• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penegasan Aturan

BAGIAN II DASAR-DASAR EKSPOSURE

PROSES EXPOSURE “…(tema)…”

12. Penegasan Aturan

a) Pelanggaran dan Konsekuensi:

 No copy paste internet! Kutipan harus disertai dengan catatan kaki. Jika dilanggar, kegiatan dan hasil eksposure

atas nama kelompok akan dibatalkan. Konsekuensinya: nilai UAS adalah 1.

 Seluruh anggota hadir dalam presentasi.

Ketidakhadiran anggota berarti absen UAS. Jika

dilanggar, mahasiswa akan dianggap tidak-hadir. Konsekuensnya: nilai UAS tidak ada (bukan 1).

b) Komponen nilai UAS adalah 1 nilai presentasi (dosen), 1 nilai partisipasi atau keaktivan dalam group (anggota kelompok), 1 nilai penampilan (kelompok lain saat presentasi), dan 1 nilai paper.

c) Unsur paper yang dinilai adalah kelengkapan data, struktur penulisan, kelengkapan informasi, rumusan-rumusan inti (analisa social, refleksi iman, aksi).

49 BAB V

METODE OBSERVASIiii

(BEBERAPA CATATAN TAMBAHAN) 1. Pengantar

Dalam ulasan berikut ini, eksposure akan disejajarkan dengan kegiatan penelitian sosial dan pelaku eksposure dianggap sebagai peneliti. Dalam kontes ini, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

1. Peranan Peneliti dalam membentuk pengetahuan. Dalam proses

pembentukan pengetahuan, peneliti merupakan figur utama yang mempengaruhi dan membentuk pengetahuan. Peran ini dilakukan melalui proses pengumpulan, pemilihan dan interpretasi data. Jadi, sangatlah tidak mungkin untuk melakukan penelitian, jika penelitian tidak terjun langsung pada obyek yang diteliti.

Konsekuensinya, peneliti harus terlibat secara langsung dalam setiap tahap kegiatan penelitian dan harus berada langsung dalam setting penelitian yang dipilih.

2. Arti penting hubungan peneliti dengan pihak lain. Penelitian

kualitatif merupakan proses yang melibatkan peserta (yang diteliti), peneliti dan pembaca serta relationship yang mereka bangun. Jadi, peneliti dipengaruhi oleh lingkungan sosial, historis dan kultural dimana riset dilakukan.

Konsekuensinya, ketika melakukan penelitian, peneliti harus mampu membangun hubungan yang baik dengan obyek penelitian dan mampu menyajikan hasil penelitian sehingga pembaca dapat mengikuti dengan jelas alur pemikiran peneliti dalam membangun suatu pengetahuan.

50

3. Penelitian bersifat inductive, exploratory dan HypothesisGeneratin. Penelitian kualitatif selalu didasarkan pada fenomena

yang menarik dan dimulai dengan pertanyaan terbuka (open

question); bukan dimulai dengan hipotesis yang akan diuji

kebenarannya. Jadi, penelitian bertujuan menginvestigasi dan memahami social world bukannya memprediksi perilaku. Penelitian dilakukan secara induktif dan exploratif dengan melihat apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan bagaimana terjadinya sehingga diharapkan dapat menghasilkan hipotesis baru.

4. Peranan Makna (Meaning) dan Interpretasi. Penelitian

kualitatif difokuskan pada bagaimana individu memahami dunianya dan bagaimana mereka mengalami peristiwa tertentu. Jadi, penelitian ini berusaha menginterpretasikan fenomena dari kacamata pelaku berdasarkan pada interpretasi mereka terhadap fenomena tersebut.

5. Temuan sangat kompleks, rinci, dan komprehensif. Penelitian

kualitatif didasarkan pada deskripsi yang jelas dan detail, karena mejawab pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana. Oleh karena itu, penyajian atas temuan sangatlah kompleks, rinci dan komprehensif sesuai dangan fenomena yang terjadi pada setting penelitian.

2. Pengertian Observasi

Observasi adalah metode pengumpulan data melalui pengamatan langsung terhadap suatu subjek (lokasi, situasi,

masyarakat, kelompok, dll), dalam suatu periode tertentu (catt: waktu harus ditentukan dengan jelas supaya ada batasan waktunya) dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati.

51

Catt: Seberapa banyak (seberapa sering) observasi yang perlu dilakukan dan seberapa panjangnya waktu pada setiap periode observasi sangat tergantung kepada tujuan penelitian dan jenis data yang dikumpulkan.

Supaya efektif, observer (peneliti dengan metode observasi) sebaiknya melakukan setting plan atas proses observasinya. Harus ditentukan dulu: tujuan observasi, objek/subjek observasi, berapa lama dan tempatnya dimana saja, langkah-langkah (rencana tindakan) yang harus dilakukan, pihak-pihak yang bisa ditemui dan membantu (perantara), pihak-pihak kunci dalam penelitian (ketua suku, ketua RW/RT, sesepuh setempat, dll), sarana-sarana yang ada dan bisa dimanfaatkan (contoh: peristiwa posyandu, poskamling, rapat dusun, doa/ritual).

Dalam waktu pra-observasi, peneliti sebaiknya mengumpulkan segala informasi yang diperlukan untuk mengenal objek penelitian sebagai pengetahuan awal. Hal ini penting sehubungan dengan dimungkinkannya adanya „larangan‟, „hal tabu‟, atau hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama observasi, di daerah atau kelompok tersebut.

Sebelum observasi itu dilaksnanakan, pengobservasi (observer) hendaknya telah menetapkan terlebih dahulu aspek-aspek apayang akan diobservasi dari tingkah laku seseorang. Aspek-aspek tersebut hendaknya telah dirumuskan secara operasional, sehingga tingkah laku yang akan dicatat nanti dalam observasi hanyalah apa-apa yang telah dirumuskan tersebut.

3. Jenis-jenis Observasi

Klasifikasi tentang jenis-jenis observasi dapat dilihat dari beberapa sudut pandangan antara lain:

52

Observasi terhadap situasi bebas (free situation). Jenis observasi ini dilakukan terhadap situasi yang terjadi secara wajar. Peneliti tidak melakukan campur tangan. Misalnya adalah observasi yang dilakukan terhadap perilaku tawar menawar pedagang dan pembeli di pasar Bringharjo.

Observasi terhadap situasi yang dimanipulasikan (manipulated situation). Jenis observasi manipulated situation ini mengharuskan observer melakukan intervensi terhadap situasi yang ingin diobservasi. Situasitelah dirancang oleh pengobservasi dengan cara memodifikasi beberapa elemen situasi. Misalnya adalah observasi terhadap gaya kepemimpinan yang efektif bagi anak SD.

Observasi terhadap situasi yang setengah terkontrol (partially controlled). Jenis observasi ini adalah kombinasi dari kedua jenis observasi situasi bebas dan situasi yang dimanipulasikan. Contohnya adalah observasi terhadap sikap pembeli bensin di POM X.

b. Berdasarkan keterlibatan observer.

Observasi partisipasi, yaitu apabila pengobservasi ikut terlibat

dalam kegiatan subyek yang sedang diobservasi. Misalnya adalah seorang peneliti yang meneliti efek gempa kepada kehidupan warga masyarakat di desa Bulak di Kecamatan Gantiwarno, Kab. Klaten.

Observasi non partisipasi, yaitu apabila observer tidak ikut

terlibat dalam kegiatan yang diobservasi. Misalnya adalah observasi terhadap kebiasaan mandi (kebersihan diri) warga masyarakat di daerah Dagan, kab. Indramayu.

53

Observasi quasi partisipasi, yaitu apabila dalam jenis ini

sebagian waktu dalam satu periode observasi, observer ikut melibatkan diri dalam kegiatan yang diobservasi, dan sebagian waktu lainnya ia terlepas dari kegiatan tersebut. Misalnya adalah penelitian tentang efek bimbingan terhadap prestasi siswa. Di sini, dalam waktu linier (bersambung), peneliti terlibat langsung dalam proses belajar anak sebagai pembimbing. Di waktu lain, peneliti tidak terlibat dalam proses belajar.

c. Berdasarkan pencatatan hasil-hasil observasi

Observasi berstruktur.

Observasi berstruktur adalah observasi dimana aspek-aspek tingkah laku yang akan diobservasi sudah disusun secara sistematik dalam daftar.

Bentuk catatan sistematis ada 2 jenis, yaitu: 1) chek

list(suatu daftar yang memuat sejumlah tingkah laku yang

akan diobservasi). 2) rating scale(skala bertingkat yang berisi tingkatan-tingkatan gejalayang akan diobservasi.

Kelemahan dari observasi berstruktur ini adalah bahwa pengobservasi sangat terikat dengan daftar yang telah tersusun sehingga ia tidak mungkin mengembangkan observasinya dengan aspek-aspek lain yang kebetulan terjadi selama observasi berlangsung.

Untuk mengatasi kelemahan ini, dapat ditempuh dengan cara kombinasi, yaitu menggunakan suatu daftar yang terperinci tentang tingkah laku yang diobservasi, yang dilengkapi dengan blanko untuk mencatat tingkah laku tertentu yang muncul, yang belum terekam dalam daftar.

54

Dalam melaksanakan observasi ini, observer tidak menentukan daftar aspek-aspek yang akan diobservasi. Dalam observasi, peneliti mencatat semua tingkah laku yang dianggap penting dalam suatu periode observasi.

Hasil-hasil observasi ini dicatat dalam bentuk catatan yang bersifat anekdot (anecdotal record), yaitu suatu catatan (record) tentang tingkah laku siswa dalam suatu situasi tertentu. Catatan yang bersifat anekdot tersebut harus ditulis apa adanya, tanpa interpretasi. Setelah selesai, peneliti melakukan tindakan post-observation, yaitu: rangkuman, pemetaan hasil, evaluasi-refleksi atas proses yang berlangsung. Sangat ditekankan pula post-observation dilakukan segera setelah satu hari melakukan observasi, atau segera saat waktu kosong dimungkinkan.

Ada beberapa kelemahan dalam penggunaan observasi dan anecdotal record, yaitu sebagai berikut:

a. Karena tidak terstruktur, peneliti bisa tidak fokus terhadap aspek-aspek penelitiannya. Kemungkinan lain, peneliti terlalu fokus (=asyik) sehingga terlena dan melewati aspek penting lainnya.

b. Karena tidak terstruktur, peneliti harus mengandalkan catatan atau dokumentasi, serta proses rekapitulasi data yang diperoleh di lapangan.

c. Metode observasi tak berstruktur ini kiranya membutuhkan keahlian atau pengalaman penelitian karena membutuhkan kepekaan dalam menentukan aspek penting yang perlu diamati dan diperhatikan.

4. Keuntungan dan Keterbatasan Observasi a. Kelebihan observasi

55

1. Pengamat langsung melihat atau mencatat objek (perilaku pertumbuhan, dan sebagainya) saat kejadian atau perilaku tersebut masih berlaku. Keuntungannya adalah bahwa pengamat tidak menggantungkan data-data dari ingatan seseorang.

2. Pengamat dapat memperoleh data dan subjek melalui pengamatan-langsung. Hal ini menguntungkan karena sering kali subjek tidak mau berkomunikasi secara verbal dengan peneliti karena berbagai alasan (takut, tidak punya waktu, atau enggan). Maka, kendala ini dapat diatasi dengan adanya pengamatan (observasi) langsung. b. Kelemahan Observasi

Kelemahan dari observasi, antara lain:

1. Waktu Lama. Penelitian membutuhkan waktu yang relatif lama. Lamanya waktu ini terjadi karena proses mengalami situasi objek dan proses pengamatan membutuhkan waktu yang relative panjang. Observasi tidak bisa dilakukan sehari dua hari dan kemudian dinyatakan cukup. Kemungkinan lainnya adalah kita harus menunggu moment yang akan diteliti dan observasi bisa dilakukan. Misalnya adalah penguburan suku Toraja dalam peristiwa ritual kematian, maka seorang peneliti harus menunggu adanya upacara adat tersebut.

2. Pengamat biasanya tidak dapat melakukan pengamatan terhadap suatu fenomena yang berlangsung lama. Contohnya, kita ingin mengamati fenomena perubahan suatu masyarakat tradisional menjadimasyarakat modern akan sulit atau tidak mungkin dilakukan.

56

3. Adanya kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin diamati. Misalnya adalah kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya pribadi, seperti kita ingin mengetahui perilaku anak saat orang tua sedang bertengkar. Kitatidak mungkin melakukan pengamatan langsung terhadap konflik keluarga tersebut karena kurang jelas.

d. Catatan Praktis

Beberapa hal penting diringkas dalam paparan berikut: a. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi, yaitu checklist, rating scale, anecdotal record, catatan berkala, dan

mechanical device.

1. Check list, merupakan suatu daftar yang berisikan nama-nama responden dan faktor- faktor yang akan diamati. 2. Rating scale, merupakan instrumen untuk mencatat gejala

menurut tingkatan- tingkatannya.

3. Anecdotal record, merupakan catatan yang dibuat oleh peneliti mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh responden.

4. Mechanical device, merupakan alat mekanik yang digunakan untuk memotret peristiwa- peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh responden.

b. Objek Pengamatan

Hal-hal yang biasanya menjadi pengamatan seorang peneliti yang menggunakan metode pengamatan adalah sebagai berikut.

57

1. Pelaku atau partisipan, menyangkut siapa saja yang terlibat dalam kegiatan yang diamati, apa status mereka, bagaimana hubungan mereka dengan kegiatan tersebut, bagaimana kedudukan mereka dalam masyarakat atau budaya tempat kegiatan tersebut, kegiatan menyangkut apa yang dilakukan oleh partisipan, apa yang mendorong mereka melakukannya, bagaimana bentuk kegiatan tersebut, serta akibat dari kegiatan tersebut.

2. Tujuan, menyangkut apa yang diharapkan partisipan dari kegiatan atau peristiwa yang diamati.

3. Perasaan, menyangkut ungkapan-ungkapan emosi partisipan, baik itu dalam bentuk tindakan, ucapan, ekspresi muka, atau gerak tubuh.

4. Ruang atau tempat, menyangkut lokasi dari peristiwa yang diamati serta pandangan para partisipan tentang waktu. 5. Waktu, menyangkut jangka waktu kegiatan atau peristiwa

yang diamati serta pandangan para partisipan tentang waktu.

6. Benda atau alat, menyangkut jenis, bentuk, bahan, dan kegunaan benda atau alat yang dipakai pada saat kegiatan berlangsung.

7. Peristiwa, menyangkut kejadian-kejadian lain yang terjadi bersamaan atau seiring dengan kegiatan yang diamati c. Persiapan Observasi

Langkah-langkah dalam melakukan observasi adalah sebagai berikut.

1. Harus diketahui di mana observasi itu dapat dilakukan. 2. Harus ditentukan dengan pasti siapa saja yang akan

58

3. Harus diketahui dengan jelas data-data apa saja yang diperlukan.

4. Harus diketahui bagaimana cara mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar.

5. Harus diketahui tentang cara mencatat hasil observasi, seperti telah menyediakan buku catatan, kamera, tape recorder, dan alat-alat tulis lainnya.

d. Persiapan Observasi

Untuk memperoleh hasil yang baik, seseorang yang hendak melakukan pengamatan sebaiknya memperhatikan prinsippengamatan sebagai berikut.

1. Pengamatan sebagai suatu cara pengumpulan data harus terfokus pada objek yang diteliti dan dilakukan secara cermat, jujur, dan objektif.

2. Dalam menentukan objek yang hendak diamati, seorang pengamat harus mengingat bahwa makin banyak objek yang diamati, makin sulit pengamatan dilakukan dan makin tidak teliti hasilnya.

3. Sebelum pengamatan dilaksanakan, pengamat sebaiknya menentukan cara dan prosedur pengamatan.

4. Agar pengamatan lancar, pengamat perlu memahami apa yang hendak dicatat serta bagaimana membuat catatan atas hasil pengamatan yang terkumpul.

5. Pencatatan harus dilakukan secepat atau sesegera hasil bisa dicatat.

59

DAFTAR BACAAN

Dokumen terkait