• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PELAKSANAAN KERJA MAGANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III PELAKSANAAN KERJA MAGANG"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PELAKSANAAN KERJA MAGANG

3.1 Kedudukan dan Koordinasi

Dalam proses magang di The Conversation Indonesia selama 67 hari kerja, penulis bergabung dalam divisi editorial yang terdiri atas lima editor, mewakili berbagai kanal seperti politik+masyarakat, sains+kesehatan, lingkungan hidup, dan bisnis+ekonomi, serta associate editor yang mencakup kanal pendidikan. Divisi ini dipimpin langsung oleh Ika Krismantari selaku kepala editor yang juga berperan sebagai pembimbing, pengawas, dan pihak utama koordinasi penulis sebagai peserta magang.

Dalam prosesnya, kedudukan penulis sebagai bagian dari editorial ialah bertanggung jawab untuk memproduksi, menyunting, dan berkolaborasi bersama dengan peneliti, serta menerjemahkan artikel yang telah dipublikasikan dari The Conversation negara cabang. Terkait koordinasi, dikarenakan masa magang yang dijalani masih dalam periode pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, maka seluruh komunikasi dilakukan secara daring dari rumah masing-masing dengan sistem pengawasan tidak berkala melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp. Hal tersebut dimaksudkan, penulis tidak wajib untuk memberi kabar/informasi setiap hari dengan waktu yang terjadwalkan (bila perlu/fleksibel). Oleh sebab itu, seluruh koordinasi dilakukan dalam rapat editorial berkala hari Senin pukul 11.00 WIB (visual terlihat di gambar 3.1). Semua editor, termasuk peserta magang berkumpul, membahas, dan merencanakan, serta melaporkan perkembangan isu/artikel selama satu pekan kedepan.

Dengan demikian, rapat editorial Senin yang dilakukan memegang peranan

penting dalam pelaksanaan kerja The Conversation Indonesia, yang bila

direlevansikan dengan fungsi rapat ediorial menurut Morrisan (dikutip dari

Rahmawati & Lestari, 2020, p. 2) memiliki empat fungsi dasar; perencanaan

(2)

(mempersiapkan strategi), pengorganisasian (penyusunan/pembagian tugas), pengarahan, dan memberikan pengaruh (koordinasi), serta pengawasan.

Gambar 3.1 Pelaksanaan rapat editorial The Conversation Indonesia

Sumber: Dokumentasi penulis.

Bila dijelaskan secara rinci, fungsi perencanaan diatur melalui komunikasi menyeluruh dalam rapat editorial di hari senin pada setiap pekan yang memiliki tiga agenda besar yaitu analisa khalayak pelaporan masing-masing editor, dan perencanaan editorial selama sepekan ke depan (termasuk konten multimedia).

Rapat ini wajib diikuti oleh seluruh editor termasuk peserta magang. Penulis

sebagai anggota magang diajak terlibat dalam rapat, dengan alasan dianggap

sebagai bagian dari editorial yang tidak hanya sekedar menganalisis dan

(3)

mengetahui, tetapi juga boleh menyampaikan pendapat berupa ide/gagasan tulisan atau menajamkan ide sesama editor.

Mulanya, rapat ini dibuka dengan pembahasan terkait khalayak yang membahas kondisi pembaca saat ini: artikel yang paling banyak dibaca pada media sosial The Conversation Indonesia seperti twitter, facebook, instagram, dan youtube, serta linkedin; total pencapaian yang berhasil didapatkan pada newsletter;

dan isu/topik yang sedang menjadi pembicaraan khalayak, secara khusus pembaca media ini. Pada agenda ini, manajemen pengembangan khalayak juga akan menjelaskan bagaimana jumlah pembaca ini didapatkan. Umumnya, suatu artikel dapat mendapat jumlah pembaca banyak karena publikasi ulang oleh media lain seperti Kompas.com (Sutarsa et al., 2020), Liputan6.com (Krismantari et al., 2020), dan flipboard (Krismantari & Reynold, 2020).

Selanjutnya, fungsi pengorganisasian dan perencanaan yang diimplementasikan lewat pelaporan ide tulisan dari peneliti selama sepekan ke depan dan usulan konten yang akan diproduksi untuk pekan ini oleh editor. Pada tahap ini, editor tiap-tiap kanal saling menambahkan ide/gagasan untuk kanal yang lain dan diputuskan oleh kepala editor. Penulis pun dalam proses ini ikut ambil bagian dengan mengusulkan suatu topik/ide yang berkaitan pada kanal yang sedang dibahas. Bila dirasa tepat, maka ide tersebut disepakati sekaligus ditugaskan kepada penulis/sesama peserta magang lainnya bersama editor kanal yang bertanggung jawab. Pada tahap ini, fungsi pengawasan pun terjadi: kepala editor memegang peranan penting untuk melakukan penetapan dengan mempertimbangankan pertanyaan besar begitu pula dengan ahli/peneliti yang potensial untuk diajak kolaborasi ditetapkan. Terakhir, rapat akan membahas produk multimedia ataupun acara seperti webinar untuk membahas lebih lanjut suatu topik yang potensial pun menarik pembaca.

Dalam praktiknya, selama masa magang, penulis lebih sering berkoordinasi

dengan Andre Arditya (editor politik+masyarakat) dan Luthfi T. Dzulfikar

(Associate editor mencakup pendidikan) bila membuat artikel seperti reporting

webinar penelitian inklusi disabilitas (Dzulfikar & Reynold, 2020), profil dari

(4)

ilmuwan Profesor Adi Utarini (Krismantari et al., 2020), dan commissions fenomena linguistik diksi ‘anjay’ bersama dengan ahli linguistik (Kuntarto, 2020).

Setelah tahap penugasan rapat besar, koordinasi dilanjutkan penulis dengan menghubungi editor terkait untuk membahas tugas liputan; rumusan pertanyaan besar, penentuan riset yang bisa dipakai, membuat dan mengusulkan kerangka tulisan, serta konsultasi narasumber potensial guna dihubungi sebagai bahan liputan. Akan tetapi, bila artikel tersebut bersifat commissions, maka terdapat tahapan yang berbeda dalam proses produksi, yakni penulis harus mengadakan kolaborasi dan koordinasi dengan peneliti. Sehingga, dalam hal ini, peneliti hadir sebagai pihak ketiga dan turut ambil bagian dalam penulisan. Ini membuat praktik kerja justru menjadi berbeda dan menggeser metode koordinasi media pada umumnya (Witsen & Takahashi, 2018 p. 2).

Aktivitas ini sejalan dengan pengertian dan konsep dari jurnalisme sains yang menegaskan adanya hubungan dengan pihak ilmuwan sebagai sumber pengetahuan/informasi kepada jurnalis (Hartley, 2015, p. 2) sebagai ‘jembatan’

(Gesualdo et al., 2019) untuk menerjemahkan hasil penelitian/disiplin ilmu yang dimiliki oleh peneliti kepada para pembaca dengan menggunakan bahasa populer (Amend et al., 2014, p. 791; Secko et al., 2013, p. 67).

Pada alurnya, penulis melakukan riset lanjutan yang membantu para akademisi untuk menemukan contoh/informasi yang bisa dipakai dalam penulisan.

Lalu, penulis menghubungi peneliti (sesuai dengan arahan editor) dan menawarkan

kolaborasi. Bila disepakati, penulis bersama dengan peneliti berkoordinasi

menentukan kerangka penulisan, membahas penelitian yang pernah/sedang

dilakukan, serta meminta peneliti membuat draft penulisan. Sedangkan dalam tugas

lain seperti terjemahan, penulis ditugaskan oleh editor dan dihubungi melalui

WhatsApp atau rapat pada hari senin untuk mengalihkan bahasa dari artikel sumber

yang telah dipilih editor.

(5)

3.2 Tugas yang Dilakukan

Penulis melaksanakan tugas sebagai editor sains (research-based) yang pada setiap prosesnya, berkolaborasi dengan ilmuwan (baik secara langsung- maupun tidak langsung) dalam memberikan informasinya kepada publik.

Dampaknya, hal tersebut menurut studi (Guenther et al., 2019) membentuk suatu pola kerja tersendiri yang berbeda dengan media arus utama. Sebab, seluruh konten yang diproduksi oleh jurnalisme sains termasuk The Conversation Indonesia terus mengandalkan ilmuwan sebagai sumber data maupun keterlibatannya dalam menulis (Hartley, 2015, p. 2).

Secara umum, penulis berkontribusi dalam divisi editorial untuk membuat berita dengan format artikel. Peristiwa/informasi yang dipublikasikan pun bergantung pada proses filtrasi dan koordinasi utama rapat awal pekan. Sejalan dengan studi Guenther et al. (2019) akibatnya tidak semua pemberitaan dapat diberitakan. Sebab, proses yang dibutuhkan tidak hanya dalam lingkup editorial saja, tetapi juga akademisi. Selain itu, tidak semua peristiwa/penelitian dapat sesuai dengan disiplin ilmu peneliti.

Dari peran sebagai editor, penulis memiliki empat tugas besar selama periode magang berlangsung; commissions (artikel kolaborasi), reporting (pelaporan), editing (menyunting), dan translating (alih bahasa) yang dijelaskan sebagai berikut.

3.2.1 Commissions

Secara spesifik, commissions atau artikel kolaborasi merupakan jenis penulisan yang dilakukan bersama peneliti. Jenis artikel ini berusaha menjabarkan dan menelisik secara mendalam suatu peristiwa/informasi yang memerlukan analisis dari perspektif ilmiah atau menjelaskan penemuan yang telah dihasilkan oleh akademisi. Sifat dari peristiwa tersebut dapat aktual maupun timeless (dapat dibaca untuk jangka panjang).

Tidak semua peneliti dapat berpartisipasi menjadi penulis. The

Conversation Indonesia menetapkan syarat khusus bagi pihak peneliti guna

bisa berkontribusi dalam penulisan yakni dosen, peneliti di lembaga riset

(afiliasi dengan universitas asal/luar), mahasiswa doktoral (Putra, 2019).

(6)

Bila salah satu syarat terpenuhi, maka dapat bergabung. Sebaliknya, bila tidak memenuhi ketiga syarat, maka harus berkolaborasi dengan peneliti yang sudah terdaftar.

Pada implementasinya, proses pembuatan penulisan ini diawali dengan penajaman pertanyaan umum dan kerangka tulisan atas topik/ide yang telah disepakati dalam rapat editorial. Setelahnya, penulis bersama dengan editor terkait melakukan riset untuk mengetahui gambaran secara umum serta membentuk kerangka tulisan. Lalu, penulis mengajukan ajakan kolaborasi kepada peneliti yang memiliki disiplin ilmu terkait sekaligus mengajukan kerangka tulisan/angle yang telah ditetapkan.

Apabila peneliti telah setuju, maka akan bergabung sebagai penulis dan bersama dengan pihak editorial berkoordinasi menyusun artikel secara bersamaan. Dalam hal ini, akademisi bisa membagikan penelitian/referensi ilmiah yang mampu menjadi dasar/penguat. Lebih lanjut, penulis juga menyusun dan menambahkan fenomena serta data pendukung yang diperlukan. Pada tahap terakhir, pihak editorial akan melakukan finalisasi dengan menyesuaikan gaya bahasa, tulisan, dan rangka kaidah jurnalistik.

Misalnya, dalam artikel yang telah dibuat oleh Kuntarto (2020), penulis berkolaborasi dengan akademisi guna menjelaskan bagaimana fenomena pengucapan diksi ‘anjay’ oleh kaum muda tidak perlu dipermasalahkan secara berlebih disaat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengkampanyekan gerakan tidak menyebut diksi tersebut melalui analisis linguistik.

3.2.2 Reporting

Berbeda dengan jenis commissions, artikel reporting (pelaporan)

merupakan suatu artikel berita yang melaporkan suatu isu, peristiwa, dan

informasi yang terjadi atau sedang dibicarakan tanpa melibatkan peneliti

secara langsung dalam penulisan. Keterlibatan akademisi terjadi melalui

pemberian pernyataan atau penjelasan dalam wawancara yang dilakukan

oleh penulis. Umumnya, jenis artikel ini dibuat untuk memberitakan suatu

acara berupa webinar berbasis ilmiah yang diselenggarakan oleh lembaga

(7)

pendidikan baik pemerintah/non-pemerintah. Tidak hanya itu, jenis artikel ini juga dapat dilakukan untuk bisa meminta tanggapan pada isu aktual maupun artikel profil ilmuwan.

Oleh sebab itu, sifat penulisan tidak hanya pada hard news tetapi juga soft news dengan teknik penulisan feature. Hal tersebut terjadi misalnya, pada artikel yang dibuat oleh penulis terkait dengan profil Adi Utarini, seorang profesor bidang kesehatan masyarakat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dengan penelitian mereduksi penyakit demam berdarah melalui nyamuk dengan bakteri wolbachia (Krismantari et al., 2020). Proses pembuatan artikel sendiri, dilakukan dengan koordinasi yang sama antara penulis dan editor kanal. Namun, pada bagian artikel ini, penulis membuat catatan sekaligus transkrip wawancara atas komunikasi yang dilakukan untuk mempermudah proses penulisan dan pengutipan.

3.2.3 Editing (peyuntingan)

Berikutnya, pada jenis tugas ketiga yakni editing (penyuntingan). Di sini, penulis bertugas untuk menyunting penulisan yang sepenuhnya dilakukan oleh akademisi dan diajukan kepada The Conversation Indonesia.

Proses penyuntingan ditentukan oleh Ika Krismantari selaku pembimbing penulis dengan memberikan artikel yang dipilih. Selanjutnya, penulis akan mempelajari tulisan dan riset yang dimaksud (bila berdasarkan penelitian akademisi) serta melakukan konfirmasi lanjutan terhadap akademisi sebagai penulis. Akhirnya, tulisan tersebut disunting dengan memperhatikan angle yang telah disepakati, efektivitas kalimat maupun bahasa, dan gaya penulisan jurnalistik agar bisa dipahami oleh masyarakat awam secara khusus audiens dari The Conversation Indonesia.

3.2.4 Translating (alih bahasa)

Penulis juga mendapat tugas untuk bisa mengalih-bahasa artikel dari

bahasa Inggris-Indonesia dan sebaliknya. Hal tersebut, dikarenakan sistem

The Conversation Indonesia yang juga sama dan berhubungan dengan

negara cabang seperti Australia, Inggris, Amerika, dll. Sehingga,

berdasarkan arahan dari Fidelis Eka Satriastanti, editor lingkungan saat

(8)

penjelasan magang, artikel yang dibuat sedari awal perlu diarahkan untuk pembaca global. Penerjemahan penulisan sendiri dilakukan atas koordinasi singkat dari editor terkait kepada penulis. Menurut Fidelis, pemilihan artikel yang akan diterjemahkan didasari atas pertimbangan editor atas artikel yang berpotensi menarik perhatian/minat pembaca global dan Indonesia.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, empat tugas besar yang dimiliki dan perlu dikerjakan setiap minggu bergantung pada hasil keputusan redaksi yang telah ditetapkan pada rapat editorial dan komunikasi dari editor penanggung jawab kanal. Sehingga tidak semua keempat tugas dikerjakan dalam periode (pekan) yang sama. Berdasarkan seluruh tugas yang diemban oleh penulis selama 14 pekan di periode 24 Agustus-24 November 2020, berikut merupakan rangkuman realisasi tugas yang telah dilaksanakan dan penulis jabarkan dalam bentuk tabel 3.1 di bawah ini.

Tabel 3.1 Rincian pelaksanaan kerja magang per minggu

Periode Tugas yang dilakukan Pekan 1

(24-28 Agustus 2020)

- Melakukan commissions dengan akademisi.

- Melakukan riset untuk artikel commissions.

Pekan 2 (31 Agustus– 4 September 2020)

- Melakukan peliputan webinar GESI, riset untuk pemenuhan artikel GESI., dan

- Melanjutkan proses commissions dengan akademisi.

- Menerjemahkan artikel bahasa Indonesia-Inggris.

- Riset untuk artikel profil Prof Adi Utarini Pekan 3

(7-11 September 2020)

- Persiapan liputan untuk artikel profil Adi Utarini (Riset).

- Lanjutan pengerjaan artikel liputan GESI (sunting)

(9)

Pekan 4

(14-18 september 2020)

- Menerjemahkan artikel bahasa Inggris-Indonesia.

- Finalisasi riset untuk artikel profil akademisi - Approaching narasumber (Prof Adi Utarini) - Finalisasi artikel liputan GESI.

Pekan 5

(21-25 september 2020)

- Wawancara Prof Adi Utarini

- Transkrip wawancara dan pembuatan outline Prof Adi Utarini

- Pengajuan commissions lithium.

Pekan 6

(28 September-2 Oktober 2020)

- Pembuatan outline artikel Prof Utarini

- Menerjemahkan artikel bahasa Inggris-Indonesia

Pekan 7

(5-9 Oktober 2020)

- Menerjemahkan artikel bahasa Indonesia-Inggris dan sebaliknya.

- Melakukan riset ilmiah untuk bahasa daerah.

Pekan 8

(12-16 Oktober 2020)

- Menerjemahkan artikel dari bahasa Inggris-Indonesia - Perencanaan dan pembuatan rangka tulisan bersama

akademisi (U-Tapis) Pekan 9

(19-23 Oktober 2020)

- Menerjemahkan artikel bahasa Inggris-Indonesia - Penyuntingan artikel (U-Tapis)

- Penyuntingan artikel (Prof Adi Utarini) Pekan 10

(26-30 Oktober 2020)

- Menerjemahkan artikel bahasa Inggris-Indonesia - Penyuntingan artikel (U-Tapis)

Pekan 11

(2-6 November 2020)

- Menerjemahkan artikel bahasa Inggris-Indonesia

- Penyuntingan artikel (Majalah seks)

(10)

Pekan 12

(9-13 November 2020)

- Liputan webinar (One health).

- Penulisan artikel profil (Prof Jatna Supratna) - Penulisan artikel webinar one health

- Menerjemahkan artikel bahasa Inggris-Indonesia.

Pekan 13

(16-20 November 2020)

- Finalisasi artikel (majalah seks)

- Menerjemahkan artikel bahasa Inggris-Indonesia - Finalisasi artikel Prof Jatna

- Wawancara lanjutan dan penyuntingan artikel one health.

Pekan 14

(23-24 November 2020)

- Rapat Editorial

- Finalisasi artikel one health

- Pembuatan reporting independensi MK

Dari realisasi magang di atas, terdapat 18 artikel terjemahan, lima (5) artikel reporting (pelaporan), dan dua (2) artikel commissions, serta satu (1) artikel suntingan yang telah dipublikasikan di The Conversation Indonesia (terlampir pada lampiran). Pada artikel reporting, penulis membagi lima artikel tersebut dalam dua jenis berita hard news dan soft news. Sehingga, terdapat tiga artikel hard news yakni peliputan pada webinar dan dua artikel pada profil ilmuwan.

Sebagai informasi, pembuatan artikel terjemahan memiliki jumlah kuantitas yang lebih besar dibandingkan jenis lain akibat proses pembuatan artikel yang membutuhkan waktu lebih panjang dengan akademisi. Lebih dari itu, ketersediaan waktu dari editor untuk melakukan proses penyuntingan akhir juga menjadi faktor sehingga kuantitas dari penulisan jenis reporting dan commissions yang membutuhkan koordinasi intens tidak dapat dilakukan, sehingga jumlah artikel tersebut tidak melebihi banyaknya artikel terjemahan.

Selain itu, penulis juga pernah melakukan pengajuan ajakan kolaborasi

(commissions) pada akademisi dan riset pada topik/ide penulisan bahasa daerah

yang pada prosesnya tidak dapat dilakukan. Atas konfirmasi dengan kepala editor,

Ika Krismantari, hal tersebut disebabkan oleh faktor eksternal seperti keterbatasan

(11)

waktu akademisi (sehingga menolak kolaborasi) ataupun keputusan redaksi (akibat faktor efektivitas waktu dan kepentingan publik).

3.3 Uraian Pelaksanaan Kerja Magang

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya pada bagian sub-bab 3.2 kedudukan dan koordinasi, hasil rapat berupa pembagian tugas akan diproses lebih lanjut melalui komunikasi pribadi bersama editor kanal terkait. Sehingga, pada sub- bab ini akan dijabarkan prosesnya oleh penulis berdasarkan dengan tahapan peliputan/pembuatan produk jurnalistik yang disusun oleh Wendratama (2017, pp.

101-113) yaitu.

1. Menentukan ide dan melakukan riset pendahuluan guna memahami gambaran umum keseluruhan isu/peristiwa, dilanjutkan dengan menentukan fokus cerita, dan daftar pertanyaan, serta kerangka tulisan.,

2. Mengumpulkan data untuk mendukung dan mendapatkan penegasan atas fokus cerita yang telah disusun., dan

3. Menuliskan liputan yang merupakan tahap produksi, koordinasi penyuntingan, dan finalisasi.

Ketiga tahap di atas menjadi alur umum yang menjelaskan bagaimana proses kerja yang dilakukan penulis terhadap dua dari empat tugas (commissions &

reporting) selama bergabung di The Conversation Indonesia sebagai bagian dari editorial. Sebab, tugas penulis untuk melakukan editing dan translating tidak memerlukan proses produksi dan kreatif dari penulis. Koordinasi sepenuhnya dilakukan satu arah dari editor. Berikut, penjabaran penulis.

3.3.1 Commissions

Secara garis besar jenis artikel ini menekankan keterlibatan akademisi secara langsung pada proses penulisan. Hal tersebut, dilakukan lewat ajakan dari pihak editorial ataupun dari inisiatif penulis (akademisi).

Menurut kepala editor, Ika Krismantari, tulisan jenis commissions dapat

dikembangkan melalui riset yang sudah/sedang dilakukan oleh peneliti

(12)

ataupun analisa dari berbagai sumber. Pun demikian, commissions tidak sekedar bergantung pada analisis riset saja, tetapi juga analisis teoritis akademisi pada suatu isu/topik.

Disini, editor memegang peran kunci dalam mempersiapkan isu/peristiwa aktual guna dibahas secara ilmiah agar dapat dikomunikasikan kepada publik. Sebab, menurut Gesualdo et al. (2019, p. 3) masyarakat awam membutuhkan suatu waktu dan proses yang panjang untuk bisa memahami penulisan ilmiah dan juga sebuah riset. Oleh sebab itu, dibutuhkan peranan jurnalis untuk bisa mempermudah khalayak memahaminya sebagai pembaca. Sebagai contoh, penulis menuturkan alur proses pembuatannya melalui salah produk jurnalistik commissions bersama dengan Kuntarto (2020) dengan judul Kata “anjay” tidak perlu masuk ranah hukum: pentingnya memahami konteks bahasa yang membahas bagaimana jurnalis mengambil bagian dalam setiap tahapan sebagai berikut.

1) Menentukan ide dan melakukan riset pendahuluan Dalam melakukan sebuah penyusunan artikel commissions, penulis diarahkan untuk mengusulkan ide penulisan serta peneliti yang dapat menjadi potensial kolaborator. Menurut Wendratama (2017, p. 101) sebuah ide penulisan dapat muncul dari suatu bidang/isu yang disukai oleh penulis. Oleh karenanya, dikarenakan penulis memiliki ketertarikan dan konsentrasi pada bidang bahasa sekaligus mengenal salah satu dosen yang juga mempunyai perhatian pada bahasa, maka penulis mengusulkan sebuah ide terkait dengan bagaimana analisis linguistik dalam produk hukum. Secara rinci, munculnya ide ini didasari juga dengan melihat fenomena empirik yang terjadi selama beberapa waktu terakhir dari media arus utama daring, misalnya kasus Jerinx dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bali sejak juni 2020 (Haryanto, 2020) yang dianggap menyebarkan ujaran kebencian sementara definisi dari

‘ujaran kebencian’ sendiri masih rancu (Angendari, 2020). Melihat

(13)

hal tersebut, penulis berinisiatif ingin melihat dari perspektif peneliti bahasa, apakah ada potensi penggunaan bahasa yang bisa menyebabkan interpretasi ganda sehingga menimbulkan apa yang dinamakan ‘pasal karet’. Lebih lanjut, dilaksanakan dengan tahapan berikut.

a) Pada rapat editorial, penulis menyampaikan ide penulisan terkait dengan analisis linguistik pada produk hukum yang dapat berpotensi memunculkan ‘pasal karet’ dengan memaparkan berbagai fenomena empirik pendukung dari beberapa media terkait informasi kasus Jerinx versus IDI.

Dikarenakan hal diatas, penulis berpendapat perlunya penjelasan dan pemaparan oleh ahli dan mengusulkan dosen bahasa Indonesia dari Universitas Multimedia Nusantara, Niknik M. Kuntarto untuk menjadi kolaborator. Sebab, penulis pernah diajar oleh beliau pada mata kuliah bahasa.

Pengajuan tersebut langsung diizinkan oleh pimpinan redaksi, Prodita Sabarini yang saat itu sedang menggantikan peranan Ika Krismantari sebagai kepala editor karena berhalangan hadir dan menentukan Ika sebagai editor dalam ide penulisan ini.

b) Sebelum pengajuan dilakukan, penulis melakukan pencarian

singkat tentang Niknik guna melihat apakah terdapat artikel

yang pernah beliau tulis terkait bahasa dengan menggunakan

kata kunci “Niknik M. Kuntarto”, ternyata Niknik telah

membuat beberapa artikel terkait dengan forensik

kebahasaan pada kolom media, salah satunya Kompas.com

(Kuntarto, 2020). Hal ini kemudian memantapkan penulis

untuk mengajukan ajakan penulisan.

(14)

c) Saat tahap pengajuan, komunikasi tersebut dilakukan melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp dengan memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan ketertarikan penulis pada karya penulisan bahasa yang dibuat oleh akademisi. Setelahnya, penulis mengundang akademisi untuk berkolaborasi dengan fokus yang sudah ditentukan.

Hasilnya, dari pengajuan dan penjelasan yang diberikan, peneliti setuju untuk berkolaborasi. Namun, dalam sudut pandang lain. Sebab, peneliti tidak mendalami konsentrasi bahasa pada produk hukum. Berikut pernyataan lengkap dari Niknik:

“Halo, William, saya baru sadar bahwa saya tdk [tidak] pernah menghapus sms Anda melalui WA, masih lengkap. Terima kasih atas apresiasi yg [yang]

baik ini. Dengan senang hati saya bersedia berkolaborasi menulis artikel ttg [tentang] linguistik forensik, tapi apakah hrs yg berhubungan dgn "pasal karet"? Saya lebih fokus pd [pada] kasus kebahasaan, bukan pada produk hukum berupa peraturan dan perundang2an. Bagaimana?”

Setelahnya, akademisi mengusulkan sebuah artikel yang sempat dibuat, akan tetapi batal dipublikasikan dalam jurnal ilmiah lalu mempersilakan penulis mengolahnya sebagai artikel dalam The Conversation Indonesia (gambar 3.2).

Pada percakapan ini, Niknik sempat berdalih bahwa penulisan diberikan kepada penulis karena ada yang

‘mendesaknya’: yakni penulis sendiri. Namun, hal tersebut

hanya gurauan. Selain itu, akademisi juga meminta penulis

untuk mengubahnya, tetapi penulis melihat permintaan ini

dengan maksud, akademisi meminta proses dilakukan oleh

(15)

penulis sediri secara keseluruhan. Maka, dikarenakan sifat artikel kolaborasi, penulis menghimbau Niknik untuk turut berpartisipasi sesuai dengan syarat commissions. Sebagai informasi, Artikel ilmiah tersebut membahas analisa akademisi terhadap kasus kebahasaan yakni umpatan

‘berengsek’ seorang pejabat publik pada 6 September 2018 dalam acara Indonesia Business Forum yang ditayangkan di TV One dengan tema “Dolar Tembus Rp15.000 Awas Krismon.” Artikel lengkap akan penulis lampirkan pada bagian lampiran.

Gambar 3.2 Bukti percakapan dengan akademisi Niknik M. Kuntarto

Sumber: Dokumentasi penulis.

(16)

d) Atas respon tersebut, penulis kemudian melakukan koordinasi dengan Ika Krismantari selaku editor penulisan.

Dalam komunikasi tersebut, penulis menyampaikan hasil pengajuan dengan Niknik: perubahan dari pertanyaan besar

‘pasal karet’ menjadi penulisan analisis berdasarkan artikel yang sudah ditulis oleh Niknik. Setelah disetujui Ika, penulis diarahkan untuk mengkaji penulisan ilmiah yang diberikan lalu membentuk rangka tulisan lalu disampaikan kepada Ika sebelum dijadikan artikel.

e) Sesuai arahan, penulis membaca dan mengkaji artikel yang telah diberikan dan membentuk kerangka penulisan.

Dikarenakan artikel ini didasari pada artikel ilmiah, maka struktur penulisan artikel disusun sesuai dengan alur penelitian asal agar tidak menghilangkan substansi dari penelitian itu sendiri. Dalam artikel tersebut, terdapat empat bagian besar yang dibuat Niknik yakni pengantar, pembahasan, simpulan, dan penutup. Melihat hal tersebut, penulis kemudian menyusun rangka tulisan dalam lima bagian karena membagi bagian pembahasan jadi dua bagian untuk hasil dan metode yang dijabarkan sebagai berikut.

Bahasa menjadi suatu bentuk komunikasi buat manusia.

Membahas peran kata dan adanya makna ganda dalam sebuah kata termasuk yang bisa mengandung ujaran kebencian, penghinaan, atau bahkan pencemaran nama baik dan berujung pada pencemaran nama baik.

Pentingnya pemahaman bahasa hukum untuk menghindari bias pada kejahatan bahasa. Menjelaskan apa itu linguistik forensik dan pentingnya peran forensik linguistik.

Pembuka

Bagian dua

(17)

Menjelaskan salah satu penelitian yang pernah dilakukan, yaitu menganalisis umpatan seorang pejabat publik di salah satu stasiun TV. Terdapat kasus kebahasaan yang melibatkan pejabat publik pada 6 September 2018 dalam acara Indonesia Business Forum yang ditayangkan di TV One dengan tema “Dolar Tembus Rp15.000 Awas Krismon”, salah satu yang menjadi narasumber secara telewicara adalah terlapor. Pernyataan yang disampaikan terlapor pada kedua acara tersebut diduga menuduh pelapor bermain pada kegiatan impor barang ke Indonesia, telah menggerogoti dan merugikan rakyat dan ekonomi, dan diduga terlapor juga menyebut pelapor dengan umpatan berengsek.

Pembahasan metode penelitian yang menggunakan analisis wacana dan sosiolinguistik untuk menganalisis konteks pembahasan serta menginterpretasikan pada pendekatan bahasa kultural yang sesuai dengan makna masyarakat.

Hasilnya, menunjukan bagaimana ada suatu tuduhan yang dalam pernyataan tersebut dan umpatan berengsek tidak ditujukan pada siapa, tetapi suatu hal sehingga tidak mengandung ujaran kebencian.

Pemahaman bahasa sangat penting dan diperlukan untuk berkomunikasi terutama untuk pejabat publik agar tidak menyebabkan keresahan pada pernyataan yang dikeluarkan.

f) Setelah dibuat dan dikomunikasikan dengan editor, Ika menilai bahwa nilai ‘baru’ sebagai bagian dari nilai berita telah hilang dalam studi yang dibuat Niknik (gambar 3.3).

Bagian tiga

Bagian empat

Simpulan

(18)

Sebab, penelitian tersebut bersifat studi kasus yang dilakukan pada tahun 2018. Oleh karena itu, Ika menanyakan apakah ada satu kasus yang dapat direlevansikan sehingga kasus yang dicontohkan tidak terlalu lampau. Penulis lalu berinisiatif mengusulkan sebuah fenomena yang beberapa waktu terkahir menjadi pembahasan dan berpotensi dianalisis, yakni isu penggunaan kata ‘anjay’ yang sempat dilarang oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak karena dianggap berpotensi pidana (Dzulfaroh, 2020). Namun, Ika meragukan hal tersebut dan mempertanyakan apakah sudah ada kasus yang masuk dalam ranah hukum akibat penggunannya. Dikarenakan penulis juga belum melihat hal tersebut, Ika melakukan pergantian angle dengan mempertanyakan apakah ‘anjay’ mempunyai potensi pidana jika dianalisis secara ilmiah berdasarkan ilmu linguistik yang dimiliki.

Gambar 3.3 Percakapan dengan Ika Krismantari terkait nilai berita

Sumber: Dokumentasi penulis.

(19)

g) Saat ditanyakan kepada Niknik, ia menilai ini bisa dibahas dan sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Hal tersebut, mengingat peranan Niknik dalam wawancara di pelbagai media beberapa waktu lalu. Lebih lanjut, ketika dihubungi kembali, Ika pun berpendapat isu ini berpotensi dibahas lebih dalam untuk melihat adanya potensi pidana/tidak dengan analisis linguistik. Oleh karena itu, penulis bersama editor menyusun kerangka tulisan sederhana. Berikut kerangka dari Ika.

“Mungkin outlinenya [yaitu] introduction:

kontroversi tentang penulisan Anjay. [lalu] sebagai ahli forensik bahasa, saya melihat penggunaan kata anjay tidak bisa dipidana. Setidaknya ada 3 alasan untuk itu: Alasan pertama dan analisisnya, Alasan kedua dan analisisnya, dan Alasan ketiga dan analisisnya

Setelah dikonfirmasi kembali ke Niknik sebagai akademisi, kerangka tersebut disetujui dan siap untuk diolah menjadi tahap penulisan.

2) Mengumpulkan data

Pada tahap ini, penulis berusaha mencari sumber atau data yang tepat agar mendukung sekaligus memperkuat relevansi dari topik penulisan. Hal ini sesuai dengan pendapat Gesualdo et al.

(2019, p. 3) yang mengemukakan peran jurnalis sebagai

‘penghubung’. Dalam implementasinya, terdapat tahap pengumpulan data yang dirumuskan oleh Wendratama (2017, p.

104) yakni observasi dan wawancara. Namun, dikarenakan sifat dari

artikel ini merupakan commissions bersama dengan peneliti. Maka

penulis melakukan observasi lewat studi pustaka dan berkomunikasi

(20)

dengan Niknik sebagai kolaborator yang disampaikan pada tahapan di bawah ini.

a) Penulis melakukan riset pada beberapa artikel di pelbagai media untuk bisa memahami kasus dari ‘anjay’.

Dikarenakan akademisi sempat mengatakan pernah diwawancara dalam beberapa media, maka penulis juga mencari dan membaca artikel tersebut untuk dijadikan rujukan. Misalnya, penulis membaca dari Kurniawan (2020) dan Putra (2020) saat Niknik menjelaskan fenomena dari kasus ‘anjay’ ini secara keseluruhan. Tidak hanya sampai di situ, penulis juga berusaha menelisik lebih dalam sumber kunci yakni keterangan pers dari Komisi Nasional Perlindungan Anak lewat media sosial twitter yang berisi larangan penggunaan kata ‘anjay’ (Dzulfaroh, 2020). Hasil dari riset yang ditemukan, penulis menilai sebuah analisis yang Niknik lakukan pada salah satu artikel, yakni leksikal, gramatikal, dan pragmatis, berpotensi menjadi bagian dalam kerangka tulisan. Lalu, hal tersebut dikonfirmasi kepada akademisi dan dibenarkan.

b) Selanjutnya, penulis sebagai jurnalis berusaha membantu

peneliti mengarahkan dan menghubungkan ilmu yang

dimiliki dengan memposisikan diri sebagai “publik” yang

membaca analisis tersebut. Maka, bila terdapat sesuatu

istilah kebahasaan atau pengertian yang dirasa belum

dimengerti, penulis segera melakukan komunikasi intens

untuk mendapat penjelasan lebih mendalam. Misalnya,

ketika penulis meminta penjelasan berupa pengertian

sederhana terhadap istilah dari leksikal, gramatikal, dan

pragmatis. Niknik pun merespon pertanyaan tersebut lewat

(21)

rekaman suara untuk mempermudah penulis (gambar 3.4).

Berikut petikan pernyataan Niknik.

“Begini… Leksikal itu pemahaman sebuah makna/kata berdasarkan kamus besar [KBBI], itu leksikal. Kemudian pemaknaannya sendiri bisa dari pemaknaan sesungguhnya dari kamus, atau tambahan berarti itu bukan dari kamus. Kedua, gramatikal…

makna yang muncul ketika berada dalam satu kalimat. Jadi kata itu ketika berada dalam satu kalimat bermakna apa? Kemudian pragmatis, itu makna kata berdasarkan bagaimana penggunaannya di masyarakat, bisa dilihat dari sosiolinguistik, psikolinguistik, dll…”

Tidak sampai di situ, sesudahnya, penulis juga melakukan konfirmasi kembali atas pernyataan yang diberikan. Hal tersebut dilakukan dengan merelevansikan pada topik yang sedang dibahas, yakni ‘anjay’. Berikut pertanyaan yang penulis ajukan.

“Berarti, kata Anjay ini sejatinya secara lesikal tidak bisa masuk. Karena tidak ada di KBBI. Namun, tadi Ibu sempat bilang untuk ada makna tambahan, ini berarti apa ya, Bu?

Berikutnya, analisis secara gramatikal, berarti bisa bermakna positif (pujian) ataupun negatif (hinaan).

Karena kata bergantung pada kalimat itu sendiri.

Secara pragmatis pun, kata anjay ini masuk dalam

(22)

konteks pujian. Lain berbeda ketika "anjir" atau digunakan dalam konteks formal.

Bu, jika demikian, sejatinya keterangan dari KPAI tidak perlu diperdebatkan, sebab hal ini merupakan salah satu pandangan dari salah satu sisi (yang melihat secara negatif)?”

Kemudian akademisi pun kembali menjelaskan dalam rekaman yang didalamnya memiliki pernyataan menjawab pertanyaan penulis sebagai berikut.

“Benar sekali, jadi sebetulnya kata ‘anjay’ itu kan bagian dari bahasa gaul, sifatnya timbul-tenggelam.

Sifatnya sementara dan hanya akan timbul di satu generasi. Itu hanya sebuah kreativitas remaja untuk mengekpresikan diri. Bahasa gaul sendiri bukan merupakan bagian dari budaya Indonesia. Menurut saya, bahasa gaul akan memperkuat dan mengembangkan bahasa secara non-formal.”

“Jadi, menurut saya tidak usah direspon secara berlebihan. Karena bahasa itu sifatnya dinamis.”

Bila direlevansikan, peranan ini sejalan dengan apa yang

disampaikan oleh Gesualdo et al. (2019, p. 3) bahwa penulis

sebagai jurnalis berusaha membantu peneliti dengan

mengarahkan dan menghubungkan disiplin ilmu yang

dimiliki dengan publik terhadap suatu penelitian/analisis

peristiwa. Hasil percakapan dan riset diatas pun akan

menjadi bahan dalam penulisan.

(23)

Gambar 3.4 Bukti komunikasi penulis-Niknik untuk interpretasi istilah ilmiah

Sumber: Dokumentasi penulis.

3) Tahap penulisan

Sesudah melakukan penentuan kerangka, komunikasi dengan akademisi, dan melakukan studi pustaka dari berita media arus utama, penulis bersama akademisi dan diawasi oleh editor memasuki tahap penulisan liputan.

Witsen dan Takahashi (2018) menekankan peran jurnalisme perlu mengkontekstualisasi dan juga mengevaluasi pengetahuan ahli serta memfasilitasi diskusi yang menjembatani pengetahuan (p. 3).

Tidak hanya itu, Polman et al. (2014, p. 772) juga mengemukakan

perlunya jurnalis untuk menjadi penyaring yang memfiltrasi dan

menyajikan informasi kredibel serta penting untuk khalayak sebagai

pembaca. Sehingga, jurnalis yang merupakan ‘penerjemah’ bisa

membantu publik sebagai pembaca memahami secara keseluruhan

(24)

suatu isu/peristiwa dari perspektif sains (Wormer, 2009, p. 2). Atas literatur di atas, bila disintesakan, terdapat beberapa kata kunci yang dapat menjadi indikator; peran memfasilitasi pengetahuan, menjadi penyaring informasi, sekaligus penerjemah. Ketiga hal tersebut penulis berusaha relevansikan pada beberapa tahap di bawah ini

a) Setelah tahap riset dan pembuatan rangka tulisan selesai dilakukan, penulis masuk dalam tahap penulisan artikel.

Dalam tahap ini, Wendratama (2017, p. 72) menjelaskan, saat membuat artikel, hal yang diutamakan bukan sekedar

‘banyak’ secara konten, melainkan bisa menjelaskan

‘why’ dan ‘how’ secara elaboratif melalui aspek yang lebih lengkap berdasarkan data yang tidak melewati fokus cerita.

Selain itu, agar tulisan dapat menarik perhatian pembaca, cara-cara penulisan juga bisa divariasikan untuk memberi ‘kesegaran’ tersendiri, misalnya dengan memerhatikan penggunaan lead seperti hard lead yang singkat dalam jumlah kata, struktur penulisan, dll. Dari pengertian tersebut, berikut ini penulis bahas dan relevansikan.

Kata “Anjay!”: Harus dipahami konteksnya.

Kata “anjay” ramai diperbincangkan di media sosial.

Menjadi suatu perdebatan berbagai pihak saat youtuber bernama Lutfi Azigal menyampaikan dampak diksi tersebut terhadap moral bangsa.

Penulis menyusun judul tersebut setelah

mengumpulkan berbagai data dan pemahaman dari Niknik sebagai akademisi yang menyimpulkan pesan bahwa perlu memahami konteks

‘anjay’ terlebih dahulu dan tidak buru-buru menilai buruk.

Lead dari artikel yang

penulis kemas secara

singkat guna menjadi

pembuka dan gambaran

pokok masalah artikel.

(25)

Pendapat ini pun ditanggapi oleh KPAI lewat surat edaran yang menyampaikan adanya potensi sebagai ujaran yang merendahkan martabat seseorang.

Sehingga dapat masuk dalam ranah hukum dengan mengacu pasal Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak dan mengusulkan agar menghentikan penggunaan diksi tersebut.

Sebagai ahli forensik linguistik, Saya melihat penggunaan kata anjay memang dapat berpotensi untuk masuk dalam ranah hukum. Akan tetapi, jika kita melihat dari konteks dari komunikasi yang dimaksud, bisa jadi tidak perlu dipermasalahkan.

Sebab, tidak ada kata yang memiliki sebuah arti mutlak. Mari kita lihat dengan menggunakan analisis pemaknaan dengan 3 tahap: leksikal, gramatikal, dan pragmatis.

1. Leksikal

Dalam hal ini, pemahaman leksikal dilakukan dengan dasar pemaknaan kata berdasarkan arti/definisi tetap dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, Pemaknaan juga bisa dengan menggunakan makna tambahan.

Dalam hal ini, secara leksikal, kata “anjay” tidak bisa diberi suatu pemaknaan.

Sebab, kata tersebut belum terdaftar dan tidak dapat ditemukan dalam KBBI. Oleh, sebab itu dilakukan pula analisis lain, yaitu gramatikal.

Penjabaran permasalahan yang penulis susun atas beberapa referensi (UU dan bukti konferensi pers) melalui hyperlink

(dibuktikan dengan garis bawah).

Masuk pada pernyataan dari akademisi lewat tiga penjabaran ‘why’ yang telah dikomunikasikan sebelumnya (leksikal, gramatikal, dan

pragmatis). Penjelasan secara sengaja dibuat angka untuk bisa memudahkan pembaca memahami alur tulisan dan pemakaian kata

“Saya” sengaja dipakai untuk menunjukkan sudut pandang penulisan dari akademisi.

Penjelasan ilmiah

pertama, analisis leksikal

hasil penjelasan Niknik.

(26)

2. Gramatikal

Pendekatan dalam pengartian/pemaknaan gramatikal, dengan melihat makna yang muncul ketika berasal dari kalimat. Jadi, Ketika kata itu berada di sebuah struktur kalimat, akan bermakna apa?

Melihat dari sebuah kalimat, penggunaan kata

“anjay” dapat digunakan sebagai bentuk pujian ataupun sebaliknya tergantung pada konteks pembicaraan. Kata ini memiliki suatu makna seperti

“Wow!” atau “Keren!”, misalnya “Anjay!…

mobilnya keren banget!”. Kata ini menjadi suatu bentuk keakraban yang terbangun di antara anak muda.

Namun, sebaliknya, kata ini juga bisa dimengerti sebagai kata yang memiliki muatan negatif. Hal inilah yang dapat dibahas secara pragmatikal.

3. Pragmatik

Pragmatis memiliki arti bagaimana suatu makna kata dilihat dan ditelaah dari penggunaannya di masyarakat. Pendekatan pragmatis bisa dilakukan dalam berbagai bentuk sosiolinguistik, psikolinguistik, stilistik, dll.

Mari kita lihat secara sosiolinguistik.

Penjelasan ilmiah kedua,

analisis gramatikal hasil penjelasan Niknik.

Penjelasan ilmiah ketiga,

analisis pragmatis hasil

penjelasan Niknik.

(27)

Sosiolinguistik adalah ialah ilmu bahasa yang mempelajari bahasa kehidupan sehari-hari yang dipakai secara sederhana, termasuk pengetahuan dengan berbagai dialek dari daerah, bahasa multilingual, dan termasuk bahasa-bahasa yang digunakan oleh anak-anak muda. Dengan pendekatan ini, kita dapat mengetahui hubungan bahasa dengan sekelompok masyarakat secara khusus sehingga kita bisa mendefinisikan secara jelas dan mengerti beberapa kelompok masyarakat dan bagaimana cara mereka berkomunikasi.

Lambang kekaguman dapat menjadi jawabannya.

Dilihat dari pendekatan sosiolinguistik, kata “anjay”

sebagai rasa kagum pada suatu hal/fenomena. Kata anjay biasa juga dipakai dalam lingkup anak muda.

Kata ini juga bermakna negatif jika dipandang dari sisi kata asal tersebut yaitu “anjing” yang secara pendekatan sosiolinguistik mengandung diksi umpatan/penghinaan. Kata ini kerap digunakan untuk menyamakan suatu hal yang dipandang hina seperti “anjing”.

Namun, kita juga kembali harus melihat konteksnya.

Dengan penggunaan diksi tersebut dalam lingkup Bahasa gaul, kata tersebut tidak bermakna negatif dalam pendekatan sosiolinguistik. Dengan demikian, memahami sebuah kata tidak serta merta berdasarkan pemaknaan teks, harus berdasarkan konteks.

Lanjutan penjelasan

ilmiah ketiga, analisis

pragmatis hasil penjelasan

Niknik.

(28)

Tak perlu dipermasalahkan

Bahasa gaul mempunyai sifat timbul tenggelam.

Kehadiran bahasa gaul hanya timbul sementara, pada sebuah generasi. Itu adalah kreativitas remaja dalam mengekspresikan diri dengan menggunakan bahasa.

Pada setiap generasi pun bahasa lahir dan berbeda.

Justru, pada akhirnya bahasa gaul menjadi sebuah potret budaya suatu generasi dalam sebuah zaman.

Selain itu, bahasa gaul juga merupakan bagian dari Budaya Indonesia dan eksistensinya akan memperkuat dan menambah berkembangnya bahasa, tetapi dalam konteks secara nonformal. Memang ada potensi kata yang dari non formal, bisa menjadi diksi dalam Bahasa formal. Itu nanti suatu menjadi kesepakatan di Badan Bahasa.

Sehingga, tidak perlu dipermasalahkan. Sebab, bahasa itu dinamis. Tinggal bagaimana cara kita mampu menyesuaikan kapan dan dalam situasi apa bahasa yang baik dan benar dipakai.

Pun, sebagai pihak yang melihat dan ingin memberi penafsiran, harus selalu memahami konteks.

Berdasarkan analisa di atas, secara umum, penulis memenuhi panduan penulisan Wendratama (2017) yang menekankan nilai ‘how’ dan ‘why’ lewat bentuk penulisan yang dilengkapi dengan berbagai data Memasuki kesimpulan

yakni penulis bersama akademisi berusaha mengambil kesimpulan dan menunjukkan faktor

‘how’ yang bertujuan mendorong sikap publik dalam interpretasi bahasa yang dinamis. Sehingga,

‘anjay’ tidak perlu

dipermasalahkan.

(29)

pendukung dan dicantumkan melalui hyperlink. Selain itu, implementasi pemahaman penulis juga diubah ke dalam bahasa populer dengan format poin guna memfasilitasi pembaca memahami fenomena dari perspektif ilmu linguistik.

b) Selanjutnya, penulis mengajukan draft artikel kepada editor untuk bisa memasuki tahap penyuntingan. Ika berpendapat (gambar 3.5), bahwa penulisan yang dilakukan penulis sudah baik secara keseluruhan, tetapi ada perbaikan terkait susunan kalimat, pergantian diksi, dan terutama terkait dengan alur penulisan agar diubah susunannya. Sebab, setelah disimak oleh Ika, argumentasi

‘tidak perlu dipermasalahkan’ merupakan bagian penting dari artikel. Sehingga, penempatan bagian tersebut perlu dirubah ke atas dan disusul dengan argumentasi pendukung melalui tiga analisa.

Gambar 3.5 Respon dan koordinasi dengan editor

Sumber: Dokumentasi penulis

(30)

c) Kemudian, seperti yang sudah dijelaskan, peneliti/akademisi secara langsung akan terlibat dalam proses pembuatan. Artinya, sesudah draft hasil penyuntingan editor, Niknik dapat menambahkan /mengurangi penulisan yang ada. Nyatanya, saat Niknik melakukan finalisasi, terdapat perubahan besar dalam penulisan yang semula menggunakan analisis leksikal, gramatikal, dan pragamatis, menjadi analisis wacana.

Dengan demikian, hampir 75 persen dari konten yang telah diproduksi berubah. Alasan dari pergantian tersebut, dijelaskan oleh Niknik untuk membuat penulisan lebih bernas dengan teori. Berikut pernyataannya,

“William, saya sdh tambah artikelnya. Lebih bernas dgn teori, Tapi cara penulisannya tolong perbaiki ya”

Namun, secara keseluruhan penulisan ini telah disetujui oleh Niknik. Kemudian, akibat perubahan yang dilakukan akademisi, editor dan penulis harus kembali menyesuaikan beberapa hal terkait gaya penulisan (tata bahasa). Ini penting, untuk mencegah adanya penafsiran yang salah dalam konten (Gesualdo et al., 2019, p. 3).

Berikut, penulis paparkan hasil finalisasi artikel anjay beserta dengan penyertaan keterangan tentang perubahan dari penulisan sebelumnya oleh pihak akademisi.

Kata “anjay” sedang ramai diperbincangkan di media

sosial.

(31)

Perdebatan tentang kata tersebut muncul dari youtuber bernama Lutfi Azigal. Melalui [videonya]

(https://www.youtube.com/watch?v=9dDKCLASxek), Lutfi menjelaskan bahwa "anjay" berasal dari kata dasar

"anjing" dan dia khawatir penggunaan yang tidak tepat dapat merusak moral bangsa.

Organisasi non-pemerintah Komisi Perlindungan Anak (Komnas PA) menanggapi perdebatan tersebut dengan mengeluarkan edaran yang merekomendasikan penghentian penggunaan kata "anjay" karena berpotensi merendahkan martabat seseorang.

Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait pun mengatakan penggunaan kata tersebut bisa terancam tindak pidana karena termasuk dalam kekerasan verbal yang diatur dalam [Undang-Undang Nomor 35 Tahun

2014 tentang Perlindungan

Anak](http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/arsip/ln/2014 /uu35-2014bt.pdf)

Sebagai ahli forensik linguistik yang menganalisis penggunaan bahasa sebagai alat bantu pembuktian di peradilan, saya melihat penggunaan kata "anjay" bisa jadi tidak perlu masuk ke dalam ranah hukum ketika kita melihat konteks penggunaanya.

Tidak ada perubahan dari

apa yang sudah disunting

oleh editor.

(32)

## Pentingnya melihat konteks

Konteks sebuah kata penting untuk mengetahui arti sebuah kata. Apalagi ketika kata tersebut belum masuk dalam daftar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seperti kata "anjay".

Kata "anjay" belum masuk ke dalam KBBI karena kata ini merupakan bahasa gaul baru yang diciptakan oleh generasi muda masa kini.

Ketika sebuah kata yang belum terdaftar dalam kamus masuk ke dalam sengketa hukum, ahli linguistik forensik biasanya mencoba melihat konteks penggunaan kata tersebut untuk mengetahui maknanya.

Ahli bahasa dari Amerika Serikat Deborah Schiffrin [menjelaskan](https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.a spx?id=423892) pentingnya memahami konteks dalam linguistik forensik untuk mengetahui makna sebuah kata di masyarakat.

Analisis tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan pendekatan fungsionalis atau pragmatis yang membantu proses pencarian makna sebuah kata lewat penggunaannya di masyarakat.

Terdapat perubahan berupa susunan dan penajaman kalimat pada sub-artikel yang

dilakukan oleh Niknik

dengan alasan untuk

memperjelas runutan

penulisan.

(33)

Analisis kata "anjay"

Schiffrin menjelaskan adanya delapan unsur yang bisa digunakan untuk melakukan analisis forensik linguistik. Mereka adalah latar, peserta, tujuan, amanat, cara, sarana, norma, dan jenis pertemuan.

1. Latar

Latar ini mengacu pada tempat dan waktu terjadinya percakapan. Kata "anjay" biasa digunakan oleh kaum muda di tempat santai, misalnya tempat berkumpulnya anak muda, kafe, dan waktu yang tidak resmi, misalnya waktu sepulang sekolah atau kuliah.

2. Peserta

Peserta mengacu kepada peserta percakapan, yakni dilakukan oleh anak-anak muda di perkotaan, lebih tepatnya anak-anak gaul dalam suatu komunitas tertentu.

3. Tujuan

Hasil mengacu pada hasil percakapan dan tujuan percakapan. Kata "anjay" biasanya digunakan dalam percakapan yang akrab dalam suatu pergaulan.

4. Amanat

Kata "anjay berdasarkan pengunaannya lebih banyak dalam bentuk ungkapan atau ekspresi yang memiliki amanat suatu kekaguman pada suatu peristiwa.

"Anjay, mobil itu keren bingit!"

Terdapat perubahan dari

Niknik selaku akademisi

terhadap substansi artikel

berupa pergantian metode

analisis yang semula

terdiri atas leksikal,

gramatikal, dan pragmatis

menjadi analisis dari

Schiffrin.

(34)

5. Cara

Cara mengacu pada semangat melaksanakan percakapan. Percakapan yang menggunakan kata "anjay"

biasanya berlangsung secara santai, hangat, dan akrab dengan selipan gurauan pembicara yang disambut gelak tawa para penutur. Misalnya, "Anjay, lo udah punya cewek ya? Bagi-bagi kebahagiaan dong!"

6. Sarana

Unsur ini berusaha melihat pada apakah pemakaian bahasa dilakukan secara lisan atau tulis dan mengacu pula pada variasi bahasa yang digunakan. Pada percakapan di video, kata "anjay" mengacu pada bahasa secara lisan.

7. Norma

Norma mengacu pada perilaku peserta percakapan di antara anak muda. Kata "anjay" bisa digunakan oleh anak muda yang sudah memiliki hubungan akrab.

8. Jenis pertemuan

Kata "anjay" merupakan bagian dari bahasa gaul yang merupakan kreasi bahasa anak muda pada generasi milenial.

Berdasarkan analisis di atas, saya dapat menyimpulkan kata "anjay" merupakan bagian dari bahasa gaul yang digunakan sebagai simbol keakraban yang bermakna kekaguman. Hasil ini menunjukkan bahwa "anjay" tidak perlu masuk ke ranah hukum.

Lanjutan analisis Schiffrin yang ditulis oleh Niknik.

Penegasan akademisi

dalam analisis yang

dilakukan.

(35)

Peran sosial bahasa

Kita dapat mengetahui [hubungan bahasa dengan sekelompok masyarakat] (https://www.taylorfrancis.

com/books/9781315728438) secara khusus dengan mendefinisikan secara jelas bagaimana cara mereka berkomunikasi dalam kelompoknya.

Pendekatan fungsionalis bisa membantu kita melihat bagaimana sebuah dituturkan dalam konteks tertentu. Pendekatan ini juga mencakup pengetahuan tentang berbagai dialek dari daerah, bahasa multilingual, dan termasuk bahasa-bahasa yang digunakan oleh anak- anak muda.

Meskipun "anjay" termasuk kata kasar, selama tidak digunakan sebagai hinaan, makian, alat untuk menyerang seseorang dan tidak menimbulkan konflik, kata "anjay"

tidak dapat diajukan sebagai bahasa kriminal.

Apalagi mengingat kata tersebut berangkat bahasa gaul dari lingkungan kalangan muda yang penggunaannya sangat cair bergantung pada konteksnya.

d) Sesudah Niknik melakukan proses penyuntingan, penulisan akan dikembalikan kepada pihak editorial untuk mendapat penyuntingan finalisasi berupa perbaikan faktor teknis pendukung saja (tanda baca, cetak miring, efektivitas kalimat, dll.).

e) Sesudah difinalisasikan, penulis menghubungi akademisi untuk bisa menyetujui artikel dalam sistem The Tidak ada perubahan oleh

Niknik atas hasil

suntingan editor

sebelumnya.

(36)

Conversation Indonesia. Sebab, berdasarkan sistem yang dibuat oleh The Conversation, sebuah artikel commissions tidak dapat dipublikasikan bila pihak akademisi tidak memberikan persetujuan. Sehingga, dalam proses kerja ini, peneliti menjadi ‘gerbang terakhir’

untuk memfinalkan dan melakukan pengecekan terakhir dalam substansi penulisan.

Hal ini dilakukan oleh penulis dengan menekan tombol “setuju” pada laman yang tersedia versi akademisi (bukan editor). Sebab, tampilan dari penulis dengan akademisi diatur oleh sistem berbeda dalam arti tidak memiliki tombol ‘setuju’ pada jenis commissions (gambar 3.6). Sayangnya, pada saat proses persetujuan, penulis tidak meminta bukti dokumentasi dari Niknik sehingga tidak dapat dilampirkan dalam laporan magang ini.

Sebelum penulisan disetujui, terdapat data pengungkapan yang harus diisi oleh akademis guna menjelaskan secara transparan bila adanya afiliasi/donatur dalam penulisan.

Setelahnya, artikel akan langsung terpublikasikan.

Gambar 3.6 Tampilan sistem penulisan The Conversation Indonesia versi editor

Sumber: Dokumentasi penulis.

(37)

3.3.2 Reporting

Wendratama (2017, p. 100) mendefinisikan sebuah peliputan atau reporting sebagai suatu produk yang didasari dengan aktivitas pengumpulan data dan terbagi dalam dua bagian yakni wawancara dan observasi. Lebih dari itu, studi pustaka juga dapat ditambahkan bila diperlukan. Fungsi produk ini pada dasarnya ditujukan untuk memberi informasi seputar isu/peristiwa dan bagaimana tanggapan dari beberapa pihak.

Produk dari peliputan artikel sendiri dapat dikategorikan dalam tiga jenis, yakni liputan pendek, liputan langsung, dan liputan panjang. Dalam hal ini, Wendratama (2017, pp. 101-115) menjelaskan suatu pembeda besar antara liputan pendek/panjang: selain jumlah kata yang disarankan lebih dari 500 kata, penulis juga bertanggung jawab untuk mengulas aspek secara lebih lengkap. Sesuai dengan tiga pembagian besar membuat peliputan, maka penulis akan memaparkan pelaksanaan reporting dengan memaparkan masing-masing contoh artikel pendukung serta relevansinya dengan literatur ilmiah.

1) Melakukan riset pendahuluan dan menentukan fokus cerita

Pada tahap ini, penulis akan menjelaskan proses riset pada pembuatan artikel profil Adi Utarini, seorang profesor bidang kesehatan masyarakat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta berjudul Mimpi-mimpi Profesor Adi Utarini, ilmuwan di balik kesuksesan program pembasmian nyamuk demam berdarah (Krismantari et al., 2020). Penugasan ini berawal dari permintaan oleh Ika Krismantari secara langsung melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp kepada penulis (gambar 3.7). Berikut pernyataan Ika.

“Will..aku punya tugas satu lagi, bisa bantu gak?

untuk bikin profil ilmuwan, boleh ya. Ada Prof

Adiutarini, dia itu keren bangeeet. (diberikan link

salah satu contoh penulisan profil di The

Conversation Indonesia) bisa bikin seperti itu

contohnya atau profil wawancara di majalah tempo.

(38)

Mungkin kamu bisa riset dulu, dan susun pertanyaan... sambil kontak beliau bilang kita tertarik untuk wawancarai beliau untuk profil”

Gambar 3.7 Penugasan pembuatan profil Adi Utarini

Sumber: Dokumentasi penulis

Sesudah penugasan diberikan, penulis melakukan observasi

pada pranala yang dirujuk sebagai panduan penulisan. Ika

memberikan contoh draft penulisan profil di The

Conversation Indonesia yang belum dipublikasikan karena

hanya sebagai contoh saja. Saat diamati, pada draft tersebut,

penulisan dilakukan dengan format tanya-jawab. Sehingga,

artikel menampilkan seluruh percakapan yang dilakukan

antara editor dengan Profesor Sangkot sebagai narasumber

untuk membahas satu topik khusus yakni lembaga yang

didirikannya yakni eijkman. Lebih lanjut, penulis juga

melakukan observasi pada artikel Majalah Tempo. Penulis

melihat salah satu artikel berjudul Lagu untuk Tenaga Medis

(Tempo, 2020). Pada artikel tersebut, penulis mengamati

bagaimana Majalah Tempo berusaha menyampaikan proses

Orzia Sativa Lubis dalam menggubah lagu bagi tenaga

(39)

kesehatan bertajuk Untuk Kita Semua dengan format artikel (bukan tanya-jawab). Hal tersebut menjadi bekal bagi penulis untuk bisa mengetahui gambaran umum dalam melakukan penulisan profil. Secara khusus, pada bagian pengumpulan data, penulis merasa perlu mengangkat suatu isu sebagai benang merah penulisan agar tulisan dapat terstruktur dengan baik. Penggunaan bahasa yang ringan dan lugas pun jadi masukan. Berikutnya, selain contoh yang diberikan, penulis juga diminta dan diarahkan untuk mengutamakan riset terkait profil ilmuwan tersebut. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Wendratama (2017, pp. 101-104) guna bisa melakukan riset pendahuluan dengan memperhatikan tahapan berikut:

a) Mencari berita yang terkait dengan topik tersebut untuk melihat apa yang menjadi perkembangan terbaru/kondisi saat ini. Bila perlu, apakah ada kaitan dengan organisasi tertentu?

b) Setelah melakukan riset pada artikel berita, artikel non-berita seperti riset terkini, ataupun informasi lainnya dapat ditelisik lebih lanjut.

c) Menentukan fokus cerita dapat dilakukan untuk bisa menemukan sudut pandang yang tepat dan menarik bagi pembaca.

d) Membuat daftar pertanyaan kepada calon narasumber. Sesuai dengan fokus cerita yang telah ditentukan.

Pada implementasinya, penulis menjabarkan alur proses riset sebagai berikut.

a) Pasca penugasan, penulis melakukan pencarian

melalui internet dan berita dari media baik dari skala

regional, nasional, dan internasional untuk bisa

(40)

mengetahui informasi tentang ilmuwan tersebut dengan menggunakan kata kunci “Adi Utarini”.

Setelahnya, penulis berusaha melihat dan menemukan peranan beliau sebagai salah satu peneliti bidang kesehatan masyarakat yang berhasil memberantas demam berdarah pada uji coba di Yogyakarta melalui pengembangbiakan nyamuk yang mengandung virus wolbachia (Yuniar, 2020;

Hidayatullah, 2020; Sucahyo, 2020; Callaway;

2020). Setelah ditelusuri lebih lanjut, penelitian beliau ini berhasil menarik perhatian internasional, termasuk majalah nature yang merupakan jurnal mingguan Inggris. Dari pelbagai data tersebut, penulis membaca, memahami, mencatat, dan merangkum, serta berusaha mengelaborasi data-data yang telah didapat untuk bisa disusun dalam pertanyaan.

b) Setelah mengetahui peranan akademis saat ini di

bidang demam berdarah dan Wolbachia, penulis

melanjutkan pengamatan dengan melihat beberapa

informasi pribadi yang telah terjadi pada Adi Utarini

selama tahun 2020. Dari pengamatan tersebut,

penulis mendapatkan informasi bahwa Adi Utarini

pernah menjadi pasien positif COVID-19 pada maret

lalu. Dari informasi yang didapat, Adi Utarini

berstatus positif, beberapa hari sesudah suami dari

Adi Utarini meninggal dan diketahui akibat COVID-

19 (Sucahyo, 2020; Taufiq, 2020 ). Namun, hal ini

sempat dibantah oleh pihak rumah sakit (Suryani,

2020), oleh karena itu, penulis berusaha untuk

(41)

skeptis dan menjadikan informasi ini sebagai dasar pertanyaan. Skeptis sendiri dipandang oleh Wendratama (2017, p. 100) sebagai suatu dasar yang membantu penulis untuk bisa mengajukan pertanyaan dengan baik.

c) Berikutnya penulis juga menemukan profil singkat beliau pada laman non-berita resmi Badan Penerbit dan Publikasi Universitas Gadjah Mada (UGM Press, 2020). Hal tersebut menjadi dasar bagi penulis untuk melihat secara mendalam sejarah pendidikan, pekerjaan saat ini, serta peran beliau saat ini dalam dunia kesehatan masyarakat terutama penelitian kerjasama dengan Australia tentang wolbachia yang telah menjadi program bernama World Mosquito Program (WMP). Dedikasinya pun berhasil mendapat pengakuan dan penghargaan, yang salah satunya merupakan Habibie Awards pada tahun 2019 oleh The Habibie Center (2019). Atas dasar itu, penulis kemudian berinisiatif untuk melakukan pengecekan pada program ini dengan mengunjungi situs WMP dan menemukan informasi beberapa negara yang juga turut berpartisipasi dalam program ini; Vunuatu, Vietnam, Brazil, dll (World Mosquito Program, 2020).

d) Lebih lanjut, penulis menemukan pula laman pribadi dari Adi Utarini yang menjelaskan kehidupan pribadi yang salah satunya kegemaran dalam bermain musik.

Hal ini penting untuk dilakukan, sebab pembelajaran

sumber daya secara lengkap dan sebanyak mungkin

(42)

diperlukan untuk bisa menjadi dasar pemikiran penulis (Wendratama, 2017, p. 102) yang dalam hal ini terkait dengan penulisan artikel profil.

e) Selain informasi pribadi dan riset dari artikel berita.

Penulis juga diarahkan editor agar dapat melihat apakah terdapat riset terbaru yang telah dilakukan.

Sesuai arahan, penulis melakukan riset pada beberapa jurnal dan ditemukan sebuah artikel yang dibuat oleh Adi Utarini terkait dengan pentingnya kolaborasi antara pasien-keluarga-perawat untuk mendukung pemulihan diri. Artikel tersebut berjudul Person-Patient-Family-Community Centered Care Semakin Penting dan dipublikasikan dalam Journal of Hospital Accreditation (Utarini, 2020).

f) Setelah mengumpulkan beberapa informasi di atas, penulis mengelaborasi dan merencanakan daftar pertanyaan yang akan diajukan. Pada awalnya, penulis berusaha mengutamakan nilai ‘kebaruan’

dari informasi yang didapat, yakni informasi terkait pengalaman beliau sebagai pasien Covid-19 dan dielaborasi dengan penulisan artikel Adi pada jurnal akreditasi rumah sakit Agustus lalu. Sehingga, penulis pun mengajukan empat pertanyaan besar sebagai berikut.

(1) Baru-baru ini, Anda mengeluarkan sebuah

artikel ilmiah yang menggagas semakin

pentingnya person-patient-family-community

centered care yang menekankan pendekatan

lebih kepada pasien dalam konteks pandemi

(43)

COVID-19. Apa yang menjadi latar belakang penulisan ini?

(2) Pada artikel tersebut, Anda turut menawarkan dalam artikel ini solusi untuk mengembangkan kerjasama antar setiap pihak (pasien, keluarga, dan masyarakat), kerjasama seperti apa yang dinilai efektif dalam hal ini?

(3) Pada masa awal pandemi COVID19 di Indonesia, Anda pernah menjadi salah satu pasien positif dari pandemi ini, Apa yang menjadi suatu pembelajaran bagi kualitas pelayanan/fasilitas kesehatan yang harus dikembangkan?

(4) Jumlah angka kematian pada tenaga kesehatan sudah melebihi 100, sedangkan jumlah pasien positif COVID19 terus mengalami peningkatan. Bagaimana Anda menyikapi hal tersebut? Apakah Indonesia mengalami "darurat" tenaga kesehatan?

g) Namun, Ika Krismantari tidak menyetujui

pertanyaan yang diajukan karena pertanyaan penulis

kurang personal dan mendalam. Sehingga, penulis

diminta untuk memperbaiki sekaligus merincikan

pertanyaan dan dikonsultasikan kembali dengan

menyantumkan berbagai aspek yang berhubungan

pada sosok Adi Utarini. Oleh karena itu, penulis

merangkum seluruh informasi yang telah didapatkan

lalu membagi pertanyaan kedalam empat kategori

besar: demam berdarah, motivasi kerja, isu

Gambar

Gambar 3.1 Pelaksanaan rapat editorial The Conversation Indonesia
Tabel 3.1 Rincian pelaksanaan kerja magang per minggu
Gambar 3.2 Bukti percakapan dengan akademisi Niknik M. Kuntarto
Gambar 3.3 Percakapan dengan Ika Krismantari terkait nilai berita
+6

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun karyawan ini merupakan karyawan yang berdasar kontrak, mereka bersedia untuk dipanggil kapan saja dengan pemberitahuan singkat dalam Bhatini Mitra Jaya group, dan kami

Data diisi sesuai dengan yang diminta pada form pemesanan barang, kemudian bagian gudang mencetak surat pesanan berdasarkan tanggal penginputan pesanan dan

Output dari penulisan konten yang lainnya adalah video. Adanya pekerja magang, membantu Irsan, sebagai videographer dalam mempersiapkan ide dan konten-konten baru

Penelitian yang menggunakan ELMo untuk pengolahan bahasa alami pada teks bahasa Indonesia belum ada sehingga penulis ingin melihat performa embedding tersebut dalam masalah POS

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penelitian, pembatasan masalah, dan sistematika penulisan laporan Proyek

Apakah dengan citra merek global pada suatu merek produk tertentu, dan adanya positive word of mouth tentang produk, serta pengaruh persepsi kualitas dari negara

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Bupati Wajo Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pemberian Izin Belajar, Tugas Belajar, Keterangan Belajar, Keterangan Pendidikan, Keterangan

Hal ini didasarkan pada case dari teks ujaran kebencian yang dapat dilakukan untuk mendeteksi teks menjadi ujaran kebencian atau tidak ataupun melakukan