• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENJADI MANUSIA YANG BAIK 1. Etika Kewajiban dan Etika Keutamaan

Dalam dokumen Review Bab 1-8 buku etika karya bertens (Halaman 29-36)

Etika kewajiban, mempelajari prinsip-prinsip dan aturan-aturan moral yang berlaku untuk perbuatan manusia dan perlu diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Etika kewajiban digunakan untuk menilai benar salahnya perilaku manusia dan juga digunakan untuk mencoba menentukan prioritas dalam hidup.

Etika keutamaan, tidak begitu menyoroti apakah perilaku manusia sudah sesuai dengan norma moral, tetapi lebih berfokus pada manusia itu sendiri. Etika ini mempelajari keutamaan (virtue) atau sifat watak yang dimiliki manusia, apakah manusia itu baik ataukah buruk.

Etika kewajiban dan etika keutamaan ini saling membutuhkan satu sama lain karena moralitas selalu berkaitan dengan prinsip serta aturan (etika kewajiban) sekaligus dengan kualitas manusia itu sendiri dengan sifat watak yang dimilikinya (etika keutamaan). Di bidang moral, usaha untuk mengikuti prinsip dan aturan tertentu kurang efisien jika tidak disertai suatu sikap tetap (watak) manusia untuk hidup menurut prinsip dan aturan moral itu. Contoh keterkaitan kedua etika tersebut adalah akan sangat tidak praktis jika seorang guru, dalam menjalankan tugasnya sepanjang hari harus mengukur perbuatannya benar atau salah sesuai dengan prinsip-prinsip moral. Hal tersebut menjadi lebih efisien ketika tingkah laku guru tersebut diarahkan oleh keutamaan (watak) yang melekat pada batinnya seperti kesetiaan dan ketekunan kerja. Justru dalam kehidupan moral sehari-hari, etika keutamaan sangat dibutuhkan.

2. Keutamaan

Unsur-unsur yang terkandung dalam konsep keutamaan antara lain:

1. Keutamaan adalah suatu disposisi, artinya, suatu kecenderungan tetap.

Itu tidak berarti keutamaan tidak bisa hilang, tapi hal itu tidak mudah terjadi. Keutamaan adalah sifat watak yang ditandai stabilitas. Sifat watak yang berubah-ubah – hari ini begini, besok lain lagi – pasti tidak merupakan keutamaan. Keutamaan adalah sifat baik yang mendarah daging pada seseorang, tapi bukan sembarang sifat baik adalah keutamaan juga. Kesehatan atau kekuatan fisik adalah sifat baik, demikian juga daya ingatan atau daya konsentrasi kuat. Tapi sifat-sifat badani dan psikis itu bukanlah keutamaan, karena belum tentu terarah pada tingkah laku yang

baik dari segi moral. Jadi, keutamaan mempunyai hubungan eksklusif dengan moral. Keutamaan bagi kita sama saja dengan keutamaan moral.

2. Keutamaan berkaitan dengan kehendak.

Keutamaan adalah disposisi yang membuat kehendak tetap cenderung kearah yang tertentu. Kerendahan hati misalnya, menempatkan kemauan saya Iank ar tang tertentu (yaitu tidak menonjolkan diri) dalam semua situasi yang saya hadapi. Karena perkaitan dengan kehendak itu maksud atau motivasi si pelaku terjadi sangat penting, sebab maksud mengarahkan kehendak. Tidak mungkin perilaku keutamaan tanpa disertai maksud baik. Tapi jika maksud saya baik, namun karena maksud baik tadi, perbuatan saya tetap baik. Misalnya, jika beberapa kali perbuatan saya ditafsirkan orang lain sebagai sombong, saya tetap rendah hati, kalo maksud saya tidak demikian. Orang lain tentu tidak bisa melihat ke dalam lubuk hati saya. Di sisi lain, jika orang lain terus-menerus menafsirkan perbuatan saya sebagai sombong, tidak masuk akal lagi bahwa maksud saya selalu baik.

3. Keutamaan diperoleh melalui jalan membiasakan diri %ank arena itu merupakan hasil latihan.

Keutamaan tidak dimiliki manusia sejak lahir. Pada masa anak seorang manusia belum memiliki keutamaan. Ini sesuai dengan data-data psikologi perkembangan yang memperhatikan bahwa pada awal mula seorang anak belum mempunyai kesadaran moral (bandingkan J.Piaget dan L Kohlberg). Keutamaan terbentuk selama suatu proses pembiasaan dan latihan yang cukup panjang, dimana pendidikan tertentu memainkan peranan penting. Disini boleh ditambah lagi bahwa proses perolehan keutamaan itu disertai suatu upaya korektif, artinya, keutamaan diperoleh dengan mengoreksi suatu sifat awal yang tidak baik. Proses memperoleh keutamaan berlangsung “melawan arus”, dengan mengatasi kesulitan yang dialami dalam keadaan biasa. Keuramaan seperti keberanian, misalnya, diperoleh dengan melawan rasa takut yang lebih biasa pada manusia, bila menghadapi bahaya. Pengendalian diri sebagai keutamaan terbentuk dengan melawan kecenderungan yang bisa untuk mencari kesenangan tanpa batas. Dari uraian tadi menjadi jelas bahwa keutamaan sebagai sifat watak moral perlu dibedakan dari sifat watak non-moral. Dengan yang terakhir ini dimaksudkan sifat watak yang dimiliki manusia secara “alamiah” atau sejak dilahirkan. Bisa saja seseorang menurut kecenderungan alamiahnya bersifat

ramah atau periang. Tapi dua sifat watak non-moral itu dengan demikian belum merupakan keutamaan kebaikan hati atau riang hati. Bisa saja seseorang menurut kecenderungan alamiahnya tidak tahu bahaya, tapi dengan itu ia belum memiliki keutamaan keberanian. Namun demikian, walaupun sifat watak non moral tidak boleh disamakan dengan keutamaan, perlu diakui bahwa sidat watak yang baik semacam itu sangat bermanfaat untuk membentuk keutamaan dengan mudah dan lancar.

4. Keutamaan perlu dibedakan juga dari keterampilan (berbeda dengan keterampilan). Memang seperti halnya dengan keutamaan, keterampilan pun diperoleh melalui latihan, lagi pula berciri korektif. Seperti watak non-moral membantu memperoleh keutamaan, demikian pula bakat alamiah mempermudah membentuk keterampilan. Tapi di samping persamaan ini, ada perbedaan yang lebih menentukan. Kita bisa menyebut setidak-tidaknya empat macam perbedaan.

a) Keterampilan hanya memungkinkan orang untuk melakukan jenis perbuatan yang tertentu, sedangkan keutamaan tidak terbatas pada satu jenis perbuatan saja. Seorang pemain piano, pemain bulu tangkis, penembak jitu atau pilot pesawat terbang semua memiliki keterampilan yang memungkinkan mereka untuk melakukan perbuatan tertentu. Seorang yang berhasil menjadi juara bulu tangkis tentu hebat sekali di bidangnya, tapi tidak sanggup lebih dari orang lain, jika disuruh menembak jitu atau mengemudikan pesawat terbang. Tapi orang yang memiliki keberanian, kemurahan hati, kesabaran atau keutamaan apa saja tidak pernah terarah kepada jenis perbuatan tertentu saja. Sorang pemain bulu tangkis, penembak jitu, pilot pesawat terbang dan seribu satu orang lain semua bisa berkelakuan berani, murah hati atau menjalankan keutamaan lain. Dari segi jenis perbuatan, keutamaan mempunyai lingkup kemungkinan jauh lebih luas daripada keterampilan.

b) Baik keterampilan maupun keutamaan berciri korektif: keduanya membantu untuk mengatasi suatu kesulitan awal. Tapi disini ada perbedaan juga. Dalam hal keterampilan, kesulitan itu bersifat teknis. Jika sudah diperoleh ketangkasan, kesulitan teknis itu teratasi. Dalam hal keutamaan, kesulitan itu berkaitan dengan kehendak. Jika menghadapi bahaya, kita cenderung melarikan diri. Dengan memperoleh keberanian, kehendak kita mempunyai kesanggupan mengatasi ketakutan.

c) Perbedaan berikut berhubungan erat dengan yang tadi. Karena sifatnya teknis, keterampilan dapat diperoleh dengan – setalah ada bakat tertentu – membaca buku petunjuk, mengikuti kursus, dan melatih diri. Sedangkan proses memperoleh keutamaan jauh lebih kompleks, sama kompleksnya dengan seluruh proses pendidikan. Tidak mudah mengatakan bagaimana persisnya cara memperoleh keutamaan, tapi pasti tidak bida dengan hanya membaca buku interuksi atau mengikuti kursus saja.

d) Suatu perbedaan terakhir sudah disebut Aristoteles (384-322 S.M.) dan Thomas Aquinas (1225-1274). Perbedaan ini berkaitan dengan membuat kesalahan. Jika orang yang mempunyai keterampilan, membuat kesalahan, ia tidak akan kehilangan keterampilannya, seandainya ia membuat kesalahan itu dengan sengaja. Sedangkan membuat kesalahan dengan tidak sengaja, justru mengakibatkan ia kehilangan klaim untuk menyebut diri orang yang berketerampilan. Jika seorang pilot dengan sengaja mendaratkan pesawatnya dengan kasar(karena bermaksud mengagetkan pra penumpang, upamanya), ia tetap seorang pilot terampil, sebab ia bisa mendaratkan pesawatnya dengan halus juga. Tapi jika ia mendaratkan pesawatnya dengan kasar tanpa disengaja, ia tidak pantas disebut pilot terampil. Dengan keutamaan keadaannya persis terbalik. Jika seseorang yang baik hati dengan sengaja membuat jahat terhadap orang lain, ia tidak lagi di katakana mempunyai keutamaan kebaikan hati. Sedangkan jika tanpa disadari ia mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan orang lain, dengan itu ia belum kehilangan kualiasnya sebagai orang yang berkeutamaan.

5. Semua yang dikatakan tentang keutamaan ini berlaku juga untuk lawannya.

Semua yang dikatakan tentang keutamaan ini berlaku juga untuk lawannya. Dalam bahasa Inggris keutamaan disebut virtue (latin: virtus) dan untuk lawannya digunakan istilah vice (latin: vitium). Untuk yang terakhir ini dalam bahasa Indonesia bisa kita gunakan kata “keburukan”. Sebagai lawan keutamaan, keburukan pun adalah disposisi watak yang diperoleh seseorang dan memungkinkan dia bertingkah laku secara moral. Suatu perbedaan ialah bahwa keburukan tidak diperoleh dengan “melawan arus”, sebaliknya, keburukan terentuk dengan mengikuti “arus” sepontan. Tetapi perbedaan yang menentukan adalah bahwa keutamaan membuat orang bertingkah laku baik secara moral, sedangkan keburukan membuat orang bertingkah

laku buruk secara moral. Kekejutan hati adalah lawan keberanian. Kekikiran adalah lawan kemurahan hati. Dengan demikian dapat disebut keburukan untuk setiap keutamaan yang ada.

Menurut W.K. Frankena, ada dua keutamaan pokok, yaitu kebaikan hati (benevolence) dan keadilan. Tradisi yang berakar dari Plato dan Aristoteles ada empat keutamaan pokok (cardinal virtues), yaitu kebijaksanaan, keberanian, pengendalian diri dan keadilan. Dalam abad pertengahan tradisi ini dilanjutkan oleh Thomas Aquinas dengan menambahkan tiga keutamaan lagi yang disebut teologis, yaitu iman kepercayaan, pengharapan dan cinta kasih.

3. Ethos dalam Ethos Profesi

Sejalan dengan keutamaan individu yang lebih bersifat pribadi, terdapat juga suatu karakteristik yang membuat kelompok dipandang menjadi baik dalam moral yaitu ethos. Ethos menunjukkan pada ciri-ciri, pandangan, nilai yang menandai suatu kelompok. Menurut Concise Oxford Dictionary (1974), ethos didefinisikan sebagai suasana khas yang menandai suatu kelompok, bangsa atau sistem. Jika berbicara tentang “ethos profesi”, ethos disini menunjukkan suasana khas yang meliputi kerja atau profesi. Dimana, hal ini menunjukkan nilai-nilai luhur dan sifat-sifat baik yang menandai suatu profesi. Di dalam suatu kelompok profesi, pastinya ada anggota dari profesi tersebut. Untuk menjadi anggota suatu kelompok profesi yang baik, maka anggota tersebut harus ditandai dengan ethos profesi tersebut (mencerminkan ethos profesinya). Ethos profesi dapat dicerminkan dalam Kode Etik suatu profesi yang bersangkutan.

4. Tiga Kategori Perbuatan Moral dalam Teori-teori Etika

Dalam rangka mempelajari mutu moral dan perbuatan manusia, teori etika biasanya digunakan untuk membedakan tiga kategori perbuatan, antara lain :

a) Pertama, perbuatan yang merupakan kewajiban dan harus dilakukan. Seperti mengatakan sesuatau yang benar, menghormati privacy orang lain, dan lain-lain. Kita akan dianggap baik secara moral jika melakukan perbuatan-perbuatan ini. b) Kedua, perbuatan yang dilarang secara moral dan tidak boleh dilakukan. Seperti

berbohong, mengingkari janji, menyakati orang lain, dll. Kita akan dianggap buruk secara moral jika melakukan perbuatan-perbuatan ini.

c) Ketiga, perbuatan yang diizinkan secara moral atau dalam arti yang lain tidak dilarang dan tidak pula diwajibkan. Seperti bermain catur di waktu senggang, menonton siaran TV sepak bola di luar jam kerja, dan lain-lain. Perbuatan ketiga ini adalah netral dari sudut moral atau bisa disebut amoral yang artinya tidak baik dan tidak buruk juga.

Menurut Bertens (2011), adanya kategorisasi perbuatan moral itu mempersempit makna dari moralitas. Masih ada perbuatan jenis lain yang tidak kalah penting dalam menentukan kualitas moral manusia, yakni, perbuatan supererogatoris. Seseorang dinilai melakukan perbuatan supererogatis apabila yang ia lakukan melampaui kewajiban seseorang meskipun tidak ada yang akan mencela jika tidak melakukannya. Sehingga perbuatan tersebut dinilai sangat terpuji. Paling luhur di bidang moral.

Salah satu contoh dari perbuatan tersebut adalah seorang dokter yang secara sukarela pergi ke suatu daerah yang terjangkit wabah penyakit untuk memberikan pengobatan Cuma-Cuma. Tidak ada yang mencela atau menyalahkan dokter tersebut apabila ia tidak pergi ke daerah wabah tersebut, karena sekiranya akan berakibat buruk bagi dirinya. Lagipula, kegiatan tersebut hanya bersifat sukarela. Meskipun begitu, dokter tersebut memilih untuk melakukannya.

Perbuatan dokter tersebut tidak dapat dimasukkan dalam ketiga kategori tersebut. Padahal perbuatan-perbuatan tersebut ada dan mempunyai nilai moral yang besar. Hal tersebut merupakan kritik dari tiga kategorisasi moral, yakni, perlu ditambahkan kategori perbuatan-perbuatan supererogatis sebagai perbuatan yang paling luhur diantara ketiga kategori moral tersebut.

Beberapa catatan mengenai perbuatan supererogatif

Perlu dicatat bahwa perbuatan supererogatif bukanlah perbuatan yang dilakukan karena dorongan alamiah, melainkan karena motivasi etis yang murni. Misalnya, seorang ibu yang tanpa berpikir panjang langsung masuk untuk menyelamatkan anaknya di rumah yang terbakar. Perbuatan tersebut tentunya sangat terpuji, akan tetapi, tidak bisa dianggap suatu perbuatan moral dalam arti yang sebenarnya, karena sumbernya adalah emosi spontan yang sudah menjadi dorongan alamiah sebagai seorang ibu. Meskipun harus diakui bahwa sulit untuk membedakan perbuatan mana yang berupa emosi spontan karena sudah menjadi dorongan alamiah atau memang karena motivasi etis yang murni.

Setelah melakukan perbuatan yang supererogatif, seseorang terkadang akan mengatakan bahwa perbuatannya itu merupakan suatu keharusan dan kewajiban sebagai bagian dari pekerjaannya. Hal itu kemudian mempersulit untuk melakukan penilaian bahwa, apakah kata “harus” dan “kewajiban” itu sendiri merupakan arti yang sebenarnya atau digunakan hanya untuk terkesan rendah hati karena perbuatannya yang diperintahkan langsung oleh hati nurani. Selain itu, seseorang yang melakukan perbuatan supererogatif tidak akan menuntut orang lain melakukan hal yang sama dengan dirinya dalam situasi yang sejenis.

5. Orang Kudus dan Pahlawan

Dalam sebuah artikel, filsuf Inggris J.O. Urmson menjelaskan bahwa kata-kata “kudus” dan “pahlawan” mempunyai makna etis juga. Dalam artikel tersebut, terdapat hubungan erat antar dua kata ini. Ada tiga situasi dimana seseorang dapat disebut kudus atau pahlawan dalam arti ekslusif etis.

Situasi pertama kita menyebut seseorang kudus adalah ketika ia melakukan kewajibannya dimana banyak orang tidak akan melakukan kewajiban mereka, karena adanya keinginan tak teratur dan mengutamakan kepentingan diri sendiri. Misalnya orang yang jujur dan tidak melakukan korupsi, padahal di sekelilingnya banyak orang melakukan korupsi. Sedangkan kita menyebut seseorang pahlawan jika ia melakukan kewajiban dimana banyak orang tidak melakukan kewajiban mereka, karena adanya teror, ketakutan, dan kecenderungan alamiah untuk mempertahankan hidup. Misalnya seorang prajurit di medan perang yang tidak meninggalkan posnya, walaupun menghadapi bahaya maut. Pada situasi pertama ini, seseorang disebut kudus dan pahlawan karena adanya disiplin diri yang luar biasa yang tidak ditemukan pada kebanyakan orang. Walaupun dia ingin melakukan seperti kebanyakan orang, tapi dia mampu menekan keinginannya karena displin diri yang kuat tersebut,

Situasi kedua kita menyebut seseorang kudus dan pahlawan adalah ketika ia melakukan kewajibannya dimana banyak orang tidak akan melakukan kewajiban mereka namun bukan dikarenakan adanya disiplin diri, melainkan memiliki keutamaan dalam hal itu. Misalkan seseorang mampu mengatasi ketakutannya bukan karena disiplin namun karena dia sudah memiliki sifat utama berani. Pada situasi kedua ini, seorang kudus atau pahlawan akan lebih mudah dan tanpa usaha keras melakukan kewajibannya jika dibandingkan dengan situasi pertama.

Situasi ketiga kita berjumpa dengan orang kudus dan pahlawan dalam arti yang lebih istimewa. Yaitu dimana dia melakukan sesuatu yang melebihi kewajibannya. Misalnya seorang dokter yang dengan sukarela pergi ke daerah yang dilanda penyakit menular tanpa mempedulikan kerugian bagi kesehatan. Yang mana jika pun dokter tersebut tidak pergi, dia tidak akan ditegur dan dicela, karena toh banyak juga dokter lain yang tidak pergi ke daerah tersebut. Perlu dicatat bahwa yang dilakukan dokter tersebut secara sukarela bukan merupakan tugas atau paksaan.

BAB VII: BEBERAPA SISTEM FILSAFAT MORAL

Dalam dokumen Review Bab 1-8 buku etika karya bertens (Halaman 29-36)

Dokumen terkait