• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metafora Ontologikal

Dalam dokumen METAFORA DALAM WAYANG KULIT LAKON KILATB (Halaman 34-42)

BAB II: JENIS-JENIS METAFORA

2.3 Metafora Ontologikal

Metafora ontologikal atau ontological metaphor kurang lebih membentuk struktur kognisi untuk konsep target daripada yang dilakukan metafora struktural. Metafora yang masuk dalam kategori ontologikal merupakan bentuk kategori umum dari sebuah konsep target yang abstrak dikonseptualisasikan menjadi sebuah bentuk entitas yang konkrit. Berikut adalah temuan data pada lakon Kilatbuwana.

(II.17) SENGKUNI: weh, swarane wis atos.

SENGKUNI: weh, suaranya sudah keras

(Feinstein, dkk, 1986: 51) Penjelasan:

Metafora tersebut menunjukkan tentang fenomena mental yaitu pada penggunaan kata atos atau keras. Suwara atau suara digambarkan sebagai sebuah hal yang keras karena menyakitkan dan esensi metafora ontologikal tersebut terintegrasi dengan model pikiran dalam budaya bahwa kata-kata kasar itu keras dan

23

menyakitkan, sehingga kesan yang diberikan pada metafora tersebut bahwa suara menjadi sebuah hal abstrak yang bisa dirasakan.

(II.18) CANTRIK: [...] Nyawang priyayi bagus ngendikane alus nyang ati

CANTRIK: [...] melihat orang tampan berbicara halus di hati (Feinstein, dkk, 1986: 69) Penjelasan:

Pada teks tersebut penanda metafora ontologikal terdapat pada kata alus nyang ati

atau ‗halus di hati‘. Bentuk tersebut digunakan untuk mengikuti kata suara yang merupakan bentuk tidak terlihat dan tidak bisa dirasakan. Dengan metafora ontologikal, suara diasosiasikan seperti benda yang bisa dirasakan seperti kasar dan halusnya. Pada teks di atas alus juga mengasosiasikan hati seperti indera perasa karena bisa merasakan halus dan kasarnya.

(II.19) ABIYASA: [...] ora ana peteng kang ora bisa dipadhangi. Awit sangka pembudidaya kang sinarta anteping tekad lang bantering panyuwun.

ABIYASA: [...] tidak ada gelap yang tidak bisa diterangi. Sebab dari usaha yang diikuti kemantapan tekad dan terus- menerus permintaan.

(Feinstein, dkk, 1986: 71) Penjelasan:

Pada teks di atas penanda metafora ontologikal terdapat pada kata peteng ‗gelap‘

dan dipadhangi ‗diterangi‘. Kata peteng dan padhang pada dasarnya mengacu pada sebuah pencahayaan, tetapi karena berdasarkan pengalaman berfikir, kedua penanda metafora ontologikal tersebut digunakan untuk mengacu pada suatu keadaan buruk ke arah keadaan yang terang sehingga sesuatu yang abstrak seperti keadaan menjadi entitas karena bisa diterangi.

(II.20) SEMAR: e, Petruk, suwe-suwe kok rembugmu gawe panas ati. Kowe ora ngabekti ya sakarepmu ning aja eneng ngarepku. Aja nambah butheg pikirku.

SEMAR: e, Petruk, lama-lama kok perkataanmu membuat hati panas. Kamu tidak berbakti yang silahkan tapi jangan di hadapanku. Jangan menambah keruh pikiranku

(Feinstein, dkk, 1986: 106) Penjelasan:

Kalimat di atas terdapat dua penanda metafora ontologikal yaitu pada gawe panas ati dan nambah butheg pikirku. Bentuk gawe panas ati atau ‗membuat hati panas‘

merupakan bentuk metafora ontologikal dengan mengasosiasikan hati yang panas menjadi sebuah bentuk kejadian, sedangkan nambah butheg pikirku atau ‗menambah keruh pikiranku‘ mengasosiasikan bahwa pikiran yang berupa benda abstrak menjadi konkrit karena bisa ditambah dan dikurangi. Oleh karena itu, pada kalimat di atas merupakan bentuk metafora ontologikal karena menjelaskan sebuah keadaan dan mengasosiasikan hal abstrak menjadi terkesan konkrit.

(II.21) ABIYASA: iki suwargane wong tua kang darbe anak putu padha mukti wibawa ana ing praja

ABIYASA: ini surganya orang tua yang memiliki anak cucu berbakti dan berwibawa untuknegara

(Feinstein, dkk, 1986: 199) Penjelasan:

Pada bentuk teks di atas, penanda metafora ontologikal terdapat pada kata

suwargane wong tua atau ‗surganya orang tua‘. Surga merupakan area atau lokasi

yang mengacu pada sebuah keindahan dan kenikmatan. Pada konteks tersebut orang tua memiliki anak dan cucu yang berbakti dan berwibawa untuk negara sama halnya memiliki surga. Oleh karena itu, teks di atas termasuk dalam CONTAINER.

(II.22) KILATBUWANA: [...] rasa iku kanggo nenimbang samubarang [...]

KILATBUWANA: [...] rasa itu untuk menimbang sesuatu [...]

(Feinstein, dkk, 1986: 11) Penjelasan:

Pada teks di atas merupakan bentuk metafora ontologikal karena terdapat kata

nenimbang atau menimbang. Kata tersebut muncul untuk mengikuti kata ‗rasa‘

yang mengasosiasikan bahwa ‗rasa‘ merupakan sebuah benda untuk mengukur atau menakar sesuatu meskipun esensi dari rasa merupakan hal yang abstrak. Namun, masyarakat Jawa berfikir bahwa rasa adalah alat utama untuk

25

memutuskan sesuatu sehingga muncul ekspresi metafora nenimbang pada contoh tersebut.

(II.23) KILATBUWANA: [...] Anak ora bakal bisa mbales sepira bobot katresnaning ibu.

KILATBUWANA: [...] anak tidak mungkin bisa membalas berapa beratnya rasa cinta ibu.

(Feinstein, dkk, 1986: 13) Penjelasan:

Bobot atau berat merupakan sebuah kata yang mengacu pada beban sebuah benda. Pada teks di atas kata bobot diikuti oleh katresnaning atau ‗rasa cinta‘ sehingga

menjadikan bentuk tersebut menjadi metafora ontologikal. Katresnaning atau ‗rasa cinta‘ merupakan sesuatu yang abstrak dan tidak terlihat diasosiasikan sebagai sebuah benda yang memiliki sebuah ukuran masa dengan menambahkan kata bobot sehingga bentuk abstrak pada katresnaning menjadi terkesan konkrit.

(II.24) NAKULA: Ingkang badhe kula suwunake katrangan dhateng Bapa Panembahan Begawan Kilatbuwana [...]

NAKULA: yang akan saya mintakan keterangan pada Bapa Panembahan Begawan Kilatbuwana [...]

(Feinstein, dkk, 1986: 14) Penjelasan:

Pada teks tersebut merupakan bentuk metafora ontologikal yang ditandai dengan kata suwunake atau ‗mintakan‘ diikuti katrangan atau ‗keterangan‘. Keterangan

merupakan sesuatu yang abstrak tetapi diasosiasikan sebagai sebuah benda yang bisa berpindah tempat dan dimiliki sehingga memiliki kesan bentuk metafora tersebut menjadikan sesuatu yang abstrak menjadi bentuk yang konkrit.

(II.25) DURYUDANA: wadhuh, sewu sembah ngaturaken genging panuwun

DURYUDANA: wadhuh, seribu hormat saya ucapkan basarnya terima kasih

(Feinstein, dkk, 1986: 16) Penjelasan:

Penggunaan kata sewu sembah atau ‗seribu hormat‘ tersebut merupakan bentuk

metafora ontologikal. Hal tersebut dikarenakan kata ‗sembah‘ merupakan benda abstrak yang tidak terlihat tetapi diasosiasikan seperti sebuah benda konkrit yang bisa dihitung dengan penambahan kata sewu sebelum kata sembah.

(II.26) GARENG: o, alah, Truk, mbok ya sing rada sopan neh, rumangsaku kok kaya ora tau nampa wulangan.

GARENG: o, alah, Truk, sedikit sopanlah, perasaanku kok seperti tidak pernah menerima ajaran

(Feinstein, dkk, 1986: 67) Penjelasan:

Pada teks di atas tidak tidak berbeda dengan bentuk sebelumnya, yaitu penanda metafora ontologikal muncul pada kata nampa atau ‗menerima‘ tetapi kata

tersebut diikuti oleh wulangan atau ‗ajaran‘. Ajaran merupakan sebuah bentuk

yang tidak terlihat atau abstrak tetapi diasosiasikan sebagai sebuah hal yang konkrit dan bisa berpindah kepemilikan.

(II.27) ABIYASA: [...] Mlarat ya seneng, sugih yo sokur, iku wong kang wis manggon ana ing kaswargan langgeng.

ABIYASA: [...] miskin ya senang, kaya ya bersyukur, itu orang yang sudah tinggal di surga sejati.

(Feinstein, dkk, 1986: 72) Penjelasan:

Bentuk metafora kaswargan langgeng atau ‗surga yang sejati‘ merupakan bentuk

metafora ontologikal yang berkaitan dengan CONTAINER. Hal tersebut dikarenakan karena surga merupakan area atau lokasi yang mengacu pada sebuah keindahan dan kenikmatan, sehingga bentuk tersebut menjadi metafora ontologikal.

(II.28) SEMAR: [...] kula susah ngrasake kahanan [...]

SEMAR: [...] saya sedih merasakan situasi [...]

(Feinstein, dkk, 1986: 103) Penjelasan:

27

Pada teks tersebut menunjukkan metafora ontologikal pada ngrasake kahanan

atau ‗merasakan keadaan‘. Hal tersebut karena ‗keadaan‘ merupakan sebuah hal yang tidak berwujud tetapi menjadi sebuah metafora ontologikal dengan menambahkan kata ngrasake sehingga ‗keadaan‘ yang semula abstrak menjadi

konkrit.

(II.29) PUNTADEWA: Nun, sokur sakethi mangayubagya jumurung. Mboten ketang namung sakglugut tambah seserepan kula.

PUNTADEWA: ya, syukur seribu kebahagiaan sudah memahamkan. Meskipun cuma sakglugut menambah pengetahuan saya.

(Feinstein, dkk, 1986: 11) Penjelasan:

Pada teks di atas menunjukkan metafora ontologikal pada penggunaan sakethi mangayubagya atau ‗seribu kebahagiaan‘. Kebahagiaan merupakan sesuatu yang

abstrak dan tidak terlihat tapi diasosiasikan menjadi sesuatu hal konkrit yang memiliki bentuk dan bisa dihitung. Metafora ontologikal ini mengacu pada ungkapan rasa bahagia yang banyak dengan penanda ribuan pada kata kebahagiaan.

(II.30) SAMBA: [...] watakipun Begawan Durna niku remen ngothak-athik lan ngedu tiyang

SAMBA: [...] sifat Begawan Durna itu suka bongkar pasang dan adu domba

(Feinstein, dkk, 1986: 163) Penjelasan:

Watak ataupun sifat merupakan bentuk abstrak yang tidak bisa dilihat dan dipegang tetapi selalu ada dalam diri manusia. Sedangkan kata othak-athik atau bongkar pasang dan ngadu tiyang atau adu domba adalah merupakan sebuah bentuk tindakan yang dilakukan oleh manusia. Dalam metafora ontologikal, watak diibaratkan seperti manusia yang bisa mengerakkan seuatu benda atau berbicara provokasi untuk mengadu domba, sehingga bentuk tersebut lebih ke arah personifikasi.

(II.31) ABIYASA: iya, kulup, tak tampa sembah pangabektimu marang aku

ABIYASA: iya, cucu, aku terima hormat dan kebaktianmu padaku (Feinstein, dkk, 1986: 192)

Penjelasan:

Tampa atau terima merupakan sebuah tindakan dari hasil proses transaksi memberi dan diberi terhadap sebuah benda yang konkrit. Pada konteks tersebut, metafora ontologikan mengasosiasikan hormat dan kebaktian seseorang seperti sebuah benda yang bisa diberikan dan diterima layaknya benda konkrit.

(II.32) ABIYASA: iya, iya, aku nyangoni karaharjan

ABIYASA: iya, iya saya memberi selamat

(Feinstein, dkk, 1986: 202) Penjelasan:

Karaharjan atau keselamatan adalah sebuah bentuk abstrak yang tidak terlihat. Esensi dari konteks tersebut menggambarkan bahwa bentuk keselamatan yang abstrak menjadi diasosiasikan dengan berda yang bisa diberikan kepada orang lain dengan penambahan kata nyangoni yang merupakan kata kerja dan biasanya mengacu pada tindakan memberi uang kepada orang lain.

(II.33) DURYUDANA: Paman Harya ing kepatihan, apa mboya dadi guguping pikir pakenira marang piji mangarsa, paman?

DURYUDANA: Paman Harya di kepatihan, apakah jadi gugup pikiran kamu terhadap tugas di depan, Paman?

(Feinstein, dkk, 1986: 293) Penjelasan:

Pikiran merupakan bentuk abstrak yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Ekspresi metafora guguping yang diikuti oleh kata ‗pikiran‘ menjadikan bentuk

abstrak menjadi sebuah entitas karena ekspresi gugup biasanya diasosiasikan dengan tubuh yang bergetar. Oleh karena itu, pada bentuk tersebut merupakan jenis metafora ontologikal karena menjadikan sesuatu yang abstrak terkasan menjadi sebuah entitas.

29

(II.34) SENGKUNI: awit watake Pandawa alus budine

SENGKUNI: sebab wataknya Pandawa halus budinya (Feinstein, dkk, 1986: 313) Penjelasan:

Metafora tersebut menunjukkan tentang karakter budi pekerti seseorang karena adanya penggunaan kata alus atau ‗halus‘ budinya. Budi pekerti merupakan

sesuatu yang abstrak dan tidak bisa dilihat oleh mata sehingga masyarakat harus menggunakan metafora untuk menjelaskan bentuk abstrak tersebut dengan entitas yang ada. Pada bentuk metafora tersebut menggunakan ekspresi alus atau ‗halus‘

yang diikuti dengan kata budi. Masyarakat mencoba menjelaskan budi pekerti dengan sesuatu yang bisa diraba dengan indera. Oleh karena itu, pada ekspresi metafora tersebut masuk dalam jenis metafora ontologikal karena menjelaskan sesuatu yang abstrak menjadi sebuah entitas yang ada.

(II.35) JANAKA: aja wedi kangelan, ya, ngger, rehning abot lelakon iki aku wus kebacut ngulungake basa marang paman, saguh nyowanake Semar marang Astina [...]

JANAKA: jangan takut kesulitan, ya, Ngger, karena beratnya perjalanan ini saya sudah terlanjur memberikan (dengan tangan) jawaban pada paman, bersedia mendatangkan Semar ke Astina [...]

(Feinstein, dkk, 1986: 338) Penjelasan:

Pada contoh tersebut menjelaskan bahwa ekspresi mataforis yang digunakan masuk jenis metafora ontologikal karena menjelaskan sesuatu yang abstrak menjadi sebuah entitas. Hal tersebut ditunjukkan pada penggunaan ekspresi

ngelungke atau ‗memberikan (dengan tangan)‘. Pada kata basa memiliki maksud jawaban dari Janaka atas permintaan dari sang paman. Jawaban merupakan sesuatu yang abstrak dan tidak terlihat, tetapi menjadi sebuah entitas karena mendapatkan ekspresi metafora ngelungke yang biasanya diasosiasikan dengan memberikan sesuatu dengan tangan. Secara pemahaman umun, pemberian dengan menggunakan tangan selalu mengacu pada bentuk material sehingga ‗jawaban‘ yang berbentuk abstrak seakan menjadi sebuah entitas yang berpindah tangan.

(II.36) SEMAR: [...] Kawula ngelungke pati, si Gusti nggih ngelungke pati. [...]

SEMAR: [...] saya menyerahkan kematian, si Tuan juga menyerahkan mati [...]

(Feinstein, dkk, 1986: 372) Penjelasan:

Bentuk tersebut masuk dalam jenis metafora ontologikal karena ekspresi

ngelungke atau ‗menyerahkan‘ yang diikuti oleh kata pati atau ‗kematian‘.

Ekspresi metafora tersebut menjelaskan bahwa kematian yang abstrak menjadi sebuah benda material atau entitas yang ada karena bisa berpindah tangan dengan ekspresi metafora ngelungke. Dengan demikian bisa dilihat bahwasannya bagi masyarakat Jawa kehidupan adalah sesuatu yang bisa diberikan atau diminta seperti yang diungkapkan dalam ekspresi metaforis di atas.

Dalam dokumen METAFORA DALAM WAYANG KULIT LAKON KILATB (Halaman 34-42)

Dokumen terkait