• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengumpulkan Data

Dalam dokumen BAB III PELAKSANAAN KERJA MAGANG (Halaman 47-56)

Selama masa program magang di The Conversation Indonesia, penulis juga membuat artikel reporting yang mengangkat isu/peristiwa aktual dan tergolong hard news, seperti pemberitaan tentang Independensi Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MK). Peristiwa ini ramai diperbincangkan setelah disahkannya RUU tentang Perubahan Ketiga Atas UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi pada bulan Agustus lalu (Ramadhan, 2020), yang dalam penyusunannya dianggap terburu-buru dan tertutup (Lesmana, 2020). Selain itu pula, enam dari sembilan hakim konstitusi juga mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera oleh Presiden Joko Widodo pada bulan November lalu (Meiliana, 2020).

Hal ini, diduga oleh beberapa pihak lembaga non-pemerintah

sebagai bentuk pelemahan integritas Mahkamah Konstitusi (CNN Indonesia, 2020), terutama dalam menguji undang-undang kontroversial seperti UU Cipta Kerja, UU Minerba, UU KPK, dll.

Atas fenomena tersebut, penulis pun mengusulkan ide ini pada rapat editorial. Setelah dipertimbangkan, kepala editor menyetujui konten tersebut dan mengarahkan koordinasi kerja di bawah arahan Andre Arditya selaku editor kanal politik dan masyarakat untuk segera diproses yang pada bagian ini, akan penulis jabarkan bagaimana proses wawancara yang dilakukan.

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Wendratama (2017, p. 104) mengusulkan dua bentuk pengumpulan data, yakni wawancara dan observasi. Lebih jelas, terkait dengan wawancara, terdapat beberapa aspek yang menjadi saran bagi seorang jurnalis:

a) Siapkan pertanyaan Anda dalam daftar yang sudah urut. Awali wawancara dengan pertanyaan yang mudah lebih dahulu-tetapi jangan pertanyaan yang klise, dan letakkan pertanyaan yang mungkin membuat sumber Anda tidak nyaman di bagian belakang.

b) Meskipun merekam wawancara, sebaiknya Anda juga membuat catatan tertulis. Pertama, jika sudah menuliskan hal-hal penting, Anda bisa lebih fokus saat mendengarkan rekaman. Tuliskan kata-kata kunci atau kutipan yang menarik. Kedua, bisa jadi rekamannya rusak, dan Anda tidak punya cadangan.

c) Ajukan pertanyaan satu demi satu, kecuali dalam jumpa pers, Anda bisa langsung mengajukan dua hingga tiga pertanyaan sekaligus. Bila harus menjelaskan konteks sebelum bertanya, sampaikan sepadat mungkin.

d) Usahakan ajukan pertanyaan terbuka, jangan pertanyaan yang bisa dijawab dengan "Ya" atau

"Tidak", Awali pertanyaan dengan "Bagaimana",

"Mengapa", "Apa", "Kapan", atau "Di mana".

Pertanyaan terbuka akan mendorong jawaban panjang yang bisa menghasilkan banyak informasi.

e) Akan tetapi, pertanyaan tertutup juga memiliki kekuatannya sendiri. Ini bisa menegaskan suatu hal penting, seperti, "Apakah Anda setuju dengan kebijakan renovasi tersebut?" Dalam kondisi ideal, Anda bisa mengawali wawancara dengan pertanyaan terbuka supaya sumber Anda rileks, yang kemudian bisa dipertajam dengan pertanyaan-pertanyaan tertutup.

f) Saat mewawancara, jangan kaku dengan daftar Anda. Dengarkan sumber Anda berbicara dan menyusun argumentasi. Kembangkan pertanyaan dari jawaban itu. Tanyakan lagi jika jawabannya belum jelas.

g) Jika sumber Anda berbicara terlalu cepat, jangan takut untuk meminta mengulang atau menegaskannya bila Anda ragu. Terutama jika menyangkut hal penting yang bisa menjadi kutipan yang kuat.

Namun, dikarenakan sifat artikel bukan meliput sebuah peristiwa langsung, maka penulis mendefinisikan observasi sebagai studi pustaka dan sudah dilakukan dengan penjelasan sebelumnya.

Terkait dengan wawancara, penulis menjelaskan pelaksanaannya dalam beberapa tahapan serta merelevansikan dengan literatur di atas sebagai berikut.

a) Penulis melakukan riset mandiri lalu berkonsultasi kepada Andre sebagai editor terkait dengan ide penulisan yang akan dibuat pada 23-24 November 2020. Dari komunikasi yang dilakukan, penulis menyampaikan pertanyaan besar terkait dengan independensi MK usai pengesahan RUU dan mendapat bintang mahaputera. Setelahnya, diminta oleh Andre mencari narasumber yang relevan dengan topik usulan. Editor juga mengarahkan kepada penulis untuk mencari narasumber yang pernah menjadi penulis topik terkait produk hukum di The Conversation Indonesia. Karena isu ini berkaitan dengan lembaga hukum dan perundang-undangan, maka penulis mencari narasumber yang berfokus pada bidang tersebut. Berikutnya, editor menyarankan jumlah narasumber yang direncanakan 2-3 orang. Berikut pernyataan Andre:

“hi, wil. jadi pertanyaan utama lo, sejauh mana revisis [revisi] UU MK dan pemberian gelar pada hakim mempengaruhi independensi MK pada uji uu kontroversial?

Oke. lo udah ada bayangan mo interview siapa aja? lo search [cari] di TC aja, siapa kira-kira yang udah nulis soal itu or [atau] terkait perundang-undangan. cari 2 or [atau] 3 lah”

Hal ini hampir sejalan dengan apa yang disampaikan Wendratama (2017) agar dalam melakukan peliputan, usahakan bisa mendapat tiga sampai lima narasumber untuk bisa memperkuat atau menjadi

cadangan jawaban bilamana salah satu jawaban narasumber kurang mengandung nilai berita (p. 103).

b) Menurut studi, pemilihan narasumber harus dilakukan dengan cermat. Semakin dekat narasumber pada fokus pembahasan/cerita, maka jawaban serta analisis yang didapat akan semakin baik (Wendratama, 2017, p. 104).

Pada implementasinya, penulis mengusulkan 3 narasumber yang telah penulis kaji punya pengalaman menulis artikel dengan topik yang disepakati di The Conversation Indonesia. Ketiga narasumber tersebut adalah

(1) Mulki Shader (peneliti dari pusat studi hukum dan kebijakan (PSHK), mempunyai pengalaman menulis mahkamah konstitusi yang didorong untuk menolak judicial review Partai Perindo (Shader, 2018)).

(2) Josua Satria Collins (peneliti dari Indonesia Judicial Research Society, dalam beberapa waktu membahas topik undang-undang (Collins & Tarigan, 2020)).

(3) Eka Nugraha Putra (dosen hukum Universitas Merdeka Malang, mempunyai pengalaman menulis terkait UU, termasuk cipta kerja yang dirasa kontroversial (Putra & Prasetyo, 2020).

c) Setelah diajukan, editor menyarankan beberapa nama narasumber pengganti. Sebab, terdapat narasumber yang dipilih oleh penulis sudah lama

tidak aktif dan menyarankan orang lain dari lembaga yang sama. Selain itu, editor juga secara tidak langsung menyarankan narasumber lain yang lebih menguasai topik dari penulis, misalnya Rizaldi yang fokus pada pengawasan hakim. Editor juga merasa, perlu untuk mengajak narasumber perempuan, dengan alasan narasumber penulis semua adalah laki-laki. Berdasarkan interpretasi penulis, ini dimaksud untuk menjunjung kesetaraan gender.

Narasumber usulan tersebut adalah (1) Antoni Putra, dari PSHK

(2) Maria Isabel Tarigan, peneliti dari Indonesia Judicial Research Society

(3) Siska Tricia, peneliti dari Indonesia Judicial Research Society

(4) Muhammad Rizaldi, peneliti dari Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

d) Berikutnya setelah diberikan kontak oleh editor, penulis menghubungi masing-masing narasumber dan mengajukan wawancara atas topik besar yang telah ditetapkan. Dari empat narasumber, terdapat dua peneliti yang tidak bersedia dikarenakan kurang mengikuti perkembangan isu ini. Kedua peneliti tersebut adalah Antoni Putra (PSHK) dan Siska Tricia (IJRS). Masing-masing peneliti mengajukan nama peneliti yang sama yakni Agil Oktaryal dari PSHK yang dianggap mampu dan mengikuti topik MK. Oleh karenanya, penulis langsung menghubungi Andre dan disetujui.

e) Ketiga narasumber kemudian setuju dan penulis segera menyusun pertanyaan yang akan diajukan.

Awalnya, penulis mengusulkan 10 pertanyaan, tetapi dikurangi oleh editor menjadi empat pertayaan dengan alasan supaya tidak memperpanjang artikel.

Secara keseluruhan, ke-10 pertanyaan penulis kumpulkan dari informasi media yang telah didapat pada paparan sebelumnya. Berikut adalah pertanyaan yang penulis ajukan sebelumnya.

(1) Pada 3 September 2020, DPR sudah mengesahkan perubahan atas UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Secara substantif, ada satu perubahan yang signifikan yakni masa jabatan hakim menjadi 15 tahun.

Apa yang menjadi suatu urgensi sehingga masa jabatan tersebut harus dirubah? Bagaimana dampak kedepannya? Adakah negara yang menerapkan sistem yang sama pada masa jabatan hakim?

(2) Selain dari masa jabatan yang bertambah, apakah ada hal lain yang menjadi perubahan dalam UU MK ini yang harus dicermati dan berdampak krusial bagi sistem hukum di Indonesia?

(3) Bagaimana dengan pendapat dari masyarakat yang ingin melakukan uji materi terhadap UU ini, akankah secara objektif ini berpotensi berhasil dirubah kembali? atau sebaliknya?

(4) Revisi ini disampaikan berjalan dalam waktu singkat, apakah dalam seluruh prosesnya

pengubahan/revisi suatu UU seperti ini dan normal?

(5) Dalam waktu yang berdekatan, Pemerintah sudah memberikan 'keleluasaan' kepada MK dengan UU MK, dan juga memberikan penghargaan (Bintang Mahaputra) kepada beberapa Hakim. Bagaimana pemaknaan yang harus dilakukan oleh publik?

(6) Apakah dengan hal tersebut bersama dengan terbitnya UU MK mendorong Independensi dari hakim?

(7) Apakah pernah terjadi fenomena MK yang tetap mendukung UU Kontroversial di Indonesia?

(8) Lantas dengan dengan diperpanjangnya masa jabatan MK, apakah kedepannya opsi jabatan seumur hidup bisa diterapkan di Indonesia dan menjadi opsi yang baik untuk mendukung independensi MK?

(9) Perlukah suatu dewan etik yang bisa mengawasi kinerja MK?

(10) Perlukah suatu langkah hukum yang bisa mendorong netralitas MK?

f) Setelah diamati oleh editor, terdapat empat pertanyaan yang dipilih dan digabungkan. Bila dianalisa lebih lanjut, keempat pertanyaan sendiri bersifat variatif (terbuka dan tertutup) lewat penggunaan diksi “Bagaimana” dan “Apakah”. Hal ini penulis sedari awal lakukan untuk menyesuaikan dengan jenis pertanyaan yang sudah ditargetkan

jawabannya. Pertanyaan pun diajukan secara langsung dalam bentuk teks, agar bisa memberi fleksibilitas waktu pada peneliti dan juga dapat memiliki bukti jawaban. Berikut penulis lampirkan daftar pertanyaan untuk narasumber.

(1) Pada 3 September 2020, DPR mengesahkan perubahan atas UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Ada satu perubahan yang signifikan yakni masa jabatan hakim menjadi 15 tahun. Perubahan tersebut banyak dikritik tidak urgent, mengapa demikian? Bagaimana dampak kedepannya? Bagaimana praktik di negara lain?

(2) Selain masa jabatan yang bertambah, apakah perubahan dalam UU MK lain yang harus dicermati dan berdampak krusial bagi sistem hukum di Indonesia?

(3) Dalam waktu yang berdekatan, pemerintah juga memberikan penghargaan (Bintang Mahaputra) kepada beberapa hakim. Apakah ini dapat berpengaruh pada independensi hakim? Terutama dalam menguji UU kontroversial seperti UU Cipta Kerja dan revisi UU KPK?

(4) Apakah kedepannya opsi jabatan seumur hidup bisa diterapkan di Indonesia dan menjadi opsi yang baik untuk mendukung independensi MK?

(5) Perlukah suatu dewan etik yang bisa mengawasi kinerja MK? Perlukah suatu

langkah hukum yang bisa mendorong netralitas MK?

g) Setelah narasumber memberi jawaban, penulis berusaha memahami sekaligus mengkritisi (bila diperlukan) untuk menajamkan beberapa jawaban yang dirasa masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Sehingga, penulis dapat melihat sudut pandang dan argumen dari masing-masing peneliti. Sebagai contoh dan rangkuman analisis, berikut ini penulis lampirkan salah satu wawancara dengan narasumber yakni Agil Oktaryal.

Dalam dokumen BAB III PELAKSANAAN KERJA MAGANG (Halaman 47-56)

Dokumen terkait