• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tiga Dasawarsa Konflik di Aceh Sebelum Tsunami

Situasi di Aceh cukup rumit. Aceh tidak hanya berada dalam situasi pascabencana namun Aceh juga berada di tengah konflik yang telah berlangsung lama. Provinsi ini telah berjuang untuk memperoleh kemerdekaannya sejak zaman penjajahan di Indonesia dan tidak pernah bersedia menjadi bagian dari Hindia Belanda dibawah pemerintahan Belanda. Pada tahun 1976, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mendeklarasikan kemerdekaan secara sepihak. Hal ini membawa Aceh pada konflik bersenjata

Tsunami Aceh dan Nias, 2004.

Banyak jalan, jembatan, sistem komunikasi, sekolah, dan infrastruktur lainnya hancur atau mengalami kerusakan yang sangat parahnya, sehingga tidak dapat digunakan kembali. Banyak garis pantai di Aceh ditelan oleh laut dan sebagian besar pelabuhan musnah.

Foto-foto:

Kiri: Yan ‘Ali Zebua, Kanan: Tim IREP-IRFF

BAB 1: Serangkaian Bencana dengan Pemerintah Indonesia. Selama periode hampir tiga dasawarsa, ribuan warga Aceh tewas dan lebih dari setengah juta orang kehilangan tempat tinggal sebagai akibat dari konflik.

Pada tahun 2004 ketika tsunami terjadi, masyarakat Aceh dipenuhi rasa ketakutan, letih akan perang, dan kehilangan rasa percaya terhadap pemerintah dan juga antara satu dengan yang lain.

“Orang-orang di sini berasal dari berbagai desa. Banyak kepala desa tewas, dan kantor-kantor serta sarana desa semuanya musnah. Kami telah menunjuk juru bicara untuk setiap desa yang warganya tinggal di barak ini.”

Korban selamat di tempat penampungan sementara di Banda Aceh7 Pada saat tsunami, Aceh berada dalam keadaan darurat sipil dan tertutup dari dunia luar selama hampir dua tahun. Hanya sedikit orang asing diizinkan berkunjung sepanjang periode ini, termasuk donor. Beberapa hari setelah tsunami, para pekerja bantuan kemanusiaan internasional diberikan akses dengan syarat bahwa seluruh orang asing harus meninggalkan Aceh sebelum akhir bulan Maret 2005. Disamping itu, para pekerja bantuan kemanusiaan hanya dapat bepergian ke dua pusat bencana terbesar, Banda Aceh dan Meulaboh. Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa hal ini perlu dilakukan demi keselamatan mereka karena, walaupun perjanjian gencatan senjata sedang berlaku, perang tetap berlangsung. Pembatasan ini akhirnya dikendurkan dan pekerja bantuan kemanusiaan tidak hanya boleh tetap tinggal, tetapi juga boleh bekerja di seluruh daerah terdampak bencana.

Selain kerusakan yang disebabkan oleh bencana, konflik bertahun-tahun telah melemahkan layanan sipil, merusak infrastruktur, dan mengakibatkan penduduk dengan keterampilan yang umumnya sangat rendah. Konflik tiga dasawarsa itu telah menciptakan ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

Banyak masyarakat sipil berada pada posisi yang sulit di antara kedua belah pihak yang berkonflik, yang meninggalkan dampak mendalam pada masyarakat Aceh.

Tsunami begitu mengguncangkan Pemerintah Indonesia dan kelompok perlawanan sehingga kedua belah pihak sepakat bahwa konflik harus dihentikan dan perdamaian harus dicapai. Hanya dengan Aceh yang damai, masyarakat akan memperoleh kesempatan membangun kembali komunitas-komunitas yang hancur di seluruh provinsi. Pembentukan Badan Reintegrasi-Damai Aceh (BRA) pada bulan Februari 2006 telah membantu memfasilitasi pelaksanaan program-program yang ditujukan bagi upaya rekonsiliasi dan reintegrasi, dan sebuah Kesepakatan Perdamaian yang mengikat ditandatangani antara Pemerintah Indonesia dan GAM pada bulan Agustus 2005.

OMPAK

Pemulihan

Perencanaan dan pengoordinasian upaya pemulihan berskala besar yang dibutuhkan di Aceh merupakan tugas yang teramat rumit. Konflik telah mengguncang kehidupan masyarakat Aceh; bencana memperparah keadaan setiap orang di Aceh berupa hilangnya anggota keluarga, hancurnya harta benda, tercabik-cabiknya kehidupan dan hilangnya mata pencaharian.

Pendekatan rekonstruksi Aceh perlu memasukkan faktor kesadaran akan dalamnya dampak kehancuran dan trauma yang telah menimpa Aceh dan penduduknya. Pendekatan ini membutuhkan upaya kerja sama dengan penduduk yang sangat traumatis dan mengalami perpecahan dan keretakan yang telah ada sebelum tsunami. Pendekatan rekonstruksi perlu membangun kepercayaan dan keyakinan diri lewat suatu proses penyembuhan yang peka demi membantu memelihara dan menghidupkan kembali struktur sosial yang rapuh. Dan untuk mencapai semua ini beserta kebutuhan yang mendesak untuk membangun kembali rumah-rumah, infrastruktur yang rusak dan ekonomi yang hancur, dibutuhkan pendanaan dalam jumlah besar.

Tsunami Aceh dan Nias, 2004.

Di Aceh dan Nias, pascatsunami sekitar 220.000 orang meninggal atau hilang.

Kios kecil di Banda Aceh ini menjadi pusat informasi di mana anggota keluarga yang selamat memajang pesan-pesan dengan harapan untuk dapat mengetahui keberadaan kerabat yang hilang.

Foto:

Kantor Berita Antara

BAB 1: Serangkaian Bencana

BENCANA MENGHANTAM JAWA

Pada tanggal 27 Mei 2006 gempa bumi dengan kekuatan 6,3 Skala Richter menghantam kota bersejarah Jawa, Yogyakarta, dan provinsi padat penduduk Jawa Tengah. Gempa bumi terjadi pada dini hari dan seruan Allahu Akbar (Tuhan Maha Besar) terdengar saat orang-orang merasakan dampak dari guncangan dan berlarian ke jalan-jalan.

Kerusakan dari gempa bumi tersebut jauh lebih besar dari yang semula disadari.

Gedung-gedung besar kebanyakan tak tersentuh gempa, namun ratusan ribu rumah dan bangunan yang lebih kecil mengalami kehancuran. Banyak rumah

Gempa Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah, 2006.

Seorang gadis kecil berdiri di tengah reruntuhan bangunan kawasan tempat tinggalnya yang dihancurkan oleh gempa bumi.

Foto:

Tim Rekompak

OMPAK

di daerah tersebut dibangun tanpa penyangga yang layak dan dengan bahan-bahan bangunan bermutu rendah, sehingga menyebabkan lebih banyak korban meninggal dan kerusakan daripada dampak yang seharusnya terjadi dari sebuah gempa bumi sebesar itu. Faktor lain yang berkontribusi pada kerusakan yang sedemikian dahsyatnya itu adalah bahwa gempa bumi tersebut terjadi pada kedalaman yang relatif dangkal, yaitu 33 kaki (sekitar 10 meter) di bawah permukaan tanah, yang guncangannya sangat kuat dan merobohkan rumah-rumah.

Gempa bumi tersebut berlangsung selama 52 detik dan menewaskan lebih dari 5.700 orang. Sekitar 40.000 orang terluka dan, yang mencengangkan, jumlah rumah yang hancur mencapai 350.000.

Banyak orang terjebak dan terkubur di bawah rumah dan bangunan mereka yang runtuh. Banyak dari yang terluka menjadi cacat seumur hidup, sebagian di antara mereka lumpuh. Pemandangan yang sama terlihat di desa-desa di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah.

Jawa adalah pulau dengan jumlah penduduk terbesar di dunia dan salah satu tempat paling padat penduduk di muka bumi. Pulau ini dihuni sekitar 140

Mengukur Kerusakan dan Kerugian

Penilaian kerusakan dan kerugian menganalisa tiga aspek utama:

Kerusakan (dampak langsung) mengacu pada dampak terhadap aset, persediaan dan properti, yang dinilai berdasarkan harga per unit penggantian (bukan rekonstruksi). Penilaian harus mempertimbangkan tingkat kerusakan (apakah suatu aset dapat direhabilitasi/diperbaiki, atau telah hancur sama sekali)

Kerugian (dampak tak langsung) mengacu pada arus ekonomi yang akan terkena dampak, seperti berkurangnya penghasilan atau naiknya pengeluaran selama periode waktu hingga pemulihan aset.

Hitungannya berdasarkan nilai terkini. Definisi periode waktu sangatlah penting. Jika pemulihan berlangsung lebih lama dari yang diharapkan, sebagaimana dalam kasus Aceh, kerugian dapat meningkat secara signifikan.

Dampak ekonomi (terkadang disebut dampak sekunder) mencakup dampak fiskal dan implikasinya pada pertumbuhan PDB. Analisa ini juga dapat diterapkan pada tingkat sub-nasional.

Sumber: Indonesia, Bappenas, 2006. Indonesia: Preliminary Damage and Loss Assessment Yogyakarta and Central Java Natural Disaster. 13

BAB 1: Serangkaian Bencana juta orang atau 60 persen dari populasi Indonesia. Mayoritas penduduk Jawa adalah Muslim. Jawa mendominasi kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia. Kebanyakan penduduk di daerah yang terdampak bencana hidup miskin, walaupun tidak terlampau miskin, sebagian besar dari mereka hidup dalam kondisi serupa.

Sebuah tim gabungan yang dipimpin oleh Bappenas, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Yogyakarta dan Jawa Tengah serta komunitas internasional, termasuk Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, Badan Kerjasama Internasional Jerman (Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit atau GIZ),8 Japan Bank for International Cooperation(JBIC),

Selamat dari Gempa Bumi

Sulastri Widayati (43), warga Desa Wonokromo, berlari keluar rumah saat dia merasakan bumi dan tanah bergerak. Dia melihat banyak rumah bergoyang sebelum akhirnya roboh.

“Atap rumah saya berayun seperti ombak di samudera. Tapi anehnya, pohon-pohon di sekitar rumah tidak tumbang atau bahkan tidak bergerak sama sekali,” kata Sulastri. “Kami dalam keadaan panik.”

Dia melihat sebatang pohon kelapa di depan rumahnya yang tidak tumbang dan lalu, dia memeluk pohon itu.

Namun kemudian, disadarinya bahwa suami dan anak-anaknya masih berada di dalam rumah. Dia berpikir bahwa jika kembali ke dalam rumah, dia pasti akan menjadi korban juga dan karena itu dia menunggu di luar hingga guncangan berhenti.

Suami dan salah satu anaknya terluka karena terkena jatuhan bagian atap yang. Tulang belakang anaknya patah, sementara suaminya menderita luka-luka ringan. “Ada hikmah di balik keegoisan saya.

Allah memberi saya keselamatan sehingga saya dapat merawat anak, suami, dan anggota keluarga lain hingga pulih dari luka-luka mereka,”

kenang Sulastri.

“Ada dinding yang tidak roboh dan di situlah anak saya yang terluka berada. Jika saja dinding itu roboh, habislah keluarga saya,” kata Sulastri.

Kerugian ekonomi yang diderita oleh keluarga Sulastri akibat gempa bumi ini diperkirakan sekitar AS$8.300.

Sumber: Post-Tsunami and Earthquake Community-Based Rebuilding of Settlements and Infrastructure: Experiences of REKOMPAK JRF in the Special Region of Yogyakarta and Central Java. Kementerian Pekerjaan Umum, 2010. 24-26

OMPAK

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programme atau UNDP), badan PBB UN-Habitat, dan lain-lain, menyiapkan Penilaian Kerusakan dan Kerugian awal yang menetapkan seluruh jumlah kebutuhan untuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Total jumlah kerusakan dan kerugian dari gempa bumi ini diperkirakan sekitar AS$3,1 miliar. Skala bencana ini setara dengan gempa bumi dahsyat di Gujarat, India pada tahun 2001 dan di Pakistan pada tahun 2005.

“Pada setiap guncangan gempa bumi, rumah-rumah miring dari kiri ke kanan dan kembali lagi. Tiba-tiba, rumah-rumah itu roboh ke tanah dan seolah lenyap,” kenang Salleh Udden, kepala desa Jagalan (Kabupaten Bantul, Yogyakarta), dimana lebih dari 30 persen dari 216 rumah tradisional rata dengan tanah.

9

Dampak ekonomi dari gempa bumi ini sangat berat karena terkonsentrasi pada industri rumah tangga di daerah-daerah yang hancur oleh gempa.

Lebih dari 650.000 orang yang bekerja di berbagai kegiatan ekonomi terdampak langsung oleh gempa bumi dengan hampir 90 persen kerusakan dan kerugian terpusat pada usaha kecil dan menengah. Di dua kabupaten yang paling parah terkena gempa, Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Klaten di Jawa Tengah, kerusakan pada rumah-rumah pribadi mencapai lebih dari 70 persen dari total kerusakan.10 Banyak industri rumah tangga di sektor kerajinan tangan utama di daerah tersebut terdampak sangat parah.

Membangun kembali rumah-rumah berarti pula mendukung pemulihan usaha-usaha rumah tangga dan mata pencaharian.

Gempa Bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah, 2006.

Gempa bumi di Jawa yang berlangsung selama 52 detik mengakibatkan 40.000 korban luka dan 5.700 korban jiwa. Sekitar 350.000 rumah, yang banyak di antaranya untuk industri rumah tangga, hancur oleh gempa tersebut.

Foto:

Tim Rekompak

BAB 1: Serangkaian Bencana