BAB V PENUTUP
A. Mengelak Terjebak: Dua Jalan Paradoks dari Produksi
Dari awal penelitian ini dilakukan, penulis ingin mencari jawaban dari persoalan kelokalan ala televisi lokal melalui Inyong Siaran di Jogja TV. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan, bagaimana tayangan Inyong Siaran di Jogja TV merepresentasikan kelokalan pada pirsawannya dan bagaimana resepsi audiens terhadap kelokalan Jogja TV melalui tayangan Inyong Siaran? Dua pertanyaan tersebut selama penelitian ini dilakukan, akhirnya memberikan kesimpulan pada dua buah paradoks atas kelokalan televisi lokal.
Paradoks pertama, dilihat dari sejarahnya, televisi di Indonesia pada awal mula kemunculannya tidak lepas dari kepentingan politik. Televisi Republik Indonesia atau dikenal TVRI, pada era Soekarno bukan menjadi pilihan utama karena radio dan koran sudah lebih dahulu menjadi media pilihan dan dengan pertimbangan lebih merakyat, sedang televisi lebih banyak menunjukkan bentuk-bentuk tontonan yang sudah dipakai negara-negara kapitalis. Televisi dipilih sebagai alat positioning daripada sebagai alat penyebaran informasi belaka, di mana kepentingan ideologis menyertai berdirinya TVRI yang pada waktu itu untuk menyambut pesta olah raga Asian Games, pada bulan Agustus 1962.
Terlepas dari alat positioning, proyek pelebaran stasiun televisi pun dimulai pada tahun 1965 dan Yogyakarta menjadi kota pilihan pertama serta diikuti kota-kota besar lainnya. Namun, berdirinya stasiun TVRI di daerah tidak berarti stasiun tersebut memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur programnya
sendiri. Televisi-televisi daerah tersebut hanya sebatas relay dari pusat dan hanya memiliki sedikit kelonggaran siaran secara mandiri dengan batasan waktu dua jam perhari. Fungsi pembatasan dan relay tidak lain adalah bukti berpindahnya televisi sebagai alat positioning ke kontrol ideologi siaran di masyarakat. Dengan kata lain, pemerintah adalah pemegang kendali segala informasi yang berkembang di daerah. Kontrol tersebut secara tidak langsung juga termasuk kontrol pada pemirsa daerah dalam memperoleh informasi yang di dapat.
Fase selanjutnya yang masih dalam satu paradoks di atas adalah perang modal atau bisnis dalam media khususnya televisi. Fase tersebut dimulai dengan munculnya televisi stasiun swasta pertama (RCTI). Kelonggaran terhadap para pemilik modal untuk berbisnis stasiun televisi tidak lain karena adanya dukungan kedekatan hubungan antara pemodal dengan penguasa. Soeharto (dengan beberapa anaknya) yang pada waktu itu sebagai penguasa otoriter memiliki hubungan bisnis dengan para pemilik stasiun TV. Para pemodal tersebut kemudian memperoleh dukungan penuh dari pemerintah, meski undang-undang sebelumnya sangat tegas mengatur kepemilikan televisi. Hasil dari campur tangan modal tersebut adalah munculnya banyak stasiun televisi swasta nasional.
Jangkauan televisi swasta sangat jelas, stasiun-stasiun tersebut hampir dapat diterima di seluruh daerah di Indonesia. Persaingan ketat berikutnya adalah (dengan jarak jangkauannya) televisi berusaha menjadi pilihan utama bagi pirsawannya. Mereka berlomba menghadirkan berbagai program tayangan untuk mengumpulkan para pemirsanya, dengan alat ukur keberhasilannya adalah rating program itu sendiri. Di sini fungsi rating tidak hanya sebatas alat ukur program
bahwa suatu acara memiliki banyak peminat, tetapi karena rating dapat membuka peluang dengan banyaknya jumlah sponsor (iklan) yang masuk (meski program seragam!) di setiap stasiun televisi swasta.
Alasan keseragaman acara pada televisi-televisi swasta akhirnya televisi lokal harus muncul. Stasiun televisi (swasta) lokal banyak berdiri meski belum ada Undang-Undang yang mengaturnya dan ijin belum didapatkan. Di bawah payung Undang-Undang Penyiaran (UUP) No. 32 tahun 2002, televisi lokal pun
menjadi bagian ”sah” televisi di Indonesia. Televisi lokal, sebagaimana televisi
swasta nasional, dari segi kepemilikan dapat dimiliki oleh orang atau badan apa saja. Mereka, para pemilik modal, bahkan dapat membeli beberapa saham televisi lokal di daerah lain dengan alasan program kedaerahan dapat menjadi bisnis dari isu kelokalan itu sendiri.
Program acara yang bersifat kedaerahan pun bermunculan di setiap televisi lokal. Sajian kedaerahan tersebut bahkan menjadi menu utama dalam televisi lokal. Acara Icip-icip, Goodril, Jogja Nyasar, Blusukan sampai Inyong Siaran yang ada di Jogja TV misalnya menunjukkan keragaman acara yang tidak dapat ditemukan dalam televisi swasta nasional. Acara-acara kedaerahan yang semakin merebak di televisi-televisi lokal tersebut, sebagaimana pada televisi swasta nasional, tidak dapat lepas dari iklan. Iklan adalah penyokong modal dalam televisi lokal, keberadaannya sekaligus menjadi tanda keberhasilan mempertahankan kelanjutan siaran.
Dari satu paradoks di atas, perjalanan televisi di Indonesia semakin menunjukkan dua hal. Pertama, televisi dalam kekangan kekuasaan pemerintah,
seperti banyak terjadi ketika Orde Baru berkuasa. Kedua, televisi dalam kakangan kekuasaan modal di mana liberasi kepemilikan ada pada stasium-stasiun televisi baik lokal maupun nasional. Liberasi yang dimulai dari adanya campur tangan modal dalam bisnis televisi yang terjadi dari Orde Baru menjalar sampai kemunculan televisi lokal.
Paradoks kedua, sebagaimana dilihat dari perjalanan televisi lokal yang tidak dapat dilepaskan dari paradoks pertama, televisi lokal telah melahirkan tayangan-tayangan bertema kedaerahan. Kedaerahan menjadi tema lain atau dari cara menikmati tontonan pada televisi-televisi sebelumnya, di mana berbagai macam program acara yang disediakan di dalamnya ditujukan pada para konsumennya (pemirsa). Mereka, para konsumen, yang tersebar dalam batas-batas geografis, melalui televisi lokal kemudian dilokalisir; di Solo mereka memiliki pilihan pada TA TV, di Surabaya J TV, di Semarang dan sekitarnya ada TV KU, Cakra TV, Borobudur TV, di Yogyakarta ada Jogja TV dan RB TV atau pun di daerah-daerah lainnya. Batasan geografis yang lepas pada masa keemasan televisi swasta nasional, seakan ditarik kembali pada ukuran konsumen-konsumen daerah. pelokalisiran bentuk-bentuk tayangan pun menjadi bagian di dalamnya agar orang-orang daerah dapat mengonsumsi tayangan-tayangan di sekitar mereka. Bentuk-bentuk tayangan yang beragam dari televisi lokal pun berhasil disiarkan, dari Pojok Kampung di J TV sampai Inyong Siaran di Jogja TV. Televisi lokal telah berhasil melokalisir konsumen dari kelokalan geografis ke kelokalan virtual. Lokalisir bentuk tayangan, sebagaimana menikmati tayangan kelokalan di Inyong Siaran di Jogja TV pada malam Sabtu dan malam Senin adalah cara
menikmati Banyumasan ala Jogja TV. Inyong Siaran melokalisir kebutuhan informasi komunitas Banyumasan dengan cara membedakan diri dari informasi yang sudah ada. Visualisasi Banyumasan yang belum ada dari media-media sebelumnya seperti radio dan koran adalah salah satu kelebihannya. Seluk-beluk Banyumasan diliput, dari keindahan tempat-tempat wisata sampai aktivitas orang-orang Banyumasan; keelokan Goa Jati Jajar sampai Gethuk Goreng, dari tepi laut Nusa Kambangan sampai bukit Baturaden. Lokalisir Banyumasan dalam Inyong Siaran pun muncul bukan tanpa alasan: kemapanan komunitas Banyumasan di Yogyakarta menjadi salah satu buktinya. Mereka yang sebelumnya memiliki ruang temu dalam kumpulan-kumpulan konvensional seperti, arisan, latihan macapatan, silaturahmi sampai acara Syawalan (halal bi halal), dipertemukan kembali dalam Inyong Siaran. Mereka menyapa bahkan dapat curhat dalam Inyong Siaran. Mereka, para anggota komunitas Banyumasan, menggunakan Inyong Siaran bukan saja sebatas media informasi, tetapi ruang yang menyediakan agenda baru. Inyong Siaran menjadi ruang di mana komunitas Banyumasan dihadirkan kembali untuk mereka. Di sisi lain, ia juga menyediakan agenda baru sebagai ruang saling menyapa, dan penyapaan akan terjadi ketika mereka juga mengonsumsi Inyong Siaran.
Lewat jalur konsumsi, Inyong Siaran baru dapat dinikmati. Menikmati Inyong Siaran tidak lain berarti menikmati sebuah produk tayangan itu sendiri, dengan kata lain ia siap menjadi komoditi. Inyong Siaran tidak berhenti sebagai sebuah komoditi belaka lewat tayangan-tayangannya, tetapi sampai pada komodifikasi. Komodifikasi Inyong Siaran mengandaikan adanya pertukaran
antara konsumen (pemirsa) dengan apa yang didapat (diresepsi) dalam Inyong Siaran oleh para pemirsanya. Wujud dari pertukaran Inyong Siaran dengan para konsumen (komunitas Banyumasan) tidak lain adalah pengalaman yang mereka bawa tentang kebanyumasan dengan kenikmatan yang didapat saat menyaksikan kampung halaman di Inyong Siaran. Anggota komunitas Banyumasan yang menikmati Inyong Siaran tidak hanya mendapatkan informasi tetapi juga partisipasi untuk mencapai kepuasan.
Komodifikasi Banyumasan dalam Inyong Siaran sekaligus menunjukkan jarak antara pemirsa dengan objek Banyumasan itu sendiri. Letak kota di daerah Banyumasan sendiri yang masih dapat dijangkau dari Yogyakarta, melalui Inyong Siaran, dibuat semakin dekat. Kedekatan dalam Inyong Siaran, dengan agenda barunya, menggantikan ruang-ruang komunitas yang sudah ada sebelumnya. Mereka serasa dekat bahkan intim dengan Banyumasan sekaligus juga dengan sesama anggota komunitas, tidak lain ketika mereka berinteraksi atau mengonsumsi Inyong Siaran itu sendiri.
B. Medan Kompromi Dalam Kenikmatan Konsumsi
Kenikmatan dalam medan menonton tidak lain adalah saat pemirsa menguasai program yang dipilih. Mereka, ketika berada di depan televisi, akan berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan saluran pilihan meski hanya mendapatkan luang waktu yang tersisa dan bersaing satu sama lain. Persaingan satu sama lain tidak lain adalah usaha untuk dapat mengonsumsi apa yang sesuai dengan pilihan. Pilihan tersebut adalah pilihan utama yang dilalui dengan merebut
medan kuasa para pemirsa lainnya atau lewat kompromi. Jalan kompromi muncul sebagai usaha untuk mendapatkan saluran sampai bisa dinikmati.
Pilihan utama berarti fokus utama saat mereka memilih saluran dan Inyong Siaran tidak akan menjadi pilihan utama jika dalam satu medan menonton sudah memilih satu program atau sebaliknya. Dalam medan menonton juga (seperti saat menyaksikan Inyong Siaran) ada keterlibatan aktif yang bukan hanya karena kesesuaianpilihan,tetapidi sisi lain adanya kenikmatan berhadapan dengan menu siaran. Keaktifan mereka nampak bahwa program tidak hanya untuk dinikmati dengan cara berdiam diri di depan televisi seperti dalam ruang kedap tetapi mereka dapat dengan mudah mengganti saluran secara bolak-balik, berkomentar pada isi siaran bahkan sampai meninggalkan medan menonton.
-)(-
Penelitian lokalitas Inyong Siaran di Jogja TV yang penulis lakukan akhirnya masih menyisakan penelitian lanjutan yang lebih luas untuk dijangkau kembali. ”Lokalitas Televisi Lokal: Menonton Orang Ngapak Di Jogja TV”
hanyalah sebuah kanal kecil menuju ke hulu yang lebih besar untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian tersebut masih butuh untuk dilanjutkan karena banyaknya media-media baru yang menampung komunitas Banyumasan dalam ruang virtual yang menantang bagi penulis. Kemunculan media internet salah satunya, yang tidak saja digunakan sebagai media perolehan informasi tetapi sekaligus ruang pertemuan virtual atas nama komunitas Banyumasan, menyisakan tema lebih luas pada arti sebuah identitas dalam dunia internet. Penulis melihat adanya luapan-luapan yang muncul dalam website, blog maupun jejaring sosial atas nama
komunitas Ngapak misalnya, seakan ingin menjelaskan pentingnya identitas sebagai kekuatan suatu komunitas; mereka ingin dilihat sekaligus diakui keberadaannya meski hanya di dunia maya.
Buku, Surat Kabar dan Artikel
Anderson, Benedict. 2001. Imagined Community: komunitas-komunitas terbayang, penerjemah Omi Intan Naomi, Yogyakarta: Insist Press & Pustaka Pelajar.
Aldridge, Meryl. 2007. Understanding Local Media, New York: Mc Grow Hill. Ang, Ien. 1991. Desperately Seeking the Audience, London and New York: Routledge.
Ang, Ien. 1996. Living Room Wars: Rethinking media audiences for a postmodern world, London and New York: Routledge.
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies Teori dan Praktik, penerjemah tim KUNCI, Yogyakarta: Bentang
Barthes, Roland. 1982. Empire of Sign, penerjemah Richard Howard, New York: Hill and Wang. Barthes, Roland. 1972. Mytologi, London: Cape.
Baudrilard, Jean. 2006. Masyarakat Konsumsi, penerjemah Wahyunto, Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Budi Hardiman, Fransisco. 2003. Kritik Ideologi, Yogyakarta: Buku Baik.
Budiman, Kris. 2002. Di Depan Kotak Ajaib: Menonton Televisi Sebagai Praktik Konsumsi, Yogyakarta: Galang Press.
Cadwell, John Thornton (Ed.). 2000. Electronic Media and Technoculture, New Brurnwick & New Jersey: Rutgers University Press.
Chomsky, Noam. 2002. Media Control-the Spectacular Achievments of Propaganda, New York: Seven Stories Press.
Eriyanto. 2002. Analisis Framing, Yogyakarta: LKiS.
Fiske, John. 2007. Cultural and Comunication Studies-Sebuah Pengantar Paling Komprehensif, penerjemah Yosal Iriantara, MS. dan Idi Subandy Ibrahim, Yogyakarta: Jalasutra.
Giddens, Anthony. 1990. The Consequences of Modernity, Cambridge: Polity Press.
Gitlin, Todd. 1986. Watching Television: a Pantheon Guide to Popular Culture, New York: Pantheon Books.
Haryanto, Ignatius. 2006. Indonesia Raya Dibredel, Yogyakarta: LKiS.
Held, David dan Anthony McGrew. 2000. The Global Transformation Reader, Cambridge: Polity Press.
Herusatoto, Budiono. 2008. Banyumas: Sejarah, Budaya dan Watak, Yogyakarta: LKiS.
Juriëns, Edwin. 2006. Ekspresi Lokal Dalam Fenomena Global; safari budaya dan migransi, penerjemah Jakarta: KITLV & LP3ES.
Kellner, Douglas. 1995. Media Culture: Cultural Studies, Identity and Politics between the Modern and the Postmodern, London & New York: Routledge.
Kellner, Douglas. 2003. Media Spectacle, London & New York: Routledge.
Kitley, Philip. 2000. Television, Nation and Culture in Indonesia, USA: Ohio University Center for International Studies.
Koderi, M. 1991. Banyumas Wisata dan Budaya, Purwokerto: Metro Jaya.
Loomba, Ania. 2003. Colonialsm/Postcolonialism, penerjemah Hartono Hadikusumo, Yogyakarta: Bentang.
Maalouf, Amin. 2004. In the Name of Identity, penerjemah Ronny Agustinus, Yogyakarta: Resist Book.
McLuhan, Marshall. 1995. Understanding Media; The extensions of man, London & New York: Routledge.
Mert, Cerent. 2003. The Vigorous Local: Culture Industry, Hip-Hop and The Politics of Resistance in The Age of Globalization, Departement of Sociology, Middle East Technical University.
Metz, Christian. 1977. Psychoanalysis and Cinema, The Imaginary Signifier, penerjemah Celia Britton, Annwyl Williams, Ben Brewster dan Alfred Guzzetti.
Morley, David dan Kevin Robin. 1995. Spaces of identity: Global Media, Electronic Lanscape and Cultural Boundaries, London: Routledge.
Mulyana, Deddy. 2004. Komunikasi Populer: Kajian Komunikasi dan Budaya Populer, Bandung, Pustaka Bani Qurasy.
Sage Publications.
Panjaitan, Erica L. dan TM. Dhani Iqbal. 2006. Matinya Rating Televisi, Jakarta: Obor.
Priyadi, Sugeng, “Babad Banyumas dan Versi-Versinya” dalam Bahasa dan Seni, Tahun 34, Nomor 1, Februari 2006.
Priyadi, Sugeng, “Cablaka Sebagai Inti Model Karakter Manusia Banyumas” dalam DIKSI, Vol.: 14. No.1 Januari 2007.
Segal, Robert A. 2004. Myth;A Very Short Introduction, New York: Oxford University.
Sen, Krishna dan David T. Hill. 2001. Media Budaya dan Politik Di Indonesia, Jakarta: ISAI.
Diterjemahkan dari “Media, Culture and Politics in Indonesia”.
Stokes, Jane. 2003. How To Do Media and Cultural Studies, London: Sage.
Strinati, Dominic. 1995. Popular Culture an Introduction to Theories of Popular Culture, London: Routledge.
Steger, Manfred B. 2002. Globalism, The New Market Ideology, USA: Rowman & Littlefield Publishers.
Soelaeman, Henni T., Artikel “Sampai Kapan TV-TV Lokal Tekor Terus?”, 03 Februari 2005 dalam www.tvconsulto.com, copyright 2008.
Sudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran, Jakarta: ISAI. Sunardi, Stanislaus. 2004. Semiotika Negativa, Yogyakarta: Buku Baik.
Wahyuni, Hermin Indah. 2000. Televisi dan Intervensi Negara, Yogyakarta: Media Pressindo. Wardhana, Veven Sp. 1997. Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Wayne, Mike. 2005. Understanding Film; Marxist Perspectives, London: Pluto Press. Williams, Raymond. 1990. Television: Technology and Cultural Form, London: Routledge. Wolton, Dominique. 2000. Kritik Atas Teori Komunikasi: kajian dari media konvensional
hingga era internet, penerjemah Ninik Rochani Sjam, Yogyakarta: Kreasi Wacana.
www.atvli.com www.tvri.com www.jogjatv.com www.tvconsulto.com
Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah
Surat Keputusan Menteri Penerangan No. 111 tahun 1963 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Susunan Produksi Inyong Siaran Penanggung Jawab
Andhi Wisnu W.
Wakil Penanggung Jawab
Wempi Gunarto Aryoko Presenter Kang Yudhi Mbekayu Umi Produser Resdiati Ari Penyunting Gambar Youni A. Kameramen Yelly Gregory Arno Putro
Teknik & Pemiliharaan Alat
Kadek Gunada – Kunis Parikesit Ari Teguh – Kusrindang A. Fery – Herdiyanto
Shoirul Amin – Dwi Nugroho
Kendali Siar
Arrubi KP – Nawang Restu – G. Yose Adi Chandra – G. Aryoko Gautama –
Nur Hidayat – Joenaiddy – andri Eko Pujiyanto – Eko Sarwono – Bagus Ngurah – Eska Wardhana – Isa
Ardiansyah – Sus Dwi – Ikhwan Hawariyanto – Susilo Marwanto – Tri Endro Pranowo – Pandu Seto
Komputer Grafis
Danu Sukmono
Pemancar
Ika waharyanto – Eko Hartanto Herwanto – Krestanto Perpustakaan Retno Arimurti Wulan Fitria Ningrum Sekretaris Program Wahyuningsih Humas
Widhiana – Fentri Lisna Putri
Transportasi
Yanto
Tim Liputan
Aik – Wiwit – Tim Inyong
Penjadwalan
Ranti Wahyuni
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2002 TENTANG
PENYIARAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :
a. bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat dan memperoleh informasi melalui penyiaran sebagai perwujudan hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dilaksanakan secara bertanggung jawab, selaras dan seimbang antara kebebasan dan kesetaraan menggunakan hak berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. bahwa spektrum frekuensi radio merupakan sumber daya alam terbatas dan merupakan kekayaan nasional yang harus dijaga dan dilindungi oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945;
c. bahwa untuk menjaga integrasi nasional, kemajemukan masyarakat Indonesia dan terlaksananya otonomi daerah maka perlu dibentuk sistem penyiaran nasional yang menjamin terciptanya tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan seimbang guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia; d. bahwa lembaga penyiaran merupakan media komunikasi massa yang mempunyai
peran penting dalam kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi, memiliki kebebasan dan tanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, serta kontrol dan perekat sosial;
e. bahwa siaran yang dipancarkan dan diterima secara bersamaan, serentak dan bebas, memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan pendapat, sikap, dan perilaku khalayak, maka penyelenggara penyiaran wajib bertanggung jawab dalam menjaga nilai moral, tata susila, budaya, kepribadian dan kesatuan bangsa yang berlandaskan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab;
f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e maka Undang-undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Penyiaran dipandang tidak sesuai lagi, sehingga perlu dicabut dan membentuk Undang-undang tentang Penyiaran yang baru;
telah diubah dengan Perubahan Keempat Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3473);
3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3817);
4. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821);
5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);
6. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3881);
7. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886);
8. Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3887); 9. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4220);
Dengan persetujuan bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, MEMUTUSKAN:
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENYIARAN. BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran.
2. Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran. 3. Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menyalurkan gagasan dan
informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.
4. Penyiaran televisi adalah media komunikasi massa dengar pandang, yang menyalurkan gagasan dan informasi dalam bentuk suara dan gambar secara umum, baik terbuka maupun tertutup, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.
5. Siaran iklan adalah siaran informasi yang bersifat komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya jasa, barang, dan gagasan yang dapat dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan.
6. Siaran iklan niaga adalah siaran iklan komersial yang disiarkan melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan, memasyarakatkan, dan/atau mempromosikan barang atau jasa kepada khalayak sasaran untuk mempengaruhi konsumen agar menggunakan produk yang ditawarkan.
7. Siaran iklan layanan masyarakat adalah siaran iklan nonkomersial yang disiarkan melalui penyiaran radio atau televisi dengan tujuan memperkenalkan, memasyarakatkan, dan/atau mempromosikan gagasan, cita-cita, anjuran, dan/atau pesan-pesan lainnya kepada masyarakat untuk mempengaruhi khalayak agar berbuat dan/atau bertingkah laku sesuai dengan pesan iklan tersebut.
8. Spektrum frekuensi radio adalah gelombang elektromagnetik yang dipergunakan untuk penyiaran dan merambat di udara serta ruang angkasa tanpa sarana penghantar buatan, merupakan ranah publik dan sumber daya alam terbatas.