BAB IV REKONSTRUKSI STUDI ISLAM
C. Meninjau Ulang Kurikulum
Melakukan pengembangan dan reorientasi Islamic Studies, khususnya pada level filsafat keilmuan, penting dilakukan, bahkan menjadi kebutuhan. Ada beberapa alasan yang menjadi sebabnya: pertama, Islamic Studies merupakan disiplin ilmu yang terbuka. Islamic Studies atau Dirasat Islamiyah adalah bangunan keilmuan biasa yang tidak harus disakralkan, tetapi harus diuji ulang validitasnya melalui perangkat konsistensi, koherensi dan korespondensi oleh kelompok ilmuwan sejenis.
Kedua, agama Islam bukan satu-satunya agama yang hidup
(living religion) pada saat sekarang ini. Dalam dunia sekarang ini terdapat banyak living religion yang mempunyai sistem tata pikir dan seperangkat nilai dan keyakinan sama persis seperti yang dipraktikkan oleh umat Islam, hanya saja kitab suci, bahasa yang digunakan, nabi atau rasul yang dijadikan tokoh charismatic dan panutannya, tata cara ritual peribadatannya serta letak geografis para pemeluknya berbeda.
Ketiga, hubungan dan kontak individu maupun sosial antara
berbagai etnik, ras, suku, dan agama sebagai akibat dari teknologi, transportasi, komunikasi dan informasi yang canggih sehingga memperpendek jarak dan tapal batas ruang dan waktu yang
biasa di pikirkan dan diimaginasikan oleh umat beragama pada abad-abad sebelumnya. Setiap saat, lewat media elektronik dan media cetak, apa yang terjadi pada belahan dunia lain menembus, menerobos, dan mempengaruhi tata cara berpikir umat beragama dan membangkitkan emosi mereka di mana pun mereka berada (Muhammad Abed al-Jabiri, 1991: 74-75).
Pendekatan studi Islam mencakup wilayah yang sangat luas, baik dilihat dari segi sumber, fungsi, relasi dengan agama lain, maupun ilmu pengetahuan. Agama Islam dalam konteks sekarang ini tidak lagi bisa dipahami hanya seperti pemahaman orang terdahulu yang hanya menitikberatkan pada kajian persoalan fikih klasik, kalam, keimanan, kredo, pedoman hidup, peribadatan, tetapi Islam yang berkaitan dengan persoalan historis empiris (M. Amin Abdullah, 2000: 4).
Apa yang dilakukan Prof. Amin ini, ditegaskan dalam buku beliau, Islamic Studies, dengan mengutip pendapat Mohammaed Arkoun;
“Para ahli fikih yang sekaligus teolog (mutakalllimun) tidak mengetahui hal itu. Mereka mempraktikkan jenis interpretasi yang terbatas dan membuat metodologi tertentu, yakni fikih dan perundang-undangan. Dua hal ini mengubah diskursus al-Qur’an yang mempunyai makna mistis-majazi, yang terbuka bagi berbagai makna dan pengertian, menjadi diskursus kaku dan … telah me nyebabkan diabaikannya historisitas norma-norma etika-keagamaan dan hukum-hukum fikih. Jadilah norma-norma dan hukum fikih itu seakan-akan berada di luar sejarah dan di luar kemestian sosial; menjadi suci: tidak boleh disentuh dan didiskusikan … Para ahli fikih telah me ngubah fenomena-fenomena sosio-historis yang
temporal dan bersifat kekinian menjadi semacam ukuran-ukuran ideal dan hukum transenden yang kudus/suci, yang tidak dapat diubah dan tidak dapat diganti. Semua bentuk kemapanan dan praktik yang lahir dari hukum-hukum dan ukuran-ukuran ini kemudian mendapatkan aarde (ardiyyah) pengkudusan / pensakralan dan transendensi ketuhanan yang mencabutnya dari fondasi atau dari persyaratan-persyaratan biologis, sosial, ekonomi, dan ideologis. Demikianlah, historisitas diabaikan dan dibuang oleh ortodoks yang mapan. Keadaan seperti itu berlangsung terus sampai hari ini bahkan pembuangan historisitas itu menjadi bertambah-tambah dengan perjalanan waktu” (M. Amin Abdullah, 2006: 189).
Konstruksi keilmuan semacam itu membutuhkan kurikulum yang sesuai. Tidak ada artinya membangun konstruksi keilmuan secara mapan jika tidak bisa disampaikan secara sistematis kepada anak didik. Posisi kurikulum adalah sebagai acuan dalam pembelajaran, bukan barang mati yang tidak bisa berubah. Implikasinya, kurikulum harus terus-menerus diperbaharui agar senantiasa aktual, kontekstual, dan memiliki relevansi dengan dinamika perkembangan yang ada. Pada titik inilah, dibutuhkan perspektif yang kritis serta kesungguhan untuk menyusun kurikulum baru yang lebih mencerahkan.
Persoalannya, melakukan hal semacam ini bukan sesuatu yang mudah. Ada beragam tantangan yang harus ditundukkan. Namun demikian, usaha semacam ini harus terus menerus dilakukan demi perbaikan perguruan tinggi Islam ke depan. Berdasarkan pengamatan selintas, ada beberapa aspek yang menghambat dalam melakukan usaha semacam ini. Pertama, pandangan mayoritas dosen yang melihat kurikulum sebagai barang mati yang tinggal
dijalankan. Bagi kalangan yang seperti ini, kurikulum adalah sesuatu yang harus dipegang dan dipertahankan. Bukan hal yang aneh jika ada dosen yang mengampu satu mata kuliah tertentu selama puluhan tahun, tetapi yang disampaikan sama persis dari tahun ke tahun. Tidak ada sesuatu yang baru dalam proses perkuliahannya. Dosen semacam ini ibarat kaset yang tinggal memutar ulang dalam setiap pertemuan kuliahnya. Mereka ini tidak pernah meng-up date wawasan dan pengetahuannya agar terus maju dan berkembang.
Kedua, kualitas Sumber Daya Manusia. Menyusun kurikulum
baru yang terus dinamis dan kontekstual, walaupun kelihatannya se derhana, ternyata tidak mudah untuk dilakukan. Sebab, pe-nyu sunannya berkaitan dengan wawasan, cara pandang, dan pe mahaman secara utuh terhadap materi yang akan disusun. Oleh karena itu, dibutuhkan dosen yang memiliki khazanah pengetahuan yang luas. Sudah bukan rahasia lagi jika sebagian dosen di PTAI tidak memiliki tradisi belajar dan membaca yang baik. Membaca, apalagi menulis, dianggap sebagai sesuatu yang elit dan mewah. Dari ratusan dosen di sebuah PTAI, hanya sebagian kecilnya saja yang memiliki tradisi membaca dan menulis dengan baik. Dengan kondisi SDM yang semacam ini, maka menyusun kurikulum yang baik sebagaimana diharapkan menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan.
Ketiga, mentalitas. Arus globalisasi dan modernitas
meng-hadirkan sebuah fenomena baru yang mengglobal, yaitu; instant. Segala sesuatu inginnya dilakukan secara cepat dan mudah. Koentjaraningrat menyebut fenomena ini sebagai “jalan me-nerabas”. Munculnya beragam cara untuk mencapai sebuah tujuan dengan jalan pintas ini tampaknya berimbas juga di kalangan PTAI. Wujudnya adalah mentalitas praktis-pragmatis.
Menyusun kurikulum bukanlah pekerjaan mudah dan ringan. Dibutuhkan pencurahan energi secara maksimal, waktu yang lama, dan keseriusan, sementara dari sisi materi, tidak ada sesuatu imbalan memadai yang diharapkan. Dalam struktur mentalitas praktis-pragmatis, hal semacam ini tentu sangat jarang dipilih. Sehingga merupakan hal wajar manakala ada dosen berkomentar, “daripada susah bikin kurikulum, mendingan pakai yang ada saja. Mudah, praktis, dan ndak perlu mikir terlalu serius”. Inilah sebuah tantangan yang menjadikan ikhtiar penyusunan kurikulum yang baik tidak mudah untuk dilakukan.
Keempat, kesulitan implementasi. Kurikulum yang baik tidak
menjamin akan memberikan hasil yang baik. Kurikulum harus lah dipahami sebagai alat. Keberhasilannya sangat tergantung ke-pada beragam faktor yang antara satu faktor dengan yang lainnya saling berkaitan. Nah, salah satu hambatan implementasi kuri-kulum yang baik ada di tataran mahasiswa. Pada level magister dan doktor mungkin tidak menjadi persoalan yang berarti karena rata-rata mahasiswanya memang sudah memiliki modal untuk mengimplementasikan kurikulum. Tetapi pada level S1, hambatannya cukup banyak. Tradisi belajar dan semangat maha-siswa menuntut ilmu belumlah merata.
Selain keempat tantangan tersebut, tentu masih ada banyak tantangan yang harus dihadapi saat menawarkan kurikulum baru. Namun demikian, usaha yang bersifat konstruktif dan kreatif harus terus-menerus dilakukan agar pendidikan tinggi Islam semakin hari semakin cerah. Dalam bahasa kalangan motivator, semua persoalan tersebut seharusnya tidak diposisikan sebagai beban, tetapi sebagai tantangan yang harus ditundukkan. Harus dilakukan berbagai langkah strategis untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Kalah dan menyerah terhadap
tantangan tersebut berarti akan menutup pintu bagi masa depan PTAI yang lebih cerah di masa depan.