• Tidak ada hasil yang ditemukan

Radikalisme Sebagai Gerakan Sosial

C. Menimbang Radikalisme sebagai Gerakan Sosial

Sepanjang sejarah, gerakan radikal merupakan respons dan tan-tangan terhadap kemapanan. Kelompok-kelompok sosial dominan dan para elit yang mapan menjadi target dan sasaran perubahan gerakan radikal. Sebagai respons terhadap kemapanan, maka menurut Michael Useem dalam Jenkon and Form (2006: 332-334) menyebut bahwa gerakan radikal merupakan tindakan kolektif terorganisir, yang dimaksudkan untuk mengadakan perubahan, se-hingga tak ubahnya sebagai gerakan sosial.

Menurut David Mayer dan Sidney Tarow (1984: 4), gerakan sosial adalah respon atas tantangan-tantangan bersama yang didasarkan atas tujuan dan solidaritas bersama, dalam interaksi yang berkelanjutan dengan kelompok elit, saingan atau musuh dan pemegang otoritas. Sehingga gerakan sosial adalah bentuk paling modern dari politik perseteruan (contentious politics).

Pengorga-Radikalisme Sebagai Gerakan Sosial

nisasian, perumusan-perumusan ideologi, pencarian pengaruh dan dukungan, serta tindakan-tindakan kritis dan agregasi kepentingan merupakan ciri-ciri yang menandai gerakan sosial sebagai perse-teruan politik.

Sebagai tindakan-tindakan kritis, gerakan sosial didorong oleh keterbatasan distributif atas sesuatu yang bernilai secara sosial. Oleh karenanya, John McCarthy dan Mayer Zald (1977: 1212-1241) melihat gerakan sosial sebagai upaya terorganisasi untuk mengada-kan perubahan di dalam distribusi hal-hal apapun yang bernilai secara sosial. Sejalan dengan Mayer dan Tarow, Charles Tilly (2015) mendefinisikan gerakan sosial adalah upaya-upaya menga-dakan perubahan lewat interaksi yang mengandung perseteruan (contentious) dan berkelanjutan di atara warga negara dan negara.

Melalui definisi ini, Tilly menambah dimensi interaksi (interaction) dan keberlanjutan (continuity) sebagai ciri gerakan sosial.

Sejalan dengan dinamika perubahan sosial yang memunculkan pola-pola gerakan, maka berkembang pula konstruksi-konstruksi te-oritis dalam gerakan sosial. Perbedaan-perbedaan cara penekanan pada faktor-faktor yang digunakan dalam melihat realitas sosial telah menghasilkan perspektif teoritis gerakan sosial yang beragam.

Faktor-faktor yang digunakan itu diantaranya adalah sistem ke-percayaan atau keyakinan (believe system), proses, orientasi dan in-strumen yang digunakan. Pada awalnya sistem keyakinan dan ide-ologi dipandang sebagai akar dan sekaligus pemandu bagi muncul dan berkembangnya gerakan sosial. Dengan perkembangan dunia yang lebih rasional dan pragmatis, maka agama dan ideologi menempati fungsi yang berbeda.

Guna melakukan pembacaan terhadap gerakan-gerakan radikal dan counter terhadapnya, saya ingin mendiskusikan pergeseran cara pandang dalam melihat gerakan sosial. Pergeseran cara pandang yang saya maksud adalah perubahan dalam melihat sistem

ke-Islam Kontra Radikal

pelaku gerakan radikal, menjadi melihat pelaku dalam perspektif

“model aktor rasional”. Dari ketaatan ideologi sebagai pemandu ak-tivis gerakan, menjadi gerakan dipandu oleh penilaian taktis dan strategis dari biaya dan risiko. Dari ideologi sebagai variabel kausal gerakan, menjadi ideologi sebagai bingkai (frame) untuk mendapat dukungan dan partisipasi. Lebih dari itu, frame bukan dilihat semata-mata sebagai dasar ideologi, tetapi juga sebagai sarana persuasi.

Dengan nalar semacam itu, saya memandang pentingnya me-letakkan gerakan radikal dalam bingkai perubahan-perubahan sosial beserta ciri-ciri yang mendasarinya. Oleh karenanya, perspektif-per-spektif baru dalam melihat radikalisme menjadi sangat penting. Per-spektif yang saya maksud adalah perPer-spektif gerakan sosial. Dalam perspektif gerakan sosial, maka gerakan keagamaan atau setidaknya gerakan yang mengklaim sebagai gerakan agama seperti radikalisme ini, didekati dengan tiga bingkai: struktur kesempatan politik, struktur mobilisasi sumber daya, dan bingkai atau framing.

Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya, gerakan ke-lompok-kelompok keagamaan tersebut dilihat dengan perspektif

“gerakan sosial” karena gerakan keagamaan bukan semata-mata merupakan aktivitas keagamaan namun hal tersebut dapat disebut sebagai bagian dari gerakan sosial. Banyak gerakan sosial yang di-dorong oleh nilai-nilai agama, misalnya isu legalisasi perceraian telah mendorong terjadinya gerakan sosial di banyak belahan dunia yang didominasi Agama Katolik seperti Spanyol, Italia, dan Irlandia. Isu legalitas kontrasepsi juga telah mendorong gerakan sosial anti ter-hadap isu tersebut di beberapa negara.

Nilai-nilai agama juga telah menjadi pendorong terjadinya gerakan sosial menentang perbudakan di Amerika Serikat dan Inggris, karena perbudakan ini bertentangan dengan ajaran Kristen.

Revolusi Iran juga ditengarai didorong oleh gerakan keagamaan, yakni protes dari kelas menengah dan pemikiran Islam Syiah yang

Radikalisme Sebagai Gerakan Sosial

telah mampu memobilisasi massa menjadi gerakan politik menen-tang penguasa (Haryanto, 2015: 163-164).

Dari contoh-contoh tersebut dapat diketahui bahwa nilai agama menjadi faktor pendorong terjadinya gerakan sosial bernu-ansa politik. Dalam teori sosiologi, agama menduduki posisi penting dalam menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Misalnya teori yang dikembangkan oleh Durkheim, Marx, dan Weber, yang me-nyebutkan keterkaitan antara agama dan perubahan sosial. Demi-kian pula Talcot Parson, sebagaimana dikutip Haryanto (2015:

232), berpandangan bahwa agama berfungsi menggerakkan masya-rakat dalam perubahan sosial dan struktur masyamasya-rakat. Sistem atau nilai-nilai yang ada pada agama menjadi pengikat komitmen indi-vidu terhadap keyakinan dan agamanya, kemudian sistem simbol dalam agama tersebut berperan menjadi daya dorong gerakan masyarakat dan bahkan dapat menjadi penggerak revolusi.

Situmorang, (2007: 7-12), menyebut bahwa gerakan sosial dapat muncul oleh beberapa faktor yaitu; Pertama, struktur kesem-patan politik (political opportnuity structure). Maksudnya adalah pe-rubahan struktur politik dapat menjadi kesempatan terjadinya gerakan sosial. Dalam hal ini Eisinger, seperti dikutip oleh Situ-morang, menyebutkan bahwa revolusi dan atau aksi-aksi kolektif ter-jadi ketika akses politik dan ekonomi mulai ada keterbukaan. Se-dangkan ketika akses terhadap ekonomi dan politik tertutup maka aksi-aksi kolektif itu akan berkurang secara kuantitas.

Sementara itu, Mc. Adam (1982) dan Tarrow (1989), se-bagaimana dikutip Situmorang, berpendapat bahwa gerakan sosial terjadi ketika terdapat variabel berikut ini; (a) akses terbuka ter-hadap lembaga politik, (b) keseimbangan politik yang tidak stabil, (c) adanya konflik antar elit politik, (d) para penggerak perubahan diajak oleh elit politik untuk melakukan perubahan. Dalam proses menuju perubahan sosial tersebut, para pelaku perubahan

men-Islam Kontra Radikal

tujuannya, dan karenanya ketegangan politik dapat semakin meningkat.

Penjelasan proses politik melihat gerakan sosial menekankan konteks struktur kesempatan politik (political opportunity structure) sebagai penentu berlangsungnya gerakan sosial. Ada empat dimensi kesempatan politik yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan suatu gerakan: 1). Keterbukaan dan ketertutupan relatif dari sistem politik formal dan terlembagakan. 2). Stabilitas dan instabilitas ali-ansi kelompok elit. 3). Ada atau tidak adanya sekutu di tingkat elit.

4). Kemampuan aparat negara melakukan tindakan represi dengan caranya

Kedua, struktur mobilisasi; maksudnya adalah cara kelompok gerakan sosial melebur menjadi satu gerakan kolektif mencakup tak-tik gerakan dan bentuk organisasi gerakan sosial. Dalam struktur mobilisasi ini juga memasukkan struktur mikro yang ada di masyara-kat seperti unit-unit keluarga, jaringan pertemanan dan per-saudaraan, unit tempat bekerja, masyarakat akar rumput, dan lain-lainnya. Di sini dapat terlihat bahwa struktur mobilisasi dapat berupa struktur formal dan informal. Dengan demikian, struktur mobilisasi itu tidak lain adalah jejaring yang terlibat dalam menghubungkan aktor-aktor dalam gerakan.

Ketiga, proses framing; untuk mengetahui sebuah gerakan sosial salah satunya adalah melalui “framing” yang digunakan oleh ke-lompok tersebut, yakni bagaimana mereka membuat sebuah makna atas sesuatu hal dan memenangkan artinya. Dalam hal ini, para pelaku perubahan sosial bertugas membuat “makna” atas suatu isu atau masalah, sehingga masyarakat sasaran bersedia dan terdorong untuk bergabung melakukan perubahan. Dalam gerakan keagamaan juga berlaku demikian, bagaimana para pelaku atau elit kelompok tersebut memilih isu agama dan memaknainya.

Untuk mengakhiri diskusi teoretis ini, saya ingin mempertajam posisi ideologi, baik religius maupun sekuler, dalam struktur gerakan

Radikalisme Sebagai Gerakan Sosial

sosial. Saya memandang penting karena ada kritik sebagian kalangan bahwa dalam kerangka gerakan sosial agama hanya bersifat instru-mental. Dalam kaitan ini, ideologi sesungguhnya menempati posisi yang sangat penting dalam struktur gerakan. Budaya atau ideologi ditempatkan sebagai perantara antara kesempatan politik (faktor eksogen), mobilisasi organisasi (faktor indogen) dan aksi. Budaya atau ideologi adalah tafsir atau makna yang diberikan terhadap reali-tas yang sama-sama didukung oleh partisipan gerakan. Pada akhirnya kerangka penjelasan yang saya tawarkan untuk memahami radikalisme adalah kerangka yang tidak terpisah satu sama lain, menyatu seperti bingkai yang membatasi, sekaligus mengarahkan pembacaan kita.