• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGENAI ISLAM DAN MASA DEPAN INDONESIA DALAM BINGKAI PLURALISME

Dalam dokumen Merawat Pemikiran Buya Syafii (Halaman 162-192)

Mulyadi

Pendahuluan

Ahmad Syafii Maarif atau lazim dipanggil dengan Buya Syafii merupakan sosok sejarawan terkemuka pemersatu bangsa Indonesia.

Sebagai seorang guru besar sejarah, beliau tidak diragukan lagi dalam kiprahnya sebagai seorang penulis ide-ide segar mengenai kebangsaan, kenegaraan, kebhinekaan, Pancasila, dan ide-ide masadapan Indonesia yang lebih baik. Kiprah akademis Buya Syafii sangatlah fenomenal sehingga masyarakat Indonesia menilai beliau sebagai insan sosial, inklusif, moderat, terbuka, toleran, berkarakter, serta yang paling menonjol adalah bagunan idiologisnya mengenai Pluralisme. Ide-ide Buya menitih-beratkan pada kecerdasan generasi bangsa untuk lebih maju dan berperadaban. Diusianya yang telah lanjut, Buya Syafii tidak henti-hentinya untuk mengikuti perkembangan Islam, politik, demokrasi Indonesia yang selalu menjadi perdebatan sehingga tidak kunjung selaras dengan ide-ide kelopok tertentu, baik yang mengatasnamamakan ormas, kelopok Islam, maupun bentukan barisan lainnya.

Mengikuti perkembangan Islam kekinian, Buya Syafii mengkritik keras kelompok yang menamakan Islam tetapi mengancam kesatuan bangsa.Kelompok tersebut, dengan mengedepankan jubah besarnya dan beridiologi Islam tegasnya rentan meneror siapa saja

yang tidak sejalan dengan ide-ide mereka.Semestinya idiologi Islam membangun konsep keteduhan dan kemajemukan yang saling menghargai dalam perbedaan. Jika hal ini tidak berwujud dalam kebinekaan masyarakat Indonesia yang majemuk maka masa depan generasi bangsa terancam ketentramaanya. Ditambah lagi dengan Ide-ide doktrin yang berbasis epistimologis radikalis yang mengobrak-abrik kesatuan dan persatuan bangsa.

Buya Syafii dalam banyak buku dan tulisan beliau sangat berharap pada masadepan bangsa yang damai, tentram, adil dan sejahtera sesuai dengan maklumat Idiologi Pancasila. Dengan demikian, tulisan ini mencoba menguak sepintas pemikiran Buya Syafii mengenai pentingnya nilai dan idiologi serta etika pluralisme sebagai poros masa depan bangsa Indonesia. Mengingat kekinian tengah gencar-gencarnya arus radikalisme, politik yang tidak menentu, ekonomi yang menekan rakyat serta pendidikan anak bangsa yang masih teromabang-ambing.

Pluralisme Sebagai Sebuah Ide Pemersatu Bangsa

Saat ini wacana mengenai pluralisme173 mesti dilihat kembali sebagai sebuah gagasan idea pemersatu bangsa dalam bentuk aspek praktis. Telah banyak disaksikan bahwa segolongan manusia atau sekelompok orang mengatasnamakan agama keliru terhadap cara

173 Akar kata Pluralisme adalah Plural yang berarti jamak atau lebih dari satu.

Dengan demikian pluralisme merupakan pernyataan kejamakan atau be-ranekaragam. Dalam kajian filosofis, pluralisme diberi makna sebagai dok-trin bahwa substansi hakiki itu tidak satu (monoisme), tidak dualisme, akan tetapi banyak (jamak). Sekurang-kurangnya terdapat beberapa ciri plural-isme yaitu: selalu berkaitan dengan memelihara dan menjungjung tinggi hak dan kewajiban masing masing kelompok, menghargai perbedaan dalam kebersamaan masyarakat yang benar-benar memiliki karakter bahwa mas-ing-masing pihak berada pada tataran yang sama, pluralisme menunjukkan kepada wahana untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara jujur, terbuka dan adil., pluralisme harus didudukkan pada posisi yang proposional, dan menunjukkan adanya persamaan kepemi-likan bersama untuk kepentingan kemanusiaan yang diupayakan bersama tanpa adanya diskriminasi sesama manusia, kelompok, dan pemeluk agama.

pandang toleransi. Melihat fakta ini perlu diluruskan kembali apa itu pluralisme sebenarnya, apakah dia sekuleris (bebas tanpa spiritual), moderat, atau sesuatu yang dapat memecah-belahkan bangsa.

Jika pluralisme disebut dengan keragaman maka tidak banyak polemik yang muncul, akan tetapi jika ide pluralisme mutlak yang muncul maka banyak yang menolak, antara paham atau tidak mau memahami. Keragaman agama dan budaya menurut Buya Syafii sama denganmemformularisasikan pluralismeagama dan budaya,174 karena Pluralisme ini merupakan ajaran Islam dari Allah Swt, melalui kitab suci-Nya.

Konsep pluralisme dalam Islam sebanarnya merupakan sunnatullah, karena sejak dahulu memang menjadi fakta yang nyata terlihat.Islam merupakan agama damai, tentram, toleran serta mengayomi agama-agama lain yang berbeda tanpa kekerasan dan penyerangan.Nasr mengatakan bahwa Islam merupakan agama wahyu Allah Swt, baik tertulis maipun pesan tersirat setelahnya.

Islam merupakan imanensi-transedensi religius yang menjadikan manusia aman dan tentram dalam kehidupan keagamaanya juga sisi kemanusiaannya (sosial).175Mengenai pluralisme, Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Muslim telah berangkat lebih jauh mengenai hal ini.Pluralisme tidak mesti dianut oleh manusia yang beragama, mereka yang tidak menganut agama jugaharus memiliki tempat di bumi. Al-Qur’an ternyata telah mengintruksikan umat untuk toleran, akan tetapi umat masih gagal paham dalam memaknakan tolerasni tersebut. Islam melalui pesan Al-Qur’an mengajak manusia untuk beriman, memberikan keamanan ontologis pada diri setiap individu dalam pengembaraan hidupnya yang tak luput dari guncangan dan tantangan.

Manusia memang mahluk yang sukar dipahami.Manusia merupakan mahluk unik, mereka tidak selalu tampil dalam format

174 Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanu-siaan dan KemanuKemanu-siaan Sebuah Refleksi Sejarah, (Bandung: Mizan, 2009), h. 166.

175 Seyyed Hossein Nasr, Islam Tradisi di Tengan Dunia Modern, (Bandung:

Pustaka, 1994), h. 73.

yang otentik, karena kemapuannya untuk bersandiwara demikian besar.Dalam konsep pluralisme, semua keunikan tersebut harus diakui sebagai fakta mental yang melekat dalam batin manusia.

Untuk sampai pada pengakuan ini haruslah mengembangkan budaya toleransi yang tinggi dan mengakui keberbagian dan kemajemukan itu secara sadar dan dengan sikap positif.Tidak hanya saja agama dan budaya yang beraneka ragam, bahasa, dan kulit manusia juga mutlak dengan kemajemukan.Dengan demikian, kemajemukan itu memang sengaja Allah Swt, ciptakan agar peradaban umat manusia penuh corak dan saling melengkapi. Mengenai pluralisme, perlu adanya diskursus lebih lanjut agar generasi bangsa tidak mudah gagal paham akan pengertian dan maknanya. Konsep pluralisme membangun peradaban umat manusia untuk menjunjung tinggi Nilai-nilai Islam secara mutlak untuk dipraktikkan bukan hanya sebagai wacana intelektual semata.

Argumentasi pluralisme mencirikan sikap toleransi antara agama-agama yang ada di Indonesia merupakan hal yang mesti dilakukan.Realitas Indonesia memang terdiri dari berbagai suku, bangsa, dan agama yang berbeda-beda, maka sikap toleransi menjadi suatu hal mutlak yang mesti dijunjung. Menganggap semua agama itu sama dapat menimbulkan makna ganda yang dapat menuai perdebatan. Wacana kekinian yang dipahami bahwa argumentasi Islam untuk pluralitas cenderung menganggap bahwa semua agama itu sama. Padahal tidak demikian adanya, Islam pluralisme mengarah pada bentuk aktualitas dari sebuah agama yang merupakan obyek toleransi terhadapnya.Segala bentuk perbedaan dalam agama, juga pemahaman di luar Islam mestilah dijadikan sebagai warna-warni budaya dan corak masyarakat multi kultural bangsa Indonesia.176

Buya Syafii persisnya menyadari ancaman kelompok-kelompok radikal yang dapat mengancam kesatuan dan persatuan umat, baik yang telah mengakar di Nusantara maupun yang akan muncul kemudian. Kelompok radikal yang bersembunyi di balik

176 Husein Muhammad, Sang Zahid Mengarungi Sufisme Gus Dur, (Yogyakar-ta: LKIS, 2012), h 54-55.

bendera Islam seperti Laskar Pembela Islam, Laskar Jihat dan Laskar Mujahidin Indonesia dapat mengecaukan suasana pluralitas bangsa Indonesia.Saat ini mereka begitu gencar untuk melakukan demonstrasi di jalan-jalan menuntut terbentuknya syariat Islam secara menyeluruh.Kelompok tersebut cenderung melakukan serangan fisik, perusakan secara sepihak yang mengatasnamakan Islam dan ketentraman.177Kelompok-kelompok tersebut menganggap bahwa idiologi bangsa saat ini tidak berhasil mengatasi masyarakat dalam hal sistem politik, ekonomi, keamanan dan ketentraman bangsa.

Mereka mendesak agar pemerintah serta cendikiawan Muslim bertangung jawab atas kekeosan yang tidak menentu ini.

Bagi Buya Syafii, kehadiran kelompok-kelompok radikal tersebut merupakan ancaman bagi sistem demokrasi Indonesia.

Kelompok-kelompok tersebut mencoba mengambil celah untuk didengarkan atas klaim mereka terhadap politik yang berubah-ubah.

Wacana yang mereka angkat kepermukaan dalam ruang publik terbuka telah bergeser dari prinsip-prinsip pluralis dan demokratis.

Tidak hanya itu, mereka mencoba mengacaukan pesan kesan moral dalam kebinekaan dengan melakukan aksi yang mengatasnamakan Islam.Kehadiran serta kemunculan kelompok tersebut secara tidak langsung membuat Islam ditakuti masyarakat Indonesia khususnya non-Muslim dan opini miring terhadap Islam. Padahal Islam tidak seperti apa yang meraka lakukan sebagai alat untuk kepentingan kelompok tersebut. Islam merupakan agama Rahmatan lilalamin, menjungjung tinggi pluralitas, melakukan elaborasi intelektual religius secara mendalam serta mendiskusikan hal-hal berkaitan dengan sosial, hukum Islam, kelembagaan sosial Islam, dan perPolitikan.178

Buya Syafii memberikan pernyataan bahwa tekanan radikalisme ini merupakan sebuah politik identitas.179 Tekanan tersebut

177 Ahmad Najib Burhan, dkk, Muazin Bangsa dari Makkah Darat, (Jakarta:

Maarif Institute dan Serambi 2015), h. 77.

178 Ahmad Syafii Maarif, Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara, ( Band-ung: Mizan, 2017), h. XV.

179 politik Identitas secara substantive merupakan kepentingan anggota-anggota

setidaknya menimbulkan beberapa hal yaiti: pertama,kekerasan fisik seperti pengrusakan tempat ibadah seperti geraja, masjid, maupun kekerasan fisik lainnya yang menyebabkan obyek kekerasan tersebut menjedi trauma, terluka, bahkan menyebabkan korban jiwa. Kedua, kekerasan simbolik, yang merupakan kekerasan semiotik seperti bentuk retorika propokatif, tulisan-tulisan, dan ceramah-ceramah bernada pelecehan sesuatu mengenai agama.Ketiga, kekerasan struktural, yaitu berbentuk kekerasan yang dilakukan oleh Negara, baik melalui perangkat hukum maupun aparatur negara.180 Dalam kancah Indonesia, radikalisme muncul diakibatkan oleh ingin mendominasi atas nama kelompok tertentu untuk melakukan tindakan menyingkirkan kaum yang mereka anggap minoritas yang dianggap menyimpang dan tidak sejalan dengan pemahaman kelompok tersebut. Perihal itu semestinya tidak terjadi di Indonesia, mengingat bahwa Muslim Indonesia sangat mengerti perihal toleransi, akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ide bawaan (fundamentalisme ortodok) atas agama yang tidak menerima wawasan terbuka menyebabkan mereka keliru dalam memahmi agama secara universal.

Pergumulan historis antara Islam dan pluralitas di Nusantara telah berlangsung lama, melahirkan Nilai-nilai sejarah yang terus berlanjut dan rumit, namun nilai toleransi keduanya tetap terjalin sampai saat ini. Dengan demikian, membentuk nilai pluralitas itu tidaklah mudah dan membutuhkan proses internalisasi mendalam, akantetapi menjaga dan merawat nilai pluralitas lebih susah dan banyak hambatan. Gagasan keislaman Buya Syafii sangat menarik, pemikirannya terlampau jauh kedepan untuk menjaga keutuhan

kelompok tertentu atau kelopok tertentu yang meresa dikungkung bahkan disingkirkan oleh dominasi arus besar dalam sebuah bangsa dan negara.

Fokus utama poltik identitas yaitu permasalahan yang menyangkut perbe-daan yang didasarkan atas politik etnisitas primodialisme, primodialisme, pertentangan agama, kepercayaan, dan retorika publik., lihat Ahmad Syafii Maarif, politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita, (Jakarta: PU-SAD, 2010).

180 Ahmad Syafii Maarif, politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita, (Jakarta: PUSAD, 2010), h. 44.

bangsa Indonesia. Pluralitas yang dijunjung Buya Syafii tidaklah lain untuk menjaga bangsa dari radikalisme serta idiologi kelompok tertentu saja yang mengatasnamakan Islam. Buya selalu mengajak bangsa Indonesia secara keseluruhan untuk selalu menjaga idiologi Pancasila sebagai falsafah negara yang merupakan tujuan final bagi bangsa Indonesia.181Kelompok-kelopok radikalis di atas jelas sangatlah bahaya jika terus berkembang di Indonesia.Idiologinya dapat membuat bangsa Buyar, bangsa berantakan, bangsa berdebat mencari akar kebenaran bukan lagi bagaimana merawat keberagamaan dalam Bingkai Keindonesiaan.

Konsep pluralisme adalah imanensi sebuah prilaku manusia yang dibangun atas dasar kesadaran spiritualitas individu serta ditempuh melalui jalan panjang dari kontemplasi intelektualitas.

Melalui pemahaman mendalam tentang pluralitas Buya Syafii berkeyakinan bahwa Islam di Indonesia dapat memberikan nilai spiritual, etika, dan moral bagi kedaimaian bangsa.Konsep pluralitas jika dicermati dengan baik maka memunculkan nilai toleransi tanpa pamrih, sikap saling menghargai dalam keberagaman dan memahami dalam pembedaan.Jelas disini bahwa Buya Syafii menegaskan bahwa pluralisme adalah jalan beragama secara beradab, jujur, tulus, lapang dada, dan berbudi luhur.Dengan sikap lapang dada berarti prinsip pluralisme menjadi penting dalam kesediaan menghargai hak otoritas individu lain untuk berpendirian bahwa agama yang dipeluknya adalah agama kebenaran, sekalipun kita tidak perlu menyatakan kebenaran akan hal tersebut.182 Pada waktu yang bersamaan, kelompok lain mesti menghargai Islam bahwa Islam merupakan agama yang paling benar, namun ungkapan paling benar di sini mesti dikembalikan kepada hak individu pemeluk agamanya.

Jika dalam sebuah bangsa telah terbangun pemikiran pluralis murni dengan penuh kesadaran maka sangat yakin tidak ada golongan atau kelompok radukalisme yang bersembunyi di balik jubah putih Islam.

181 Maarif, Islam dan Masalah Kenegaraan: Studi Tentang Percaturan dalam Konstituante, (Jakarta: LP3ES, 1985), h. 144-145.

182 Maarif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan dan Kema-nusiaan Sebuah Refleksi Sejarah, (Bandung: Mizan, 2009), h. 30.

Buya Syafii menegaskan bahwa ide-ide serba radikal yang terus muncul dan tidak menerima inti pluralisme maka faktor utamanya adalah ketertidak sanggupan ide besar dikerjakan oleh otak-otak yang kecil yang telah dipengaruhi oleh emosi dan syahwat kekuasaan dan politik tidak sehat.Ide mereka tidak ditopang oleh kemantapan teori maupun pengetahuan memadai tentang kekuatan penalaran orisinil.Ada yang membangun argumentasi secara teori tetapi belum sepenuhnya berangkat dari pemahaman Al-Qur’an dan sunnah Nabi secara tepat dan otentik. Suasana Islam yang tengah terjepit terlalu tergesa-gesa dijadikan alas an untuk membangun teori yang lemah dasarnya.Hasil akhirnya pasti kacau karena suasana batin yang marah menghadapi realitas telah dijadikan pangkal tolak untuk membangun sebuah teori.183Ide dan pergerakan tersebut akan sia-sia dan menguras energi sehingga bukan memunculkan pencerahan melainkan membuat bangsa semakin bingung dan ketakutan.

Reaksi yang berlebihan dan tempramental terhadap isu-isu agama hanya akan memperumit keadaan yang berujung pada perpecahan umat secara teologis, merupakan kesia-sian belaka yang sebenarnya tidak perlu diperbesar-besarkan dan tidak perlu terjadi.

Kondisi ini semestinya dapat mengukur diri bangsa, membuka mata hati individu untuk lebuh fokus terhadap masalah apa yang sebenarnya tengan dihadapi Islam. Pluralismeakan bertahan lama manakala masyarakat membangun budaya toleransi dan bukan mendiskriminasi. Tekanan diskriminasi tersebut dapat memecah kebersatuan bangsa baik dalam diskrimnisai agama, ras dan budaya.

Sikap pluralisme harus dibungkus dengan tidak adanya paksaan dan kepura-puraan, konsistensi, penetapan hati secara sadar toleransi merupakan salah satu capaian terbaik bangsa beradab.184Dengan demikian maka ide pluralisme Buya Syafii merupakan sebuah gagasan cemerlang sebagai pemersatu Bangsa untuk saling menghargai dan

183 Ahmad Syafii Maarif, Memorial Seorang Anak Kampung, (Yogyakarta: Om-bak IKAPI, 2013), h. 224.

184 Wawan Gunawan Abd. Wahid, dkk, Fiqih kebinekaan Pandangan Islam Indonesia Tentang Umat, Kewargaan, dan Kepemimpinan Non-Muslim, (Bandung: Mizan, 2015), h. 24.

saling menghormati sesama tanpa adanya diskriminasi, intimidasi maupun radikalisasi.

Perbedaan mengenai pembenaran ide otentik pada semua agama tidak pernah ada ujungnya sepanjang sejarah umat manusia.

Menurut Buya Syafii bagi setiap pemeluk agama masing-masing perlu mengembalikan masalah otoritas pembenaran tersebut kepada keyakinannya terhadap Tuhan.Tugas utama masing-masing penganut agama adalah berlomba-lomba dalam menaburkan kebaikan sesama manusia, menjunjung tinggi toleransi sesama bukan hanya untuk diri sendiri maupun kelompoknya.Untuk membentuk generasi Islam di masa yang akan datang maka perlu adanya pendidikan yang memadai bagi setiap individu-individu bangsa Indonesia. Dengan pendidikan generasi penerus bangsa dapat dengan cerdas untuk membaca situasi dan kondisi umat mengenai apa yang dibutuhkan.

Cerai-berainya umat saat ini diakibatkan pula oleh sikapnya yang merasa paling benar dan tidak membangun satu kesatuan utuh.umat Islam yang suka berpecah-belah adalah akibat mereka telah berhenti berunding denganinti ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan hawanafsu telah dijadikan sesembahan untuk menyetir diri kearah keduniaan.Lebih jauh lagi adalah kenyataan sebahagian individu Islam memakai dalil agama dan prinsip demokrasi untuk melestarikan perpecahan tersebut tanpa rasa dosa sedikitpun.Dengan kondisi demikian maka bagaimanamungkin para alhli pikir bangsa menawarkan solusi logis untuk bangsa yang berperadaban dan berkemajuan.185

Masa Depan Islam Indonesia dengan Idiologi Pluralisme

Diskursus panjang mengenai pluralisme memang bukan hal baru di Indonesia, sempat heboh pada era 1990-an. Sampai saat ini diskursus tersebut selalu hangat untuk dibicarakan walaupun penuh dengan kotraversi.Perdebatan tersebut tidak semerta-merta

185 Heri Sucipto, Senarai Tokoh Muhammadiyah Pemikiran dan Kiprahnya, (Jakarta Selatan: Grafindo, 2005), h. 211.

menjadikan kondisi bangsa ini semakin baik, malah sebaliknya menjadi akar perdebatan yang tiada ujungnya.Kedamaian publik, penerimaan kesetaraan masyarakat serta sikap toleransi antara penganut agama sulit berkembang ketika kontraversi atas istilah harus berlangsung tanpa adanya sikap dan pemahaman yang memadai.

Oleh sebab demikian maka perlu adanya perluasan wawasan secara terus menerus untuk menyadarkan umat yang memungkinkan adanya perubahan dalam pola pikir bangsa Indonesia kedepan.

Menanggapi hal tersebut maka Buya Syafii mencoba melihat masa depan bangsa yang multikultural, multireligion, multietnik ini dengan ide pemersatu yaitu pluralisme. Oleh sebab kaum Muslim yang lebih dominan di negara ini maka umat Muslim harus berdiri digarda depan dalam menjaga Nilai-nilai etis, moral, dan adab yang terkandung dalam pluralisme. Sebaliknya, bukan pula umat Muslim atas kedangkalan pemahaman akan agamanya memunculkan radikalisasi serta ortodoksi yang tidak kunjung terbuka untuk menerima ide pemersatu bangsa. Melihat kondisi bangsa saat ini mungkin banyak orang merasa pesimis, entah sampai kapan negiri ini segera menetas dari carut-marut yang kiat tak menentu.Tapi perlu digaris bawahi bahwa pesimis tersebut tidak berlaku bagi Buya Syafii dan seakan tidak pernah ada kata menyerah dalam upaya untuk mempersatukan bangsa.

Buya Syafii melihat masa depan Islam di Indonesia ini harus di mulai dari pemahaman Islam yang universal. Pemahaman demikian mesti meninjau ulang Nilai-nilai substantive seperti kebebasan, perdamaiaan, keadilan dan kesejahteraan hidup bersama.Karena itu, baginya, Islam harus terbuka dan menawarkan solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan Negara, Muslim dan non-Muslim, tanpa diskriminasi.Islam juga harus bersifat membebaskan masyarakat, dan selalu berpihak pada rakyat ekonomi rendah.

Menyikapi kekerasan ferbal atas nama Islam, Buya menegaskan bahwa Islam mestilah memakai akal, santun, tegas, dan penuh tangung jawab bukan menggunakan tenaga atau kekuatan fisik.186Islam

186 Najib Burhan, Muazin Bangsa dari Makkah Darat, h. 280.

merupakan agama pembebasan agar bangsa Indonesia dapat menjadi dirinya dengan seutuhnya, tidak hanyut dalam perbudakan idiologi ortodok dan spritiualitas yang kaku.Pembebasan tersebut merupakan bagian dari harkat dan martabat manusia di hadapan Allah Swt, dan segala jenis intimidasi harus dilenyapkan karena bertentangan dengan Nilai-nilai keislaman seutuhnya.

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki pengenut Islam terbesar di dunia.Dengan demikian Buya Syafii mengharapkan bahwa masyarakat Islam harus terbuka untuk menjaga kedaimaan bangsa.Inti ajaran Islam sebagaimana diketahui adalah menghabakan diri ketapa Allah Swt, bukan malah menjadikan Islam beringas, ganas, dan suka main hakim sendiri.Pandangan mengenai pencerahan Islam untuk pluralisme jangan dilihat dalam kaca mata sempit, melainkan Islam tidak sekedar berisikan ajaran-ajaran yang bersifat teologis, melaikan sebuah sistem peradaban yang lengkap.umat Islam mesti mencari solusi atas kegaduhan bangsa yang tidak berkesudahan, kegaduhan itu bukan diselesaikan secara internal semata melainkan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk nimbrung dalam penyelesaian masalah bangsa. Kajian khusus tentang doktrin Islam sudah saatnya dilakukan secara intensif dan kontekstual, dalam rumusan dan konsep layak pakai dengan dijadikan rujukan kebersatuan umat. Islam sebenarnya sudah sejak senja mengandung tawaran yang bersifat solutif dalam mengatasi problematika kehidupan dan kemanusiaan. Namun, individu doktrinal Islam yang gagal paham menyebabkan umat menjadi monster kekeosan umat yang sedang menikmati kemerdekaan.

Sebagai seorang Muslim yang taat, Buya Syafii berani memasukkan ide pluralisme agama dalam pembahasan Islam, hak asasi manusia (HAM), dan demokrasi. Meskipun banyak kritikan dari umat Islam sendiri, pendirian Buya untuk menata masa depan Indonesia tidak tergoyahkan. Baginya, pluralisme agama tidak boleh berdiri sendiri sebagai doktrin teologis bahkan filosofis semata.

Pluralisme agama lebih dalam bermakna kebebasan beragama dan sekaligus ketulusan beragama.Buya sangat menjunjung tinggi hak kemerdekaan beragama dan penganut suatu paham.Setiap individu beragama atau tidak, wajib menghormati dan menghargai hak-hak

setiap warga negara dalam menganut agama dan kepercayaannya, dan tidak ada hak bagi setiap individu untuk memaksa individu lainnya untuk menganut agama yang dipeluknya.187Jelas di sini terlihat bahwa betapa tegas sikap Buya Syafii terhadap Nilai-nilai pluralisme dalam teologi beragama. Diskriminasi dan radikalisasi agama tentu menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa dalam bingkai kemanusiaan dan kebhinekaan.

Pluralisme dalam gagasan kontemplasi intelektual Buya Syafii sangatlah mungkin diimplemtasikan jika masyarakat sadar akan kediriannya yang utuh. Pluralisme sebagai ide gagasan kemajuan bangsa menekankan prinsip penghargaan dan kesetaraan dalam hubungan humanisme antar manusia. Sikap saling menghargai dan kesetaraan sebagi wujud dari permersatu bangsa merupakan

Pluralisme dalam gagasan kontemplasi intelektual Buya Syafii sangatlah mungkin diimplemtasikan jika masyarakat sadar akan kediriannya yang utuh. Pluralisme sebagai ide gagasan kemajuan bangsa menekankan prinsip penghargaan dan kesetaraan dalam hubungan humanisme antar manusia. Sikap saling menghargai dan kesetaraan sebagi wujud dari permersatu bangsa merupakan

Dalam dokumen Merawat Pemikiran Buya Syafii (Halaman 162-192)