• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menemukan Unsur-unsur Intrinsik Drama yang dibacakan

Sebagian besar puisi ini menunjukkan bahwa penyairnya sekedar mengajak pembaca berkelakar, tanpa maksud lain yang disembunhikan.

Puisi mbeling sebagai salah satu wujud puisi kontemporer juga memiliki dasar berpijak, yakni pernyataan apa adanya. Oleh sebab itu, tanggung jawab moral seniman adalah bagaimana seniman itu memandang semua kehidupan dalam diri dan lingkungannya secara menyeluruh, lugu, dan apa adanya.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri dan karakteristik puisi kontemporer adalah sebagai berikut.

1) Bersifat inkonvensional: tidak terikat oleh bentuk kata, jumlah kata, jumlah baris, bait-bait, dan persajakan.

2) Kata, bunyi, arti, dan tipografi hanya sebagai sarana untuk mencapai efek tertentu.

3) Biasanya berisi kelakar, kritik, atau ejekan

4) Penyampaiannya lugu, apa adanya, tanpa maksud tersembunyi.

1. Setelah kamu membaca dan memahami puisi yang berjudul “Tragedi Winka & Sihka” karya Sutardji Calzum Bahri dan analisis yang dilakukannya, jawab pertanyaan berikut!

a) Bagaimana penggunaan bentuk kata, jumlah kata, baris, bait, dan persajakan dalam “Tragedi Winka & Sihka” tersebut? b) Sarana apa saja yang digunakan oleh penyair untuk

mencapai efek makna dalam puisi tersebut?

c) Bagaimana isi dan pesan atau amanat yang tercermin dalam puisi tersebut?

d) Bagaimana cara penyampaian pesan dalam puisi tersebut?

Sebagai salah satu bagian dari karya sastra, naskah drama pun juga terangkai atas unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Pagelaran pentas drama dapat dilaksanakan di depan publik secara langsung, dapat pula di layar televisi. Untuk pagelaran drama di televisi, penulisan naskahnya sudah lebih canggih, mirip dengan skenario film.

Berdasarkan jenisnya, drama dapat dibedakan menjadi empat, yakni tragedi, komedi, melodrama, dan dagelan (Waluyo, 2002: 38). Tragedi dapat disebut pula drama duka, yakni drama yang melukiskan kisah sedih yang besar dan agung. Komedi disebut pula drama ria, yakni drama ringan yang sifatnya menghibur dan di dalamnya terdapat dialog kocak/lucu dan bersifat menyindir dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan. Melodrama adalah lakon yang sangat sentimen- tal, dengan tokoh dan cerita yang mendebarkan hati dan mengharukan. Sementara itu, dagelan sering disebut pula banyolan, bahkan sering disebut pula komedi murahan, komedi picisan, komedi ketengan, tontonan konyol, atau tontonan murahan. Jadi, dagelan adalah drama kocak dan ringan, alurnya tersusun berdasarkan arus situasi, tidak berdasarkan perkembangan struktur dramatik, dan isi ceritanya bersifat kasar, lentur, dan vulgar.

Drama sebagai struktur skenario mengandung beberapa unsur, yakni tokoh dan penokohan, plot (alur) penceritaan, setting

(latar) kejadian, dialog, nada, tema, pesan, dan konflik. Unsur-unsur tersebut menggambarkan bahwa drama sebagai salah satu bentuk karya sastra prosa juga memiliki unsur-unsur intrinsik.

1. Dengarkan pembacaan penggalan naskah drama berikut dengan baik-baik! Upayakan buku teksmu dalam keadaan tertutup! Catat poin-poin penting yang mengarah pada unsur intrinsik pada naskah drama tersebut!

Pengadilan

Jaksa : Pada tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian, hari anu, di tempat anu, pemuda ini, Muhammad Ali telah membunuh seorang wanita dengan keji. Maka, atas nama keadilan kami tuntut agar pemuda ini dihukum lima belas tahun atau dua puluh tahun. Itulah tuntutan kami.

Hakim : Betul Saudara melakukan itu? Pemuda : Tidak.

Hakim : Apakah Saudara punya bukti-bukti?

Jaksa : Beberapa orang saksi.

Hakim : Mereka mau disumpah?

Jaksa : Ya, tentu saja.

Hakim : Apa keterangan mereka benar?

Jaksa : Juga karena saya yakin bahwa orang ini bersalah. Hakim : Alasan lain?

Jaksa : Untuk sementara itu sudah cukup. Kecuali kalau dia bisa membantah.

Hakim : Apakah Saudara akan membantah?

Pemuda : Ya, mengapa tidak!

Hakim : Saudara merasa tidak melakukan kejahatan itu? Pemuda : Tidak.

Hakim : Tapi Saudara menembak? Pemuda : Ya!

Hakim : Saudara menembak seorang wanita yang tidak

berdaya untuk melawan! Pemuda : Ya!

Hakim : Mana para saksi!

Jaksa : Saksi-saksi bawa kemari!

Lima orang perempuan muncul dengan segala potongannya.

Jaksa : Semuanya sudah selesai disumpah, mereka siap untuk mengatakan kebenaran yang mereka ketahui. Hakim : Silakan bicara asal satu per satu.

Jaksa : Para ibu yang baik, sekarang ibu-ibu saya persilakan berbicara langsung pada beliau sebagaimana ibu dahulu berbicara kepada saya tentang pemuda ini. Saksi : Siapa yang duluan?

Saksi : Saya saja sebab saya harus jemput anak saya. Jadi begini. Maaf saya buru-buru saja dan singkat ini tidak mengurangi kejujuran dan kebenaran yang ingin saya katakan. Bahwa saya, sayalah yang pal- ing melihat pembunuhan itu. Jaraknya dari saya sepuluh meter. Pemuda ini mengacungkan pistolnya dan pistol itu meledak lalu wanita itu jatuh berdarah dan tidak bangun-bangun lagi, maklum peluru itu menembus kepalanya. Lalu dia menembak lagi berkali-kali. Jadi memang dialah yang harus dihukum. Begitu kan?

Saksi : Sebelum anak muda ini menembak, saya lihat

sendiri mukanya ayem seperti baja!

Hakim : Sebentar! Anda tidak perlu bicara rebutan. Saksi pertama belum selesai bicara.

Saksi : Apa salahnya, Pak?

Hakim : Tata tertib! Di sini kebenaran dikupas, dibeberkan satu per satu dengan teratur dan rapi.

Saksi : Masak begitu ya?

Hakim : Anda tidak diperkenankan mendiskusikan soal peraturan. Ini peraturan. Saya bisa menjawab secara pribadi perkataan Saudara, tapi itu tidak relevan. Silahkan Saudara saksi. Selesaikan kesaksian Saudara.

Saksi : Sudah selesai.

Jaksa : Jadi, Ibu yakin anak muda ini telah membunuh? Saksi : Kan sudah saya katakan tadi, ya!

Jaksa : Minta diulang dengan kata-kata yang tegas.

Saksi : Tidak mau. Saya bisa ngomong satu kali. Dan mengapa saya harus ngomong dengan keras. Di sini tidak ada yang tuli kan? Apa bedanya saya ngomong keras dan lembut (tidak keras). Itu tidak akan merubah bahwa anak muda yang ganteng ini sudah bunuh orang, meskipun bapaknya pahlawan. Boleh saya memberikan usul?

Pembela : Bapak Hakim Ketua, saya kira sidang ini hanya bertugas untuk mendengarkan kesaksian, bukan usul-usul. Saya berkeberatan.

Jaksa : Pengadilan ini beriktikad bersih, apapun yang bisa membantu kita untuk membuka kejahatan ini, seharusnya diberikan perhatian. Karena itu Bapak Hakim Ketua, kita dengarkan dulu usul saksi sebelum ditolak.

Hakim : Usul apa Saudara?

Saksi : Sesudah peristiwa itu saya selalu ketakutan. Sebagai wanita saya merasa terancam. Kalau orang boleh bawa senjata dan menembak seenaknya, tak terkecuali saya juga mungkin saja akan ditembak seperti itu.

Hakim : Usul Saudara apa?

Saksi : Saya kan belum selesai ngomong. Kalau pemuda ini sampai lolos wah saya kira anak-anak muda yang lain akan bertambah liar, kita akan hidup dalam ketakutan.

Hakim : Usul Saudara?

Saksi : Saya usulkan kalau memang dia bersalah, salahkan saja, hukum. Jangan tidak dihukum karena alasan- alasan.

Hakim : Saudara tidak perlu menilai keputusan yang belum kita ambil.

Pembela : Bapak Hakim Ketua. Saya berkeberatan kalau kita buang-buang waktu mendengarkan penilaian dan dugaan-dugaan, karena kita hanya mencari bukti- bukti yang nyata.

Saksi berikutnya sudah berdiri langsung bicara.

Saksi : Sebelum anak muda ini menembak, saya lihat

sendiri mukanya ayem seperti baja.

Jaksa : Maaf. Boleh saya menyela sedikit Bapak Hakim Ketua?

Hakim : Tidak.

Jaksa : Tapi, dia sudah mengatakan kalimat: MESKIPUN ANDAIKATA BENAR WANITA ITU PANTAS DIBUNUH. Apa maksudnya?

Saksi : Saya tidak berkata begitu.

Jaksa : Ibu sudah berkata begitu. Hati-hati Ibu sudah disumpah untuk setiap kata yang Ibu katakan. Saksi : Saya tidak mengatakan begitu. Maksud saya, andai-

katanyapun wanita itu salah, penembakan ini masih tetap keji.

Jaksa : Itu dia. Jadi, Ibu merasa bahwa wanita itu pantas untuk dibunuh? Maksud saya, dia memiliki alasan- alasan untuk dibunuh. Kalaupun bukan anak muda inilah yang melakukannya?

Pembela : Bapak Hakim Ketua. Mengapa Bapak biarkan

keterangan saksi diganggu? Jaksa : Saya tidak mengganggu.

Pembela : Anda sudah memberikan sugesti.

Jaksa : Apa yang Anda maksudkan dengan sugesti? Pembela : Persis seperti apa yang Anda lakukan tadi. Jaksa : Apa, apa yang saya lakukan?

Pembela : Memberikan sugesti yang membelokkan keterangan saksi.

Jaksa : Saya justru meluruskan.

Pembela : Meluruskan ke arah kebenaran yang Anda kejar dan berbelok dari kebenaran yang kita kejar.

Jaksa : Astaga, ada berapa banyak kebenaran sih. Bapak Hakim, kita hanya membicarakan kebenaran yang sudah kita sepakati, bukan?

Pembela : Bapak Hakim Ketua, Saudara Jaksa sudah mencoba mempengaruhi saksi!

Jaksa : Tidak!

Pembela : Ya.

Hakim mengetokkan palu.

Saksi : Katanya pinter, kok bertengkar, Bapak Hakim.

Hakim Ketua mengetokkan palu lebih keras.

Hakim : Sidang ditunda minggu depan!

Hakim mengetokkan palu tiga kali. Lampu mati. Gelap. Pelayan menyalakan geretan.

Pelayan : Saya doakan, ya Tuhan, di mana pun Kau berpihak sekarang, lihatlah ada rame-rame di sini. Semua orang merasa benar, meskipun mereka semuanya mengantongi tai anjing. Saya tidak mau berpihak kepada siapa-siapa, saya hanya khawatir orang tua ini akan mati kalau harus menelan semua ini seorang diri.

LAMPU TERANG

...

(Sumber: dikutip dari DOR oleh Putu Wijaya, 1986)

2. Lakukan identifiksi unsur intrinsik pada penggalan naskah drama tersebut! Sertakan pula bukti dan alasan yang mendukung identifikasi yang telah kamu lakukan!

3. Ungkapkan hasil identifikasi yang telah kamu lakukan secara lisan di depan kelas! Berikan tanggapan dan komentar pada pengungkapan hasil identifikasi yang telah dilakukan temanmu, sertakan pula alasan argumentatif yang mendukung tanggapan dan komentar yang kamu berikan!

4. Ubah penggalan teks naskah tersebut menjadi sebuah prosa naratif! Sebelumnya baca dan pahami teks penggalan naskah drama tersebut!

5. Cari sebuah naskah drama di perpustakaan sekolahmu atau naskah drama koleksi pribadimu! Selanjutnya lakukan hal-hal berikut!

a. Baca dan pahami naskah drama tersebut secara apresiatif! b. Lakukan identifikasi terhadap unsur intrinsik yang ada dalam

teks drama tersebut!

c. Sertakan bukti dan alasan yang mendukung identifikasi yang telah kamu lakukan!

d. Laporkan dalam bentuk laporan tertulis!

Memberikan kesimpulan isi naskah drama merupakan salah satu kegiatan apresiatif terhadap karya sastra. Memberikan kesimpulan pada sebuah karya sastra tidak sekedar memberikan intisari tentang cerita yang diangkat pengarang dalam sebuah drama. Pembahasan tentang unsur intrinsik dan ekstrinsik serta poin-poin yang berhubungan aspek kedramaaan juga dimasukkan dalam simpulan isi drama. Pada pelajaran kali ini kamu akan belajar untuk