• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS

TESIS

Oleh

IWARIS HAREFA 157011271/M.Kn

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

IWARIS HAREFA 157011271/M.Kn

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(3)
(4)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Budiman Ginting S.H., M.Hum Anggota : 1. Prof. Dr. Saidin S.H., M.Hum

2. Notaris Dr. Suprayitno S.H., M.Kn

3. Dr. T. Keizerina Devi A S.H., CN., M.Hum 4. Dr. Edy Ikhsan S.H., M.A

(5)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : IWARIS HAREFA

Nim : 157011271

Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU

Judul Tesis : KEWENANGAN MAJELIS KEHORMATAN

NOTARIS DALAM MEMBERIKAN PERSETUJUAN TERHADAP PEMANGGILAN PENYIDIK PENUNTUT UMUM DAN HAKIM BERKAITAN DENGAN KETENTUAN PASAL 66 AYAT ( 1 ) UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya sendiri.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan,

Yang membuat Pernyataan

Nama : IWARIS HAREFA Nim : 157011271

(6)

terhormat, luhur dan mulia (officium nobile), jabatan Notaris sebagai seorang pejabat umum, merupakan tempat bagi seseorang untuk dapat memperoleh nasihat yang bisa di andalkan. Semenjak disahkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, telah hadir lembaga baru bernama Majelis Kehormatan Notaris. Peran penting lembaga baru ini adalah menggantikan peran dan kewenangan yang telah dilakukan oleh Majelis Pengawas Daerah dalam memberikan persetujuan atau penolakan atas pemanggilan penyidik, penuntut umum dan hakim yang disebutkan dalam Pasal 66 ayat ( 1 ). Dalam hal ini Bagaimana pembinaan yang dilakukan Majelis Kehormatan Notaris sesuai dengan ketentuan Pasal 66 Undang-Undang Jabatan Notaris, Bagaimana dasar hukum Majelis Kehormatan Notaris dalam memberikan persetujuan atas permintaan penyidik, penuntut umum dan hakim berkaitan dengan ketentuan Pasal 66 Undang-Undang Jabatan Notaris, Bagaimana hak dan kewajiban Notaris setelah Majelis Kehormatan Notaris memberikan persetujuan.

Jenis penelitian hukum yang dilakukan adalah penelitian yuridis normatif atau penelitian yang menganalisis hukum, baik yang tertulis dalam buku (law in book) maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan, pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan peraturan perundang- undangan (statute approach). Sehingga ditemukan suatu azas-azas hukum yang berupa dogma atau doktrin hukum yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat digunakan untuk menganalisis permasalahan yang dibahas, yang dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan pokok permasalahan dalam penulisan tesis ini, yaitu mengenai kewenangan Majelis Kehormatan Notaris dalam memberikan persetujuan pemanggilan penyidik, penuntut umum dan hakim berkaitan dengan ketentuan Pasal 66 ayat ( 1 ) Undang-Undang Jabatan Notaris.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa, kewenangan Majelis Kehormatan Notaris dalam melakukan pembinaan kepada Notaris tidak diatur dan dijelaskan mekanismenya secara rinci dan konkrit dalam peraturan perundang-undangan. Dasar kewenangan Majelis Kehormatan Notaris dalam memberikan persetujuan pemanggilan oleh penyidik, penuntut umum dan hakim adalah Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris dan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2016 tentang Majelis Kehormatan Notaris. Hak dan kewajiban Notaris setelah Majelis Kehormatan Notaris memberikan persetujuan adalah mendapatkan pendampingan dari Majelis Kehormatan Notaris.

Kata Kunci : Notaris, Pasal 66 dan Majelis Kehormatan Notaris

(7)

people. It is one of the honorable and noble professions (officium nobile). As a public official, a Notary is the one who is trusted to give advice. Since Law No. 2/2014 on the Amendment of Law No. 30/2004, the Notarial Honorary Council has been established. The role and authority of this new institution replaces the role and authority of the Regional Advisory Council in giving approval of summoning a Notary by investigator, general prosecutor, and judge stipulated in Article 66, paragraph 1. The research problems are how about the guidance done by the Notarial Advisory Council according to Article 66 of the Notarial Act, how about the legal ground of the Notarial Honoray Council in giving approval of summoning by investigator, general prosecutor, and judge stipulated in Article 66 of the Notarial Act, and how about the right and obligation of a Notary after the Notarial Honorary Council has given their approval.

The research used juridical normative method which analyzed laws in books and in judges’ verdicts, using statute approach, so that legal principles like legal dogma and doctrines were found to analyze the research problems and to answer the questions according to the subject matter of the analysis, especially in the authority of the Notarial Honorary Council in giving approval of summoning by investigator, general prosecutor, and judge stipulated in Article 66 of the Notarial Act.

The result of the research shows thatthe authority of the Notarial Honorary Council in giving guidance to a Notary is not regulated and explained in detail and concretely in the legal provisions. The legal ground of the authority of the Notarial Honrary Council in giving approval of summoning by investigator, general prosecutor, and judge is stipulated in Article 66, paragraph 1 of Law No. 2/2014 on the Amendment of Law No. 30/2004 on Notarial Position and the Decree of the Minister of Law and Human Rights No. 7/2016 on Notarial Honorary Council. The right and obligation of a Notary after the Notarial Honorary Council gives approval is to get providing support from the Notarial Honorary Council.

Keywords: Notary, Article 66, Notarial Honorary Council

(8)

Segala puji dan syukur Penulis panjatkan bagi Tuhan Yang Maha Esa, atas segala kasih dan karunia-Nya sehingga Penulis mampu untuk menjalani perkuliahan sampai pada tahap penyelesaian penulisan tesis ini dengan baik.

Penulisan tesis ini diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara. Adapun judul dari tesis ini adalah “KEWENANGAN MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS DALAM MEMBERIKAN PERSETUJUAN TERHADAP PEMANGGILAN PENYIDIK PENUNTUT UMUM DAN HAKIM BERKAITAN DENGAN KETENTUAN PASAL 66 AYAT ( 1 ) UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS”. Dalam penulisan tesis ini, Penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan didalam penulisan tesis ini, oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis akan sangat berterimakasih jika ada kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan tesis ini.

Dalam penulisan dan penyusunan tesis ini, saya mendapat bimbingan dan pengarahan serta saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang tak terhingga secara khusus kepada Ketua Komisi Pembimbing Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, Prof. Dr. Saidin, S.H., M.Hum, dan Notaris Dr. Suprayitno, S.H., M.Kn, masing- masing selaku anggota Komisi Pembimbing yang banyak memberikan masukan dan bimbingan kepada saya selama dalam penyelesaian tesis ini. Terimakasih kepada Tim Penguji Dr. T. Keizerina Devi A, S.H., CN, M.Hum dan Dr. Edy Ikhsan, S.H., MA, atas bimbingan dan masukan dalam menyelesaikan tesis ini.

Penulis telah banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak dan pada kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan dalam menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. Keizerina Devi A, S.H., C.N., M.Hum selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Dr. Edy Ikhsan, S.H., M.A selaku Sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.

5. Kepada kedua Orang Tua penulis tercinta yaitu Faododo Harefa (Almarhum) dan Urusani Telaumbanua yang telah membesarkan, mendidik dan membimbing saya hingga saya bisa menjalani Pendidikan hingga Strata II (S2).

(9)

7. Bapak dan Ibu Dosen serta seluruh Staf Pegawai Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang turut mendukung segala urusan perkuliahan dan administrasi Penulis selama ini.

8. Terimakasih buat teman-teman Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara yang turut membantu dan memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

Semoga penulisan tesis ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan untuk perkembangan ilmu kenotariatan pada khususnya.

Medan, Februari 2018 Penulis,

(IWARIS HAREFA NIM. 157011271

)

(10)

I. IDENTITAS PRIBADI

Nama : Iwaris Harefa

Tempat/tanggal lahir : Onowaembo 24 Maret 1985

Alamat : Jalan Vila Bogor Indah No. 34 Blok EE4 Kelurahan Ciparigi- Kecamatan Bogor Utara

Jenis Kelamin : Laki-Laki Kewarganegaraan : Indonesia

Agama : Kristen Protestan

Nama Ayah : Faododo Harefa (Alm)

Nama Ibu : Urusani Telaumbanua

II. PENDIDIKAN

Sekolah Dasar : SD Negeri No. 070985 Onowaembo Lulus tahun 1997

Sekolah Menengah Pertama : SMP Negeri 2 Gunungsitoli Lulus tahun 2000

Sekolah Menengah Atas : SMA Swasta Kristen BNKP Gunungsitoli Lulus tahun 2003

Universitas : S1 Fakultas Hukum Universitas Pancasila Lulus tahun 2011

Universitas : S2 Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Lulus tahun 2018

(11)

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 10

E. Keaslian Penelitian ... 11

F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 13

1. Kerangka Teori ... 13

2. Konsepsi ... 21

G. Metode Penelitian ... 23

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 23

2. Sumber Data Penelitian ... 24

3. Teknik Pengumpulan Data ... 25

(12)

BAB II PEMBINAAN NOTARISOLEH MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS SESUAI DENGAN KETENTUAN PASAL 66 UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG

JABATAN NOTARIS ... 28

A. Notaris Sebagai Pejabat Umum ... 28

B. Kewenangan, Tanggung Jawab dan Kewajiban NotarisBerdasarkan Undang-Undang Jabatan Notaris ... 38

1. Kewenangan Notaris ... 35

2. Tanggungjawab Notaris ... 40

3. Kewajiban Notaris ... 44

C. Larangan Profesi Jabatan Notaris... 48

D. Rahasia Jabatan Profesi Notaris ... 52

E. Akta Notaris Sebagai Alat Bukti ... 55

F. Akta Notaris Sebagai Dasar Perbuatan Pidana ... 59

G. Pembinaan Notaris oleh Majelis Kehormatan Notaris sesuai dengan ketentuan Pasal 66 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris ... 63

BAB III DASAR HUKUM MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS DALAM MEMBERIKAN PERSETUJUAN PENYIDIK, PENUNTUT UMUM DAN HAKIM ... 68

A. Pengertian Majelis Kehormatan Notaris ... 68

B. Unsur dan Susunan Majelis Kehormatan Notaris ... 72

(13)

Notaris Pusat ... 72

2. Tugas Kewenangan dan Fungsi Majelis Kehormatan Notaris Wilayah ... 73

D. Dasar Hukum Majelis Kehormatan Notaris Memberikan Persetujuan Penyidik, Penuntut Umum dan Hakim ... 81

BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN NOTARIS SETELAH MAJELIS KEHORMATAN NOTARIS MEMBERIKAN PERSETUJUAN . 89

A. Hak ingkar dan Wajib Ingkar ... 89

B. Kewajiban Notaris Memenuhi Panggilan Penyidik ... 94

C. Hak dan Kewajiban Notaris setelah Majelis Kehormatan Notaris Memberikan Persetujuan ... 101

1. Mendapatkan Pendampingan dari Majelis Kehormatan Notaris ... 101

2. Mendapatkan Perlindungan Hukum dari Majelis Kehormatan Notaris Terhadap Pembukaan Rahasia Akta Notaris ... 103

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 109

A. Kesimpulan ... 104

B. Saran ... 110

DAFTAR PUSTAKA ... 112

(14)

A. Latar Belakang

Lembaga Notariat berdiri di Indonesia dimulai sejak Tahun 1860.1 Lembaga ini timbul dari kebutuhan dalam pergaulan sesama manusia, yang menghendaki adanya alat bukti baginya mengenai hubungan hukum keperdataan yang ada dan/atau terjadi diantara mereka.2

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 (yang untuk selanjutnya disebut UUJN Perubahan) tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 (yang untuk selanjutnya disebut UUJN) tentang Jabatan Notaris, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat Akta Otentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan Undang-Undang lainnya.3

Notaris merupakan jabatan kepercayaan dalam rangka menjalankan profesi dalam pelayanan hukum kepada masyarakat. Notaris merupakan salah satu profesi terhormat, luhur dan mulia (officium nobile), jabatan Notaris sebagai seorang pejabat

1G.H.S. Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, cet. ke 2, 1983, Erlangga Jakarta. hlm.

1

2Ibid., hlm. 2

3Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris

(15)

umum, merupakan tempat bagi seseorang untuk dapat memperoleh nasihat yang bisa di andalkan. Segala sesuatu yang ditulis serta ditetapkannya (konstantir) adalah benar, ia adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum.51

Salah satu kewenangannya adalah membuat Akta Otentik. Sifat dari Akta yang dibuat oleh pejabat umum adalah Akta Otentik mempunyai nilai pembuktian yang sempurna. Notaris dan produk Aktanya dapat dimaknai sebagai upaya Negara untuk menciptakan kepastian dan perlindungan hukum bagi anggota masyarakat.

Peranan dan kewenangan Notaris sangat penting bagi pembangunan hukum di masyarakat, sehingga perlu mendapat perlindungan dan jaminan demi tercapainya kepastian hukum.

52

Berdasarkan Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (untuk selanjutnya disebut KUHPerdata), menyebutkan bahwa Akta Otentik ialah “Suatu Akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang. Dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat dimana Akta dibuatnya”.

Setiap orang yang ingin melakukan perjanjian maka akan mengarah pada Notaris sebagai sarana keabsahan perjanjian yang dilakukan diantara kedua belah pihak.

53

Dalam pembuatan Akta Otentik, Notaris harus memuat keinginan atau kehendak para pihak yang dituangkan kedalam Akta tersebut. Hal ini diatur dalam

51Tan Thong Kie, Buku I Studi Notariat Serba-Serbi Praktek Notaris, cet. 2, (Jakarta: PT.

Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000), hlm. 157

52Hartanti Sulihandari dan Nisya Rifiani. 2013. Prinsip-Prinsip Dasar Profesi Notaris.

Dunia Cerdas. Jakarta Timur. hlm. 3

53Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

(16)

Pasal 15 Ayat (1) UUJN Perubahan. Sebagai jabatan kepercayaan Notaris wajib merahasiakan isi Akta dan segala keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan jabatannya. Hal ini sejalan dengan sumpah jabatan yang diucapkan sebelum Notaris melaksanakan jabatannya, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 4 Ayat 2 UUJN Nomor 30 Tahun 2004. Notaris tidak bisa secara bebas mengungkapkan atau membocorkan rahasia jabatannya kepada siapapun kecuali terdapat peraturan perundang-undangan lain yang memperbolehkannya untuk membuka rahasia jabatannya.

Sumpah jabatan tersebut ditegaskan sebagai salah satu kewajiban Notaris yang diatur dalam Pasal 16 ayat (1) huruf f UUJN, yang menyatakan bahwa dalam menjalankan jabatanya, Notaris berkewajiban merahasiakan segala sesuatu mengenai Akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan Akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali Undang-Undang menentukan lain.

Notaris sebagai pejabat umum dalam menjalankan tugas, kewajiban dan kewenangannya memperoleh perlindungan hukum penuh dari Pasal 66 ayat (1) UUJN No. 30 Tahun 2004, dimana pengambilan dokumen-dokumen yang berada dalam penyimpanan Notaris tidak bisa dilakukan secara sewenang-wenang oleh penyidik, penuntut umum maupun hakim dalam suatu proses pemeriksaan untuk kepentingan hukum.54

54Ellise T Sulastini dan Wahyu Aditya, Pertanggungjawaban Notaris Terhadap Akta yang Berindikasi Pidana, (Bandung: Refika Aditama, 2010), hlm. 7

(17)

Disamping itu pemanggilan Notaris untuk diperiksa maupun dihadirkan sebagai saksi juga tidak dapat dilakukan secara langsung oleh penyidik, penuntut umum atau hakim dalam suatu proses pemeriksaan baik di tingkatpenyelidikan, penyidikan oleh kepolisian, maupun di tingkat penuntutan dan pemeriksaan perkara di pengadilan.

Sebelum dikeluarkannya Putusan Mahkamah Konstitusi No. 49/PUU- X/2012, Notaris pada saat menjadi saksi, terdakwa atau tergugat dalam suatu kasus, maka penyidik, penuntut umum, atau hakim yang akan melakukan pemanggilan harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Majelis Pengawas Daerah (yang untuk selanjutnya disebut MPD) yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap Notaris sebagaimana disebutkan dalam Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang jabatan Notaris.

MPD adalah suatu badan yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pengawasan dan pembinaan terhadap Notaris yang berkedudukan di Kabupaten/Kota.55 Kewenangan MPD berdasarkan Pasal 66 ayat (1) UUJN disebutkan yaitu;56

1. Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah berwenang;

55Pasal 69 UU No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

56Pasal 66 UU No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

(18)

a. mengambil fotokopi Minuta Akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris;

dan

b. memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan Akta yang dibuatnya atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris.

Pasal 66 ayat (2) UUJN Nomor 30 Tahun 2004 lebih jauh memberikan perlindungan hukum terhadap Notaris dengan menyebutkan bahwa, “Pengambilan fotokopi minuta Akta atau surat-surat sebagaimana dimaksud pada Pasal 66 ayat (1) huruf a, dibuat berita acara penyerahan”.

Ketentuan Pasal 66 ayat (1) UUJN Nomor 30 Tahun 2004 telah dibatalkan dan dinyatakan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat oleh Mahkamah Konstitusi (yang untuk selanjutnya disebut MK) karena dianggap bertentangan dengan persamaan kedudukan dalam hukum dan perlindungan serta kepastian hukum sebagaimana dijamin dalam Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 melalui Putusannya Nomor 49/PUU- X/2012.

MK beralasan bahwa frasa “dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah”

bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan bertentangan dengan kewajiban seorang Notaris sebagai warga negara yang memiliki kedudukan sama di hadapan hukum serta bertentangan dengan prinsip equality before

(19)

the law,57

Pasal 27 Ayat (1) disebutkan sebagai berikut:

sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28 D ayat (1), yaitu:

58

Pasal 28 D Ayat (1) dinyatakan sebagai berikut:

“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.

59

Putusan MK tersebut juga otomatis menyebabkan tidak berlakunya lagi Pasal 66, dan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.03.HT.03.10 Tahun 2007 tentang pengambilan minuta dan pemanggilan Notaris. Menurut Muh. Rikaz Prabowo bahwa keputusan MK menghapuskan persetujuan pemanggilan Notaris oleh MPD tersebut akan menimbulkan banyak masalah bagi Notaris karena pengawasan sangat penting untuk menghindari ancaman pidana bagi Notaris dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dan banyak sekali Notaris yang sangat khawatir dengan resiko pekerjaan, tugas dan jabatannya.

“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”.

60

57Azhary, Negara Hukum Indonesia Analisis Yuridis Normatif Tentang Unsur-unsurnya, Jakarta, UI Press, 1995, hlm. 42

58Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

59Pasal 28 D ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

60Muh. Rikaz Prabowo, Perlindungan Hukum Pemanggilan dan Pengambilan Minuta Akta Notaris Paska Berlakunya UU No 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (UUJN-P), Jurnal Hukum Novelity, Vol 7 No. 1 Februari 2016, hlm. 114

(20)

Semenjak disahkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, telah hadir lembaga baru bernama Majelis Kehormatan Notaris (yang untuk selanjutnya disebut MKN). Peran penting lembaga baru ini adalah menggantikan peran dan kewenangan yang telah dilakukan oleh MPD dalam memberikan persetujuan pemanggilan Notaris oleh penyidik, penuntut umum dan hakim.

Kehadiran lembaga MKN ini dapat dilihat di dalam ketentuan Pasal 66 ayat (1) UUJN Perubahan, yang menyatakan, sebagai berikut:

(1) Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan persetujuan majelis kehormatan Notaris berwenang:

a. mengambil fotokopi Minuta Akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris; dan

b. memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan Akta atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris.

Selanjutnya pada tanggal 5 Februari 2016 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia menerbitkan aturan teknis yaitu Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (yang untuk selanjutnya disebut Permenkumham) Nomor 7 Tahun 2016 tentang Majelis Kehormatan Notaris. Majelis Kehormatan Notaris adalah suatu badan yang mempunyai kewenangan untuk melakukan pembinaan Notaris dan kewajiban memberikan persetujuan atau penolakan untuk kepentingan penyidikan

(21)

dan proses peradilan, atas pengambilan fotokopi minuta Akta dan pemanggilan Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan Akta atau protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris.61

Permenkumham Nomor 7 Tahun 2016 disebutkan bahwa Majelis Kehormatan Notaris terdiri dari 7 (tujuh) orang anggota yang terdiri atas 1 (satu) orang Ketua, 1 (satu) orang Wakil Ketua, dan 5 (lima) orang anggota. Majelis Kehormatan Notaris dipilih untuk masa jabatan 3 (tiga) tahun, dan dapat diangkat kembali. Unsur Majelis Kehormatan Notaris terdiri dari pemerintah, Notaris dan ahli/akademisi. Majelis Kehormatan Notaris terdiri dari Majelis Kehormatan Notaris Pusat (dibentuk oleh Menteri dan berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia), sedangkan Majelis Kehormatan Notaris Wilayah (dibentuk oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri dan berkedudukan di Ibukota Provinsi).

Majelis Kehormatan Notaris Pusat mempunyai tugas melaksanakan pembinaan terhadap Majelis Kehormatan Notaris Wilayah yang berkaitan dengan tugasnya. Dalam melaksanakan tugas pembinaan tersebut, Majelis Kehormatan Notaris Pusat mempunyai fungsi melakukan pengawasan terhadap Majelis Kehormatan Notaris Wilayah.62

Peran Majelis Kehormatan Notaris sangat diperlukan untuk memberikan suatu pembinaan dan perlindungan hukum bagi Notaris agar dapat terhindar dari pemasalahan hukum yang dapat menjatuhkan institusi Notaris sebagai lembaga

61Pasal 1 angka 1 Permenkumham Nomor 7 Tahun 2016 tentang Majelis Kehormatan Notaris

62Pasal 17 Permenkumham Nomor 7 Tahun 2016 tentang Majelis Kehormatan Notaris

(22)

kepercayaan bagi masyarakat. Namun beberapa hal terkait tugas dan kewenangan Majelis Kehormatan Notaris masih menjadi pertanyaan, Permenkumham Nomor 7 Tahun 2016 tidak di atur secara jelas atau konkrit seperti apa pembinaan yang merupakan kewenangan Majelis Kehormatan Notaris serta apa saja hak dan kewajiban Notaris setelah Majelis Kehormatan Notaris memberikan persetujuan pemanggilan Notaris oleh penyidik, penuntut umum atau hakim.

Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu suatu penelitian lebih lanjut mengenai

“Kewenangan Majelis Kehormatan Notaris dalam memberikan persetujuan terhadap pemanggilan penyidik, penuntut umum dan hakim berkaitan dengan ketentuan Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Bagaimana pembinaan yang dilakukan Majelis Kehormatan Notaris sesuai dengan ketentuan Pasal 66 Undang-Undang Jabatan Notaris?

2. Bagaimana dasar hukum Majelis Kehormatan Notaris dalam memberikan persetujuan atas permintaan penyidik, penuntut umum dan hakim berkaitan dengan ketentuan Pasal 66 Undang-Undang Jabatan Notaris?

3. Bagaimana hak dan kewajiban Notaris setelah Majelis Kehormatan Notaris memberikan persetujuan?

(23)

C. Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini ditentukan apa yang menjadi batasan materi yang akan diuraikan. Hal ini diperlukan agar materi atau isi dari penelitian ini tidak menyimpang dari pokok-pokok permasalahan sehingga pembahasannya dapat terarah dan diuraikan secara sistematis, penelitian ini bertujuan:

1. Untuk mengetahui pembinaan yang dilakukan Majelis Kehormatan Notaris sesuai dengan ketentuan Pasal 66 Undang-Undang Jabatan Notaris.

2. Untuk mengetahui dasar hukum Majelis Kehormatan Notaris dalam memberikan persetujuan atas permintaan penyidik, penuntut umum dan hakim berkaitan dengan ketentuan Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris.

3. Untuk mengetahui hak dan kewajiban Notaris setelah Majelis Kehormatan Notaris memberikan persetujuan.

D. Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian dan manfaat penelitian merupakan satu rangkaian yang hendak dicapai bersama, dengan demikian dari penelitian ini diharapakan dapat memberi manfaat sebagai berikut:

1. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan hukum khususnya bidang kenotariatan serta menambah khasanah perpustakaan.

2. Secara praktis, mengetahui kewenangan pemberian persetujuan pemeriksaan Notaris untuk kepentingan proses peradilan setelah di Undangkannya Undang-

(24)

Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran kepustakaan yang ada di lingkungan Universitas Sumatera Utara, khususnya di lingkungan program studi Magister Kenotariatan menunjukkan bahwa penelitian yang berjudul “Kewenangan Majelis Kehormatan Notaris Dalam Memberikan Persetujuan Terhadap Pemanggilan Penyidik, Penuntut Umum Dan Hakim Berkaitan Dengan Ketentuan Pasal 66 Ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris”. Ternyata penelitian ini belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Akan tetapi ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan kewenangan Majelis Kehormatan Notaris yang pernah diteliti sebelumnya, antara lain :

1. Junita Sila Kariani Zebua, Nim : 087011059, dengan judul penelitian “Analisis Yuridis Tugas Jabatan Notaris dan Perlindungan Hukum Terhadap Notaris”, Permasalahan yang diteliti yaitu:

a. Bagaimanakah Tanggung Jawab Notaris selaku pejabat umum dalam menjalankan jabatannya?

b. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap notaris selaku pejabat umum dalam menjalankan jabatannya?

c. Bagaimanakah kendala-kendala yang terjadi dalam melakukan tugas jabatan Notaris?

2. T Muzakkar, Nim : 067011095, dengan judul penelitian “Perbandingan Peranan Dewan Kehormatan dengan Majelis Pengawas Notaris dalam melakukan

(25)

Pengawasan setelah keluarnya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004”, permasalahan yang diteliti yaitu:

a. Bagaimanakah pengawas melakukan pengawasan bagi Notaris dalam pelaksanaan tugasnya sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris?

b. Apakah manfaat pengawasan bagi Notaris dalam pelaksanaan tugasnya?

c. Bagaimanakah perbandingan peranan Dewan Kehormatan dengan Majelis Pengawas Notaris dalam melakukan penagawasan setelah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004?

3. Andre Prima Sembiring, Nim : 137011016, dengan judul penelitian “Analisis Hukum Terhadap Kewenangan Majelis Pengawas Wilayah Dalam Penerapan Sanksi atas Pelanggaran Administrasi yang dilakukan Notaris Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris”, permasalahan yang diteliti yaitu:

a. Bagaimanakah kewenangan Majelis Pengawas Wilayah dalam melakukan penerapan sanksi yang terhadap pelanggaran Administrasi yang dilakukan oleh Notaris?

b. Bagaimanakah akibat hukum terhadap Notaris dan para pihak setelah dijatuhkan sanksi oleh Majelis Pengawas Wilayah atas pelanggaran administrasi yang berlaku bagi Notaris?

(26)

c. Bagaimanakah upaya hukum yang dilakukan notaris dan/atau pihak yang dirugikan atas putusan sanksi oleh Majelis Pengawas Wilayah terhadap pelanggaran yang dilakukan Notaris?

Berdasarkan hasil penelusuran judul tesis diatas dapat disimpulkan bahwa judul dan permasalahan dalam penelitian ini tidak memiliki kesamaan dengan judul dan permasalahan yang telah ada sebelumnya. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan “Kewenangan Majelis Kehormatan Notaris Dalam Memberikan Persetujuan Terhadap Pemanggilan Penyidik, Penuntut Umum Dan Hakim Berkaitan Dengan Ketentuan Pasal 66 Ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris”, dengan demikian penelitian ini adalah asli dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi, kemudian teori ini harus diuji dengan menghadapkan pada fakta-fakta yang menunjukkan ketidakbenaran, yang kemudian untuk menunjukkan bangunan berfikir yang tersusun sistematis, logis (rasional), empiris (kenyataan), juga simbolis.63

Menurut M. Solly Lubis bahwa di dalam melakukan sebuah penelitian diperlukan adanya landasan teoritis. Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir, pendapat, teori, tesis, mengenai suatu kasus atau permasalahan

63Otje Salman dan Anton F Susanto, Teori Hukum, Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali, Rafika Aditama Press, Jakarta, hlm. 21

(27)

(problem)yang menjadi bahan perbandingan pegangan teoritis, yang mungkin ia setujui ataupun tidak disetujuinya.64Sedangkan tujuan dari kerangka teori menyajikan cara-cara untuk bagaimana mengorganisasikan dan menginterprestasikan hasil-hasil penelitian dan menghubungkannya dengan hasil-hasil penelitian yang terdahulu.65

Dalam melakukan suatu penelitian diperlukan adanya kerangka teoritis sebagaimana yang dikemukakan oleh Ronny H. Soemitro bahwa untuk memberikan landasan yang mantap pada umumnya setiap penelitian harus selalu disertai dengan pemikiran teoritis.66 Soerjono Soekanto menyatakan bahwa kerangka teoritis mempunyai beberapa kegunaan. Kegunaan tersebut paling sedikit mencakup hal-hal, sebagai berikut:67

a. Teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.

b. Teori sangat berguna didalam mengembangkan system klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi-definisi.

c. Teori biasanya merupakan suatu ikhtisar dari pada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang ditelit.

64 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1994), hlm.

80

65 Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm. 19

66 Ronny H. Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982), hlm. 37

67Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum,Jakarta: Universitas Indonesia, hlm. 122

(28)

d. Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin faktor-faktor tersebut akan timbul lagi pada masa mendatang.

e. Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada pengetahuan peneliti.

Adapun teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian tesis ini adalah teori kewenangan. Teori kewenangan (authority theory) merupakan teori yang mengkaji dan menganalisis tentang kekuasaan dan organ pemerintah maupun alat perlengkapan negara lainnya untuk melakukan kewenangannya, baik dalam lapangan hukum publik maupun hukum privat.

Menurut Jimly Asshiddiqie menyebutkan bahwa dengan pilar utama negara hukum,68 yaitu asas legalitas, berdasarkan prinsip ini tersirat bahwa wewenang pemerintahan berasal dari peraturan perundang-undangan, artinya sumber wewenang bagi pemerintah adalah peraturan perundang-undangan.69

68Jimly Asshiddiqie, 2007, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, hlm. 297

69Yuliandri, 2010, Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Yang Baik Gagasan Pembentukan Undang-Undang Berkelanjutan, Cetakan 2, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 249

Teori kewenangan hukum dalam literatur ilmu politik, ilmu pemerintahan, dan ilmu hukum sering ditemukan istilah kekuasaan, kewenangan, dan wewenang. Kekuasaan sering disamakan begitu saja dengan kewenangan, dan kekuasaan sering dipertukarkan dengan istilah kewenangan, demikian pula sebaliknya. Bahkan kewenangan sering disamakan juga dengan wewenang. Kekuasaan biasanya berbentuk hubungan dalam arti bahwa “ada

(29)

satu pihak yang memerintah dan pihak lain yang diperintah” (the rule and the ruled).70 Wewenang merupakan lingkup tindakan hukum publik, lingkup wewenang pemerintahan, tidak hanya meliputi wewenang membuat keputusan pemerintah (bestuur), tetapi meliputi wewenang dalam rangka pelaksanaan tugas dan memberikan wewenang serta distribusi wewenang utamanya ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Wewenang sebagai konsep hukum publik sekurang- urangnya terdiri dari tiga komponen yaitu; pengaruh, dasar hukum dan konformitas hukum.71

1. Komponen pengaruh adalah bahwa penggunaan wewenang dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku subyek hukum.

2. Komponen dasar hukum bahwa wewenang itu selalu dapat ditunjukan dasar hukumnya.

3. Komponen komformitas mengandung makna adanya standar wewenang yaitu standar umum (semua jenis wewenang) dan standar khusus (untuk jenis wewenang tertentu).

Demikian juga pada setiap peerbuatan pemerintah diisyaratkan harus bertumpu pada kewenangan yang sah. Tanpa adanya kewenangan yang sah, seorang pejabat atau badan tata usaha negara tidak dapat melaksanakan suatu perbuatan pemerintah. Kewenangan yang sah merupakan atribut bagi setiap pejabat atau bagi

70 Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998), hlm. 35-36

71Nur Basuki Winarno, Penyalahgunaan Wewenang dan Tindak Pidana Korupsi, laksbang mediatama, Yogyakarta, 2008. hlm 66

(30)

setiap badan. Kewenangan yang sah bila ditinjau dari sumber darimana kewenangan itu lahir atau diperoleh, maka terdapat tiga kategori kewenangan, yaitu Atribut, Delegasi dan Mandat yang dapat dijelaskan sebagai sebagai berikut:

1. Kewenangan Atribut

Kewenangan atribut biasanya digariskan berasal dari adanya pembagian kekuasaan oleh peraturan Perundang-undangan. Dalam pelaksanaan kewenangan atribusi ini pelaksanaannya dilakukan sendiri oleh pejabat atau badan yang tertera dalam peraturan dasarnya.

Terhadap kewenangan atribusi mengenai tanggungjawab dan tanggung gugat berada pada pejabat atau badan sebagaimana tertera dalam peraturan dasarnya.

2. Kewenangan Delegatif

Kewenangan Delegatif bersumber dari pelimpahan suatu organ pemerintahan kepada organ lain dengan dasar peraturan perundang-undangan. Dalam hal kewenangan delegatif tanggungjawab dan tanggung gugat beralih kepada yang diberi wewenang tersebut dan beralih pada delegataris.

3. Kewenangan Mandat

Kewenangan Mandat merupakan kewenangan yang bersumber dari proses atau prosedur pelimpahan dari pejabat atau badan yang lebih tinggi kepada pejabat atau badan yang lebih rendah.

Kewenangan mandat terdapat dalam hubungan rutin atasan dan bawahan, kecuali bila dilarang secara tegas.

(31)

H.D. Van Wijk dan Wilem Konijnenbelt mengklasifikasikan cara perolehan kewenangan atas 3 (tiga) cara antara lain:72

a. Atributie yaitu pemberian wewenang pemerintahan oleh pembuat undang-undang kepada organ pemerintahan (Teoleninning van een bestuursbevoegdheid door een wetgever aan een bestuurorgaan).

b. Delegatie yaitu pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ pemerintahan kepada organ pemerintahan lainnya (Overdracht van een bevoegdheid van he teen bestuurorgan aan een ander).

c. Mandate yaitu mandat terjadi ketika organ pemerintahan mengijinkan kewenangannya dijalankan oleh organ lain atas namanya (een bestuurorgan lat zijn bevoegdheid names hues uitoefenen door een ander).

Bagir Manan dan A. Hamid S. Attamimi menyatakan teori wewenang pembentukan peraturan Perundang-undangan dibedakan atas atribusi dan delegasi.73

a. Penciptaan wewenang baru untuk membuat peraturan perundang- undangan;

Pengertian atribusi wewenang pembentukan peraturan perundang-undangan memuat unsur-unsur:

72Ridwan H.R., 2003, Hukum Administrasi Negara, UII Press, Yogyakarta, hlm. 45

73Bagir Manan dan Kuntana Magnar, 1997, Kedudukan dan Fungsi Keputusan Presiden Sistem Perundang-undangan dan Peranannya Dalam Akselerasi Pembangunan Ekonomi, Penerbit Alumni, Bandung, hlm 206

(32)

b. Wewenang tersebut diberikan oleh pembentuk UUD atau pembentuk UU kepada suatu lembaga;

c. Lembaga yang menerima wewenang itu bertanggung jawab atas pelaksanaan wewenang tersebut.

Wewenang atribusi dan delegasi terdapat persamaan dan perbedaan.

Persamaannya adalah lembaga yang menerima wewenang bertanggung jawab atas pelaksanaan wewenang itu. Sedangkan perbedaannya adalah pada delegasi selalu harus didahului adanya atribusi, sedangkan pada atribusi tidak ada yang mendahului dan pada atribusi terjadi pembentukan wewenang, sedangkan pada delegasi terjadi penyerahan wewenang.74

Dalam hal mandat, tidak ada sama sekali pengakuan kewenagan atau pengalihan kewenangan. Di sini menyangkut janji-janji kerja intern antara penguasa dan pegawai. Dalam hal ini tentu seorang pegawai memperoleh kewenangan untuk atas nama si penguasa, misalnya seorang menteri, mengambil keputusan-keputusan tertentu dan atau menandatangani keputusan-keputusan tertentu. Namun, menurut hukum menteri itu tetap merupakan badan yang berwenang.75

Kewenangan merupakan kekuasaan formal yang berasal dari Undang- Undang, sedangkan wewenang adalah suatu spesifikasi dari kewenangan, artinya barang siapa (subyek hukum) yang diberikan kewenangan oleh Undang-Undang, maka ia berwenang untuk melakukan sesuatu yang tersebut dalam kewenangan itu.

74S.F. Marbun, 2004, Mandat, Delegasi, Atribusi Dan Implementasinya Di Indonesia, UII Press, Yogyakarta, hlm. 109-120.

75Philipus M.Hadjon dkk, Op.cit, hal 131.

(33)

Atribusi merupakan wewenang untuk membuat keputusan (besluit) yang langsung bersumber kepada Undang-Undang dalam arti materiil. Atribusi juga dikatakan sebagai suatu cara normal untuk memperoleh wewenang pemerintahan.

Sehingga tampak jelas bahwa kewenangan yang didapat melalui atribusi oleh organ pemerintah adalah kewenangan asli, karena kewenangan itu diperoleh langsung dari peraturan Perundang-undangan (utamanya UUD 1945). Dengan kata lain atribusi berarti timbulnya kewenangan baru yang sebelumnya kewenangan itu, tidak dimiliki oleh organ pemerintah yang bersangkutan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, hubungan antara teori kewenangan dalam penelitian ini dengan pokok permasalahan yang penulis angkat adalah berdasarkan Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Nomor 7 Tahun 2016 disebutkan bahwa Majelis Kehormatan Notaris adalah suatu badan yang mempunyai kewenangan untuk melaksanakan pembinaan Notaris dan kewajiban memberikan persetujuan atau penolakan untuk kepentingan penyidikan dan proses peradilan, atas pengambilan fotokopi Minuta Akta dan pemanggilan Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan Akta atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris. Walaupun tugas dan tata kerja Kewenangan Majelis Kehormatan Notaris diatur dalam Permenkumham Nomor 7 Tahun 2016 namun dalam hal pembinaan Notaris tidak dijelaskan secara rinci dan konkrit seperti apa kewenangannya.

Teori kewenangan dalam penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah yaitu untuk mengetahui seperti apa dasar kewenangan Majelis Kehormatan

(34)

Notaris dalam melakukan pemeriksaan terhadap Notaris terkait adanya laporan dari masyarakat dan bagaimana prosedur pembinaan Notaris, kapan dilakukan pembinaan kepada Notaris serta apa saja hak dan kewajiban Notaris setelah Majelis Kehormatan Notaris memberikan persetujuan kepada penyidik, penuntut umum atau hakim berkaitan dengan Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris.

2. Kerangka Konsep

Konsep diartikan sebagai kata yang menyatakan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal yang berbentuk khusus.76 Konsep berasal dari bahasa Latin, conceptus yang memiliki arti sebagai suatu kegiatan atau proses berpikir, daya berpikir khususnya penalaran dan pertimbangan.77

Konsepsi diterjemahkan sebagai usaha membawa dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang disebut dengan operational definition.78 Pentingnya defenisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua dari suatu istilah yang dipakai untuk dapat ditemukan suatu kebenaran dengan substansi yang diperlukan.79

Menurut Suwandi Suryabrata memberikan arti khusus apa yang dimaksud dengan konsep, menurutnya sebuah konsep berkaitan dengan definisi

76Sumardi Suryabrata, Metodelogi Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), hlm. 4

77Komaruddin dan Yooke Tjuparmah, 2000, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Jakarta, Bumi Aksara, hlm. 122

78Sutan Renny, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Indonesia, (Jakarta: Institut Banker Indonesia, 1993), hlm. 10

79Pieter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Surabaya: Fakultas Hukum Universitas Airlangga, hlm. 139

(35)

operasional.80

a. Notaris adalah Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Jabatan Notaris atau berdasarkan Undang-Undang lainnya.

Oleh karena itu dalam penelitian ini maka perlu diuraikan beberapa pengertian konsep dasar atau istilah, agar di dalam pelaksanaannya diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, meliputi:

81

b. Akta Notaris adalah akta autentik yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam Undang-Undang Jabatan Notaris.

c. Akta Otentik adalah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai umum yang berkuasa untuk itu ditempat dimana aktanya dibuat.82

d. Majelis Pengawas Daerah adalah suatu badan yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan Notaris.83

e. Majelis Kehormatan Notaris adalah suatu badan yang mempunyai kewenangan untuk melaksanakan pembinaan Notaris dan kewajiban memberikan persetujuan atau penolakan untuk kepentingan penyidikan dan proses peradilan atas pengambilan fotokopi Minuta Akta dan pemanggilan Notaris untuk hadir dalam

80Sumandi Suryabrata, op. cit., hlm. 3

81Pasal 1 angka 1 UU No. 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

82Pasal 1868, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

83Pasal 1 angka 6 UU No. 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

(36)

pemeriksaan yang berkaitan dengan Akta atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris.84

f. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 G. Metode Penelitian

Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia. Dengan demikian metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melakukan penelitian.85

Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten melalui proses penelitian tersebut perlu diadakan analisa dan konstruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah.86 Penelitian pada umumnya bertujuan untuk mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan.87

1. Jenis Penelitian

Berdasarkan pada pokok masalah, jenis penelitian hukum yang dilakukan adalah penelitian yuridis normatif atau penelitian yang menganalisis hukum, baik

84Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2016 tentang Majelis Kehormatan Notaris

85Sutrisno Hadi, Metodologi Riset, ANDI, Yogyakarta, 2000, hlm. 4

86Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta : Rajawali Press, 1985), hlm. 1

87Ronny Hantijo Soemitro, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2000) hlm. 15

(37)

yang tertulis dalam buku (law in book) maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan,88

2. Sifat Penelitian

pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach). Selain itu guna menunjang penjabaran lebih lanjut digunakan pendekatan konsep atau conceptual approach.

Sifat penelitian ini adalah deskriptif analitis yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan tentang fakta dan kondisi serta gejala yang terjadi dilapangan.

Selanjutnya di lakukan analisis kritis dalam arti memberikan penjelasan-penjelasan terhadap fakta dan gejala yang terjadi baik dalam kerangka sistematis maupun sinkronisasi yang menunjukan pada aspek yuridis.89

3. Sumber Data Penelitian

Sumber bahan hukum yang diperlukan dalam penelitian hukum normatif terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.90

a. Bahan Hukum Primer

Secara umum, jenis data yang diperlukan dalam suatu penelitian hukum terarah pada penelitian data sekunder dan data primer. Sumber dan jenis data penelitian dari penulisan tesis ini adalah:

Yaitu bahan hukum yang mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini diantara yaitu :

88Amiruddin dan H. Zainal Asikin, 2008, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Edisi ke-1 Cet IV, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 118

89Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1998), hlm. 64

90Bambang Waluyo, 2001, Penelitian Hukum Dalam Praktik, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 18

(38)

a) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

b) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris

c) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.

d) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2016 tentang Majelis Kehormatan Notaris.

e) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 49/PUUX/2012.

b. Bahan Hukum Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan.

Penelitian kepustakaan bertujuan untuk mengkaji, meneliti, dan menelusuri data-data sekunder yaitu memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, dan bahan hukum tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

c. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum yang memberikan petunjuk dan penjelasan lebih lanjut mengenai bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum, internet, artikel/jurnal dan surat kabar sepanjang memuat informasi yang relevan dengan materi penelitian ini.91

4. Alat Pengumpulan Data

91Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2003, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), hlm. 23

(39)

a. Studi kepustakaan

Studi kepustakaan (Library Research) yaitu memperoleh data sekunder dengan mempelajari literatur-literatur, peraturan perundang-undangan, dan dokumentasi lainnya yang bersifat studi dokumen yang berkaitan dengan Majelis Kehormatan Notaris.

b. Wawancara yaitu menghimpun data dengan melakukan tanya jawab antara peneliti dengan informan untuk mendapatkan informasi, guna menambah dan melengkapi data sekunder yang diperoleh. Penelitian studi lapangan dilakukan dengan wawancara kepada Anggota Majelis Kehormatan Notaris Wilayah Sumatera Utara (Medan).

5. Analisis Data

Analisis data adalah merupakan suatu hal yang sangat penting dalam suatu penelitian dalam rangka memberi jawaban terhadap masalah yang diteliti. Sebelum analisis data dilakukan, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan dan evaluasi terhadap semua data yang ada untuk mengetahui validitasnya.92 Analisis data merupakan langkah terakhir dalam suatu kegiatan penelitian. Analisis data yaitu proses pengumpulan data yang didasarkan atas segala data yang sudah diolah.93

92Burhan Ashshofa, 1996, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 68

93Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Penerbit Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 103

Data yang diperoleh akan dipilih dan disusun secara sistematis untuk kemudian dianalisis secara kualitatif untuk menggambarkan hasil penelitian.

(40)

Data yang diperoleh melalui pengumpulan data sekunder akan dikumpulkan dan kemudian dianalisis dengan cara kualitatif untuk mendapatkan kejelasan terhadap masalah yang akan dibahas. Semua data yang terkumpul diedit, diolah dan disusun secara sistematis untuk selanjutnya disimpulkan dengan menggunakan metode deduktif.94

94Zainudin Ali, Metode Penelitian Induktif dan Deduktif dalam Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, hlm. 18

(41)

UNDANG-UNDANG JABATAN NOTARIS

A. Notaris Sebagai Pejabat Umum

Lembaga Notariat berdiri di Indonesia sejak pada tahun 1860, istilah Notaris berasal dari kata latin, yaitu “Notarius”, yang artinya adalah orang yang membuat catatan.95Namun ada juga sebagian orang dikalangan masyarakat yang mengatakan bahwa istilah “Notarius” itu berasal dari kata “Nota Literaria”, yang artinya adalah tanda (letter mark atau karakter) yang menyatakan suatu perkataan.96Notarius lambat laun mempunyai arti berbeda dengan semula, sehingga kira-kira pada abad kedua sesudah Masehi yang disebut dengan nama itu ialah mereka yang mengadakan pencatatan dengan tulisan cepat.97

Menurut sejarahnya, Notaris adalah seorang pejabat Negara/pejabat umum yang dapat diangkat oleh Negara untuk melakukan tugas-tugas Negara dalam pelayanan hukum kepada masyarakat demi tercapainya kepastian hukum sebagai pejabat pembuat Akta Otentik. Notaris diangkat oleh pemerintah melalui Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia untuk mengemban tanggung jawab untuk melayani masyarakat atas pembuatan Akta dan memberikan nasihat-nasihat yang

95R. Soesanto, Tugas, Kewajiban dan Hak-hak NOtaris, Wakil Notaris (sementara), (Jakarta: Pradnya Paramita, 1982), hlm. 34

96R. Soegondo Notodisoerjo, 1993, Hukum Notariat di Indonesia Suatu Penjelasan, (Jakarata: CV Rajawali, 1982), hlm. 13

97Ibid., hlm. 13

(42)

baik berkenaan dengan pembuatan Akta atau hal-hal yang berkaitan dengan kenotariatan.

Negara Republik Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum bagi setiap warga negara. Untuk menjamin kepastian, ketertiban dan perlindungan hukum dibutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai perbuatan perjanjian,Penetapan, dan peristiwa hukum yang dibuat dihadapan atau oleh Notaris.138

Notaris merupakan pejabat umum yang berwenang untuk membuat Akta Otentik sejauh pembuatan Akta Otentik tertentu tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. Akta yang dibuat dihadapan Notaris adalah merupakan alat bukti otentik, bukti yang paling sempurna dengan segala akibatnya.139

Pasal 1 Angka 1 UUJN, Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat Akta Otentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan Undang-Undang lainnya.

Istilah Pejabat Umum merupakan terjemahan istilah dari Openbare Ambtenaren yang terdapat dalam Pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris (yang utuk selanjutnya disebut PJN).

140

Kedudukan Notaris sebagai pejabat umum, dalam arti kewenangan yang ada pada Notaris tidak pernah diberikan kepada pejabat-pejabat lainnya, selama

138Penjelasan Umum UU No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.

139Andasasmita, Komar, Notaris Dalam Praktek Hukum, (Bandung: Alumni, 1983), hlm. 64

140Pasal 1 Angka 1 UU No. 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

(43)

sepanjang kewenangan tersebut tidak menjadi kewenangan pejabat-pejabat lain.Mengenai kedudukan Notaris sebagai pejabat umum, R. Soegondo Notodisoerjo menyatakan bahwa:141

“Lembaga Notariat telah dikenal di negara Indonesia, yaitu sejak Indonesia dijajah oleh Belanda, semula lembaga ini diperuntukkan bagi golongan Eropa terutama dalam bidang hukum perdata, yaitu Burgelijk Wetboek”

Sesuai dengan ketentuan tersebut, maka Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau oleh yang berkepentingan dikehendaki untuk dinyatakan dalam suatu Akta Otentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse, salinan dan kutipannya, semuanya sepanjang pembuatan Akta itu oleh suatu peraturan umum tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain.142Sebagai pejabat umum, Notaris seharusnya:143

a. Memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat yang memerlukan jasanya dengan sebaik-baiknya;

b. Menyelesaikan akta sampai tahap pendaftaran pada Pengadilan Negeri dan Pengumuman dalam Berita Negara, apabila klien yang bersangkutan dengan tegas menyatakan akan menyerahkan pengurusannya kepada

141R. Soegondo Notodisoerjo, Op. Cit., hal. 1

142Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia Tafsir Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, PT. Rafika Aditama, Bandung, 2008, hlm. 13

143Dody Radjasa Waluyo, Kewenangan Notaris Selaku Pejabat Umum, Media Notariat (Menor), edisi Oktober-November 2001, hlm. 62

(44)

Notaris yang bersangkutan dan klien memenuhi syarat-syarat yang diperlukan;

c. Memberitahu kepada klien perihal selesainya pendaftaran dan pengumuman, dan atau mengirim kepada atau menyuruh mengambil akta yang sudah didaftar atau Berita Negara yang sudah selesai dicetak tersebut oleh klien yang bersangkutan;

d. Memberikan penyuluhan hukum agar masyarakat menyadari baik dan kewajibannya sebagai warga negara dan anggota masyarakat;

e. Memberikan jasa kepada anggota masyarakat yang kurang mampu dengan cuma-Cuma;

f. Dilarang menahan berkas seseorang dengan maksud memaksa orang itu membuat akta kepada Notaris yang menahan berkas itu;

g. Dilarang menjadi alat orang atau pihak lain untuk semata-mata menandatangani akta buatan orang lain sebagai akta buatan Notaris yang bersangkutan;

h. Dilarang mengirim minuta akta kepada klien atau klien-klien yang bersangkutan;

i. Dilarang membujuk-bujuk atau dengan cara apapun memaksa klien membuat akta kepadanya, atau membujuk-bujuk seseorang agar pindah pada Notaris lain;

j. Dilarang membentuk kelompok di dalam tubuh INI dengan tujuan untuk melayani kepentingan suatu instansi atau lembaga secara

(45)

khusus/eksklusif, apalagi menutup kemungkinan anggota lain untuk berpartisipasi.

Menurut Nusyirwan Notaris adalah orang semi swasta, karena ia tidak bisa bertindak bebas sebagaimana seorang swasta. Ia harus menjunjung tinggi martabatnya, oleh karena itu ia diperkenankan menerima uang jasa (honorarium) untuk setiap pelayanan yang diberikannya.144

Menurut Sutrisno bahwa berdasarkan pengertian Notaris yang termuat dalam ketentuan Pasal 1 Jo Pasal 15 UUJN No. 30 Tahun 2004 dapat ditarik 13 unsur penting, yaitu:145

1. Pejabat Umum

2. Membuat Akta Otentik 3. Mengenai perbuatan 4. Mengenai perjanjian 5. Menganai ketetapan

6. Diharuskan oleh peraturan perundang-undangan 7. Dikehendaki oelh yang berkepentingan

8. Dinyatakan dalam akta otentik 9. Menjamin kepastian tanggal akta 10. Menyimpan akta

11. Memberikan grose, salinan dan kutipan akta

144Nusyirwan, Membedah Profesi Notaris, Universitas Padjadjaran Bandung, 2000, hlm. 3-4

145Sutrisno, Tanggapan Terhadap Undang-undang No.30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, (Bahan Kuliah Etika Profesi Notaris), MKn USU, 2007, hal 9-10

(46)

13. Sepanjang ditugaskan pada orang lain

Dengan demikian Notaris merupakan suatu Jabatan (Publik) yang mempunyai karakteristik, yaitu:146

a. Sebagai Jabatan

UUJN merupakan unifikasi di bidang pengaturan Jabatan Notaris, artinya satu- satunya aturan hukum dalam bentuk Undang-Undang yang mengatur Jabatan Notaris di Indonesia, sehingga segala hal yang berkaitan Notaris di Indonesia harus mengacu kepada UUJN.147

b. Notaris mempunyai kewenangan tertentu

Jabatan Notaris merupakan suatu lembaga yang diciptakan oleh Negara.

Menempatkan Notaris sebagai Jabatan merupakan suatu bidang pekerjaan atau tugas yang sengaja dibuat oleh aturan hukum untuk keperluan dan fungsi tertentu (kewenangan tertentu) serta bersifat berkesinambungan sebagai suatu lingkungan pekerjaan tetap.

Setiap wewenang yang diberikan kepada jabatan harus ada aturan hukumnya sebagai batasan agar jabatan dapat berjalan dengan baik, dan tidak bertabrakan dengan wewenang jabatan lainnya. Dengan demikian jika seorang pejabat (Notaris) melakukan suatu tindakan diluar wewenang yang telah ditentukan,

146Ibid., hlm. 15-16

147Habib Adjie “Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN) Sebagai Unifikasi Hukum Pengaturan Notaris”, RENVOI, Nomor 28. Th. III, 3 September 2005, hlm. 38

(47)

Notaris hanya dicantumkan dalam Pasal 15 ayat (1), (2) dan (3) UUJN.

c. Diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah

Pasal 2 UUJN menentukan bahwa Notaris diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah, dalam hal ini menteri yang membidangi kenotariatan (Pasal 1 ayat (14) UUJN). Notaris meskipun secara administratif diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah, tidak berarti Notaris menjadi subordinasi (bawahan) dari yang mengangkatnya, yaitu pemerintah. Dengan demikian, Notaris dalam menjalankan jabatannya :

1. Bersifat mandiri (autonomous);

2. Tidak memihak siapa pun (impartial);

3. Tidak tergantung kepada siapa pun (independent), yang berarti dalam menjalankan tugas jabatannya tidak dapat dicampuri oleh pihak yang mengangkatnya atau oleh pihak lain;

d. Tidak menerima gaji atau pensiun dari yang mengangkatnya;

Notaris meskipun diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah tetapi tidak menerima gaji maupun uang pensiun dari pemerintah. Notaris hanya menerima honorarium dari masyarakat yang telah dilayaninya atau dapat memberikan pelayanan cuma-cuma untuk mereka yang tidak mampu.

e. Akuntabilitas atas pekerjaannya kepada masyarakat;

Kehadiran Notaris untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan dokumen hukum (Akta) otentik dalam bidang hukum Perdata, sehingga Notaris

(48)

mempunyai tanggung jawab untuk melayani masyarakat, masyarakat dapat menggugat secara Perdata Notaris, dan menuntut biaya, ganti rugi dan bunga jika ternyata Akta tersebut dapat dibuktikan dibuat tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, hal ini merupakan bentuk akuntabilitas Notaris kepada masyarakat.

Untuk dapat diangkatnya seorang Notaris maka harus memenuhi persyaratan tertentu. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 3 UUJN Perubahan, yang menyatakan bahwa yang dapat diangkat menjadi Notaris adalah:148

1. warga negara Indonesia;

2. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

3. berumur paling sedikit 27 (dua puluh tujuh) tahun;sehat jasmani dan rohani yang dinyatakan dengan surat keterangan sehat dari dokter dan psikiater;

4. berijazah sarjana hukum dan lulusan jenjang strata dua kenotariatan;

5. telah menjalani magang atau nyata-nyata telah bekerja sebagai karyawan Notaris dalam waktu paling singkat 24 (dua puluh empat) bulan berturut-turut pada kantor Notaris atas prakarsa sendiri atau atas rekomendasi Organisasi Notaris setelah lulus strata dua kenotariatan;

6. tidak berstatus sebagai pegawai negeri, pejabat negara, advokat, atau tidak sedang memangku jabatan lain yang oleh undang-undang dilarang untuk dirangkap dengan jabatan Notaris; dan

148Pasal 3 UU No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

(49)

memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.

Profesi jabatan Notaris merupakan yang sangat mulia dan harus diemban dengan rasa tanggung jawab yang besar. Untuk mendukung penguatan moral seorang Notaris, sebelum menjalankan profesi jabatannya tersebut Notaris harus mengangkat sumpah sesuai dengan Undang-Undang tentang Jabatan Notaris dan Kode Etik Notaris. Menurut G. H. S Lumban Tobing, isi sumpah dan janji jabatan Notaris dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu:149

a) Belovende: pada bagian ini notaris bersumpah akan patuh setia kepada Negara Republik Indonesia dan Undang-Undang dasarnya, serta menghormati semua pembesar-pembesar hakim pengadilan dan pembesar-pembesar lainnya. Bagian ini dinamakan politieke eed.

b) Zuiveringsed: pada bagian ini notaris berjanji menjalankan tugasnya dengan jujur, seksama dan tidak berpihak serta akan menaati dengan seteliti-telitinya semua peraturan-peraturan jabatan notaris yang sedang berlaku atau yang akan diadakan dan merahasiakan serapat-rapatnya isi akta-akta selaras dengan ketentuan-ketentuan peraturan-peraturan itu.

Bagian ini dinamakan beroepseed (sumpah jabatan).

149G. H. S. Lumbing Tobing,Pengaturan Jabatan Notaris, hlm. 114

(50)

Di dalam Pasal 8 Ayat (1) UUJN Perubahan dijelaskan bahwa Notaris dalam menjalankan tugasnya dapat berhenti atau diberhentikan dari jabatannya dengan hormat karena alasan-alasan tertentu, yaitu:

a. Meninggal dunia

b. Telah berumur 65 (enam puluh lima) tahun c. Permintaan sendiri

d. Tidak mampu secara rohani dan/atau jasmani untuk melaksanakan tugas jabatan Notaris secara terus menerus lebih dari (tiga) tahun

e. Merangkap jabatan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 3 huruf g.

Pasal 9 Ayat (1) UUJN mengatur tentang Notaris yang diberhentikan sementara dari jabatannya, yakni karena:150

a. dalam proses pailit atau penundaan kewajiban pembayaran utang;

b. berada di bawah pengampuan ; c. melakukan perbuatan tercela ; atau

d. melakukan pelanggaran terhadap kewajiban dan larangan jabatan, serta kode etik notaris, atau;

e. sedang menjalani masa penahanan

Notaris dapat diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatannya apabila melanggar ketentuan sebagaimana disebutkan pada Pasal 12 dan Pasal 13 UUJN Perubahan, sebagai berikut:

150Pasal 9 ayat (1) UU No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

Referensi

Dokumen terkait

Akibat hukum dari penggunaan hasil tes DNA sebagai alat bukti yang sah yang dapat membuktikan dengan akurat tentang asal usul seorang anak terhadap ayah biologisnya

Selain itu, penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis konsep hukum untuk penerapan tata kelola perusahaan yang baik dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan

Keberadaan lembaga hukum konsinyasi dalam Penyelesaian Teknis pada kawasan hutan yang disebabkan karena tidak sepakatnya mengenai bentuk dan/atau besaran nilai

Tidak ada perlindungan hukum bagi istri yang diceraikan secara sepihak di luar Pengadilan menurut Kompilasi Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

KEDUDUKAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN (ORMAS) BERBENTUK PERKUMPULAN YANG TIDAK BERBADAN HUKUM (STUDI PADA PERKUMPULAN GENERASI MANAHAN BERKEDUDUKAN DI KOTA MEDAN)

Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan atau petunjuk dan menjelaskan kejadian yang diamati, yaitu menggali mengenai kekuatan hukum atas

Dari hasil penelitian ini juga diketahui bahwa undang-undang telah mengatur umur para pihak yang hendak melakukan perbuatan hukum, termasuk dalam hal yang

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Yang Maha Kuasa karena dengan rahmat dan karunia-Nya tesis yang berjudul “ANALISIS TENTANG KONSOLIDASI TANAH PADA DESA