Mencapai sasaran penerima manfaat yang tepat merupakan salah satu tantangan utama dalam proyek rekonstruksi rumah apapun. Menentukan siapa yang berhak menerima rumah tergantung dari sejumlah faktor, termasuk hak-hak atas tanah dan bangunan, situasi, kebutuhan dan sumber daya. Kesalahan sasaran terkait perumahan merupakan salah satu sebab keluhan dan ketidakpuasan paling umum pada proyek rekonstruksi perumahan dan dapat menyebabkan konflik di dalam masyarakat. Di Aceh, awalnya terdapat beberapa tantangan terkait dengan kesalahan sasaran, tetapi masalah ini terpecahkan melalui penyebaran informasi yang terbuka dan transparan dan mekanisme penanganan keluhan yang efektif. Di Jawa, langkah-langkah mitigasi ini disertakan dari awal, dan sebagai hasilnya, hanya ada sedikit masalah dilaporkan dalam kaitannya dengan penentuan sasaran dalam Rekompak JRF.
Pengidentifikasian dan penyeleksian penerima manfaat melalui sebuah proses konsultasi berbasis masyarakat adalah salah satu prinsip dasar pendekatan Rekompak dan faktor kunci kesuksesannya. Di Aceh dan Jawa, masyarakat
Kategori Kerusakan Rumah
Satu kriteria untuk menentukan penerima manfaat adalah penilaian kerusakan rumah mereka dengan menggunakan kategori-kategori berikut:
• Kerusakan parah: rumah yang roboh atau rumah yang tidak layak lagi ditinggali karena strukturnya rusak dan tidak bisa diperbaiki.
Rumah semacam itu tidak dapat direhabilitasi, tetapi harus direkonstruksi.
• Kerusakan sedang: rumah dengan kerusakan signifikan yang dapat direhabilitasi karena strukturnya utuh dan aman untuk ditinggali.
• Kerusakan ringan: rumah dengan retak-retak kecil pada dinding-dindingnya, tetapi bangunannya masih utuh dan aman secara struktural.
OMPAK
yang memerlukan bantuan untuk membangun kembali rumah mereka diidentifikasi melalui penilaian-penilaian yang dipimpin oleh pemerintah.
Dengan Rekompak, penerima bantuan tertentu di dalam masyarakat ini diidentifikasi dan diseleksi melalui sebuah proses konsultasi masyarakat, berdasarkan seperangkat kriteria yang jelas.3
Tugas untuk memutuskan siapa yang seharusnya menerima pendanaan untuk membangun rumah kembali merupakan suatu hal yang rumit dan harus mempertimbangkan banyak faktor. Penting untuk mempertegas soal kebijakan kelayakan dan bahwa masyarakat penerima manfaat memiliki suara untuk mengatakan siapa yang berhak menerima rumah. Untuk menghindari konflik sosial, kebijakan tersebut harus dilaksanakan secara obyektif dan transparan. Suatu proses transparan yang dipimpin oleh masyarakat untuk menetapkan siapa yang akan memperoleh rumah akan membantu memastikan keadilan dan ketepatan dalam sasaran, dan tingkat kepuasan yang lebih tinggi terhadap proses tersebut dibandingkan dengan pendekatan nonpartisipatoris. Hak-hak rumah tangga miskin dan terpinggirkan yang kurang mampu membela diri mereka sendiri juga perlu dilindungi dalam proses ini.
Penetapan kriteria kelayakan merupakan sesuatu yang sangat rumit dan tergantung pada keadaan daerah dan sumber daya yang tersedia untuk rekonstruksi. Di Aceh dan Jawa, sebelum bencana, terdapat beragam jenis
Fasilitas sementara di Banda Aceh yang digunakan untuk memproses hibah perumahan Rekompak. Spanduk di atas menjelaskan kriteria kelayakan, termasuk bukti kepemilikan tanah dan bukti bertempat tinggal di dalam komunitas di mana rumah akan dibangun.
Foto:
Tim Rekompak
BAB 4:Membangun Rumah dan Infrastruktur Masyarakat kategori hunian rumah. Ada yang memiliki rumah sendiri, ada yang menyewa dari pemilik rumah sewaan dan ada yang menempati tanah atau rumah tanpa memiliki penetapan resmi untuk itu. Di beberapa tempat di Aceh, korban selamat begitu sedikit sehingga pada awalnya tidak jelas apakah ada yang akan kembali ke bekas permukiman masyarakat tersebut untuk membangun kembali. Sebagian dari mereka yang selamat tidak ingin kembali. Ada sejumlah pertanyaan apakah ahli waris dari pemilik rumah yang meninggal seharusnya menerima sebuah rumah atau tidak. Semua keputusan ini harus diseimbangkan dengan sumber dana keuangan yang tersedia untuk membangun rumah kembali. Dengan Rekompak, masalah-masalah sulit ini ditangani oleh masyarakat itu sendiri.
Proses penyeleksian Rekompak bersifat transparan dan terbuka. Daftar para penerima manfaat yang memenuhi syarat dikumpulkan berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh fasilitator dan sukarelawan masyarakat. Daftar awal ditempatkan di beberapa tempat umum yang strategis selama sepuluh hari. Selama waktu tersebut, sebuah rapat komunitas diadakan untuk membahas daftar tersebut dan mendengarkan keluhan atau perselisihan apa saja. Permintaan akan penilaian terhadap rumah yang seharusnya sudah ada di dalam daftar tapi ternyata tidak, jika ada, dapat diajukan. Lima hari tambahan untuk pertimbangan diberikan jika masalah muncul dalam rapat desa agar dapat diselesaikan di antara anggota masyarakat dengan arahan tim fasilitator. Setelah periode ini, daftar akhir para penerima manfaat dibuat dan diverifikasi oleh tim Gugus Tugas Perumahan dan para penerima manfaat yang memenuhi syarat. Mekanisme penanganan keluhan terdapat di tingkat proyek untuk menanggapi pertanyaan dan masalah yang muncul.
Kelompok perumahan yang beranggotakan paling banyak 15 rumah tangga penerima manfaat kemudian dibentuk sebagaimana diuraikan dalam Bab 3.
Kriteria Kelayakan Rekompak untuk Rumah Tangga
• Mampu memberikan bukti tercatat atau berbasis masyarakat bahwa yang bersangkutan pernah tinggal di suatu daerah terdampak bencana sebelum bencana terjadi
• Rumah berada di dalam wilayah geografis yang dicakup oleh proyek
• Rumah, baik yang rusak seluruhnya (memenuhi syarat untuk rekonstruksi) maupun sebagian namun tidak aman untuk dihuni (memenuhi syarat untuk rehabilitasi – hanya di Aceh) sebagaimana diverifikasi oleh penilai kerusakan teknis
• Rumah tangga tidak menerima/tidak akan mengajukan bantuan serupa dari donor lain
• Mampu membuktikan akses ke tanah, baik melalui dokumentasi atau mekanisme berbasis masyarakat
• Bersedia bergabung dengan rumah tangga penerima bantuan lainnya sesuai dengan pilihan mereka untuk membentuk kelompok tetangga dalam melaksanakan kegiatan proyek.
OMPAK
Setiap kelompok rumah tangga membuka sebuah rekening bank dan dengan arahan fasilitator, mengembangkan sebuah rencana pembangunan dan jadwal pelaksanaannya. Rencana-rencana tersebut digunakan untuk memverifikasi tahap-tahap pembangunan bagi keperluan pencairan dana hibah.