• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metafora Orientasional

Dalam dokumen METAFORA DALAM WAYANG KULIT LAKON KILATB (Halaman 42-46)

BAB II: JENIS-JENIS METAFORA

2.4 Metafora Orientasional

Metafora orientasional menentukan kurang struktur konseptual untuk target konsep daripada metafora ontologikal. Jenis metafora ini berasal dari metafora yang berhubungan dengan orientasi ruang dasar manusia seperti atas-bawah, tengah-samping, dan sebagainya. Berikut adalah temuan data pada lakon Kilatbuwana.

(II.37) KILATBUWANA: [...] Darmakusuma, Werkudara, Janak, Kembar, kowe aja pada cilik ati dupeh ditinggal kakangmu Dwarapati.

KILATBUWANA: [...] Darmakusuma, Werkudara, Janaka, Kembar, kalian jangan kecil hati meski ditinggal kakakmu Dwarapati

(Feinstein, dkk, 1986: 24) Penjelasan:

Pada teks di atas penanda metafora orientasional pada kata cilik atau ‗kecil‘

karena mengasosiasikan dengan ruang. Hati merupakan sesuatu yang mengacu pada perasaan sehingga pada bentuk tersebut bermaksud untuk menunjukkan perasaan sedih seperti pada konsep MORE IS UP, BIG IS UP, LESS IS DOWN, SMALL IS DOWN.

(II.38) SETYAKI: [...] pendita menika kedah longgar penggalihipun, gedhe pangapurane

SETYAKI: [...] pandita itu harus longgar hatinya, besar maafnya

31

(Feinstein, dkk, 1986: 48) Penjelasan:

Bentuk penanda metafora orientasional di atas terdapat pada penambahan kata

longgar dan gedhe. Longgar atau dalam bahasa Indonesia juga diartikan sebagai ‗longgar‘ mengacu pada konsep ruang yang besar dan lebih dari cukup, sedangkan kata gedhe atau ‗besar‘ mengacu pada sesuatu yang lebih. Pada teks di atas

menjadi metafora orientasional dikarenakan penanda metafora longgar diikuti dengan kata penggalihipun atau ‗hatinya‘ sehingga mengasosiasikan bahwa

hatinya harus dilonggarkan atau mengkonseptualisasikan sebagai bentuk sabar, sedangkan penanda metafora orientasional gedhe diikuti dengan kata

pangapurane atau ‗maafnya‘ yang berupakan bentuk abstrak menjadi sesuatu

yang bersifat ruang sebagai konseptualisasi untuk seorang pemaaf.

(II.39) PETRUK: wong ki nek ora longgar atine ngono kuwi, ora gelem nampa panemuning wong liya.

PETRUK: orang itu kalau tidak longgar hatinya itu, tidak mau menerima pendapat orang lain.

(Feinstein, dkk, 1986: 67) Penjelasan:

Pada bentuk teks di atas tidak berbeda dengan sebelumnya yaitu penanda metafora orientasional terdapat pada kata longgar yang diikuti kata atine atau ‗hatinya‘. Hati pada teks tersebut diasosiasikan sebagai sebuah ruang yang bisa longgar dan sempit sehingga teks tersebut merupakan bagian dari bentuk metafora orientasional.

(II.40) BAGONG: ndara Abimanyu agemane jubah ijo sing tegese gedhe pangarepe

BAGONG: tuan Abimanyu menggunakan jubah hijau yang maknanya besar pengharapanya

(Feinstein, dkk, 1986: 68) Penjelasan:

Kata gedhe atau ‗besar‘ merupakan penanda metafora orientasional karena diikuti

oleh kata pengarep atau ‗harapan‘. Dalam hal ini harapan diasosiasikan memiliki

sebuah ruang yang terukur dengan besar dan kecil sehingga bentuk teks di atas dapat dikategorikan ke dalam metafora orientasional.

(II.41) JANTURAN: [...] tegese wong darge gegayuhan mono kudu bunder tekade, gedhe atine sarta mantep ciptane

JANTURAN: [...] artinya orang yang punya keinginan itu harus bulat tekadnya, besar hatinya, serta mantap pikirannya

(Feinstein, dkk, 1986: 100) Penjelasan:

Pada teks di atas merupakan bentuk metafora orientasional pada kata bunder dan

gedhe. Kata bunder atau ‗bulat‘ diikuti dengan kata tekade atau ‗tekadnya‘

merupakan bentuk metafora orientasional pertama karena kata bulat menjadi bentuk pengalaman spasial dari masyarakat Jawa, yaitu bentuk bulat mengacu pada sebuah bentuk yang tidak terputus atau konsisten. Apabila dalam sebuah garis, bentuk bulat tidak memiliki garis putus maupun belok sehingga memiliki

bunder tekade mengasosiasikan bahwa tekad tidak boleh terputus-putus dan harus konsisten. Sedangkan pada kata gedhe atau ‗besar‘ sebenarnya tidak berbeda jauh

dengan sebelumnya, yaitu mengasosiasikan hati sebagai sebuah ruang. Oleh karena itu, pada teks di atas masuk dalam kategori metafora orientasional karena penanda metafora yang dimunculkan memiliki pengalaman kehidupan masyarakat Jawa tentang bentuk ruang.

(II.42) GURU: iya Kakang Semar, sepira luputku isih gedhe pangapuramu

GURU: iya Kakang Semar, seberapapun kesalahanku masih besar maafmu

(Feinstein, dkk, 1986: 132) Penjelasan:

Penanda metafora pada teks di atas terdapat pada gedhe pangapuramu atau ‗besar

maafmu‘ dan menjelaskan bahwa sebesar apapun kesalahan Guru lebih besar permaafan Semar karena orang yang sabar. Pada bentuk tersebut juga mengindikasikan pada keterangan MORE IS BETTER, GOOD IS UP.

(II.43) KRESNA: [...] mitulungi wong nandang kasengsaran kuwi bakal gedhe pikolehe, la n bakal gedhe ganjarane [...]

KRESNA: [...] menolong orang yang sedang kesusahan itu akan besar manfaatnya, dan akan besar pahalanya [...]

33

(Feinstein, dkk, 1986: 148) Penjelasan:

Pada teks tersebut terdapat dua penanda metafora orientasional pada kata gedhe

atau ‗besar‘ yang diikuti kata pikolehe atau ‗manfaatnya‘ dan kata ganjarane atau

‗pahalanya‘. Dalam kebudayaan masyarakat kebanyakan, khususnya Jawa, gedhe

atau ‗besar‘ adalah baik sehingga bentuk tersebut merupakan bagian dalam kategori metafora orientasional MORE IS BETTER, BIG IS GOOD.

(II.44) DURNA: [...] kula dipun kiwakaken jalaran wonten pandhita anyar ingkang jopa-japinipun langkung mandi tinimbang kula.

DURNA: [...] saya sudah dikirikan karena ada pandita baru yang mantranya lebih mujarab daripada saya.

(Feinstein, dkk, 1986: 153) Penjelasan:

Bentuk metafora orientasional pada teks di atas terdapat pada kata kiwakaken atau ‗dikirikan‘ yaitu mengacu pada pengalaman ruang dan arah. Berdasarkan kebudayaan masyarakat setempat, kiri memiliki kecenderungan kurang difungsikan karena berbagai pengalaman masyarakat melakukan kegiatan selalu mengutamakan menggunakan kanan, seperti makan, minum, mandi, menendang, dan sebagainya. Sedangkan penggunaan kiri sangat jarang dilakukan, bahkan ada beberapa larangan berkegiatan menggunakan kiri, seperti makan. Oleh karena itu, pada teks di atas merupakan bagian dari metafora orientasional karena mengasosiasikan ‗dikirikan‘ sebagai sesuatu yang tidak berguna.

(II.45) SEMAR: e...kula menika namung tiyang alit [...]

SEMAR: e...saya itu hanya orang kecil [...]

(Feinstein, dkk, 1986: 201) Penjelasan:

Pada teks di atas penanda metafora orientasional terdapat pada kata alit atau ‗kecil‘ yaitu sebagai pengalaman bentuk ruang dan tempat. Pada teks tersebut mengasosiasikan manusia dengan sebuah ruang karena bisa diukur dengan besar dan kecil, tetapi maksud yang ditujukan dari teks tersebut bahwa dia adalah ‗orang kecil‘ atau tiyang alit. Dalam bentuk ini mengacu pada konsep BIG IS GOOD dan SMALL IS BAD.

34

Dalam dokumen METAFORA DALAM WAYANG KULIT LAKON KILATB (Halaman 42-46)

Dokumen terkait