TRANSKRIP WAWANCARA
3) Menuliskan Liputan
Pada bagian penulisan liputan, penulis menjelaskan karya reporting dalam webinar yang diadakan oleh Knowledge Sector
Initiative terkait dengan isu minimnya partisipasi disabilitas dalam riset dan apa yang menjadi faktor tersebut pada 2 September lalu.
Hal ini berhasil diproduksi dengan judul Peneliti: budaya masyarakat dan aturan diskriminatif sebabkan minimnya representasi difabel dalam riset (Dzulfikar & Reynold, 2020).
Sebelumnya, proses penulisan ini didapat usai penulis diberikan tugas saat rapat editorial untuk melakukan peliputan ini. Setelahnya, penulis mengikuti, mencatat, dan merangkum hasil webinar serta menyusun kerangka tulisan bersama dengan editor Luthfi Dzulfikar (pendidikan). Hasil dari rangka tulisan terlampir sebagai berikut.
Topic:
“4 tahun setelah UU Disabilitas, berbagai tantangan masih menghambat penggunaan perspektif difabel dalam riset”
Intro
- Peneliti mengatakan…
- Mereka menyampaikan ini pada webinar…
- Statistik / data tentang riset difabel di Indonesia..
- Padahal penting. Studi menunjukkan…
Tantangan 1 - Cara pandang belum berubah
Tantangan 2 - Belum ada program pemerintah yang mewajibkan inklusi difabel
Tantangan 3 - Banyak halangan institusional dari negara
Apa yang bisa dilakukan?
- Kolaborasi dengan NGO
- Libatkan difabel sebagai konsultan/asisten/subjek penelitian.
Sesudah kerangka terbentuk dan difinalisasikan, penulis berlanjut membuat draft artikel mengikuti karakteristik peliputan panjang yang dibuat oleh Wendratama (2017, p. 72). Dengan maksud, artikel jenis ini dituntut untuk bisa menjawab “How” dan
“Why” sebagai fokus utama. Selain itu, secara teknis, dalam proses penulisan, penulis juga ditekankan untuk bisa menguasai metode hard news (p. 76) seperti penggunaan lead dan struktur tulisan dengan baik.
Pada lead misalnya, dibuat secara panjang dan tidak langsung merangkum keseluruhan berita ataupun pendek dan to the point. Akan tetapi, lead harus bisa menggambarkan seluruh isi dari artikel. Sebab, lead menjadi ‘daya tarik’ bagi pembaca untuk bisa melihat lebih dalam.
Terkait dengan struktur tulisan, Wendratama (2017, p. 61) juga memaparkan metode piramida terbalik sebagai dasar dalam produk artikel jurnalistik. Hal tersebut untuk menunjukkan bagaimana pengurutan konten terpenting harus berada di bagian atas dilanjutkan dengan isi paling umum di bagian bawah (gambar 3.8).
Gambar 3.8 Penggambaran piramida terbalik
Sumber: Olahan penulis (dikutip dari Wendratama, 2017)
Kembali kepada prosesnya, sesudah penulisan selesai dilakukan, penulis meneruskan kepada editor untuk memasuki tahap
A
B
C Bagian lead (paling bernilai berita)
Penguraian lead (argument, bukti, kutipan, dll).
Umum (Konteks, relevansi, dll).
penyuntingan. Dari hasil tahap tersebut, editor merubah hampir keseluruhan artikel. Mulai dari penggunaan judul, lead, dan struktur penulisan. Saat ditanyakan, editor menjelaskan terdapat dua faktor;
struktur penulisan yang kurang jelas sehingga analisis dinilai kurang relevan dan penggunaan bahasa yang terlalu teoritis. Berikut salah satu pernyataan Lutfhi.
“Menurutku gaya bahasa penulisanmu masih cenderung ngawang-ngawang, ala2 tulisan IndoProgress yang berat2 hehe. Takutnya pembaca kita akan bingung memahami argumennya kalau terlalu rhetorical. Bisa dilihat lagi ya di artikel-artikel yang lain gaya bahasa TCID seperti apa.”
Namun, dikarenakan editor kurang menjelaskan secara detil letak dan posisi kalimat yang dirasakan kurang, setelah artikel sudah bersifat final, penulis mengkaji secara mandiri perubahan serta komentar yang dimaksud oleh editor melalui analisa di bawah ini.
Lebih lanjut, penulis turut mengaitkan dengan literatur yang sudah dipaparkan guna memperhatikan kesesuaian implementasi secara teoritis.
Empat tahun setelah UU Disabilitas, berbagai tantangan masih menghambat penggunaan perspektif difabel dalam riset
Keterlibatan kelompok inklusi sosial khususnya disabilitas dalam riset, masih tersendat.
Bagian judul:
Padahal, partisipasi yang diberikan oleh kelompok inklusi secara langsung dalam penelitian, memberi suatu efek besar bagi proses pembuatan kebijakan.
"Kemajuan sektor pengetahuan menjadi satu syarat utama untuk membangun kebijakan yang lebih baik", ujar Dina Ariyanti saat membuka webinar dengan judul “Why is the Gender Equality and Social Inclusion (GESI) approach Important in Research?”, Rabu (2/9).
Kegiatan webinar ini merupakan hasil kolaborasi dari Knowledge Sector Initiative for Research, Development, and Innovation (KSI4DRI) dengan Australia-Indonesia Research and Advocacy Network (AIDRAN), AIPJ2, J-PAL, Program PEDULI, Program MAMPU, and Pulse Lab Jakarta.
Pertemuan virtual ini mengatakan bahwa kaum disabilitas perlu dilibatkan dalam melakukan berbagai penelitian yang berkaitan dengan gender equality dan kelompok inklusi sosial terutama disaat pandemic COVID19 yang masih belum memberi pemerataan pada seluruh pihak, secara khusus disabilitas.
"Pandemi membuka mata kita semua, bahwa setiap orang
terpengaruh dari pandemi COVID19, mungkin kita jadi tersadar, yang sebelum pandemi kelompok disabilitas adalah kelompok yang termarjinalisasi. Pandemi ini, (jadi) membuat mereka semakin sulit mendapatkan hak-hak mereka”, jelas Dina selaku moderator.
Bagian argumentasi:
secara teori, hal ini sudah termasuk relevan dan to the point. Sebab, penulis menjelaskan
gambaran umum acara, pihak apa saja yang mengadakan, dan pembahasan umum webinar tersebut secara mendetil.
Urgensi Penelitian Inklusi
Data dari Badan Pusat Statistik pada [Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015] melaporkan terdapat 21,5 juta penduduk Indonesia mengalami keterbatasan fisik.
Hal tersebut menjadi menunjukan pentingnya representasi dan perlindungan hak bagi kaum difabel yang selama ini masih menghadapi “marjinalisasi” di lingkup sosial. Termasuk dalam pembuatan kebijakan.
Oleh karena itu, penting peran akademis dalam proses pembuatan kebijakan yang didasarkan pada penelitian dengan fokus inklusi sosial diperlukan. Hal ini untuk memberikan suatu argumentasi yang berdasar.
Seperti yang disampaikan oleh salah satu pembicara dari webinar, Professor Karen R. Fisher, bahwa penelitian punya pengaruh untuk mendorong kebijakan terbentuk.
Sebab, peran disabilitas [masih minim dalam proses] pembuatan kebijakan yang memberi ruang representasi dan suara bagi setiap dari mereka.
Kebijakan yang terbentuk pun dapat sesuai dengan apa yang dibutuhkan pada beberapa bidang, misalnya infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Bagian argumentasi (II) : secara teori, penulis telah menambahkan beberapa data dan kutipan pendukung.
Akan tetapi, hal ini dirubah oleh editor dengan menajamkan dan menambahkan data guna menunjukan minimnya
representasi
disabilitas dalam riset.
Namun, dibalik pentingnya partisipasi difabel pada riset, masih terdapat tantangan yang membatasi perkembangannya.