Ini adalah contoh ide paling konyol yang dipegang sebagai ‘pengetahuan.’ Perbuatan semacam ini adalah illegal bagi orang Yahudi untuk menyewakan gedung ibadah mereka kepada kelompok keagamaan baru, dan juga tidak diijinkan oleh
penjajah Romawi. Orang–orang percaya dalam Yeshua memiliki hak azasi penuh sebagai Orang Yahudi untuk terus beribadah pada ibadat Sinagoga lazimnya pada Hari Sabat.
Bagi kaum Yahudi urusan tempat ibadah sangat sensitif menyangkut nilai kehidupan mereka sebab setiap ‘rumah ibadah’ (Sinagoga) sudah dikuduskan oleh Kaheinim sebagai tempat menyembah Alaha tidak bisa dipakai untuk urusan duniawi. Untuk melihat gambaran yang jelas di zaman modern ini kita perbandingkan dengan Islam arus utama versus Islam Ahmadiyah.
Islam arus utama tidak akan memberikan mushollah atau mesjid mereka dipakai oleh kaum Ahmadiyah dengan alasan apapun, kecuali Ahmadiyah bersedia bertobat kembali ke jalan Islam arus utama. Kasus yang hampir mirip ini terjadi antara Yahudi Rabbinik Bait Suci Kedua dengan kaum Yahudi Nasrani–Esseni yang percaya Yeshua sebagai ha’Mashyakh mereka.
Jadi tempat ibadah Sinagoga adalah refleksi simbol Bait Suci Yerusalem yang sakral, penodaan terhadap rumah ibadah bisa berakibat fatal terjadinya pertumpahan darah.
Tidak seperti J. Vernon McGee komentator Kristen Barat modern ini menafsir sesuai kondisi Kekristenan modern di Eropa, terlebih golongan Protestantisme yang biasanya ‘rumah ibadah’ itu hanya sekedar tempat berkumpul dan tidak ada ritual tahbisan pengudusan tempat yang disucikan. Bagi mereka rumah ibadah itu sama saja seperti tempat umum, pagi hari bisa dijadikan restoran dan malam hari tempat mabuk-mabukan dan hari minggu tempat berdoa di mana ada mimbar kotbah di tempatkan di situ. Ini sudah lazim bagi Kekristenan Protestan modern, bagi mereka tidak ada yang sakral rumah ibadah karena yang penting bagi mereka adalah ‘aku’ inilah gereja. Sehingga kita tidak bisa sama sekali memakai referensi tulisan kaum Protestantisme untuk memahami konteks historis dan budaya Perjanjian Baru.
"Mereka berkumpul pada Hari Minggu ..."
Ini tidak ada sama sekali bukti faktanya. Orang–orang Percaya Yahudi dalam Yeshua melanjutkan ibadat di Sinagoga (atau di Bait Suci) pada hari Sabat. Praktek ibadat umum ini disebut “Havdallah” – pertemuan di rumah–rumah setelah petang pada Hari Sabat untuk melanjutkan diskusi dan pujian dari Sabat. Ini menjelaskan “Kotbah rabbi Shaul hingga tengah malam” (Kis. 20:7). Hari pertama dari sepekan bagi kaum Yahudi (seperti juga Paulus) mulai pada PETANG dipenghujung Sabat – Sabtu, bukan "Minggu." Inilah yang disebut, salah paham budaya!
Alkitab kaum Ibrani (Yahudi) semua mutlak harus dipahami dari persfektif budaya Yudaisme bukan malah sebaliknya dengan memakai budaya Hellenisme Yunani ataupun Latin, tidak akan pernah bertemu dari budaya berbeda ini. Alkitab itu lokus perkulakan lahirnya ada dalam konteks budaya agama YHWH Israel bukan Yunani – bukan Latin atau yang lain. Maka kita mutlak memahami dari sisi kaum Yahudi itu sendiri dari semua aspek, di luar itu maka akan terjadi salah tafsir.
Bagi kaum Yahudi hitungan waktu dimulai dari saat gelapnya matahari, sebaliknya budaya Yunani – Latin (Greco-Roman) memulai hari dengan terbitnya matahari. Jadi jika Alkitab menyebut pada hari pertama pagi–pagi sekali itu artinya masih gelap setelah usai Sabat di hari Sabtu Petang selepas sembahyang Slautha “Ma’ariv” (Arab, “Magrib”). Tidak ada satu teks sekalipun dalam Kitab Suci mendukung ide Hari Minggu, tidak ada Wahyu Alaha Israel memerintahkan kita orang percaya beribadah pada Hari Minggu sebagai ganti Hari Sabat, Tuhan Yeshua ha’Mashyakh ben Alhym tidak pernah memerintahkan perombakan hari ibadah. Justru Tuhan berkata: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.” (Markus 2: 27) dan “...Jika kamu tidak memelihara Sabat sebagai Sabat, kamu tidak akan melihat sang Bapa.” (Inji Thoma 4:14 Peshitta)
Ilustrasi untuk gambaran lebih mudah dalam istilah filosofi kita sehari–hari yakni, “manusia makan untuk hidup” (artinya tujuan manusia bukan untuk orientasi makanan tetapi sebagai sarana kehidupan saat manusia mengerjakan tugas kemanusiaannya) bukan “manusia hidup untuk makan” (seperti hewan).
“Hari Sabat diadakan untuk manusia” artinya: Sabat adalah ‘Kunci Pintu’ membuka misteri manusia, alam semesta serta Kerajaan Alaha, bahwa Alaha adalah pusat dari segala sesuatu yang menciptakan segala sesuatu baik yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Satu hari dari 7 lingkaran hari ditahbiskan Alaha sebagai “Memorial Kudus” bagi maha karya ciptaan Alaha. Dengan adanya Hari Sabbath manusia tidak lupa diri siapa Penciptanya dan kepada siapa manusia itu harus menundukkan dirinya – Bereshit/Kejadian 2:3.
Hari khusus ini dikuduskan Alaha bagi manusia sebagai jalan masuk menyembah Dia; Alaha mengingat ciptaanNya dan manusia mengingat siapa Penciptanya. Perintah ini diulangi Alaha (Mar-Yah) pada Dua Loh Batu Torah Mosha: “INGATLAH dan KUDUSKANLAH hari Sabat....(Shemoth 20:8), artinya sejak zaman Adam dan Hawa kepada keturunannya selanjutnya ada kecenderungan umat manusia melupakan SABAT, kemudian diingatkan kembali di Sinai. Di zaman raja–raja Israel, kembali YHWH mengingatkan melalui nabi Yesaya (Yesaya 58:13-14); di zaman Adonay Yeshua Tuhan mengingatkan betapa pentingnya Sabbath itu
bagi pemahaman keagamaan yang benar (Markus 2:27), di zaman Rasul-rasul diingatkan kembali masalah Sabat itu (Ivrim/Ibrani 4:1-11).
Teks Ibrani 4:1-11 dikemudian hari ditafsirkan secara salah oleh bapa-bapa gereja Kristen dengan mengutip teks Kitab Suci kaum Esseni Nasrani Yerusalem, kitab Henokh tentang hari ke-8 yang diartikan sebagai Hari Minggu. Tidak ada pemahaman semacam ini dalam pemikiran teologi Yudaisme semacam ini. Kekristenan itu tidak konsisten, jika pemahaman hari ke-8 yang bersumber dari Kitab Henokh dipakai sebagai landasan mengapa Kitab ini disingkirkan dari daftar kanon Alkitab Kristen? Itu berarti Kekristenan tidak jujur!
“Hari Perhentian”, “Hari Ini” dan “masih tersedia hari perhentian, hari ke-7” ini menunjuk Perjanjian Baru (Brith Khadasha) yang dijanjikan Alaha
bagi kaum Israel (baca, Yeremia 31: 31-34). Hari Ketujuh (Sabat) yang dimaksud di sini adalah Perjanjian Baru dalam Yeshua ha’Mashyakh yang dijanjikan itu. Pemahaman yang baru (dalam kantong anggur baru) bukan lagi dalam pemahaman kantong anggur lama yang penuh beban dan sudah dipenuhi dengan aturan tradisi-tradisi manusia rekayasa rabbinik Yahudi (Markus 7:7-9).
Yeshua itu sudah menjadi “Domba Alaha” yang memeteraikan Torah melalui darahNya (Yokhanan 1:29). Jadi tidak ada perombakan Sabbat di sini, yang ada hanya Sabat dipahami dalam konteks Perjanjian Baru itu saja. Teks Surat Kiriman Ibrani dalam teks Yunani sangat diragukan keasliannya karena sudah mengalami proses modifikasi sepanjang abad, sementara itu kita hanya bisa bersandar pada teks asli Kitab Suci Peshitta saja dalam bahasa Aramaik:
1 Oleh karena itu, marilah kita dengan rasa takut, sementara masih ada janji pasti masuk kedalam perhentianNya, diantaramu jangan ada yang ketinggalan dalam waktu singkat ini. 2 karena bagi kita ini juga merupakan pengumuman, dan juga kepada mereka: tetapi sabda (Alaha) yang mereka dengarkan tidak bermanfaat bagi mereka, karena sabda itu tidak lebur dengan iman mereka yang mendengar sabda Alaha. 3 tetapi kita, yang percaya, sungguh masuk kedalam perhentian itu. Tetapi seperti Alaha bersabda, Aku bersumpah dalam kemurkaanKu, mereka ini tidak akan masuk kedalam perhentianKu: sekalipun (mereka) mengetahui, pekerjaan–pekerjaan Alaha sudah ada dari sejak dunia dijadikan. 4 Sebagaimana halnya Alaha telah sabdakan mengenai hari Shabbat, Alaha berhenti pada hari ketujuh dari semua pekerjaanNya. 5 Dan kembali lagi sekarang ini, Alaha bersabda, mereka tidak akan masuk kedalam perhentianKu. 6 Oleh karena itu, disebabkan telah ada tempat, di mana satu sama lain boleh masuk; dan mereka orang–orang terdahulu, kepada mereka ini yang pengumuman diamanahkan, justru tidak masuk, disebabkan mereka tidak beriman: 7 kembali lagi Ia (Alaha) menetapkan hari lain (mengingatkan kembali), lama setelah itu; sebagaimana tertulis, Daud berkata, Hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, jangan keraskan hatimu. 8 Sebab jika Yoshua, putra Nun, telah memberikan mereka perhentian, Alaha tidak akan
mengucapkan setelah itu tentang hari lain. 9 Oleh sebab itu, hari perhentian ini telah ditetapkan, umat Alaha wajib beribadah pada hari Sabat. 10 Sebab barang siapa yang masuk kedalam perhentiannya, juga harus berhenti dari pekerjaannya, karena Alaha berhenti dari pekerjaanNya. 11 Marilah kita, berjuang keras masuk kedalam perhentian; jangan ada kita yang ketinggalan, seperti contoh mereka yang tidak percaya. Ivrim 4:
1-11. Peshitta AESV.
Jadi makna kata “HARI LAIN” di sini adalah suatu zaman di mana Yahweh akan berbicara lagi secara langsung kepada umat manusia seperti di zaman Musa. Peristiwa Hari Lain ini kita kenal sebagai ‘peristiwa penjelmaan’ Sabda Alaha menjadi Anak Manusia, yakni YHWH menjelma menjadi manusia lahir dari rahim Miriam di abad Pertama Masehi yang diberi nama “Yeshua ha’Mashyakh.” Yahweh Israel ini bersabda tentang Sabat, ““Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabbath.” -Markus 2: 27.
“Bukan manusia untuk hari Sabat” artinya manusia melakukan sabat tanpa pengertian dan seperti binatang tidak berpikir melakukan sabbat. Itulah yang dilakukan kaum Yahudi di zaman Yeshua; ‘melakukan Sabat hanya sebatas ritual lahiriah saja’ (...dan mereka orang–orang terdahulu, kepada mereka ini yang pengumuman diamanahkan, justru tidak masuk, disebabkan mereka tidak beriman”- Ivrim 4:6).
Kerbau makan rumput tetapi si kerbau tidak tahu mengapa ia harus makan rumput, tetapi perut lapar harus makan rumput dan jika sudah kenyang cukuplah sudah. Demikianlah Orang Yahudi melakukan Sabat pada waktu itu; para guru Torah dan Soferim mewajibkan mereka melakukan Sabat mereka melakukan yang diperintahkan, mengerti atau tidak yang penting lakukan, setelah itu semuanya sudah dilakukan dan dianggap sudah menunaikan kewajiban, untuk apa dilakukan dan mengapa tidak penting. Jadi melakukan kewajiban sabat tanpa pengertian, karena tidak ada pengertian maka tidak ada iman. Mereka seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Tipe penyembah Alaha seperti ini tidak dikehendaki Alaha dan tidak masuk kedalam perhentianNya, karena mereka tidak dilandasi iman kepada Alaha melakukannya, melainkan hanya landasan hari Sabat. Itulah sebabnya mereka menolak Yeshua sebagai ha’Mashyakh yang dijanjikan itu. Mata hati nurani teologis mereka tidak bisa tembus melintasi dibalik hari Sabat itu, yakni Yahweh itu sendiri sebagai landasan Sabat itu. Itulah sebabnya, dalam Injil Markus ditegaskan oleh Tuhan: “.... jadi Anak Manusia (Yeshua ha’Mashyakh) adalah juga Tuhan atas hari Sabat, artinya Yahweh yang ada dibalik Hari Sabat itu.
Tuhan si Pemilik Sabat. Tuhan dalam bahasa Aramaik disebut “Maran” (pemilik, tuan, penguasa, dan raja). Dengan demikian, saat kita melakuan ibadah
Sabat itu identik melaksanakan perintah Raja, perintah raja hakikatnya bukan Raja itu sendiri, perintah adalah perintah dan Raja adalah Raja. Namun, kita melakukan perintah Sabat sebagai titah sang Raja untuk mengakui otoritas Raja, tunduk kepada Raja, tanda kesetiaan kita pada Raja, dan ungkapan kasih kita kepada Raja.
Alaha itu tidak mungkin meludah ke langit terpercik muka sendiri, Ia sudah menguduskan Hari Sabat lalu dirombak menjadi Hari Minggu. Jika ini terjadi maka Alaha itu tidak konsisten, menurunkan derajatNya sebagai Alaha menjadi profan seperti manusia. Lagi pula, Yeshua itu orang Yahudi dan hidup sebagai orang Yahudi bagaimana bisa Dia merombak Sabbat menjadi Hari Minggu?
Tuhan bangkit bukan hari Minggu, tetapi Sabat ditutup lalu umat diutus keluar ke dunia untuk mewartakan kabar manisnya hari Sabat. Demikianlah kebangkitan Tuhan di Hari Sabat petang sesuai tradisi Alkitabiah TaNakh dan Brith Khadasha serta tradisi kaum keluarga Tuhan sendiri yang dipegang teguh hingga kini. Alkitab terjemahan bahasa Yunani sudah dimodifikasi sesuai alam berpikir kaum Yunani yang kontradiksi dengan Yudaisme. Itulah sebabnya kita menemukan teks yang berkata Yeshua bangkit pada Hari Pertama di pagi hari (Lukas 24:1) adalah kesalahan terjemah.
Lagi pula, mereka tidak "konflik dengan pertemuan ibadat kaum Yahudi" sebab mereka tetap Yahudi dan masih ke Sinagoga bersama dengan saudara-saudara mereka kaum Yahudi yang belum percaya kepada Yeshua. Pernyataan penulis ini jika dihubungkan alasan Orang-orang percaya Yahudi berbadah hari Minggu supaya tidak bersamaan waktunya dengan Yahudi lainnya, maka jelas penulis salah total.
Diantara bapa-bapa gereja Kristen non-Yahudi menyebutkan mereka ini. Epiphanius adalah dokumen pertama menyebutkan hal ini sebagai nama paling awal digunakan oleh para pengikut Adonai Yeshua untuk mengidentifikasi diri mereka:
“Mereka tidak menyebut diri mereka dengan nama ha’Mashyakh (Yunani, ‘Khristos’), atau dengan nama “Yeshua,” tetapi mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “kaum Nasrani.” Semua orang-orang percaya kepada Yeshua haMashyakh dinamai ‘Nasrani” suatu kali.
Untuk sekali waktu mereka juga memberikan nama kaum “Iessaeian”, sebelum murid-murid di Antiokhia mulai menyebut dirinya kaum “Kristen.” Dan mereka menyebut diri mereka kaum ‘Iessaeian’ karena ‘Yesse’ (Isai), hal itu tampak kepadaku, dikarenakan Daud adalah keturunan Isai, dan melalui silsilah Miriam adalah berasal dari benih keturunan Daud, menggenapi Kitab Suci menurut kitab TaNakh (Perjanjian Lama) ketika TUHAN bersabda kepada Daud [Mazmur 131:12 LAI], "Dari buah pinggangmu Aku akan menegakkan tahtamu.” Epiphanius, panarion 29, 1, 2-4
Selama masa abad ke-4 Masehi Bapa Gereja Barat, Epiphanius memandang Nasrani sebagai “bidat” karena mereka menolak membuang Sabda Alaha yang mereka rujuk sebagai Perintah-Nya (Mitzvah Alaha). Epiphanius menulis dengan motif prasangka untuk merendahkan Jemaat Yerusalem dan meninggikan dunia Kekristenan sehingga orang salah sangka terhadap Nasrani dengan berpikir sebagai bidat dan lupa bahwa sesungguhnya bidat sesat itu adalah dunia Kekristenan itu sendiri, metode licik ini adalah perbuatan melempar batu sembunyi tangan:
"... Mereka pada umumnya keturunan Yahudi dan tidak kurang lebih. Mereka tidak saja hanya memakai Kitab Perjanjian Baru, tetapi juga melaksanakan kebiasaan hidup Perjanjian Lama Yahudi; karena mereka tidak menyingkirkan Kitab-kitab Torah, Nabi-nabi, dan Tulisan-tulisan Suci lainnya… agar supaya mereka diakui oleh kaum Yahudi saudara-saudara mereka (Yahudi yang tak percaya Mesias), mereka ini Umat Nasrani yang tak membedakan diri mereka dalam segala sesuatunya dan mereka mengakui semua dogma Yahudi berkenaan dengan rumusan Torah dan adat-istiadat Yahudi, kecuali satu hal yang membuat mereka beda adalah keyakinan terhadap sang Mshikha… Mereka mewartakan bahwa hanya ada satu saja Alaha dan PutraNya Yeshua d’Mshikha.
Namun, mereka sangat terdidik dengan baik dalam bahasa Ibrani; sebab mereka sama seperti Yahudi lainnya, membaca keseluruhan Torah, kemudian Nabi-nabi… Mereka memang berbeda dengan Yahudi pada umumnya karena mereka percaya pada sang Juruselamat (Mesias) dan sekaligus berbeda pula dengan orang-orang yang menyebut dirinya Kristen yang dalam hal itu mereka hingga saat ini terikat dengan ritus-ritus Yahudi, seperti … Sabat dan Perayaan-perayaan lainnya." Panarion 29.
Dengan demikian, jelaslah bahwa kaum Yahudi Awal tidak memisahkan diri mereka beribadah dari segi tempat ibadah mereka beribadah bersama di Sinagoga dan hari sembahyang yakni Sabat, kemudian senja hari Tutup Sabat dilanjutkan dengan Ibadat Havdallah sebagai penutup Sabath yang bisa berakhir hingga larut malam. Kebiasaan ini dilakukan di rumah–rumah untuk diskusi tentang Torah dan Sabda-sabda Alaha lainnya yang disebut pertemuan Khavurah (Ibadat Rumahan).
Sungguh berbahaya sekali iman kita dipercayakan atau mempercayai pemikiran para ahli teologia Kristen yang dangkal seperti contoh di atas. Dan pada umumnya, teologia Kristen itu TIDAK ADA yang mendalam dari persefektif teologis serta Alkitabiah, semuanya hanya ‘ide–ide liar hasil tafsir subyektif murahan akan Sabda-sabda Alaha dalam Kitab Suci yang dipahami dalam kaca mata budaya yang berbeda sehingga pesan Alkitabiah menjadi menyimpang atau tidak sampai kepada sasaran.’