• Tidak ada hasil yang ditemukan

Selayang Pandang Fundamentalisme

BAB II FUNDAMENTALISME ISLAM:

B. Selayang Pandang Fundamentalisme

Mendefinisikan fundamentalisme ternyata tidak mudah. Ada beragam persoalan berkaitan dengan kerangka perumusannya. Salah satunya adalah kriteria. Hal inilah yang menjadikan sulit untuk menentukan siapa dan mengapa sebuah kelompok masuk dalam kategori fundamentalisme. Maka, definisi yang baik tentang fundamentalisme pun menjadi rumit.

Kerumitan definisi fundamentalisme disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, definisinya yang sering kabur dan memang sengaja makna yang sesungguhnya dikaburkan. Kekaburan ini menunjukkan bahwa fundamentalisme merupakan

sesuatu yang problematik. Setiap kali orang membicarakan tentang “fundamentalisme” agama biasanya mengacu pada pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi di negara-negara lain, baik di Timur Tengah, Afrika, Asia Tenggara, Amerika, dan Eropa. Rujukan lain yang digunakan adalah “fundamentalisme” dalam Kristen ataupun Katolik. Implikasinya, fundamentalisme, khususnya dalam Islam, dianggap tidak pernah ada. Istilah fundamentalisme hanya ada dalam agama selain Islam, seperti Kristen, Katolik atau Yahudi.

Kedua, istilah fundamentalisme memiliki tafsir sangat

longgar dan sangat sosiologis, tetapi tidak jarang menjadi tafsir yang sangat idiologis dan teologis. Fundamentalisme diartikan sebagai gerakan keagamaan yang mengacu pada pemahaman dan praktik-praktik zaman salaf (zaman Nabi dan sahabat) dengan berdasarkan al-Qur’an dan Hadis Nabi. Ditinjau dari perspektif ini, fundamentalisme sebenarnya biasa saja. Namun menjadi tidak biasa ketika fundamentalisme sering kali dihubung-hubungkan dengan problem kemasyarakatan umat beragama saat mereka lebih tertarik menggunakan cara-cara pemaksaan, kekerasan, menyalahkan pihak lain dan mengklaim pihaknyalah yang paling benar. Fundamentalisme pada akhirnya menjadi kosakata agama yang negatif, karena agama tampaknya dipahami serba tunggal, monolog, keras, mengancam, dan penuh kekerasan, bahkan bunuh-bunuhan atas nama Tuhan (Zuly Qodir, 2004: 35).

Walaupun memang rumit secara definitif namun definisi harus lah tetap dibuat. Sebab, dengan definisi akan diperoleh des kripsi yang memberikan gambaran tentang sebuah konsep. Demikian juga halnya dengan fundamentalisme. Definisi funda-mentalisme akan memberikan konsepsi secara lebih jelas mengenai apa yang dimaksud dengan fundamentalisme.

Secara etimologis, istilah fundamentalisme berasal dari kata fundamen, yang berarti dasar. Sedangkan secara terminologis, fundamentalisme adalah rankaian pemikiran keagamaan yang cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan secara rigid dan literalis (Mahmud Amin al-Alim, 1993: 10).

Perspektif berbeda diberikan Bassam Tibi. Tibi tidak mengait-kan fundamentalisme dengan agama tertentu, tetapi melihat fundamentalisme dalam era kontemporer sebagai bentuk ekspresi idiologis. Menurut Bassam Tibi, fundamentalisme merupakan gejala idiologis yang muncul sebagai respon atas problem-problem globalisasi, fragmentasi, dan benturan peradaban. Namun dalam perkembangan selanjutnya, agitasi fundamentalisme mengakibatkan kekacauan di seluruh dunia (Bassam Tibi, 2000: 8).

Menyimak dinamika pemaknaan terhadap fundamentalisme sebagaimana dipaparkan di atas, maka dapat dipahami bahwasanya istilah fundamentalisme tidak hanya terjadi pada agama tertentu. Pelabelan fundamentalisme terhadap gerakan Islam semata seperti yang sekarang terstigma merupakan suatu hal yang tidak tepat. Sebab, fundamentalisme dapat berlaku pada semua agama. Dalam agama Hindu, Budha, atau Kong Hu Chu, juga terdapat kelompok fundamentalis, yaitu mereka yang menolak butir-butir nilai liberal, saling membunuh atas nama agama, dan berusaha membawa hal-hal yang sakral ke urusan politik dan negara (Karen Armstrong, 2002a: x).

Adapun karakteristik yang menonjol pada fundamentalisme adalah skripturalisme (kitâbiy), yakni keyakinan secara harfiah terhadap kitab suci yang merupakan firman Tuhan dan dianggap tidak ada kesalahan (Richard T. Anton, 2003: 41). Keyakinan semacam inilah yang kemudian dikembangkan menjadi gagasan dasar bahwa suatu agama harus dipegang secara kokoh

dalam bentuknya yang literal dan bulat tanpa kompromi, tanpa pelunakan, tanpa reinterpretasi, dan pengurangan. Gagasan dasar ini dibingkai dalam kerangka metodologi yang kemudian melahirkan beberapa prinsip. Pertama, oposisionalisme

(al-mu’aridhah). Oposisionalisme ini merupakan bentuk perlawanan

terhadap ancaman yang dianggap membahayakan eksistensi agama, baik dalam bentuk modernitas, sekularisasi, maupun tata nilai Barat. Acuan atau tolok ukur untuk menilai tingkat ancamannya adalah kitab suci.

Kedua, penolakan terhadap hermeneutika. Penolakan ini

disebabkan karena mereka meyakini bahwa teks suci harus dipahami secara literal sebagaimana bunyinya. Alasannya karena nalar dipandang tidak mampu memberikan interpretasi yang tepat terhadap teks. Bahkan pada teks-teks yang satu sama lain saling bertentangan maknanya, nalar tidak dibenarkan melakukan semacam kompromi dan menginterpretasikan ayat-ayat tertentu.

Ketiga, penolakan terhadap pluralisme dan relativisme.

Pluralisme dinilai sebagai pemahaman yang keliru terhadap teks kitab suci. Pemahaman dan sikap keagamaan yang tidak selaras dengan pandangan mereka merupakan bentuk dari relativisme keagamaan, terutama yang muncul tidak hanya dari intervensi nalar terhadap teks kitab suci, tetapi lebih karena perkembangan sosial kemasyarakatan yang telah lepas dari kendali agama.

Keempat, penolakan terhadap perkembangan historis dan

sosiologis. Perkembangan historis dan sosiologis telah membawa manusia semakin jauh dari doktrin literal kitab suci. Kaum fun-da mentalis berpenfun-dapat bahwa seharusnya masyarakat yang harus menyesuaikan perkembangannya dengan teks kitab suci, bukan sebaliknya di mana teks atau penafsirannya yang me-ngikuti perkembangan masyarakat. Pada perspektif inilah kaum

fundamentalis itu bersifat ahistoris dan asosiologis. Mereka bertujuan untuk kembali kepada bentuk masyarakat ideal yang dipresentasikan pada zaman kaum salaf. Masyarakat ideal tersebut mereka anggap sebagai pengejawantahan kitab suci secara sempurna (Azyumardi Azra, 1993: 18-19).

Dinamika sejarah fundamentalisme memang mengalami per kembangan pemaknaan dan karakteristik. Makna yang se-ka rang berkembang, dalam perspektif hermeneutise-ka kritis Habermas (Mudjia Rahardjo, 2008: 67-68), lahir dari konstruksi pihak berkuasa yang sarat kepentingan. Sebab, yang menentukan horizon pemahaman adalah kepentingan sosial (social interest) yang melibatkan kepentingan kekuasaan (power interest) sang interpreter dan khususnya komunitas-komunitas interpreter yang terlibat dalam interpretasi. Dalam konteks fundamentalisme, pihak negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, yang mewarnai dan menentukan pemaknaan terhadap fundamentalisme sekarang ini. Kepentingan Barat adalah bagaimana menjadi penguasa dan menundukkan Islam. Berbagai cara mereka lakukan, termasuk membangun stigma negatif. Kerangka semacam inilah yang terus disosialisasikan dan dikembangkan oleh Barat demi tercapainya kepentingan dominasi mereka.