• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut UU No 25 tahun 1999

Dalam dokumen Skripsi total (Halaman 52-64)

BAB II. TELAAH PUSTAKA

D. Sumber-sumber Pendapatan Daerah

2. Menurut UU No 25 tahun 1999

Sumber-sumber penerimaan daerah berdasar UU No. 25 tahun 1999 untuk pembiayaan desentralisasi dapat dilihat pada Gambar 2.2. berikut ini:

Gambar 2.2

Sumber-sumber Penerimaan Daerah

Sumber : Bratakusumah & Solihin, 2002 : 173

Menurut UU No. 25 tahun 1999, pembiayaan desentralisasi dilakukan melalui kombinasi antara Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan, pinjaman daerah, dan pendapatan lain yang sah. Pada dasarnya, daerah otonomi akan menjalankan fungsinya secara efektif dan efisien apabila PAD cukup tinggi, sehingga secara leluasa dan mandiri menentukan kebutuhan pelayanan kepada masyarakat setempat.

Sumber-sumber Penerimaan Daerah

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Perimbangan Pinjaman Daerah Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Lain-lain Hibah, Dana, Darurat Pajak Restribusi Keuntungan Perusda Pengelolaan aset Daerah Lain-lain B ag i H as il D an a A lo ka si U m um D an a A lo ka si K hu su s D al am N eg er i L ua r N eg er i B ag ia n L ab a D ev id en P in ja m an S ah am

Pajak Bumi & Bangunan BPHTP Hasil Hutan, Tambang Umum, Perikanan Kebutuhan di Luar Alokasi Umum Prioritas Nasional Dana Reboisasi Matching Grants

Secara lebih rinci, sumber-sumber pendapatan daerah dapat dijelaskan lebih lanjut :

a. Pendapatan Asli Daerah

Dalam pasal 4 UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah PAD terdiri dari (J & J. Learning, 2000 : 39)

1) Pajak Daerah

Pajak Daerah merupakan salah suatu unsur PAD yang mencakup pajak asli daerah dan pajak negara diserahkan kepada daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pajak daerah ini dapat dibedakan dalam dua katagori yaitu pajak daerah yang ditetapkan oleh peraturan daerah dan pajak negara, yang pengelolaan dan penggunaannya diserahkan kepada daerah. Sebagaimana dinyatakan dalam UU No. 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan retribusi. Pajak Dareah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh pribadi atau badan kepala daerah tanpa imbalan langsung seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan perundang-undangan (Eugenia LM, 1998 : 3).

Dalam UU No. 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan retribusi, pasal 2 ayat 1 dan 2 dinyatakan bahwa secara garis besar terdapat dua jenis pajak yaitu pajak daerah tingkat I dan pajak daerah tingkat II.

a) Pajak Kendaraan

b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Sedangkan jenis pajak daerah tingkat II terdiri dari : a) Pajak Hotel dan Restoran

b) Pajak Hiburan c) Pajak Reklame

d) Pajak Penerangan Jalan

e) Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Gol. C f) Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan

Dengan peraturan pemerintah dapat ditetapkan jenis pajak selain yang ditetapkan di atas yang memenuhi kriteria, sebagai berikut (Eugenia LM, 1998 : 7)

a) Bersifat sebagai pajak bukan restribusi

b) Obyek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum

c) Potensi memadai

d) Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif

e) Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat f) Menjaga kelestarian lingkungan

Dalam pasal 3 UU No.18 tahun 1997, tarif pajak ditetapkan paling tinggi sebesar :

b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 10 % c) Pajak Hotel dan Restoran 10 %

d) Pajak Hiburan 35 % e) Pajak Reklame 25 %

f) Pajak Penerangan Jalan 10 %

g) Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Gol. C 20 % h) Pajak Pemanfaatan Air Tanah dan Air Permukaan 20 %

Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan peradaban dunia serta diiringi dengan kemajuan teknologi yang cepat maka membawa akibat tugas yang dipikul pemerintah untuk melaksanakan pembangunan semakin berat, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Melihat kenyatan itu, tentu dana yang diperlukan untuk pembangunan semakin banyak dan pemerintah mengharapkan dana yang diperoleh dari masyarakat juga meningkat. Hal ini agar pembangunan yang sedang dilaksanakan itu dapat berjalan lancar dan cita-cita masyarakat dapat terwujud.

Dengan kelonggaran itu, maka daerah bisa memungut pajak guna memperoleh dana untuk pembiayaan dalam mengurus dan mengatur anggaran rumah tangganya. Di samping itu, berarti obyek yang sudah dipungut oleh daerah tidak dapat dipungut lagi oleh pusat, dan sebaliknya. Dalam membedakan mana sebagai sumber untuk pemerintah pusat dan mana untuk daerah, didasarkan pada alasan-alasan tertentu, beberapa alasan itu antara lain :

a) Latar belakang sosial politik

Yaitu latar belakang sejarah politis kemasyarakatan, terbentuknya dan perkembangan politis suatu negara.

b) Luasnya pemasaran barang dan jasa

Jika barang dan jasa diperjualbelikan di pasar lokal saja, maka hendaknya dipungut oleh pemerintah daerah dan apabila di pasar nasional dan internasional, maka pajak dipungut oleh pemerintah pusat.

c) Manfaat barang-barang kolektif

Yaitu manfaat barang yang sifatnya kolektif dan barang- barang itu termasuk sektor nasional dan internasional, pemungutannya lebih tepat dilakukan oleh pemerintah pusat. Sebaliknya bila bersifat regional maka dikelola oleh pemerintah daerah.

d) Yuridis teknis

Mutasi hak-hak kebendaan terhadap barang-barang tidak bergerak yang paling mengetahui adalah pemerintah daerah, maka hendaknya pajak yang dikenakan merupakan penerimaan pemerintah daerah.

e) Administrasi dan kestabilan

Jika merupakan teknis administrasi yang tinggi, sebaiknya merupakan pajak negara, tetapi pajak-pajak negara yang

pendapatannya relatif stabil sebaiknya diserahkan ke pemerintah daerah.

Jenis-jenis yang merupakan pungutan pemerintah adalah : (1) Di dalam pajak dibedakan :

- Pajak negara - Pajak daerah

(2) Dalam pajak daerah sendiri dibedakan : - Pajak daerah yang berasal dari pajaknegara - Pajak daerah yang asli dari daerah sendiri - Bea dan Cukai

- Lain-lain, yaitu : restribusi, iuran dan lain-lain pungutan yang sah

2) Retribusi Daerah

Retribusi daerah merupakan salah satu bagian dari PAD sebagaimana diatur dalam UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah, UU No. 18 tahun 1997 tentang pajak dan retribusi dan retribusi daerah serta PP No. 20 tahun 1997.

Menurut UU tersebut, retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu, yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan (Eugenia LM, 1998 : 5).

Pungutan retribusi daerah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : tarif yang dikenakan, kualitas dan kuantitas jasa

pelayanan yang diberikan dan tuntutan kebutuhan masyarakat atas jasa pelayanan tersebut. Selanjutnya untuk pelayanan di masing- masing daerah, pungutan retribusi daerah dijabarkan dalam bentuk peraturan daerah (perda). Adapun retribusi daerah dibagi menjadi tiga yaitu (Eugenia LM, 1998 : 5) :

a) Retribusi jasa umum

Kemudian dalam PP No. 20 tahun 1997, dijelaskan yang termasuk dalam retribusi jasa umum adalah :

- Retribusi pelayanan kesehatan

- Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan

- Retribusi penggantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akta catatan sipil

- Retribusi pelayanan pemakaman dan penguburan mayat - Retribusi parkir

- Retribusi pasar - Retribusi air bersih

- Retribusi pengujian kendaran bermotor

- Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran - Retribusi penggantian biaya cetak peta

- Retribusi pengujiankapal perikanan b) Retribusi jasa usaha

- Retribusi pemakaian kekayaan daerah - Retribusi pasara grosir dan atau pertokoan

- Retribusi tempat khusus parkir - Retribusi penitipan anak

- Retribusi tempat penginapan/pesanggrahan/villa - Retribusi penyedotan kakus

- Retribusi rumah potong hewan - Retribusi tempat pendaratan kapal - Retribusi tempat rekreasi dan oleh raga - Retribusi penyebrangan di atas air - Retribusi pengolahan limbah cair

- Retribusi penjualan produksi usaha daerah c) Retribusi perijinan tertentu

- Retribusi peruntukan penggunaan tanah - Retribusi ijin mendirikan bangunan

- Retribusi tempat penjualan minuman berakohol - Retribusi ijin gangguan

3) Bagian Laba Badan Usaha Miliki Daerah (BUMD)

Adalah penerimaan yang berupa bagian lama BUMD, yang terdiri dari bagian laba Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan bagian laba BUMD lainnya. Dasar hukum pembentukan BUMD, khususnya perusahaan daerah adalah UU No. 5 tahun 1962 tentang perusahaan daerah dan UU No. 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah. Tujuan pembentukan perusahaan daerah adalah untuk mengembangkan perekonomian daerah dan

menambah penghasilan daerah. Bidang usaha milik BUMD mencakup berbagai aspek pelayanan dengan mengutamakan pemberian jasa kepada masyarakat, menyelenggarakan kemanfaatan umum dan memberikan sumbangan bagi ekonomi daerah yang keseluruhannya harus dilaksanakan berdasarkan asas-asas ekonomi perusahaan yang sehat. Dalam pasal 25 UU No. 25 tahun 1962 tercantum penggunaan laba bersih hasil perusahaan daerah yang perinciannya sebagai berikut :

a) Bagi perusahaan daerah yang modalnya untuk seluruhnya dari kekayaan daerah yang dipisahkan :

(1) Untuk pembangunan daerah sebesar 30 %. (2) Untuk anggaran pendapatan daerh sebesar 25 %.

(3) Untuk cadangan umum, sosial dan pendidikan, jasa produksi, sumbangan dana pensiun dan sokongan yang besarnya masing-masing daerah berjumlah 45 %.

b) Bagi perusahaan daerah yang modalnya sebagian terdiri kekayaan daerah dipisahkan setelah dikeluarkan zakat yang dipandang perlu :

(1) Untuk dana pembangunan sebesar 8 % dan untuk anggaran sebesar 7 %.

(2) Untuk pemegang saham 40 % dibagi menurut perbangdingan nilai nominal dari saham-saham.

(3) Untuk cadangan umum, sosial dan pendidikan, jasa produksi, sumbangan dana pensiun dan yang sokongan yang besarnya masing-masing ditentukan dalam peraturan daerah berjumlah 45 %.

4) Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

Penerimaan lain-lain adalah bagian PAD yang tidak termasuk pajak daerah, restribusi daerah, bagian laba BUMD dan penerimaan lain-lain. Termasuk dalam penerimaan ini, antara lain : penerimaan sewa rumah dinas milik daerah dan hasil penjualan barang-barang bekas milik daerah, penerimaan cicilan rumah yang dibangun oleh pemerintah daerah, penerimaan jasa giro, penerimaan biaya pembinaan pengawasan tempat pelelangan ikan, penerimaan setoran cicilan utang, penerimaan setoran biaya pembinaan lembaga keuangan desa, penerimaan biaya untukmengikuti prakualifikasi danlain-lain.

b. Dana Perimbangan

Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari penerimaan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana perimbangan terdiri dari :

1) Bagian daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak Atas Tanah Bangunan dan Penerimaan dari Sumber Daya Alam.

2) Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum (DAU) yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DAU ini ditetapkan sekurang-kurangnya 25 % dari penerimaan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN. DAU untuk provinsi dan untuk daerah kabupaten/kota ditetapkan masing-masing sebesar 10 % dan 90% dari seluruh DAU.

3) Dana Alokasi Khusus

Dana Alokasi Khusus (DAK) yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membantu membiayai kebutuhan tertentu. DAK ini dialokasikan untuk membiayai kebutuhan khusus dengan memperhatikan tersedianya dana dalam APBN.

c. Pinjaman Daerah

Pinjaman Daerah merupakan pelengkap dari sumber-sumber penerimaan daerah yang ada dan ditujukan untuk membiayai pengadaan prasarana daerah atau harta tetap lain yang berkaitan dengan kegiatan yang bersifat meningkatkan penerimaan yang dapat digunakan untuk mengembalikan pinjaman, serta memberi manfaat bagi pelayanan masyarakat.selain itu, daerah dimungkinkan pula melakukan pinjaman

dengan tujuan lain, seperti mengatasi masalah jangka pendek yang berkaitan dengan arus kas daerah.

Pinjaman daerah perlu disesuaikan dengan kemampuan daerah, karena dapat menimbulkan beban pada APBD tahun-tahun berikutnya yang cukup berat sehingga perlu didukung dengan ketrampilan perangkat daerah dalam mengelola pinjaman daerah. (Deddy SB dan Dadang S, 2002 : 190-191)

d. Lain-lain Penerimaan yang Sah

Penerimaann dari sektor ini merupakan yang bersifat tidak mengikat seperti hibah dari pihak lain.

Dalam dokumen Skripsi total (Halaman 52-64)

Dokumen terkait