artikel
45
INFORWAS • EDISI III • TAHUN 2020
Pidana Korupsi di Lingkungan Kementerian Kesehatan. Whistle Blowing secara umum diartikan dengan meniup peluit, jika kita mendengar ada seseorang yang meniup peluit dengan bunyi yang bernada tinggi dan melengking pasti akan mengusik perhatian. Siapapun yang mendengar tiupan pluit itu maka akan berusaha mencari dimana suara itu berasal. Itulah gambaran sederhana tentang definisi whistleblowing.
Whistleblowing System Kemenkes adalah sistem pelaporan pelanggaran yang memungkinkan setiap masyarakat/
pegawai untuk melaporkan adanya dugaan tindak pidana korupsi yang kerahasiaan identitas Pelapor dijamin serta diberikan
perlindungan oleh pimpinan Kementerian Kesehatan. Jadi, definisi Whistleblowing System tidaklah terbatas hanya pada WBS online yang ada pada website yang selama ini kita fikirkan ketika kita ditanya tentang Whistleblowing System, namun lebih luas merupakan sistem pelaporan pelanggaran untuk mempermudah pegawai/masyarakat yang hendak melaporkan dugaan tindak pidana korupsi di lingkungan Kemenkes.
Penerapan Whistleblowing System di lingkungan Kementerian Kesehatan merupakan tindak lanjut Inpres 5 Tahun 2004 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi, antara lain menetapkan Program Wilayah Bebas dari Korupsi yang
mewajibkan penerapan sistem pelaporan pelanggaran (Whistleblowing System).
Sistem ini memberikan kesempatan kepada masyarakat/pegawai Kementerian Kesehatan yang mengetahui atau memiliki informasi/
bukti-bukti tentang perbuatan tindak pidana korupsi pejabat dan atau pegawai di lingkungan kerjanya, untuk mengungkapkan penyimpangan tersebut tanpa merasa khawatir kerahasiaannya diketahui oleh orang lain.
Kemana Saluran Jika Ada dugaan tindak pidana korupsi di Kemenkes?
Penangananan pelaporan pelanggaran (Whistleblowing System) di lingkungan Kementerian Kesehatan merupakan bagian dari sistem penangananan pengaduan masyarakat terpadu yang memfokuskan pada laporan yang berindikasi tindak pidana korupsi, laporan adanya dugaan tindak pidana korupsi di lingkungan Kementerian Kesehatan dapat disampaikan melalui saluran:
Apa saja kriteria pengaduan yang disampaikan melalui Whistleblowing System Kemenkes?
internationalbanker.com
46 INFORWAS • EDISI III • TAHUN 2020
Pengaduan yang disampaikan melalui Whistleblowing System hanya pengaduan pelanggaran yang mengindikasikan adanya Tindak Pidana Korupsi (TPK).
Laporan suatu penyimpangan harus didukung dengan bukti-bukti yang cukup dan jelas
unsur-unsurnya sebagai berikut :
1) Adanya penyimpangan kasus yang dilaporkan;
4) Siapa dan pejabat/
pegawai Kementerian Kesehatan yang 5) melakukan penyimpangan atau terlibat
dengan kejadian; dan
6) Bagaimana cara perbuatan tersebut terjadi.
Apakah kerahasiaan Identitas saya terjamin?
Inspektorat Jenderal wajib melindungi dan menjaga kerahasiaan identitas Pelapor Pelanggaran (Whistleblower), memberikan perlindungan hukum serta perlakuan yang wajar. Sesuai dengan Permenkes Nomor 29
tahun 2014 tentang Tata Cara Penanganan Pelaporan Pelanggaran (Whistle Blowing System) Dugaan Tindak Pidana Korupsi di
Lingkungan Kementerian Kesehatan Pasal 10 ayat (1) “bahwa
Inspektorat Jenderal wajib melindungi dan menjaga
kerahasiaan identitas Pelapor Pelanggaran
(Whistleblower), memberikan
perlindungan hukum serta perlakuan yang wajar”.
Apakah ada jaminan
perlindungan bagi Saya ketika saya melaporkan adanya dugaan tindak pidana korupsi di lingkungan Kemenkes?
Pada tanggal 28 September 2015, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang Perlindungan Bagi Pelapor, Saksi, dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama dalam rangka Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Lingkungan Kementerian Kesehatan Nomor: HK.05.01/MENKES/373/2015 dan Nomor: NK-042/I.DIV4.2/LPSK/09/2015. MoU
•
WBS online Inspektorat Jenderal : https://itjen.kemkes.go.id/wbs/•
Email pengaduan : [email protected]•
Kolom pengaduan : https://itjen.kemkes.go.id/pengaduan_form•
Datang langsung : Kantor Inspektorat Jenderal•
Surat : Jl. HR. Rasuna Said Blok X-5 Kavling No. 4-9 : Kuningan, Jakarta-Jakarta Selatan 12950•
Telepon : 021-5223011, 5201589 (Direct) 021-5201589•
Fax : 021-5201589artikel
lpmpmalut.id
47
INFORWAS • EDISI III • TAHUN 2020
ini merupakan bagian dari Whistleblowing System Kemenkes dimana selain ada saluran pengaduan, jaminan kerahasiaan identitas pelapor juga diperlukan perlindungan bagi pelapor yang melaporkan adanya dugaan tindak pidana korupsi di lingkungan Kementerian Kesehatan. Hal ini sesuai dengan Permenkes Nomor 29 tahun 2014 tentang Tata Cara Penanganan Pelaporan Pelanggaran (Whistle Blowing System) Dugaan Tindak Pidana Korupsi di Lingkungan
Kementerian Kesehatan Pasal 10 ayat (3) bahwa “Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan melaporkan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) apabila Pelapor Pelanggaran (Whistleblower) mengalami ancaman keselamatan jiwa”.
Siapa yang akan menangani
pengaduan saya terkait dugaan adanya tindak pidana korupsi dilingkungan Kemenkes?
Pelaporan pelanggaran tindak pidana korupsi yang disampaikan oleh pelapor, selanjutnya ditindaklanjuti oleh Tim Penangananan Pelaporan Pelanggaran (Whistleblowing) pada Inspektorat Investigasi.
Yuk jangan takut menyuarakan kebenaran yang anda lihat, bantulah Kementerian Kesehatan untuk menjadi lebih baik dengan melaporkan adanya dugaan tindak pidana korupsi di Kemenkes melalui Whistle Blowing System. Jika kita hanya diam melihat dan mendengar adanya penyimpangan, sama saja kita setuju dengan perbuatan itu, atau lebih ekstrem kita dianggap bagian dari penyimpangan itu.
Salam Sehat Tanpa Korupsi!!!!. n
Sumber: Permenkes Nomor 29 tahun 2014 tentang Tata Cara Penanganan Pelaporan Pelanggaran (Whistle Blowing System) Dugaan Tindak Pidana Korupsi di Lingkungan Kementerian Kesehatan
Penulis:
Ahmad Fahrudin, SE
Auditor Ahli Pertama Inspektorat Investigasi Kemenkes RI
48 INFORWAS • EDISI III • TAHUN 2020
S
aat ini sebagian besar negara, termasuk Indonesia menghadapi permasalahan yang sama: pandemi coronavirus desease (Covid-19).Presiden Indonesia Joko Widodo sendiri sudah mengumumkan bahwa penyebaran Covid-19 ini sebagai bencana nasional. Pemerintah harus bergerak lebih cepat demi menganggulangi penyebaran penyakit baru ini. Meski begitu, pemerintah tetap perlu mengedepankan transparansi dalam proses penanganan bencana, termasuk dalam pelaksanaan pengadaan barang dan jasa. Hal ini diperlukan untuk memastikan upaya pemerintah sejalan dengan kebutuhan warga dan uang negara pun tak terbuang percuma.
Bagi kementerian/lembaga, pengadaan barang/jasa di masa darurat ini dilematis.
Di satu sisi barang/jasa tersebut harus tetap dilakukan. Di sisi lain, harga barang/jasa tersbut sangat fluktiatif dan cenderung sangat mahal.
Menghadapi kenyataan tersebut, tentunya seluruh satuan kerja di lingkungan Kementerian Kesehatan diharapkan mampu mendapatkan barang/jasa yang dibutuhkan, namun dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip pengadaan.
Untuk mengatasi kondisi yang dilematis tersebut, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020. Surat Edaran ini pada dasarnya adalah penjelasan dari pasal 59 Peraturan
Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang pengadaan barang/jasa. Surat edaran ini juga merupakan penjelasan dari Peraturan Kepala LKPP nomor 13 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa dalam Penanganan Keadaan Darurat. Pada surat edaran tersebut dijelaskan bahwa dalam pengadaan barang/
jasa penanganan Covid-19 Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tidak perlu membuat Harga Perkiraan Sendiri (HPS).
Dalam kondisi normal, fungsi dari HPS adalah untuk menilai kewajaran harga penawaran dari penyedia. Kemudian, ketika PPK tidak perlu membuat HPS, bagaimana PPK dapat menilai harga yang ditawar penyedia tersebut adalah
wajar?
Mengingat hal tersebut, maka peran Aparat Pengawasan