• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGENAL METODE SOSIAL a. Lingkaran Dinamika Eksposure

BAGIAN II DASAR-DASAR EKSPOSURE

MENGENAL METODE SOSIAL a. Lingkaran Dinamika Eksposure

Kita akan melihat bahwa eksposure agama Katolik menggunkaan dinamika lingkaran: observasi, analasisa, refleksi, dan rumusan-aksi. Berikut lingkaran dinamika eksposure:

Eksposure memulaikan aktivitasnya dengan memakai berawal dari pengalaman (yaitu: apa yang sedang terjadi atau dialami).

Langkah pertama, Observasi.

Refleksi dan penghayatan iman tidak berada di menara gading. Ia tidak stiril terhadap pahit getirnya kehidupan. Oleh karena itu, tindakan „turun gunung‟ harus dilakukan supaya iman menjadi bergulatan pengalaman yang nyata. Dalam kerangka inilah, eksposure diawali dengan observasi. Observasi di sini adalah tindakan “keluar”, mengalami dan merasakan pengalaman atau situasi tertentu. Dalam kerangka gerak „keluar‟ ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan sebelumnya. 1. OBSERVASI 2. ANALISA 3. REFLEKSI 4. PERUMUSAN DAN AKSI

28

Untuk menangkap pengalaman, kita bisa menggunakan banyak metode penelitian. Salah satunya adalah observasi. Berikut beberapa keterangan tentang metode tersebut.

1. Metode Partisipative observation (Observasi Partisipatif).

Dalam eksposure, kita akan menggunakan metode sosial observasi partisipatif. Secara sederhana, observasi partisipatif adalah metode penelitian ilmiah dengan cara hadir dan merasakan konteks yang diteliti. Di dalamnya, terjadi wawancara informal (wawancara „ngobrol warung kopi‟), pengumpulan data statistic, dan pengamatan langsung oleh peneliti. Sebagai gambaran, observasi partisipatif dapat dilakukan dengan cara: Tinggal bersama, Wawancara, Kunjungan, Pengamatan langsung, Informasi Instansi.

Dalam metode ini, seluruh panca indra digunakan secara optimal (mata untuk mengamati, telinga untuk mendengar, rasa untuk merasakan panas atau penat, dsb). Setelah dirasa menemukan data-data (sesederhana atau sekecil apapun), peneliti harus mengingat dengan cara menulisnya dalam catatan-pribadi atau catatan harian. Selain catatan, peneliti bisa memanfaatkan alat modern (smartphone, misalnya) untuk menghasilkan data berupa: audio, visual, atau audio-visual. Dengan data-data tersebut, peneliti akan melakukan analisa.

2. Analisa Fakta dan Penilian

Dalam pengalaman observasi, peserta sering kali melihat pengalaman dengan cara umum atau sekilas pandang. Dalam eksposure kali ini, peserta hendaknya membedakan fakta dan penilaian, atau fakta dan asumsi. Hal ini penting untuk membedakan manakah kenyataan dan manakah penafsiran.

29

Untuk itu, observer (mahasiswa) hendaknya membedakan fakta dan asumsi.

3. Mental Block

Bicara tentang orang lain atau kelompok sosial tertentu, kita sudah mempunyai aneka pengetahuan, cara berpikir, atau paradigm tertentu tentangnya.

Contoh pertama adalah pandangan terhadap kemiskinan para pemulung. Dalam kepala kita, sudah terpatri bahwa pemulung mempunyai hidup sengsara, melarat, dan miskin. Mereka mempunyai penghasilan kecil dari sumber penghasilan yang kotor dan pekerjaan pemulung dihindari oleh anggota masyarakat.

Contoh kedua adalah pandangan kita tentang pengemis. Seorang pengemis terpaksa mengemis karena tidak mempunyai kesempatan kerja. Mengemis adalah sebuah keterpaksaan, bukan pilihan. Jika mereka bisa memilih, tentunya mereka tidak mau menjadi pengemis. Mereka miskin dan berkekurangan, rentan terhadap kekerasan, dan berpendapatan kecil.

Dua contoh di atas adalah pikiran dan pengetahuan kita. Dalam pengalaman observasi, bisa jadi, peserta menemukan bahwa seorang pengemis bisa mendapatkan 100 ribu sehari Artinya, kurang lebih 3 juta per bulan. Penghasilan ini sudah di atas UMR Bandung. Jika demikian, apakah mereka miskin?

Dalam 2-3 jam, seorang pemulung di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) mampu mendapatkan hasil 30-50 ribu. Atau, pemulung mempunyai spesialisasi objek yang diambil: pemulung khusus plastic, botol, atau bahkan pemulung limbah rumah sakit.

30

Dengan demikian, pengetahuan awal tentang objek observasi harus disadari. Praduga atau asumsi harus disimpan untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru selama observasi. Hal ini menghindarkan peneliti (mahasiswa) untuk tidak menilai sesuatu tanpa data dan informasi yang cukup dan secara sembrono.

Langkah kedua, Analisa Sosial.

Langkah analisa sosial ini mengandalkan kemampuan yang merupakan andil dari ilmu-sosial. Eksposure (pelaku eksposure) mengkaji, menelaah, dan mengadakan analisa atas data-informasi yang diperoleh dari lapangan. Data-informasi disusun sedemikian rupa sehingga menjadi cerita atau bangunan informasi yang lengkap tentang objek yang diteliti.

Cerita atau bangunan informasi mengarahkan peneliti (mahasiswa) untuk mendalami topic yang menjadi focus penelitian. Artinya, informasi tidak berhenti pada informasi. Data dan informasi mendorong mahasiswa untuk memperluas pengetahuan tentang topic pembicaraan. Tujuannya adalah untuk menempatkan masalah social secara lebih luas dan jelas.

Kita akan melihat satu contoh, yaitu masalah pengemis. Dari observasi, kita menemukan segala data tentang profil, sejarah, motivasi, dan aktivitas harian sejumlah pengemis di suatu tempat (dalam suatu waktu). Dari data tersebut, kita bisa mengembangkan pengetahuan tentang: berapa pengemis di kota Bandung (konteks: Bandung) dan Indonesia, bagaimana persebaran pengemis di Indonesia.

Kita bisa bertanya: a) Secara umum, dari mana asal pengemis, bagaimana karakter pengemis? b) apa motivasi mereka mengemis? Dan, apakah mereka mempunyai niat untuk berhenti

31

dan alih kerja? c) bagaimana kebijakan pemerinta untuk para pengemis? Adakan peraturan pemerintah (daerah atau pusat) tentang pengemis? Apa yang sudah dilakukan pemerintah (daerah atau pusat) terhadap para pengemis (selain Satpol PP merasia pengemis)? d) Adakah „organisasi‟ yang mengatur atau melindungi pengemis? Adakah „sindikat‟ pengemis, terkhusus anak-anak dan perempuan? e) Bagaimana dengan kekerasan yang dialami pengemis? Jenis kekerasan apa yang diperoleh? Apakah ada perlindungan pemerintah terhadap para pengemis? f) Adakah organisasi social (LSM cs) yang bergerak dalam bidang ini? Organisasi social apa saja yang peduli dengan para pengemis? Apa visi mereka? Dan, apa yang mereka lakukan untuk para pengemis?

Deretan pertanyaan dan pendalaman di atas bisa diteruskan. Pertanyaan terakhirnya adalah “apa yang sebenarnya dialami oleh para

pengemis?”, “Apa yang menjadi masalah para pengemis?”, atau “Apa yang bisa kita rumuskan tentang pengemis sebagai masalah social?!”

Jawaban atas pertanyaan ini cukup ditulis dalam satu kalimat inti (Maksimal tulisan adalah 2 kalimat). Dari rumusan masalah social ini, mahasiswa membawanya sebagai inti pengalaman yang akan direfleksikan dalam konteks iman (Katolik).

Langkah ketiga, Refleksi Iman.

Tentunya, analisa sosial menghasilkan rumusan pengalaman atau hipotesa sosial. Hipotesa sosial tersebut tidak boleh berhenti pada tataran humanis semata. Sebaliknya, hipotesa sosial didalami dalam refleksi iman sehingga kenyataan hidup tidak sekedar pengalaman manusiawi semata-mata. Kenyataan hidup dihayati menjadi medan pergulatan iman (Kristiani).

32

Dalam kenyataan hidup, iman (Kristiani) ditantang untuk bersuara dan bertindak.

Secara konkret, kita akan melihat rumusan analisa sosia: “kemiskinan dan kemurahan hati”. Intinya, analisas social melihat pengemis (lih, langkah kedua) dalam kaitan antara “kemiskinan” dan “Kemurahan hati”. Kemiskinan, karena pengemis adalah pihak yang mayoritas miskin; kemurahan hati, karena kehidupan pengemis tergantung pada sisa orang lain.

Dalam refleksi iman, mahasiswa bisa merenungkan makna

kemiskinan dan kemurahan hati. Apa arti kemiskinan dalam

konteks iman (khususnya, kristiani)? Bagaimana Kitab Suci dan Gereja melihat kemiskinan dan kemurahan hati? Bagaimana Ajaran Sosial Gereja menilai kemiskinan dan kemurahan hati? Pada tahap akhir refleksi, mahasiswa merumuskan makna kemiskinan dan kemurahan hati dalam konteks penghayatan iman.

Dalam tahap ini, mahasiswa melihat masalah iman dalam kacamata iman (Katolik). Dengan cara ini, persoalan social tidak bisa dilepaskan dalam penghayatan iman. Masalah sosial dibenturkan dengan nilai-nilai iman yang dihayati dan diperjuangkan oleh kaum beriman, yaitu Injil Yesus Kristus, Magisterium (Ajaran resmi Gereja), serta Tradisi Suci. Dengan gerak dialog tersebut, mahasiswa bisa berusaha menjawab dan mewujud-nyatakan iman kita dalam dinamika hidup.

Demikianlah, refleksi iman membutuhkan kerja sama dengan ilmu-ilmu profan (ilmu sosial). Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana refleksi iman bekerja sama dengan ilmu profan?

Tentang pertanyaan di atas, ada beberapa hal yang harus didsadari bersama. (1) dalam berefleksi iman, kita membutuhkan

33

pemahaman komprehensif atas pengalaman hidup (kenyataan sosial) dan hal itu dibantu oleh ilmu sosial. Ilmu sosial diharapkan mampu membuat gambaran dan analisa se-objektif mungkin. (2) Situasi sosial-objektif haruslah didekati olehlintas disiplin ilmu. Situasi yang semakin komplek pun membutuhkan kerjasama-intensif dengan ilmu-ilmu sosial.

Dan, (3) refleksi iman membutuhkan standart pelayanan. Untuk melakukan refleksi iman, kita mengandalkan ilmu sosial supaya mendapat lukisan situasi seobjektif mungkin. (4) Bagi pelayanan sosial, dimensi refleksi iman menjadikan tindakan tersebut sebagai ungkapan iman. (5) Telaah atau analisa sosial menyajikan premis-premis nilai (entah disadari atau tidak). Premis nilai itu perlulah diungkapkan untuk bias didiskusikan sehingga kajian yang dihasilkan bisa dipertanggung-jawabkan dengan baik.

Langkah keempat, Perumusan Aksi.

Analisa sosial dan Refleksi iman bermuara pada perumusan aksi. Perumusan aksi di sini harus diperjelas supaya tidak terkesan gerakan sosial. Peserta eksposure diminta untuk membuat kesimpulan, merumuskan opsi atau pilihan penilaian atas situasi, analisa, dan refleksi imannya. Sangat dimungkinkan bahwa saat perumusan opsi, peserta eksposure membuat niat dan rencana aksi sebagai tindak lanjut dari penilaian dan pilihan yang dilakukan.

35 BAB VI.

PENJELASAN METODE EKSPOSURE

Dokumen terkait