• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

3. Menulis

a. Pengertian Menulis

Menulis sebagai salah satu bentuk peristiwa komunikasi pada hakikatnya adalah menuangkan pendapat, perasaan, dan kemauan, serta informasi ke dalam tulisan dan “mengirimkannya” kepada orang lain (syafi’ie, 1988:45). Kegiatan menulis memerlukan suatu perencanaan. Setiap kali seoang akan memulai tulisan ia harus memulai perencanaan penulisan. Perencanaan mungkin ada dalam pikiran saja atau mungkin pula dituangkan secara rinci di atas kertas.

Selain itu menulis juga merupakan aktivitas komunikasi yang menggunakan bahas sebagai medianya. Wujudnya berupa tulisan yang terdiri atas rangkaian huruf yang bermakna dengan semua kelengkapannya, seperti ejaan dan tanda baca. Menulis juga merupakan suatu proses penyampaian gagasan, pesan, sikap, dan pendapat kepada pembaca dengan simbol-simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati bersama oleh penulis dan pembaca.

Ada beberapa persyaratan yang sebaiknya dimiliki seorang siswa untuk menghasilkan tulisan yang baik. Syafi’ie (1988:45) mengemukakan bahwa syarat-syaat tersebut adalah (1) kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis, (2) kepekaan terhadap kondisi pembaca, (3) kemampuan menyusun rencana penulisan, (4) kemampuan menggunakan bahasa, (5) kemampuan memulai tulisan, dan (6) kemampuan memeriksa tulisa. Selain itu, menulis juga dilaksanakan dengan melalui proses.

Menurut Akhadiah dkk (1998:45) menulis adalah suatu aktivitas bahasa yang menggunakan tulisan sebagai medianya. Tulisan itu sendiri terdiri

atasrangkaian huruf yang bermakna dengan segala kelengkapan lambang tulisan seperti ejaannya.

Kemampuan menulis adalah kemampuan seseorang untuk menuangkan buah pikiran, ide gagasan dengan mempergunakan rangkaian bahasa tulis yang baik dan benar. Kemampuan menulis seserang akan lebih baik ketika dia juga memiliki kemampuan untuk menemukan masalah yang ditulis, peka terhadap kondisi pembaca, mampu menyusun perencanaan, mampu menggunakan bahasa indonesia, mampu memulai menulis, dan mampu memeriksa karangan sendiri.

Kemampuan tersebut akan berkembang apabia ditunjang dengan kegiatan membaca dan kekayaan kosakata yang dimilikinya.

Sorenson (2000:12) mengemukakan bahwa proses menulis dilaksanakan melalui beberapa tahap. Tahapan tersebut adalah (1) persiapan menulis, (2) menulis, (3) revisi, dan (4) membaca ulang naskah tulisan.

Tahap persiapan menulis meliputi pengumpulan ide dan informasi, mencari topik, menentukan tujuan penulisan, menganalisis pembaca, menulis ide pokok, menganalisis materi atau pengelolah informasi yang terkumpul.

Tahap menulis meliputi kebiasaan menulis yang baik, yaitu mencari situasi atau waktu yang tepat dan melaksanakan rencana yang telah ditentukan, mengecek kembali apakah rencana tersebut sudah sesuai dengan persiapan menulis dan menggunakan metode yang digunakan kurang tepat, membiarkan ide itu mengalir, mengikuti teknik penulisan yang baik, tulisan sesuai dengan topik yang telah ditentukan, mengabaikan teknik menulis (sementara), menulis draf kasar.

Tahap revisi meliputi mengecek struktur paragraf, struktur kalimat, konsentrasi tulisan. Tahap membaca ulang tulisan meliputi kegiatan mengecek tanda baca dan tata bahasa. Keseluruhan tahapan dalam menulis itu sebaiknya dilaksanakan agar diperoleh tulisan yang baik.

b. Tujuan Menulis

Kegiatan menulis dilakukan dengan berbagai tujuan, yaitu untuk mengekspresikan diri, memberikan informasi kepada pembaca, mempersuasi pembaca, dan untuk menghasilkan karya sastra. Sejalan dengan pendapat tersebut, Reinking (1998:3) mengemukakan tujuan menulis secara umum adalah untuk menginformasikan, meyakinkan, mengekspresikan diri, dan untuk menghibur.

Tujuan informatif terkait dengan kegiatan menggambarkan suatu peristiwa atau pengalaman, menguraikan konsep-konsep, dan mengembangkan gagasan baru. Tujuan ekspresif terkait dengan kegiatan pengamatan terhadap orang, objek, tempat, dan mungkin memasukkan kegiatan memperkirakan serta menginterpretasikan sesuatu. Tujuan ini sering kali digunakan untuk hiburan dan kesenangan atau sebagai kegemaran. Tujuan persuasif terkait dengan latar belakang informasi, fakta, dan contoh-contoh untuk mendukung pandangan seseorang dalam tulisannya. Dua atau lebih tujuan tersebut akan menjadi kekuatan pendukung pada tujuan lain.

Selanjutnya, Reinking (1998:3) juga mengemukakan bahwa menulis mempunyai manfaat bagi penulis maupun pembaca, manfaat tersebut adalah (1) memberi kesempatan kepada penulis untuk merefleksikan dan meneliti ide yang iingin disampaikan dan memperbaharui materi-materi tulisan, (2) menulis menjadikan komunikasi lebih efektif, (3) menulis menjadikan gagasan yang

disampaikan dapat dibaca sepanjang masa, dan (4) informasi yang didapat dari tulisan lebih tepat daripada pendengar. Dari uraian di atas, tampaklah bahwa kegiatan menulis itu mempunyai tujuan tertentu dan bermanfaat baik bagi pembaca maupun penulis sendiri.

5. Paragraf Narasi a. Pengertian Narasi

Karangan narasi (berasal dari kata naration berarti bercerita) adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, dan merangkaikan tindak tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau berlangsung dalam suatu kesatuan waktu (Finoza, 2004:202). Narasi bertujuan menyampaikan gagasan dalam urutan waktu dengan maksud menghadirkan di depan mata angan-angan pembaca serentetan peristiwa yang biasanya memuncak pada kejadian utama (Widyamartaya, 1992:9-10). Menurut Semi (2003:29), narasi merupakan betuk percakapan atau tulisan yang bertujuan menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia dari waktu ke waktu.

Selajutnya, Keraf (1987:136) mengatakan karangan narasi merupakan

suatu bentuk karangan yang sasaran utamanya adalah tindak tanduk yang dijalin dan dirangkai menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu.

Atau dapat juga dirumuskan dengan cara lain; narasi adalah suatu bentuk karangan yang berusaha mengambarkan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, secara sederhana narasi merupakan cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam suatu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik.

Karangan narasi merupakan salah satu karangan yang dapat dijadikan alat untuk menyampaikan pangetahuan atau informasi kepada orang lain (keraf, 1987:3). Narasi melakukan penambahan ilmu pengetahuan melalui jalan cerita, bagaimana suatu peristiwa itu berlangsung. Karena lebih menekankan jalannya peristiwa, reproduksi masa silam merupakan bidang utama sebuah narasi.

Seseorang dapat menginformasikan sesuatu kejadian atau peristiwa pada orang lain dengan latar belakang kejadian yang nyata maupun rekaan.

Dalam menulis, penulis dituntut mampu membedakan antara narasi dan deskripsi. Narasi mempunyai kesamaan dengan deskripsi, yang membedakannya adalah narasi mengandung imajinasi dan peristiwa atau pengalaman lebih ditekankan pada urutan kronologis. Sedangkan deskripsi, unsur imajinasinya terbatas pada penekanan organisasi penyampaian pada susunan ruang sebagai mana yang diamati, dirasakan, dan didengar. Oleh karena itu, penulis perlu memperhatikan unsur latar, baik unsur waktu maupun unsur tempat. Dengan kata lain, pengertian narasi itu mencakup dua unsur, yaitu perbuatan dan tindakan yang terjadi dalam suatu rangkaian waktu.

b. Ciri-Ciri Karangan Narasi

Setiap karangan mempunyai ciri tertentu. Adapun ciri-ciri karangan narasi menurut Semi (2003:31), yaitu

1) Berupa cerita tentang pengalaman manusia;

2) Kejadian atau peristiwa yang disampaikan dapat berupa peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi, dapat pula berupa semata-semata imajinasi, atau gabungan keduanya;

3) Bedasarkan konflik. karena, tanpa konflik biasanya narasi tidak menarik;

4) Memiliki nilai estetika karena isi dan cara penyampainya bersifat sastra, khususnya narasi berbentuk fiksi;

5) Menekankan susunan kronologis (catatan: deskripsi menekankan susunan ruang); dan

6) Biasanya memiliki dialog.

Karangan narasi bisa berisi fakta bisa pula berisi fiksi atau rekaan yang direka atau dikhayalkan oleh pengarangnya. Narasi yang berisi fakta adalah biografi, otobiografi, kisah sejati, dan lain-lain. Sedangakan narasi yang berisi fiksi seperti novel, cerpen, dan cerita bergambar (Marahami, 2005:96). Selain dari itu, Semi (2003:32) juga mengatakan bahwa narasi dibagi atas dua jenis, yaitu narasi informatif yang sering disebut pula narasi ekspositoris, yang pada dasarnya berkencenderungan sebagai bentuk ekposisi yang berkecenderungan memaparkan informasi dengan bahasa yang lugas dan konfliknya tidak terlalu kelihatan. Kedua narasi artistik, narasi ini umumnya berupa cerpen atau novel.

Menurut Keraf (1987:133-139), narasi ekpositoris dan narasi sugestis memiliki ciri-ciri yang berbeda.

1) Narasi ekspositoris memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Memperluas pengetahuan;

b. Menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian;

c. Didasarkan pada penalaran untuk mencapai kesepakatannasional; dan d. Bahasanya lebih cenderung ke bahasa informatif dengan menitik beratkan

pada penggunaan kata-kata denotatif.

2) Sedangkan narasi sugestis memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

a. Menyampaikan suatu makna atau amanat yang tersirat;

b. Menimbulkan daya khayal;

c. Penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, sehingga kalau perlu penalaran dapat dilanggar; dan

d. Bahasanya lebih cenderung ke bahasa figuratif dengan menitik beratkan pada penggunaan kata-kata konotatif.

Berdasarkan kutipan di atas, tujuan narasi ekspositoris adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca agar pengetahuannya bertambah luas. Sedangakan narasi sugestis menyampaikan suatu makna kepada pembaca melalui daya khayal yang dimilikinya, sehingga dapat menimbulkan daya tarik bagi pembaca dari daya khayal yang dikembangkan oleh pengarangnya. Jadi, jelas

bahwa antara narasi ekspositoris dan narasi sugestis terdapat perbedaan tujuan pengarang dalam menarasikan suatu kejadian atau peristiwa.

c. Pola Pengembangan Narasi

Menurut Semi (2003:30), tulisan narasi biasanya mempuyai pola. Pola sederhana berupa awal peristiwa, tengah peristiwa, dan akhir peristiwa. Awal narasi biasanya berisi pengantar, yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh.

Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca. Dengan kata lain, bagian ini mempunyai fungsi khusus untuk memancing pembaca dan mengiring pembaca pada kondisi ingin tahu kejadian selanjutnya.

Bagian tengah merupakan bagian yang menjelaskan secara panjang lebar tentang peristiwa. Di bagian ini, penulis memunculkan suatu konflik. Kemudian, konflik tersebut diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda. Bagian terakhir ini konfliknya mulai menuju ke arah tertentu.

Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada bagian diceritakan dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan tulisan dengan teknik narasi dilakukan dengan mengemukakan rangkaian peristiwa yang terjadi secara kronologis. Dalam karangan ini, bagian-bagian karangan disajikan sesuai dengan kejadian dalam waktu tertentu. Bagian pertama menyajikan kejadian satu, kemudian disusul dengan kejadian kedua, menyajikan bagian kedua dan seterusnya.

Teknik pengembangan narasi diidentikkan dengan penceritaan (storitelling), karena teknik ini biasanya selalu digunakan untuk menyampaikan sesuatu cerita.

Karangan-karangan berbentuk cerita pada umumnya merupakan karangan fiksi.

Namun, teknik narasi ini tidak hanya digunakan untuk mengembangkan tulisan-tulisan berupa fiksi saja. Teknik narasi ini dapat pula digunakan untuk mengembangkan penulisan karangan nonfiksi (Syafie’ie, 1988:103). Seorang siswa dapat menuliskan darmawisata, seorang wartawan menuliskan laporan kunjungannya ke suatu negara, seorang arkheologi menuliskan jalannya panggalian sejarah yang dilakukannya.

Untuk menganalisis sebuah narasi dengan lebih cermat perlu kita ketahui narator dalam cerita. Menurut Parera dalam Khaeruddin (2013:11), secara umum narator dalam narasi dapat bagi tiga.

1) Narator bereaksi, di sini tokoh yang menceritakan cerita itu merupakan karakter utama. Ia menceritakan cerita itu dalam persona pertama.

2) Narator sebagai pengamat, di sini narator sebagai pengamat dari pinggir lapangan. Ia menceritakan cerita ini dalam persona ketiga.

3) Narator sebagai mahatahu, di sini narator tidak termasuk dalam cerita dan tidak berada dalam cerita. Ia berada di atas segala-galanya, ia tahu semua yang terjadi dalam cerita itu. Ia menceritakan dalam persona ketiga.

B. Kerangka Pikir

Peningkatan keterampilan berbahasa siswa masih sangat rendah. Seperti halnya keterampilan menulis sehingga masih perlu diadakan perbaikan yang terus menerus terhadap mutu pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, dalam meningkatkan mutu dituntut berbagai faktor terutama faktor kemampuan guru menggunakan metode mengajar sesuai dengan materi pembelajaran. Hal ini metode mengajar yang digunakan adalah metode curah gagasan.Berdasarkan kerangka teori penggunaan metode curah gagasan dalam pembelajaran menulis

karangan narasi pada siswa kelas X SMK Negeri 2 Sinjai Utara yang terdiri atas dua kelas dalam populasi yang telah ditentukan, yaitu kelas X ATR dan kelas X ATPK di SMK Negeri 2 Sinjai Utara. Kelas X ATR berlaku sebagai kelompok eksperimen, dan kelas X ATPK berlaku sebagai kelompok kontrol . Untuk lebih jelasnya perhatikan bagan di bawah ini:

Bagan Kerangka pikir

Pembelajaran Bahasa Indonesia

Aspek Keterampilan Berbahasa

Menyimak Berbicara Membaca menulis

Karangan Narasi

Kelas ATPK I (kelas kontrol) Kelas ATR ( kelas eskperimen

pertama)

Menerapkan metode Curah Gagasan

Tidak menerapkan metode curah gagasan

Hasil menulis karangan narasi

C. Hipotesis Penelitian

Merujuk pada rumusan masalah dan landasan teori yang ada, maka jawaban sementara dari penelitian ini adalah “Terdapat perbedaan nilai yang signifikan dari yang diterapkan metode curah gagasan dantidak diterapkan metode curah gagasan dalam pembelajaran karangan narasi pada siswa kelas X SMK 2sinjai utara.

20

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian eksperimen semu. Jenis penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan yang diberikan terhadap subjek yang diteliti. Kemudian membandingkan dengan variabel yang diberi perlakuan dan variabel yang tidak diberi perlakuanterhadap pembelajaran menulis karangan narasi. Kelompok esperimen diterapkan metode curah gagasan sedangkan kelompok kontrol tidak diterapkan metodecurah gagasan.

B. Desain Penelitian

Desain Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Nonequivalent control group Desainyang dapat dijabarkan sebagai berikut:

Tabel 3.1 Nonequivalent control group Desain Jenis

kelompok Treatment Posttest

𝑜1 X 𝑜3

𝑜2 𝑜4

Keterangan :

𝑜1 = Pretest kelompok eksperimen 𝑜3 = Pretest kelompok kontrol

𝑜2 = Kemampuan menulis karangan narasi pada siswa kelas eksperimen setelah dilakukan perlakuan

𝑜4 = Kemampuan menulis karangan narasi pada siswa kelas kontrol yang tidak diberi perlakuan

X = perlakuan dengan menggunakan metode curah gagasan.

(Sugiyono, dalam Amalia, 2014;47) 20

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas X SMK Negeri 2 Sinjai Utara. Populasi terdiri dari lima kelas X ATPK 1, X ATPK 2, X ATPH, X AP, X ATR, dan X MM.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2009 :215). Adapun yang menjadi sampel penelitian ini adalah dua kelas dalam populasi yang telah ditentukan, yaitu kelas X ATR dan kelas XATPK di SMK 2 Sinjai Utara. Kelas X ATR berlaku sebagai kelompok eksperimen dengan menerapkan metode curah gagasandalam pembelajaran menulis karangan narasi, dan kelas X ATPK 1 berlaku sebagai kelompok kontroldengan tidak menerapkan metode curah gagasan alam pembelajaran karangan narasi.

Tabel 3.3 Keadaan Sampel

No Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah

1

D. Definisi Operasional variabel

Untuk menghindari beberapa penafsiran, maka di bawah ini peneliti memberi beberapa defenisi operasional.

1. Curah gagasan adalah suatu teknik atau mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas, yaitu dengan melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru, atau dapat diartikan pula sebagai satu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang singkat.

2. Karangan narasi adalah Karangan narasi (berasal dari kata naration berarti bercerita) adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, dan merangkaikan tindak tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau berlangsung dalam suatu kesatuan waktu.

E. Prosedur Penelitian

Secara garis besar, penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Adapun uraian dari tahap-tahap tersebut adalah berikut ini.

1. Tahap Persiapan

Tahap ini dilakukan sebelum penelitian dilaksanakan. Rincian dari tahap persiapan adalah di bawah ini:

1) Menentukan pokok bahasan yang akan dipergunakan dalam studi literatur dari KTSP dan silabus;

2) Mengidentifikasi permasalahan mengenai bahan ajar, perencanaan pembelajaran, dan sebagainya;

3) Survei ke lokasi untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan untuk penelitian;

4) Meminta izin untuk peneltian dengan memberikan surat izin dari fakultas ke SMK Negeri 2 Sinjai Utara;

5) Menentukan populasi dan sampel;

6) Menentukan waktu pelaksanaan penelitian dengan berkonsultasi kepada guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X SMK Negeri 2 Sinjai Utara.

2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian dilakukan pada SMK Negeri 2 Sinjai Utara dengan tahap sebagai berikut.

1) Pelaksanaan pada kelas eksperimen

Di kelas eksperimen yaitu kelas X ATRdengan menerapkan metode curah gagasan dalam pembelajaran menulis karangan narasi. Pada pertemuan pertamadiberi pretest diambil dari materi yang akan menjadi bahan ajar yang pada pertemuan selanjutnya pembelajaran dengan menggunakan metode curah gagasan, kemudian pertemuan terakhir siswa diberi posttest dengan soal yang sama diberikan pada pertemuan pertama.

2) Pelaksanaan pada kelas kontrol

Di kelas kontrol yaitu kelas X ATPK 1 dengan tidak menerapkan metode curah gagasan dalam pembelajaran menulis karangan narasi. Pada pertemuan pertama diberi pretest diambil dari materi yang akan menjadi bahan ajar yang

pada pertemuan selanjutnya pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional (ceramah dan penugasan), kemudian pertemuan terakhir siswa diberi posttest dengan soal yang sama diberikan pada pertemuan pertama.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan pada peneltian ini yaknites yaitu pretest dan posttestberupa soal yang sama diiujikan kepada siswa kelas X ATR dengan

menerapkan metode curah gagasan dan siswa kelas X ATPK dengan tidakmenerapkan metode curah gagasan untuk mengetahui sejauh mana perbedaan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis karangan narasi.

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat-alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan dan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2002: 127).

G. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dipakai adalah Soal tes tertulis yang digunakan dalam penelitian ini berupa satu buah soal esai yaitu instruksi untuk membuat karangan narasi. Siswa mengerjakan soal tes sebanyak dua kali. soal pertama digunakan untuk mengukur kemampuan siswa menulis karangan narasi sebelum diberi perlakuan. Setelah itu, portofolio kedua digunakan untuk mengukur kemampuan siswa menulis karangan narasi setelah diberi perlakuan. Siswa menulis karangan narasi sesuai dengan topik dan permasalahan yang telah ditentukan sebelumnya. Adapun format penilaiannya adalah sebagai berikut.

Tabel 3.4 Skala Penilaian Karangan Narasi

1 Ketepatan jenis karangan narasi yang menceritakan suatu peristiwa

5 20

2 Organisasi

karangan(pendahuluan, isi, dan penutup)

Analisis data yang dilakukan setelah semua data terkumpul dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a. Statistik deksriptif

Analisis ini dimaksud untuk memberikan gambaran mengenai presentase hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan metode curah gagasan dan metode pengaliran imaji?’. Analisis statistik dekskriptif digunakan untuk mendeskripsikan skor hasil penelitian yang diajarkan dengan menggunakan metode curah gagasan dan tidak menggunakan metode curah

gagasan. Untuk keperluan analisis ini digunakan skor tertinggi, skor terendah, tabel distribusi frekuensi, skor rata-rata (mean skor), dan standar deviasi.

a) Membuat tabel hasil test akhir dari kelas eksperimen dan kelas kontrol b) Menentukan mean skor (x)

X= ∑ 𝑥𝑁 (Subana, 2005: 63) Keterangan :

X = mean yang ingin dicari

 = jumlah dari perkalian antara mean point dari masing-masing interval dan frekuensi

N = banyaknya responden

Nilai mentah yang dimiliki subjek/skor c) Menentukan Standar deviasi

SD = √∑ 𝑓(𝑥−𝑥)𝑁−1 2 Keterangan:

SD = Standar Deviasi

∑ 𝑓𝑥2 = jumlah dari perkalian antara frekuensi masing-msing skor yang telah dikuadratkan

N = banyaknya responden (Sudjono, 2006:158) b. Statistik Inferensial

Sebelum menggunakan statistik inferensial terlebih dahulu menghitung uji normalitas yang bertujuan untuk meyakinkan kemampuan siswa yang mempunyai distribusi normal. Dengan kata lain, uji ini sebagai syarat yang harus digunakan untuk menguji kemampuan rata-rata. Untuk menentukan

bahwa data mempunyai sifat yang normal atau tidak. Adapun rumus yang /digunakan adalah sebagai berikut

1) Menentukan batas kelas yatu skor kiri interval pertama dkurang 0,5 dan kemudian skor kanan kelas imterval ditambah 0,5.

2) Mencari nilai Z skor, dengan rumus : Z = 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 −𝑋

𝑠

3) Mencari luas O – Z dari tabel kurva normal dengan menggunakan nilai Z – skor

4) Mencari luas tiap kelas interval dengan rumus nilai 0 – Z pertama dikurang nilai 0 – Z kedua , setelah hasilnya diperoleh kemudian mencari fe dengan mengalikan luas interval sampel pada kelas eksperimen (14) begitupun hingga 0 – z terakhir.

5) Mencari Chi kuadrat dengan rumus

𝑋

2=∑(𝑂𝑖−𝐸𝑖)𝐸𝑖

Keterangan :

𝑂𝑖= frekuensi observasi atau pengamatan 𝐸𝑖= frekuensi ekspektasi (harapan)

6) Membandingkan x hitung dengan x tabel

Untuk menemukan normal tidaknya distribusi data kriterianya adalah sebagai berikut ini

a) 𝑋2 hitung ≤ 𝑋2 tabel artinya distribusi data normal b) 𝑋2 hitung ≥ 𝑋2 tabel artinya distribusi data tidak normal

Setelah menghitung statistik inferensial maka dilanjutkan dengan menguji hipotesis penelitian atau biasa disebut dengan statistik inferensial. Dengan rumus sebagai berikut:

a) Menentukan nilai varian kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

b) Menentukan harga t hitung dengan menggunakan rumus t dua sampel sebagai berikut:

t

=

𝑋1−𝑋2

𝑆12 𝑛1+𝑆22

𝑛2

(Arikunto, 2002:276) Keterangan :

t = Harga t x = mean

S = Standar deviasi N = banyaknya subjek

c) Mencari nilai t tabel dengan ketentuan : 𝛼 = 0,05 db= n 1 + n 2 - 2

Kriteria Pengujian hipotesis

𝐻0=diterima jika, t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel

𝐻1= diterima jika, t hitung > t tabel atau - t hitung < t tabel d) Membandingkan t hitung dengan t tabel

29

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini dibahas tentang pembelajaran menulis karangan narasi yang menunjukkan perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode curah gagasan dan tanpa menggunakan metode curah gagasan. Pada penelitian ini peneliti menggunakan dua sampel. sampel pertamakelas X ATR sebagai kelas eksperimen yang menerapkan metode curah gagasan dalam menulis karangan narasi dengan jumlah siswa 14 orang. Sampel kedua kelas X ATPK 1 sebagai kelas kontrol dengan tidak menerapkan metode curah gagasan dalam menulis karangan narasi jumlah siswa 14 orang. jadi jumlah sampel secara keseluruhan adalah 28 orang siswa yang terbagi atas kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Hasil dan pembahasan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini diuraikan sebagai berikut:

Hasil dan pembahasan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini diuraikan sebagai berikut:

Dokumen terkait