Muhamad Ali Nursalim MTs Negeri Sleman Kota
bangan seorang individu dalam sejarah telah terbukti karena hampir semua tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan adalah pembaca buku dan bahkan penulis buku, seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan M. Natsir (Taryadi, Alfons, 2003:53).
Selain mendapatkan informasi, membaca dapat membuka wawasan yang sangat luas. Membaca juga merupakan kunci untuk membuka pintu gerbang kesuksesan. Tidak ada orang di dunia ini yang sukses tanpa membaca. Membaca juga merupakan sarana untuk menuntut ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan di dunia ini sangat banyak dan tidak terbilang. Oleh karena itu, membaca perlu dibiasakan sejak dini. Semakin sering kita mem- baca akan semakin sulit bagi kita untuk tidak membaca.
Namun sangat sangat disayangkan, akhir-akhir ini kita jarang temukan pelajar yang gemar membaca. Malah kebanyakan mereka lebih memilih untuk main game, pergi ke warnet, dan jalan-jalan bersama teman keluar rumah. Mengapa tingkat dan minat membaca siswa begitu rendah? Beberapa kemungkinan penyebab rendahnya minat baca siswa antara lain, sebagai beri- kut.
1. Sistem pembelajaran belum memuat pelajar harus membaca buku, mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasikan karya-karya ilmiah, sastra, dan sebagainya. Dengan banyak waktu yang dihabiskan di sekolah untuk belajar, pelajar kadang berfikir bahwa waktu yang dihabiskan untuk belajar dan membaca di sekolah saja sudah cukup dan mereka cenderung tidak membaca materi dari guru di rumah. Mereka membaca atau mengulang materi dari guru jika besoknya akan ada ulangan atau ada Pekerjaan Rumah saja (Taryadi, Alfons, 2003:75).
2. Kurangnya dorongan dari guru agar pelajar mau membaca secara rutin. Jika semua guru memberikan dorongan selalu mengaitkan kegiatan membaca dengan proses pembelajaran dan pemberian penilaian, para pelajar dipastikan akan me-
maksakan dirinya untuk secara rutin membaca. Meskipun di tahap awal merasa terpaksa, lama-kelamaan membaca akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan membaca ini akan menum- buhkan budaya membaca.
3. Banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV mengalihkan perhatian pelajar dari buku. Selain itu, browsing
di internet terkadang lebih mengasyikan daripada harus membaca buku pelajaran yang mereka pikir terlalu mem- bosankan. Pelajar rela menghabiskan waktu dengan HP dan laptop mereka untuk membuka internet seperti bermain
Instagram, facebook, twitter, youtube, ataupun media lain daripada mencari hal-hal bermanfaat untuk kehidupan mereka ataupun membaca buku.
4. Banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti supermarket taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, dll. Tempat-tempat seperti ini kadang digunakan oleh para pelajar dewasa untuk bermain setelah pulang sekolah. Jika mereka dapat membagi waktu antara bermain di luar dengan belajar, kegiatan itu tidak akan masalah. Akan tetapi, kadang para pelajar ini lupa waktu jika sudah berada di tempat hiburan.
5. Terbatasnya sarana dan prasarana membaca, seperti keter- sediaan perpustakaan dan buku-buku bacaan yang ber- variasi.Masih banyak sekolah di Indonesia yang masih meng- andalkan ketersediaan buku paket saja untuk kegiatan bela- jar di kelas. Padahal, ketersediaan buku-buku bacaan pe- nunjang yang menarik dan bermutu akan sangat memotivasi siswa dalam memperluas pengetahuannya. Di beberapa sekolah yang telah memiliki fasilitas perpustakaan juga belum memiliki pelayanan yang baik. Koleksi buku per- pustakaan masih didominasi oleh koleksi buku paket. Bahkan, fasilitas beberapa ruang perpustakaan masih sumpek, sempit, dan kurang ventilasi. Penataan buku juga tidak teratur dan pada dasarnya perpustakaan belum memberikan kenyaman-
an sehingga kegiatan membaca dalam perpustakaan menjadi membosankan, tidak mengasyikkan dan tidak nyaman. Selain faktor-faktor tersebut di atas, penyebab rendahnya minat membaca siswa dapat juga berasal dari pengaruh orang tua atau keluarga. Keluarga dengan tingkat pendidikan yang rendah dan budaya membaca yang rendah juga akan menyebab- kan anak-anak mereka tidak memiliki tradisi membaca. Orang tua tidak membiasakan putra-putrinya sedari kecil untuk mem- baca maka ketika berada di bangku sekolah juga anak-anak tidak akan terbiasa membaca.
Bagimanakah cara untuk meningkatkan minat baca di kalangan pelajar yang tingkat kegemaran membacanya semakin rendah? Sebenarnya, usaha ini penting untuk dilaksanakan oleh pemerintah agar semakin banyak pelajar yang berkualitas dan berguna untuk bangsa dan negara di masa yang akan datang. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca para pelajar sebagai berikut.
1. Memperbaharui Sistem Pembelajaran Di Sekolah
Guru perlu memberikan tugas pembelajaran yang me- nantang dan menarik, misalnya dalam proses kegiatan bela- jar guru memberikan masalah yang dapat diskusikan ber- sama sehingga dapat mendorong siswa untuk menggali banyak informasi melalui aktivitas membaca. Sekolah juga perlu membuat program membaca setiap pekan melalui pendekat- an bahasa seperti “whole language”. Whole language adalah suatu pendekatan pengajaran bahasa secara utuh. Dalam pen- dekatan ini keterampilan menyimak, membaca, menulis dan berbicara diajarkan secara terpadu.
2. Meningkatkan Layanan Perpustakaan Di Sekolah
Ketersediaan bahan bacaan memungkinkan tiap pelajar untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepenting- annya. Dari situlah, tumbuh harapan bahwa pelajar akan semakin mencintai bahan bacaan dan memiliki pengetahuan
yang luas sehingga kemampuan berfikir kritis mereka semakin terasah. Hal itu dapat dilakukan melalui :
a. Penyediaan bahan bacaan yang variatif yang men- dukung pembelajaran dan mendorong siswa menyukai buku. Beberapa siswa memiliki minat yang berbeda pada buku, misalnya dari aspek bentuk, sampul, tam- pilan, dan desain buku yang berbeda dari tampilan buku-buku paket pelajaran, walaupun tema dan pem- bahasannya sama. Minat baca siswa mungkin juga tidak hanya pada materi yang tertuang dalam pelajar- an, tetapi pada pengetahuan lain yang belum tersaji dalam pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu, peme- rintah perlu menyediakan buku-buku bacaan yang
variatif, menarik dan bermutu, khususnya di tingkat SD sebagai penentu minat baca siswa dan tahap awal siswa memahami manfaat buku (Sondakh, 2005: 21). b. Peningkatan kinerja kepegawaian perpustakaan dalam
mengelola perpustakaan. Pelayanan perpustakaan meliputi kondisi ruangan yang cukup ventilasi, tidak
sumpek/gerah, bersih, luas, dan rapi dalam penataan indeks buku. Kondisi ini akan membantu pengunjung untuk merasa nyaman dan bersemangat berkunjung ke perpustakaan. Fasilitas pepustakaan sebaiknya juga sudah berbasis teknologi. Koleksi ilmu pengetahuan tidak hanya dalam bentuk buku dan kertas, tetapi telah tersedia dalam berbagai sarana teknologi seperti CD
dan data online yang lebih mudah diakses (Rimbarawa, 2006:30).
3. Membudayakan Cinta Baca Mulai Dari Keluarga
a. Menumbuhkan minat membaca anak sejak usia dini (pra sekolah).
• Mengenalkan buku-buku bacaan yang menarik perhatian anak, seperti buku cerita atau buku ber-
gambar. Minat membaca pada anak dibangun mulai dari minat terhadap buku.
•
Membawa anak sesering mungkin ke pusat-pusat buku, seperti perpustakaan, toko buku, bursa buku, dll.•
Membantu anak merancang kegiatan bermain yang melibatkan buku, seperti membuat kliping bergambar dari buku, majalah atau koran.•
Memberikan reward atas keberhasilan anak denganhadiah buku.
b. Menyediakan perpustakaan keluarga. Ketersediaan perpustakaan kecil keluarga akan membantu anggota keluarga terbiasa akrab dengan buku saat berada di rumah dan pada waktu berkumpul bersama anggota keluarga. Hal ini juga membantu anak mengenali dan menyukai buku sejak dini. Walaupun, buku tersebut sudah pernah dilihat/dibacanya. Terkadang anak tidak bosan untuk membaca ulang.
c. Menyediakan program wajib baca dalam keluarga.
Orangtua perlu menetapkan jam wajib baca. Tiap ang- gota keluarga diminta untuk mematuhinya. Sebaiknya, orangtua menyisihkan waktunya untuk membaca buku, atau sekadar menemani anak-anaknya membaca buku. Dengan begitu, anak-anak akan mendapatkan contoh langsung dari kedua orang tuanya.
4. Mengontrol Penggunaan Media Elektronik (Televisi, video game, telepon genggam, dan internet).
Peran orangtua dan guru sangat dibutuhkan dalam upaya ini, dimana guru dan orangtua bekerja sama memberi pemahaman kepada siswa/anak tentang dampak buruk penggunaan media elektronik yang tidak terkontrol karena dapat meyebabkan hilangnya waktu belajar dan menurun- nya kosentrasi.
Permasalahan rendahnya minat baca pelajar dan masyarakat Indonesia dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan dan ke- terampilan seseorang. Pada akhirnya, masalah ini berdampak pada kualitas kelulusan pelajar di sekolah dan kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depanny. Oleh sebab itu, beberapa solusi atau upaya yang telah disebutkan di atas hendaknya dapat direalisasikan bersama untuk mengatasinya.
Untuk mewujudkan bangsa berbudaya baca, bangsa ini perlu melakukan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan langkah awal sekaligus cara yang efektif me- nuju bangsa berbudaya baca. Masa anak anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan yang akan ter- bawa hingga anak tumbuh dewasa. Dengan kata lain, apabila sejak kecil seseorang terbiasa membaca, kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dewasa.
Keluarga menjadi faktor dominan dalam pembentukan karakter serta kebiasaan seseorang. Keluarga menjadi media yang efektif untuk menumbuhkan kebiasaan. Apabila dalam sebuah keluarga memiliki kebiasaan membaca, secara tidak langsung seluruh anggota keluarga dalam keluarga tersebut gemar membaca. Dengan kata lain, keluarga dapat dijadikan sebagai sarana pembinaan minat baca masyarakat. Dari kebiasa- an membaca di tingkat keluarga inilah, kemudian berkembang menuju budaya baca masyarakat
Pemerintah perlu mengoptimalkan sarana membaca sehingga membantu sekolah dan masyarakat dalam menciptakan budaya membaca seperti peningkatan layanan perpustakaan dan pener- bitan buku murah dan bermutu. Guru dan orangtua perlu mem- buat program-program tertentu untuk anak dalam menumbuh- kan minat baca dan meningkatkan kemampuan membaca dengan cara memberikan aktivitas yang menarik dan menantang. Anak juga perlu diberi pemahaman dan perlu diajarkan bagaimana mengontrol penggunaan media elektronik yang semakin gencar dan menarik sehingga tidak mengganggu aktifitas membacanya.
Masyarakat, orangtua, guru, dan pemerintah, hendaknya bersama-sama membantu anak untuk menjadi generasi yang cinta membaca dengan memberikan pemahaman kepada anak tentang pentingnya membaca dan mengondisikan lingkungan tempat anak tinggal (di sekolah dan di rumah) untuk terbiasa dengan aktivitas membaca. Dengan demikian, aktivitas mem- baca bukan lagi aktivitas yang asing dalam kehidupan sehari- hari. Akhirnya masyarakat yang gemar membaca akan terwujud dan aktivitas membaca menjadi aktivitas utama.
Sudah seharusnya sekolah dan guru membuat strategi jitu agar siswa terbiasa membaca. Gerakan membaca di sekolah wajib digalakan. Lomba-lomba membaca sekaligus lomba menulis di kalangan siswa harus terus dilaksanakan. Kewajiban membaca dengan pengawasan dan evaluasi oleh para guru juga akan mem- bantu gerakan membaca sekolah. Apa pun bentuk kegiatan, guru jangan lupa untuk memberikan penghargaan atas prestasi siswa yang menunjukkan kemampuan dan kemauan membacanya. Lebih dari itu, teladan dari guru adalah kunci utama untuk suksesnya semua program membaca.
DAFTAR PUSTAKA
Alfons, Taryadi. 2003. Indonesia Baru. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.
Sondakh, Angelia. 2005, Perpustakaan dan Peningkatan SDM.
Bandung : Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Daerah Jawa Barat.
Nunu, dkk. 2008. Quick Reading Melejitkan DNA Membaca. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Rimbarawa, Kosam. 2006. Aksentuasi Perpustakaan dan Pustakawan. Jakarta: Sagung Seto.
http://ekookdamezs.blogspot.com/2010/04/faktor-faktor- yang-mempengaruhi- minat.html. di akses 20 April 2016 http://kompasiana.com/firlymashita/meningkatkan-minat-
http://wikipedia.com/rendahnya-minat-baca (online). di akses 20 April 2016
http://ekanatasari.blogspot.com/2012/10/kurangnya- kegemaran-membaca-di- kalangan.html. di akses 23 April 2016
SAMPAH Jam demi jam,
Hari demi hari, Minggu demi Minggu,
Kau selalu di mana- mana tempatmu. Di mana pun ada engkau,
Pasti ada bau yang tidak sedap,
Jika kau memenuhi sungai dan selokan, Banjir pasti akan melanda dirimu. Sampah,
Kau begitu wangi, Kau begitu sakit,
Sampai aku malas menciummu, dan hidupmu merana sepanjang hari, karena tidak ada yang peduli sama dirimu. Karya : Mursinah
Di terminal, pasar, perkantoran, pusat perbelanjaan maupun di lembaga pendidikan daerah ruang publik Berbah, Sleman, berceceran sampah. Meskipun, kerap kita temukan rambu atau tulisan “Buanglah Sampah Pada Tempatnya”. Tulisan tersebut sebagai bentuk ajakan agar kita tidak membuang sampah sem-