• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengarahkan Penanya Pada Hal yang Berfaedah

C. Etika Menjawab

1. Mengarahkan Penanya Pada Hal yang Berfaedah

Pada dasarnya sebuah jawaban harus sesuai dengan pertanyaan, sesuai dengan bunyi kaidah.57

ﹺﻝِﺍﺆﺴﻠﻟ

ﺎﻘِﹺﺑﺎﹶﻄﻣ

ﹶﻥﻮﹸﻜﻳﹾﻥﹶﺍﹺﺏﺍﻮﺠﹾﻟﺍ

ﻰﻓ

ﹸﻞﺻﹶﻻﹶﺍ

.

Artinya: asalnya suatu jawaban harus sesuai dengan pertanyaan.

Namun terkadang jawaban yang diberikan menyimpang dari apa yang dikehendaki pertanyaan. Hal ini untuk mengingatkan bahwa jawaban itulah yang seharusnya ditanyakan. Seperti pada Q.S. al-Baqarah (2): 189 berikut:

ﺍﻮﺗﹾﺄﺗ

ﹾﻥﹶﺄﹺﺑ

ﺮﹺﺒﹾﻟﺍ

ﺲﻴﹶﻟﻭ

ﺞﺤﹾﻟﺍﻭ

ﹺﺱﺎﻨﻠﻟ

ﺖﻴﻗﺍﻮﻣ

ﻲﻫ

ﹾﻞﹸﻗ

ﺔﱠﻠﻫﹶﺄﹾﻟﺍ

ﹺﻦﻋ

ﻚﻧﻮﹸﻟﹶﺄﺴﻳ

ﻦﻜﹶﻟﻭ

ﺎﻫﹺﺭﻮﻬﹸﻇ

ﻦﻣ

ﺕﻮﻴﺒﹾﻟ

ﹶﻥﻮﺤﻠﹾﻔﺗ

ﻢﹸﻜﱠﻠﻌﹶﻟﻪﱠﻠﻟﺍ

ﺍﻮﹸﻘﺗﺍﻭﺎﻬﹺﺑﺍﻮﺑﹶﺃ

ﻦﻣ

ﺕﻮﻴﺒﹾﻟﺍ

ﺍﻮﺗﹾﺃﻭ

ﻰﹶﻘﺗﺍ

ﹺﻦﻣ

ﺮﹺﺒﹾﻟﺍ

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan

56

HR. Ahmad, Muslim dan Abu Awanâh yang bersumber dari Anas ra. 57

Imam Burhanuddin Muhammad bin Abdullah al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur’ân, (Beirut: Daar al-Kutb al-Ilmiyyah, 1988), Cet. I, h. 50

masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada

Allah agar kamu beruntung”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 189).

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan. Pertanyaan mereka adalah; mengapa bulan pada mulanya terlihat seperti sabit, kecil, tetapi dari malam ke malam ia membesar hingga mencapai purnama, kemudian mengecil dan mengecil lagi sampai menghilang dari pandangan? Katakanlah: “Bulan sabit

adalah tanda-tanda waktu bagi manusia”. Waktu dalam penggunaan al-Qur’ân

adalah batas akhir peluang untuk menyelesaikan suatu aktivitas.

Seperti terlihat di atas, jawaban yang diberikan ini tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Al-Qur’ân tidak menjawabnya sesuai dengan harapan mereka, tetapi memberi jawaban lain sesuai dengan kepentingan mereka.

Hal serupa banyak terjadi dengan tujuan mengingatkan penanya bahwa ada yang lebih wajar ditanyakan dari pada yang telah diajukan. Memang al- Qur’ân mendidik manusia, dan salah satu bentuk pendidikannya adalah mengarahkan mereka melalui jawaban-jawabannya.

Pertanyaan seperti itu, tidak pada tempatnya jika diajukan kepada Nabi, karena kedudukan Nabi adalah sebagai utusan Tuhan yang membimbing dan membawa petunjuk agama. Nabi bukanlah ahli ilmu falak; sebab itu jawaban yang diberikan sesuai dengan kewajibannya sebagai rasul, bahwa bulan sabit adalah untuk menentukan waktu bagi manusia. Dengan bulan yang demikian halnya manusia sesama manusia dapat menentukan janji. Dengan bulan demikian

manusia dapat menentukan iddah perempuan setelah bercerai. Dengan bulan demikian manusia dapat menentukan beberapa purnama perempuan telah mengandung. Dan dengan bulan itu pula dapat ditentukan waktu puasa sampai waktu hari raya dan mengeluarkan zakat sekali setahun, sampai kepada waktu mengerjakan haji.58

Al-Qur’ân tidak menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban ilmiah, sebagaimana dijelaskan dalam astronomi, yakni keadaan bulan seperti itu akibat peredaran bulan dan matahari, serta posisi masing-masing dalam memberi dan menerima cahaya matahari. Tetapi bila jawaban ini yang disampaikan, maka disamping masalah yang lebih penting tidak terungkap, penjelasan mengenai pertanyaan itu bukan merupakan bidang al-Qur’ân. Karena al-Qur’ân adalah kitab hidayah, bukan kitab ilmiah. Di samping itu jawaban ilmiah berdasar astronomi belum terjangkau oleh para penanya ketika itu. Demikian ayat ini mengajarkan agar tidak menjawab persoalan yang tidak termasuk otoritas kita, tidak juga memberi jawaban yang diduga tidak mengerti oleh penanya, sebagaimana ia mengajarkan agar mengarahkan penanya kepada pertanyaan dan jawaban yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Yang lebih wajar mereka ketahui adalah tujuan penciptaan bulan seperti itu dan manfaat yang harus diperoleh dari keadaannya yang demikian.

58

Dalam konteks pertanyaan ayat ini berpesan, “Tanyakanlah persoalan yang bermanfaat yang dapat anda mengerti, dan ajukan pertanyaan kepada siapa yang mengetahui dan mengerti.

Dalam ayat ini, secara lahirnya pertanyaan mengarah kepada hakikat alamiah, namun jawabannya dipalingkan kepada aspek yang bermanfaat bagi mereka. Mereka memang wajar bertanya tentang hal itu, seperti yang diriwayatkan di dalam pertanyaan tentang bulan sabit. Mereka bertanya tentang sebab mulai tampaknya bulan dalam keadaan kecil, kemudian membesar sedikit demi sedikit hingga sempurna lalu kembali berkurang dan akhirnya hilang. Jawaban menunjukkan kepada hikmah penciptaan semacam ini. Hikmah itu adalah adanya kegunaan bagi mereka, bila ditinjau bahwa bulan sabit itu menjadi tanda waktu bagi mereka untuk mengetahui waktu-waktu shaum, haji, masa iddah wanita dan perjanjian-perjanjian.

Dipalingkannya jawaban orang-orang yang bertanya tentang sebab kepada hikmah, tampak dengan jelas bahwa Rasul semata-mata diutus untuk menerangkan hukum-hukum bagi perbuatan orang-orang mukallaf, bukan untuk menerangkan hakikat kejadian. Oleh sebab itu beliau tidak ditanya: bagaimana pedapat al-Dîn tentang atom langit, lapisan bumi, kegunaan bulan atau Mars untuk tempat tinggal, atau bagaimana pendapat al-Dîn tentang bulat atau tidak bulatnya bumi, bagaimana hujan kilat dan petir itu terjadi. Semua itu telah dibiarkan oleh Allah untuk dibahas oleh mausia dengan akalnya. Sedikitpun

manusia tidak berdosa untuk mengadakan penelitian tentang cara bercocok tanam, berindustri, mengobati dan perkara lain yang telah diwakilkan oleh Allah kepada pengalaman-pengalaman dan pertimbangan manusia dalam mengetahui dan memilih yang berfaidah dariya. Perkara-perkara keduniaan semacam ini, tidak dirinci dan diatur dalam tasyri’ Ilahi. Inilah yang dimaksud dengan Hadits Rasul:

ﹶﺍﻧﺘ

ﻢ

ﹶﺍﻋ

ﹶﻠﻢ

ﹺﺑﹸﺎ

ﻣ

ﹺﺭ

ﺩ

ﻧﻴ

ﹸﻛﺎ

ﻢ

.

)

ﻢﻠﺴﻣﻩﺍﻭﺭ

(

Artinya: Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian.59

ﺴﻤﹾﻟﺍﻭ

ﻰﻣﺎﺘﻴﹾﻟﺍﻭ

ﲔﹺﺑﺮﹾﻗﹶﺄﹾﻟﺍﻭ

ﹺﻦﻳﺪﻟﺍﻮﹾﻠﻠﹶﻓ

ﹴﺮﻴﺧ

ﻦﻣ

ﻢﺘﹾﻘﹶﻔﻧﹶﺃ

ﺎﻣ

ﹾﻞﹸﻗ

ﹶﻥﻮﹸﻘﻔﻨﻳ

ﺍﹶﺫﺎﻣ

ﻚﻧﻮﹸﻟﹶﺄﺴﻳ

ﻞﻴﹺﺒﺴﻟﺍ

ﹺﻦﺑﺍﻭ

ﹺﲔﻛﺎ

ﻢﻴﻠﻋ

ﻪﹺﺑ

ﻪﱠﻠﻟﺍ

ﱠﻥﹺﺈﹶﻓ

ﹴﺮﻴﺧ

ﻦﻣ

ﺍﻮﹸﻠﻌﹾﻔﺗﺎﻣﻭ

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha

Mengetahuinya” (Q.S. al-Baqarah [2]: 215).

Pertanyaan ini berasal dari Amru bin Jumuah, orang tua yang datang kepada Rasul untuk menanyakan bagaimana cara menyedekahkan hartanya yang banyak dan kepada siapa ia harus bersedekah. Pertanyaan yang ia ajukan bukan sebenarnya bukan haya untuk dirinya sendiri tapi juga mewakili pertanyaan dari

orang lain, maka turunlah jawaban yang diperuntukkan bagi seluruh kaum muslimin.

Pertanyaan pertama menyangkut nafkah. Tentu saja pertanyaan itu telah mereka ajukan sebelum turunnya ayat ini. Tetapi al-Qur’ân bermaksud melukiskan betapa indah sikap batin mereka dan betapa baik pertanyaan ini. Untuk itulah ayat ini menggunakan bentuk kata kerja masa kini (sekarang/sedang berlangsung).

Pertanyaan dengan

ﹶﻥﻮﹸﻘﻔﻨﻳ

ﺍﹶﺫﺎﻣ

apa yang mereka nafkahkan menunjukkan bahwa pada dasarnya mereka memahami dan menerima kewajiban infak, namun mereka belum mengetahui apa yang harus mereka infaqkan. Maka jawaban yang diturunkan Allah memberikan penjelasan secara jelas apa yang harus mereka lakukan yaitu:

000

ﺎﻣ

ﻞﻴﹺﺒﺴﻟﺍﹺﻦﺑﺍﻭ

ﹺﲔﻛﺎﺴﻤﹾﻟﺍﻭ

ﻰﻣﺎﺘﻴﹾﻟﺍﻭ

ﲔﹺﺑﺮﹾﻗﹶﺄﹾﻟﺍﻭ

ﹺﻦﻳﺪﻟﺍﻮﹾﻠﻠﹶﻓ

ﹴﺮﻴﺧ

ﻦﻣ

ﻢﺘﹾﻘﹶﻔﻧﹶﺃ

000

Artinya: “… Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada

ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan

orang-orang yang sedang dalam perjalanan…”. (Q.S. al-Baqarah [2]:

215).

Sehubungan dengan persoalan-persoalan di atas, adalah masalah khamr dan judi yang menjadi materi pertanyaan yang diajudakan sahabat Nabi saw. Jawaban yang disampaikan Allah bersifat mendidik dan memberikan banyak manfaat, artinya bukan masalah pembuatan komoditi khamr dan judi yang diberi penjelasan dalam menanggapi pertanyaan, tetapi bahaya dan efek destruktif yang

ditekankan Allah sehingga konsumsi khamr dan permainan judi harus segera ditinggalkan. Akan lebih positif, jika harta yang digunakan untuk mengkosumsi khamr dan berjudi dikonsentrasikan dan dialokasikan untuk berinfaq atau sedekah, maka itu lebih bermanfaat, sebagaimana Firman Allah pada ayat-ayat berikut:

ﺨﹾﻟﺍ

ﹺﻦﻋ

ﻚﻧﻮﹸﻟﹶﺄﺴﻳ

ﺎﻤﹺﻬﻌﹾﻔﻧ

ﻦﻣ

ﺮﺒﹾﻛﹶﺃ

ﺎﻤﻬﻤﹾﺛﹺﺇﻭ

ﹺﺱﺎﻨﻠﻟ

ﻊﻓﺎﻨﻣﻭ

ﲑﹺﺒﹶﻛ

ﻢﹾﺛﹺﺇ

ﺎﻤﹺﻬﻴﻓ

ﹾﻞﹸﻗ

ﹺﺮِﺴﻴﻤﹾﻟﺍﻭ

ﹺﺮﻤ

ﹶﻥﻭﺮﱠﻜﹶﻔﺘﺗﻢﹸﻜﱠﻠﻌﹶﻟﺕﺎﻳﺂﹾﻟﺍ

ﻢﹸﻜﹶﻟﻪﱠﻠﻟﺍﻦﻴﺒﻳ

ﻚﻟﹶﺬﹶﻛ

ﻮﹾﻔﻌﹾﻟﺍ

ﹺﻞﹸﻗ

ﹶﻥﻮﹸﻘﻔﻨﻳﺍﹶﺫﺎﻣ

ﻚﻧﻮﹸﻟﹶﺄﺴﻳﻭ

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar60 dan judi. Katakanlah. Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-

Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 219).

Pada bagian pertama ayat ini melarang memperoleh harta dan menggunakannya dalam kegiatan yang tidak berguna, maka persoalan berikut yang merupakan bagian dari ayat ini masih berkaitan dengan harta yakni mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan yakni yang mudah dan yang diinfakkan tidak dengan berat hati.61

60 Khamr adalah segala minuman yang memabukkan, apapun bahan mentahnya. Minuman yang berpotensi memabukkan bila diminum dengan kadar normal oleh seorang normal, maka minuman itu adalah khamar sehingga haram hokum meminumnya.

61 Anak kalimat ayat di atas merupakan satu dari tiga macam pengeluaran harta yang diajarkan al-Qur’an: pertama, wajib dan harus dikeluarkan, yaitu zakat. Kedua sesuatu yang bukan zakat dan hati tidak berat mengeluarkannya. Ketiga tidak wajib tetapi hati berat mengeluarkannya.

Demikian juga arahan-arahan jawaban yang amat berarti bagi para penanya seperti tentang pengurusan harta anak-anak yatim, menyikapi wanita- wanita yang datang bulan, jenis-jenis makanan halal dari daging sebagaimana pada ayat-ayat berikut:

ﹸﻜﻧﺍﻮﺧﹺﺈﹶﻓ

ﻢﻫﻮﹸﻄﻟﺎﺨﺗ

ﹾﻥﹺﺇﻭ

ﺮﻴﺧ

ﻢﻬﹶﻟ

ﺡﺎﹶﻠﺻﹺﺇ

ﹾﻞﹸﻗ

ﻰﻣﺎﺘﻴﹾﻟﺍ

ﹺﻦﻋ

ﻚﻧﻮﹸﻟﹶﺄﺴﻳﻭ

ﺓﺮﺧﺂﹾﻟﺍﻭ

ﺎﻴﻧﺪﻟﺍ

ﻲﻓ

ﻪﱠﻠﻟﺍﻭ

ﻢ

ﺢﻠﺼﻤﹾﻟﺍﻦﻣ

ﺪِﺴﹾﻔﻤﹾﻟﺍ

ﻢﹶﻠﻌﻳ

ﻢﻴﻜﺣ

ﺰﻳﹺﺰﻋ

ﻪﱠﻠﻟﺍﱠﻥﹺﺇ

ﻢﹸﻜﺘﻨﻋﹶﺄﹶﻟﻪﱠﻠﻟﺍ

َﺀﺎﺷ

ﻮﹶﻟﻭ

Artinya: “Tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha

Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. al-Baqarah [2]: 220).

ﹶﻥﺮﻬﹾﻄﻳ

ﻰﺘﺣ

ﻦﻫﻮﺑﺮﹾﻘﺗ

ﺎﹶﻟﻭ

ﹺﺾﻴﺤﻤﹾﻟﺍ

ﻲﻓ

َﺀﺎﺴﻨﻟﺍ

ﺍﻮﹸﻟﹺﺰﺘﻋﺎﹶﻓ

ﻯﹰﺫﹶﺃ

ﻮﻫ

ﹾﻞﹸﻗ

ﹺﺾﻴﺤﻤﹾﻟﺍ

ﹺﻦﻋ

ﻚﻧﻮﹸﻟﹶﺄﺴﻳﻭ

ﺍﹶﺫﹺﺈﹶﻓ

ﻬﹶﻄﺘﻤﹾﻟﺍ

ﺐﺤﻳﻭ

ﲔﹺﺑﺍﻮﺘﻟﺍ

ﺐﺤﻳ

ﻪﱠﻠﻟﺍ

ﱠﻥﹺﺇ

ﻪﱠﻠﻟﺍﻢﹸﻛﺮﻣﹶﺃ

ﹸﺚﻴﺣ

ﻦﻣ

ﻦﻫﻮﺗﹾﺄﹶﻓ

ﹶﻥﺮﻬﹶﻄﺗ

ﻦﻳﹺﺮ

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang

mensucikan diri” (Q.S. al-Baqarah [2]: 222).

ﻟﺍ

ﻢﹸﻜﹶﻟ

ﱠﻞﺣﹸﺃ

ﹾﻞﹸﻗ

ﻢﻬﹶﻟ

ﱠﻞﺣﹸﺃ

ﺍﹶﺫﺎﻣ

ﻚﻧﻮﹸﻟﹶﺄﺴﻳ

ﺎﻤﻣ

ﻦﻬﻧﻮﻤﱢﻠﻌﺗ

ﲔﹺﺒﱢﻠﹶﻜﻣ

ﹺﺡﹺﺭﺍﻮﺠﹾﻟﺍ

ﻦﻣ

ﻢﺘﻤﱠﻠﻋ

ﺎﻣﻭ

ﺕﺎﺒﻴﱠﻄ

ﻪﱠﻠﻟﺍ

ﱠﻥﹺﺇ

ﻪﱠﻠﻟﺍ

ﺍﻮﹸﻘﺗﺍﻭﻪﻴﹶﻠﻋ

ﻪﱠﻠﻟﺍ

ﻢﺳﺍ

ﺍﻭﺮﹸﻛﹾﺫﺍﻭﻢﹸﻜﻴﹶﻠﻋ

ﻦﹾﻜﺴﻣﹶﺃ

ﺎﻤﻣﺍﻮﹸﻠﹸﻜﹶﻓﻪﱠﻠﻟﺍ

ﻢﹸﻜﻤﱠﻠﻋ

ﹺﺏﺎﺴﺤﹾﻟﺍ

ﻊﻳﹺﺮﺳ

Artinya: Mereka menanyakan kepadamu: Apakah yang dihalalkan bagi mereka?

ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab- Nya (Q.S. al-Mâ’idah [5]: 4).

Pertanyaan tentang kapankah hari kiamat tiba, bukan mempunyai motivasi sebagaimana pertanyaan-pertanyaan lain yang bertujuan mencari penjelasan. Pertanyaan ini lebih bersifat penolakan dan tidak mengakui eksistensi hari tersebut, oleh karenanya jawaban yang diberikan pun tidak diberikan sebagaimana materi yang dipertanyakan, tetapi selain masalah tersebut menjadi urusan Allah, penjelasan tentang peristiwa terjadinya hari yang menakutkan itu menjadi jawaban yang disampaikan sebagai mana pada ayat berikut:

ﻣ

ﹶﻥﺎﻳﹶﺃ

ﺔﻋﺎﺴﻟﺍ

ﹺﻦﻋ

ﻚﻧﻮﹸﻟﹶﺄﺴﻳ

ﻲﻓ

ﺖﹶﻠﹸﻘﹶﺛ

ﻮﻫ

ﺎﱠﻟﹺﺇ

ﺎﻬﺘﹾﻗﻮﻟ

ﺎﻬﻴﱢﻠﺠﻳ

ﺎﹶﻟ

ﻲﺑﺭ

ﺪﻨﻋ

ﺎﻬﻤﹾﻠﻋ

ﺎﻤﻧﹺﺇ

ﹾﻞﹸﻗ

ﺎﻫﺎﺳﺮ

ﻨﻋ

ﺎﻬﻤﹾﻠﻋ

ﺎﻤﻧﹺﺇ

ﹾﻞﹸﻗ

ﺎﻬﻨﻋ

ﻲﻔﺣ

ﻚﻧﹶﺄﹶﻛ

ﻚﻧﻮﹸﻟﹶﺄﺴﻳ

ﹰﺔﺘﻐﺑ

ﺎﱠﻟﹺﺇ

ﻢﹸﻜﻴﺗﹾﺄﺗ

ﺎﹶﻟ

ﹺﺽﺭﹶﺄﹾﻟﺍﻭ

ﺕﺍﻮﻤﺴﻟﺍ

ﻦﻜﹶﻟﻭ

ﻪﱠﻠﻟﺍ

ﺪ

ﺍﺮﹶﺜﹾﻛﹶﺃ

ﹶﻥﻮﻤﹶﻠﻌﻳﺎﹶﻟ

ﹺﺱﺎﻨﻟ

Artinya: Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu

seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah:

"Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi

Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.S. al-A‘râf [7]:

Dokumen terkait