• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYEBAB DAN SOLUSINYA Shintya Putri Sharwista

Dalam dokumen CAHAYA PENA Antologi Esai 2016 (Halaman 190-198)

dan jiwanya sehat, ia akan tetap semangat melawan penyakitnya dan dapat meningkatkan keyakinan dan kepercayaan yang besar. Rasa malas sudah melanda sebagian besar kita. Apalagi bila rasa malas mulai melanda siswa, rasa malas itu akan memupus harapan bangsa. Oleh karena itu, rasa malas tentu berdampak buruk terutama bagi seorang siswa. Dampak kecil malas bagi seorang anak adalah prestasi belajar rendah. Mereka tidak memiliki keinginan untuk belajar sehingga motivasi belajar anak sebagai seorang siswa rendah. Ketika prestasi dan motivasi belajar siswa rendah, nilai mereka di sekolah jelek, bisa-bisa tidak naik kelas. Selain berdampak pada segi pendidikan, rasa malas juga berdampak pada segi kesehatan. Salah satunya obesitas. Obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan sehingga membuat tubuh gemuk. Terlalu seringnya bermalas-malasan seperti makan, ngemil sambil tiduran, dan menonton TV tidak dipungkiri dapat memicu obesitas. Anak tidak ingin melakukan aktivitas lain selain bermalas-malasan. Mungkin menurut mereka bermalas-malasan adalah kegiatan menyenangkan.

Tiada Hari Tanpa Belajar, Tiada Hari Tanpa Pengetahuan Ketika seorang anak mulai malas, minat mereka untuk mau belajar pun rendah. Menurut Slameto (2010:180) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memerhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Ketika siswa memiliki kegiatan yang mereka minati, mereka akan memerhatikan terus-menerus dengan rasa senang dan memeroleh rasa puas. Sayangnya, minat belajar siswa kini masih saja rendah, salah satu penyebab yang paling dominan adalah rasa malas itu sendiri. Mereka tidak termotivasi untuk belajar, mereka menganggap belajar itu tidak terlalu penting, padahal belajar itu sangatlah penting. Seperti yang dikatakan oleh Gagne dalam Slameto (2010:13), belajar ialah suatu proses untuk memeroleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. Ini berarti seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurang-

nya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya, seorang siswa menyadari bahwa penge- tahuannya, kecakapannya, dan prestasinya bertambah setelah belajar.

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan. Satu perubah- an yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. Seperti yang dikatakan oleh Surjadi (1983:2), perubahan yang terjadi ketika belajar berlangsung mempunyai sebuah aspek arahan (directional aspect). Kadang-kadang satu perubahan me- nimbulkan perubahan baru dalam arah cita-cita kehidupan dan kadang-kadang justru memperkuat arah belajar. Secara otomatis tanpa belajar tidak akan ada pengetahuan, jauh dari prestasi. Ia tidak akan merasakan adanya perubahan pada dirinya.

Belajar Kok Malas?

Belajar sangatlah penting untuk bekal di masa depan. Lalu mengapa harus malas untuk belajar? Padahal, sudah jelas belajar itu sangatlah penting. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai pengalaman individu itu sendiri (Aritonang, 2007:13). Kesadaran tentang pentingnya belajar ternyata belum tertanam pada diri sebagian siswa sehingga mereka tidak ter- motivasi untuk belajar. Motivasi ini kemungkinan belum tumbuh dikarenakan siswa belum mengetahui manfaat dari belajar atau belum ada sesuatu yang ingin dicapainya. Mengapa seorang anak malas untuk belajar? Karena ia merasa (entah perasaan itu benar atau tidak) bahwa ia tidak mampu mencapai apa yang ia inginkan (atau wajib ia capai) (Sutedja, 1989:12). Untuk mengatasi per- masalahan tersebut, ada baiknya kalau terlebih dahulu kita men- cari penyebab dari prilaku malas belajar, kemudian baru mencari solusi guna mengatasinya.

Belajar itu dapat dilakukan di mana saja, rasa malas pun dapat muncul di mana saja dan kapan saja pula. Rasa malas memang selalu mengitari diri kita. Tidak dipungkiri lagi ketika sedang semangat belajar terkadang secara tiba-tiba rasa malas muncul dan mengganggu. Jika belajar di rumah saja sudah malas, lalu bagaimana di sekolah? Ketika minat belajar di sekolah sudah rendah, apa yang mereka lakukan pun hanya pura-pura belajar atau belajar asal-asalan. Sekolah pun hanya sekadar rutinitas seharian yang berlalu begitu saja. Mereka akan memilih untuk meninggalkan sekolah alias membolos atau siswa akan sengaja terlambat masuk ke kelas. Tentu saja hal itu merupakan hal yang sangat tidak terpuji. Selain rasa malas serta rendahnya motivasi belajar, salah satu penyebab terpenting mengapa anak malas belajar, yaitu tidak memiliki tujuan. Anak tidak mengerti dengan benar tujuan mereka belajar di sekolah, “yang penting berangkat sekolah, bertemu dengan teman, bertemu dengan guru, presensi, pelajaran, istirahat, bermain, lalu pulang”. Mungkin ketidakmengertian itulah yang sering kita jumpai kini. Sebagian dari mereka juga memaknai pokok dari sekolah itu sangatlah penting untuk masa depan. Akan tetapi, masa depan seperti apa? Ketika anak tidak jelas untuk memahami tujuan sekolah, dia tidak akan termotivasi saat belajar di sekolah. Oleh karena itu, belajar akan lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan siswa.

Selain ketiga sebab pokok dari anak malas belajar di atas, anak malas belajar terutama di sekolah disebabkan beberapa faktor. Pertama, mereka merasa bosan berada di sekolah. Hal itu dapat disebabkan karena fasilitas sekolah yang kurang me- madai dan membuat siswa merasa jenuh dan tidak nyaman ber- ada di sekolah, misalnya saja ruang kelas panas, kotor, dan tidak nyaman, Kedua, cara mengajar guru dianggap menegangkan, kurang menarik dan membosankan. Rasa bosan itu akan me- nyebabkan anak tidak konsentrasi saat belajar anak. Bermain HP, tidak mengerjakan tugas, tidak mau memerhatikan, bahkan keluar kelas akan mereka lakukan untuk mengusir kejenuhan,

Ketiga, pengaruh teman sekolah. misalnya ketika salah satu teman merasa bosan dan malas berada di kelas maupun di sekolah dan dia ingin membolos, kemudian dia mengajak teman lainnya untuk ikut membolos bersamanya.

Move On Yuk!

Lalu, bagaimana solusi untuk mengatasi semua per- masalahan-permasalahan tersebut? Hal terpenting adalah jangan mempermudah munculnya rasa malas itu sendiri. “Semangat dan bangkit...!” kata-kata itulah yang semestinya ditanamkan pada diri kita. Untuk menghilangkan rasa malas, kita dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang menurut kita tidak membosankan, misalkan saja melakukan hobi kita. Rasa malas juga dapat meng- ganggu kesehatan. Alangkah baiknya jika hal itu dapat diatasi dengan baik, misalkan saja dengan berolahraga, memotivasi anak untuk mau bergerak dan beraktivitas, serta menjauhkan anak dari games dan TV karena akan memengaruhi mereka untuk terus bermalas-malasan. Bermain games dan menonton TV diperbolehkan, tetapi tentu ada batasannya.

Kita tentu juga bertanya-tanya bagaimana menumbuhkan minat anak untuk belajar di rumah maupun di sekolah? Untuk menumbuhkan minat belajar, peran orang tua sangatlah besar pengaruhnya. Selain itu, peran guru juga sangan dibutuhkan. Menurut Slameto (2010:171), motif keberhasilan seorang siswa terdiri dari tiga komponen; (1) dorongan kognitif, yaitu ke- butuhan untuk mengetahui, mengerti, dan memecahkan masalah. Makudnya, seorang siswa belajar untuk memecahkan masalah, (2) harga diri, yaitu ada siswa yang tekun belajar melaksanakan tugas-tugas bukan untuk memperoleh pengetahuan atau ke- cakapan, melainkan untuk memeroleh harga diri, (3) kebutuhan berafiliasi, yaitu siswa berusaha menguasai bahan pelajaran atau belajar dengan giat untuk memeroleh pembenaran dan pene- rimaan dari teman-temannya atau dari orang lain.

Berikut beberapa solusi perlu dilakukan agar siswa memiliki minat untuk belajar. Pertama, peran orangtua. Orangtua harus memberikan perhatian pada anak baik dengan cara memberikan contoh, hadiah, ataupun hukuman ketika anak memang benar- benar salah. Setiadarma (2003:132) menyatakan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan orangtua untuk mengarahkan per- kembangan pendidikan anak, yaitu dengan cara menolong me- reka belajar dan mengerjakan tugas-tugas dengan baik tanpa bantuan orang lain. Orangtua juga dapat membuat kesepakatan dengan anak mengenai cara belajar di rumah sesuai dengan minat mereka, serta memberikan kepercayaan agar mereka mempunyai tanggungjawab sendiri sebagai seorang siswa untuk belajar. Dalam situasi sekolah manapun anak harus menemukan dirinya sendiri, sanggup mengandalkan kemampuan verbal, serta ber- usaha sendiri. Dengan demikian menegakkan disiplin pada anak tidak selalu dengan suruhan atau bentakan. Menciptakan sua- sana belajar yang baik dan nyaman juga merupakan tanggung jawab orangtua. Setidaknya orangtua memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar, serta memenuhi kebutuhan sarana belajar. Selain itu, orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian.

Kedua, guru sebagai motivator harus dapat memotivasi dan mendorong minat belajar siswa. Diharapkan guru dapat men- ciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan efektif dan dapat mengembangkan daya eksplo- rasinya. Guru dapat menjalin komunikasi dua arah antara siswa dan guru mengenai model pembelajaran yang diinginkan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Selain itu, guru sebagai motivator harus memberikan arahan kepada siswa me- ngenai pentingnya sekolah dan belajar serta memberitahu me- reka mengenai tujuan ke depan mereka setelah lulus sekolah. Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan untuk berpartisipasi aktif. Selain itu, guru dapat meningkatkan minat siswa dan

membimbing siswa untuk mencapai suatu tujuan. Partisipasi aktif siswa penting dalam proses belajar-mengajar sehingga peran guru menjadi lebih banyak. Guru bukan hanya sebagai motivator saja tetapi juga sebagai pengelola belajar, pengarah belajar, fasilitator, narasumber, pembimbing, dan lainnya (Surjadi, 1983:1).

Ketiga, sekolah harus bertindak tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan siswa seperti membolos. Bertindak tegas disini dimaksudkan untuk membimbing dan mengarahkan siswa agar tidak lagi melakukan pelanggaran. Apa saja yang membuat siswa itu termotivasi belajar di sekolah? Faktor lingkungan, teman, dan guru sangat berpengaruh untuk menumbuhkan motivasi dan minat siswa untuk belajar. Belajar memerlukan sarana yang cukup sehingga siswa dapat belajar dengan tenang. Misalkan saja mereka termotivasi belajar di sekolah karena fasilitas di sekolah yang memadai dan nyaman serta ada seseorang yang mereka sukai sehingga mereka rajin ke sekolah dan belajar. Namun, harus diingat bahwa suasana sekolah yang jelek juga belum tentu membuat anak menjadi malas belajar (Sutedja, 1989:17). Meng- hilangkan rasa malas juga dapat dilakukan dengan menumbuh- kan kebiasaan disiplin diri dan menjaga kebiasaan positif lainnya.

Keempat, saling memotivasi antarsiswa. Seperti yang dikatakan oleh Fakhruddin (2012:24), semangat berkompetisi memberikan kualitas yang terbaik dari diri siswa dan dapat membuat siswa tersebut selalu bersemangat untuk belajar dan berkarya dengan baik. Hal tersebut terjadi karena semangat berkompetisi tersebut untuk saling memotivasi. Semangat berkompetisi antarsiswa tersebut dapat membuat mereka terus mencoba. Tidak jarang siswa yang memiliki semangat ini akan banyak bertanya dan berdiskusi dengan siapa pun. Mereka akan berusaha menampilkan yang terbaik. Berkompetisi bukan berarti saling membenci. Namun sebaliknya, berkompetisi berfungsi untuk dapat saling memotivasi. Kompetisi membuat siswa berusaha untuk memberikan yang terbaik dari yang mereka miliki. Tentu saja keadaan seperti ini akan membuat proses belajar menyenangkan dan berdaya ubah, yaitu menjadi lebih baik lagi.

Berdasarkan semua yang telah dibahas, rasa malas tentu sangatlah merugikan. Rasa malas akan memengaruhi minat siswa untuk belajar. Ketika malas mulai melanda, motivasi siswa untuk belajar pun rendah. Akibatnya, prestasi mereka menurun dan dari segi kesehatan penyakit seperti obesitas pun akan sangat mudah menyerang. Selain rasa malas dan motivasi belajar yang rendah, minat belajar anak rendah dapat disebabkan ketidak- tahuan tujuan sekolah maupun belajar. Mereka menganggap be- lajar tidaklah penting. Padahal, belajar akan sangat berpengaruh bagi perkembangan pengetahuan mereka ke depannya dan se- bagai bekal mereka di masa depan. Selain itu, menumbuhkan inisiatif belajar mandiri pada siswa dan menanamkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal yang bermanfaat untuk jangka panjang. Maka berhati-hatilah ketika malas belajar mulai merasuki diri siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, Keke T. 2007. Minat dan Motivasi dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Jakarta: BPK Penabur.

Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Cetakaan Kedua. Jakarta: PT Gramedia.

Fakhruddin, Asep Umar. 2012. Tips Membuat Anak Rajin Sekolah+Hobi belajar. Yogyakarta: Flash Books.

Iskandar, Harun. 2010. Tumbuhkan Minat Kembangkan Bakat. Jakarta: ST Book.

Satiadarma & Fidelis. 2003. Mendidik Kecerdasan. Jakarta: Pustaka Populer Obor.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.

Surjadi, A. 1983. Membuat Siswa Aktif Belajar. Bandung: Angkasa

Offset.

Sutedja, Heryanto. 1989. Mengapa Anak Anda Malas Belajar. Jakarta: PT Gramedia.

Dengarlah aku.

Suara hati ini memanggil namamu. Karena separuh aku.

Dirimu.

Sebait lagu Noah berjudul Separuh Aku terlantun dari mulut gadis kecilku. Anak usia TK tersebut dengan piawai dan lincah membawakan lagu itu sambil melenggak-lenggokkan tubuhnya bak artis dewasa. Sangat ironis! Anak usia Tk menyanyikan lagu dewasa yang sesungguhnya tidak sesuai dengan perkembangan usianya. Lalu, ke manakah gerangan lagu-lagu anak kini? Mengenang sejarah lagu anak

Apabila kita menengok era tahun 80-an, ingatan kita akan tertuju pada sederet artis cilik, sebut saja Hana Pertiwi, Novia Kolopaking, Cicha Koeswoyo, Ira Maya Sopha, dan sebagainya. Betapa pada masa itu anak-anak benar-benar menikmati masa kanak-kanak mereka. Lagu-lagu yang mereka nyanyikan sangat sesuai dengan perkembangan usia mereka. Anak-anak diajak tertawa, bermain, dan mengenal budi pekerti melalui sebuah

NYANYIAN RINDU GADIS KECILKU:

LAGU-LAGU ANAK KINI, KE MANA

Dalam dokumen CAHAYA PENA Antologi Esai 2016 (Halaman 190-198)