BAB III DASAR HUKUM MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS
B. Unsur dan Susunan Majelis Kehormatan Notaris
2. Tugas Kewenangan dan Fungsi Majelis Kehormatan Notaris
Majelis Kehormatan Notaris Wilayah dibentuk untuk menjalankan fungsi melakukan pembinaan dalam rangka menjaga martabat dan kehormatan Notaris dalam menjalankan profesi jabatannya dan memberikan perlindungan kepada Notaris terkait dengan kewajiban Notaris untuk merahasiakan isi Akta. Bedasarkan Permenkumham Pasal 18 ayat (1) disebutkan mengenai tugas Majelis Kehormatan Wilayah yaitu :
(1) Majelis Kehormatan Notaris Wilayah mempunyai tugas:
165Pasal 17 Permenkumham No. 7 Tahun 2016 tentang Majelis Kehormatan Notaris
166Ibid., Pasal 19
penyidik, penuntut umum, dan hakim; dan
b. memberikan persetujuan atau penolakan terhadap permintaan persetujuan pemanggilan Notaris untuk hadir dalam penyidikan, penuntutan, dan proses peradilan.
Selanjutnya di dalam Permenkumham Pasal 20 No. 7 Tahun 2016 disebutkan mengenai kewenangan Majelis Kehormatan Notaris Wilayah yaitu:
1. pemeriksaan terhadap Notaris yang dimintakan persetujuan kepada Majelis Kehormatan Notaris Wilayah oleh penyidik, penuntut umum, atau hakim;
2. pemberian persetujuan atau penolakan terhadap permintaan persetujuan pengambilan fotokopi minuta Akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada minuta Akta atau protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris; dan
3. pemberian persetujuan atau penolakan terhadap permintaan persetujuan pemanggilan Notaris untuk hadir dalam penyidikan, penuntutan, dan proses peradilan yang berkaitan dengan Akta atau protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris.
Selain tugas dan kewenangan MKN, di dalam Pasal 18 ayat (2) Permenkumham, disebutkan mengenai fungsi MKNW yaitu:
(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Majelis Kehormatan Notaris Wilayah mempunyai fungsi melakukan pembinaan dalam rangka:
75
jabatannya; dan
b. memberikan perlindungan kepada Notaris terkait dengan kewajiban Notaris untuk merahasiakan isi Akta.
Adapun fungsi perlindungan oleh MKN didasarkan pada beberapa ketentuan yaitu :
a. Ketentuan yang diatur dalam UUJN
1) Pasal 4 ayat (2) UUJN berkaitan dengan Sumpah Jabatan Notaris.
“Bahwa saya akan merahasiakan isi dan keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan jabatan saya”.
2) Pasal 16 ayat (1) huruf f
“merahasiakan segala sesuatu mengenai Akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan Akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali Undang-Undang menentukan lain”.
3) Pasal 16 ayat (11)
Notaris yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai dengan huruf l dapat dikenai sanksi berupa:
a) Peringatan tertulis;
b) Pemberhentian sementara;
c) Pemberhentian dengan hormat; atau d) Pemberhentian dengan tidak hormat.
4) Pasal 54
isi Akta, Grosse Akta, Salinan Akta atau Kutipan Akta, kepada orang yang berkepentingan langsung pada Akta, ahli waris, atau orang yang memperoleh hak, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan.
b) Notaris yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikenai sanksi berupa:
(1) peringatan tertulis;
(2) pemberhentian sementara;
(3) pemberhentian dengan hormat; atau (4) pemberhentian dengan tidak hormat.
b. Ketentuan yang diatur diluar UUJN 1) Pasal 322 KUHPidana
a) Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpan karena jabatan atau mata pencahariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
b) Apabila kejahatan dilakukan terhadap seseorang tertentu maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atau pengaduan orang itu.
2) Pasal 170 KUH Acara Pidana:
a) Mereka yang karena pekerjaaan, harkat dan martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia dapat diminta dibebaskan dari kewajiban
dipercayakan kepada mereka.
b) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.
3) Dalam KUHPerdata dan HIR a) Pasal 1809 dan Pasal 146
Intinya: orang dapat meminta dibebaskan dari kewajiban menjadi saksi:
(1) Mereka yang mempunyai pertalian keluarga sedarah dalam garis kesamping derajat kedua atau keluarga semenda dengan salah satu pihak.
(2) Mempunyai pertalian darah dalam garis lurus tak terbatas dengan menyamping dalam derajat kedua dengan suami atau isteri salah satu pihak.
(3) Karena kedudukan, pekerjaan atau jabatannya diwajibkan oleh Undang-Undang merahasiakan.
4) Dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986, diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 tahun 2004 dan terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
a) Pasal 89 intinya:
(1) Orang dapat mengundurkan diri dari kewajiban memberikan saksi:
(a) Saudara laki-laki dan perempuan, ipar laki-laki dan perempuan salah satu pihak.
diwajibkan merahasiakan sesuatu yang berhubungan dengan martabat, pekerjaan atau jabatan. Segala sesuatu atas pertimbangan hakim.
5) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Ketentuan Umum dan tata cara Perpajakan.
a) Pasal 35 ayat (2)
Kewajiban merahasiakan tersebut ditiadakan.
Berdasarkan ketentuan diatas maka dengan disahkannya peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Nomor 7 Tahun 2016, sebagai peraturan pelaksana dari Pasal 66 UUJN maka proses pemeriksaan Notaris harus mendapat persetujuan dari MKN.Pembentukan Majelis Kehormatan Notaris adalah amanah Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Pasal 66 A memerintahkan bahwa untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum atau hakim terhadap pengambilan minuta akta dan pemanggilan Notaris, diperlukan persetujuan Majelis Kehormatan Notaris.167
Kedudukan dan kewenangan MKN tersebut tercantum dalam Pasal 66 ayat (1) yang menjelaskan bahwa pemanggilan Notaris utnuk kepentingan proses peradilan oleh penyidik, penuntut umum dan hakim maka harus melalui persetujuan
167Freddy Haris, Leny Helena, Notaris Indonesia, Penerbit, PT. Lintas Cetak Djaja, 2017, hlm. 197
pemanggilan Notaris oleh pihak penyidik, penuntut umum, atau hakim untuk hadir dalam pemeriksaan yang terkait dengan akta atau protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris diajukan kepada Ketua Majelis Kehormatan Notaris Wilayah sesuai dengan wilayah kerja Notaris yang bersangkutan.Permohonan tersebut disampaikan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dan tembusannya disampaikan kepada Notaris yang bersangkutan yang memuat paling sedikit:
a. nama Notaris;
b. alamat kantor Notaris;
c. nomor akta dan/atau surat yang dilekatkan pada minuta akta atau protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris; dan
d. pokok perkara yang disangkakan.
Ketua Majelis Kehormatan Notaris Wilayah wajib memberikan jawaban berupa persetujuan atau penolakan terhadap permohonan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan.
Apabila dalam jangka waktu tersebut terlampaui, maka Majelis Kehormatan Notaris Wilayah dianggap menerima permintaan persetujuan.
Dalam melakukan pemeriksaan, majelis pemeriksa berwenang melakukan pemanggilan terhadap Notaris berdasarkan adanya permohonan dari penyidik, penuntut umum, atau hakim. Pemanggilan terhadap Notaris dilakukan melalui surat yang ditandatangani oleh Ketua Majelis Kehormatan Notaris Wilayah. Dalam
elektronik yang segera disusul dengan surat pemanggilan.
Pemanggilan terhadap Notaris dilakukan dalam waktu paling lambat 5 (lima) Hari sebelum pemeriksaan dilakukan. Notaris wajib hadir memenuhi panggilan majelis pemeriksa dan tidak boleh diwakilkan. Dalam hal Notaris tidak hadir setelah dipanggil secara sah dan patut sebanyak 2 (dua) kali berturut-turut, majelis pemeriksa dapat mengambil keputusan terhadap permintaan penyidik, penuntut umum, atau hakim.Dalam melakukan pemeriksaan terhadap Notaris, Ketua Majelis Kehormatan Notaris Wilayah membentuk majelis pemeriksa yang beranggotakan sebanyak 3 (tiga) orang yang terdiri dari setiap unsur anggota Majelis Kehormatan Notaris Wilayah. Majelis pemeriksa tersebut terdiri atas:
a. 1 (satu) orang ketua merangkap anggota; dan b. 2 (dua) orang anggota.
Dalam melakukan pemeriksaan, majelis pemeriksa dibantu oleh 1 (satu) sekretaris. Pembentukan majelis pemeriksa dilakukan dalam waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja terhitung sejak tanggal laporan diterima. Majelis pemeriksa berwenang memeriksa dan memberikan persetujuan atau penolakan terhadap permintaan penyidik, penuntut umum, atau hakim terkait pengambilan fotokopi minuta akta dan surat-surat yang dilekatkan pada minuta akta dan/atau protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris dan pemanggilan Notaris. Setiap hasil pemeriksaan majelis pemeriksa dilaporkan kepada Ketua Majelis Kehormatan Notaris
bulan kepada Ketua Majelis Kehormatan Notaris Pusat.
C. Dasar Hukum Majelis Kehormatan Notaris dalam Memberikan Persetujuan Penyidik Penuntut Umum dan Hakim
Di dalam Permenkumham No. 7 Tahun 2016 disebutkan mengenai dasar MKN memberikan persetujuan penyidik, penuntut umum atau hakim. Dasar MKN memberikan persetujuan disebutkan didalam Pasal 25, Pasal 26 dan Pasal 27 Permenkumham.
Majelis pemeriksa memberikan persetujuan atau penolakan setelah mendengar keterangan langsung dari Notaris yang bersangkutan. Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam berita acara pemeriksaan.
Dalam hal majelis pemeriksa memberikan persetujuan atas permohonan penyidik, penuntut umum, atau hakim, Notaris wajib:
a. memberikan fotokopi minuta akta dan/atau surat-surat yang diperlukan kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim; dan
b. menyerahkan fotokopi minuta akta dan/atau surat-surat sebagaimana dimaksud dalam huruf a dengan dibuatkan berita acara penyerahan yang ditandatangani oleh Notaris dan penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi.
Pengambilan minuta Akta dan/atau surat-surat Notaris dalam penyimpanan Notaris sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Permenkumham, dilakukan dalam hal:
surat yang dilekatkan pada minuta akta atau protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris;
b. belum gugur hak menuntut berdasarkan ketentuan tentang daluwarsa dalam peraturan perundang-undangan di bidang hukum pidana;
c. adanya penyangkalan keabsahan tanda tangan dari salah satu pihak atau lebih;
d. adanya dugaan pengurangan atau penambahan atas minuta akta; atau e. adanya dugaan Notaris melakukan pemunduran tanggal (antidatum).
Pemberian persetujuan kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim untuk kepentingan proses peradilan dalam pemanggilan Notaris, dilakukan dalam hal:
a. adanya dugaan tindak pidana berkaitan dengan minuta akta dan/atau surat-surat Notaris dalam penyimpanan Notaris;
b. belum gugur hak menuntut berdasarkan ketentuan tentang daluwarsa dalam peraturan perundang-undangan di bidang hukum pidana;
c. adanya penyangkalan keabsahan tanda tangan dari salah satu pihak atau lebih;
d. adanya dugaan pengurangan atau penambahan atas Minuta Akta; atau e. adanya dugaan Notaris melakukan pemunduran tanggal (antidatum).
Berdasarkan hasil penelitian penulis di Majelis Kehormatan Notaris Wilayah Sumatera Utara, di dapat data surat masuk ke Majelis Kehormatan Notaris Wilayah
umum atau hakim, sebagai berikut:168
DATA NOTARIS YANG DILAKUKAN PEMANGGILAN PERSETUJUAN MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS WILAYAH SUMATERA UTARA OLEH
PENYIDIK, PENUNTUT UMUM DAN HAKIM PERIODE BULAN JANUARI 2017 SAMPAI SEPTEMBER 2017
Tabel 1
BULAN JANUARI 2017
No Jumlah Surat Masuk dari Aparat Penegak Hukum
Pasal yang
disangkakan Tindak Lanjut Keterangan Polisi Jaksa PN Ditjen
Pajak Disetujui Ditolak
1 12 - - -
No Jumlah Surat Masuk dari Aparat Penegak Hukum
Pasal yang
disangkakan Tindak Lanjut Keterangan Polisi Jaksa PN Ditjen
Pajak Disetujui Ditolak
1 9 - - -
168Hasil wawancara dari Surya Darma (Anggota Majelis Kehormatan Notaris Wilayah Sumatera Utara) pada tanggal 17 Nopember 2017.
No Jumlah Surat Masuk dari Aparat Penegak Hukum
Pasal yang
disangkakan Tindak Lanjut Keterangan Polisi Jaksa PN Ditjen
Pajak Disetujui Ditolak
1 23 1 -
No Jumlah Surat Masuk dari Aparat Penegak Hukum
Pasal yang
disangkakan Tindak Lanjut Keterangan Polisi Jaksa PN Instansi
Lain Disetujui Ditolak
1 14 - - -
No Jumlah Surat Masuk dari Aparat Penegak Hukum
Pasal yang
disangkakan Tindak Lanjut Keterangan Polisi Jaksa PN Instansi
Lain Disetujui Ditolak
1 14 - - -
No Jumlah Surat Masuk dari Aparat Penegak Hukum
Pasal yang
disangkakan Tindak Lanjut Keterangan Polisi Jaksa PN Instansi
Lain Disetujui Ditolak
1 9 - -
No Jumlah Surat Masuk dari Aparat Penegak Hukum
Pasal yang
disangkakan Tindak Lanjut Keterangan Polisi Jaksa PN Instansi
Lain Disetujui Ditolak
1 6 - - -
BULAN AGUSTUS 2017
No Jumlah Surat Masuk dari Aparat Penegak Hukum
Pasal yang
disangkakan Tindak Lanjut Keterangan Polisi Jaksa PN Ditjen
Pajak Disetujui Ditolak
1 9 - - -
No Jumlah Surat Masuk dari Aparat Penegak Hukum
Pasal yang
disangkakan Tindak Lanjut Keterangan Polisi Jaksa PN Instansi
Lain Disetujui Ditolak
1 8 - - -
Dari data tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa total surat yang masuk hingga september tahun 2017 adalah 107, jumlah permohonan yang ditolak sebanyak 70, jumlah permohonan yang disetujui sebanyak 20 sisanya sebanyak 17 berkas belum dapat diproses karena Notaris yang bersangkutan sudah meninggal dunia atau
sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan pemanggilan.
Majelis Kehormatan Notaris dapat menolak permintaan pemanggilan Notaris untuk hadir atau tidak mengijinkan Notaris yang bersangkutan untuk hadir berdasarkan permintaan penyidik, penuntut umum atau hakim sepanjang Notaris yang bersangkutan telah membuat Akta sesuai dengan UUJN dan tidak melakukan pelanggaran yang terkategori dalam Pasal 27 Permenkumham.169
Dasar pertimbangan Majelis Kehormatan Notaris menolak memberikan persetujuan atas permintaan penyidik, penuntut umum dan hakim yaitu:170
1. Akta/dokumen yang dimaksudkan dalam permintaan penyidik/penuntut umum atau hakim setelah dilakukan pemeriksaan oleh Majelis Pemeriksa ternyata:
a. Tidak ada relevansinya dengan akta yang dibuat oleh Notaris yang bersangkutan.
b. Terdapat kesalahan menyebutkan tanggal atau nomor akta antara yang disebutkan dalam permintaan penyidik, penuntut umum dan hakim dengan yang dibuat oleh Notaris yang bersangkutan.
c. Akta yang dibuat adalah bukan akta Notaris akan tetapi akta PPAT.
d. Terhadap persoalan yang dimaksudkan oleh penyidik telah dilakukan penyelesaian oleh para pihak dengan suatu perdamaian
169Wawancara dengan Risna Rimah (Anggota MKN Wilayah Sumatera Utara), tanggal 16 Nopember 2017
170Suprayitno,Beberapa Permasalahan Umum Notaris Sumatera Utara Terkait Ketentuan Pasal 66 Undang-Undang Jabatan Notaris. Materi Seminar Nasional Notaris oleh Pengwil INI Sumatera Utara, Hotel Grand Kanaya, Tanggal 5 Oktober 2017.
sengketa telah diputuskan oleh hakim yang pada pokoknya akta yang dibuat oleh Notaris yang bersangkutan telah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
f. Notaris yang bersangkutan dalam membuat Akta didasarkan kepada suatu Surat Kuasa atau Akta Kuasa dimana permasalahannya bukan terletak pada Akta yang dibuat oleh Notaris yang bersangkutan akan tetapi berdasarkan kepada Akta Kuasa yang dibuat oleh Notaris lain.
g. Notaris dalam membuat Akta didasarkan kepada Surat Keterangan waris.
Dalam membuat akta sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ternyata terdapat kesalahan dalam Surat Keterangan waris yang bersangkutn.
h. Terhadap objek dalam Akta sebelum dibuat Akta telah dilakukan sesuai dengan prosedur sesuai dengan ketentuan yang berlaku, misalnya telah dilakukan pengecekan pada kantor pertanahan terhadap tanah yang belum bersertifikat telah dimintakan surat tidak ada sengketa dari lurah dan camat serta telah dikeluarkan surat penguasaan fisik yang diketahui oleh kepala desa/lurah tempat dimana objek berada serta bukti-bukti kepemilikan sempurna dan secara runtut telah diperiksa oleh Notaris yang bersangkutan.
A. Hak Ingkar dan Wajib Ingkar
Pasal 16 ayat (1) huruf f UUJN Perubahan disebutkan bahwa Notaris berkewajiban untuk merahasiakan segala sesuatu yang mengenai Akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan Akta sesuai dengan sumpah jabatan, kecuali Undang-Undang menentukan lain. Ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf f UUJN Perubahan ini ditempatkan sebagai kewajiban ingkar Notaris.
Notaris wajib merahasiakan isi akta dan keterangan yang diperoleh dalam pembuatan Akta Notaris, kecuali diperintahkan oleh Undang-Undang bahwa Notaris tidak wajib merahasiakan dan memberikan keterangan yang diperlukan berkaitan dengan Akta tersebut, dengan demikian batasannya hanya Undang-Undang saja yang dapat memerintahkan Notaris untuk membuka rahasia isi Akta dan keterangan/pernyataan yang diketahui Notaris yang berkaitan dengan pembuatan Akta yang dimaksud.171
Hak ingkar adalah hak untuk menolak memberikan kesaksian, atau hak untuk mundur dari kesaksian. Di dalam hak ingkar Notaris tersebut terkandung
171 Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia Tafsir&.. hlm. 89
tidakhanya berhak untuk tidak bicara, akan tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara.99
Hak ingkar adalah merupakan konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahui.100 Yang menjadi dasar filosofis hak ingkar bagi jabatan-jabatan kepercayaan terletak pada kepentingan masyarakat, agar apabila seseorang yang berada dalam keadaan kesulitan, dapat menghubungi seseorang kepercayaan untuk mendapatkan bantuan yang dibutuhkannya di bidang yuridis, medis atau kerohanian dengan keyakinan bahwa ia akan mendapat nasehat-nasehat, tanpa yang demikian itu akan merugikan baginya.101
Menurut Van Bemmelen ada tiga dasar untuk dapat menuntut penggunaan hak ingkar ini, yaitu karena:
Hal tersebut sesuai dengan penjelasan Pasal 16 ayat (2) UUJN yang menyebutkan bahwa kewajiban untuk merahasiakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Akta dan surat-surat lainnya adalah untuk melindungi kepentingan pihak yang terkait dengan Akta tersebut.
102
1. Hubungan keluarga yang sangat dekat;
2. Bahaya dikenakan hukuman pidana;
3. Kedudukan, pekerjaan dan rahasia jabatan
99G.H.S. Lumban Tobing, hlm. 122
100A. Kohar, Notaris Berkomunikasi, (Bandung : Penerbit Alumni, 1984), hlm. 156
101G.H.S. Lumban Tobing, op. cit., hlm. 121
102G.H.S. Ibid.
adalah terbatas pada isi Akta (Peraturan Jabatan Notaris) yang selanjutnya diperluas menjadi isi Akta dan keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan jabatan (UUJN).
Adanya Hak Ingkar tersebut membuat Notaris sebagai jabatan kepercayaan wajib untuk menyimpan rahasia mengenai Akta yang dibuatnya dan keterangan pernyataan para pihak yang diperoleh dalam pembuatan Akta kecuali Undang-Undang memerintahkannya untuk membuka rahasia dan memberikan keterangan/pernyataan tersebut kepada pihak yang memintanya. Tindakan seperti ini merupakan suatu kewajiban Notaris berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (2) UUJN dan Pasal 16 ayat (1) huruf e UUJN.
Notaris adalah jabatan kepercayaan (vertrouwens ambt) dan oleh karenanya seseorang bersedia mempercayakan kepadanya sebagai seorang kepercayaan (vertrouwens persoon). Notaris wajib merahasiakan semua apa yang diberitahukan kepadanya selaku Notaris sekalipun ada sebagian yang tidak dicantumkan dalam Akta.
Dengan adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai keharusan atau kewajiban merahasiakan isi Akta sesuai dengan jabatan, maka pihak penegak hukum lain yang untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan meminta persetujuan dari Majelis Kehormatan Notaris, berwenang mengambil fotokopi minuta akta/surat-surat yang dilekatkan pada minuta akta atau protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris dan memanggil Notaris untuk
berada dalam penyimpanan Notaris.
Kewajiban Ingkar dapat dilakukan dengan batasan sepanjang Notaris yang diperiksa oleh instansi mana saja yang berupaya meminta pernyataan atau keterangan dari Notaris yang berkaitan dengan Akta yang telah atau dibuat oleh atau di hadapan Notaris yang bersangkutan. Pasal 1909 ayat (3) KUHPerdata disebutkan yaitu:
“Semua orang yang cakap untuk menjadi saksi, wajib memberikan kesaksian di muka Hakim. Namun dapatlah meminta dibebaskan dari kewajiban memberikan kesaksian;
Ayat (3) siapa saja yang karena kedudukannya, pekerjaannya atau jabatannya diwajibkan Undang-Undang untuk merahasiakan sesuatu, namun hanya mengenai hal-hal yang dipercayakan kepadanya karena kedudukan, pekerjaan dan jabatannya itu”. Selanjutnya Pasal 146 ayat (1) angka 3 HIR disebutkan bahwa:
(1) Boleh mengundurkan dirinya untuk memberikan kesaksian, sekalian orang yang karena martabatnya, pekerjaan atau jabatan yang sah diwajibkan menyimpan rahasia, akan tetapi hanya semata-mata mengenai pengetahuan yang diserahkan kepadanya karena martabat, pekerjaan atau jabatannya itu.
(2) Kesungguhan kewajiban menyimpan rahasia yang dikatakan itu, terserah dalam pertimbangan Pengadilan Negeri.
Keharusan untuk merahasiakan sesuatu yang berkaitan dengan jabatan diatur pula dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, yakni Pasal 170 ayat (1) yang menyatakan bahwa, mereka yang karena pekerjaan, harkat, martabat, atau juga jabatannya diwajibkan untuk menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari
dipercayakan kepadanya.103
Jika ternyata Notaris sebagai saksi atau tersangka, tergugat ataupun dalam pemeriksaan oleh MKN Notaris membuka rahasia dan memberikan keterangan/pernyataan yang seharusnya wajib dirahasiakan, sedangkan Undang-Undang tidak memerintahkannya, maka atas pengaduan pihak yang merasa dirugikan kepada pihak yang berwajib dapat diambil tindakan atas Notaris tersebut, tindakan Notaris seperti ini dapat dikenakan sanksi Pidana yang terdapat pada Pasal 322 ayat (1) dan ayat (2) KUHP. Berdasarkan Pasal 322 Ayat (1) dan ayat (2) disebutkan sebagai berikut yaitu:
Notaris sebagai jabatan kepercayaan wajib untuk menyimpan rahasia mengenai Akta yang dibuatnya dan keterangan/pernyataan para pihak yang diperoleh dalam pembuatan Akta, kecuali Undang-Undang yang memerintahkannya untuk membuka rahasia dan memberikan keterangan/pernyataan tersebut kepada pihak yang memintanya. Tindakan seperti ini merupakan suatu kewajiban Notaris berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 16 ayat (1) huruf f UUJN Perubahan.
(1) Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencahariannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau pidana denda paling banyak Sembilan ribu rupiah.
103Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
dapat dituntut atas pengaduan orang itu.
Dengan demikian, bagian dari sumpah/janji jabatan Notaris yang berisi bahwa Notaris akan merahasiakan isi Akta dan keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan jabatan Notaris dan dikaitkan dengan ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf f UUJN Perubahan karena ditempatkan sebagai kewajiban ingkar Notaris dapat disebut sebagai suatu kewajiban ingkar (Verschoningsplicht) Notaris.
Oleh karena itu, agar Notaris dapat memberikan pelayanan jasa secara maksimal serta menghasilkan produk akta yang benar-benar terjaga otentisitasnya sehingga memiliki nilai dan bobot yang handal, serta tidak menimbulkan kerugian bagi diri Notaris dan masyarakat yang membutuhkan jasanya, maka Notaris harus mengindahkan yang menjadi tugas dan kewajiban yang diamanatkan baik oleh UUJN, Kode Etik Notaris maupun perundang-undangan yang terkait, serta menghindari larangan-larangan yang telah ditentukan.
B. Kewajiban Notaris Memenuhi Panggilan Penyidik
Notaris sebagai pejabat pembuat Akta Otentik sering kali ikut dipanggil sebagai saksi ketika terjadi sengketa yang berkaitan dengan Akta yang dibuatnya.
Bahkan Notaris juga berkedudukan sebagai pihak terlapor dalam suatu laporan penyidik.
Berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri, pada Pasal 16 dinyatakan bahwa dalam rangka menyelenggarakan tugas di bidang proses pidana, Kepolisian Negara Republik Indonesia berwenang untuk :
Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan. (c). Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan. (d). Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri, (e). Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat, (f). Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka dan saksi, (g). Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan
Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan. (c). Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan. (d). Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri, (e). Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat, (f). Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka dan saksi, (g). Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan