• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGENALKAN BUDAYA INDONESIA MENULIS NOVEL

Dalam dokumen MUTIARA TIGA PENJURU Antologi Puisi Beng (Halaman 140-147)

Robertus Martinus (Seno) SMA Sang Timur

Pengenalan budaya itu berasal dari sebuah novel-novel yang berkembang menjadi film. Dalam karya novel itu dituangkan bumbu-bumbu budaya dengan bertujuan agar unsur-unsur budaya dengan isi novel dapat berkalaborasi, menjadi sebuah karya yang bukan sekedar karya tulis belaka, tetapi juga mema- sukkan unsur seni di dalamnya. Dengan begitu para pembaca dapat terhipnotis. Kelebihan adanya unsur-unsur budaya dalam karya tulis, khususnya novel, ialah agar karya tulis sendiri mem- punyai nilai estetika/nilai keindahan. Nilai estitika dapat berkerja seperti sihir. Ketika suatu karya mempunyai nilai estetika, nilai tersebut akan masuk ke otak kiri kita dan memengaruhi otak kanan, sehingga terucap dan terwujud dari perilaku dan tindak- an. Orang yang terhipnotis nilai estetika itu mengungkapkan bahwa karya itu sangat indah atau bagus, sesuai dengan pe- nuangan nilai estetikanya.

Kita juga dapat mengetahui budaya luar melalui novel-novel yang penyebaranya sudah sangat mendunia, antara lain novel Harry Potter karya J.K Rowling, Titanic karya Morgan Robertson. Novel tersebut merupakan novel yang penjualannya terlaris di seluruh dunia. Melalui novel Harry Potter, budaya western khusus- nya Inggris, telah dilirik banyak negara melalui arsitektur ba- ngunan kastelnya sehingga orang berbondong-bondong berlibur ke negara tersebut.

Selanjutnya, yang tak kalah terkenalnya, yaitu Titanic. Di dunia ini siapa orang yang tak mengetahui kapal megah yang pada akhirnya menabrak bongkahan es di lautan Atlantik? Mela- lui novel tersebut, tarian riverdance yang berasal dari Irlandia, dapat diketahui semua orang di dunia. Padahal, maksud dari penulis ialah untuk memasukan nilai budaya tersebut agar isi cerita dapat menyatu dengan keadaan yang dibayangkan oleh si penulis. Novel yang merupakan salah satu tulis Morgan Ro- bertson yang paling laris ini menceritakan tentang kisah cerita seorang pemuda dari Inggris dengan seorang gadis bangsawan, yang tengah menaiki kapal termewah di tahun 1912. Selama per-

jalanan mereka ke Amerika dengan kapal tersebut, banyak kisah- kisah percintaan diantara mereka, dan pada akhirnya berakhir dengan tenggelamnya kapal Titanic di perairan Antartika. Penulis novel Titanic ini mencoba membawakan suasana kapal Titanic di dek ke-3 yang menurut novel tersebut merupakan dek orang- orang, yang notabene golongan orang-orang biasa bukan go- longan bangsawan. Menurut cerita di novel tersebut, pasangan kekasih itu, bergabung dengan orang-orang yang sedang meng- adakan pesta. Cara berdansa dan lagu yang dibawakan meru- pakan kebudayaan Irlandia.

Menurut saya bahwa mengenalkan budaya Indonesia dapat dilakukan dengan menulis novel. Di samping itu, mengapa pe- ngenalan budaya jarang dicantumkan ketika menulis cerpen, ataupun puisi, atupun karya tulis lainya? Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa pada di zaman sekarang ini, karya tulis yang masih banyak peminatnya, baik tua maupun yang muda ialah novel. Novel sekarang ini sudah menjadi hiburan tersendiri, khu- susnya anak muda. Namun, pernahkah Anda mencoba mem- baca novel sastra? Seperti ciptaan N.H. Dini yang berjudul Tirai Menurun. Novel ini menceritakan tentang perjalanan sebuah ke- luarga yang berasal dari latar belakang seorang anak wayang yang mencoba mempertahankan kesenian wayang. Novel ini memberikan cukup banyak nilai-nilai budaya Indonesia, seperti ungkapan dalam masyarakat, tarian tradisional,dan adat istiadat bangsa Indonesia. Penuangan unsur-unsur budaya sudah sangat pas dengan jalanya cerita, sehingga cerita dapat berjalan dengan unsur kebudayaan di dalamnya.

Taukah kita bahwa sebenarnya kita mempunyai banyak budaya yang beraneka-ragam dan keaneka-ragaman hayati di dalamnya. Dengan demikian, kita dapat mengombinasikan se- mua itu menjadi suatu karya novel yang tidak seperti novel- novel picisan. Tulisan itu hendaknya dapat mengambarkan bu- daya Indonesia ke mata dunia. Seperti pada penulis luar negeri mereka dapat menuangkan budaya mereka kedalam sebuah

tulisan novel, sehingga budaya mereka dapat otomatis tersebar luaskan ke seluruh penjuru dunia, tempat tulisan yang mereka buat telah dibaca oleh banyak masyarakat dunia.

Lalu, bagaimana cara kita agar tulisan yang kita buat dapat dikenal oleh seluruh dunia? Salah satu jalan keluarnya ialah publi- kasi. Publikasi merupakan suatu pembuatan konten yang berhu- bungan dengan hukum dan hak cipta. Suatu karya tidak akan dikenal banyak orang kalau dia tidak memublikasikanya, dan sebatas dia saja sebagai penciptanya. Kebanyakan karya di Indo- nesia hanya terbatas pada publikasi tingkat nasional. Jadi, sebuah karya hanya akan dikenal dalam satu wilayah teritorial Negara, padahal novel-novel Indonesia juga tak kalah menariknya de- ngan novel buatan luar negeri. Kenyataan yang ada, publikasi novel di Indonesia hanya terbatas pada satu cakupan negara. Pihak Indonesia merasa trauma dengan kasus negara tetangga kita, Malaysia. Pihak Malaysia mengklaim budaya-budaya asli Indonesia menjadi warisan luhur bangsa Indonesia. Sebelumnya, budaya-budaya yang diklaim telah dipublikasikan di negara Malaysia. Akibatnya, mereka tertarik dan mengklaim bahwa budaya yang mereka publikasikan merupakan budaya asli Ma- laysia. Kasus ini masih berlangsung sampai saat ini juga. Pihak Indonesia dan Malaysia sering berseteru memperebutkan suatu kebudayaan yang sebenarnya merupakan milik bangsa Indo- nesia.

Hal ini yang menyebabkan bangsa Indonesia berhati-hati dalam memublikasikan sebuah karya ataupun budaya agar tak diklaim oleh bangsa lain. Itulah sebabnya Indonesia dikatakan “pelit publikasi”. Hal ini menyebabkan orang Indonesia dipan- dang sebagai orang yang tak bisa menulis. Sedangkan di Indo- nesia sendiri cukup banyak orang yang berpotensi sebagai pe- nulis. Sebenarnya publikasi sudah dilindungi oleh hukum dan hak cipta. Jadi tak perlu takut bahwa karya kita akan diklaim oleh orang lain. Apabila orang yang ketahuan mengklaim suatu karya orang lain, maka dia akan mendapat sanksi hukum dan

hak cipta. Jadi kasus seperti pengklaim budaya Indonesia oleh negara Malaysia merupakan salah satu pelanggaran hak cipta.

Salah satu hal yang dapat dilakukan masyarakat Indonesia, khususnya para penulis, ialah menerjemahkan karya mereka. Hal ini dapat memudahkan masyarakat luar untuk menikmati karya yang kita buat. Melihat bahasa induk kita ialah bahasa Inggris. Setiap negara di dunia menggunakan bahasa Inggris untuk saling berkomunikasi satu-sama lainnya. Jadi, kita mau tidak mau harus mempelajari bahasa Inggris untuk keperluan komunikasi.

Menurut penulis, jiwa penulis di Negara Indonesia belum tampak sehingga masyarakat dunia menilai bahwa masyarakat Indonesia itu tak dapat menjadi penulis. Padahal, sudah banyak penulis-penulis dalam negara yang cukup terkenal. Untuk itu, kita perlu membuktikan pada masyarakat dunia siapa sebenar- nya masyarakat Indonesia. Namun, permasalahanya ialah ku- rangnya penulis yang menerjemahkan karyanya. Bahkan, tak ada penulis yang ingin karyanya dibaca oleh masyarakat dunia. Lalu, bagaimana budaya kita mau dikenal tuh, kalau novel yang kita buat hanya bisa dimengerti oleh bangsa sendiri? Karya tulis bangsa Indonesia perlu diterjemahkan agar dapat dinikmati oleh masyarakat dunia. Syukur-syukur ada karya yang bisa memikat hati masyarakt dunia, sehingga dibuatkan suatu film. Jika sudah demikian, nama Indonesia bisa dikenal sampai ujung dunia.

Faktor yang kedua ialah kurangnya perhatian dari pemerin- tah. Banyak penulis-penulis di Indonesia yang tak terdengar karyanya oleh dunia internasional. Kenyataannya, banyak poten- si-potensi yang dimiliki oleh penulis-penulis Indonesia. Kurang- nya perhatian pemerintah kepada para penulis dapat dilihat pada saat mereka ingin menerjemahkan karyanya ke bahasa Inggris. Mereka harus mengeluarkan biaya dengan uangnya sendiri. Juga perlu diketahui harga yang diterapkan untuk menerjemahkan sebuah buku sangat mahal sehingga sangat sedikit karya-karya bangsa yang masuk ke dunia internasional. Apabila kita melihat

Kanada, pemerintahnya sangat berantusias terhadap penulis- penulis yang ada di negaranya. Sampai-sampai pemerintah di Kanada mengadakan sebuah konferensi, yang bertujuan untuk menyaring penulis-penulis berpotensi. Mereka yang terpilih akan dibiayai karyanya untuk dipublikasikan di luar negeri. Hal ini seharusnya menjadi sebuah keprihatinan bagi penulis-penulis di Indonesia yang bertalenta. Seharusnya pemerintah juga ber- partisipasi dalam pengembangan novel-novel karya anak bangsa. Dengan demikian, mereka tidak kesulitan dalam masalah mener- jemahkan karya-karyanya keluar negeri.

Kesulitan yang didapat setelah menerjemahkan novel-novel yang mereka buat ialah mencari lembaga yang bertugas untuk memublikasikan di luar negeri. Indonesia belum mengadakan kerja sama dalam bidang seni dan budaya. Sekarang pun, kita masih kesulitan mencari lembaga publikasi di luar negeri. Jadi, setelah kita menerjemahkan karya kita, kita menjual karya kita ke luar negeri tanpa publikasi. Karya yang kita jual menjadi ti- dak laku karena tidak dipublikasikan. Untuk mencegah hal ini, pemerintah Indonesia perlu berhubungan dengan badan pu- blikasi di luar negeri agar karya anak bangsa ini dapat laku di luar negeri.

Penulis Indonesia juga jarang mengikuti konferensi interna- sional, yang diikuti penulis-penulis luar negeri. Sangat sedikit dari pihak penulis Indonesia yang mengikuti konferensi ini. Pada- hal, di konferensi tersebut mereka membicarakan tentang novel yang mereka buat. Konferensi tersebut merupakan jalan alterna- tif bagi para penulis Indonesia untuk mengenalkan karyanya keluar negeri. Apakah penulis Indonesia hanya akan terbatas pada konsumen dari dalam negeri? Ada banyak manfaat dari penyebar luasan publikasi novel.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa adanya ketidakpedulian pemerintah terhadap kesastraan Indonesia. Hali itu menimbul- kan suatu keterpurukan karya sastra Indonesia. Semestinya ada suatu kerjasama dari pihak pemerintah maupun dari pihak penu- lis sehingga mereka saling memberi keuntunggan, yang dapat dirasakan tidak hanya bagi kedua pihak, namun juga seluruh masyarakat Indonesian. Sumber: http://www.antaranews.com/berita/436538/australia-ri-saling- kunjung-penulis-muda http://www.aspenwriters.org/about/who-we-are.htm http://www.jenisbudayaindonesia.blogspot.com/?m

“A dog is man’s best friend.”

Anjing ialah sahabat terbaik manusia

Ungkapan tersebut benar adanya. Namun, anjing bukanlah satu-satunya binatang kesayangan manusia. Faktanya, bagi seba- gian orang kucinglah binatang kesayangan mereka.

Bagi mereka yang memelihara kucing, banyak hal menarik yang akan mereka dapatkan. Pertama tama kucing paling suka dimanja. Kucing akan menggosok gosokkan badannya ke kaki untuk sekadar menarik perhatian agar dibelai dan dimanja oleh sang empunya. Bahkan kucing merasa perlu berguling-guling dan meregangkan tubuh mereka agar kita tertarik menggelitik dan bermain bersamanya. Kucing suka bermain dengan bola dan bulu. Ekspresinya yang gemas terhadap benda-benda yang sedang dimainkannya menambah daya tarik dan rasa gemas terhadap hewan yang satu ini. Siapa yang bisa menolak aksi aksi menggemaskan ini?

Hal hal tersebut hanyalah sebagian dari daya tarik kucing. Di balik begitu menggemaskannya hawan ini masih banyak hal yang belum banyak diketahui dan disalahartikan. Mulai dari masalah kebersihan hingga manfaat memelihara kucing yang barangkali belum pernah didengar sebelumnya. Ada pula rumor mengenai kucing yang sering dipertanyakan kebenarannya.

Banyak dugaan yang ada di masyarakat berkenaan dengan kucing. Salah satu yang paling populer dan banyak diperbin- cangkan ialah memelihara kucing menyebabkan kemandulan.

KUCING BERSIH DAN DISIPLIN

Dalam dokumen MUTIARA TIGA PENJURU Antologi Puisi Beng (Halaman 140-147)