HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
4. Menggunakan Alat dan Bahan
4. Menggunakan Alat dan Bahan
Berdasarkan Tabel 4.3 peringkat pertama aspek KPS menggunakan alat dan bahan adalah siswa kelompok tinggi dengan nilai rata-rata 86,30%, peringkat kedua adalah siswa kelompok sedang dengan nilai rata-rata 73,03%, dan peringkat ketiga adalah kelompok rendah yang memiliki nilai rata-rata sebesar 63,33%.
Keterampilan menggunakan alat dan bahan dalam menggunakan neraca untuk menimbang zat ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat menimbang zat menggunakan neraca timbang elektronik, kegiatan tersebut membutuhkan keterampilan siswa dalam hal mengkalibrasi neraca, menimbang kaca arloji, menggunakan alat bantu (spatula), dan rapih dalam dalam menimbang zat. Berdasarkan analisis dan
6
Susiwi, dkk “Analisis keterampilan proses sains siswa SMA pada model pembelajaran
pengamatan melalui lembar observasi, keterampilan menggunakan alat dan bahan dalam menggunakan neraca untuk menimbang zat dapat dilakukan siswa dengan baik.
Keterampilan menggunakan alat dan bahan dalam menggunakan alat ukur yang tepat untuk mengambil larutan dengan volume tertentu ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat mengambil larutan dan memindahkan larutan, kegiatan tersebut membutuhkan keterampilan siswa dalam hal menggunakan pipet volume dan bulp, pipet tetes, dan gelas kimia. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi, keterampilan menggunakan alat dan bahan dalam menggunakan alat ukur yang tepat untuk mengambil larutan dengan volume tertentu dapat dilakukan siswa dengan baik.
Keterampilan menggunakan alat dan bahan dalam menggunakan pipet tetes untuk penambahan larutan indikator ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat menambahkan indikator pp (fenolplatein) ke dalam larutan, kegiatan tersebut membutuhkan keterampilan siswa dalam hal menggunakan pipet tetes dan ketepatan jumlah indikator pp yang ditambahkan (2 tetes). Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi, keterampilan menggunakan alat dan bahan dalam menggunakan pipet tetes untuk penambahan larutan indikator dapat dilakukan siswa dengan baik.
Berdasarkan tabel 4.1 nilai rata-rata presentase aspek KPS menggunakan alat dan bahan adalah sebesar 74,19% dengan kategori baik. Hal ini menunjukan bahwa keterampilan menggunakan alat dan bahan dapat dilakukan siswa dengan baik.
Keterampilan menggunakan alat dan bahan termasuk aspek membangun keterampilan dasar (aspek kedelapan) pada teori keterampilan proses sains Rustaman, sehingga setiap kelompok siswa diharapkan mampu mencapai keterampilan menggunakan alat dan bahan dengan baik.7 Dari hasil wawancara siswa didapatkan temuan bahwa faktor yang mempengaruhi nilai
7
yang dicapai siswa kurang maksimal adalah kurang percaya diri, dan tidak terbiasa melakukan praktikum sehingga muncul rasa grogo dan kaku seperti ketika menggunakan pipet. Dalam hal ini, beberapa siswa dalam mengambil larutan tidak menggunakan pipet tetes maupun pipet volume, tetapi langsung menuangkan ke gelas ukur dan ada juga yang langsung menuang ke dalam gelas kimia. Hal tersebut mengkhawatirkan tingkat keakuratan derajat meniskus jumlah mL larutan tidak sesuai. Kekurangan lain adalah membaca meniscus atau menentukan batas ukur suatu zat yang diukur. Siswa menggunakan meniscus atas dalam pembacaan skala pada alat ukur yang digunakan, dimana seharusnya menggunakan meniscus bawah. Tetapi setelah diberikan penjelasan oleh murid yang lain, kesulitan-kesulitan tersebut bisa teratasi dengan baik.
Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.8 Keterampilan menggunakan alat dan bahan memberikan siswa kesan tersendiri karna memberikan pengalaman berinteraksi langsung dengan alat-alat praktikum. Keberhasilan praktikum pun bisa dilihat dari cara siswa menggunakan alat dan bahan pada saat siswa melakukan praktikum. Jika siswa tidak mampu atau salah menggunakan alat atau bahan praktikum maka akan sangat mempengaruhi hasil yang akan di peroleh. Oleh karena itu perlu ada keterampilan khusus dalam menggunakan alat atau bahan praktikum khususnya alat atau bahan kimia.
5. Mengamati
Berdasarkan Tabel 4.3 peringkat pertama aspek KPS mengamati adalah siswa kelompok tinggi dengan nilai rata-rata 87,41%, peringkat kedua adalah siswa kelompok sedang dengan nilai rata-rata 74,24%, dan peringkat ketiga adalah kelompok rendah yang memiliki nilai rata-rata sebesar 62,22%
8
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), Cet. V, h. 2
Keterampilan mengamati saat menghomogenkan larutan pada labu ukur ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat mengghomogenkan larutan dengan cara menggoyangkan labu ukur, kegiatan tersebut membutuhkan keterampilan siswa dalam hal menggoyangkan labu ukur dengan benar yaitu menggoyangkan dengan satu arah putaran. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi, keterampilan mengamati saat menghomogenkan larutan pada labu ukur dapat dilakukan siswa dengan baik.
Keterampilan mengamati skala pengamatan dalam labu ukur ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat siswa mengamati skala pengamatan awal dan skala pengamatan akhir. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi, keterampilan mengamati saat menghomogenkan larutan pada labu ukur dapat dilakukan siswa dengan baik.
Keterampilan siswa dalam mengamati skala pengamatan dalam buret ditunjukan dari tabel pengamatan yang harus diisi oleh siswa pada LKS poin F. Berdasarkan jawaban tabel pengamatan dari LKS, pada umumnya siswa dalam semua kelompok dapat mengamati perubahan yang terjadi dalam buret dengan baik.
Keterampilan mengamati warna masing-masing titrat ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat siswa melakukan pengamatan dan menuliskan warna larutan titrat dengan benar.. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi, keterampilan mengamati warna masing-masing titrat dapat dilakukan siswa dengan baik.
Keterampilan mengamati perubahan warna yang terjadi pada titrat setelah ditambahkan larutan indikator ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat siswa menambahkan indikator pp ke dalam larutan dan menuliskan perubahan warna lautan tersebut. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi, keterampilan mengamati perubahan warna yang terjadi pada titrat setelah ditambahkan larutan indikator dapat dilakukan siswa dengan baik.
Keterampilan mengamati perubahan warna yang terjadi pada titrat ketika mencapai titik akhir titrasi ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat siswa mulai menambahkab titran pada buret ke dalam larutan titran dan mencatat hasilnya. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi, keterampilan mengamati perubahan warna yang terjadi pada titrat ketika mencapai titik akhir titrasi dapat dilakukan siswa dengan baik.
Berdasarkan tabel 4.1 nilai rata-rata presentase aspek KPS mengamati/mengobservasi adalah sebesar 74,62% dengan kategori baik. Hal ini menunjukan bahwa keterampilan mengamati/mengobservasi dapat dilakukan siswa dengan baik.
Keterampilan mengamati warna masing-masing larutan titrat termasuk aspek membangun keterampilan dasar (aspek pertama) pada teori keterampilan proses sains Rustaman, sehingga diharapkan setiap kelompok siswa mampu mencapai keterampilan mengamati warna masing-masing titrat dengan baik.9
Dari hasil wawancara siswa didapatkan temuan bahwa siswa mengalami kesulitan pada saat mengamati perubahan warna pada titrat ketika mencapai titik akhir titrasi, hal tersebut bisa diatasi setelah siswa diberikan penjelasan agar melakukan titrasi lebih sabar dan mengamati perubahan warna lebih cermat.
Keterampilan mengamati yang diteliti dibatasi pada indra penglihatan. Dalam hal ini siswa harus mampu mengamati warna sampel yang digunakan. Sesuai dengan pernyataan Rustaman yaitu keterampilan proses mengamati salah satunya adalah mengenal obyek termasuk warna menggunakan indra penglihatan.
6. Mengklasifikasikan
Berdasarkan Tabel 4.3 peringkat pertama aspek KPS mengklasifikasikan adalah siswa kelompok tinggi dengan nilai rata-rata 85,56%, peringkat kedua adalah siswa kelompok sedang dengan nilai rata-rata
9
75,91%, dan peringkat ketiga adalah kelompok rendah yang memiliki nilai rata-rata sebesar 60,00%
Keterampilan mengklasifiksikan dalam mencatat setiap hasil pengamatan ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat siswa memperoleh data tentang praktikum dan menulisnya di LKS. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi, keterampilan mengklasifiksikan dalam mencatat setiap hasil pengamatan dapat dilakukan siswa dengan baik.
Keterampilan mengklasifiksikan dalam membandingkan hasil pengamatan ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat siswa memperoleh data dan membandingkannya dengan data kelompok lain. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi, keterampilan mengklasifiksikan dalam membandingkan hasil pengamatan dapat dilakukan siswa dengan baik.
Berdasarkan tabel 4.2 nilai rata-rata presentase aspek KPS mengklasifiksikan adalah sebesar 73,82% dengan kategori baik. Hal ini menunjukan bahwa keterampilan mengklsifiksikan dapat dilakukan siswa dengan baik.
Dalam penelitian ini, siswa selalu mencatat hal-hal yang penting dalam setiap apa yang ia dapatkan selama kegiatan pembelajaran maupun praktikum. Kedua Sub KPS tersebut juga merupakan bagian dari LKS, dan siswa pun dituntut untuk melengkapi LKS yang telah diberikan.
Dari hasil wawancara siswa didapatkan temuan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam membandingkan data hasil pengamatan yang dilakukan dengan hasil pengamatan lain, karena sedikitnya informasi yang dimiliki siswa tentang titrasi asam basa.
Keterampilan mengklasifikasikan termasuk aspek membangun keterampilan dasar (aspek kedua) pada teori keterampilan proses sains Rustaman, sehingga setiap kelompok siswa diharapkan mampu mencapai
keterampilan mengklasifikasikan dengan baik.10 Secara keseluruhan dalam aspek mengklasifikasikan ini siswa sudah bisa menguasainya dengan baik, namun masih ada kekurangan dalam hal pengetahuan siswa tentang titrasi yang masih kurang, sehingga dalam pembelajaran dibutuhkan pemahaman yang mendalam tentang materi yang akan dilakukan praktikum.
7. Memprediksi
Berdasarkan Tabel 4.3 peringkat pertama aspek KPS memprediksi adalah siswa kelompok tinggi dengan nilai rata-rata 80,00%, peringkat kedua adalah siswa kelompok sedang dengan nilai rata-rata 78,18%, dan peringkat ketiga adalah kelompok rendah yang memiliki nilai rata-rata sebesar 60,00%
Keterampilan memprediksi volume HCl dalam larutan basa dari hasil percobaan lain ditunjukan oleh pertanyaan yang harus diisi oleh siswa pada LKS poin G nomor 5, yaitu memprediksi volume HCl dalam larutan basa dari hasil percobaan lain. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi dan jawaban pertanyaan dari LKS, pada umumnya siswa semua kelompok tinggi, sedang dan rendah dapat menjawab soal nomor 5 dengan benar sehingga bisa disimpulkan keterampilan memprediksi volume HCl dalam larutan basa dari hasil percobaan lain dapat dilakukan siswa dengan baik.
Berdasarkan Tabel 4.2 nilai rata-rata presentase aspek KPS memprediksi adalah sebesar 72,73% dengan kategori baik. Hal ini menunjukan bahwa keterampilan memprediksi dapat dilakukan siswa dengan baik.
Keterampilan memprediksi termasuk aspek membangun keterampilan dasar (aspek keempat) pada teori keterampilan proses sains Rustaman, sehingga setiap kelompok siswa diharapkan mampu mencapai keterampilan memprediksi dengan baik.11 Keterampilan meramalkan erat hubungannya dengan keterampilan mengamati. Hasil analisis mengenai keterampilan mengamati pada penjelasan sebelumnya menunjukan bahwa keterampilan ini sangat baik, sehingga hal ini berpengaruh terhadap keterampilan meramalkan
10
Rustaman, dkk., op. cit., h. 86 - 87
11
siswa yang lebih baik. Karena siswa yang memiliki keterampilan mengamati yang baik akan mudah mencari pola-pola dari suatu hasil pengamatan. Sehingga siswa dapat meramalkan suatu keadaan dari pola-pola hasil pengamatan yang telah tersedia. Hal ini sesuai dengan pernyataan Subiyatno bahwa prediksi didasarkan atas observasi yang seksama dan penarikan kesimpulan yang sahih mengenai hubungan antara peristiwa-peristiwa yang diobservasi.
8. Interpretasi
Berdasarkan Tabel 4.3 peringkat pertama aspek KPS interpretasi adalah siswa kelompok tinggi dengan nilai rata-rata 64,44%, peringkat kedua adalah siswa kelompok sedang dengan nilai rata-rata 59,09%, dan peringkat ketiga adalah kelompok rendah yang memiliki nilai rata-rata sebesar 55,00%
Keterampilan interpretasi dalam menghubungkan hasil pengamatan yang di dapatkan ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat siswa menghubungkan hasil pengamatan dengan konsep materi. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi dan jawaban pada LKS, beberapa siswa dapat menghubungkan hasil pengamatan dengan konsep materi dengan cukup baik walaupun sebagian besar murid lainnya masih banyak yang keliru menghubungkan hasil pengamatan tersebut.
Keterampilan interpretasi dalam menyimpulkan berdasarkan data percobaan yang didapatkan ditunjukan oleh kegiatan siswa pada saat melakukan praktikum, yaitu pada saat siswa menyimpulkan dengan hasil pengamatan. Berdasarkan analisis dan pengamatan melalui lembar observasi dan jawaban pada LKS, beberapa siswa dapat menyimpulkan hasil pengamatan dengan cukup baik walaupun sebagian besar murid lainnya masih banyak yang keliru menyimpulkan hasil pengamatan tersebut.
Berdasarkan Tabel 4.2 nilai rata-rata presentase aspek KPS interpretasi adalah sebesar 59,51% dengan kategori cukup. Hal ini menunjukan bahwa keterampilan menginterpretasikan tidaklah mudah. Dari hasil wawancara siswa
didapatkan temuan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam membandingkan hasil pengamatan yang di dapatkan. Hal ini dikarenakan data yang mereka dapatkan belum lengkap sehingga untuk membandingkan data dengan praktikum yang lain dan kelompok yang menjadi kesulitan. Inilah yang membuat siswa belum bisa mengembangkan secara optimal aspek KPS interpretasi. Beberapa siswa pun mengalami kesulitan dalam menyusun kata-kata untuk membuat kesimpulan.
Keterampilan interpretasi termasuk aspek membangun keterampilan dasar (aspek ketiga) pada teori keterampilan proses sains Rustaman, sehingga setiap kelompok siswa diharapkan mampu mencapai keterampilan interpretasi dengan baik.12 Mewujudkan siswa untuk memiliki keterampilan interpretasi memang tidaklah mudah, namun yang terpenting adalah guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapatnya dalam menghubungkan hasil pengamatan.