• Tidak ada hasil yang ditemukan

RADIKALISME BERAGAMA)

Dalam dokumen Merawat Pemikiran Buya Syafii (Halaman 192-200)

Noor Hasanah

Pendahuluan

Ahmad Syafii Maarif (yang selanjutnya akan dituliskan ASM) adalah seorang intelektual Muslim Indonesia yang banyak menyuarakan moderasi dan keramahan Islam. Pemikiran tersebut tidak hanya menjadi nafas dalam setiap tulisannya, tetapi juga menjadi corak dalam setiap ceramah dan dialog ilmiah yang dilakukannya. Gagasan yang dikemukakan oleh ASM tidak jarang menuai kontroversi, bahkan di kalangan umat Islam Indonesia sendiri.

Ia dinilai liberal dan ‘nyeleneh’. Hasil pemikirannya dianggap tidak biasa dan terkesan melawan arus.

Sebagai contoh adalah ketika ASM memandang bahwa sikap sebagian umat Islam dalam menafsirkan pidato Ahok saat berkampanye untuk menjadi Gubernur Jakarta di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada tanggal 27 September 2016 adalah hal yang berlebihan (untuk tidak menyebutkan terlalu sentimentil). Pada pidatonya, Ahok memang menyinggung surah Al Mâ`idah ayat 51 yang melarang umat Islam memilih pemimpin dari kalangan Yahudi dan Nashrani. Ia menyebutkan jangan mau dibodohi oleh para ustadz yang menggunakan ayat tersebut demi jamaah tidak memilihnya sebagai pemimpin. Sebagaimana diketahui bahwa Ahok beragama Nashrani.

Atas pernyataan Ahok ini tidak sedikit kalangan Muslim yang menilai bahwa pidato tersebut merupakan bentuk penistaan terhadap ajaran agama Islam. Kandidat gubernur Jakarta tersebut dianggap telah menggunakan ayat tersebut untuk memprovokasi umat Islam disana. Maka aksi demo pun digelar di beberapa wilayah Indonesia untuk mengecam tindakan Ahok. Berita pidato Ahok tersebut kemudian menyebar pesat di internet. Media nasional pun baik daring atau tidak sangat intens memberitakan kasus tersebut.

Menyikapi fenomena tersebut, ASM malah bersikap sebaliknya. Ia justru berpandangan lebih longgar. Menurutnya akan lebih baik jika kita menonton video pidato tersebut (yang banyak tersebar di internet dan media sosial) secara utuh, tidak sepotong saja. Sehingga kita akan menyikapinya dengan lebih obyektif, tidak begitu responsif hingga melakukan aksi demo massal.

Selain itu ia juga kerap mengemukakan suara kalangan minoritas. Seakan ia membela mereka. Padahal sebenarnya tidak bermaksud demikian, melainkan hanya sebagai ajakan untuk bersikap lebih toleran terhadap mereka yang berbeda. Misalnya sikap lunaknya terhadap penganut Syi’ah kendati MUI telah memfatwakan agar umat perlu waspada terhadap Syi’ah.211 Sebagaimana diketahui bahwa pada pertengahan tahun 2012, sekelompok penganut Sunni melakukan penyerangan kepada penganut Syiah di Sampang, Madura. Kemudian di tahun 2013, oleh mereka para penganut Syiah tersebut diusir dari Sampang. Pada akhirnya mereka mengungsi ke Sidoarjo, Jawa Timur hingga sekarang. Konon mereka diperbolehkan untuk kembali ke Sampang jika menganut Sunni.

ASM tanpa takut memberikan kritik kepada aparat penegak hukum negara agar bersikap netral dan mengedepankan penegakan hukum tanpa tebang pilih. Bagaimanapun juga, pengusiran yang telah dilakukan itu merupakan bentuk sikap anarkis. Pembelaannya

211 Lihat fatwa MUI yang dihasilkan pada Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M, ditetapkan di Jakarta 7 Maret 1984. Lihat juga Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Propinsi Jawa Timur No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 Tentang Kesesatan Ajaran Syi’ah.

kepada penganut Syi’ah ini tidak berarti bahwa dirinya merupakan bagian dari mereka. Ia bukan seorang Syi’ah. Sikapnya itu semata-mata didasari semangat kemanusiaan, semangat keislaman dan semangat keindonesiaan. Semangat kemanusiaan bahwa setiap manusia berada pada kesamaan hak, semangat keislaman bahwa Islam adalah agama yang menebarkan kasih sayang, dan semangat keindonesiaan bahwa negara ini adalah majemuk, maka menjadi berbeda adalah hal yang wajar, kita hanya perlu memaklumi heterogenitas dan perlu lebih toleran.

Tidak kalah penting, ia berpikiran terbuka perihal kepemimpinan perempuan pada aspek politik. Padahal sebagaimana diketahui bahwa selama ini perempuan tidak lebih hanya dipandang sebagai warga kelas dua (untuk tidak menyebut sebagai ‘pelengkap’).

Berpedoman pada Al Qur`ân surah Al Hujurât ayat 3, ASM berpandangan bahwa kemuliaan di sisi Allah swt terbuka baik untuk laki-laki maupun perempuan. Posisi sebagai pemimpin baik laki-laki maupun perempuan akan menjadi mulia pada pandangan rakyat jika ia bertakwa yang dimanifestasikan dengan komitmen menegakan keadilan dan siap bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat bersama.

Gagasan yang dikemukakan olehnya selalu dibarengi dengan pertimbangan kebinekaan yang ada di Indonesia. Menurutnya, umat Islam Indonesia harus mampu memahami Islam, keindonesiaan dan kemanusiaan menjadi satu nafas. Sebab ketiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Muslim harus mampu berIslam di tengah kemajemukan, tanpa perlu memaksakan penegakan negara berdasarkan Islam secara formal.212 Hal ini dapat diamati pada sejarah perjalanan bangsa Indonesia dan budayanya yang bergandengan mesra dengan Islam sebagai agama dan Nilai-nilai tanpa berlabel ‘syari’at Islam’. Sehingga Islam yang dipraktikan di negara kita ini adalah Islam yang terbuka, inklusif, ramah dan solutif terhadap permasalahan bangsa dan negara.

212 Ahmad Syafii Maarif, “Islam di Masa demokrasi Liberal dan demokrasi Terpimpin”, Prisma No. 5, Tahun 1988, h 26.

Tulisan ini akan menyoroti sikap intoleransi yang menggejala dan mewabah dalam tubuh umat Islam sehingga memunculkan paham radikalisme dalam beragama. Paham ini cukup meresahkan dan mengancam keamanan negara. Ini didasari kesadaran akan pentingnya tindakan preventif untuk menanggulangi persebaran paham radikalisme tersebut, terlebih kepada generasi muda, dimana melalui berbagai media, tidak terkecuali media sosial yang sangat akrab dengan kehidupan milenial213, radikalisme terpapar dengan sangat bebas.

Ahmad Syafii Maarif :

Dari Radikal-Konservatif ke Moderat-Progresif

Mulanya ASM pernah menjadi pengagum Al Maududi, Maryam Jameela, tokoh-tokoh Ikhwan, Masyumi dan gagasan tentang negara Islam.214 Ia sangat tertarik untuk mengubah Indonesia menjadi negara Islam (untuk tidak menyebutkan mendirikan negara Islam Indonesia). Pengalaman ini cukup menunjukan bahwa tadinya ia seorang yang radikal-konservatif. Padahal saat itu tahun 1976 – 1978 ia sedang menempuh pendidikan master pada Departemen Sejarah di Universitas Ohio, Amerika Serikat. Kendati Amerika adalah negara bebas, itu tidak lantas serta merta merubah pemikirannya.

Perubahan pemikirannya menjadi lebih terbuka dan tidak kaku terjadi ketika ia melanjutkan studi doktor di Universitas Chicago, Amerika Serikat. Disana ia bertemu dengan Fazlur Rahman. Ia mengikuti perkuliahan Profesor itu mulai dari studi Al Qur`an, Filsafat, Tasawuf, Teori politik Islam, modernisme Islam dan sebagainya.215 Tadinya ia mengikuti perkuliahan itu

213 Menurut KBBI Daring, milenial adalah: 1) Berkaitan dengan milenium, 2) berkaitan dengan generasi yang lahir di antara tahun 1980-an dan 2000-an:

kehidupan generasi tidak dapat dilepaskan dari teknologi informasi , teruta-ma internet. Lihat https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/milenial akses pada 26 September 2018.

214 Ahmad Syafii Maarif, Ahmad Syafii Maarif: Memoar Seorang Anak Kam-pung, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013), h 203.

215 Ahmad Syafii Maarif, Ahmad Syafii Maarif: Memoar..., h 219.

demi menguatkan tekad dan mempertajam referensi dalam rangka mewujudkan keinginan mengubah Indonesia menjadi negara Islam.

Akan tetapi setelah mengikuti kelas tersebut, ia tidak ‘berselera’ lagi merealisasikakan apa yang pernah sangat menggebu-gebu dalam batinnya. Ia menyadari bahwa Islam hendaklah menjadi nafas bagi setiap aktivitas Muslim tanpa harus menggunakan label Islam secara formal. Sebab inti dari agama adalah moralitas.

Pemikiran Fazlur Rahman yang terbuka, modern dan wasatiyyah memengaruhi wawasan keilmuan dan keislaman ASM.

Maka ia yang tadinya seorang yang memiliki pemikiran radikal-konservatif perlahan berubah menjadi moderat-progresif. Ia menyadari bahwa tidak menjadi penting pelekatan label Islam itu, sebab yang utama adalah bagaimana moral Islam itu mengintegrasi dalam jiwa masyarakatnya. Terlebih pada Indonesia yang majemuk, sangat beragam. Adalah suatu kekonyolan jika memaksakan Islam menjadi dasar Negara, sebab kendati di Indonesia ini Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas, akan tetapi cukup banyak juga agama-agama lainnya yang berkembang di bumi pertiwi ini. Maka hendaknya Muslim menunjukan wajah Islam sebagai agama yang damai dan ramah sehingga penganut agama lain tidak merasa terancam dan terdiskriminasi.

Fokusnya bukan lagi pada simbol-simbol dan label, akan tetapi lebih kepada spirit Islam itu sendiri yang sebagai rahmatan li al’âlamîn. Hendaknya Islam itu seperti garam yang tidak terlihat tetapi terasa, bukan sebagai lipstick yang terlihat namun tidak terasa.216 Pancasila yang menjadi falsafat negara Indonesia sebenarnya mengayomi sebagian Nilai-nilai Islam. Tidak ada satupun sila dari Pancasila itu menyalahi Nilai-nilai dan ajaran Islam. Utamanya sekarang adalah bagaimana kita mampu mengejawantahkan Nilai-nilai tersebut kemudian mengisi pembangunan ini secara efektif.

Islam mengajarkan semangat menuntut ilmu karena itu

216 Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanu-siaan: Sebuah Refleksi Sejarah, (Bandung: Mizan, 2015), h 290 – 298.

yang akan meninggikan derajatnya217, maka Muslim hendaknya berlomba-lomba dalam meningkatkan kapasitas diri dari segi keilmuan, bukan belajar hanya demi mendapatkan ijazah. Al Qur`ân seringkali memberikan sinyal pada banyak ayat agar kita mau berpikir dan menganalisa218, maka Muslim hendaknya melakukan hal demikian agar memiliki pemikiran yang terbuka. Islam juga mengajarkan belas kasih dan menyuarakan rasa kemanusiaan seperti mengayomi anak yatim dan fakir miskin219, maka hendaknya Muslim mempraktikannya demi meminimalisir kesenjangan sosial, bukan malah bersikap hedonis, menimbun harta terlebih serakah.

Beberapa yang disebutkan itu hanya merupakan contoh Nilai-nilai Islam, masih banyak lagi spirit Al Qur`ân lainnya yang belum terpraktikan oleh Muslim dengan baik, karena sebagian kalangan hanya menggebu-gebu untuk mewujudkan penegakan negara Islam.

Seakan-akan ketika sudah berlabel Islam, fenomena sosial dapat terselesaikan secara otomatis. Padahal sebenarnya tidaklah semudah demikian.

Zaman akan terus berkembang, tantangan hidup akan semakin meningkat. Itu bermakna ada daya saing yang tinggi yang menuntut pada kompetensi diri yang tinggi pula. Hanya terfokus pada pemaksaan pemberlakuan sya’riat Islam secara radikal hanya akan membuat Muslim terlupa bahwa kita memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar untuk mengisi pembangunan. Selalu mengemukakakan ide homogenitas hanya akan membuat kita terjebak pada intoleransi.

Sikap ini akan menggiring pada eksklusivisme hingga radikalisme yang mengancam keamanan negara. Kita saksikan contohnya nasib negara tetangga kita, seperti Rohingya (Myanmar) dan Vietnam, dimana radikalisme hanya akan berujung pada kegagalan.

Al Qur`ân dan sunnah sebenarnya tidak memberikan sinyal tegas terkait dengan bentuk pemerintahan dan lembaga-lembaga politik lain sebagai cara bagi umat Islam untuk mempertahankan

217 QS. Al Mujadilah [58] : 11.

218 Seperti QS. Al Baqarah [2] : 219 & 266, QS Ali Imran [3] : 191, An-Nahl [16] : 11, dan sebagainya.

219 QS. Al Mâ’ûn [107] : 1 – 7.

persatuan.220 Bumi ini diciptakan Tuhan bukan hanya diperuntukan bagi penganut salah satu agama saja. Semua penganut agama memiliki hak yang sama untuk hidup dan memanfaatkan kekayaan bumi ini atas dasar keadilan dan toleransi. Maka hendaknya kita semua harus mampu bersaudara dalam perbedaan, dan berbeda dalam persaudaraan.

Jika kita meyakini bahwa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, maka penganut agama lain pun juga harus dapat merasakan bentuk rahmat itu dari orang Islam, bukan hanya terbatas pada orang Islam saja. Islam itu membawa kedamaian, ramah, memperjuangkan hak asasi manusia dan solutif. Akan tetapi jika umat Islam menampilkan wajah Islam sebagai bengis, egois, eksklusif dan radikal, maka sesungguhnya sikap demikian terlepas dari rahmat yang dimaksudkan oleh misi Islam sebagai rahmatan li al’âlamîn.

Memahami Kebinekaan Indonesia

Indonesia adalah negara dengan multi agama, multi etnis, multi bahasa dan keragaman lainnya. Di Indonesia terdapat 665 bahasa daerah, 300 suku yang tersebar di 17.670 pulau serta multi agama.221 Kondisi ini sekaligus menunjukan bahwa kita perlu mengenal keragaman yang ada, seperti perbedaan agama, budaya, pandangan politik, etnis, tradisi dan sebagainya. Inilah kekayaan Indonesia. Keragamaan hayati, multi kultur, perbedaan topografi dan juga multi agama yang diakui secara sah oleh negara dan boleh untuk dianut rakyat Indonesia. negara ini tidak mengamini pengutamaan salah satu agama saja, namun melindungi semua agama itu untuk masing-masing diyakini dan beribadah sesuai keyakinan. negara

220 Ahmad Syafii Maarif, Islam dan Masalah Kenegaraan: Studi tentang Perca-turan dalam Konstituante, (Jakarta: LP3ES, 1985), h 20.

221 Disampaikan juga oleh Said Assagaff, selaku Gubernur Maluku saat men-jadi keynote speech pada Kongres Pancasila VI: Penguatan, Sinkronisasi, Harmonisasi, Integrasi Pelembagaan dan Pembudayaan Pancasila dalam Rangka Memperkokoh Kedaulatan Bangsa, yang diselenggarakan di Ambon pada 31 Mei – 1 Juni 2014, atas kejasama Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Universitas Pattimura, Ambon.

ini tidak mengutamakan salah satu golongan saja, tetapi menjamin hak semua orang untuk berekspresi sesuai dengan norma-norma agama, kesusilaan dan kesopanan yang ada. Ini membuktikan bahwa Indonesia sejak masa awal berdirinya sangat mengedepankan toleransi dan menghargai ke-Binekaan.

Dipandang dari jumlah penganut agama, walaupun Islam sebenarnya diimani oleh mayoritas penduduk Indonesia, namun sangat tidak tepat jika memaksakan syariat Islam menjadi asas negara, sebab pada kenyataannya Indonesia ini adalah plural. Setiap penganut agama pada dasarnya akan berpandangan bahwa agamanya adalah yang paling benar, paling ideal, paling berdasar. Sangat celaka jika terdapat beberapa kalangan –dengan mengatasnamakan dalil-dalil kitab suci- merasa mendapatkan pembenaran atas aksi-aksinya yang meresahkan sekitarnya.

Mengamati fenomena seperti itu, terlebih pelakunya adalah Muslim, ASM sampai menyebut mereka sebagai ‘Preman Berjubah’.222 Mereka melakukan aksi anarkis sambil menyerukan takbir dan asma Allah, menggunakan simbol-simbol agama dan bersikap seakan sangat memahami makna jihad. Mereka mencoba menutup tempat hiburan malam melangkahi aparat penegak hukum yang berwenang. Tidak segan mereka menyebarkan ujaran kebencian melalui ceramahnya. Lebih dari itu ada yang nekad melakukan aksi bom bunuh diri dan teror di tempat umum, tempat ibadah agama lain dan kantor aparat keamanan. Lebih parah lagi, aksi tersebut diyakini sebagai bentuk jihad untuk memberantas kemungkaran, atas alasan pengorbanan yang besar untuk agama. Dalih mereka adalah kemelut konflik yang diperjuangkan umat Islam seperti di Palestina, Iraq, Yaman dan sebagainya. Maka mencegah kemungkaran dengan tangan (aksi nyata yang identik dengan radikalisme –perang-)

222 Istilah yang disebutkan ASM, lihat Ahmad Syafii Maarif, “Preman Berju-bah”, Republika, edisi 9 Agustus 2005. Kemudian istilah itu dikutip oleh banyak pihak, seperti M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008, (terj.), (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2008), h 722. Banding-kan dengan Hd. Haryo Sasongko, Terorisme: Dialog & Toleransi, (Pustaka Grafiksi, 2006), h 137.

merupakan salah satu ekspresi keimanan yang kuat daripada hanya sekedar mendoakan.

Sungguh ini adalah hasil pemikiran yang sangat dangkal.

Memang cukup banyak ayat Al Qur`ân yang menyinggung perkara jihad, seperti Al Baqarah [2] : 218 & 273, Âli Imran [3] : 142, An-Nisâ [4] : 95, Al Mâ`idah [5] : 35, At-Taubah [9] : 20 dan sebagainya.

Akan tetapi konteks ayat tersebut bukan dimaksudkan melakukan aksi radikalisme. Bukankah sebetulnya aksi tersebut tidak bernilai memperjuang agama, melainkan hanya membuat kehinaan semata.

Tidak ada empati dan simpati atas radikalisme.

Bagi kalangan Muslim, Al Qur`ân memang wahyu yang mengandung kebenaran mutlak. Ia berisi pesan-pesan yang agung dan ajaran yang luhur. Namun sebenarnya, bukan Al Qur`ân yang keliru, hanya saja interpretasi dan kekakuan pemahaman umat Islam yang menjadikan penafsiran terhadap ayat-ayat itu menjadi sangat kaku dan sempit. Tidak jarang lebih tekstual dari mempertimbangkan kontekstual, yang sebenarnya sangat beragam di berbagai bumi Muslim. Membenarkan tindak kekerasan kepada agama lain, berpikiran kaku dan bersikap eksklusif hanya akan mengantarkan peradaban Islam kepada kemunduran. Lebih lanjut lagi, perubahan yang cepat dan menyeluruh (revolusi) akan selalu berefek kepada kekacauan politik dan anarki, sehingga menghancurkan infrastruktur sosial politik bangsa dan negara.223

Memaksakan untuk menjadi homogen bukan saja menjadi hal sulit, namun juga merupakan sebuah ketidak mungkinan. Menjadi mayoritas, tidak lantas dapat berlaku sewenang-wenang untuk menundukan penganut agama lain pada hukum Islam. Maka sangat penting memahami keragaman Indonesia, ini berarti juga toleransi menjadi suatu keharusan.

Keragaman memang diakui berpotensi besar untuk menyulut konflik-konflik yang mendorong pada aksi radikalisme dan terorisme, terlebih perbedaan agama. Namun bersikap radikal bukan menjadi

223 Ahmad Syafii Maarif, Menggugat Terorisme: Pendapat Para Pengamat dan Tokoh, (Karsa Rezeki, 2002), h 87.

Dalam dokumen Merawat Pemikiran Buya Syafii (Halaman 192-200)