BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Kesantunan Bahasa Pada Pantun Merisik Dalam
4.1.2 Merisik pada Masyarakat Melayu
4.1.2.3 Merisik Besar
Yuscan (2005:29) mengatakan bahwa merisik besar adalah pertemuan antara kedua
keluarga (keluarga pemuda dan keluarga si anak dara) secara resmi menurut adat resam
Melayu untuk melanjutkan hasil kesepakatan yang telah dilakukan dam Merisik Kecil
sebelumnya. Dalam acara ini turut diundang pula tetangga dan sanak famili dari kedua
belah pihak yang dipimpin oleh seorang penghulu telangkai atau juru sabda untuk
Dalam merisik besar pihak keluarga pemuda akan memberikan sebuah tanda ikatan
kepada si anak dara sebagai tanda bahwa keduanya telah dipertunangkan sesuai dengan
hukum adat dan resam Melayu. Selain itu dalam merisik besar kedua belah pihak juga
mengumumkan kepada seluruh keluarga dan para tetangga mengenai kesepakatan yang
telah dibuat dalam merisik kecil seperti berapa lama masa pertunangan sebelum
dilanjutkan kejenjang pernikahan, besarnya mahar, luah atau seperangkat pakaian untuk
calon pengantin wanita (diantarkan selambat-lambatnya 1 minggu sebelum akad nikah),
peralatan kamar (diantarkan selambat-lambatnya 1 minggu sebelum malam bersanding),
besar uang antaran dan hari serta tanggal akad nikah.
Pada zaman dahulu orang Melayu melaksanakan merisik, meminang dan naik
belanja pada waktu yang berbeda. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman maka
saat ini acara merisik, meminang dan naik belanja dilakukan dalam waktu dan tempat yang
bersamaan. Sesuai dengan sebuah ungkapan yang mengatakan
“Sekali merengkuh dayung
Duatiga pulau terlampaui
Sekali membawa pura
Dua tiga hutang dibayar.
Sekali kemarau tiba, sekali pucuk beralih
Sekali hujan turun, sekali lubang berisi
Sekali air bah, sekali tepian berpindah”
Penggabungan dalam pelaksanaan acara tersebut diatas bukanlah suatu hal yang
dianggap melanggar ketentuan adat apabila dilaksanaan sesuai dengan tertib acara dan
ini adalah perubahan urutan dan tata tertib pelaksanaan seperti malaksanakan “kawin”
terlebih dahulu baru menikah, bahkan punya anak terlebih dahulu barulah melangsungkan
pernikahan.
Percakapan dan Pantun pada Merisik Besar
Yuscan (2005:40) mengatakan percakapan dan pantun pada merisik besar sebagai
berikut:
Pihak laki-laki : Begini Tuan Hamba
Musim habis masapun sampai Adat lembaga akan tetap dipakai Kami ini diutus sebagai telangkai Semoga niat baik dapat tercapai
Kami dating beserta rombongan
Menyampaikan salam ta’zim penuh keikhlasan Dari bapak …. Yang berada dipangkalan Semoga kedatangan kami membawa keberkatan
Adapun niat dari orang tua kami tersebut, Ingin mempererat hubungan silaturahmi
Dengan keluarga bapak …. Yang berada di sini
Tetapi hajat beliau tersebut tidak bisa disampaikan begitu saja, hajat dan niat dari dia agar disampaikan menurut adat resam Melayu.
Tetapi maklumlah tuan, kami ini belum begitu paham dan arif di dalam hal menyampaikan hajat ini secara adat. Untuk itu kami sampaikan …
Kampung Bedagai di hari pecan Pohon dadap di simpang empat Andailah ada salah kesilaan
Mohon maaf dari dunia hingga akhirat
Izinkan kami memahat si batang pepat Pahat mengukir si batang kayu
Ijinkan kami menyampaikan hajat Adat dipakai resam Melayu
Jadi Tuan Hamba,
Jika nak menetak berlandasan Tangkahan bertepian,
Kampong berpenghulu
Susah dan duka tempat mengadu Benang kusut rentang-rentankan Dimana yang retak tolong tautkan Sebelum maksud kami bentangkan Kemana tepak nan diserahkan
Pihak perempuan :
Pihak laki-laki :
Makan sirih tidak berpinang
Pinang yang tumbuh di selat Malaka Makan sirih tidak mengenyang Sudah menjadi adat lembaga
Ikan bersisik masuk bengkawan Hendak dibawa di hari pecan Tepak perisik kami serahkan
Hendak merisik bunga di dalam taman
(menyerahkan tepak Merisik pada penghulu telangkai pihak perempuan)
Pihak Perempuan :
(tepak sirih diterima namun dibiarkan saja pada tempatnya dan isinya tidak
diambil/dimakan. Alasannya karena telangkai pihak laki-laki belum menjelaskan bunga
mana yang hendak dirisik).
Kemudian telangkai pihak perempuan berkata :
Putrid Tun Teja sedang berdandan Dihibur Mak Inang sambil menari Sirih risik belum dimakan
Karena belum jelas niat dihati Serta kami pesankan :
Hinggap seekor di pisang barangan Hati-hati Tuan merisik bunga Nanti terisik bunga larangan
Pihak laki-laki :
Ooo, betul juga pesan tuan hamba ini Beli kuini di Pecan Baru
Pagi hari di belah-belah Beginilah nasib si anak beru
Gara-gara nak bebini, awak jadi susah
Baik tuan hamba, sesuai dengan pesan tuan hamba tu, eloklah kami buka kulit
Nampak isi, apalah guna berlindung di lalang sehelai, nantikan Nampak jua belangnya.
Mohon pulalah kami menyampaikan sebuah nazam, Yang pertama Nabi Allah Adam
Nenek manusia dari sekalian alam Mula asalanya di Darus Salam Ditempat Jibril dari tanah segenggam Adam dijadikan seorang diri
Tinggal di sorga berhari-hari Dilihatnya burung dua sejoli Inginlah adam hendak beristri Niat Adam Allah ketahui
Adam dikahwinkan, Jibril jadi saksi Diberikan hantaran Shalawat Nabi
Jadi Tuan Hamba jika ini nak dikisahkan, wah bisa tiga hari tiga malam tak habis.
Hamba rasa sesuai dengan satu pantun ada mengatakan :
Jika nak digantang tiga gantang Kalau disukat empat sukat Jika direntang kelewat panjang Elok dipintal supaya singkat
Sudah lama mengikat tudung Baru sekarang dihampaikan Sudah lama hajat dikandung Baru sekarang nak disampaikan
Kami sudah mendengar tuan arif bijaksana Paham dikias arif umpama,
Memegang adat kebiasaan Menepati janji dan kata-kata, Dari dahulu hingga sekarang Siapa salah siapa ditimbang, Adat dan syara’ jadi pegangan Besarlah sudah anak di rumah Umur baru setahun jagung,
Darah baru setampuk pinang,
Berjalan belumlah jauh, ilmunya jua masihlah kurang, Menjadi utang ibu dan bapa.
Menjadi tanggung jawabfamili sanak keluarga Baru sebagian utang dibayar
Pertama : berkerat pusat berbuai dan berayun
Kedua : berkhitan sunnat rasul
Ketiga : mengaji khatam Al-Qur’an
Keempat : diajar Adat sopan santun
Kelima : badannya sehat jasmani dan rohani
Sudah diberi nama oleh keluarga sanak famili,
Hanya tinggal satu lagi utang kami, Hukum Adat hukum negeri
Wajib disuruh berumah tangga, Memenuhi syarat manusiawi Menambah turunan anak manusia
Desau angin telah berlalu Risik merisik himbau mehimbau Desir berdesir berkesan di kalbu Kait berkait rotan di hutan Jalin berjalin menjadi satu
Jadi tuan hamba
Karena anak kami sudah remaja Lazim disebut muda belia
Selalu terbang tinggi di angkasa Kami takut bala menimpa
Tentulah susah famili sanak saudara Kami coba cari obat penawar bisa Karena dia sudah remaja lajang
Elok kita umpamakan dia bagai seekor kumbang Selalu terbang tinggidi sawah yang lapang Perginya pagi pulangnya petang
Jangan tuan ragu ataupun bimbang Dia ini bukan dagang terbuang Bukan pula si kumbang jalang
Karena ada tempatnya beserta sarang Tetapi tuan hamba,
Sifat-sifatnya tersebut dah jauh terbuang Dianya selalu tinggal di sarang
Dari mulai pagi hingga kan petang Kalau makan pun tak pulalah kenyang Bagi mana kami tak susah
Melihat dia selalu gelisah
Apa dikerjakan selesai tak sudah
Yang paling parah, … Makan sirih suntil tembakau Beli kapur kedai Ncik Ali
Selalu merintih selalu mengigau Bila tidur di malam hari
Melihat hal ini Tuan Hamba, Tentulah Maknya yang paling risau
Bertanya pada anandanya, dengan berpantun: Buah mangga buah kuini
Jatuh kesemak airnya payau Mengapa anak jadi begini Hati emak ikut menjadi risau
Namun si anak diam seribu bahasa Tak berkata sepatah jua
Sekalian perasaan disimpan di dalam dada Orang lain tak perlu ikut merasa
Sang ayahpun ikut menjadi bingung Mengapa anak menjadi pemurung Jika duduk selalu termenung
Kalu berjalan banyak pula tersandung Anak kandung sibiran tulang
Obat penat pelerai demam Jika dulu anak periang
Mengapa sekarang jadi pendiam
Sang ayah berkata kepada ibu, bawalah dia ke Kampung Lalang Disana ada turunan ahli nujum Pak Belalang
Kiranya Tuan Hamba, bukan dokter tak handal Bukan dukun tak mujarab
Bunga sekuntum jadi penyebab
Dentam dentum bunyi rebana Makan tak kenyang tidur tak lena Hingga badan kurus jiwa merana Kiranya sudah kena panah asmara
Seluruh keluarga sudah mufakat Diberikan tugas kepada kami Untuk bertanya secara adat
Menyampaikan hajat secara resmi
Bolehlah kami dengan cerana Memberikan sirih dengan setangan Bolehkan kami hendak bertanya Adakah bunga di dalam taman
Pihak Perempuan :
Semua cerita sudah didengar Nampaknya kumbang tukang pesiar Tak dapat duduk walau sebentar Bagaikan dia memakai radar
Tau saja di mana bunga yang mekar
Untung tuan dating menjenguk Hingga hati kami menjadi sejuk
Sungguh tuan bijak bestari Pandai berkias pandai berperi Jauh-jauh dating kemari
Kiranya ada yang hendak dicari Tapi Tuan Hamba,
Sungguh indah diciptakan alam Ada siang ada pula malam
Makhluk dijadikan bercorak ragam Kumbang terbentuk tidak pula semacam
Jadi Tuan Hamba, yang mana bentuk kumbang Tuan itu?...
Pihak laki-laki :
Baiklah Tuan Hamba,
Agar tak jadi sengketa nanti di belakang hari Adapun kumbang kami si kumbang jati Orangnya elok lagi berbudi
Susah didapat payah dicari
Pihak Perempuan :
Bunga di taman bukanlah satu
Bunga yang mana yang niat tuan tuju
Ada bunga Mawar, MelatI dan si Bunga Labu Eloklah kami jelaskan satu persatu
Bangsa Melati orangnya elok lagi berbudi Dianya sangat pandai mengaji
Paling suka makan kue serabi
Tapi maaf dengan danya kami dah ada ikat janji Dengan Bapak Zulkifli, yang tinggal di pangkal titi Insya’ Allah akan kami raikan di bulan haji
Lain pula si Bunga Mawar Orangnya elok lagi penyabar Paling senang sama kue dadar
Inipun sudah ada lawan janji dan ber ikrar Dengan anak Pak Abu Bakar pedagang tikar Yang tinggal di kampung Mabar
Adapun nama anak kami itu Rusnizar
Nah Tuan Hamba, tinggal satu orang lagi Yang dia ini adalah si Bunga Labu
Orangnya baik serta pemalu Bila mengaji suaranya merdu Sangat petuh pada ayah dan ibu Kesenangannya makan kue putu Namanya …. Disebut ayah/ibu selalu
Pihak Laki-laki :
Terang bulan di tengah lorong Cahayanya sampai ke muka pintu Kalu Allah hendak menolong Air pasang sampan pun lalu
Walau semerbak wangi bunga Mawar serta Melati Menjadi bunga pujaan serta idaman
Tidak meninggalkan kesan Lain dengan si Bunga Labu Sungguh cantik si Bunga Labu Selalu indah walu tak berbau Tetapi hati tak bimbang dan ragu
Karena si Bunga Labu itulah kami nak tuju
Pihak Permpuan :
Birik-birik terbang berlima Ayam yang kurik dibelai-belai Tepak perisik kami terima
Karena bunga dirik sudah sesuai
4.2 Skala Kesantunan yang Terdapat pada Pantun Melayu