• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mendapatkan Perlindungan Hukum dari Majelis

BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN NOTARIS SETELAH MAJELIS

C. Hak dan Kewajiban Notaris setelah Majelis Kehormatan Notaris

2. Mendapatkan Perlindungan Hukum dari Majelis

Notaris sebagai pejabat umum dalam menjalankan profesinya di bidang pelayanan jasa hukum kepada masyarakat dipayungi oleh Undang-Undang, dalam UUJN tersebut, Notaris merupakan jabatan tertentu yang menjalankan profesi dalam pelayanan hukum kepada masyarakat perlu mendapatkan perlindungan dan jaminan demi tercapainya kepastian hukum.

UUJN telah memberikan suatu prosedur khusus dalam penegakan hukum terhadap Notaris dituangkan dalam Pasal 66 UUJN No. 2 Tahun 2014 tentang pemanggilan Notaris oleh penyidik, penuntut umum atau hakim harus melalui persetujuan MKN. Perlindungan hukum terhadap Notaris ini bertujuan, agar hak dan kewenangan maupun kewajiban Notaris dalam menjalankan tugasnya sebagaimana diberikan oleh UUJN dilakukan berdasarkan ketentuan yang berlaku, baik itu berdasarkan hukum maupun berdasarkan moral dan etika profesi, demi terjaminnya perlindugan hukum dan kepastian hukum bagi profesi Notaris dan kepentingan

profesi dan Notaris dapat memberitahukan isi akta atau diuraikan, bahwa suatu rahasia jabatan Notaris dapat dibuka apabila memenuhi kategori sebagai berikut:

a. Mendapat ijin dari para pihak, karena hubungan antara Notaris dengan para pihak adalah hubungan yang setara, sehingga izin untuk membuka rahasia jabatan hanya dapat diberikan berdasarkan persetujuan para pihak;

b. Kepentingan umum menghendaki;

c. Undang-Undang yang lebih khusus memperbolehkan dibukanya rahasia jabatan tersebut, misalnya Nota Kesepahaman antara Kepolisian Republik Indonesia dengan INI dan IPPAT.

Notaris sebagai Pejabat Umum bekerja untuk pelayanan kepentingan umum, yaitu dalam bidang pelayanan pembuatan akta dan tugas-tugas lain yang dibebankan kepada Notaris, dengan berdasarkan asas memberikan dan menjamin adanya rasa kepastian hukum bagi masyarakat. Undang-Undang memberikan tugas tersebut, sehingga Notaris yang memiliki kewenangan untuk membuat akta otentik dilindungi oleh hukum.

Perlindungan hukum bagi Notaris secara normatif telah diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu:

a. Pembentukan Majelis Pengawas sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 67 UUJN dibentuk oleh Menteri, yang terdiri atas 3 (tiga) unsur, yaitu pemerintah, organisasi Notaris dan akademisi. Pengawasan tersebut meliputi pelaksanaan jabatan Notaris.

menurut Pasal 66 UUJN yang menyatakan: bahwa untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum atau hakim dengan persetujuan MPK atau MKNW berwenang memanggil Notaris dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya dan mengambil fotokopi Minuta Akta dan surat-surat yang dilekatkan pada Minuta Akta.

c. Hak Ingkar Notaris sebagaimana diatur dalam:

(1) Pasal 170 KUHAP;

(2) Pasal 19019 angka 3 KUHPer;

(3) Pasal 146 ayat (1) angka 3 HIR;

(4) Pasal 277 HIR;

(5) Pasal 4 UUHN dan Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN.

d. Nota Kesepahaman antara Kepolisan Negara Republik Indonesa dengan Ikatan Notaris Indonesia, Nomor 01/MOU/PP-INI/V/2006 tentang Pembinaan dan Peningkatan Profesionalisme di Bidang Penegakan Hukum;

e. Surat Keputusan Majelis Pengawas Pusat Nomor C-MPPN.03.10-15 tentang Pemberian atau Penolakan Persetujuan Pemanggilan Notaris oleh penyidik, penuntut umum atau hakim.

Selain kapasitas Notaris selaku Pejabat Umum, Notaris tetap adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan-kesalahan, bersifat pribadi dan harus dipertanggung jawabkan secara pribadi, maka dalam melihat kesalahan seorang

menjalankan jabatannya.

Terhadap kesalahan yang bersifat pribadi, maka Notaris adalah sama dengan warga masyarakat biasa yang dapat dimintai keterangan dan dituntut pertanggunjawabannya. Dengan demikian, berlaku mekanisme perlindungan hukum yang sama bagi seorang warga masyarakat biasa. Terhadap kesalahan yang berhubungan dengan jabatan Notaris, mekanisme perlindungan hukumnya harus berbeda dengan anggota masyarakat biasa.

Pembedaan ini dikarenakan kedudukan Notaris sebagai Pejabat Umum yang membuat akta otentik. Organisasi profesi Notaris, yaitu Ikatan Notaris Indonesia dianggap lebih mengetahui dan memahami keadaan dan praktik profesi Notaris, sehingga pelanggaran profesi yang dilakukan oleh Notaris harus terlebih dahulu diperiksa oleh Majelis Pengawas sebelum ditentukan, apakah pelanggaran yang bersangkutan adalah pelanggaran pribadi atau pelanggaran profesi. Pihak penyidik dan Majelis Pengawas perlu bersinergi memberikan perlindugan hukum bagi profesi Notaris.

Dengan demikian akan tercipta rasa tenang, tentram dan perlindungan hukum yang terjamin bagi Notaris dalam melaksanakan tugasnya sebagai Pejabat Umum. Notaris akan merasa terlindungi karena segala tindakan pemeriksaan dilaksanakan sesudah pemeriksaan dan penelitian secara cermat oleh Majelis Pengawas sebagaimana diatur dalam Pasal 66 UUJN, tetapi Majelis Pengawas tidak dapat memberikan perlindungan apapun kepada Notaris yang terbukti bersalah dalam

jabatan Notaris, sebagai konsekuensinya harus dijamin adanya pengawasan, agar pekerjaan dan tugas Notaris selalu sesuai dengan hukum yang mendasari kewenangannya dan agar terhindar dari penyalahgunaan kewenangan atau kepercayaan yang diberikan kepadanya. Notaris juga hendaknya menjunjung tinggi Kode Etik Profesi yang telah disepakati bersama seluruh anggota Notaris sebagai dasar bagi para Notaris dalam berperilaku sehari-hari.

Kehadiran MKN seperti yang diatur dalam Pasal 66 UUJN telah memberikan harapan mengenai seharusnya seperti apa Notaris dan Akta Notaris dinilai oleh penegak hukum yang memahami dan mengerti Notaris. Sudah tentu dalam melakukan pemeriksaan Notaris atas permintaan Penyidik, Penuntut Umum atau Hakim untuk kepentingan proses peradilan, MKN akan bersidang dan menilai tindakan Notaris dan Akta Notaris yang bersangkutan berdasarkan UUJN dan Hukum Kenotariatan Indonesia. Pasal 1909 ayat (3) KUHPerdata menyebutkan bahwa segala siapa yang karena kedudukannya, pekerjaan atau jabatannya menurut Undang-Undang, diwajibkan merahasiakan sesuatu, namun hanyalah semata-mata mengenai hal-hal yang pengetahuannya dipercayakan kepadanya sebagai demikian. Apabila Majelis Kehormatan Notaris tidak mengizinkan seorang Notaris untuk memenuhi panggilan penyidik, penuntut umum atau hakim dengan alasan Notaris yang bersangkutan dalam membuat Akta telah sesuai dengan prosedur pembuatan Akta yang benar berdasarkan UUJN, maka untuk Notaris yang bersangkutan telah selesai

memenuhi syarat lahir, formal dan materil.

A. Kesimpulan

1. Kewenangan Majelis Kehormatan Notarisdalam melakukan pembinaan kepada Notaris tidak diatur dan dijelaskanmekanismenya secara rinci dan konkrit dalam peraturan perundang-undangan. Majelis Kehormatan Notaris memiliki kewenangan melakukan pembinaan apabila terdapat pengaduan dari masyarakat dan Notaris berhadapan dengan persoalan hukum, Majelis Kehormatan Wilayah berwenang melakukan pemeriksaan terhadap permohonan yang diajukan oleh penyidik, penuntut umum atau hakim guna kemudian memberikan atau tidak memberikan ijin/persetujuan terhadap permintaan pemanggilan Notaris untuk hadir dalam proses persidangan.

2. Dasar Kewenangan Majelis Kehormatan Notaris memberikan persetujuan pemanggilan penyidik, penuntut umum dan hakim yaitu Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris juncto Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2016 tentang Majelis Kehormatan Notaris yaitu a. adanya dugaan tindak pidana berkaitan dengan minuta akta dan/atau surat-surat Notaris dalam penyimpanan Notaris; b.

belum gugur hak menuntut berdasarkan ketentuan tentang daluwarsa dalam peraturan perundang-undangan di bidang hukum pidana; c. adanya penyangkalan

pengurangan atau penambahan atas Minuta Akta; atau e. adanya dugaan Notaris melakukan pemunduran tanggal (antidatum).

3. Hak dan Kewajiban Notaris setelah Majelis Kehormatan Notaris memberikan persetujuan pemanggilan Notaris oleh penyidik, penuntutumum dan hakim berdasarkan Pasal 66 ayat (1) yaitu haknya adalah mendapatkan pendampingan sesuai dengan ketentuan Pasal 27 dan kewajibannya adalah memenuhi panggilan penyidik, penuntut umum dan hakim.

B. Saran

1. Pelaksanaan pembinaan harus meliputi pemantauan, pendampingan, dan pengayoman oleh Majelis Kehormatan Notaris supaya Notaris dalam menjalankan profesinya sebagai pejabat umum tidak tersangkut masalah hukum dalam pembuatan Akta. Untuk lebih terarah sebaiknya di dalam Permenkumham Nomor 7 Tahun 2016 disebutkan dan dijelaskan secara jelas dan terukurtentang pembinaan Notaris.

2. Kewenangan Majelis Kehormatan Notaris dalam memberikan persetujuan terhadap penyidik, penuntut umum atau hakim perlu dijelaskan secara rinci dan konkrit terhadap hal apa dan atas kesalahan apa Notaris dipanggil oleh penyidik, penuntut umum atau hakim.

3. Hendaknya diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan hak dan kewajiban Notaris dalam memenuhi panggilan penyidik, penuntut umum atauhakim, agar Notaris

Notaris.

Ali, Zainudin, 2010, Metode Penelitian Induktif dan Deduktif dalam Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta.

Anton F Susanto dan Otje Salman, Teori Hukum, Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali, Rafika Aditama Press, Jakarta

Anshori, Abdul Ghofur, 2009, Lembaga Kenotariatan Indonesia Perspektif Hukum dan Etika, Yogyakarta UII Press, Yogyakarta

Asshiddiqie, Jimly 2007, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta.

Ashshofa, Burhan, 1996, Metode Penelitian Hukum,Rineka Cipta, Jakarta.

Azhary, 1995, Negara Hukum Indonesia Analisis Yuridis Normatif Tentang Unsur-unsurnya, UI Press, Jakarta.

Andasasmita, Komar, 1983, Notaris Dalam Praktek Hukum, Alumni, Bandung.

Anshori, Abdul Gofur, Lembaga Kenotariatan Indonesia Perspektif Hukum dan Etika,

Adjie, Habib,2009, Sekilas Dunia Notaris & PPAT Indonesia, Mandar Maju, Bandung.

………, 2008, Hukum Notaris Indonesia Tafsir Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, PT. Rafika Aditama, Bandung.

……….., dan Sjaifurrachman, 2011, Aspek Pertanggung jawaban Notaris Dalam Pembuatan Akta, Mandar Maju, Bandung.

Budiono, Herlien, 2005, “Pertanggung jawaban Notaris berdasarkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 (Dilema Notaris)”, Renvoi.

Budiardjo, Miriam, 1998, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Djaja, Jakarta.

Helmi, Masdar, 1973, Dakwah dalam Alam Pembangunan I, Toha Putra, Semarang H. R, Ridwan, 2003, Hukum Administrasi Negara, UII Press, Yogyakarta,

Kohar, A. 1984, Notaris Berkomunikasi, Penerbit Alumni, Bandung.

Lumbang Tobing, G.H.S. 1983, Peraturan Jabatan Notaris, cet. ke 2, Erlangga, Jakarta.

Lubis, M. Solly, 1994, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, CV. Mandar Maju, Bandung.

Lumaria, 2015, “Perlindungan Hukum terhadap Notaris Pasca Berlakunya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya.

Madya Ruth S.N, Dyah, 2015, Peran Majelis Kehormatan Notaris (MKN) dalam Memberikan Perlindungan Hukum terhadap Notaris sebagai Jabatan Publik Ditinjau dari UU No.2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No.30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Studi di NTB), Indonesia Notary Community (INC), Bogor.

Magnar, Kuntana dan Bagir Manan, 1997, Kedudukan dan Fungsi Keputusan Presiden Sistem Perundang-undangan dan Peranannya Dalam Akselerasi Pembangunan Ekonomi, Penerbit Alumni, Bandung.

Mamuji, Sri, dan Soerjono Soekanto, 1985, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Rajawali Press, Jakarta.

Marbun, S.F, 2004, Mandat, Delegasi, Atribusi Dan Implementasinya Di Indonesia, UII Press, Yogyakarta.

Marzuki, Pieter Mahmud, 2005, Penelitian Hukum, Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya.

Moleong, Lexy J, 2004, Metode Penelitian Kualitatif, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung.

Notodisoerjo, R. Soegondo 1993, Hukum Notariat di Indonesia Suatu Penjelasan, CV. Rajawali, Jakarta.

Hafid, Muhammad dan Habib Adjie, 2016, Memahami: Majelis Kehormatan Notaris, Sinergi Offset, Semarang.

Rijan, Yunirman dan Ira Koesoemawati, 2009, Ke Notaris, Raih Asa Sukses, Jakarta.

Renny, Sutan, 1993, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Indonesia, Institut Bank Indonesia, Jakarta.

Soemitro, Ronny H, 1982, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia.

Soekanto, Soerjono, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia.

Suryabrata, Sumardi, 1998, Metodelogi Penelitian, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sulihandari, Hartanti dan Nisya Rifiani, 2013. Prinsip-Prinsip Dasar Profesi Notaris.

Dunia Cerdas. Jakarta.

Sutrisno, 2007, Tanggapan Terhadap Undang-undang No.30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, (Bahan Kuliah Etika Profesi Notaris), MKn USU.

Sudarto, 1998, Hukum Pidana I, Badan Penyediaan Bahan-Bahan Kuliah Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.

Suprayitno, 2017, Materi Seminar Nasional Notaris Pengwil INI Sumatera Utara, Hotel Grand Kanaya.

Tan Thong Kie, 2000, Buku I Studi Notariat Serba-Serbi Praktek Notaris, cet. 2, PT.

Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta.

Tanzeh, Ahmad, 2009, Pengantar Metode Penelitian,Teras: Yogyakarta.

Tjuparmah, Yooke dan Komaruddin, 2000, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Bumi Aksara, Jakarta.

Usman, Suparman, 2008, Etika dan Tanggungjawab Profesi Hukum di Indonesia, Gaya Media Pratama, Jakarta.

Waluyo, Bambang, 2001, Penelitian Hukum Dalam Praktik, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta.

Akta yang Berindikasi Pidana, Refika Aditama, Bandung.

Wiriadinata, Wahyu, 2013, Moral dan Etika Penegak Hukum, CV. Vilawa, Bandung.

Winarno, Nur Basuki, 2008, Penyalahgunaan Wewenang dan Tindak Pidana Korupsi, laksbang mediatama, Yogyakarta.

Waluyo, Dody Radjasa, 2001, Kewenangan Notaris Selaku Pejabat Umum, Media Notariat (Menor), edisi Oktober-November.

Yuliandri, 2010, Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Yang Baik Gagasan Pembentukan Undang-Undang Berkelanjutan, Cetakan 2, PT.

Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Zainal Asikin, H. dan Amiruddin, 2008, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Edisi ke-1 Cet IV, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

B. Peraturan Perundang-undangan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Majelis Kehormatan Notaris

C. Wawancara

Wawancara Dengan Notaris Dr. Suprayitno, S.H., M.Kn, Wakil Ketua Majelis Kehormatan Notaris Wilayah Sumatera Utara, Notaris Medan

Wawancara Dengan Notaris Risna Rahmi, S.H. Notaris Medan

D. Artikel

http://sulaiman-sh.blogspot.com/, diakses tanggal 15 Februari 2016.

http://xerma.blogspot.co.id/2014/05/pengertianfungsipembinaanmenurut.html,diakses tanggal 13 desember 2016

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:

Balai Pustaka, 2001).