BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
Sasaran 4 Meningkatnya penegakan hukum dan pemberantasan KKN
3. Pengaduan realisasi belanja modal tidak sama dengan kontrak pengadaan pada Badan Penghubung;
4. Pengaduan klaim biaya rujukan Rumah Sakit PGI Cikini Jakarta ke Dinas Kesehatan Provinsi Papua;
5. Pengaduan atas Surat Pejabat Pembuat Komitmen Pembangunan Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) TA 2013 pada Dinas UMKM Provinsi Papua.
Dibandingkan dengan tahun 2014, jumlah pengaduan yang ditangani sebanyak 3 kasus lebih kecil dibandingkan tahun 2015. Capaian kinerja ini tercapai karena komitmen aparat pengawasan intern pemerintah dalam penegakan hukum dan pemberantasan KKN melalui penanganan pengaduan masyarakat.
Target Indikator kinerja sasaran persentase tindak lanjut atas rekomendasi temuan hasil pemeriksaan sebesar 55% tercapai 55,36% sehingga capaian kinerja indikator ini adalah 100,65%. Jumlah rekomendasi hasil pemeriksaan pada tahun 2015 secara keseluruhan, dari hasil pemeriksaan Inspektorat Provinsi Papua maupun Irjen Kementerian dan BPK RI adalah sebanyak 2.930 rekomendasi dan yang ditindaklanjuti sebanyak 1.622 rekomendasi sehingga diperoleh angka realisasi kinerja 55,36%. Capaian kinerja diperoleh dari perhitungan realisasi kinerja dibagi target yang telah ditetapkan dikalikan 100% sehingga diperoleh angka 100,36%.
Dibanding tahun 2014, persentase jumlah rekomendasi yang ditindaklanjuti adalah sebesar 46,95% sehingga pada tahun 2015 terjadi peningkatan persentase tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan sebesar 8,41%.
Penyelesaian tindak lanjut hasil pengawasan yang belum optimal disebabkan kurangnya sumber daya manusia yang melaksanakan pemantauan
tindak lanjut, adanya reorganisasi pada SKPD, adanya
mutasi/pensiun/meninggalnya pegawai maupun pihak ketiga yang bertanggungjawab dalam penyelesaian tindak lanjut hasil pemeriksaan serta kurangnya kesadaran pejabat pengganti pada SKPD penanggungjawab tindak lanjut untuk menyelesaikan tindak lanjut yang menjadi kewajibannya dengan alasan bahwa yang bertanggungjawab untuk menyelesaikan tindak lanjut terhadap rekomendasi adalah pegawai atau pejabat yang sebelumnya.
Langkah-langkah yang ditempuh untuk tindak lanjut atas rekomendasi temuan hasil pemeriksaan melalui pelaksanaan kegiatan pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan Inspektorat Provinsi, Inspektorat Jenderal Kementerian dan BPK RI dengan target seluruh SKPD yang telah diperiksa dan mempunyai kewajiban untuk menindaklanjuti temuan dan rekomendasi hasil pemeriksaan dan telah terealisasi atau terpantau seluruhnya.
Hasil dari pemantauan tindak lanjut tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Tindak lanjut temuan dan rekomendasi hasil pemeriksaan Inspektorat Provinsi Papua pada SKPD Provinsi Papua hingga 31 Desember 2015, pemantauan dilakukan terhadap seluruh SKPD yang telah diperiksa dengan jumlah temuan 684 (enam ratus delapan puluh empat) temuan dan 920 (sembilan ratus dua puluh) rekomendasi, telah selesai ditindaklanjuti sebanyak 263 (dua ratus enam puluh tiga) rekomendasi atau 28,59%, dalam proses sebanyak 97 (sembilan puluh tujuh) rekomendasi atau 10,54% dan belum ditindaklanjuti 560 (lima ratus enam puluh) rekomendasi atau 60,87%. Dari sebanyak 684 (enam ratus delapan puluh empat) temuan dan 920 (sembilan ratus dua puluh) rekomendasi, jumlah rekomendasi dengan nilai kerugian daerah sebanyak 258 (dua ratus lima puluh delapan) rekomendasi senilai Rp44.926.318.243,34; telah ditindaklanjuti sebesar Rp14.772.343.178,03 atau 32,88% dan sisa belum ditindaklanjuti Rp30.153.985.064,49 67,12% serta temuan kewajiban setor kepada negara/daerah sebanyak 110 (seratus sepuluh) rekomendasi senilai Rp16.987.665.607,00 telah disetor Rp3.912.979.222,27 atau 23,03% dan sisa belum disetor Rp13.074.686.384,73 atau 76,97%.
2. Tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan Inspektorat Provinsi Papua di Kabupaten/Kota hingga 31 Desember 2015, jumlah temuan sebanyak 351 temuan dan 462 rekomendasi, telah selesai ditindaklanjuti sebanyak 202 rekomendasi atau 43,73%, dalam proses sebanyak 182 rekomendasi atau 39,39% dan belum ditindaklanjuti 78 rekomendasi atau 16,88%. Dari sebanyak 351 temuan dan 462 rekomendasi, terdapat 60 rekomendasi dengan nilai kerugian daerah senilai Rp92.570.793.147,46 dan telah ditindaklanjuti senilai Rp72.956.323.228,37 atau 78,81% sehingga sisa belum ditindaklanjuti Rp19.614.469.919,09 atau 21,19%. Rekomendasi
kewajiban setor kepada negara/daerah sebanyak 71 rekomendasi senilai Rp48.713.627.886,70, telah disetor Rp9.845.475.264,00 atau 20,21% dan sisa belum disetor Rp38.868.152.622,70 atau 78,79%.
3. Tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri yang dilaksanakan tahun 2015 dan data hasil rapat pemutakhiran tindak lanjut hasil pemeriksaan di Jakarta tahun 2015, Hasil rapat pemutakhiran adalah sebagai berikut :
1) Hasil pemeriksaan tahun 2011: semua rekomendasi telah selesai ditindaklanjuti oleh SKPD terkait temuan sehingga laporan hasil pemeriksaan yang terbit tahun 2011 dapat dikeluarkan dari daftar tindak lanjut.
2) Hasil pemeriksaan tahun 2012: Saldo temuan yaitu 1 (satu) temuan dan satu rekomendasi yang harus ditindaklanjuti dengan status tindak lanjut dalam proses berupa temuan keuangan pada Biro Umum dan Perlengkapan Setda Provinsi Papua yaitu kerugian negara senilai Rp1.405.409.481,00 telah disetor Rp539.687.520,00 atau 34,40% dan sisa belum disetor Rp865.721.961,00 atau 65,60%.
3) Hasil pemeriksaan tahun 2013: terdapat 48 temuan dan 56 rekomendasi dengan status tindak lanjut 54 rekomendasi telah selesai, 1 (satu) rekomendasi belum ditindaklanjti, dan 1 (satu) temuan pada Badan Kepegawaian Daerah dinyatakan sebagai temuan yang tidak dapat ditindaklanjuti (TPTD) dengan alasan bahwa penanganan atas tindak lanjut temuan tersebut akan dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri dengan berkoordinasi dengan ASN.
4) Hasil pemeriksaan tahun 2014: terdapat 25 (dua puluh lima) temuan dan 28 (dua puluh delapan) rekomendasi dan dari rekomendasi tersebut telah ditindaklanjuti dengan status selesai sebanyak 5 (lima) rekomendasi, dalam proses 10 rekomendasi, 1 (satu) rekomendasi belum ditindaklanjuti dan 2 (dua) rekomendasi dinyatakan sebagai temuan yang tidak dapat ditindaklanjuti (TPTD) yaitu satu rekomendasi pada BPKAD dengan alasan LHP diterima setelah tahun anggaran 2014 berakhir (bulan Agustus 2015) sehingga rekomendasi terkait secara teknis tidak dapat ditindaklanjuti serta satu rekomendasi pada Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung dan Kesejahteraan Keluarga dengan alasan secara teknis temuan tidak dapat
ditindaklanjuti karena program PNPM tidak lagi menjadi urusan Ditjen PMD Kemendagri tetapi telah dilimpahkan menjadi urusan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi.
4. Tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan Inspektorat Jenderal Kementerian Teknis yang dilaksanakan tahun 2015 dan data hasil rapat pemutakhiran tindak lanjut hasil pemeriksaan di Jakarta tahun 2015, dapat disimpulkan bahwa terdapat 375 (tiga ratus tujuh puluh lima) temuan dan 466 (empat ratus enam puluh enam) rekomendasi dengan status tindak lanjut yaitu 141 (seratus empat puluh satu) rekomendasi telah selesai atau 30,26%, dalam proses tindak lanjut 34 (tiga puluh empat) rekomendasi atau 7,29% dan belum ditindaklanjuti 291 (dua ratus sembilan puluh satu) rekomendasi 62,45% dengan temuan keuangan berupa kerugian negara sebanyak 95 (sembilan puluh lima) rekomendasi senilai Rp3.431.439.722,25 telah disetor Rp744.876.627,50 atau 21,71% dan saldo belum disetor Rp2.686.563.094,00 atau 78,29%. Temuan keuangan berupa kewajiban setor pada negara/daerah sebanyak 12 (dua belas) rekomendasi senilai Rp975.416.468,00 telah disetor Rp16.550.000,00 atau 1,70% dan sisa belum disetor Rp958.866.468,00 atau 98,30%.
5. Tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan BPK RI Perwakilan Provinsi Papua yang dilaksanakan selama tahun 2015 dan hasil rekonsiliasi data tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK RI di Kantor BPK RI Perwakilan Papua pada bulan Desember 2015 adalah: rekomendasi temuan hasil pemeriksaan secara keseluruhan berjumlah 1.024 (seribu dua puluh empat) kejadian dengan nilai Rp626.248.837.003,72. Persentase penyelesaian tindak lanjut Rekomendasi adalah: jumlah selesai 363 rekomendasi atau 35,45% dengan nilai Rp127.688.397.154,00, belum sesuai/masih dalam proses tindak lanjut sebanyak 261 rekomendasi atau 25,49% dengan nilai Rp274.396.278.007,00, dan belum ditindaklanjuti sebanyak 400 rekomendasi atau 39,06% dengan nilai Rp224.164.161.834,00.
Alokasi anggaran yang digunakan untuk mencapai sasaran kinerja ke empat adalah sebesar Rp29.869.047.350,00 dan terealisasi Rp24.205.845.790,00 atau 81,04%. Efisiensi kinerja sasaran ini adalah sebesar 100,32% dibanding 81,04% yaitu 1,24% sehingga dapat dikatakan bahwa
dengan penyerapan anggaran sebesar 81,04% tercapai kinerja dengan kategori sangat berhasil yaitu sebesar 100,32%.
Salah satu amanat UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang otonomi Khusus bagi Provinsi Papua adalah terpenuhinya hak-hak dasar orang asli Papua. Terpenuhinya Hak-Hak Dasar Orang Asli Papua berupa Hak memperoleh Pelayanan Pendidikan, Kesehatan, Pemenuhan Kebutuhan Dasar, Hak Politik, dan Hak Budaya.
Untuk melihat kinerja pencapaian sasaran ini, diukur dengan 2 (dua) indikator kinerja utama yaitu : Persentase penduduk di atas garis kemiskinan dan Persentase penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial. Adapun pencapaian masing-masing indikator dimaksud sebagai berikut :
Tabel 3.7 Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran 5
INDIKATOR KINERJA SATUAN TARGET REALISASI CAPAIAN KINERJA
1 2 3 4 5
1 Persentase penduduk di atas
garis kemiskinan % 72,00 71,6 99,44 2 Persentase penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial % 5,00 0,95 19,00
Rata-rata Capaian Kinerja sasaran 59.22
Pencapaian Kinerja untuk sasaran ini berada dalam kategori rendah, dimana rata-rata tingkat capaian kinerja sasaran hanya mencapai 59,22 persen. Indikator persentase penduduk miskin dengan realisasi capaian kinerja sebesar 99,44 persen, masih di bawah target yang diharapkan sebesar 71.6 persen dari target 72 persen di tahun 2015. Namun selama lima tahun terakhir (2011 -2015) kondisi kesejahteraan masyarakat Papua kian membaik. Tercatat persentase penduduk miskin pada periode tersebut menurun secara signifikan sebesar 2,84 persen, yaitu dari 31,24 persen pada September 2011 menjadi
28,4 pada September 2015 walaupun mengalami kenaikan di tahun 2015 dibandingkan pada tahun 2014. Penurunan angka kemiskinan ini menggambarkan keberhasilan pemerintah daerah dalam pemenuhan hak-hak dasar Orang Asli Papua.
Gambar 3.3 Perkembangan Persentase Kemiskinan Tahun 2011-2015 31.24 30.66 31.52 27.8 28.4 25 26 27 28 29 30 31 32
Jan-11 Jan-12 Jan-13 Jan-14 Jan-15
Sumber : BPS Provinsi Papua, tahun 2016
Di lihat dari sebarannya, persentase penduduk miskin di kawasan perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di kawasan perkampungan. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi penduduk miskin masih berada di di kampung. Hal ini bisa dipahami karena penduduk kampung memiliki akses layanan publik yang lebih rendah, seperti rendahnya tingkat pendidikan dan mayoritas penduduk yang bekerja di sektor pertanian di mana nilai produk pertanian telah semakin menurun. Karenanya, masyarakat kampung memiliki pendapatan yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan penduduk perkotaan. Grafik berikut menunjukkan sebaran dan trendnya dari tahun ke tahun.
Tabel 3. 8 Penduduk Miskin berdasarkan Perkotaan dan Pedesaan Tahun 2001-2015
Kota Desa Kota+Desa
1 2 3 4 2001 9.23 53.14 41.8 2002 9.76 51.21 41.8 2003 8.32 49.75 39.03 2004 7.71 49.28 38.69 2005 9.23 50.16 40.83 2006 8.71 51.31 41.52 2007 7.97 50.47 40.78 2008 7.02 45.96 37.08 2009 6.1 46.81 37.53 2010 5.55 46.02 36.8 Mar-11 4.6 41.58 31.98 Sep-11 4.75 40.53 31.24 Mar-12 4.24 40.55 31.11 Sep-12 5.81 39.39 30.66 Mar-13 6.11 39.92 31.13 Sep-13 5.22 40.71 31.52 Mar-14 4.47 38.92 30.05 Sep-14 4.46 35.87 27.8 Mar-15 4.61 36.66 28.17 Sep-15 3.61 37.34 28.4
Tahun Persentase Penduduk Miskin
Kebijakan Pemerintah Provinsi Papua dalam rangka penurunan angka kemiskinan telah dilakukan secara konsisten melalui pelaksanaan Kartu Papua Sehat (KPS) dan Program Strategis Pembangunan Kampung (PROSPEK). KPS memberikan jaminan pembiayaan kesehatan bagi masyarakat khususnya Orang Asli Papua untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mulai dari tingkat puskesmas sampai dengan rujukan. Untuk PROSPEK mengalokasikan anggaran rata-rata 100 Juta per kampung di seluruh kampung untuk pengembangan ekonomi kampung sesuai dengan masing-masing komoditas unggulan lokal sehingga diharapkan masyarakat yang berada di kampung dapat mandiri dalam mengelola potensi yang dimiliki menuju kesejahteraan.
Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial, pencapaian kinerja dari indikator ini berada pada kategori rendah dengan capaian kinerja hanya sebesar 19 persen. Capaian kinerja ini dihasilkan dari target kinerja di tahun 2015 yang hanya mencapai 0,95 persen dari target yang ingin dicapai sebesar 5 persen. Salah satu penyebab rendahnya pencapaian target untuk tahun 2015 adalah meningkatnya secara signifikan jumlah PMKS sebesar
516.237 orang meningkat dibandingkan tahun 2014 jumlah PMKS hanya sebesar 171.041 orang atau meningkat sebesar 201,81 persen. Kenaikan ini berasal dari meningkatnya jumlah penduduk fakir miskin menjadi 437.640 jiwa dibandingkan tahun 2014 hanya 129.119 jiwa atau meningkat 238,94 persen.
Sumber : Dinas Kesejahteraan Sosial dan Permukiman
Apabila memperbandingkan antara jumlah yang tertangani dengan jumlah PMKS, memperlihatkan bahwa penanganan PMKS rata-rata hanya mencapai 0,36 persen pertahun dari tahun 2012-2015.
Sumber : Dinas Kesejahteraan Sosial dan Permukiman
Diperlukan penanganan secara komprehensif dan lintas sector untuk penanganan PMKS ini, bukan hanya menjadi ranah dari urusan Sosial tapi juga merupakan tanggungjawab berbagai sektor yang ada. Selanjutnya yang paling penting adalah merevitalisasi Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah yang bertugas melakukan analisa dan koordinasi tentang program-program penanggulangan kemiskinan.
Pencapaian kinerja ini juga diikuti dari realisasi anggaran hanya mencapai 85,46 persen dari alokasi anggaran sebesar Rp. 48,86 Milyar.
Urusan Kesehatan merupakan prioritas pembangunan di Provinsi Papua dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat Khususnya Orang Asli Papua. Salah satu keberhasilan dari pelaksanaan Otonomi Khusus Papua adalah terwujudnya masyarakat yang sehat sebagaimana amanat dari UU Nomor 21 Tahun 2001.
Terkait pencapaian sasaran tersebut, aspek penting terwujudnya masyarakat sehat dapat dilihat dari Persentase penduduk asli Papua yang terjangkau dalam kartu Papua Sehat (KPS), Angka Kematian Ibu per 100.000 Ibu melahirkan, Angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, Persentase penanganan penderita HIV/AIDS yang ditemukan dan mendapatkan ARV, Persentase kelahiran (partus) yang ditangani tenaga medis, Persentase Balita gizi buruk yang ditemukan dan mendapat perawatan, dan Angka usia harapan hidup.
Untuk tahun 2015 capaian kinerja sasaran ini menunjukkan kinerja yang sangat berhasil dengan rata-rata capaian kinerja sebesar 100,79 persen dengan predikat “sangat berhasil”.
Capaian ini menampakkan bahwa urusan kesehatan menjadi prioritas dalam pembangunan di Papua untuk menjawab tantangan aksesibilitas pelayanan kesehatan yang mudah dan berkualitas di seluruh wilayah Papua dalam rangka percepatan pembangunan Provinsi Papua.