• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

D. Metode Analisa Data

2. Metode analisa data kuantitatif

Data kuantitatif berupa angka-angka yang akan dimasukkan ke dalam beberapa rumus perhitungan. Rumus-rumus yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Uji keseragaman data dan jumlah pengamatan minimum

Pengukuran pendahuluan menghasilkan data yang dapat dimasukkan ke dalam pengujian keseragaman data dan penghitungan jumlah pengamatan minimum. Pengujian keseragaman data dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah suatu sistem kerja berasal dari sistem kerja yang sama. Karena bagaimanapun juga, sistem kerja tidak dapat dipertahankan terus menerus pada keadaan yang tetap sama sehingga menghasilkan waktu penyelesaian yang berbeda-beda. Namun, perbedaan-perbedaan yang terjadi masih dapat ditolerir apabila terjadi dalam batas waktu kewajaran. Dengan kata lain, waktu-waktu penyelesaian yang terjadi masih dapat tergolong seragam (Sutalaksana, dkk., 2006). Oleh karenanya pengujian keseragaman waktu dilakukan untuk menemukan batas kontrol atas dan batas kontrol bawah dari waktu-waktu yang dianggap seragam. Waktu-waktu yang dianggap seragam tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk mencari jumlah pengamatan minimum. Adapun batas kontrol atas dan batas kontrol bawah diperoleh melalui perhitungan statistik dari rumus berikut :

= ̿ + 3 ( ̅)

Dengan : BKA = batas kontrol atas BKB = batas kontrol bawah

= rata-rata dari harga subgrup

̅= standar deviasi dari distribusi harga rata-rata subgrup

Rata – rata dari harga subgrup dapat dicari dengan persamaan berikut :

= ∑

Dengan : xi= harga rata-rata dari subgrup ke – i

k= harga banyaknya subgrup yang terbentuk

Standar deviasi dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut :

= ∑ − 1− ̿

Dengan : N = jumlah pengamatan pendahuluan yang telah dilakukan xj= waktu penyelesaian yang teramati selama pengukuran

pendahuluan yang telah dilakukan

Setelah melakukan pengukuran pendahuluan, maka peneliti memperoleh bahwa batas kontrol atas dan batas kontrol bawah adalah sebesar :

BKA = 18,82 BKB = 10,3

Dengan : = 14,56

̅= 1,42

Jumlah pengamatan minimum dibutuhkan untuk memperoleh kepastian mengenai kecepatan rata-rata waktu penyelesaian yang sebenarnya. Idealnya pengukuran dilakukan dalam jumlah yang sangat banyak (misalnya hingga tak terhingga) karena hanya dengan demikian diperoleh jawaban yang pasti. Namun hal ini jelas tidak mungkin dikarenakan adanya keterbatasan waktu, tenaga dan biaya. Sebaliknya, jika pengukuran dilakukan beberapa kali saja, dapat diduga hasilnya sangat kasar. Oleh karena itulah, diperlukan jumlah pengukuran yang tidak membebankan waktu, tenaga dan biaya yang besar tetapi hasilnya tetap dapat dipercaya (Sutalaksana, 2006). Jumlah pengukuran minimum tersebut diperoleh melalui suatu perhitungan statistik, yaitu :

′ = 40 . ∑ − ∑

Catatan : Rumus di atas hanya untuk perhitungan dengan tingkat ketelitian 5% dan tingkat keyakinan 90%.

Setelah melakukan pengujian keseragaman data, peneliti memperoleh waktu-waktu yang dianggap memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam rumus di atas. Setelah dilakukan perhitungan, maka diperoleh bahwa jumlah pengamatan minimum yang harus dilakukan adalah sebesar 58 kali.

b. Tingkat ketelitian & tingkat keyakinan

Tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan adalah pencerminan tingkat kepastian yang diinginkan oleh pengukur setelah memutuskan tidak akan melakukan pengukuran yang sangat banyak. Tingkat ketelitian menunjukkan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari waktu penyelesaian yang sebenarnya, sedangkan tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan pengukur bahwa hasil yang diperoleh memenuhi syarat ketelitian tadi. Keduanya dinyatakan dalam persen.

Penelitian ini menggunakan tingkat ketelitian 5% dan tingkat keyakinan 90%. Ini berarti bahwa peneliti memperbolehkan rata-rata hasil pengukurannya menyimpang paling besar 5% dari rata-rata sebenarnya, dan kemungkinan untuk memenuhi hasil tersebut sebesar 90%.

c. Faktor penyesuaian

Menurut metode penyesuaian Westinghouse yang dikembangkan oleh Lowry, Maynard dan Stegemarten pada tahun 1927, untuk membuat penyesuaian yang objektif perlu dilakukan peninjauan dari empat aspek. Aspek- aspek tersebut adalah keterampilan, usaha, kondisi kerja dan konsistensi. Setiap aspek terbagi ke dalam beberapa kelas dan setiap kelas memiliki nilai dan indikator perilaku masing-masing.

i. Keterampilan

Merupakan kemampuan mengikuti cara kerja yang ditetapkan. Untuk keperluan penyesuaian, keterampilan dibagi ke dalam enam kelas, yaitu super skill, excellent skill, good skill, average skill, fair skill dan poor skill.

Setiap kelas ditandai oleh indikator-indikator perilaku yang berbeda. Berikut dipaparkan keenam kelas tersebut yang diambil dari Sutalaksana, dkk., (2006) :

Tabel 3.1. Indikator Perilaku Faktor Penyesuaian Keterampilan

Kelas Indikator Perilaku

Super Skill 1. Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya

2. Bekerja dengan sempurna

3. Tampak seperti telah terlatih dengan sangat baik

4. Gerakan-gerakannya halus tetapi sangat cepat sehingga sangat sulit untuk diikuti 5. Kadang-kadang terkesan tidak berbeda

dengan gerakan-gerakan mesin

6. Perpindahan dari satu elemen ke elemen lainnya tidak terlampau terlihat karena lancarnya

7. Tidak terkesan adanya gerakan-gerakan berpikir dan merencana tentang apa yang dikerjakan (sudah sangat otomatis)

8. Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerja yang bersangkutan adalah pekerja yang sangat baik

Excellent Skill 1. Percaya pada diri sendiri

2. Tampak cocok dengan pekerjaannya 3. Terlihat telah terlatih baik

4. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan pengukuran atau pemeriksaan lagi

5. Gerakan-gerakan kerjanya beserta urutan- urutannya dijalankan tanpa kesalahan 6. Menggunakan peralatan dengan baik 7. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan

mutu

8. Bekerjanya cepat tapi halus

9. Bekerjanya berirama dan terkoordinasi

Good Skill 1. Kualitas hasil baik

2. Bekerjanya tampak lebih baik daripada kebanyakan pekerja pada umumnya 3. Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada

pekerja lain yang keterampilannya lebih rendah

4. Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap 5. Tidak memerlukan banyak pengawasan 6. Tiada keragu-raguan

7. Bekerjanya “stabil”

8. Gerakan-gerakannya terkoordinasi dengan baik

9. Gerakan-gerakannya cepat

Average Skill 1. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri

2. Gerakannya cepat tetapi tidak lambat 3. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan

perencanaan

4. Tampak sebagai pekerja yang cakap

5. Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tidak adanya keragu-raguan

6. Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik

7. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk beluk pekerjaannya 8. Bekerja cukup teliti

9. Secara keseluruhan cukup memuaskan

Fair Skill 1. Tampak terlatih tetapi belum cukup baik 2. Mengenal peralatan dan lingkungan

secukupnya

3. Terlihat adanya perencanaan-perencanaan sebelum melakukan gerakan-gerakan 4. Tidak mempunyai kepercayaan diri yang

cukup

5. Tampaknya seperti tidak cocok dengan pekerjaannya tetapi telah dipekerjakan di bagian itu sejak lama

6. Mengetahui apa-apa yang dilakukan dan harus dilakukakn tapi tampak tidak selalu yakin

7. Sebagian waktunya terbuang karena kesalahan-kesalahan sendiri

8. Jika tidak bekerja secara sungguh- sungguh outputnya akan sangat rendah 9. Biasanya tidak ragu-ragu dalam

menjalankan gerakannya

Poor Skill 1. Tidak bisa mengkoordinasikan tangan dan pikiran

3. Kelihatan ketidakyakinannya pada urutan- urutan gerakan

4. Seperti yang tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersangkutan

5. Tidak terlihat adanya kecocokan dengan pekerjaannya

6. Ragu-ragu dalam melaksanakan gerakan- gerakan kerja

7. Sering melakukan kesalahan-kesalahan 8. Tidak adanya kepercayaan pada diri

sendiri

9. Tidak bisa mengambil inisiatif sendiri Sumber : Teknik Perancangan Sistem Kerja

ii. Usaha

Merupakan kesungguhan yang ditunjukkan atau diberikan pekerja ketika melakukan pekerjaannya. Untuk keperluan penyesuaian, usaha dibagi ke dalam enam kelas, yaitu excessive effort, excellent effort, good effort, average effort, fair effort dan poor effort. Setiap kelas ditandai oleh indikator-indikator perilaku yang berbeda. Berikut dipaparkan keenam kelas tersebut yang diambil dari Sutalaksana, dkk., (2006) :

Tabel. 3.2. Indikator Perilaku Faktor Penyesuaian Usaha

Kelas Indikator Perilaku

Excessive Effort 1. Kecepatan sangat berlebihan

2. Usahanya sangat bersungguh-sungguh tetapi dapat membahayakan kesehatannya 3. Kecepatan yang ditimbulkannya tidak

dapat dipertahankan sepanjang hari kerja Excellent Effort 1. Jelas terlihat kecepatannya sangat tinggi

2. Gerakan-gerakan lebih ekonomis daripada operator-operator biasa

3. Penuh perhatian pada pekerjaannya 4. Banyak memberi saran

5. Menerima saran-saran petunjuk dengan senang

6. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu

7. Tidak bertahan kebih beberapa hari 8. Bangga atas kelebihannya

9. Gerakan-gerakan yang salah terjadi sangat jarang sekali

10. Bekerjanya sangat sistematis

11. Karena lancarnya, perpindahan dari suatu elemen ke elemen lain tidak terlihat

Good Effort 1. Bekerja berirama

2. Saat-saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadang-kadang tidak ada

3. Penuh perhatian pada pekerjaannya 4. Senang pada pekerjaannya

5. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang hari

6. Percaya pada kebaikan waktu pengukuran waktu

7. Menerima saran-saran dan petunjuk dengan senang

8. Dapat memberi saran-saran untuk perbaikan kinerja

9. Tempat kerja diatur baik dan rapih

10. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik

11. Memelihara dengan baik kondisi peralatan Average Effort 1. Tidak sebaik good, tapi lebih baik lagi

dari poor

3. Menerima saran-saran tapi tidak melaksanakannya

4. Set up dilaksanakan dengan baik

5. Melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan

Fair Effort 1. Saran-saran perbaikan diterima dengan kesal

2. Kadang-kadang perhatian tidak ditujukan pada pekerjaannya

3. Kurang sungguh-sungguh

4. Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya

5. Terjadi sedikit penyimpangan dari cara kerja baku

6. Alat-alat yang dipakainya tidak selalu yang terbaik

7. Terlihat adanya kecenderungan kurang perhatian pada pekerjaannya

8. Terlampau hati-hati

9. Sistematika kerjanya sedang-sedang saja 10. Gerakan-gerakannya tidak terencana Poor Effort 1. Banyak membuang-buang waktu

2. Tidak memperhatikan adanya minat bekerja

3. Tidak mau menerima saran-saran 4. Tampak malas dan lambat bekerja

5. Melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu untuk mengambil alat-alat dan bahan

6. Tempat kerjanya tidak diatur rapi

7. Tidak peduli pada cocok/baik tidaknya peralatan yang dipakai

8. Mengubah-ubah tata letak tempat kerja yang telah diatur

9. Set up kerjanya terlihat tidak baik Sumber : Teknik Perancangan Sistem Kerja

iii. Kondisi Kerja

Merupakan sesuatu yang berada di luar pekerja, yang diterima apa adanya tanpa banyak kemampuan mengubahnya. Untuk keperluan

excellent,good, average, fair dan poor. Setiap kelas ditandai oleh indikator- indikator perilaku yang berbeda. Berikut dipaparkan keenam kelas tersebut yang diambil dari Sutalaksana, dkk., (2006) :

Tabel. 3.3. Indikator Perilaku Faktor Penyesuaian Kondisi Kerja

Kelas Indikator Perilaku

Ideal Kondisi yang paling cocok untuk pekerjaan yang bersangkutan, yaitu yang memungkinkan kinerja maksimal dari pekerja

Excellent Kondisi yang dapat digolongkan terbaik dan mendekati ideal, namun belum mencapai kondisi ideal

Good Kondisi lingkungan yang baik untuk pekerjaan yang bersangkutan

Average Kondisi lingkungan yang cukup membantu meskipun dengan adanya beberapa kekurangan namun tidak terlalu mempengaruhi pencapaian kinerja sehingga dapat diabaikan

Fair Kondisi lingkungan yang kurang membantu jalannya pekerjaan sehingga dapat menghambat pencapaian kinerja yang baik

Poor Kondisi lingkungan yang tidak membantu jalannya pekerjaan atau sangat menghambat pencapaian kinerja yang baik

Sumber : Teknik Perancangan Sistem Kerja

iv. Konsistensi

Merupakan tingkat variasi dari waktu penyelesaian pekerjaan selama pekerja diamati. Untuk keperluan penyesuaian, konsistensi dibagi ke dalam enam kelas, yaitu perfect, excellent, good, average, fair dan poor. Setiap kelas ditandai oleh indikator-indikator perilaku yang berbeda. Berikut dipaparkan keenam kelas tersebut yang diambil dari Sutalaksana, dkk., (2006) :

Tabel. 3.4. Indikator Perilaku Faktor Penyesuaian Konsistensi

Kelas Indikator Perilaku

Perfect Dapat bekerja dengan waktu penyelesaian yang boleh dikatakan tetap dari saat ke saat

Excellent Dapat bekerja dengan waktu penyelesaian yang mendekati tetap dari waktu ke waktu

Good Dapat bekerja dengan waktu penyelesaian yang tidak tetap namun tergolong konsisten, yaitu selisih rata-ratanya tidak jauh berbeda satu sama lain

Average Dapat bekerja dengan waktu yang rata-rata cukup konsisten, yaitu bila selisih antara waktu penyelesaian dengan rata-ratanya tidak besar walaupun ada satu dua yang letaknya jauh Fair Dapat bekerja dengan waktu rata-rata

penyelesaian tidak begitu konsisten, namun juga tidak acak seperti halnya poor

Poor Dapat bekerja dengan waktu-waktu

penyelesaian berselisih jauh dari rata-rata secara acak

Sumber : Teknik Perancangan Sistem Kerja

Tiap kelas pada tiap aspek memiliki nilainya masing-masing. Berikut rangkuman dari nilai-nilai tiap kelas pada tiap aspek.

Tabel. 3.5. Rangkuman Nilai Faktor Penyesuaian

Faktor Kelas Lambang Penyesuaian

Keterampilan Super skill A1 +0,15

A2 +0,13 Excellent B1 +0,11 B2 +0,08 Good C1 +0,06 C2 +0,03 Average D 0,00 Fair E1 -0,05 E2 -0,10 Poor F1 -0,16 F2 -0,22 Usaha Excessive A1 +0,13 A2 +0,12 Excellent B1 +0,10 B2 +0,08 Good C1 +0,05 C2 +0,02 Average D 0,00 Fair E1 -0,04 E2 -0,05 Poor F1 -0,12 F2 -0,17

Kondisi kerja Ideal A +0,06

Excellent B +0,04 Good C +0,02 Average D 0,00 Fair E -0,03 Poor F -0,07 Konsistensi Perfect A +0,04 Excellent B +0,03 Good C +0,01 Average D 0,00 Fair E -0,02 Poor F -0,04

d. Kelonggaran

Kelonggaran diberikan untuk kebutuhan pribadi, menghilangkan rasa fatigue dan hambatan-hambatan yang tak dapat dihindarkan (Sutalaksana, dkk., 2006). Ketiganya merupakan hal-hal yang secara nyata dibutuhkan oleh pekerja dan yang mungkin selama pengukuran tidak diamati, diukur, dicatat ataupun dihitung. Kelonggaran untuk suatu pekerjaan dapat berbeda dengan kelonggaran untuk pekerjaan yang lain, tergantung dari sifat pekerjaan tersebut. Semakin berat suatu pekerjaan, maka semakin besar pula nilai dari kelonggarannya. Nilai- nilai kelonggaran telah ditentukan besarnya berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh. Berikut nilai-nilai kelonggaran tersebut (dikutip dari Sutalaksana, dkk., 2006):

Tabel 3.6. Nilai Kelonggaran

Faktor Contoh

pekerjaan

Ekivalen Beban (kg)

Kelonggaran (%)

A. Tenaga yang Dikeluarkan Pria Wanita

1. Dapat diabaikan Bekerja di meja, duduk

Tanpa beban

0 – 6 0 – 6

2. Sangat ringan Bekerja di meja, berdiri 0 - 2,25 6 – 7,5 6 – 7,5 3. Ringan Menyekop, ringan 2,25 – 9 7,5 – 12 7,5 – 16 4. Sedang Mencangkul 9 – 18 12 – 19 16 – 30 5. Berat Mengayun

palu yang berat

18 – 27 19 – 30 -

6. Sangat berat Memanggul beban

27 – 50 30 – 50 -

7. Luar biasa berat Memanggul karung berat

Di atas 50 - -

B. Sikap Kerja

1. Duduk Bekerja duduk, ringan 0 – 1

2. Berdiri di atas dua kaki

Badan tegak, ditumpu dua kaki

3. Berdiri di atas satu kaki

Satu kaki mengerjakan alat control

2,5 – 4

4. Berbaring Pada bagian sisi, belakang atau depan badan

2,5 – 4

5. Membungkuk Badan dibungkukkan bertumpu pada kedua kaki

4 – 10

C. Gerakan Kerja

1. Normal Ayunan bebas dari palu 0

2. Agak terbatas Ayunan terbatas dari palu 0 – 5

3. Sulit Membawa beban berat

dengan satu tangan

0 – 5

4. Pada anggota- anggota badan terbatas

Bekerja dengan tangan di atas kepala

5 – 10

5. Seluruh anggota badan terbatas

Bekerja di lorong

pertambangan yang sempit

10 – 15 D. Kelelahan Mata Pencahayaan Baik Buruk 1. Pandangan yang terputus-putus

Membawa alat ukur 0 – 6 0 – 6

2. Pandangan yang hampir terus menerus Pekerjaan-pekerjaan yang teliti 6 – 7,5 6 – 7,5 3. Pandangan terus menerus dengan fokus tetap

Pemeriksaan yang sangat teliti 7,5 – 12 7,5 – 16 4. Pandangan terus menerus dengan fokus berubah- ubah

Memeriksa cacat-cacat pada kain

12 – 19 16 – 30

5. Pandangan terus menerus dengan konsentrasi tinggi dan fokus tetap

- 19 – 30 - 6. Pandangan terus menerus dengan konsentrasi tinggi dan fokus berubah-ubah - 30 – 50 -

E. Keadaan Suhu Tempat Kerja Suhu (0C) Kelelahan Normal Berlebihan 1. Beku < 0 >10 >12 2. Rendah 0 – 13 10 – 0 12 – 5 3. Sedang 13 – 22 5 – 0 8 – 0 4. Normal 22 – 28 0 – 5 0 – 8 5. Tinggi 28 – 38 5– 40 8–100 6. Sangat tinggi > 38 >40 >100 E. Keadaan Atmosfer

1. Baik Ruang yang berventilasi baik, udara segar

0

2. Cukup Ventilasi kurang baik, ada bau-bauan (tak berbahaya)

0 – 5

3. Kurang baik Adanya debu-debuan beracun atau tak beracun tetapi

banyak

5 – 10

4. Buruk Adanya bau-bauan berbahaya yang mengharuskan

menggunakan alat pernapasan

10 – 20

F. Keadaan Lingkungan yang Baik

1. Bersih, sehat cerah dengan kebisingan rendah 0 2. Siklus kerja berulang-ulang antara 5-10 detik 0 – 1 3. Siklus kerja berulang-ulang antara 0-5 detik 1 – 3

4. Sangat bising 0 – 5

5. Jika faktor-faktor yang berpengaruh dapat menurunkan kualitas

0 – 5

6. Terasa adanya getaran lantai 5 – 10

7. Keadaan-keadaan yang luar biasa 5 – 15

e. Waktu siklus

= ∑

Dengan : ∑xi= jumlah waktu penyelesaian dari elemen ke -i N = jumlah pengamatan yang telah dilakukan

f. Waktu normal

=

Dengan : ws = waktu siklus p = faktor penyesuaian

g. Waktu baku

= (1 + )

Dengan : wn = waktu normal

k = allowance(kelonggaran)

h. Beban kerja

Dengan : wb = waktu baku

twk = total waktu kerja / hari

Dokumen terkait