• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Analisis Data

4.2.4 Menghilangkan Muka

Pemahaman Culpeper (2008: 3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah,

„Impoliteness, as I would define it, involves communicative behavior intending to

cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.‟ Culpeper

memberikan penekanan pada fakta „face loss‟ atau „kehilangan muka‟ dalam bahasa Jawa dapat diartikan „kelangan rai‟ (kehilangan muka). Konsep kehilangan muka ini dapat diartikan pula dengan adanya rasa malu yang mendalam yang dirasakan bagi

mitra tutur di depan orang banyak. Dengan demikian, sebuah tuturan akan dianggap

sebagai tuturan yang tidak santun jika tuturan itu menjadikan muka seseorang hilang

atau merasakan malu yang mendalam di depan orang banyak. Setidaknya tuturan

yang menghilangkan muka itu dirasakan oleh sang mitra tutur sendiri.

Cuplikan Tuturan 50

Penutur: mahasiswa perempuan, umur 19 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 19 tahun

M1: “Duh.. susah banget ni buka sepatu.”

M2: “Iih kakimu cantik yaa kayak cewek.” (D4)

M1: “Ahh iya kakiku emang gini kok.”

(konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sebelum masuk ke dalam laboratorium bahasa, para mahasiswa melepaskan sepatunya di depan laboratorium bahasa.

Suasana agak gaduh. Mitra tutur membuka sepatunya. Penutur mengomentari kaki mitra tutur dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang lain sehingga menimbulkan tawa)

Cuplikan Tuturan 51

Penutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 22 tahun

M1: “Hai, lagi ngomongin apa e?”

M2: “Mel, sekarang kamu pose, trus kamu keluar.” (D5)

(konteks tuturan: tuturan terjadi ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya di dalam kelas. Mitra tutur menghampiri beberapa mahasiswa. Suasana gaduh tetapi santai. Mitra tutur berdiri di depan penutur dan penutur berkomentar padanya)

Cuplikan Tuturan 52

Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 19 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 19 tahun

M1: “Eh iya kan kemaren sore aku belanja baju murah-murah lho!”

M2: “Mosok sii? belanja dimana e kamu?”

M1: “Itu lhoo deketnya KFC namae De Pujja tu lagi diskon”

M3: “Ztt berisik kamu!” (D6)

(konteks tuturan: tuturan terjadi ketika perkuliahan Sintaksis, ada mahasiswa yang duduk di belakang berbincang dengan mahasiswa yang duduk di depan dengan suara keras. Penutur merasa terganggu dengan mitra tutur yang terus berbicara padahal perkuliahan sedang berangsung dan dosen sedang menjelaskan materi. Penutur memperingatkan mitra tutur)

Cuplikan Tuturan 57

Penutur: mahasiswa perempuan, umur 19 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 19 tahun

M2: “Hoo, warnane nubruk-nubruk.”

M1: “Aneh tau diliat tuu”

M3: “Sirik banget si jadi orang, suka-suka akulah.. emang situ OK?” (D11)

(konteks tuturan: tuturan terjadi ketika ada beberapa mahasiswa berkumpul di hall student tengah. Suasana di sekitar hall ramai dan santai. Penutur dan mitra tutur teman sekelas. Penutur menghampiri mitra tutur yang sedang duduk berkumpul dengan teman lain. Mitra tutur mengomentari dan menyindir penampilan penutur berkali-kali dengan suara keras di depan banyak orang)

Cuplikan Tuturan 59

Penutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun

M1: “Jika dilihat dari judul, judul kurang spesifik sehingga membuat pembaca tidak begitu jelas. Untuk pemakalah dapat merevisi judul makalahnya.”

M2: “Terima kasih atas masukannya, sebenarnya judul saya ini sudah direvisi oleh ibu Yuli. Jadi saya tidak mengubahnya lagi.” (D13)

(konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang presentasi makalah dalam kelas, ada sesi tanggapan dari pembahas utama untuk pemakalah. Suasana kelas serius dan tenang. Penutur sebagai pemakalah dan mitra tutur sebagai pembahas utama. Penutur menanggapi mitra tutur mengenai komentar judul makalahnya)

4.2.4.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik tuturan di atas berupa hasil transkrip tuturan

lisan tidak santun antarmahasiswa yang menghilangkan muka. Berikut

masing-masing wujud ketidaksantunan linguistik tuturan yang berupa menghilangkan muka

tersebut.

b. Tuturan (D5): “Mel, sekarang kamu pose, trus kamu keluar.”

c. Tuturan (D6): “Ztt berisik kamu!”

d. Tuturan (D11): “Sirik banget si jadi orang, suka-suka akulah.. emang situ

OK?”

e. Tuturan (D13): “Terima kasih atas masukannya, sebenarnya judul saya ini sudah direvisi oleh ibu Yuli. Jadi saya tidak mengubahnya lagi.”

4.2.4.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan yang menghilangkan muka dapat

dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Berikut uraian konteks

sebagai wujud ketidaksantunan pragmatik masing-masing tuturan yang

menghilangkan muka.

Konteks tuturan (D4): tuturan terjadi ketika sebelum masuk ke dalam laboratorium bahasa, para mahasiswa melepaskan sepatunya di depan laboratorium

bahasa. Suasana agak gaduh. Mitra tutur membuka sepatunya. Penutur mengomentari

kaki mitra tutur dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang lain sehingga

menimbulkan tawa

Konteks tuturan (D5): tuturan terjadi ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya di dalam kelas. Mitra tutur menghampiri beberapa

mahasiswa. Suasana gaduh tetapi santai. Mitra tutur berdiri di depan penutur dan

Konteks tuturan (D6): tuturan terjadi ketika perkuliahan Sintaksis, ada mahasiswa yang duduk di belakang berbincang dengan mahasiswa yang duduk di

depan dengan suara keras. Penutur merasa terganggu dengan mitra tutur yang terus

berbicara padahal perkuliahan sedang berangsung dan dosen sedang menjelaskan

materi. Penutur memperingatkan mitra tutur.

Konteks tuturan (D11): tuturan terjadi ketika ada beberapa mahasiswa berkumpul di hall student tengah. Suasana di sekitar hall ramai dan santai. Penutur

dan mitra tutur teman sekelas. Penutur menghampiri mitra tutur yang sedang duduk

berkumpul dengan teman lain. Mitra tutur mengomentari dan menyindir penampilan

penutur berkali-kali dengan suara keras di depan banyak orang.

Konteks tuturan (D13): tuturan terjadi ketika sedang presentasi makalah dalam kelas, ada sesi tanggapan dari pembahas utama untuk pemakalah. Suasana

kelas serius dan tenang. Penutur sebagai pemakalah dan mitra tutur sebagai pembahas

utama. Penutur menanggapi mitra tutur mengenai komentar judul makalahnya.

4.2.4.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang menghilangkan muka dapat

dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Berikut uraian masing-masing

penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang menghilangkan muka.

a. Tuturan (D4) dikatakan dengan nada sedang. tekanan sedang, intonasi berita,

sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata tidak baku

b. Tuturan (D5) dikatakan dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi

perintah, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata

tidak baku dan kata populer.

c. Tuturan (D6) dikatakan dengan nada tinggi, tekanan keras, intonasi berita,

sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis.

d. Tuturan (D11) dikatakan dengan nada tinggi, tekanan sedang, intonasi Tanya,

sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis dan kata

tidak baku.

e. Tuturan (D13) dikatakan dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi berita,

sedangkan pilihan kata menggunakan kata ilmiah.

4.2.4.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Penanda ketidaksantunan pragmatik tuturan yang menghilangkan muka dapat

dilihat pula berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Adapun uraian konteks

meliputi penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tujuan tutur, tindak verbal, serta

tindak perlokusi. Berikut uraian konteks masing-masing tuturan yang menghilangkan

muka.

Konteks tuturan (D4) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012 pukul 13.05 WIB ketika sebelum masuk ke dalam laboratorium Bahasa, para

mahasiswa melepaskan sepatunya di depan laboratorium Bahasa. Suasana agak

gaduh. Penutur perempuan dan mitra tutur laki-laki merupakan mahasiswa angkatan

mengomentari kaki mitra tutur dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang

lain sehingga menimbulkan tawa. Tanggapan penutur dengan sindiran menunjukkan

tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan (D4) yaitu penutur berharap

mitra tutur merasa diperhatikan oleh penutur dan merespon penutur.

Konteks tuturan (D5) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012 pukul 14.55 WIB ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya di dalam

kelas. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan

mereka teman sekelas. Mitra tutur menghampiri beberapa mahasiswa yang sedang

berkumpul bersama penutur. Suasana gaduh tetapi santai. Mitra tutur berdiri di depan

penutur dan penutur berkomentar padanya. Penutur menyuruh mitra tutur untuk

berpose kemudian ke luar kelas di depan banyak teman sehingga menimbulkan gelak

tawa. Suruhan penutur dengan sindiran menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak

perlokusi untuk tuturan (D5) yaitu penutur berharap mitra tutur mengikuti omongan

penutur.

Konteks tuturan (D6) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012 pukul 11.35 WIB perkuliahan Sintaksis, ada mahasiswa yang duduk di belakang

berbincang dengan mahasiswa yang duduk di depan dengan suara keras. Penutur

laki-laki dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2011 dan mereka

teman sekelas. Penutur merasa terganggu dengan mitra tutur yang terus berbicara

padahal perkuliahan sedang berlangsung dan dosen sedang menjelaskan materi.

(D6) menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut

yaitu penutur berharap agar mitra tutur diam dan tidak menganggu penutur.

Konteks tuturan (D11) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 5 Desember 2012 pukul 10.00 WIB ketika ada beberapa mahasiswa berkumpul di hall student tengah.

Suasana di sekitar hall ramai dan santai. Penutur dan mitra tutur perempuan

merupakan mahasiswa angkatan 2011 dan mereka teman sekelas. Penutur

menghampiri mitra tutur yang sedang duduk berkumpul dengan teman lain. Mitra

tutur mengomentari dan menyindir penampilan penutur dengan suara keras di depan

banyak orang. Penutur menanggapi sinis mitra tutur seperti pada tuturan (D11) yang

menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu

penutur berharap mitra tutur berhenti mengomentari penutur.

Konteks tuturan (D13) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 29 November 2012 pukul 15.30 WIB ketika sedang presentasi makalah dalam kelas, ada sesi tanggapan

dari pembahas utama untuk pemakalah. Suasana kelas serius dan tenang. Penutur dan

mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009, dan mereka teman

sekelas dan sekelompok. Penutur sebagai pemakalah dan mitra tutur sebagai

pembahas utama. Penutur menanggapi mitra tutur mengenai komentar judul

makalahnya. Penutur menanggapi sinis mitra tutur seperti pada tuturan (D13) yang

menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur

4.2.4.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Menghilangkan Muka

Secara umum, makna ketidaksantunan berbahasa yang menghilangkan muka

yaitu penutur mempermalukan mitra tutur di depan orang banyak. Berikut uraian

makna masing-masing tuturan yang menghilangkan muka.

a. Tuturan (D4) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya yang

memiliki kaki seperti perempuan.

b. Tuturan (D5) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya untuk

berpose seperti model.

c. Tuturan (D6) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya yang

sudah berisik.

d. Tuturan (D11) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya dengan

ejekan.

e. Tuturan (D13) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya yang

telah memberikan komentar terhadap hasil presentasinya.

Dokumen terkait