ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR
PERIODE TAHUN 1990 - 2002
SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi
syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Oleh :
TRI CAHYONO NIM F 0199067
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi dengan judul :
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KABUPATEN KARANGANYAR PERIODE TAHUN
1990 – 2002
Surakarta, 14 Agustus 2004 Disetujui dan diterima oleh Pembimbing
Sumardi, SE
HALAMAN PESENGESAHAN
Telah disetujui dan diterima dengan baik oleh team penguji Skripsi Fakultas
Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta guna melengkapi tugas-tugas dan
memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan
Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret Surakarta
Surakarta, 28 Agustus 2004
Tim Penguji Skripsi :
1. Riwi Sumantyo, SE. ME. ( ... )
NIP. 132 046 019 Ketua
2. Sumardi, SE ( ... )
NIP. 131 658 544 Anggota
3. Drs. Mulyanto, ME. ( ... )
MOTTO
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Fatihaah (1) : 1)
“Dialah (Allah) yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Sejahtera, Yang memberikan keamanan, Yang mengawal, Yang Gagah, Yang Maha Kuasa, Yang berhak sombong,
Maha Suci Allah dari segala apa yang mereka sekutukan.”
(QS. Al Hasyr (59) : 23).
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang sholeh dan berkata:
‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.”
(QS. Fushshilat (41) : 33).
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk.”
(QS. An Nahl (16) : 125).
“Sesunggungnya sebuah cita-cita akan terwujud manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang dijalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan beramal
dan berkorban dalam mewujudkannya”.
(Hasan Al-Banna, Majmu’ah Rasail)
Barang siapa tidak mau merasakan kegetiran bersama para pencari kemulian, niscaya ia tidak akan merasakan nikmatnya tidur di bawah
naungan keagungan.
(Orang Bijak)
Barang siapa mengenal dirinya, tentu ia akan sibuk memperbaikinya dengan tidak memperdulikan aib dan cacat orang lain.
Dan barang siapa mengenal Robbnya tentu ia akan sibuk berkhidmat kepada-Nya dengan meninggalkan hawa nafsunya.
PERSEMBAHAN
Syukurku kepada Sang Maha Lembut, Pencipta dan Pemelihara alam semesta, Yang Maha Kuasa atas semua kejadian, ALLOHU RABBUL IZZATI yang telah memberi kekuatan pada penulis menyelesaikan skripsi ini. Karya kecil ini penulis persembahkan :
Bapak dan Ibu tercinta, terima kasih atas do’a dan pengorbanannya yang
tak terhingga sehingga penulis bisa mengenal dan memahami dunia beserta karakternya, Semoga ALLOH SWT., membalas dengan jannah-Nya.
Kakakku (Mas Nuryono) dan Mbak Isnaeni (almarhum) serta Adikku
tercinta Nunung Nurhayati atas segala bantuan, dorongan, cita dan cinta kepada penulis.
Ikhwan dan Akhwat fillah para pejuang dakwah, semoga ALLOH SWT.,
KATA PENGANTAR
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat ALLOH SWT., RABB semesta alam yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah, inayah dan karunia serta pertolongan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk melengkapi persyaratan akademik guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Adapun judul skripsi ini
adalah “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) KABUPATEN KARANGANYAR PERIODE TAHUN 1990 – 2002.
Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa tanpa adanya bantuan, bimbingan, petunjuk dan saran dari berbagai pihak kepada penulis baik moril, spirituil maupun materiil, maka tidaklah mungkin skripsi ini dapat tersusun sebagaimana mestinya. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih tak terhingga kepada :
1. Bapak dan Ibu tercinta, atas segala didikan, arahan, ‘hardikan’, dan kasih sayangnya kepada penulis.
2. Ibu Dra. Salamah Wahyuni, SU., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Bapak Drs. Kresno Sarosa Pribadi, MSi dan Bapak Drs. BRM Bambang Irawan, M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Bapak Sumardi, SE selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan hingga terselesainya skripsi ini.
6. Bapak-bapak dan ibu-ibu dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta serta karyawan dan segenap civitas akademika Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
7. Segenap pegawai DIPENDA Karanganyar terkhusus Mas Widodo, SE. Ak.., pegawai BAPPEDA Karanganyar terkhusus Ibu Dra. BE. Handayani, pegawai DEPERINDAG, BPS, KESBANGLINMAS Kabupaten Karanganyar, pegawai BPM (Badan Penanaman Modal) Propinsi Jawa Tengah terkhusus IbuYohana Endang yang telah membantu kelancaran penulis dalam mengumpulkan data.
8. Mas Nuryono, Mbak Eni (almarhum) dan adikku Nunung terima kasih atas do’a, kasih sayang serta pengorbanannya kepada penulis.
9. Ikhwah fillah di BPPI FE UNS (terkhusus PHT 2001/2002), JN UKMI UNS, FOSREMKA Karanganyar, IREMKA Karanganyar, DPRa PK Sejahtera Kelurahan Karanganyar, DPC dan DPD PK Sejahtera Kab. Karanganyar, DPD PK Sejahtera Kota Surakarta, teman-teman Takmir Masjid Nurulhuda terkhusus periode 2002/2003 dan ikhwan serta akhwat di semua wajihah yang penulis pernah bekerjasama dalam mengembalikan kemuliaan Islam.
10. Untuk Akh Darmawan, Atho’, Eryonggo, Arif Lukman, Rachmat, Iqbal, Ario, Taufiqqurahman, Santoso dan teman-teman seperjuangan di angkatan ’99 FE UNS ingat tanggal 22 Agustus 2006.
11. Untuk Akh Masduki, Akh Danik, Akh Supriyatin, Akh Musmuallim, Akh Hanif, Akh Yuceu (angkatan ’98), Akh Ihsan F, Hartoyo, Windu, Ahmad Taufik, Chambali, M. Eko, Restu AN, Arief P, Tamrin K, Gunawan, dan Akh Rahmat (’99) dan semua teman-teman seperjuangan di Universitas.
12. Untuk adik-adikku di fakultas ; Danang W, Tato, Tarno, Antok, Imam, Lujeng, Andri Rizko, Nanang Triyo, Syaiful, Afwan, Muji, Cicuk, Imdad, Agus Riyadi, dll, perjuangan masih sangat panjang.
14. Untuk adik-adikku di D3 Ekonomi : Utomo, Kukuh, Benny, Nita, Retno, Suci dan semuanya saja, besarlah bersama dakwah.
15. Untuk Mularto, Fauzi, Fajar dan akhwat2 formatur FOSREMKA pokoknya saya hanya mau jadi formatur saja.
16. Untuk para penghuni Persma Insan Kamil Mas Usman, Dieck Bono, Mas Daniek, Mas Alim dan Syaikh Supri Al Gombongi selamat membuat bi’ah dan peradaban baru di Sawah Karang.
17. Dan semua pihak yang telah memberi warna dalam hidup penulis dengan tinta nya masing-masing sehingga pelangi hidup dapat penulis rasakan serta siapa saja yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.
Semoga amal kebaikan semua pihak tersebut mendapat imbalan dari Allah SWT.
Meskipun dalam skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya,
namun diharapkan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan para
pembaca.
Surakarta, 28 Agustus 2004
DAFTAR ISI A. Latar Belakang Masalah ... B. Perumusan Masalah ...
1. Ruang Lingkup Penelitian ... 2. Sumber Data... 3. Definisi Operasional Variabel ... 4. Teknik Analisis Data ... BAB II. TELAAH PUSTAKA ...
A. Perubahan Struktural ... 1. Teori Pembangunan Lewis ... 2. Perubahan Struktural Model Chenery ... B. Pembangunan Daerah ...
1. Pengertian Pembangunan Daerah ... 2. Corak Pembangunan Daerah ...
C. Otonomi Daerah ... D. Sumber-sumber Pendapatan Daerah ... 1. Menurut UU No. 5 tahun 1974 ... 2. Menurut UU No. 25 tahun 1999 ... E. Produk Domestik Regional Bruto ... 1. Pengertian Produk Domestik Regional Bruto ... 2. Metode Perhitungan Produk Domestik Regional Bruto ... 3. Peranan Produk Domestik Regional Bruto terhadap
Pendapatan Asli Daerah ... F. Guna Investasi dalam Pembangunan Ekonomi ...
1. Peranan Modal dalam Pembangunan ... 2. Teori Harrod-Dommar ... 3. Relasi Antara Investasi dengan Pertumbuhan Ekonomi ... G. Peranan Jumlah Penduduk dalam Pembangunan ... H. Pendapatan Per Kapita ... I. Hasil Penelitian Sebelumnya ... BAB III. GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN ... A. Deskripsi Wilayah Kabupaten Karanganyar ...
BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... A. Analisis Deskripsi Variabel ... 1. Pendapatan Asli Daerah ... 2. Produk Domestik Regional Bruto ... 3. Investasi ... 4. Jumlah Penduduk ... 5. Pendapatan Per Kapita ... B. Analisis Data ... 1. Uji Statistik ... 2. Uji Ekonometrika ... 3. Interpretasi Hasil ... C. Trend Perkembangan PAD ... BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... A. Kesimpulan ... B. Saran ... DAFTAR PUSTAKA ... LAMPIRAN-LAMPIRAN ...
81 81 81 82 83 84 85 86 88 91 93 97 102 102 104
Halaman
Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Karanganyar Tahun Anggaran 2001 dan 2002 ... Kecamatan, Luas Wilayahnya, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk per Kecamatan ... PDRB Kabupaten Karanganyar Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Tahun 1998 – 2002 ... Inflasi di Kabupaten Karanganyar tahun 1998 – 2002 ... Struktur Ekonomi Kabupaten Karanganyar tahun 1998 – 2002 Atas Dasar Harga Konstan 1993 ... Rata-rata Pendapatan Per Kapita Penduduk Kabupaten Karanganyar tahun 1998 – 2002 ... Jumlah Investasi di Kabupaten Karanganyar tahun 1998 – 2002 ... Realisasi Penerimaan Daerah di Kabupaten Karanganyar tahun 2000 – 2002 ... Target dan realisasi PAD Kab. Karanganyar 1998 – 2002 ... Realisasi Pengeluaran Pemda Kabupaten Karanganyar Propinsi Jawa Tengah Tahun 2000 – 2002 ... Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Karanganyar Tahun 1990 – 2002 ... Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Karanganyar tahun 1990-2002 Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) ... Perkembangan Jumlah Investasi Kabupaten Karanganyar Tahun 1990 – 2002 ... Jumlah Penduduk Kabupaten Karanganyar tahun 1990 – 2002 ... Perkembangan Pendapatan Per Kapita Kabupaten Karanganyar tahun 1990 – 2002 Atas Dasar Harga Konstan
Tabel 4.6
Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 4.9
Tabel 4.10
(ADHK) ... Hasil Pengolahan Data dengan Variabel Dependen adalah Log PAD ... Hasil Uji Multikolinieritas ... Hasil Uji Heteroskedastisitas ... Trend Perkembangan PAD Kab. Karanganyar tahun 1990 – 2002 ... Hasil Perhitungan Trend PAD Kabupaten Karanganyar 1990 – 2010 ...
86
88 92 92
98
99
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Gambar 1.2 Gambar 1.3 Gambar 1.4 Gambar 2.1 Gambar 4.1
Perbedaan UU 5/1974 dan UU 22/1999 ... Kerangka Pemikiran ... Uji t ... Percobaan d (Durbin – Watson) ... Sumber-sumber Penerimaan Daerah ... Percobaan d (Durbin – Watson) ...
6 12 17 23 37 93
ABSTRAK
Skripsi. Surakarta : Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Latar belakang penelitian ini adalah diberlakukannya undang-undang otonomi daerah, sehingga pemerintah daerah diberi wewenang untuk mengatur rumah tangganya sendiri termasuk keuangan daerah masing-masing. Sumber pendapatan daerah diperoleh dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, pinjaman daerah dan lain-lain penerimaan yang sah. Untuk itu pemerintah harus dapat menggali potensi dari daerah itu sendiri untuk meningkatkan
sumber-Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa variabel PDRB, investasi, jumlah penduduk dan pendapatan perkapita masyarakat berpengaruh terhadap besarnya PAD Kabupaten Karanganyar; variabel PDRB paling mempengaruhi PAD; serta trend perkembangan PAD Kabupaten Karanganyar tahun 2010 meningkat.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder runtut waktu (time series) mulai tahun 1990-2002. Metode yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan modellog dilanjutkan dengan uji statistik yaitu uji t (uji parsial), uji F (analisis varian) uji R2 (koefisien determinasi) serta uji asumsi klasik yaitu uji multikolinieritas, heterokedastisitas dan autokorelasi.
Dari hasil analisis statistik dengan tingkat signifikansi 5 % diperoleh bahwa baik secara individu maupun secara bersama-sama besarnya PDRB, investasi, jumlah penduduk, pendapatan perkapita masyarakat berpengaruh signifikan terhadap besarnya PAD Kabupaten Karanganyar.
Koefisien regresi faktor PDRB sebesar 6,743 menunjukkan bahwa penambahan sebesar 1 % PDRB akan meningkatkan PAD sebesar 6,743 %. Koefisien regresi investasi sebesar -0,318 menunjukan bahwa penambahan investasi sebesar 1% akan menurunkan PAD sebesar -0,318 %. Koefisien regresi jumlah penduduk sebesar 14,472 menunjukan bahwa penambahan penduduk 1% akan menaikan PAD sebesar 14,472 %. Koefisien regresi pendapatan per kapita sebesar -7,088 menunjukan bahwa penambahan 1% pendapatan per kapita akan menurunkan PAD sebesar -7,088 %.
Untuk uji F menunjukkan bahwa F hitung yaitu sebesar 46,178 lebih besar dari F tabel yaitu sebesar 6,04 yang berarti Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa keempat faktor tersebut secara bersama-sama berpengaruh terhadap PAD di Kabupaten Karanganyar. Untuk uji R2 didapatkan nilai Adjusted R-Squared sebesar 0,938 berarti bahwa variabel independen dapat menjelaskan 93,8 % terhadap variabel dependen sedangkan sisanya 6,2 % dijelaskan variabel lain di luar model.
Dilihat dari koefisien beta PDRB (3,033) mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap besarnya PAD Kabupaten Karanganyar dibandingkan koefisien beta variabel lain yaitu investasi sebesar -0,264, jumlah penduduk sebesar 0,904 dan pendapatan per kapita sebesar -2,852.
Dari hasil penghitungan trend perkembangan PAD Kabupaten Karanganyar tahun 2010 meningkat secara meyakinkan. Implementasi kebijakan yang disarankan adalah peningkatan kinerja perekonomian pada sektor-sektor dominan yang ada di Kabupaten Karanganyar.
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan adalah usaha untuk menciptakan kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat. Lebih luas lagi pembangunan ekonomi diartikan
sebagai usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang
seringkali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riel per kapita (Irawan
& Suparmoko, 1992 : 5). Oleh karena itu hasil-hasil pembangunan harus
dapat dinikmati oleh seluruh rakyat sebagai peningkatan kesejahteraan lahir
dan batin secara adil dan merata. Sebaliknya pembangunan tergantung pula
pada partisipasi seluruh rakyat yang berarti pembangunan harus dilaksanakan
secara merata oleh segenap masyarakat, baik dalam memikul beban
pembangunan maupun dalam pertanggungjawaban atas pelaksanaan
pembangunan ataupun pula dalam menerima kembali hasil pembangunan.
Dalam rangka pembangunan nasional di Indonesia, pembangunan
daerah yang merupakan bagian integral dari pembangunan nasional di
arahkan untuk mengembangkan daerah dan menyerasikan laju pertumbuhan
antar daerah, daerah kritis, daerah perbatasan dan daerah terbelakang lainnya.
Pembangunan tersebut disesuaikan dengan prioritas dan potensi daerah
masing-masing untuk meningkatkan kemampuan daerah tersebut.
Bila ada perubahan struktur yang menyangkut pembangunan wilayah
suatu daerah, maka daerah memerlukan berbagai kebijaksanaan khususnya
yang mengatur antara pemerintah pusat dan daerah. Dalam hal ini pemerintah
diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembangunan di wilayah
tergantung pada sukses dan tidaknya pembangunan di daerah. Keberadaan
pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten atau kota yang mampu
menyelenggarakan kelancaran dan pemerataan pembangunan mutlak
diperlukan. Hubungan antara pusat dan daerah yang sering dibicarakan
adalah berkaitan dengan masalah otonomi daerah, khususnya pembagian
tugas, wewenang dan tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah.
Salah satu aspek yang sangat berpengaruh dan sangat menentukan
bagi daerah agar mampu mengatur rumah tangganya sendiri dengan
sebaik-baiknya adalah kemampuan daerah di dalam mengadakan atau memperoleh
dana-dana atau pendapatan asli daerah sendiri. Untuk merealisasikan
kegiatan pembangunan yang tersebar di daerah-daerah, dapatlah kita
maklumi unsur pembiayaan yaitu tersedianya dana dalam jumlah yang
memadai dan pengelolaan yang baik merupakan dasar utama bagi
pelaksanaan rencana pembangunan yang akan dilakukan, sehingga menjadi
dasar bagi perumusan kebijakan program-program investasi dan penetapan
sasaran-sasaran pembangunan.
Sunarti (2003 : 3) menyampaikan, sejalan dengan struktur pemerintah
yang berlaku di tiap daerah di wilayah nasional terdapat tiga komponen
pembiayaan pembangunan dari pemerintah :
1. Pembiayaan pembangunan dari pemerintah pusat yang dialokasikan
melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk
2. Pembiayaan pembangunan dari pemerintah daerah tingkat I yang
dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
tingkat I untuk pembiayaan program-program pembangunan daerah
tingkat I.
3. Pembiayaan pembangunan dari pemerintah daerah tingkat II yang
dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
tingkat II untuk pembiayaan program-program pembangunan daerah
tingkat II.
Masing-masing komponen pembiayaan dari pemerintah tersebut
diharapkan dapat digunakan sebaik-baiknya sesuai dengan jalur-jalur yang
telah ditentukan dan tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dapat
mempengaruhi berlangsungnya pembangunan.
Dari pembangunan ekonomi nasional yang terjadi selama pemerintah
orde baru (orba) lebih terfokus pada pertumbuhan ekonomi, hal ini ternyata
tidak membuat banyak daerah di tanah air berkembang sesuai harapan.
Proses pembangunan dan peningkatan kemakmuran sebagai hasil dari
pembangunan selama itu ternyata lebih terkonsentrasi di pusat (Jawa), pada
tingkat nasional laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun cukup tinggi
dan tingkat pendapatan per kapita naik terus setiap tahun (sampai krisis
terjadi pada pertengahan tahun 1997 sampai tahun 1998), namun sebaliknya
pada tingkat regional. Demikian juga, kesenjangan dalam distribusi
Terjadinya ketimpangan ekonomi regional di Indonesia selama
pemerintahan orde baru (orba), salah satu penyebabnya karena berdasarkan
UU. No. 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah; dalam
pelaksanaannya pemerintah pusat terlalu dominan menguasai dan mengontrol
hampir semua sumber-sumber pendapatan daerah yang ditetapkan sebagai
penerimaan negara, termasuk pendapatan dari hasil sumber daya alam yang
dimiliki daerah. Akibatnya daerah-daerah tersebut tidak dapat menikmati
hasilnya dengan proporsional atau layak, juga bantuan dan pinjaman luar
negeri, PMA, dan tata niaga di dalam negeri diatur sepenuhnya oleh
pemerintah pusat, sehingga hasil yang diterima daerah lebih rendah daripada
potensi ekonominya. Lebih lanjut Sunarti menyampaikan (2003 : 6), bahwa
konstelasi hubungan keuangan pusat dan daerah menyebabkan relatif
kecilnya peranan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di dalam struktur Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dengan kata lain, kontribusi
penerimaan yang berasal dari pemerintah pusat dalam bentuk bagi hasil pajak
dan bukan pajak, sumbangan dan bantuan mendominasi konfigurasi APBD.
Sumber-sumber penerimaan yang relatif besar pada umumnya dikelola oleh
pemerintah pusat, sedangkan sumber-sumber penerimaan yang relatif kecil
dikelola oleh pemerintah daerah.
Dengan kondisi yang terjadi pada pemerintahan orde baru tersebut,
praktis hampir semua kegiatan pemerintahan maupun kegiatan
perekonomiannya semua ada di tangan pemerintah pusat, sedangkan
tangganya sendiri. Hal tersebut menyebabkan ketimpangan dan
ketidakberdayaan ekonomi, sehingga muncul sentimen regional dan represi
serta pelanggaran hak-hak masyarakat lokal. Dengan kondisi tersebut
memicu masyarakat terutama di daerah untuk mendapatkan otonomi yang
lebih luas dan nyata.
Untuk menyikapi tuntutan dari masyarakat tersebut MPR RI
mengamanahkan pada TAP MPR RI No. XV/MPR/1998 tentang
penyelenggaraan otonomi daerah, untuk memberikan kewenangan yang luas,
nyata dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional yang
diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya
nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, dari aspek pengaturan
geografis, jumlah penduduk, dan tingkat pendapatan daerah. Dengan amanat
dari MPR RI tersebut maka pemerintah mengeluarkan UU No. 22 tahun 1999
tentang pemerintahan daerah sebagai pengganti UU No. 5 tahun 1974
tentang pokok-pokok pemerintahan daerah, serta UU No. 25 tahun 1999
tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah sebagai pengganti
UU No. 32 tahun 1956 tentang perimbangan keuangan antara negara dan
daerah-daerah yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri.
Menurut pasal 1 ayat 8 UU No. 22 tahun 1999, otonomi daerah adalah
kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
pokok undang-undang ini untuk mewujudkan landasan hukum yang kuat
bagi penyelenggaraan otonomi daerah, dengan memberikan keleluasaan
kepada daerah untuk menjadikan daerah otonom yang mandiri dalam rangka
menegakkan sistem pemerintahan sesuai dengan UUD 1945. Perbedaan
antara UU No. 5 tahun 1974 dengan UU No. 22 tahun 1999 dapat dilihat
dalam gambar 1.1 berikut ini.
UU No. 5 tahun 1974 UU No. 22 tahun 1999
Gambar 1.1 Perbedaan UU 5/1974 dan UU 22/1999
(Sumber : Bratakusumah & Solihin, 2002 : 6)
Dalam penyelenggaraan otonomi daerah di kabupaten dan kota,
Bupati atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota dan
berkewajiban memberikan laporan kepada Presiden malalui Menteri Dalam
Negeri dalam rangka pembinaan dan pengawasan (Bratakusumah & Solihin,
2002 : 6).
Pembinaan lebih ditekankan pada memfasilitasi upaya pemberdayaan
Daerah Otonom, sedangkan pengawasan lebih ditekankan pada pengawasan
represif untuk lebih memberikan kebebasan kepada Daerah Otonom dalam
mengambil keputusan serta memberikan peran kepada DPRD dalam
DPRD Kepala Daerah
Sekda
Bapeda Dinas
DPRD Kepala Daerah
Sekda
mewujudkan fungsinya sebagai badan pengawas terhadap pelaksanaan
Otonomi Daerah (Bratakusumah & Solihin, 2002 : 9).
Dalam pasal 1 ayat 1 UU No. 25 tahun 1999, perimbangan keuangan
antara pusat dan daerah adalah suatu sistem pembiayaan pemerintah dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang mencakup pembagian
keuangan antara pemerintah pusat dan daerah serta pemerataan antar daerah
secara proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan
potensi, kondisi dan kebutuhan daerah sejalan dengan kewajiban dan
pembagian kewenangan serta tata cara penyelenggaraan kewenangan
tersebut, termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya.
Diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 1999
diharapkan mampu mendorong pemerintah daerah untuk berbenah dan
menyiapkan diri untuk lebih mandiri, karena selama ini daerah tidak
dimungkinkan untuk mandiri. Faktor yang menentukan mampu tidaknya
suatu daerah untuk berotonomi adalah kemampuan keuangan atau kapasitas
dari potensi daerah. Artinya daerah otonom harus memiliki kemampuan
untuk menggali sumber-sumber keuangan sendiri. Ketergantungan kepada
bantuan pusat harus seminimal mungkin, sehingga Pendapatan Asli Daerah
(PAD) harus menjadi bagian keuangan sendiri yang terbesar (Tambunan,
2001 : 202).
Menurut Sutrisno PH dalam Sunarti (2003 : 8), bahwa Pendapatan
Asli Daerah (PAD) merupakan pendapatan yang menunjukkan suatu daerah
dapat dikatakan bahwa PAD merupakan pendapatan rutin dari usaha-usaha
pemerintah daerah dalam memanfaatkan potensi-potensi sumber keuangan
untuk membiayai tugas-tugas dan tanggungjawabnya. Sedangkan menurut
UU No. 25 tahun 1999 Pasal 4, Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah
penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber daerah dalam
wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah (Perda)
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Hasil dari realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Karanganyar tahun
anggaran 2001 dan 2002 menunjukkan kenaikan jumlah penerimaan. Secara
lebih rinci dapat dilihat pada tabel 1.1 :
Tabel 1.1. Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Karanganyar Tahun Anggaran 2001 dan 2002. (dalam rupiah)
No. Jenis Pendapatan 2001 2002
1 Sisa lebih perhitungan anggaran
tahun yang lalu 6.292.021.661 14.773.399.554
2 Pendapatan Asli Daerah Sendiri a. Pajak Daerah
b. Retribusi Daerah
c. Bagian Laba BUMD
d. Pendapatan lain-lain
5.499.092.957 7.888.008.985 1.011.956.770 2.146.897.762
3 Bagian pendapatan yg berasal dari pemberian pemerintah dan atau instansi yg lebih tinggi
a. Bagi hasil pajak/bukan pajak
b. Subsidi daerah otonom
17.526.794.764
186.413.369.786 222.497.812.50021.545.994.705
4 Lain-lain pendapatan yg sah 10.235.160.804 7.457.034.000
Jumlah penerimaan 246.052.316.489 290.519.047.826
Sumber : DIPENDA Kabupaten Karanganyar, Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Karanganyar Tahun Anggaran 2001 – 2002.
Sesuai dengan prinsip otonomi daerah yang nyata, dinamis dan
bertanggungjawab, sentralisasi penyelenggaraan pemerintahan oleh
pemerintah pusat yang selama orde baru terjadi seyogyanya secara bertahap
mulai dilimpahkan kepada daerah. Dengan semakin meningkatnya
kewenangan yang ada pada daerah, peranan keuangan daerah sangat penting
karena daerah dituntut untuk dapat lebih aktif lagi dalam memobilisasi
sumber dananya sendiri disamping mengelola dana yang diterima dari
pemerintah pusat secara efisien. Untuk itu pemerintah daerah harus dapat
menggali potensi daerah masing-masing guna meningkatkan pendapatan asli
daerahnya agar pembangunan daerah tetap berjalan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka dalam penelitian ini judul
B. Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini, masalah-masalah yang akan diteliti adalah :
1. Bagaimanakah pengaruh variabel Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB), investasi, jumlah penduduk dan pendapatan per kapita
masyarakat terhadap besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Karanganyar ?
2. Apakah variabel yang paling dominan yang mempengaruhi Pendapatan
Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Karanganyar ?
3. Bagaimanakah trend perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Karanganyar pada tahun 2010 ?
C. Tujuan Penilitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui besarnya pengaruh Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB), investasi, jumlah penduduk dan pendapatan per kapita
masyarakat terhadap besarnya PAD Kabupaten Karanganyar.
2. Untuk mengetahui variabel yang paling dominan yang mempengaruhi
PAD Kabupaten Karanganyar.
3. Untuk mengetahui trend perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Kabupaten Karanganyar pada tahun 2010 ?
D. Manfaat Penilitian
Semoga penelitian ini bermanfaat bagi pihak-pihak di bawah ini,
1. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
Pendapatan Asli Daerah yang ada di Kabupaten Karanganyar.
2. Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Karanganyar
Dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pemerintah Kabupaten
Karanganyar dalam mengambil kebijakan dalam upaya meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah Karanganyar.
3. Bagi Pihak Lain
Merupakan tambahan informasi khususnya pengetahuan mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah terkhusus di
Kabupaten Karanganyar.
E. Kerangka Pemikiran
Sesuai dengan Bab III pasal 3 UU No. 25 tahun 1999 sumber-sumber
penerimaan daerah terdiri dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan,
pinjaman daerah, serta lain-lain penerimaan yang sah.
Oleh karena itu gambar 1.1 berikut tentang kerangka pemikiran
Pendapatan asli daerah sebagai salah satu pendapatan daerah diharapkan
dapat ditingkatkan penerimaannya. Dalam penelitian ini PAD dipengaruhi
beberapa faktor yaitu Produk Dometik Regional Bruto, investasi, jumlah
penduduk dan pendapatan per kapita masyarakat.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah salah satu indikator
penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah. Dengan PDRB
dapat dilihat jumlah serta nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit
usaha di suatu daerah dapat diketahui atau untuk mengetahui jumlah nilai
barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu
daerah.
Investasi sebagai salah satu komponen penting dari permintaan agregat
yang merupakan satu faktor penting bagi pembangunan ekonomi atau
pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan investasi yang tinggi maka
Investasi Jumlah Penduduk Pendapatan Per Kapita PDRB
PAD
Dana Perimbangan
Pinjaman Daerah
Lain-lain
Penerimaan yang
Sah
Sumber-sumber Pendapatan
Daerah Trend
Perkembangan
Meningkat/ menurun
pembangunan ekonomi juga akan tinggi yang selanjutnya akan diikuti oleh
meningkatnya penerimaan pemerintah daerah.
Peningkatan penerimaan dan penawaran barang dan jasa tidak terlepas
dari meningkatnya jumlah penduduk dengan syarat penduduk tersebut
mempunyai kemampuan untuk membeli barang dan jasa. Peningkatan
jumlah penduduk akan mempengaruhi penerimaan pajak dan restribusi dari
masyarakat pengguna jasa.
Semakin besar pendapatan per kapita berarti pertumbuhan ekonomi
suatu daerah semakin tinggi, yang diikuti oleh peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Dengan semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat akan
mendorong meningkatnya tingkat konsumsi masyarakat yang berujung pada
peningkatan permintaan. Termasuk di dalamnya konsumsi terhadap barang
dan jasa yang disediakan oleh pemerintah dan akan berpengaruh pula pada
kemampuan dalam membayar pajak.
Pengaruh dari PDRB, investasi, jumlah penduduk dan pendapatan per
kapita masyarakat terhadap PAD kemudian diproyeksikan untuk mengetahui
pengaruh dimasa yang akan datang, apakah meningkat atau menurun.
F. Hipotesis
Dalam penelitian ini penulis mengambil hipotesis sebagai berikut :
1. Bahwa faktor PDRB, investasi, jumlah penduduk dan pendapatan per
kapita masyarakat diduga berpengaruh terhadap besarnya Pendapatan
Bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) diduga merupakan
variabel paling dominan dalam mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Kabupaten Karanganyar.
2. Trend perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten
Karanganyar diduga meningkat pada tahun 2010.
F. Metodologi Penelitian
1. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini mengambil tempat di wilayah Kabupaten
Karanganyar kurun waktu tahun 1990 – 2002.
2. Sumber Data
Data yang digunakan berupa data skunder, yang diperoleh melalui
instansi terkait yaitu Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten
Karanganyar; Dinas Pendapatan Daerah (DIPENDA) Kabupaten
Karanganyar; Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA)
Kabupaten Karanganyar; Pemerintah Kabupaten Karanganyar Bagian
Keuangan dan Bagian Anggaran; Dinas Perindustrian, Perdagangan dan
Penanaman Modal (DEPERINDAG & PENMAL) Sub Dinas
Penanaman Modal Karanganyar dan Badan Penanaman Modal (BPM)
Propinsi Jawa Tengah serta buku-buku literatur yang berhubungan
dengan penelitian.
3. Definisi Operasional Variabel
Menurut UU No. 25 tahun 1999 yang dimaksud dengan Pendapatan
Asli Daerah adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari
sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan
peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan dinyatakan dalam rupiah.
b. Produk Domestik Regional Bruto
Adalah nilai produksi barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksi
oleh penduduk dalam suatu daerah tertentu dan dalam jangka waktu
satu tahun (Arsyad, 1992 : 16) dan diukur dengan satuan rupiah.
c. Investasi
Investasi adalah pengeluaran atau pembelanjaan penanam modal atau
perusahaan pembeli barang-barang modal dan
perlengkapan-perlengkapan produksi guna menambah kemampuan memproduksi
barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian yang
dinyatakan dalam rupiah.
d. Jumlah Penduduk
Merupakan keseluruhan penduduk Kabupaten Karanganyar yang
tercatat pada akhir tahun yang dinyatakan dalam jiwa.
e. Pendapatan Per Kapita
Adalah tingkat pendapatan masyarakat Kabupaten Karanganyar pada
tahun tertentu yang dinyatakan dalam rupiah.
a. Analisis hipotesis pertama
Untuk menguji hipotesis pertama digunakan data time series dari tahun 1990 – 2002. Alat analisis yang digunakan adalah regresi
berganda dengan variabel dependen Pendapatan Asli Daerah (PAD)
dan variabel independen PDRB, investasi, jumlah penduduk dan
pendapatan per kapita, rumus yang dugunakan (Djarwanto, 1996 :
309) :
Log Y = a + b1logX1 + b2logX2 + b3logX3 + b4logX4 + e
dimana :
Y = Pendapatan Asli Daerah
a = konstanta
b = koefisien regresi
e = standar error
X1 = PDRB (dalam rupiah)
X2 = investasi (dalam rupiah)
X3 = jumlah penduduk (dalam jiwa)
X4 = pendapatan per kapita (dalam rupiah)
a. Uji Statistik
1) Uji t
Merupakan pengujian variabel penjelas secara individu yang
individu berpengaruh secara signifikan terhadap variabel
dependen. Langkah-langkah pengujian hipotesis :
a) Hipotesis : Ho : 1 = 0
Ha : 1 0
b) Menentukan thitung dengan rumus (Gujarati, 1995 : 78) :
)
1
(
S
k
1
T
e
hit
dimana :
1: koefisien regresi
Se: standar error koefisien regresi
c) ttabel t/2 = N – K
dimana = derajat signifikansi
N = jumlah sampel / observasi
K = banyaknya parameter/koefisien plus konstanta
Gambar 1.3. Uji t
d) - ttabel < thitung > + ttabel sehingga Ho diterima dan Ha
ditolak. Hal ini berarti variabel independen tidak berpengaruh
terhadap variabel dependen pada tingkat = 5 %.
Ho diterima Ho ditolak
e) thitung < -ttabel atau thitung > +ttabel sehingga Ho ditolak
dan Ha diterima. Hal ini dapat dikatakan variabel independen
secara statistik berpengaruh terhadap variabel dependen pada
tingkat = 5 %.
2) Uji F (uji keseluruhan koefisien regresi)
Uji ini merupakan pengujian terhadap variabel-variabel
independen secara keseluruhan dan serentak yang dilakukan
untuk melihat apakah variabel independen secara keseluruhan
mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
Hipotesis : Ho : 1 = 2 = 3 = 4 = 0
a) Apabila nilai Fhit < Ftab, maka Ho diterima yang berarti bahwa
tidak ada pengaruh yang serentak dari semua variabel
independen terhadap variabel dependen pada derajat
keyakinan tertentu.
b) Apabila nilai Fhit > Ftab, maka Ho ditolak yang berarti bahwa
secara signifikan terhadap variabel dependen pada derajat
keyakinan tertentu
3) Uji R2 (koefisien determinasi)
Uji ini untuk menghitung seberapa besar variasi dari
variabel dependen dapat dijelaskan oleh variasi variabel
independen. R2 yang digunakan adalah R2 yang telah
memperhitungkan jumlah variabel bebas dalam suatu model
regresi/R2 yang telah disesuaikan (Adjusted R2 ). R2 diperoleh
dengan rumus (Gujarati, 1995 : 101) :
R-2 = 1 – ( 1 - R2 )
k N
N
1
dimana :
N = Jumlah Sampel
K = Banyaknya Variabel
R-2 = Adjusted R- Squared
R2 = R- Squared
b. Uji Ekonometrika
1) Multikolinieritas
Salah satu cara untuk mendeteksi ada/tidaknya masalah
multikolinieritas adalah dengan menggunakan “Uji Frisch”. Yaitu
dengan memasukkan seluruh kemungkinan variabel X ke dalam
variabel yang tidak signifikan secara statistik satu per satu
(regresi bertahap ke belakang atau stepwise backward
regression). Keputusan untuk menambah atau membuang sebuah
variabel biasanya didasarkan atas sumbangan (kontribusi) dari
variabel yang bersangkutan terhadap Jumlah Kuadrat Kesalahan
(Error Sum of Squares) yang ditentukan oleh uji-F
(Sumodinigrat, 2001 : 288).
Untuk menghitung F kritis (Fi) dengan menggunakan rumus
(Modul Lab EP, 2001 : 6) :
variabel independen tersebut kolinear terhadap variabel lainnya,
sebaliknya jika Ftab<Fi maka variabel independen tidak kolinear
terhadap variabel independen lainnya.
2) Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor
pengganggu bervarian tidak sama, E (ei2) e. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai F yang relatif kecil. Apabila hal ini
terjadi, maka akibatnya prediksi akan menjadi salah (bias).
Heteroskedastisitas terjadi jika gangguan muncul dalam
fungsi regresi yang mempunyai varian yang tidak sama, sehingga
sampel besar (tetapi masih tetap tidak bias dan konsisten). Salah
satu metode untuk mendeteksi ada atau tidaknya masalah
Heteroskedastisitas adalah dengan menggunakan Uji Glejser.
Adapun tahap-tahap dalam Uji Glejser yaitu :
(a) Lakukan regresi terhadap model yang digunakan.
(b) Setelah mendapatkan nilai residual ei dan regresi OLS,
selanjutnya regresikan nilai absolut ei, ei, terhadap
variabel X yang diduga mempunyai hubungan erat dengan
i2
Model ei = 0 + i Xi + Ui
dimana :
ei = Nilai absolut residual.
Xi = Variabel penjelas.
Ui = Variabel penggangu.
Hipotesis yang digunakan :
Ho : = 0 (Tidak Ada Masalah Heteroskedastisitas)
Ha : 0 (Ada Masalah Heteroskedastisitas)
(c) Apabila t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima,
berarti ada masalah heteroskedastisitas. Sedangkan jika
masalah heteroskedastisitas / homokedastisitas (Gujarati,
1991: 177-188).Autokorelasi
3) Autokorelasi
Autokorelasi adalah keadaan dimana faktor penggangu (ei)
pada model dalam peride tertentu berkorelasi dengan kesalahan
pengganggu sebelumnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya
autokorelasi, maka kita akan memperoleh nilai bias dalam
mengestimasikan () ditunjukkan adanya varian yang besar.
Metode yang digunakan adalah “Uji Durbin- Watson (DW)”.
Adapun langkah – langkah pengujian dalam autokorelasi
adalah sebagai berikut :
(a) Lakukan regresi OLS dan dapatkan residual ei
(b) Hitung nilai d
2 1
ei ) ei ei (
d
dimana :
ei = Simpangan pada variabel independen
(c) Dapatkan nilai kritis dL dan dU, dengan menentukan nilai k
terlebih dahulu.
Menentukan hipotesis, yaitu :
Autokorelasi positif Ragu2
Tidak ada autokorelasi
Ragu2
Autokorelasi negatif
ddL : Menolak Ho
d>dU : Tidak menolak Ho
dL d dU: Pengujian tidak menyakinkan
(b) Jika hipotesis Ho, tidak ada serial korelasi negatif
d 4-dL : Menolak Ho
d > 4-dU : Tidak menolak Ho
4- dL d 4- dU : Pengujian tidak menyakinkan
(c) Jika hipotesis Ho, tidak ada serial korelasi positif
maupun negatif
0 dl du 2 4-du 4-dl 4
Gambar 1.4. Percobaan d (Durbin – Watson) b. Analisis hipotesis kedua
Untuk mendeskripsikan perkembangan PAD digunakan alat
analisis trend dengan rumus (Sumodiningrat. G, 2001 : 105) sebagai
berikut :
Y = a + bX
Dimana :
Y = jumlah penerimaan pendapatan asli daerah (dalam rupiah)
b = besar perubahan variabel Y yang terjadi pada setiap satu
variabel X
X = tahun
Untuk mencari koefisien a dan b digunakan rumus :
N Y a
2 X XY b
Penggunaan model trend linier dengan metode least square ini
bertujuan untuk melihat perkembangan trend hubungan variabel X dan
Y selama periode penelitian maupun prospek di masa mendatang.
Dimana keadaan tersebut tergantung kepada :
1. Bila b < 0, maka perkembangan trend hubungan X dan Y adalah
menurun.
2. Bila b > 0, maka perkembangan trend hubungan X dan Y adalah
meningkat.
Untuk memperoleh ketepatan koefisien b maka perlu dilakukan
uji statistik dalam hal ini yang digunakan hanya uji t dan uji F karena
hanya memuat dua variabel yaitu variabel dependen Y dan variabel
independennya X, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Uji t
Merupakan pengujian variabel penjelas secara individu yang
individu berpengaruh secara signifikan terhadap variabel
dependen. Langkah-langkah pengujian hipotesis :
a. Hipotesis : Ho : 1 = 0
Ha : 1 0
b. Menentukan thitung dengan rumus (Gujarati,
1995 : 78):
)
1
(
S
k
1
T
e
hit
dimana :
1 : koefisien regresi
Se : standar error koefisien regresi
c. ttabel t/2 = N – K
dimana = derajat signifikansi
N = jumlah sampel / observasi
K = banyaknya parameter/koefisien plus konstanta
d. - ttabel < thitung > + ttabel sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Hal
ini berarti variabel independen tidak berpengaruh terhadap
variabel dependen pada tingkat = 5 %.
e. thitung < -ttabel atau thitung > +ttabel sehingga Ho ditolak dan Ha
diterima. Hal ini dapat dikatakan variabel independen secara
statistik berpengaruh terhadap variabel dependen pada tingkat
2. Uji F
Uji ini merupakan pengujian terhadap variabel-variabel
independen secara keseluruhan dan serentak yang dilakukan untuk
melihat apakah variabel independen secara keseluruhan
mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
Hipotesis : Ho : 1 = 2 = 3 = 4 = 0
a. Apabila nilai Fhit < Ftab, maka Ho diterima yang berarti bahwa
tidak ada pengaruh yang serentak dari semua variabel
independen terhadap variabel dependen pada derajat
keyakinan tertentu.
b. Apabila nilai Fhit > Ftab, maka Ho ditolak yang berarti bahwa
semua variabel independen secara serentak berpengaruh
secara signifikan terhadap variabel dependen pada derajat
keyakinan tertentu.
BAB II
A. Perubahan Struktural
Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses peralihan (transisi) dari
satu tingkat ekonomi tertentu yang masih bercorak sederhana dan dalam
keadaan terkekang menuju ke tingkat yang lebih maju yang mencakup
kegiatan yang beraneka ragam. Dalam transformasi tersebut, terlaksana suatu
transformasi dalam arti perubahan pada perimbangan-perimbangan keadaan
yang berkisar pada landasan kegiatan ekonomi dan melekat pada tata susunan
ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, pembangunan
ekonomi sebagai transisi yang ditandai oleh suatu transformasi yang
mengandung perubahan yang mendasar pada struktur ekonomi atau disebut
perubahan struktural (Djojohadikusumo, 1994: 90). Teori perubahan
struktural memusatkan perhatiannya pada mekanisme yang memungkinkan
perekonomian dalam negeri dari peranian subsistem yang sangat tradisional
ke perekonomian modern dan lebih beraneka ragam di bidang manufaktur
dan jasa.
Cara pendekatan perubahan struktural ini mempunyai tokoh-tokoh yang
sangat terkenal, yaitu W. Arthur Lewis dan Hollis Chenery (Todaro, 1994:
68).
1. Teori Pembangunan Lewis
Lewis beranggapan bahwa di negara berkembang terdapat tenaga
kerja yang berlebih, tetapi menghadapai masalah kekurangan modal. Sebagai
akibat keadaan ini produktivitas sebagian tenaga kerjanya menjadi sangat
perekonomian yang menghadapi kelebihan tenaga kerja dapat dibedakan
menjadi tiga aspek, yaitu :
a. Analisis mengenai corak proses pembangunan.
b. Faktor utama yang memungkinkan tingkat penanaman modal menjadi
bertambah tinggi.
c. Faktor-faktor yang menyebabkan proses pembangunan tidak berlaku
lagi.
Proses pembangunan yang digambarkan Lewis bertitik tolak dari teori
klasik yang membedakan perekonomian menjadi dua sektor kapitalis dan
sektor subsisten. Dalam proses pembangunannya diperhatikan adanya (i) para
pengusaha yang selalu berusaha memaksimumkan keuntungan mereka, (ii)
tingkat upah sama dengan tingkat produksi batas (marginal product), (iii)
selama penawaran tenaga kerja masih jauh melebihi yang diperlukan, tingkat
upah tidak akan mengalami perubahan.
Menurut teori Lewis proses pembangunan bermula dan selanjutnya
berlangsung terus sebagai akibat dari penanaman kembali keuntungan yang
diciptakan dalam sektor kapitalis. Apabila sektor kapitalis memperoleh
keuntungan, dana tersebut akan ditanamkan kembali oleh para pengusaha.
Kegiatan ini akan menciptakan sejumlah kesempatan kerja di sektor kapitalis,
sehingga produksi di sektor ini meningkat dan tercipta pembangunan
ekonomi. Akibat perkembangan ini, tercipta keuntungan yang lebih besar dan
keuntungan tersebut akan ditanamkan kembali oleh para pengusaha, sehingga
dalam sektor ini dan pada akhirnya akan menciptakan kenaikan produksi dan
pembangunan ekonomi. Proses pembangunan ini akan terus menerus
berlangsung sehingga dalam perekonomian tidak terdapat lagi kelebihan
tenaga kerja.
2. Perubahan Struktural Model Chenery
Hollis Chenery dengan analisis empirisnya tentang pola-pola
pembangunan. Salah satu ciri umum yang ditemukan oleh Chenery adalah
adanya transformasi struktur produksi yaitu pergeseran dari produksi
barang pertanian ke produksi barang industri pada saat pendapatan per
kapita masyarakat meningkat. Perubahan struktural tahap awal ini
memperlihatkan bagian (share) dari output industri dalam (Gross
Domestic Product) GDP meningkat dan bagian output pertanian menurun,
pada saat pendapatan perkapita meningkat. Menurunnya tingkat output
pertanian tidak berarti produksi pertanian secara absolut turun, namun
yang terjadi adalah penurunan produk pertanian secara relatif (Todaro,
1994 : 75).
B. Pembangunan Daerah
1. Pengertian Pembangunan Daerah
Pengertian Pembangunan Daerah yaitu suatu proses dimana
pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada
(sumber daya ekonomi dan non ekonomi) dan membentuk suatu pola
menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan
ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah bersangkutan (Arsyad, L
1999 : 108). Melalui pola kemitraan daerah, serta partisipasi masyarakat
dengan menggunakan sumber daya yang ada harus mampu menaksir
potensi-potensi sumber daya yang diperlukan untuk merancang dan membangun
perekonomian di daerahnya.
2. Corak Pembangunan Daerah
Perbedaan kondisi daerah membawa implikasi bahwa corak
pembangunan yang diterapkan berbeda pula, peniruan mentah-mentah pola
kebijaksanaan yang pernah diterapkan dan berhasil pada suatu daerah belum
tentu memberikan manfaat yang sama bagi daerah lainnya. Jika akan
membangun duatu daerah, kebijakan yang diambil harus sesuai dengan
kondisi (masalah, kebutuhan dan potensi) daerah yang bersangkutan. Oleh
karena itu, penelitian yang mendalam tentang keadaan tiap daerah harus
dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang berguna bagi penentu
perencanaan pembangunan daerah yang bersangkutan (Arsyad, L 1999 :
109).
Menurut UU No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah,
penyelenggaraan pemerintah daerah sebagai subsisten pemerintahan
negara dimaksudkan untuk meningkatkan daya guna penyelenggaraan
pemerintahan dan pelayanan masyarakat sebagai daerah otonom, daerah
kepentingan masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keterbukaan,
partisipasi masyarakat dan pertanggungjawaban kepada masyarakat.
Menurut UU No. 22 tahun 1999 tersebut, bahwa penyelenggaraan
pemerintah di daerah didasarkan atas tiga asas yaitu : asas desentralisasi,
dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
a. Asas Desentralisasi
Yang dimaksud dengan asas desentralisasi adalah penyerahan
wewenang pemerintahan dari pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Wewenang yang telah diserahkan dalam rangka pelaksanaan asas
desentralisasi pada dasarnya menjadi wewenang dan tanggung jawab
daerah sepenuhnya. Dalam hal ini prakarsa dan kehendak sepenuhnya
diserahkan kepada daerah, baik yang menyangkut penentuan
kebijaksanaan, perencanaan, pelaksanaan maupun yang menyangkut
lembaga perencana adalah perangkat daerah itu sendiri.
b. Asas Dekonsentrasi
Pengertian Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang oleh
pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau
perangkat pusat di daerah. Dalam pelaksanaannya tidak semua urusan
pemerintahan dapat diserahkan kepada daerah, menurut asas
desentralisasi, maka penyelenggaraan berbagai urusan pemerintah di
daerah dilaksanakan oleh pemerintah di daerah berdasarkan asas
pejabatnya di daerah menurut asas dekonsentrasi ini tetap menjadi
tanggung jawab pemerintah pusat, baik mengenai perencanaan,
pelaksanaan, pembiayaan maupun pengawasannya. Untuk pelaksanaan
dalam hal ini adalah instansi-instansi vertikal yang dikoordinir oleh
pemerintah kepada daerah, akan tetapi kebijaksanaan terhadap
pelaksanaan urusan dekonsentrasi sepenuhnya ditentukan oleh
pemerintah pusat. Adanya pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat
kepada instansi vertikal tingkat atasnya kepada pejabat di daerah
memunculkan pemerintah daerah yang bersifat administratif wilayah.
Wilayah Administratif itu sendiri adalah wilayah kerja gubernur selaku
wakil pemerintah atau lingkungan kerja perangkat pemerintah pusat
yang menyelenggarakan pelaksanaan tugas pemerintahan secara umum
di daerah.
c. Tugas Pembantuan
Pengertian dari tugas pembantuan adalah penugasan dari
pemerintah pusat kepada daerah dan desa serta pemerintah daerah ke
desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disetai pembiayaan,
sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban
melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada
yang menugaskan. Dalam pelaksanaannya tidak semua urusan
pemerintah dapat diserahkan kepada daerah untuk menjadi urusan
rumah tangganya. Ada beberapa urusan masih tetap merupakan urusan
menjadi tanggungjawabnya itu berdasarkan asas dekonsentrasi, maka
tugas tersebut menjadi terasa berat.
C. Otonomi Daerah
Otonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu autos yang berarti sendiri,
dan nomos yang berarti aturan. Jadi secara etimologi otonomi berarti
mengatur sendiri atau zelfwergwing. Dalam penjelasan lebih lanjut dijelaskan
bahwa dalam perkembangan sejarah di Indonesia otonomi itu selain
mengandung arti “perundangan” juga mengandung arti pemerintahan.
Dalam UU No. 22 tahun 1999, pengertian otonomi daerah adalah
kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan
memperhatikan pengalaman penyelenggaraan otonomi daerah di masa
lampau dengan menganut prinsip otonomi yang nyata dan bertanggungjawab,
dengan penekanan pada otonomi yang lebih mengutamakan kewajiban
daripada hak, maka dalam undang-undang ini hal pemberian kewenangan
otonomi pada daerah kabupaten dan kota didasarkan pada asas desentralisasi
saja dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggungjawab.
Pengertian otonomi daerah yang luas adalah keleluasaan daerah untuk
menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang
pemerintahan, kecuali bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan,
peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan bidang lainnya yang
otonomi daerah mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam
penyelenggaraannya mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,
pengendalian dan evaluasi.
Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasan daerah untuk
menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara
nyata ada dan diperlukan, serta tumbuh, hidup dan berkembang di daerah.
Yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggungjawab adalah berupa
perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan
kewenangan kepada daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus
dipikul oleh daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi, berupa
peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik,
pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan dan pemerataan serta
pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah
dalam rangka keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
D. Sumber-sumber Pendapatan Daerah 1. Menurut UU No. 5 tahun 1974
Salah satu kriteria penting untuk mengetahui secata nyata
kemampuan daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya
adalah self-supporting dalam bidang keuangan. Dengan perkataan lain,
faktor keuangan merupakan faktor esensial dalam mengukur tingkat
kemampuan daerah dalam melaksanakan otonominya (Josef Riwu Kaho,
Sehubungan dengan pentingnya keuangan ini, Pamuji menegaskan
bahwa :
“Pemerintahan Daerah tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan dan pembangunan. Keuangan inilah yang merupakan salah satu dasar kriteria untuk mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri.”
Pentingnya posisi keuangan daerah dalam penyelenggaraan otonomi
daerah sangat disadari oleh pemerintah. Sesuai dengan Penjelasan Umum
UU. No. 5 Tahun 1974 sebagai berikut :
“Agar Daerah dapat mengurus rumah tangganya sendiri dengan sebaik-baiknya, maka kepadanya perlu diberikan sumber pembiayaan yang cukup. Tetapi mengingat tidak semua sumber pembiayaan dapat diberikan kepada Daerah, maka kepada Daerah diwajibkan untuk menggali sumber keuangan sendiri berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.” (Josef Riwu Kaho, 2001: 126).
Menurut UU No. 5 tahun 1974 sumber-sumber pendapatan daerah
(Josef Riwu Kaho, 2001:126) adalah :
a. Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS), yang terdiri dari :
1) Hasil Pajak Daerah
2) Hasil Retribusi Daerah
3) Hasil Peusahaan Daerah
4) Lain-lain usaha Daerah yang sah
b. Pendapatan yang berasal dari pemberian Pemerintah yang terdiri dari :
1) Sumbangan dari Pemerintah
2) Sumbangan lain yang diatur dengan peraturan
c. Lain-lain pendapatan yang sah
Berdasarkan ketentuan tersebut diatas maka Pendapatan Daerah dapat
dibedakan ke dalam dua jenis yaitu :
1) Pendapatan Asli Daerah
2) Pendapatan non-asli Daerah
2. Menurut UU No. 25 tahun 1999
Sumber-sumber penerimaan daerah berdasar UU No. 25 tahun 1999
untuk pembiayaan desentralisasi dapat dilihat pada Gambar 2.2. berikut
Gambar 2.2
Sumber-sumber Penerimaan Daerah
Sumber : Bratakusumah & Solihin, 2002 : 173
Menurut UU No. 25 tahun 1999, pembiayaan desentralisasi
dilakukan melalui kombinasi antara Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana
perimbangan, pinjaman daerah, dan pendapatan lain yang sah. Pada
dasarnya, daerah otonomi akan menjalankan fungsinya secara efektif dan
efisien apabila PAD cukup tinggi, sehingga secara leluasa dan mandiri
Secara lebih rinci, sumber-sumber pendapatan daerah dapat
dijelaskan lebih lanjut :
a. Pendapatan Asli Daerah
Dalam pasal 4 UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan
keuangan antara pusat dan daerah PAD terdiri dari (J & J. Learning,
2000 : 39)
1) Pajak Daerah
Pajak Daerah merupakan salah suatu unsur PAD yang
mencakup pajak asli daerah dan pajak negara diserahkan kepada
daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pajak daerah ini dapat dibedakan dalam dua katagori yaitu
pajak daerah yang ditetapkan oleh peraturan daerah dan pajak
negara, yang pengelolaan dan penggunaannya diserahkan kepada
daerah. Sebagaimana dinyatakan dalam UU No. 18 tahun 1997
tentang pajak daerah dan retribusi. Pajak Dareah adalah iuran wajib
yang dilakukan oleh pribadi atau badan kepala daerah tanpa
imbalan langsung seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan
perundang-undangan (Eugenia LM, 1998 : 3).
Dalam UU No. 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan
retribusi, pasal 2 ayat 1 dan 2 dinyatakan bahwa secara garis besar
terdapat dua jenis pajak yaitu pajak daerah tingkat I dan pajak
daerah tingkat II.
a) Pajak Kendaraan
b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
Sedangkan jenis pajak daerah tingkat II terdiri dari :
a) Pajak Hotel dan Restoran
b) Pajak Hiburan
c) Pajak Reklame
d) Pajak Penerangan Jalan
e) Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Gol. C
f) Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan
Dengan peraturan pemerintah dapat ditetapkan jenis pajak
selain yang ditetapkan di atas yang memenuhi kriteria, sebagai
berikut (Eugenia LM, 1998 : 7)
a) Bersifat sebagai pajak bukan restribusi
b) Obyek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan
kepentingan umum
c) Potensi memadai
d) Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif
e) Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat
f) Menjaga kelestarian lingkungan
Dalam pasal 3 UU No.18 tahun 1997, tarif pajak ditetapkan
paling tinggi sebesar :
b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 10 %
c) Pajak Hotel dan Restoran 10 %
d) Pajak Hiburan 35 %
e) Pajak Reklame 25 %
f) Pajak Penerangan Jalan 10 %
g) Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Gol. C 20 %
h) Pajak Pemanfaatan Air Tanah dan Air Permukaan 20 %
Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan
peradaban dunia serta diiringi dengan kemajuan teknologi yang
cepat maka membawa akibat tugas yang dipikul pemerintah untuk
melaksanakan pembangunan semakin berat, baik secara kualitatif
maupun kuantitatif. Melihat kenyatan itu, tentu dana yang
diperlukan untuk pembangunan semakin banyak dan pemerintah
mengharapkan dana yang diperoleh dari masyarakat juga
meningkat. Hal ini agar pembangunan yang sedang dilaksanakan itu
dapat berjalan lancar dan cita-cita masyarakat dapat terwujud.
Dengan kelonggaran itu, maka daerah bisa memungut pajak
guna memperoleh dana untuk pembiayaan dalam mengurus dan
mengatur anggaran rumah tangganya. Di samping itu, berarti obyek
yang sudah dipungut oleh daerah tidak dapat dipungut lagi oleh
pusat, dan sebaliknya. Dalam membedakan mana sebagai sumber
untuk pemerintah pusat dan mana untuk daerah, didasarkan pada
a) Latar belakang sosial politik
Yaitu latar belakang sejarah politis kemasyarakatan,
terbentuknya dan perkembangan politis suatu negara.
b) Luasnya pemasaran barang dan jasa
Jika barang dan jasa diperjualbelikan di pasar lokal saja,
maka hendaknya dipungut oleh pemerintah daerah dan apabila
di pasar nasional dan internasional, maka pajak dipungut oleh
pemerintah pusat.
c) Manfaat barang-barang kolektif
Yaitu manfaat barang yang sifatnya kolektif dan
barang-barang itu termasuk sektor nasional dan internasional,
pemungutannya lebih tepat dilakukan oleh pemerintah pusat.
Sebaliknya bila bersifat regional maka dikelola oleh pemerintah
daerah.
d) Yuridis teknis
Mutasi hak-hak kebendaan terhadap barang-barang tidak
bergerak yang paling mengetahui adalah pemerintah daerah,
maka hendaknya pajak yang dikenakan merupakan penerimaan
pemerintah daerah.
e) Administrasi dan kestabilan
Jika merupakan teknis administrasi yang tinggi, sebaiknya
pendapatannya relatif stabil sebaiknya diserahkan ke pemerintah
daerah.
Jenis-jenis yang merupakan pungutan pemerintah adalah :
(1) Di dalam pajak dibedakan :
- Pajak negara
- Pajak daerah
(2) Dalam pajak daerah sendiri dibedakan :
- Pajak daerah yang berasal dari pajaknegara
- Pajak daerah yang asli dari daerah sendiri
- Bea dan Cukai
- Lain-lain, yaitu : restribusi, iuran dan lain-lain pungutan
yang sah
2) Retribusi Daerah
Retribusi daerah merupakan salah satu bagian dari PAD
sebagaimana diatur dalam UU No. 22 tahun 1999 tentang
pemerintah daerah, UU No. 18 tahun 1997 tentang pajak dan
retribusi dan retribusi daerah serta PP No. 20 tahun 1997.
Menurut UU tersebut, retribusi adalah pungutan daerah
sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu, yang
khusus disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk
kepentingan orang pribadi atau badan (Eugenia LM, 1998 : 5).
Pungutan retribusi daerah sangat dipengaruhi oleh beberapa
pelayanan yang diberikan dan tuntutan kebutuhan masyarakat atas
jasa pelayanan tersebut. Selanjutnya untuk pelayanan di
masing-masing daerah, pungutan retribusi daerah dijabarkan dalam bentuk
peraturan daerah (perda). Adapun retribusi daerah dibagi menjadi
tiga yaitu (Eugenia LM, 1998 : 5) :
a) Retribusi jasa umum
Kemudian dalam PP No. 20 tahun 1997, dijelaskan yang
termasuk dalam retribusi jasa umum adalah :
- Retribusi pelayanan kesehatan
- Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan
- Retribusi penggantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan
akta catatan sipil
- Retribusi pelayanan pemakaman dan penguburan mayat
- Retribusi parkir
- Retribusi pasar
- Retribusi air bersih
- Retribusi pengujian kendaran bermotor
- Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran
- Retribusi penggantian biaya cetak peta
- Retribusi pengujiankapal perikanan
b) Retribusi jasa usaha
- Retribusi pemakaian kekayaan daerah
- Retribusi tempat khusus parkir
- Retribusi penitipan anak
- Retribusi tempat penginapan/pesanggrahan/villa
- Retribusi penyedotan kakus
- Retribusi rumah potong hewan
- Retribusi tempat pendaratan kapal
- Retribusi tempat rekreasi dan oleh raga
- Retribusi penyebrangan di atas air
- Retribusi pengolahan limbah cair
- Retribusi penjualan produksi usaha daerah
c) Retribusi perijinan tertentu
- Retribusi peruntukan penggunaan tanah
- Retribusi ijin mendirikan bangunan
- Retribusi tempat penjualan minuman berakohol
- Retribusi ijin gangguan
3) Bagian Laba Badan Usaha Miliki Daerah (BUMD)
Adalah penerimaan yang berupa bagian lama BUMD, yang
terdiri dari bagian laba Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan
bagian laba BUMD lainnya. Dasar hukum pembentukan BUMD,
khususnya perusahaan daerah adalah UU No. 5 tahun 1962 tentang
perusahaan daerah dan UU No. 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok
pemerintahan di daerah. Tujuan pembentukan perusahaan daerah