• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat

Dalam dokumen 67dca285ed648a6d27663388078d3fdd Lakip 2013 (Halaman 66-75)

BAB IV. PENUTUP LAMPIRAN LAMPIRAN

Tujuan 4 : Optimalisasi pengembangan ekonomi terutama ekonomi unggulan , dijabarkan dalam sasaran dan

A. METODOLOGI PENGUKURAN PENCAPAIAN KINERJA TAHUN

I. Sasaran 1: Meningkatnya IPM dari 69,42 pada tahun 2007 menjadi > 70 pada tahun

I.1. Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat

Prestasi capaian sasaran ini dinilai dari 5 (lima) indikator yaitu Penurunan Angka Kematian Bayi (AKB), Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Rasio jumlah penduduk dengan jumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya, Umur Harapan Hidup, Prevelensi Gizi Buruk.

- Angka Kematian Bayi (AKB)

Usia bayi merupakan bagian dari periode emas yang harus memperoleh pemantauan status kesehatannya. Hal ini dilakukan mengingat bayi masih sangat rentan terhadap penyakit-penyakit infeksi yang bisa jadi dapat mengancam keselamatan jiwanya.

Kematian bayi merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk melihat gambaran pembangunan manusia di suatu negara dari

program pemerintah terkait dengan target Millennium Development Goals (MDG s) bidang kesehatan.

Mortalitas bayi tahun 2013 terlapor 102 kasus kematian. Jumlah ini meliputi 86 kasus kematian neonatal (0-28 hari) dan kasus 16 kasus kematian post neonatal (29 hari 1 tahun). Jumlah kematian bayi tahun 2013 lebih dari 80% terjadi pada usia neonatal. Penyebab kematian bayi pada usia tersebut mayoritas karena asfiksia (40,67%). Penyebab lainnya adalah BBLR (27,90%), Prematur (5,8%) dan kelainan darah / ikterus, Apnome serta kelainan saluran cerna (23,25%). Faktor eksternal yang menjadi penyebab kematian neonatal adalah keterlambatan keluarga mengambil keputusan untuk merujuk ke Rumah Sakit. Sedangkan kematian bayi pada usia post-neonatal sebagian besar disebabkan karena riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) sebesar 31,25%. Selebihnya disebabkan oleh kelainan bawaan seperti anomaly dan hernia sokrotalis, paru dengan jantung bocor dan kelainan jantung. Selain itu keterlambatan keluarga mengambil keputusan untuk merujuk dan perawatan bayi resiko tinggi yang kurang adekuat menjadi factor eksternal yang mendukung terjadinya kematian.

Gambaran tentang kondisi kematian bayi di kabupaten Muara Enim sejak tahun 2008-2013 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.

Jumlah Kematian Bayi di Kabupaten Muara Enim Tahun 2008-2013

No. Indikator 2008 2009 2010 2011 2012 2013

1. Jumlah Kematian Bayi (jiwa) 5 23 87 100 69 102

2. Jumlah Kelahiran Hidup (jiwa) 16.671 15.299 15.375 15.750 16.727 17.496

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim tahun 2013

Jumlah kematian bayi pada periode lima tahun terakhir berdasarkan Tabel 1 berfluktuasi setiap tahunnya. Banyak faktor yang dapat dikaitkan menjadi penyebab kematian. Faktor penyebab

kronis pada ibu pada saat hamil yang bermula dari asupan gizi pada masa anak dan remaja yang kurang maksimal. Keadaan ini mengakibatkan janin yang dikandung tidak mendapat gizi yang baik sehingga lahir dalam kondisi yang kurang sehat. Faktor lain penyebab terjadinya kematian adalah keterlambatan keluarga mengambil keputusan untuk merujuk ke Rumah Sakit sehingga nyawa ibu dan atau anak terancam.

Data jumlah bayi yang tercantum pada Tabel 1, merupakan konstribusi lebih dari 70% kematian bayi terjadi pada usia neonatal (0- 28 hari). Kematian bayi pada usia tersebut adalah karena prematuritas murni (berat bayi lahir rendah = BBLR). Kondisi ini mengakibatkan bayi menjadi sangat rentan terhadap penyakit dan infeksi. Sedangkan kematian bayi pada usia post-neonatal (29 hari-<1tahun) sebagian besar disebabkan penyakit karena faktor dari lingkungan luar yang tidak sehat seperti diare.

Angka Kematian bayi (AKB) adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Target MDG s untuk Angka Kematian Bayi pada tahun 2015 adalah 23 per 1.000 kelahiran hidup. Namun, Angka Kematian Bayi untuk tingkat Kabupaten tidak dapat dihitung secara pasti mengingat tidak semua kematian bayi terlaporkan dengan baik dari fasilitas pelayanan kesehatan yang ada maupun dari masyarakat. Hal ini mengakibatkan informasi yang dapat disajikan adalah kematian bayi dilaporkan.

Target penurunan AKB kabupaten Muara Enim merujuk pada target MDG s Nasional. Tren perbandingan AKB kabupaten Muara Enim dilaporkan dengan Target penurunan AKB kabupaten periode 2008-2013 dapat dilihat pada Gambar 1

Gambar 1.

AKB Kabupaten Muara Enim Tahun 2008-2013

Sumber: Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim, 2013

Tren penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) berdasarkan Gambar 1 menunjukkan fluktuasi dalam periode lima tahun terakhir. Kondisi yang tampak meningkat disebabkan adanya perbaikan persepsi pada sistem pencatatan dan pelaporan serta penelusuran kasus (audit) kematian bayi menyebabkan data kematian bayi yang dilaporkan semakin akurat.

- Angka Kematian Ibu (AKI)

Kematian ibu berdasarkan International Classification of Diseases

(ICD-10) adalah kematian seorang perempuan pada saat hamil atau dalam waktu 42 hari setelah berakhirnya kehamilan (tanpa mempertimbangkan lama atau letak kehamilan) dari semua penyebab yang berhubungan atau diperberat oleh kehamilan tetapi bukan karena kecelakaan atau insiden. Kasus kematian ibu tidak berbeda halnya dengan kematian bayi, informasi yang disajikan adalah jumlah kematian ibu yang dilaporkan.

Kematian ibu maternal di kabupaten Muara Enim pada tahun 2013 berjumlah 19 orang dari 17.496 kelahiran hidup. Kematian ibu

maternal tersebut disebabkan oleh pendarahan (50%), hypertensi (30%), lain-lain / asma / jantung (20%). Faktor eksternal yang menjadi penyebab kematian ibu pada umumnya diakibatkan keterlambatan keluarga mengambil keputusan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Gambaran tentang tren kematian Ibu dalam periode 2008-2013 dipaparkan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2.

Jumlah Kematian Ibu di Kabupaten Muara Enim Tahun 2008-2013

No. Indikator 2008 2009 2010 2011 2012 2013 1. Jumlah Kematian Ibu (jiwa) 10 13 19 11 19 19 2. Jumlah Kelahiran Hidup (jiwa) 16.671 15.299 15.375 15.750 16.727 17.496

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim, 2013

Secara nasional jumlah kematian ibu dikonversi dalam bentuk indeks yang dikenal dengan Angka Kematian Ibu (AKI). AKI menggambarkan jumlah kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. AKI juga dapat digunakan dalam pemantau kematian terkait dengan kehamilan. Sensitivitas AKI terhadap perbaikan pelayanan kesehatan menjadikannya ector in keberhasilan pembangunan kesehatan.

Penurunan AKI menjadi salah satu target capaian dalam MDG s bidang kesehatan. Penurunan AKI pada Kabupaten Muara Enim merujuk pada target MDG s secara nasional. Target MDG s pada tahun 2015 adalah menurunkan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup.

Seperti halnya AKB, informasi AKI kabupaten disajikan dari konversi jumlah kematian ibu yang dilaporkan. Tren perbandingan AKI kabupaten Muara Enim dilaporkan dengan Target penurunan AKI kabupaten periode 2008-2013 dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2.

AKI Kabupaten Muara Enim Tahun 2008-2013

Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim, 2013

Tren pencapaian AKI Kabupaten Muara Enim berdasarkan data pada Gambar 2 menunjukkan fluktuasi. Adanya perbaikan dalam

ector pencatatan dan pelaporan, ector migrasi penduduk serta

fluktuasi kelahiran hidup menjadi ector penyebab perubahan

pencapaian AKI. Namun peningkatan dan penurunan kasus kematian ibu tersebut tidak melebihi target penurunan AKI kabupaten.

- Rasio jumlah penduduk dengan fasilitas Kesehatan

Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Kondisi ini pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat. Salah satu dari komponen

sumber daya kesehatan adalah tersedianya fasilitas kesehatan di masyarakat. Fasilitas kesehatan yang secara langsung menjadi unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan di masyarakat adalah puskesmas, puskesmas pembantu dan jaringannya.

a. Puskesmas

Puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) berdasarkan

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128 tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab

menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas memiliki fungsi sebagai berikut :

(1) pusat pembangunan berwawasan kesehatan (2) pusat pemberdayaan masyarakat;

(3) pusat pelayanan masyarakat primer (strata satu); (4) pusat pelayanan perorangan primer.

Wilayah kerja puskesmas meliputi wilayah kerja administratif, yaitu satu kecamatan atau beberapa desa/kelurahan dalam satu kecamatan. Sasaran penduduk yang dapat dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 25.000 - 30.000 penduduk. Namun, faktor luas wilayah, kondisi geografis, kepadatan penduduk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja puskesmas. Jumlah puskesmas dalam kabupaten Muara Enim sampai dengan pertengahan tahun 2013 tercatat 25 puskesmas. Hal ini disebabkan 6 puskesmas

berada di wilayah Kabupaten PALI. Gambaran

perkembangan jumlah tersebut dijelaskan pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3.

Perkembangan Jumlah Puskesmas Di Kabupaten Muara Enim

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim, 2013 P : Perawatan; NP : Non Perawatan

⃰⃰ )Puskesmas Kabupaten PALI

Jumlah puskesmas di kabupaten Muara Enim berdasarkan data pada Tabel 3 menunjukkan peningkatan mulai tahun 2010. Operasional seluruh puskesmas telah berjalan sepenuhnya namun yang teregistrasi di Kementerian Kesehatan RI baru tercatat 24 puskesmas. Puskesmas terakhir yang dibangun (tempirai) masih dalam proses registrasi.

Salah satu ector in yang digunakan untuk mengetahui

keterjangkauan penduduk terhadap puskesmas adalah rasio puskesmas per 100.000 penduduk. Terkait ector kondisi geografis dan luas wilayah, target rasio puskemas di kabupaten Muara Enim adalah 4 per 100.000 penduduk. Dalam kurun waktu 2008-2013 terjadi peningkatan rasio puskesmas. Rasio puskesmas pada tahun 2008 sebesar 3.33 meningkat menjadi 3.48 pada tahun 2013. Peningkatan ini merupakan upaya pemerataan puskesmas dalam menjangkau penduduk sasaran di wilayah kerjanya, seperti terlihat pada Gambar 3

NO Kecamatan Puskesmas PStatusNP 2008 2009 2010Tahun2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 SEMENDE DARAT ULU PAJAR BULAN

2 SEMENDE DARAT TENGAH TANJUNG RAYA

3 SEMENDE DARAT LAUT PULAU PANGGUNG

4 TANJUNG AGUNG TANJUNG AGUNG

5 LAWANG KIDUL TANJUNG ENIM

6 MUARA ENIM MUARA ENIM

7 UJAN MAS UJAN MAS

8 GUNUNG MEGANG GUNUNG MEGANG

TELUK LUBUK SUMAJA MAKMUR

9 BENAKAT -

10 RAMBANG DANGKU TEBAT AGUNG

MUARA EMBURUNG

11 TALANG UBI⃰ TALANG UBI

SUNGAI BAUNG

12 TANAH ABANG⃰ TANAH ABANG

13 PENUKAL⃰ SIMPANG BABAT

14 ABAB⃰ -

15 PENUKAL UTARA⃰ AIR ITAM

TEMPIRAI

16 RAMBANG SUGIH WARAS

17 LUBAI BERINGIN

SUMBER MULIA

18 LEMBAK LEMBAK

19 GELUMBANG GELUMBANG

20 KELEKAR KELEKAR

21 SUNGAI ROTAN SUKARAMI

22 MUARA BELIDA -

JUMLAH

Gambar 3.

Perkembangan Rasio Puskesmas per 100.000 penduduk Di kabupaten Muara Enim

Tahun 2008-2013

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim, 2013

Data perkembangan rasio berdasarkan Gambar 3 di atas menunjukkan bahwa sampai tahun 2013 satu unit puskesmas di kabupaten Muara Enim menjangkau 28.654-31.160 sasaran penduduk dalam wilayah kerjanya.

b. Puskesmas Pembantu (pustu)

Dalam rangka perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka puskesmas perlu ditunjang dengan unit pelayanan yang lebih sederhana yang disebut puskesmas pembantu (pustu). Pustu merupakan unit penunjang dengan ruang lingkup wilayah kerja yang lebih kecil. Wilayah kerja pustu diperkirakan 2 sampai 3 desa dengan sasaran penduduk antara 2.500 jiwa (luar Jawa Bali) sampai 10.000 jiwa (diperkotaan Jawa Bali).

Seperti halnya puskesmas, faktor luas wilayah, kondisi

geografis, kepadatan penduduk menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja pustu. Sampai dengan tahun 2013, pustu yang ada di kabupaten Muara Enim setelah terbentuknya Kabupaten PALI tercatat 91 pustu. Gambaran Pustu yang ada di kabupaten Muara Enim menurut kondisi tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini.

Tabel 4.

Kondisi Pustu di Kabupaten Muara Enim Tahun 2013

No Puskesmas

Pustu Menurut Kondisi

Baik RinganRusak RusakBerat Rusak Total Jumlah

1 2 3 4 5 6 7 1 PULAU PANGGUNG 1 2 2 5 2 PAJAR BULAN 3 1 4 3 TANJUNG RAYA 1 1 1 3 4 TANJUNG AGUNG 4 2 3 9 5 SUGIH WARAS 2 1 2 5 6 BERINGIN 1 1 7 SUMBER MULYA 2 6 1 9 8 TANJUNG ENIM 3 3 9 MUARA ENIM 6 1 2 9 10 UJAN MAS 3 1 4 11 GUNUNG MEGANG 3 1 4 12 TELUK LUBUK 2 1 3 13 SUMAJA MAKMUR 2 1 2 5 14 TEBAT AGUNG 2 1 1 4 15 MUARA EMBURUNG 1 3 2 6 16 GELUMBANG 6 3 9 17 LEMBAK 1 2 3 18 SUKARAMI 1 1 2 4 19 KELEKAR 1 1 Jumlah 38 20 26 9 91

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim, 2013 Tabel 5

Pustu Kabupaten Muara Enim Tahun 2013 NO KECAMATAN/PUSKESMAS Nama Petugas

KONDISI PUSTU Ket

Baik RinganRusak Ru sak Ber at Rusak Total

Listrik Air Bersih Pagar Tahun di Bangun (Ada/Tdk

Ada) (Ada/TdkAda) (Ada/TdkAda)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Dalam dokumen 67dca285ed648a6d27663388078d3fdd Lakip 2013 (Halaman 66-75)

Dokumen terkait