• Tidak ada hasil yang ditemukan

Narasi, Nalar, dan Jaringan Literatur Islam Radikal di Indonesia

E. Narasi dan Framing Islam Radikal

1) Syari’ah vs Demokrasi

Melalui pendekatan induktif maka Rogan (2010) menunjuk-kan detail framing dokumen syariah dan demokrasi. Framing doku-men syari’ah itu terdiri dari framing whole story, meliputi empat perangkat framing mikro: (1) membela Islam dari konspirasi AS/Barat melawan Islam, (2) membela Islam dari demokrasi se-bagai agama murtad yang berlawanan degan Islam, (3) membela Is-lam dari aturan yang korup dan murtad di tanah IsIs-lam, dan (4) melindungi hukum syariah.

Sedangkan dalam kategori penilaian moral, ditemukan empat perangkat framing di dalamnya kategori sub frame klaim: (1) taat kepada Allah SWT itu saleh, (2) ketidaktaatan kepada Allah SWT adalah murtad, (3) jihad adalah kewajiban, dan (4) demokrasi

Narasi, Nalar, dan Jaringan Literatur Islam Radikal adalah agama yang bersaing dengan Islam. Di tengah empat sub-frame klaim tersebut, terdapat tiga perangkat dicatat dalam kategori subframe dukungan (support subframe): (1) sesuai perintah Allah SWT, (2) sesuai dengan perintah ulama, dan (3) sesuai dengan pan-dangan penulis fatwa.

Sementara dalam kategori penilaian identitas diri (self-presenta-tion), terdapat empat perangkat framing mikro spesifik sebagai beri-kut: (1) korban ketidakadilan yang tidak bersalah, (2) benar secara moral, (3) pembela Islam, dan (4) jihadis karena kebutuhan/ke-niscayaan. Pada akhirnya, dalam karakterisasi orang atau pihak lain/liyan (other), muncul tiga perangkat mikroframing yang diiden-tifikasi: (1) orang lain/liyan (other) sebagai bukan manusia, (2) orang lain/liyan sebagai kafir/kafir, dan (3) orang lain/liyan sebagai jahat.

Mengingat kecenderungan penulis untuk menggabungkan kutipan dari teks lain, maka dua sub kategori tambahan diidentifikasi dalam rubrik yang lebih luas dari referensi tekstual: (1) kitab suci dan (2) penulis/teks lainnya. Secara keseluruhan konstruksi framing bisa dilihat pada tabel 3.

Tabel 3

Frekuensi Perangkat Framing tentang Syari’ah vs Demokrasi

No Kategori Framing Frekuensi

1. Keseluruhan narasi/cerita (whole story)

a. Mempertahankan Islam dari demokrasi yang berlawanan

dengan Islam 96

b. Mempertahankan Islam dari pemimpin korup dan murtad

serta pendudukan tanah Islam 27

c. Melindungi hukum syari’ah 56

2. Pernyataan dan moral judgement a. Klaim

1. Menaati Allah SWT, Rasul, dan ulama adalah

benar/ibadah 28

Islam Kontra Radikal

No Kategori Framing Frekuensi

3. Jihad melawan kafir adalah kewajiban 11 4. Demokrasi bertentangan dengan Islam sebagai

agama dan murtad 84

b. Basis dukungan

1. Perintah/ajaran Allah SWT dan Muhammad SAW 35 2. Perintah/ajaran Ulama/pemimpin Islam 34

3. Pandangan pengarang 106

3. Presentasi diri (Self-presentation): “siapakah saya/siapakah kita?”

a. Secara moral abaik dan benar 37

b. Jihadis karena kewajiban Islam 6

4. Karakterisasi terhadap orang lain/liyan (characterization of other other): “siapakah orang lain?”

a. Non Mukmin/kafir 51

b. Jahat 13

5. Rujuan Tekstual/Textual Reference

a. Kitab suci 38

b. Pengarang/rujukan tekstual lain 34

Sumber: Rogan, 2010

Tabel 3 menyajikan frekuensi untuk masing-masing perangkat framing mikro yang diidentifikasi berdasarkan pembacaan cermat terhadap dokumen Syari’ah dan demokrasi. Perangkat framing mikro yang dominan yang teridentifikasi dalam keseluruhan narasi/cerita (whole story) adalah bahwa Islam harus dipertahankan dari demokrasi karena demokrasi adalah agama yang berlawanan dan bersaing dengan Islam dan karena itu murtad dari Islam.

Perangkat kedua yang paling penting adalah kebutuhan untuk melindungi dan melestarikan hukum Syariah sebagai kode etik inti penting bagi Muslim, dari demokrasi dan penguasa murtad negara Muslim. Framing seperti ini memposisikan Islam sedang diserang oleh ideologi yang bersaing, dan oleh karenanya prinsip-prinsip inti ajaran Islam harus dipertahankan. Logika ini dilanjutkan dalam kerangka penghakiman moral (moral judgment), dimana perangkat yang paling sering digunakan adalah demokrasi bersaing dengan

Narasi, Nalar, dan Jaringan Literatur Islam Radikal Islam. Mendewa-dewakan demokrasi adalah bertentangan dengan hukum Tuhan, karena demokrasi adalah aturan manusia.

Sebagai contoh, kutipan berikut mewakili kerangka jihadis radikal untuk masalah ini:

“Ketahuilah bahwa demokrasi, yaitu ''aturan rakyat'' adalah agama baru yang mendewakan massa dengan memberi mereka hak untuk membuat undang-undang tanpa terikat pada otoritas apapun. Un-tuk kedaulatan, seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya, adalah (setara dengan) otoritas absolut; tidak ada yang menggantikannya.

Mengenai hal ini, Abu al-Ali al-Mawdudi berkata: “Demokrasi ada-lah pendewaan manusia ... dan pemerintahan massa”. Dengan kata lain, demokrasi adalah agama kafir buatan manusia, yang dirancang untuk memberikan hak untuk membuat undang-undang ke massa sebagai lawan Islam, di mana semua hak legislatif milik Allah SWT, Dia tidak memiliki sekutu. ''Agama'' yang digunakan di sini berarti regulasi dan pengaturan kehidupan masyarakat. Demokrasi mem-buat sekutu/partner bagi Allah SWT atau musyrik terhadap-Nya.

Inilah yang menghasilkan korupsi yang tidak senonoh di bumi".

Mungkin yang paling dramatis, penulis fatwa (al-Zawahiry) memberikan penilaian sendiri tentang konflik, bahkan penolakan terhadap demokrasi bagi mereka yang bercita-cita untuk hidup sesuai hukum syariah. Argumen penolakan itu adalah: Pertama, di dalam demokrasi tidak ada batasan atau larangan untuk murtad (yang menurut hukum Syariah akan mendapatkan hukuman mati).

Hal ini terjadi karena konstitusi mendeklarasikan kebebasan be-ragama; demikian pula melalui konstitusi terjadi penghapusan jihad melawan murtad.

Kedua, dalam demokrasi terjadi penghapusan jihad di jalan Al-lah SWT, yaitu jihad melawan kemusyrikan dan penistaan, karena konstitusi menetapkan kebebasan agama. Ketiga, sistem demokrasi menghapus jizya dan kondisi dzimmi diterapkan pada mereka yang

Islam Kontra Radikal

karena celah yang diciptakan oleh premis persamaan, hak, dan kewajiban.

Keempat, adanya penghapusan kekuasaan laki-laki atas per-empuan. Fatwa al-Zawahiri mengajukan pandangan kontras melalui kutipan firman Allah SWT: “Pria memiliki otoritas atas wanita, ka-rena Allah telah membuat yang satu lebih tinggi dari yang lain” [QS. 4:

34]. Namun dalam demokrasi, perempuan memiliki hak untuk meniru martabat dan status hukum laki-laki. Itulah buah dari ''kesetaraan'', buah dari demokrasi.

Atas argumentasi kontradiksi demokrasi dengan Islam itu, maka dibangun klaim bahwa percaya pada demokrasi adalah ketid-aktaatan dan ketidaksetiaan pada kehendak Tuhan. Sedangkan menegakkan syari’ah adalah kepatuhan kepada Tuhan, merupakan kewajiban dan tindakan pengabdian. Ketidaktaatan pada Tuhan menghasilkan penghinaan dan ketidaksetiaan terhadap hukum Sya-riah.

Klaim argumentasi tersebut kemudian dikuatkan dengan pen-dapat dan pandangan penulis fatwa. Penpen-dapat dan pandangan penu-lis fatwa sering kali justru lebih banyak dipakai sebagai pembenar ter-hadap pandangan ini, kemudian dikuatkan dengan menggabungkan rujukan pada ayat al-Quran dan pandangan ulama lainnya se-bagaimana fatwa berikut:

“Kitab (al-Quran), Sunnah dan pendapat ulama-ulama, baik dulu maupun sekarang, semuanya dengan jelas menunjukkan bahwa menukar Syariah Islam dengan sesuatu yang lain adalah kekufuran.

Fatwa Syekh Islam, Ibn Taymiyya, dimana ia berkata: ‘Telah diketahui dengan baik (masyhur) dan pasti, bahwa berdasarkan Is-lam dan ijma’ (consensus) Muslim, siapa pun membenarkan kepatu-han pada sesuatu selain Islam, atau kepatukepatu-han pada hukum selain Islam Syariah Muhammad, ia adalah kafir. Seperti orang-orang kafir yang beriman beberapa bagian dari Kitab, sementara tidak mem-percayai sebagian yang lain. Seperti yang dikatakan Yang Allah

Narasi, Nalar, dan Jaringan Literatur Islam Radikal Maha Tinggi: ''Mereka yang menolak Allah dan utusan-Nya, yang mencari untuk membedakan antara Allah dan rasul-Nya dengan mengatakan kami percaya pada beberapa [ayat] dan menolak yang lain, berharap dengan demikian menemukan jalan tengah, tentu saja ini orang-orang kafir. Kami telah menyiapkan malapetaka yang memalukan bagi orang-orang kafir! "(Q.S 4: 150 151).

Jika diamati fatwa tersebut di atas, terdapat satu perangkat mikro (micro device) yang menonjol dalam kategori framing presen-tasi diri (self-presentation). Melalui perangkat mikro di dalam fatwa ini, diri mereka secara khusus menggambarkan sebagai orang yang benar secara moral, baik dalam ideologi maupun tindakan, seperti yang dapat diperoleh dari ajaran kitab suci dan ulama.

Secara komparatif, di dalam karakterisasi framing mengenai orang lain/liyan, perangkat yang dominan adalah yang lain (liyan) itu kafir, menjadi tidak beriman/non-Muslim. Presentasi diri dan karakterisasi liyan tersebut didukung oleh integrasi yang cukup seim-bang antara teks kitab suci dan teks pandangan ulama lainnya. Lihat contoh kutipan di bawah ini.

“Jadi siapa pun yang pernah meragukan kesempurnaan Islam, meninggalkannya demi salah satu sistem [pemerintahan] orang-orang kafir, yang seperti itu adalah kafir, membuat palsu semua ayat [al-Quran]. Allah SWT berkata: 'Tidak ada, kecuali orang-orang kafir, menyangkal Wahyu Kami' (Q.S 29:47). Islam memuliakan dan tidak dimuliakan; Islam tidak menerima pencampuran dengan [ideologi] lain. Jadi, siapa saja yang menyerukan Islam sambil men-ampilkan [sistem] perselingkuhan, seperti demokrasi atau sosial-isme, adalah orang kafir yang murtad. Allah SWT berkata: ‘Dan se-bagian besar mereka tidak percaya kepada Allah kecuali dengan mengasosiasikan (orang lain sebagai sekutu) dengan-Nya!" (Q.S 12: 106). Jadi, siapa yang mengaku sebagai “Muslim-demokratik'' atau seorang Muslim yang mengajak kepada demokrasi, adalah sep-erti seseorang yang mengatakan tentang dirinya sendiri: ''Saya

Islam Kontra Radikal

seorang Muslim Yahudi” atau ''Saya seorang Muslim Kristen”, yang lebih buruk dari yang lain. Dia adalah seorang kafir yang murtad.

Jelas bagaimana framing presentasi diri (self-presentation) dibangun dengan menggambarkan diri mereka sebagai orang yang benar secara moral, baik dalam ideologi maupun tindakan, seperti yang dapat diperoleh dari ajaran kitab suci dan ulama. Kemudian, memframing orang lain/liyan sebagai orang yang kafir atau murtad.

2) Jihad, Syahid, dan Membunuh Orang tak Bersalah