mandiri mengakui/mencatat pembiayaan Rahn emas saat Akad terjadi pada saat pinjam meminjam sebesar jumlah yang dipinjamkan, pengakuan pencatatan ini sesuai dengan PAPSI akad pinjam Qard.
Tabel 4
Ilustrasi jurnal pada saat akad Rahn
Tanggal Rekening Debet Kredit
xx xx xxx Qard xxxxx
Kas xxxxx
Sumber : diolah oleh penulis
b. Pengakuan biaya-biaya yang diterima
Bank Syariah Mandiri mengakui/mencatat biaya-biaya yang diterima sebagai pendapatan diterima di muka untuk biaya pemeliharaan/penyimpanan yang seharusnya dibayar pada akhir akad/ pinjaman tetapi telah dilunasi di awal. Bank Syariah Mandiri juga mengakui/mencatat biaya-biaya yang diterima sebagai dari pendapatan administrasi pinjaman untuk biaya administrasi yang dibebankan kepada nasabah saat awal Akad.
53
Tabel 5
Ilustrasi jurnal pada saat Akad biaya-biaya diterima
Tanggal Rekening Debet Kredit
xx xx xxx Qard xxxxx Kas Xxxxx Pendapatan administrasi pinjaman Xxxxx Pendapatan Diterima dimuka Xxxxx Sumber : diolah oleh penulis
c. Pengakuan pada saat pelunasan/cicilan pinjaman oleh nasabah
Mengakui pelunasan/cicilan pinjaman nasabah sebagai pengurangan pokok pinjaman dan pendapatan pemeliharaan emas. Hal ini sesuai dengan ilustrasi Jurnal poin 3 (tiga) pada PAPSI Akad Qard pada sisi kredit.
Tabel 6
Ilustrasi jurnal pada saat Pelunasan/cicilan Pinjaman
Tanggal Rekening Debet Kredit
xx xx xxx Kas xxxxx
Qard xxxxx
Pendapatan pemeliharaan Emas
xxxxx Sumber : diolah oleh penulis
d. Kebijakan bank dalam menyikapi keterlambatan pelunasan pembiayaan oleh nasabah
Bank Syariah Mandiri hanya menerapkan 1 (satu) kebijakan untuk menyikapi keterlambatan pelunasan pembiayaan oleh nasabah yaitu memberi sanksi denda sesuai dengan keterlambatan. Hal ini tersebut diatas sesuai dengan yakni Fatwa DSN MUI No. 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn poin 5 (lima) penjualan apabila jatuh tempo,
Murtahin harus memperingati Rahin untuk segera melunasi utangnya
dan apabila Rahin tetap tidak dapat melunasi utangnya, maka Marhun dijual paksa melalui lelang sesuai syariah.
e. Pengungkapan rincian atas jumlah pinjaman berdasarkan sumber dana, jenis penggunaan dan lain-lain
Bank Syariah Mandiri tidak mengungkapkan rincian atas jumlah pinjaman berdsarkan sumber dana, jenis penggunaan rincian dan lain-lain.
f. Pengungkapan kebijakan manajemen dalam pelaksanan pengendalian risiko pinjaman
Dari hasil wawancara, Bank Syariah Mandiri telah mengungkap kebajikan manajemen dalam pelaksanaan pengendalian risiko pinjaman dlam laporan tahunan.
g. Pengungkapan jumlah piutang cicilan yang akan jatuh tempo hingga 3 (tiga) tahun terakhir
55
Dari hasil wawancara telah mengungkap jumlah piutang cicicilan yang akan jatuh tempo hingga 3 (tiga) tahun terakhir.
h. Pengungkapan kebajikan akuntansi yang digunakan Rahn emas
Dari hasil wawancara yang dilakukan Bank Syariah Mandiri telah mengungkapkan kebijakan akuntansi yang digunakan produk Rahn emas dalam catatan atas laporan keuangan periode tahun 2016.
3. Kesesuaian penerapan gadai syariah dengan fatwa DSN MUI dan perlakuan akuntansi dengan PSAK serta PAPSI
a. Penerapan Akad Gadai Emas
1) Akad yang digunakan dalam produk Gadai Emas
Di dalam Fatwa DSN MUI No. 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn tidak disebutkan akad apa saja yang digunakan untuk produk Rahn emas. Akan tetapi, Fatwa DSN MUI No. 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas poin ke 4 menyebut bahwa biaya penyimpanan harus dilakukan berdasarkan Akad Ijarah untuk biaya penyimpanan/pemeliharaan.
2) Biaya Administrasi dalam produk Gadai Emas
Dewan Syariah Nasional (DSN) dalam Fatwa DSN MUI No. 26/DSN-MUI/III/2002 menyebut bahwa biaya atau ongkos yang ditanggung oleh penggadai besarnya didasarkan pelunasan yang nyata diperlukan. Penggadai harus mengatahui besar rincian dan
pengeluaran apa saja yang dikeluarkan oleh bank untuk melaksanakan akad gadai.
Kewajiban nasabah membayar biaya-biaya yang ditetapkan Bank Syariah Mandiri dalam produk gadai emas telah sesuai dengan Fatwa DSN MUI No. 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas poin 2 yakni ongkos dan biaya penyimpanan barang ditanggungkan oleh penggadai.
3) Dasar penentuan biaya
Fatwa DSN MUI No. 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn emas, tidak disebutkan dasar penentuan biaya atas produk Rahn emas. Fatwa DSN MUI No. 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn poin 4, karena biaya tersebut tidak ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman yang diberikan kepada nasabah.
4) Sistem pelunasan pembiayaan yang digunakan
Di dalam fatwa DSN MUI No. 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn & fatwa DSN MUI No. 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn emas, tidak mengatur sistem pelunasan, begitu pula dengan PSAK 107 Akuntansi Ijarah, tetapi pada PAPSI akad qardh pinjaman yang diberikan mengatur angsuran, sejauh ini telah sesuai karena tidak melanggar peraturan yang ada.
57
b. Perlakuan Akuntansi Gadai Emas 1) Pengakuan produk Gadai Emas
Pengakuan/pencatatan ini sesuai dengan PAPSI akad pinjaman
Qardh diakui sebesar jumlah yang dipinjamkan pada saat terjadinya
dengan ilustrasi jurnal pinjaman Qardh pada sisi debit dan kas pada sisi kredit.
2) Pengakuan biaya-biaya yang diterima
Mengakui/mencatat biaya-biaya yang diterima sesuai dengan Akad pinjaman Qardh- pinjaman yang diatur pada bagian PAPSI D.1 02 pengakuan dan pengukuran yakni biaya administrasi, bonus,
ujrah yang dananya bersumber dari dana intern diakui sebagai
pendapatan operasi lain sebesar jumlah yang diterima. Dengan ilustrasi jurnal kas pada sisi debet dan pada pendapatan operasional lain pada sisi kredit.
3) Pengakuan pada saat pelunasan/cicilan pinjaman oleh nasabah Pelunasan/cicilan sesuai dengan ilustasi Jurnal poin 3 pada PAPSI akad pinjaman Qardh Pinjaman yang diberikan yakni Kas pada sisi debet dan Pinjaman Qardh pada sisi kredit. pelunasan/cicilan juga sesuai dengan PAPSI akad sewa Ijarah atas jasa poin 2 D.1 pengakuan dan pengukuran yakni pendapan Ijarah diakui selama masa akad bank dan nasabah.
4) Kebijakan bank menyikapi keterlambatan pelunasan pembiayaan oleh nasabah
Telah sesuai dengan fatwa DSN MUI No. 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn poin 5 Penjualan Marhun yakni apabila jatuh tempo, Murtahin harus memperingati Rahin untuk segera melunasi utangnya dan apabila Rahin tetap tidak melunasi utangnya, maka Marhun dijual paksa melalui lelang sesuai syariah. 5) Pengungkapan rincian atas jumlah pinjaman berdasarkan sumber dana, jenis penggunaan dan lain-lain sesuai dengan PAPSI akad pinjaman Qardh- pinjaman yang diatur dalam poin 01 F tentang pengungkapan yakni harus mengungkapkan rincian jumlah pinjaman Qardh berdasarkan sumber dana, jenis kegunaan dan sektor ekonomi dan PAPSI akad sewa – Ijarah atas aset berwujud poin 01 F pengungkapan sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan ijarah.
6) Pengungkapan kebijakan manajemen dalam pelaksanaan pengendalian resiko pinjaman sesuai dengan PAPSI akad Pinjaman
Qardh–pinjaman yang diberikan poin 03 F pengungkapan yakni
kebajikan manajemen dalam pelaksanaan pengendalian risiko pinjaman Qardh.
7) Pengungkapan jumlah piutang cicilan yang akan jatuh tempo hingga 3 tahun terakhir sesuai dengan PAPSI akad sewa–Ijarah atas jasa
59
poin 3 F Pengungkapan yakni harus mengungkapkan jumlah piutang cicilan ijarah yang akan jatuh tempo hingga 3 (tiga) tahun terakhir.
8) Pengungkapan kebijakan akuntansi digunakan Rahn emas telah sesuai dalam catatan atas laporan keuangan Periode Tahun 2016.
55
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Penerapan akad gadai emas syariah menggunakan akad Qard, Rahn, dan
ijarah.
2. Perlakuan akuntansi pembiayaan gadai emas syariah (Rahn) pada Bank Syariah Mandiri meliputi :
a. Pengakuan dan pengukuran pembiayaan gadai emas syariah ditetapkan sebesar jumlah yang dipinjam pada saat terjadinya akad menggunakan dasar kas.
b. Untuk pendapatan gadai emas syariah ditetapkan sebagai pendapatan diterima di muka, sedangkan untuk biaya pemeliharaan/penyimpanan dibayarkan pada akhir akad atau setelah pinjaman dilunasi.
c. Laporan Keuangan untuk gadai emas syariah telah disajikan dan diungkapkan dengan baik berdasarkan ketentuan PSAK 59 dan PAPSI. 3. Perlakuan akuntansi untuk pembiayaan gadai emas syariah pada Bank
Syariah Mandiri telah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PSAK, dan PAPSI.
56
4. Penerapan akad gadai emas telah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI No.25/DSN-MUI/III/2002, dan Fatwa DSN-MUI No.26/DSN - MUI/III/2002.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis, maka penulis memberi saran yang dapat menjadi masukan:
1. Bank Syariah Mandiri hendaknya tetap meningkatkan pembiayaan gadai emas dan mengelolanya dengan baik agar pembiayaan gadai emas syariah mampu meningkatkan Bank Syariah Mandiri.
2. Penelitian selanjutnya hendaknya dapat dilakukan dengan membandingkan penerapan akuntansi pembiayaan gadai emas antara perbankan syariah dan pegadaian syariah.
62
Daftar Pustaka
Antonio, M. S. (2005). Bank Syariah. Jakarta.
Apriani, A. (2010). Profek Gadai Emas diperbankan. 27.
Ayu Ramadhana Sari, M. A. (2017). Analisis akuntansi pembiayaan gadai emas berda.
Jurnal Ekonomi, 133.
Hadi, Muhammad Sholikul. Pegadaian Syariah. Edisi Pertama. Jakarta: Salemba Diniyah,2003.
IAI. (2017). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta.
Indriani, A. (2013). Penerapan Akuntansi Rahn.2012
Kitab Undang-Undang Hukum PerdataPeraturan Pemerintah No. 103 tahun 2000 tentang (PERUM) Pegadaian.
Maemunah, M. (2016). ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI GADAI EMAS SYARIAH PADA. Jurnal Ekonomi, 97.
Mandiri, B. S. (2016). Laporan Tahunan.
Muhammad. (2016). Manajemen Pembiayaan Bank Syariah. Yogyakarta: UUP STIM YKPN.
Ramadhani, N. A. (2012). ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI PEMBIAYAAN GADAI. Jurnal Ekonomi, 11.
63
Saputra, H., & DKK.(2014).Himpunan Fatwa Keuangan Syariah Dewan Syariah
Nasional MUI.Ciracas, Jakarta:Erlangga.
Sri Nurhayati dan Wasilah. (2014). Akuntansi Syariah Di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
Sudarsono, Heri. 2003. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Yogyakarta: Ekonisia