BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Kesantunan Bahasa Pada Pantun Merisik Dalam
4.1.2 Merisik pada Masyarakat Melayu
4.1.2.2 Merisik Kecil
Yuscan (2005:28) mengatakan bahwa merisik kecil adalah lanjutan dari merisik
berbisik. Tugas merisik berpindah dari utusan kepada Penghulu Telangkai yang
didampingi oleh puang dan anak beru serta semenda. Tujuan merisik kecil ini adalah untuk
bertanya tentang syarat-syarat adat yang harus dipenuhi oleh keluarga pihak pemuda agar
pinangan mereka diterima seperti tanda pertunangan, mahar untuk pernikahan, luah
(seperangkat/sepesalin pakaian untuk calon pengantin perempuan), seperangkat alat-alat
kamar pengantin perempuan (tempat tidur, lemari dan lain-lain). Uang kasih sayang
(dahulu disebut uang hangus), pelangkahan (jika si anak dara mempunyai abang / kakak
yang belum menikah).
Hasil keputusan merisik kecil ini diperoleh berdasarkan kesepakatan kedua belah
pihak. Kesepakatan ini akan ditindak lanjuti pada tahapan merisik besar dan meminang.
Kesepakatan yang telah dibuat tidak boleh dirubah baik menambahi maupun
Percakapan dan Pantun pada Merisik Kecil
Yuscan (2005:34) mengatakan tentang percakapan dan pantun pada merisik kecil sebagai berikut:
Pembuka kata Pihak Perempuan
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Yang saya hormati Tuan-tuan Guru, Alim Ulama, Tengku-Tengku, Datuk-datuk serta seluruh pemuka Adat. Tak terlupakan ahli bait di rumah, yang bersejarah, serta bertuah. Izinkanlah saya berucap kata, hajat baik serta mulia, berbicara sebagai penghulu telangkai, ….. diberi nama yang mewakili seluruh family sanak keluarga.
Adapun sebelah kanan saya ….., atas nama seluruh Puang yang sudah berada dan di sebelah kiri saya anak beru …., mewakili seluruh anak beru sanak keluarga.
Di hari nan indah beserta cerah
Izinkan saya menyusun jari mengaturkan sembah Berbicara sebagai penyambung lidah
Atas nama orang tua kami Bapak ….. pemberi amanah.
Semoga kedatangan Tuan dan puan pembawa berkah dan tuah Insya’Allah.
Dikala purnama sari bersinar terang
Dikala angin berhembus sepoi – sepoi basah Dikala awan berarak hanyut
Dikala burung berkicau riang Dilihat tamu datang menjelang Ke dalam gubuk yang serba kurang
Membuat kami merasa senang Harus disambut secara adat
Diufuk cerah mentari pagi Bukan memuja bukan memuji Tidak usai kami menanti Yang kami nanti telah terbukti
Ikat pancang patah kemudi Pataah galah di tepian mandi Terlambat Tuan datang kemari Sudah gelisah kami menanti
Menurut adat resam Melayu Apabila kita kedatangan tamu Sebelum menyampaikan niat tertentu Tepak sirih sorongkan dahulu
Tepak sirih kami persembahkan Mohon ni’mati serta dimakan Tepak sirih beriring kiasan Tepak sirih sejuta pesan
Sela dimakan mohon ni’mati Andaikan pait jangan dikeji Jikapun manis usah dipuji
Harap petikkan daun selasih Obat hapus peredam bisa Harap dimakan si kapur sirih Obat haus pelepas dahaga
(penghulu Telangkai pihak perempuan memberikan tepak sirih pembuka kata pada
Penghulu Telangkai pihak laki-laki).
Pihak laki-laki:
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Yang kami hormati tengku-tengku, Datuk-datuk, ‘Alim Ulama, Hadirin dan Hadirat sekalian serta tak terlupakan ahli bait yang berbahagia di rumah ini.
Sebelum menangkap barai Tangkaplah dulu sianak teri Sebelum ucap kata berurai
Izinkan kami memperkenalkan diri
Berbicara sebagai Penghulu Telangkai mewakili family sanak keluarga. Adapun disebelah kanan saya: Bapak …., mengatasnamakan Puang, dan di sebelah kiri saya Bapak …., mengatasnamakan anak Beru.
Dengan nama Allah Khalikul alam Alhamdulilah tersimpan di dalam Beriring syalawat beserta salam
Kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw Syai’dul anam. Mahkota dunia junjungan alam Yang kita harapkan syafaatnya siang dan malam Bagi umat islam yang bertaqwa disekian alam
Sungguh ahli bait berlapang hati
Menerima kami di rumah yang bertuah ini Disambut keluarga sanak family
Disorong tepak penuh berisi Lemah lembut budi pekerti Sejuk sungguh rasa di hati
Makan sirih berjauh malam Sirih dimakan Putri Jauhari Terima kasih kami ucapkan Sungguh sirih tuan lemak sekali Pulau Tagor bukannya pulau Serba jadi di kaki bukit Duduk kami bagai terpukau Sambutan Tuan tidak sedikit Keduduk tumbuh di dalam dulang
Uratnya besar silih menyelih Duduk kami duduk berbilang Karena hendak menyerahkan sirih
Limau purut di lembah Kala dilebah ditumbuk duri
Pinang menghadap siri menyembah Jari sepuluh menjunjung duli
Tepak tuan kayu jati Tepak kami kayu meranti Andaikan pait jangan dikeji Jikapun manis jangan dipuji
Ombak berbuih di tengah lautan Bulan syawal ke Indra Pura Tepak sirih kami persembahkan Awal salam pembuka kata
(penghulu Telangkai pihak laki-laki menyerahkan tepak sirih awal pembuka kata
pada pihak perempuan
Pihak perempuan: Biri-biri kambing di hutan Mati ditanduk si kumbang jati
Sirih diberi sudah dimakan Apa sesungguhnya niat di hati
Pihak laki-laki:
Seronok sungguh Tuan Hamba ini … Memang demikian kayu tembaga Tidak sama kayu cendana
Memang demikian adat lembaga Dulu sapa baru bertanya
Dikala perang Datuk Laksamana
Kura-kura dalam perahu dah gaharu cendana pula Memang demikian orang bijaksana
Pura-pura tak tahu dah tahu bertanya pula
Pihak perempuan:
Susun kacang dua dan tiga Mari letakkan dalam perahu Dalam laut boleh diduga Dalam hati siapa nak tahu
Pihak laki-laki: Begini Tuan Hamba,
Banyak tempat yang dijelang Yang jauh kami kunjungi Yang dekat tempat bertandang
Dari Pauh angkat pematang Lumba-lumba timang gelombang Hanyut serantau ke Indra Giri Dari jauh kami dating
Niat baik nak menjelang
Cuba-cuba menanam mumbang Kalau tumbuh jadi sunting negeri
Pihak perempuan:
Wah, wah … yang aneh nampaknya tamu kita ini Tuan hamba tau, apa itu mumbang?
Mumbang itu kan putik kelapa,
Lumba-lumba timang gelombang Hanyut seekor ke tepian mandi
Usahlah tuan menanam mumbang
Tampang layu tumbuh tak jadi
Sudah tau kemudi patah Mengapalah tuan naik perahu Usahlah tuan berlagak latah
Nanti semua ini bakalan tahu
Pihak laki-laki: Tuan Hamba,
Bukan karena kemudi patah Patah galah dalam perahu Bukan kami berlagak latah Kuasa Allah siapa naka tahu
Pihak perempuan:
Ooo, kuasa Allah pulak nak tuan kaji, kalahkanlah kami… Kalau ada kaca di pintu
Silakan Tuan letak di dalam perahu
Jika tekat tuan sudah begitu
Cobalah, kuasa Tuhan siapa pula yang tahu